Selasa, 09 Agustus 2016

Terjemah Kitab I‘jāz al-Masīḥ (Bagian II)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

TERJEMAH KITAB I‘JĀZ AL-MASĪ (BAGIAN II)

Penulis blog mulai sekarang akan menerjemahkan salah satu kitab berbahasa Arab karangan Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, yang berjudul I‘jāz al-Masīḥ. Kitab yang terdiri atas 204 halaman ini berisi tafsir Surah al-Fātiḥah dan ditulis dalam bahasa Arab yang sastrawi lagi elegan. Kitab I‘jāz al-Masīḥ pertama kali diterbitkan dan dicetak sebanyak 700 ekslempar oleh Percetakan Ḍiyā’u-l’Islām, Qadian, Gurdaspur, British India di bawah supervisi Ḥakīm Faḍluddīn dari Bhera pada tahun 1901 M/1318 H. Kitab I‘jāz al-Masīḥ dimasukkan oleh Maulānā Jalāluddīn Syamsra ke dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 18.

Prolog: Penerangan mengenai Fitnah Para Ulama Zaman Ini

Hanya saja, sebagian ulama di kawasan-kawasan ini tidak sudi menerimaku bersebab rasa bakhil dan penghargaan terhadap diri sendiri yang terlalu tinggi. Mereka bersuka cita dengan gelapnya kebodohan lalu meninggalkan ilmu dan cahaya. Bertumpuk-tumpuklah, lantas, kegelapan tersebut dalam perkataan, perbuatan, serta penglihatan mereka sampai-sampai kelelawar pun mengambil sarang di dalam hati mereka dan tidak ada seekor burung pun yang berkenan hinggap di dahan mereka. Mereka sebelumnya menunggu-nunggu Almasih pada permulaan abad ini dan menanti-nantinya layaknya penantian hilal hari raya atau jamuan pesta pora. Namun, taktala tiba apa yang ditunggu-tunggu dan diberikan apa yang diminta, mereka menganggap firman Allah sebagai sesuatu yang diada-adakan oleh manusia. Mereka berkata, “Dia seorang pengada-ada yang hendak menyesatkan manusia seperti halnya setan.” Lebih jauh, mereka mulai meragukan kepribadiannya, malahan perkara keimananya. Mereka lalu mendustakannya, memfasikkannya, serta mengafirkannya bersama para murid dan penolongnya.

Allah sejatinya telah melimpahinya banyak sekali karunia, tetapi mereka tetap tidak sudi menerimanya. Dia pun telah memperlihatkan dukungan-Nya di segala awal dan akhir urusannya, tetapi mereka tetap saja tidak berkenan menghadap kepadanya. Alih-alih demikian, mereka justru berkata, “Dia seorang pendusta.” Namun, mereka tidak berpikir tentang hukuman akhir yang menimpa para pendusta. Mereka juga berkata, “Dia seorang pembual.” Namun, mereka lagi-lagi tidak mengingat siapa saja yang telah binasa dari kalangan para pembual. Sayang seribu sayang, mereka hanya ingin berkata tanpa mau mendengar, mereka hanya ingin mengajukan keberatan tanpa mau menyimak, dan mereka hanya ingin mencela tanpa mau memastikan. Kebenaran telah terbit, tetapi tetap saja mereka tidak berpenglihatan. Sewaktu mereka menuduh manusia dengan suatu fitnah, mereka justru tertawa dan tidak menagis. Mengapakah mereka tidak takut? Apakah mereka akan dilepaskan dari catatan amal sehingga tidak akan ditanya?

