Jumat, 08 Juli 2016

Salat Tiga Waktu

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Salat Tiga Waktu

Muslim Ahmadi menunaikan salat Jumat di Masjid Baitul Futuh, London, UK, Mashable

Saudara-saudara kita dari kalangan Syiah menyatakan bahwa salat wajib hanya terdiri atas tiga waktu meskipun yang dikerjakan tetap lima. Mereka mendasarkan pendapat demikian pada ayat Alquran di mana Allah Taala berfirman:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ إِلٰى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۝

“Dirikanlah salat sejak dulūk asy-syams hingga ghasaq al-lail serta bacalah qur’āna-l’fajr.”1

Syaikh Muḥammad as-Sabarwāzī an-Najafī, salah satu ahli tafsir Syiah yang mentereng, menulis bahwa ayat di atas mengandung tiga waktu salat:

1. Dulūk asy-syams, yakni:

أَيْ عِنْدَ زَوَالِهَا أَوْ وَقْتُ الزَّوَالِ وَهُوَ وَقْتُ الظَّهْرَيْنِ بِنَاءً عَلٰى أَنَّ اللَّامَ بِمَعْنَى الْوَقْتِ.

“Ketika matahari bergeser atau waktu pergeseran matahari, dalam kata lain, waktu salat aẓ-ẓuhrain (Zuhur dan Asar) berdasarkan adanya lām yang bermakna waktu.”

2. Ghasaq al-lail yang berarti:

أَيْ ظَلَامُهُ وَهُوَ وَقْتُ الْعِشَائَيْنِ.

“Kegelapan malam, dalam kata lain, waktu salat al-‘isyā’ain (Magrib dan Isya).”

3. Qur’āna-l’fajr yang terdefinisi sebagai:

صَلَاةُ الصُّبْحِ.

“Salat Subuh.”2

Jadi, seperti diterangkan oleh ‘Allāmah al-Ḥillī (w. 726 H), salah seorang alim Syiah yang paling masyhur sepanjang sejarah – bahkan, Ayatullah pertama dalam silsilah Syiah –, salat Zuhur dan salat Asar digabungkan dalam satu waktu: dari bergesernya matahari hingga keterbenamannya. Demikian juga, salat Maghrib dan salat Isya dipersatukan dalam satu waktu: setelah kemerahan senja berlalu hingga tengah malam.3

Sebenarnya, istidlāl atau berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan ketigawaktuan salat merupakan satu bentuk kekeliruan pemaknaan ayat, terutama kata dulūk. Kata dulūk, dalam leksikografi-leksikografi klasik bahasa Arab mengandung arti yang beragam. Kamus bahasa Arab tertua yang diketahui, al-‘Ain, karangan al-Farāhīdī (w. 170 H), ada tercatat:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: غَرَبَتْ، وَيُقَالُ: إِنَّ الدُّلُوْكَ زَوَالُهَا عَنْ كَبْدِ السَّمَاءِ.

“Matahari dalakat, yakni terbenam. Dikatakan pula: ad-dulūk adalah pergeseran matahari dari titik zenit langit.”4

Kemudian, Ibnu Fāris (w. 395 H), menuliskan:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: زَالَتْ، وَيُقَالُ: غَابَتْ.

“Matahari dalakat, yakni bergeser. Dikatakan pula: menghilang.”5

Al-Fairūzābādī (w. 812 H) mengungkapkan:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: غَرَبَتْ، أَوِ اصْفَرَّتْ، أَوْ مَالَتْ، أَوْ زَالَتْ عَنْ كَبْدِ السَّمَاءِ.

“Matahari dalakat, yakni terbenam, menguning, condong, atau bergeser dari titik zenit langit.”6

Sa‘īd al-Khūrī (w. 1331 H), ahli bahasa Arab pada awal zaman modern asal Lebanon, mengintisarikan:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: غَرَبَتْ، أَوِ اصْفَرَّتْ، وَقِيْلَ: مَالتْ أَوْ زَالَتْ عَنْ كَبْدِ السَّمَاءِ.

“Matahari dalakat, yakni terbenam atau menguning. Dikatakan pula: condong atau bergeser dari titik zenit langit.”7

Dari sini, bisa dilihat kesalahan Syiah dalam mengambil makna ayat di atas, yakni tidak memasukkan pengertian gharabat atau ketenggelaman matahari bagi kata dulūk asy-syams. Oleh sebab itu, menurut Ḥaḍrat Khalīfatu-l’Masīḥ IIra, frasa nomina dulūk asy-syams sesungguhnya mencakup tiga waktu salat, bukan dua: Zuhur, Asar, dan Magrib.  Zuhur dilaksanakan ketika matahari bergeser dari titik teratasnya di langit, Asar kala matahari mulai menguning, dan Magrib saat matahari terbenam.8

Berikutnya, yang menjadi catatan adalah pengartian ghasaq al-lail. Al-Khūrī menerangkan:

غَسَقَ اللَّيْلُ: اِشْتَدَّتْ ظُلُمَتُهُ.

“Malam ghasaqa, yakni bertambah kegelapannya.”

غَاسِقُ اللَّيْلِ: إِذَا غَابَ الشَّفَقُ وَاشْتَدَّتْ ظُلُمَتُهُ.

Ghāsiq al-lail, yakni jika senja menghilang dan kegelapan malam bertambah.”

غَسَقُ اللَّيْلِ: ظُلُمَةُ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ دُخُوْلُ أَوَّلِهِ حِيْنَ يَخْتَلِطُ الظَّلَامُ.

Ghasaq al-lail, yakni kegelapan awal malam atau waktu masuknya awal malam ketika kegelapan bercampur.”9

Dengan begitu, Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūdra menjelaskan bahwa ghasaq al-lail adalah waktu salat Isya saja, tidak mencakup salat Magrib.10

Di samping itu, tidak ada perbedaan di antara Mazhab Yang Empat bahwa waktu Isya bermula taktala senja masuk ke dalam waktu malam. Hanya saja, ada sedikit persilangan pendapat tentang apa warna senja yang memasukinya. Mālikrh, asy-Syāfi‘īrh, dan Aḥmadrh menilainya merah, sedangkan Abū Ḥanīfahra menakarnya putih.11

Kesimpulannya adalah, dalam ayat Surah Banī Isrā’īl yang dikutip tadi, terdapat lima waktu salat, bukan tiga, yaitu waktu salat Subuh, waktu salat Zuhur, waktu salat Asar, waktu salat Maghrib, dan waktu salat Isya.

Dalil dari Hadis

Selain dari Alquran, saudara-saudara Syiah kerap pula mendasarkan ketigawaktuan salat yang mereka anut pada hadis Ahli Sunnah. Misalnya, mereka mengutip riwayat Imam Muslimrh:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا فِيْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ.

“Dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pernah menjamak salat Zuhur dan salat Asar serta menjamak salat Magrib dan Isya ketika tidak dalam keadaan takut atau safar.”12

Dalam riwayat Imam at-Tirmidzīrh disebutkan juga, “Ketika tidak hujan.”13

Ketika ditanya oleh Sa‘īd b. Jubairrh, murid beliau yang merawikan hadis ini, mengapa Nabi SuciSAW melakukannya, Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra menjawab:

أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ.

“Beliau tidak ingin menyusahkan seorang pun dari umat beliau.”14

Singkatnya, hadis-hadis ini dipergunakan oleh Muslim Syiah untuk melegitimasi apa yang mereka laksanakan.

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah bahwa Ibnu ‘Abbāsra menggunakan kata kerja dalam bentuk māḍī atau lampau. Artinya, amalan Nabi SuciSAW menjamak keempat salat tersebut diperagakan sesekali saja, tidak di setiap waktu. Seumpama perbuatan itu bersifat kontinu, yang seharusnya dipergunakan Ibnu ‘Abbāsra adalah كَانَ يُصَلِّيْ sebab apabila kāna memiliki khabar dari fi‘l muḍāri‘, yang demikian menandakan keterus-menerusan sebuah pekerjaan di masa silam. Sampelnya adalah hadis riwayat al-Baghawī­rh berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبِيْتُ اللَّيَالِيَ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا، وَأَهْلُهُ لا يَجِدُوْنَ عَشَاءً، وَكَانَ أَكْثَرَ خُبْزِهِمْ خُبْزُ الشَّعِيْرِ.

“Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pernah menjalani beberapa malam berturut-turut dengan melipat perut, sedangkan keluarga beliau tidak mendapatkan sedikit pun makan malam dan roti jelai merupakan kebanyakan roti yang mereka punyai.”15

Di sini, Ibnu ‘Abbāsra memperkatakan kāna yabīt. Maksudnya, selama malam-malam itu, RasūlullāhSAW selalu tidak memiliki makanan apa pun sehingga beliau terpaksa berperut melipat.