Memang, Aku tidak melihat rasa takut kepada Allah dalam hati mereka. Sebaliknya, mereka berani menyakiti orang-orang yang benar tanpa ambil pusing. Tidak pula Aku melihat mereka berdada lapang sehingga tidak mungkin orang-orang seperti mereka sampai memilih untuk berteman. Mereka mengumpat dan menggunjing padahal mereka mengetahui akibatnya. Mereka tidak berkata-kata, kecuali seperti seekor burung yang membuang kotoran atau seorang penderita tuberkulosis yang meludah. Mereka tidak memperdalam perkara kami dan tidak pula mengarifi rahasia kami. Kemudian, mereka sekonyong-konyong mengafirkan, memaki, serta berbicara tak keruan tanpa memahami kitab kami dengan suara yang lebih buruk daripada lolongan anjing. Tidaklah tersisa dalam diri mereka sedikitpun pemahaman yang dapat mengantarkan mereka ke arah jalan yang lurus dan tidak pula rasa takut yang dapat menarik mereka menuju jalan-jalan yang diridai oleh Allah Yang Maha Pengasih.

Di antara mereka memang terdapat orang-orang yang berpertengahan, yakni mereka yang hanya ikut-ikutan mendustakan karena tidak tahu duduk perkaranya. Di antara mereka pun ada yang menahan mulut mereka dan tidak turut serta memaki. Akan tetapi, engkau akan mendapati kebanyakan mereka berbuat jahat kepada kami, mengafirkan kami, serta memaki kami tanpa rasa takut. Oleh sebab itu, silakanlah menangis orang-orang yang ingin menangis atas musibah yang menimpa Islam ini dan atas serangkaian cobaan yang melanda di hari-hari belakangan. Cobaan mana lagikah yang lebih besar daripada fitnah-fitnah para ulama ini? Tidak ada, sebab mereka telah meninggalkan agama sebatang kara laksana para syuhada Karbala. Sungguh, itu merupakan api yang melelehkan hati kami, melukai lambung kami, dan memberatkan tanggungan kami. Bahkan, fitnah-fitnah tersebut turut menyambari Kitab Allah dengan batu-batu panas yang bersumber dari kebodohan orang-orang yang bodoh. Kami melihat banyak orang di antara mereka menyembunyikan kebenaran dan tidak menghindari kebohongan seperti halnya orang-orang yang salih. Tak tinggal diam, mulut mereka pun turut berdusta saat berfatwa.

Mereka tak malu berkata, “Kami para pengkhidmat Islam,” meskipun pada hakikatnya, mereka adalah para penolong orang-orang Kristen bila dilihat dari kebanyakan pendirian akidah mereka. Mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai jerat yang dimanfaatkan oleh orang-orang itu untuk memburu kaum muslimin. Mereka berkata, “Kami mendengar hadis-hadis langsung dengan sanad-sanadnya.” Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengetahui secuilpun makna tauhid. Mereka juga berkata, ‘Kami lebih tahu soal hukum-hukum Syariah.’ Akan tetapi, kaki mereka tidak pernah menjejaki jejak-jejak dalil keagamaan. Mereka terus saja melayang dalam hawa nafsu layaknya burung merpati tanpa berpikir sejenakpun tentang saat kematian. Mereka berusaha meraih harta dunia dengan penuh kerisauan dan mereka siap menonjolkan kepala mereka kapan saja tunjangan uang diberikan seperti halnya orang munafik. Mereka begitu kikir terhadap setiap jenis kemakmuran hidup yang mereka miliki walaupun itu hanya berupa sepotong daging tikus.

Demikianlah, kecuali orang-orang yang Allah lindungi dengan tangan karunia dan keramahan-Nya sebab merekalah orang-orang yang dilepaskan dari apa yang baru saja dikatakan dan mereka sama sekali tidak berdenda. Sesungguhnya, mereka termasuk orang-orang yang diampuni.

---0---

Kamis, 04 Agustus 2016

Terjemah Kitab I‘jāz al-Masīḥ (Bagian I)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

TERJEMAH KITAB I‘JĀZ AL-MASĪ (BAGIAN I)

Penulis blog mulai sekarang akan menerjemahkan salah satu kitab berbahasa Arab karangan Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, yang berjudul I‘jāz al-Masīḥ. Kitab yang terdiri atas 204 halaman ini berisi tafsir Surah al-Fātiḥah dan ditulis dalam bahasa Arab yang sastrawi lagi elegan. Kitab I‘jāz al-Masīḥ pertama kali diterbitkan dan dicetak sebanyak 700 ekslempar oleh Percetakan Ḍiyā’u-l’Islām, Qadian, Gurdaspur, British India di bawah supervisi Ḥakīm Faḍluddīn dari Bhera pada tahun 1901 M/1318 H. Kitab I‘jāz al-Masīḥ dimasukkan oleh Maulānā Jalāluddīn Syamsra ke dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 18.

Terjemah Sampul Kitab

Siapa yang beriang hati untuk membaca Surah al-Fātiḥah beserta makrifat-makrifatnya yang tersembunyi dan hakikat-hakikat rohaniahnya, silakanlah ia membaca tafsir kami ini dengan perenungan dan niat yang sehat. Janganlah ia berupaya melebarkan sayapnya untuk menandinginya sebab ia merupakan sebuah kitab yang tiada mampu dijawab. Ia yang bangkit untuk menjawabnya dan berlagak layaknya singa, pastilah ia akan menyesali dirinya sendiri dan menggerutu. Oleh karena itu, bahagialah ia yang menyambut apa yang kami pilihkan dan mengambil apa yang kami beri. Ini merupakan bantahan bagi orang-orang yang membodoh-bodohkan kami seraya berkata, “Mereka sama sekali tak berilmu. Sebaliknya, yang ada di sisi mereka hanyalah seonggok barang rongsokan.” Kami sungguh mengikrarkan bahwa kitab-kitab kami semata-mata berasal dari kekuasaan Allah, Pemilik Kegagahan, dan kami memang bukan siapa-siapa selain dari orang-orang yang bodoh. Sesungguhnya, kitabku ini begitu sastrawi, fasih, dan manis. Aku menamainya I‘jāz al-Masīḥ, yakni mukjizat bagi diriku selaku Masīḥ Mau‘ūdas.

Sekapur Sirih Berbahasa Urdu

Kami umumkan demi pengetahuan umum bahwa Allah Taala telah memberiku taufik berkat karunia dan rahmat-Nya untuk menyelesaikan kitab ini pada tanggal 20 Februari 1901 M dalam jangka waktu 70 hari. Pada hakikatnya, segala sesuatunya telah selesai berkat karunia-Nya yang khas karena pada masa-masa itu, Aku tengah menderita berbagai halangan dan penyakit serta Akupun merasa tak mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan ini bersebab ketidaksanggupanku untuk mengangkat pena sekalipun sebagai akibat dari kelemahan yang gawat dan serangan penyakit. Seandainya kesehatanku tetap dalam kondisi normal, Aku pun tetap tidak memiliki kemampuan pribadi apa-apa karena Aku betul-betul mengenali diriku. Aku telah mengetahui beberapa waktu kemudian sebab di balik penyakit-penyakit jasmani ini, yakni supaya orang-orang terkasihku dari kalangan Jemaat yang hadir di sini tidak menyangka bahwa kitab itu merupakan natijah dari kemampuan berpikirku. Allah Taala sungguh telah membuktikan melalui penyakit-penyakit dan hambatan-hambatan ini bahwa perkataan ini tidaklah berasal dari ciptaan bakat atau gagasanku. Sebaliknya, yang benar adalah, para penentangku pun tahu benar dengan segamblang-gamblangnya ketika mereka berkata bahwa kitab itu tidaklah berasal dari ciptaanku, tetapi ada orang lain yang diam-diam membantunya. Aku sungguh-sungguh bersaksi bahwa memang ada sosok lain yang membantuku.  Namun, ia bukanlah seorang manusia. Ia adalah Wujud Yang Mahakuasa nan Mahamulia yang di depan pintu-Nyalah kepala kami bersimpuh. Oleh sebab itu, jika ada orang lain yang mampu membantu dalam perkara-perkara semisal ini dan memiliki kemampuan mukjizat, silakanlah para pembaca berpengharapan bahwa ratusan tafsir Surah al-Fātiḥah yang sebanding dengan tafsirku akan disiarkan – atau mungkin sudah disiarkan – dalam jangka waktu 70 hari dan sesuai dengan syarat-syarat yang telah Kuajukan sebab tafsirku ini telah diibaratkan bagai cermin penghakiman di antara kita. Aku sungguh-sungguh percaya bahwa Pīr Mehr ‘Alī secara khusus pasti telah berdaya-upaya untuk menulis tafsir dalam interval ini. Jika tidak, bagaimakah ia akan menghadapi orang-orang yang telah ia katakan kepada mereka bahwa ia telah datang ke Lahore guna menulis tafsir saja? Yang jelas adalah, apabila ia lemah untuk menulis dalam jangka waktu 40 hari, bagaimana mungkin ia dapat menulisnya dalam jangka waktu tujuh jam? Dengan demikian, ini merupakan sebuah tanda yang agung atas dukungan ilahi yang disaksikan oleh orang-orang yang berkesadaran karena Aku telah membatasi interval 70 hari dan menyeru ratusan syaikh untuk menghadapiku. Bagaimana mungkin mereka menghilangkan kelemahan mereka untuk menyiarkan tafsir seperti ini? Seandainya ini bukanlah mukjizat, apatah kemudian yang dikategorikan sebagai mukjizat?

Wahai orang-orang terkasih yang membaca Ummu-l’Kitāb! Marilah sekarang melihat matahari ini dengan kedua mata kalian!

Pertajamlah pandangan dalam doa al-Fātiḥah dengan membacanya berulang kali! Sebab, ia akan menyingkapkan segala hakikat bagi kalian.

Allah telah mengajari kalian doa ini. Kekasih-NyaSAW pun telah mengajari kalian.

Kalian membacanya dalam salat lima waktu setiap hari. Melalui perantaraannya, kalian akan sampai pada istana Wujud Yang pada-Nya segala harapan digantungkan.

Aku bersumpah demi Allah Yang telah menurunkan surah ini kepada pemilik hati yang suci dan wajah yang tampan itu!

Sesunggunya, ia merupakan kesaksian bagiku dari Tuhanku dan ia merupakan meterai ilahi bagi kebenaran pendakwahanku.
Ia pun adalah dalil yang kokoh bahwa Akulah Almasih Yang Dijanjikan dan ia adalah adalah saksi dari Tuhan Yang Mahagagah.


Siapakah lagi, lantas, orang yang kalian tunggu-tunggu? Bertaubatlah sebab tidak ada jaminan bahwa kalian akan terus hidup!

Prolog: Pendahuluan Berupa Puji Sanjung kepada Allah dan Selawat kepada Nabi MuḥammadSAW

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah nan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Yang membuat manusia mampu berbicara serta mengajarinya kelancaran. Dia pun membuat perkataan manusia sebagai manifestasi keindahan-Nya yang terselubung. Lebih lanjut, Dia menghaluskan rahasia orang-orang yang arif dengan ilham-Nya dan  menyempurnakan roh para rohaniawan dengan kenikmatan-Nya. Dia menanggung urusan mereka melalui pertolongan-Nya dan menempatkan mereka di bawah naungan perlindungan-Nya. Dia memusuhi siapa yang memusuhi mereka dan tidaklah meninggalkan mereka saat bahaya tengah melanda. Dia mendengar doa mereka sewaktu mereka memasrahkan diri dengan sepasrah-pasrahnya. Dia memperlihatkan gairah-Nya kepada mereka dan menampakkan diri-Nya bagai pemuda pemberani untuk menolong mereka. Dia membantu mereka laksana sepasukan tentara dalam medan-medan perdebatan. Dia senantiasa menyertai mereka di setiap tempat dan tidaklah melupakan mereka kala cobaan tengah tiba. Dia menegakkan mereka di atas kalimat ketakwaan. Dia meneguhkan mereka di atas jalan-jalan petunjuk. Dia menarik mereka ke hadirat-Nya Yang Mahatinggi. Dia menganugerahi mereka mata untuk melihat, hati untuk merasa, serta anggota tubuh untuk beramal. Dia menjadikan mereka inti perlindungan bagi para makhluk dan ruh bagi alam semesta.

Salam dan selawat semoga selalu tercurahkan kepada seorang rasul yang datang pada suatu zaman semisal padang pasir yang menghilang jalan penunjuk arahnya atau malam yang terbenam cahaya bulan purnamanya. Beliau muncul pada suatu masa ketika manusia tengah berhajat akan hujan dan bumi pun telah menggersang serta menyirna angin kesejukannya akibat gumpalan awan yang kikir untuk menumpahkan airnya. Kemudian, beliau mengairi kembali bumi yang sebelumnya terbakar karena begitu banyak janji ilahi yang tidak ditepati dan menghidupkan kembali hati manusia ibarat hujan deras yang menghidupkan kembali tahun kekeringan. Bersinarlah, lantas, wajah-wajah manusia serta baliklah kemolekan dan kecantikannya. Terlihatlah pula tambang-tambang alam serta muncullah perak dan emasnya. Orang-orang mukmin disucikan dari segala jenis dosa lalu dikaruniai suatu sayap untuk terbang ke atas langit setelah mematahkan kedua tangan dosanya ini. Setiap urusan mereka lalu didasarkan pada ketakwaan sehingga tidak tersisa sezarah pun sesuatu selain Allah dan tidak pula hawa nafsu. Bumi Mekkah disucikan setelah sebelumnya dikelilingi oleh berhala-berhala sehingga tidak ada lagi orang yang bersujud kepada wujud selain Tuhan Yang Maha Pemurah di sana, bahkan sampai pada masa ini. Oleh sebab itu, berselawatlah kepada Nabi yang penuh ihsan ini, yang merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Pemurah nan Maha Penganugrah! Bukankah balasan ihsan tak lain ialah ihsan juga? Suatu hati yang tidak mengetahui ihsan beliau, sama saja ia tidak beriman atau ia menyia-nyiakan imannya. Ya Allah, semoga selawat selalu tercurahkan kepada Nabi Ummī ini, yang memberi minum kaum ākhirīn sebagaimana beliau telah memberi minum orang-orang awwalīn!

Tidak hanya itu, beliau lalu mewarnai kaum ākhirīn tersebut dengan celupan warna beliau serta memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang disucikan. Allah pun mencahayai mereka dengan pancaran sinar-sinar kecintaan, memberi minum mereka dari arak yang paling murni, menggabungkan mereka dengan orang-orang terdahulu yang telah fana dalam wujud-Nya, mendekatkan mereka ke ribaan-Nya serta menerima pengorbanan mereka, menajamkan indra-indra mereka serta menampakkan hati mereka, mengaruniai mereka dari sisi-Nya pemahaman orang-orang yang dekat dengan-Nya, menyucikan hati mereka serta menghilangkan dahaga mereka, memaniskan roh mereka, menyelamatkan jiwa mereka dari belenggu para tahanan, menanggung urusan-urusan mereka sebagaimana adat-Nya terhadap orang-orang kesukaan-Nya serta melapangkan hati mereka sebagaimana kebiasaan-Nya terhadap para wali-Nya, dan memanggil mereka ke hadirat-Nya. Kemudian, Dia bergegas untuk membuka pintu kediaman-Nya atas dasar rahmat-Nya, memasukkan mereka ke dalam kelompok-Nya, dan menggabungkan mereka dengan para penduduk surga-Nya. Akan dikatakan kepada mereka, “Inilah rumah kalian yang telah kalian datangi dan keluarga kalian yang telah kalian jumpai.” Mereka pun dijadikan-Nya orang-orang yang dicintai-Nya. Semua ini semata-mata berasal dari keberkatan-keberkatan MuḥammadSAW, Sebaik-baik Rasul dan Meterai Para Nabi. Kepada beliaulah tercurahkan selawat Allah, malaikat, nabi-nabi-Nya, serta segenap hamba-hamba-Nya yang salih.

Prolog: Pendakwahan sebagai Masīḥ Mau‘ūd dan Imam Mahdi

Setelah itu, ketahuilah wahai para pencari yang berkesedaran dan para pemilik akal yang berperenungan! Sesungguhnya, Aku adalah salah seorang hamba dari antara hamba-hamba Yang Maha Pemurah yang datang dari hadirat-Nya dan turun dengan perintah Tuhan Sang Penyandang Kemuliaan ketika kebutuhan akan kehadiran mereka tengah begitu mendesak, ketika kebodohan dan bidah tengah menyebar serta takwa dan makrifah tengah menyedikit, untuk memperbaharui apa yang usang, mempersatukan apa yang terpecah-belah, mengembalikan apa yang hilang, serta menyempurnakan dan menggenapi apa yang dijanjikan dari Tuhan semesta alam. Demikianlah Aku datang dan Akulah orang yang pertama kali beriman.

Sesungguhnya, Aku telah dibangkitkan pada permulaan abad yang penuh berkat dan semangat rohani ini untuk mempersatukan keseluruhan anasir agama Islam, menangkis serangan terhadap Allah dan Sebaik-baik MakhlukSAW, mematahkan tongkat bertopang siapa saja yang membangkang, dan menegakkan dinding-dinding Syariah. Sungguh, telah Kujelaskan berulang kali dan Kunyatakan dengan senyata-nyatanya bahwa Akulah Almasih dan Almahdi Yang Dijanjikan. Demikianlah Aku diperintahkan dan tidaklah Aku berhak untuk membangkang perintah Tuhanku lalu bergabung dengan golongan para pendosa. Oleh sebab itu, janganlah tergesa-gesa mengenai diriku serta renungilah perkaraku dengan sebenar-benarnya perenungan jika kalian bertakwa! Bisa saja kalian mendustakan seseorang, padahal ia berasal dari Allah. Bisa saja pula kalian memfasikkan seseorang, padahal ia termasuk dalam kalangan orang-orang yang salih.

Sesungguhnya, Allah telah mengutusku untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan zaman ini, membedakan antara kebun kekudusan dan taman yang tampaknya hijau padahal kotor, dan memperlihatkan jalan kebenaran kepada kaum yang telah sesat. Tidaklah pendakwahanku menyimpang dari zamannya. Sebaliknya, Aku datang seperti hujan yang turun tepat pada musimnya. Aku mempunyai kesaksian-kesaksian dari Tuhanku bagi kaum yang berkenan menetap di kediamanku, tanda-tanda yang terang bagi orang-orang yang berpenglihatan, serta wajah semisal wajah orang-orang yang benar bagi para ahli firasat. Sungguh, telah datang hari-hari Allah dan terbuka pintu-pintu rahmat-Nya bagi para pencari. Oleh sebab itu, janganlah menjadi orang yang pertama kali mengingkarinya, sedangkan kalian sebelumnya terus menunggu-nunggu! Di manakah rasa takut? Bukalah mata kalian, wahai para pemilik akal! Bumi dan langit telah bersaksi bagiku. Orang-orang yang berilmu nan terpercaya pun telah mendatangiku. Keyakinan mengalir dalam urat-urat hati mereka laksana saluran-saluran air yang dijumpai di taman-taman.

---0---