Selanjutnya, apabila ditelaah lebih lanjut, hadis Ibnu ‘Abbāsra yang tengah menjadi pembahasan ini sejatinya berbicara tentang jamak ṣūrī, yakni praktik mendirikan suatu salat di akhir waktunya dan salat setelahnya di awal waktunya sehingga tampak seolah-olah menjamak. Imam an-Nasā’īrh mencatat:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا، أَخَّرَ الظُّهْرَ وَعَجَّلَ الْعَصْرَ، وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ.

“Dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra: Aku menjamak di belakang Ḥaḍrat RasūlullāhSAW salat Zuhur dan salat Asar serta salat Magrib dan salat Isya. Beliau mengakhirkan Zuhur dan menyegerakan Asar serta mengakhirkan Magrib dan menyegerakan Isya.”16

Konklusi yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa Nabi SuciSAW memang pernah menjamak salat tanpa uzur, tetapi sesekali saja dan tidak berkelanjutan. Praktik yang beliau lakukan pun merupakan jamak ṣūrī yang jelas berbeda dengan kaifiat salat Syiah soal menyatukan lima salat dalam tiga waktu.

Sebuah Nubuat

Sekarang, yang menjadi pertanyaannya adalah, “Mengapa RasūlullāhSAW sengaja menjamak salat Zuhur dan salat Asar serta salat Magrib dan salat Isya secara ṣūrī?” Telah disebutkan sebelumnya bahwa tujuan beliau adalah supaya tidak seorang pun di kalangan umat beliau merasakan kesulitan. Namun, kesulitan dalam hal apa? Apakah, dengan begitu, salat lima waktu yang berkesinambungan adalah satu bentuk kesukaran?

Untuk menjernihkan pemikiran seperti ini, perlu ditekankan kembali bahwa salat lima waktu merupakan amalan mutawātir yang terus dilaksanakan umat Islam sejak zaman Ḥaḍrat NabiSAW. Sesuatu yang bersifat mutawātir, yakni mendapat pengakuan dan pengamalan dari generasi demi generasi, menatijahkan pengetahuan yang badīhī alias jelas dan terang-benderang sehingga tidak membutuhkan penjelasan lagi. Oleh sebab itu, kelimawaktuan salat tidak mungkin salah, bahkan mengandung kebenaran yang pasti bahwa ia berasal dari Ḥaḍrat NabiSAW.

Kemudian, salat lima waktu pada hakikatnya bukanlah sebentuk kesusahan. Kebalikannya, salat lima waktu adalah kenikmatan rohani yang tiada tara. Yang Mulia Nabi MuḥammadSAW sendiri mengistilahkan kelezatan ini seumpama seseorang yang di samping rumahnya ada sebuah sungai yang jernih lalu ia mandi lima kali sehari di sungai tersebut. Tentunya, badan orang itu akan sangat bersih dan tidak sedikit pun kotoran tersisa dari tubuhnya.17 Jadi, bagi mukmin hakiki, salat lima waktu merupakan kenikmatan dan kelezatan spiritual yang tanpanya ia tidak mungkin bertahan hidup.

Sesungguhnya, maksud Nabi SuciSAW untuk tidak mempersulit umat beliau dengan memperkenankan jamak ṣūrī mengandung nubuat yang berkaitan dengan sosok Masīḥ Mau‘ūdas. Mengenai wujud yang dijanjikan ini, Imam Aḥmadra menarasikan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ، فَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ، وَيَمْحُو الصَّلِيْبَ، وَتُجْمَعُ لَهُ الصَّلاةُ، وَيُعْطِي الْمَالَ حَتّٰى لَا يُقْبَلَ، وَيَضَعُ الْخَرَاجَ، وَيَنْزِلُ الرَّوْحَاءَ فَيَحُجُّ مِنْهَا أَوْ يَعْتَمِرُ أَوْ يَجْمَعُهُمَا.

“Dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: ‘Īsā b. Maryamas akan turun kemudian membunuh babi, menghapus salib, salat dijamak bagi beliau, memberikan harta hingga tidak ada lagi yang bersedia menerimanya, meninggalkan jizyah, serta mengunjungi ar-Rauḥā’ lalu berhaji atau berumrah atau menggabungkan keduanya dari sana.”18

Ketika Masīḥ Mau‘ūdas datang, Islam di India tengah diserang dari segala penjuru oleh penganut agama-agama lain. Ribuan buku, pamflet, selebaran, dan berbagai bentuk publikasi lainnya ditebarkan guna mendiskreditkan Islam dan Pendirinya, Nabi Suci MuḥammadSAW. Melihat keadaan yang memilukan ini, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Masīḥ Mau‘ūd, bangkit untuk menjawab tuduhan-tuduhan dan keberatan tersebut dengan menulis banyak buku, menggelar perdebatan, berpidato di depan umum, dan mengadakan perjalanan ke kawasan-kawasan tertentu di India.

Antara bulan Maret dan April 1889, setelah baiat pertama, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mengadakan perjalanan ke kota Aligarh dengan ditemani oleh Maulawī ‘Abdullāh Sannaurīra, Syāh Ḥamīd ‘Alīra, dan Mīr ‘Abbās ‘Alī. Beliau menginap di rumah Sayyid Tafaḍḍul Ḥusain Taḥṣīldār.19 Sekali waktu, beliau didatangi oleh Maulawī Muḥammad Ismā‘īl, ulama setempat, dan diminta untuk memberikan khotbah Jumat. Pada awalnya, Ḥuḍūras mengiyakan permintaan tersebut. Namun, ilham datang dari Allah Taala yang melarang beliau untuk terlalu sibuk melakukan pekerjaan otak karena akan menguras kesehatan beliau. Ḥuḍūras pun menerima dan patuh kepada perintah Allah. Akan tetapi, sesudah diberitahu akan keadaan ini, Maulawī Muḥammad Ismā‘īl menjadi marah lalu menuduh Ḥuḍūras dengan delapan tuduhan yang kasar.

Salah satu keberatan yang diajukan kepada beliau adalah bahwa beliau melaksanakan salat di akhir waktu dan tidak menaruh perhatian terhadap salat berjamaah. Sebagai jawaban, beliau mengemukakan bahwa jamak ṣūrī yang beliau peragakan semata-mata linear dengan sunnah Nabi KarimSAW, terlebih lagi beliau tengah bermusafir dan sakit saat itu. Beliau mengungkapkan juga bahwa justru para ulamalah – yang digelari muwaḥḥidūn – yang telah salah kaprah memaknai hadis jamak ṣūrī sehingga mereka sampai meragawikannya di rumah-rumah tanpa ada uzur safar ataupun hujan.20

Dalam riwayat lain, Nabi SuciSAW pernah bersabda bahwa pada zaman kemunculan Dajjal, waktu akan berubah sedemikian rupa sehingga hari pertamanya serasa seperti setahun, hari keduanya seperti sebulan, dan hari ketiganya seperti hari-hari biasa. Kala ditanya, apakah dalam satu hari yang seperti setahun itu, salat lima waktu cukup didirikan sekali saja, yakni lima kali dalam setahun, beliau menjawab bahwa salat lima waktu harus tetap dikerjakan dengan menghitungnya semisal hari-hari biasa.21 Hadis ini pada dasarnya meramalkan bahwa tablig dan dakwah Islam melalui para pengikut Masīḥ Mau‘ūdas akan menjangkau wilayah-wilayah di mana sehari dijumpai seperti setahun, sebulan, dan hari-hari normal. Dalam kata lain, Islam akan tersebar ke seluruh belahan dunia, dari Kanada yang teratas sampai Uruguay yang terbawah.

Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah yang berkediaman di negara-negara yang berdekatan dengan kedua kutub tetap bersalat lima waktu sehari dan tidak menjamak salat meskipun waktu antara dua salat terkadang sangat berdekatan. Ḥaḍrat Mīrzā Masroor Aḥmadatba, Khalīfatu-l’Masīḥ V, menegaskan kembali ihwal ini beberapa waktu lalu.21 Namun, taktala kegiatan-kegiatan keagamaan digelar, seperti Jalsah Salanah dan Ijtima, di mana propagasi Islam disampaikan, salat-salat tersebut dipersilahkan untuk diakhirkan dan diawalkan secara jamak ṣūrī agar waktu yang dipakai menjadi lebih efisien. Dengan demikian, selain pada wujud Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas, nubuat Nabi SuciSAW tentang jamak ṣūrī juga tergenapi pada persona murid-murid beliau.

فَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى ذٰلِكَ

---0---

Bibliografi

1 Q.S. 17:79.

2 Syaikh Muḥammad as-Sabarwāzī an-Najafī, Irsyād al-Adzhān ilā Tafsīr al-Qur’ān (Beirut: Dār at-Ta‘āruf li al-Maṭbū‘āt, 1998), hlm. 294.

3 Abū Manṣūr al-Ḥasan b. Yūsuf al-Asadī al-Ḥillī, Irsyād al-Adzhān ilā Aḥkam al-Īmān, vol. 1 (Qom: Maṭba‘at Mu’assasat an-Nasyr al-Islāmī, 1310 H), hh. 232-233.

4 Khalīl b. Aḥmad al-Farāhīdī, al-‘Ain, vol. 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003 M/1424 H), hlm. 42.

5 Abū al-Ḥusain Aḥmad b. Fāris b, Zakariyyā, Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah, vol. 2 (Beirut: Dār al-Fikr, 1979 M/1399 H), hlm. 297.

6 Majd ad-Dīn al-Fairūzābādī, al-Qāmūs al-Muḥīṭ (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 2005 M/1426 H), hlm. 939.

7 Sa‘īd b. ‘Abdullāh al-Khūrī asy-Syartūnī, Aqrab al-Mawārid fī Fuṣaḥ al-‘Arabiyyah wa asy-Syawārid, vol. 1 (Qom: Mansyūrāt Maktabat Āyatillāh al-‘Uẓmā al-Mar‘asyī an-Najafī, 1310 H), hlm. 346.

8 Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr ad-Dīn Maḥmūd AḥmadraTafsīr-e-Kabīr, vol. 4 (Qadian: Naẓārat Nasyr wa Isyā‘at, 2004), hlm. 373.

9 Sa‘īd b. ‘Abdillāh al-Khūrī asy-Syartūnī, Aqrab al-Mawārid fī Fuṣaḥ al-‘Arabiyyah wa asy-Syawārid, vol. 2 (Qom: Mansyūrāt Maktabat Āyatillāh al-‘Uẓmā al-Mar‘asyī an-Najafī, 1310 H), hlm. 892.

10 Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr ad-Dīn Maḥmūdraop. cit., hlm. 373.

11 Abū al-Muẓaffar Ibnu Hubairah, Ijmā‘ al-A’immah al-Arba‘ah wa Ikhtilāfuhum, vol. 1 (Kairo: Dār al-‘Ulā li an-Nasyr wa at-Tauzī‘, 2009 M/1430 H), hlm. 119.

12 Ṣaḥīḥ MuslimKitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa QaṣrihāBāb al-Jam‘ baina aṣ-Ṣalātain fī al-Ḥaḍar, no. 705.

13 Jāmi‘at-TirmidzīKitāb aṣ-ṢalāhBāb Mā Jā’a fī al-Jam‘ baina aṣ-Ṣalātain, no. 187.

14 Ṣaḥīḥ MuslimKitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa QaṣrihāBāb al-Jam‘ baina aṣ-Ṣalātain fī al-Ḥaḍar, no. 706.

15 Al-Anwār fī Syamā’il an-Nabī al-MukhtārBāb fī Zuhdih wa I‘rāḍih ‘an ad-Dunyā, no. 438.

16 Sunan an-Nasā’īKitāb aṣ-ṢalāhBāb al-Waqt al-Ladzī Yajma‘ fīhi al-Muqīm, no. 599.

17 Ṣaḥīḥ al-BukhārīKitāb Mawāqīt aṣ-ṢalāhBāb aṣ-Ṣalawāt al-Khams Kaffārah, no. 528.

18 Musnad Aḥmad b. ḤanbalMusnad Abī Hurairahra, no. 7890.

19 Maulawī ‘Abd ar-Raḥīm DārdraLife of Aḥmadas (Surrey: Islam International Publications Limited, 2008), hlm. 214.

20 Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasFatḥ al-Islām (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2012), hlm. 23.

21 Lihat: Khotbah Jumat Khalīfatu-l’Masīḥ V tertanggal 22 April 2016. Video berterjemahan bahasa Indonesia dapat diakses di http://www.alislam.org/friday-sermon/2016-04-22.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar