Jumat, 08 Juli 2016

Salat Tiga Waktu

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Salat Tiga Waktu

Muslim Ahmadi menunaikan salat Jumat di Masjid Baitul Futuh, London, UK, Mashable

Saudara-saudara kita dari kalangan Syiah menyatakan bahwa salat wajib hanya terdiri atas tiga waktu meskipun yang dikerjakan tetap lima. Mereka mendasarkan pendapat demikian pada ayat Alquran di mana Allah Taala berfirman:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ إِلٰى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۝

“Dirikanlah salat sejak dulūk asy-syams hingga ghasaq al-lail serta bacalah qur’āna-l’fajr.”1

Syaikh Muḥammad as-Sabarwāzī an-Najafī, salah satu ahli tafsir Syiah yang mentereng, menulis bahwa ayat di atas mengandung tiga waktu salat:

1. Dulūk asy-syams, yakni:

أَيْ عِنْدَ زَوَالِهَا أَوْ وَقْتُ الزَّوَالِ وَهُوَ وَقْتُ الظَّهْرَيْنِ بِنَاءً عَلٰى أَنَّ اللَّامَ بِمَعْنَى الْوَقْتِ.

“Ketika matahari bergeser atau waktu pergeseran matahari, dalam kata lain, waktu salat aẓ-ẓuhrain (Zuhur dan Asar) berdasarkan adanya lām yang bermakna waktu.”

2. Ghasaq al-lail yang berarti:

أَيْ ظَلَامُهُ وَهُوَ وَقْتُ الْعِشَائَيْنِ.

“Kegelapan malam, dalam kata lain, waktu salat al-‘isyā’ain (Magrib dan Isya).”

3. Qur’āna-l’fajr yang terdefinisi sebagai:

صَلَاةُ الصُّبْحِ.

“Salat Subuh.”2

Jadi, seperti diterangkan oleh ‘Allāmah al-Ḥillī (w. 726 H), salah seorang alim Syiah yang paling masyhur sepanjang sejarah – bahkan, Ayatullah pertama dalam silsilah Syiah –, salat Zuhur dan salat Asar digabungkan dalam satu waktu: dari bergesernya matahari hingga keterbenamannya. Demikian juga, salat Maghrib dan salat Isya dipersatukan dalam satu waktu: setelah kemerahan senja berlalu hingga tengah malam.3

Sebenarnya, istidlāl atau berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan ketigawaktuan salat merupakan satu bentuk kekeliruan pemaknaan ayat, terutama kata dulūk. Kata dulūk, dalam leksikografi-leksikografi klasik bahasa Arab mengandung arti yang beragam. Kamus bahasa Arab tertua yang diketahui, al-‘Ain, karangan al-Farāhīdī (w. 170 H), ada tercatat:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: غَرَبَتْ، وَيُقَالُ: إِنَّ الدُّلُوْكَ زَوَالُهَا عَنْ كَبْدِ السَّمَاءِ.

“Matahari dalakat, yakni terbenam. Dikatakan pula: ad-dulūk adalah pergeseran matahari dari titik zenit langit.”4

Kemudian, Ibnu Fāris (w. 395 H), menuliskan:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: زَالَتْ، وَيُقَالُ: غَابَتْ.

“Matahari dalakat, yakni bergeser. Dikatakan pula: menghilang.”5

Al-Fairūzābādī (w. 812 H) mengungkapkan:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: غَرَبَتْ، أَوِ اصْفَرَّتْ، أَوْ مَالَتْ، أَوْ زَالَتْ عَنْ كَبْدِ السَّمَاءِ.

“Matahari dalakat, yakni terbenam, menguning, condong, atau bergeser dari titik zenit langit.”6

Sa‘īd al-Khūrī (w. 1331 H), ahli bahasa Arab pada awal zaman modern asal Lebanon, mengintisarikan:

دَلَكَتِ الشَّمْسُ: غَرَبَتْ، أَوِ اصْفَرَّتْ، وَقِيْلَ: مَالتْ أَوْ زَالَتْ عَنْ كَبْدِ السَّمَاءِ.

“Matahari dalakat, yakni terbenam atau menguning. Dikatakan pula: condong atau bergeser dari titik zenit langit.”7

Dari sini, bisa dilihat kesalahan Syiah dalam mengambil makna ayat di atas, yakni tidak memasukkan pengertian gharabat atau ketenggelaman matahari bagi kata dulūk asy-syams. Oleh sebab itu, menurut Ḥaḍrat Khalīfatu-l’Masīḥ IIra, frasa nomina dulūk asy-syams sesungguhnya mencakup tiga waktu salat, bukan dua: Zuhur, Asar, dan Magrib.  Zuhur dilaksanakan ketika matahari bergeser dari titik teratasnya di langit, Asar kala matahari mulai menguning, dan Magrib saat matahari terbenam.8

Berikutnya, yang menjadi catatan adalah pengartian ghasaq al-lail. Al-Khūrī menerangkan:

غَسَقَ اللَّيْلُ: اِشْتَدَّتْ ظُلُمَتُهُ.

“Malam ghasaqa, yakni bertambah kegelapannya.”

غَاسِقُ اللَّيْلِ: إِذَا غَابَ الشَّفَقُ وَاشْتَدَّتْ ظُلُمَتُهُ.

Ghāsiq al-lail, yakni jika senja menghilang dan kegelapan malam bertambah.”

غَسَقُ اللَّيْلِ: ظُلُمَةُ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ دُخُوْلُ أَوَّلِهِ حِيْنَ يَخْتَلِطُ الظَّلَامُ.

Ghasaq al-lail, yakni kegelapan awal malam atau waktu masuknya awal malam ketika kegelapan bercampur.”9

Dengan begitu, Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūdra menjelaskan bahwa ghasaq al-lail adalah waktu salat Isya saja, tidak mencakup salat Magrib.10

Di samping itu, tidak ada perbedaan di antara Mazhab Yang Empat bahwa waktu Isya bermula taktala senja masuk ke dalam waktu malam. Hanya saja, ada sedikit persilangan pendapat tentang apa warna senja yang memasukinya. Mālikrh, asy-Syāfi‘īrh, dan Aḥmadrh menilainya merah, sedangkan Abū Ḥanīfahra menakarnya putih.11

Kesimpulannya adalah, dalam ayat Surah Banī Isrā’īl yang dikutip tadi, terdapat lima waktu salat, bukan tiga, yaitu waktu salat Subuh, waktu salat Zuhur, waktu salat Asar, waktu salat Maghrib, dan waktu salat Isya.

Dalil dari Hadis

Selain dari Alquran, saudara-saudara Syiah kerap pula mendasarkan ketigawaktuan salat yang mereka anut pada hadis Ahli Sunnah. Misalnya, mereka mengutip riwayat Imam Muslimrh:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا فِيْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ.

“Dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pernah menjamak salat Zuhur dan salat Asar serta menjamak salat Magrib dan Isya ketika tidak dalam keadaan takut atau safar.”12

Dalam riwayat Imam at-Tirmidzīrh disebutkan juga, “Ketika tidak hujan.”13

Ketika ditanya oleh Sa‘īd b. Jubairrh, murid beliau yang merawikan hadis ini, mengapa Nabi SuciSAW melakukannya, Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra menjawab:

أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ.

“Beliau tidak ingin menyusahkan seorang pun dari umat beliau.”14

Singkatnya, hadis-hadis ini dipergunakan oleh Muslim Syiah untuk melegitimasi apa yang mereka laksanakan.

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah bahwa Ibnu ‘Abbāsra menggunakan kata kerja dalam bentuk māḍī atau lampau. Artinya, amalan Nabi SuciSAW menjamak keempat salat tersebut diperagakan sesekali saja, tidak di setiap waktu. Seumpama perbuatan itu bersifat kontinu, yang seharusnya dipergunakan Ibnu ‘Abbāsra adalah كَانَ يُصَلِّيْ sebab apabila kāna memiliki khabar dari fi‘l muḍāri‘, yang demikian menandakan keterus-menerusan sebuah pekerjaan di masa silam. Sampelnya adalah hadis riwayat al-Baghawī­rh berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبِيْتُ اللَّيَالِيَ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا، وَأَهْلُهُ لا يَجِدُوْنَ عَشَاءً، وَكَانَ أَكْثَرَ خُبْزِهِمْ خُبْزُ الشَّعِيْرِ.

“Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pernah menjalani beberapa malam berturut-turut dengan melipat perut, sedangkan keluarga beliau tidak mendapatkan sedikit pun makan malam dan roti jelai merupakan kebanyakan roti yang mereka punyai.”15

Di sini, Ibnu ‘Abbāsra memperkatakan kāna yabīt. Maksudnya, selama malam-malam itu, RasūlullāhSAW selalu tidak memiliki makanan apa pun sehingga beliau terpaksa berperut melipat.

Selanjutnya, apabila ditelaah lebih lanjut, hadis Ibnu ‘Abbāsra yang tengah menjadi pembahasan ini sejatinya berbicara tentang jamak ṣūrī, yakni praktik mendirikan suatu salat di akhir waktunya dan salat setelahnya di awal waktunya sehingga tampak seolah-olah menjamak. Imam an-Nasā’īrh mencatat:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا، أَخَّرَ الظُّهْرَ وَعَجَّلَ الْعَصْرَ، وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ.

“Dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra: Aku menjamak di belakang Ḥaḍrat RasūlullāhSAW salat Zuhur dan salat Asar serta salat Magrib dan salat Isya. Beliau mengakhirkan Zuhur dan menyegerakan Asar serta mengakhirkan Magrib dan menyegerakan Isya.”16

Konklusi yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa Nabi SuciSAW memang pernah menjamak salat tanpa uzur, tetapi sesekali saja dan tidak berkelanjutan. Praktik yang beliau lakukan pun merupakan jamak ṣūrī yang jelas berbeda dengan kaifiat salat Syiah soal menyatukan lima salat dalam tiga waktu.

Sebuah Nubuat

Sekarang, yang menjadi pertanyaannya adalah, “Mengapa RasūlullāhSAW sengaja menjamak salat Zuhur dan salat Asar serta salat Magrib dan salat Isya secara ṣūrī?” Telah disebutkan sebelumnya bahwa tujuan beliau adalah supaya tidak seorang pun di kalangan umat beliau merasakan kesulitan. Namun, kesulitan dalam hal apa? Apakah, dengan begitu, salat lima waktu yang berkesinambungan adalah satu bentuk kesukaran?

Untuk menjernihkan pemikiran seperti ini, perlu ditekankan kembali bahwa salat lima waktu merupakan amalan mutawātir yang terus dilaksanakan umat Islam sejak zaman Ḥaḍrat NabiSAW. Sesuatu yang bersifat mutawātir, yakni mendapat pengakuan dan pengamalan dari generasi demi generasi, menatijahkan pengetahuan yang badīhī alias jelas dan terang-benderang sehingga tidak membutuhkan penjelasan lagi. Oleh sebab itu, kelimawaktuan salat tidak mungkin salah, bahkan mengandung kebenaran yang pasti bahwa ia berasal dari Ḥaḍrat NabiSAW.

Kemudian, salat lima waktu pada hakikatnya bukanlah sebentuk kesusahan. Kebalikannya, salat lima waktu adalah kenikmatan rohani yang tiada tara. Yang Mulia Nabi MuḥammadSAW sendiri mengistilahkan kelezatan ini seumpama seseorang yang di samping rumahnya ada sebuah sungai yang jernih lalu ia mandi lima kali sehari di sungai tersebut. Tentunya, badan orang itu akan sangat bersih dan tidak sedikit pun kotoran tersisa dari tubuhnya.17 Jadi, bagi mukmin hakiki, salat lima waktu merupakan kenikmatan dan kelezatan spiritual yang tanpanya ia tidak mungkin bertahan hidup.

Sesungguhnya, maksud Nabi SuciSAW untuk tidak mempersulit umat beliau dengan memperkenankan jamak ṣūrī mengandung nubuat yang berkaitan dengan sosok Masīḥ Mau‘ūdas. Mengenai wujud yang dijanjikan ini, Imam Aḥmadra menarasikan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ، فَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ، وَيَمْحُو الصَّلِيْبَ، وَتُجْمَعُ لَهُ الصَّلاةُ، وَيُعْطِي الْمَالَ حَتّٰى لَا يُقْبَلَ، وَيَضَعُ الْخَرَاجَ، وَيَنْزِلُ الرَّوْحَاءَ فَيَحُجُّ مِنْهَا أَوْ يَعْتَمِرُ أَوْ يَجْمَعُهُمَا.

“Dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: ‘Īsā b. Maryamas akan turun kemudian membunuh babi, menghapus salib, salat dijamak bagi beliau, memberikan harta hingga tidak ada lagi yang bersedia menerimanya, meninggalkan jizyah, serta mengunjungi ar-Rauḥā’ lalu berhaji atau berumrah atau menggabungkan keduanya dari sana.”18

Ketika Masīḥ Mau‘ūdas datang, Islam di India tengah diserang dari segala penjuru oleh penganut agama-agama lain. Ribuan buku, pamflet, selebaran, dan berbagai bentuk publikasi lainnya ditebarkan guna mendiskreditkan Islam dan Pendirinya, Nabi Suci MuḥammadSAW. Melihat keadaan yang memilukan ini, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Masīḥ Mau‘ūd, bangkit untuk menjawab tuduhan-tuduhan dan keberatan tersebut dengan menulis banyak buku, menggelar perdebatan, berpidato di depan umum, dan mengadakan perjalanan ke kawasan-kawasan tertentu di India.

Antara bulan Maret dan April 1889, setelah baiat pertama, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mengadakan perjalanan ke kota Aligarh dengan ditemani oleh Maulawī ‘Abdullāh Sannaurīra, Syāh Ḥamīd ‘Alīra, dan Mīr ‘Abbās ‘Alī. Beliau menginap di rumah Sayyid Tafaḍḍul Ḥusain Taḥṣīldār.19 Sekali waktu, beliau didatangi oleh Maulawī Muḥammad Ismā‘īl, ulama setempat, dan diminta untuk memberikan khotbah Jumat. Pada awalnya, Ḥuḍūras mengiyakan permintaan tersebut. Namun, ilham datang dari Allah Taala yang melarang beliau untuk terlalu sibuk melakukan pekerjaan otak karena akan menguras kesehatan beliau. Ḥuḍūras pun menerima dan patuh kepada perintah Allah. Akan tetapi, sesudah diberitahu akan keadaan ini, Maulawī Muḥammad Ismā‘īl menjadi marah lalu menuduh Ḥuḍūras dengan delapan tuduhan yang kasar.

Salah satu keberatan yang diajukan kepada beliau adalah bahwa beliau melaksanakan salat di akhir waktu dan tidak menaruh perhatian terhadap salat berjamaah. Sebagai jawaban, beliau mengemukakan bahwa jamak ṣūrī yang beliau peragakan semata-mata linear dengan sunnah Nabi KarimSAW, terlebih lagi beliau tengah bermusafir dan sakit saat itu. Beliau mengungkapkan juga bahwa justru para ulamalah – yang digelari muwaḥḥidūn – yang telah salah kaprah memaknai hadis jamak ṣūrī sehingga mereka sampai meragawikannya di rumah-rumah tanpa ada uzur safar ataupun hujan.20

Dalam riwayat lain, Nabi SuciSAW pernah bersabda bahwa pada zaman kemunculan Dajjal, waktu akan berubah sedemikian rupa sehingga hari pertamanya serasa seperti setahun, hari keduanya seperti sebulan, dan hari ketiganya seperti hari-hari biasa. Kala ditanya, apakah dalam satu hari yang seperti setahun itu, salat lima waktu cukup didirikan sekali saja, yakni lima kali dalam setahun, beliau menjawab bahwa salat lima waktu harus tetap dikerjakan dengan menghitungnya semisal hari-hari biasa.21 Hadis ini pada dasarnya meramalkan bahwa tablig dan dakwah Islam melalui para pengikut Masīḥ Mau‘ūdas akan menjangkau wilayah-wilayah di mana sehari dijumpai seperti setahun, sebulan, dan hari-hari normal. Dalam kata lain, Islam akan tersebar ke seluruh belahan dunia, dari Kanada yang teratas sampai Uruguay yang terbawah.

Anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah yang berkediaman di negara-negara yang berdekatan dengan kedua kutub tetap bersalat lima waktu sehari dan tidak menjamak salat meskipun waktu antara dua salat terkadang sangat berdekatan. Ḥaḍrat Mīrzā Masroor Aḥmadatba, Khalīfatu-l’Masīḥ V, menegaskan kembali ihwal ini beberapa waktu lalu.21 Namun, taktala kegiatan-kegiatan keagamaan digelar, seperti Jalsah Salanah dan Ijtima, di mana propagasi Islam disampaikan, salat-salat tersebut dipersilahkan untuk diakhirkan dan diawalkan secara jamak ṣūrī agar waktu yang dipakai menjadi lebih efisien. Dengan demikian, selain pada wujud Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas, nubuat Nabi SuciSAW tentang jamak ṣūrī juga tergenapi pada persona murid-murid beliau.

فَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى ذٰلِكَ

---0---

Bibliografi

1 Q.S. 17:79.

2 Syaikh Muḥammad as-Sabarwāzī an-Najafī, Irsyād al-Adzhān ilā Tafsīr al-Qur’ān (Beirut: Dār at-Ta‘āruf li al-Maṭbū‘āt, 1998), hlm. 294.

3 Abū Manṣūr al-Ḥasan b. Yūsuf al-Asadī al-Ḥillī, Irsyād al-Adzhān ilā Aḥkam al-Īmān, vol. 1 (Qom: Maṭba‘at Mu’assasat an-Nasyr al-Islāmī, 1310 H), hh. 232-233.

4 Khalīl b. Aḥmad al-Farāhīdī, al-‘Ain, vol. 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003 M/1424 H), hlm. 42.

5 Abū al-Ḥusain Aḥmad b. Fāris b, Zakariyyā, Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah, vol. 2 (Beirut: Dār al-Fikr, 1979 M/1399 H), hlm. 297.

6 Majd ad-Dīn al-Fairūzābādī, al-Qāmūs al-Muḥīṭ (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 2005 M/1426 H), hlm. 939.

7 Sa‘īd b. ‘Abdullāh al-Khūrī asy-Syartūnī, Aqrab al-Mawārid fī Fuṣaḥ al-‘Arabiyyah wa asy-Syawārid, vol. 1 (Qom: Mansyūrāt Maktabat Āyatillāh al-‘Uẓmā al-Mar‘asyī an-Najafī, 1310 H), hlm. 346.

8 Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr ad-Dīn Maḥmūd AḥmadraTafsīr-e-Kabīr, vol. 4 (Qadian: Naẓārat Nasyr wa Isyā‘at, 2004), hlm. 373.

9 Sa‘īd b. ‘Abdillāh al-Khūrī asy-Syartūnī, Aqrab al-Mawārid fī Fuṣaḥ al-‘Arabiyyah wa asy-Syawārid, vol. 2 (Qom: Mansyūrāt Maktabat Āyatillāh al-‘Uẓmā al-Mar‘asyī an-Najafī, 1310 H), hlm. 892.

10 Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr ad-Dīn Maḥmūdraop. cit., hlm. 373.

11 Abū al-Muẓaffar Ibnu Hubairah, Ijmā‘ al-A’immah al-Arba‘ah wa Ikhtilāfuhum, vol. 1 (Kairo: Dār al-‘Ulā li an-Nasyr wa at-Tauzī‘, 2009 M/1430 H), hlm. 119.

12 Ṣaḥīḥ MuslimKitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa QaṣrihāBāb al-Jam‘ baina aṣ-Ṣalātain fī al-Ḥaḍar, no. 705.

13 Jāmi‘at-TirmidzīKitāb aṣ-ṢalāhBāb Mā Jā’a fī al-Jam‘ baina aṣ-Ṣalātain, no. 187.

14 Ṣaḥīḥ MuslimKitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa QaṣrihāBāb al-Jam‘ baina aṣ-Ṣalātain fī al-Ḥaḍar, no. 706.

15 Al-Anwār fī Syamā’il an-Nabī al-MukhtārBāb fī Zuhdih wa I‘rāḍih ‘an ad-Dunyā, no. 438.

16 Sunan an-Nasā’īKitāb aṣ-ṢalāhBāb al-Waqt al-Ladzī Yajma‘ fīhi al-Muqīm, no. 599.

17 Ṣaḥīḥ al-BukhārīKitāb Mawāqīt aṣ-ṢalāhBāb aṣ-Ṣalawāt al-Khams Kaffārah, no. 528.

18 Musnad Aḥmad b. ḤanbalMusnad Abī Hurairahra, no. 7890.

19 Maulawī ‘Abd ar-Raḥīm DārdraLife of Aḥmadas (Surrey: Islam International Publications Limited, 2008), hlm. 214.

20 Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasFatḥ al-Islām (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2012), hlm. 23.

21 Lihat: Khotbah Jumat Khalīfatu-l’Masīḥ V tertanggal 22 April 2016. Video berterjemahan bahasa Indonesia dapat diakses di http://www.alislam.org/friday-sermon/2016-04-22.html.

Rabu, 06 Juli 2016

Menyoal Orang-Orang Kudus Yang Bangkit dari Kubur

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Menyoal Orang-Orang Kudus Yang Bangkit dari Kubur

Jesus in Limbo by Domenico Beccafumi, Wikipedia

Salah satu catatan Injil yang luar biasa berkenaan dengan hari-hari terakhir Yesus Kristus adalah kejadian tentang orang-orang kudus yang bangkit dari kubur dan menampakkan diri kepada orang-orang Yahudi. Dalam Matius, kita membaca:

“Dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.”1

Kisah di atas, bila memang benar-benar terjadi, merupakan sesuatu yang sangat besar, hebat, dan tentunya menggemparkan. Namun, uniknya, dari keempat penulis Injil, hanya Matius yang mewartakan peristiwa spektakuler tersebut, sedangkan Markus, Lukas, dan Yohanes membisu mengenainya. Hal ini jelas mengundang tanda tanya, “Mengapakah  fenomena yang begitu fantastis dan mencengangkan tidak dilaporkan secara serentak oleh keempat Injil, padahal waktu penulisan keempatnya juga sangat berdekatan?”2

Beberapa apologis Kristen berusaha menjawab pertanyaan ini. Misalnya, pengelola blog “Apologia Kristen”3 berargumentasi bahwa hal demikian disebabkan oleh adanya perbedaan orientasi dalam penulisan keempat Injil. Karena Matius semata-mata ditujukan kepada orang-orang Yahudi tulen yang memiliki tradisi bahwa para nabi akan dibangkitkan pada masa Mesias,4 narasi itu pun ditulis olehnya. Sementara itu, Markus dipertuntukkan bagi Yahudi helenistik dan Lukas bagi kaum gentiles. Jadi, wajar saja jika ketiga penulis Injil lain tidak mencatat riwayat tersebut. Benarkah begitu?

Untuk mengeksaminasi pernyataan ini, tiga ihwal berikut perlu dipertimbangkan:

Pertama, tidak ada keraguan bahwa bangkitnya orang-orang kudus yang telah meninggal dunia dan menampaknya mereka di tengah-tengah kota adalah satu mukjizat agung. Matthew Henry (w. 1714 M), salah seorang penafsir Alkitab yang paling ternama, mengonfirmasi hal ini. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kebangunan mereka merupakan pelajaran bahwa:

“Jesus Christ, by dying, conquered, disarmed, and disabled death.”

“Yesus Kristus telah menaklukkan, melucuti, dan melumpuhkan maut melalui kematian-Nya.”

Bahkan:

“These saints, that arose, were the present trophies of the victory of Christ’s cross over the powers of death, which He thus made a show of openly.”

“Orang-orang kudus yang bangkit kembali itu merupakan piala kemenangan salib Kristus atas segala kuasa maut. Dia mempertontonkan piala kemenangan salib-Nya ini di hadapan orang banyak.”5

Kedua, memang benar bahwa audiens Markus adalah orang-orang Yahudi helenistik, yakni kelompok Yahudi yang bentuk keber-agama-an mereka telah dipengaruhi oleh kebudayaan dan peradaban Yunani.6 Demikian juga, sasaran Lukas adalah gentiles, bangsa-bangsa non-Yahudi, terutama orang-orang Yunani, sebagaimana diindikasikan oleh penggunaan sapaan Yunani “teofilus” (θεόφιλος) – yang bermakna ‘terkasih Tuhan’ – bagi para pembaca Injil tersebut pada ayat pertamanya.7 Namun, mesti diingat pula bahwa mukjizat pun mendapat tempat yang tinggi dalam tradisi helenistik. Apabila dalam lingkungan Yahudi mukjizat mempunyai fungsi legitimasi, yakni memvalidasi otoritas seorang nabi selaku agen Tuhan, mukjizat dalam ruang lingkup helenistik yang lebih luas dapat menyingkapkan si pelaku mukjizat sebagai seorang manusia ilahi, epifani atau yang tercahayai, dan utusan Tuhan.8 Markus sendiri memasukkan berbagai catenae atau rangkaian ceritera mukjizat untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia ilahi sesuai dengan tradisi helenistik, seperti mukjizat laut (Mrk 4:35-41; 6:45-51), mukjizat penyembuhan (Mrk 5:1-43; 8:22-26; 7:24-37), dan mukjizat pemberian makan (Mrk 6:34-44; 8:1-10).9 Jadi, mukjizat sebenarnya menduduki signifikansi yang besar dalam teologi Injil Markus dan Injil Lukas.

Ketiga, meskipun tidak disinggung oleh pemilik blog, Yohanes sejatinya juga menaruh perhatian yang khusus terhadap mukjizat karena ia menulis Injilnya untuk membuktikan ketuhanan Kristus.10 Dalam Injil terakhir tersebut, terdapat paling tidak tujuh hikayat mukjizat Yesus, termasuk cerita Lazarus yang dihidupkan kembali setelah sebelumnya mati selama empat hari.11

Atas alasan-alasan ini, dalil yang dikemukakan oleh administrator blog “Apologia Kristen” bahwa kebangkitan orang-orang kudus serta keberjalanan mereka ke muka kaum Yahudi tidak dirawikan ketiga penulis Injil selain Matius karena mereka memiliki orientasi yang berbeda tidaklah tepat. Kejadian itu – yang merupakan satu bentuk mukjizat akbar, malahan bisa dibilang paling akbar –, jika sungguh-sungguh nyata, sudah seharusnya mereka penakan melihat betapa pentingnya konten yang terkandung di dalamnya bagi para pembaca mereka. Dengan kata lain, peristiwa tersebut bukanlah suatu kenyataan faktual.

Di samping itu, merupakan kebiasaan para penulis Injil untuk bersepakat mengitabkan fenomena-fenomena yang bersifat supranatural. Pembaptisan Yesus oleh Yohanes,12 pencobaan Yesus oleh Iblis,13 serta pertemuan Yesus dengan Musa dan Elia14 merupakan misal-misal yang patut diketengahkan. Jadi, ketika Matius bersendirian mengisahkan sebuah fenomena yang begitu dahsyat – bertentangan dengan adat yang dipaparkan tadi –, bisa disimpulkan bahwa keterangan Matius ini bukan suatu perkara yang nyata-nyata terjadi.

Satu hal yang cukup menarik adalah, selain pleidoi yang rapuh di atas, pihak blog “Apologia Kristen” juga mengemukakan beberapa keterangan sejarah perihal gempa bumi dan gerhana matahari yang mengiringi kebangkitan orang-orang kudus untuk mendukung pendapatnya bahwa, sebagaimana gempa bumi dan gerhana matahari saat penyaliban Yesus adalah fakta sejarah, kebangunan orang-orang kudus pun adalah fakta sejarah.

Mula-mula, ia mengutip Origen (w. 254 M), teolog Kristen yang masyhur asal Aleksandria, murid dari Clement (w. 215 M). Origen menyadur dari Phlegon, sejarawan Yunani pada pertengahan abad pertama Masehi, bahwa:

“In the 202nd Olympiad (33 AD) that there was ‘the greatest eclipse of the sun’ and that it became night in the sixth hour of the day (12:00 noon) so that no star even appeared in the heavens. There was a great earthquake in Bithynia, and many things were overturned in Nicea.”

“Pada tahun ke-202 Olimpiad (33 M), terjadi gerhana matahari terbesar dan suasana menjadi malam pada pukul keenam hari itu (12 siang) sehingga bintang tidak sampai tampak di langit. Terjadi juga sebuah gempa bumi besar di Betania dan banyak benda terjungkir balik di Nicea.”

Pada dasarnya, menyandarkan kutipan ini pada Origen adalah sebuah kesalahan karena bukan Origen yang mengambilnya dari Phlegon, melainkan Eusebius (w. 339 M) dalam Chronicle. Kemudian, kutipan ini pun tidak lengkap dan tidak tepat. Yang benar adalah sebagai berikut:

“Jesus Christ, the Son of God, our Lord, according to the prophecies concerning him, came to his passion on the 19th year of the reign of Tiberius; about which time, we find these things related, in other, even Gentile memoirs, in these very words: ‘The sun was eclipsed; there was an earthquake in Bithynia, and many houses were overturned in Nice.’ All which things he relates with what happened at our Savior’s passion. So writes and says the author of the Olympiads, in the thirteenth book, in these words: ‘In the fourth year of the two hundred and second Olympiad there was an eclipse of the sun, the greatest of anyone before. And it was night at the sixth hour of the day was turned into dark night, so that the stars appeared in the heavens. And there was a great earthquake in Bithynia which overturned many houses in the city of Nice.’”

“Yesus Kristus, Anak Allah, Tuhan kita, berdasarkan nubuat-nubuat mengenai dirinya, menanggung penderitaannya pada tahun ke-19 masa kekuasaan Tiberius, yakni waktu ketika kita juga menemukan hal-hal yang berhubungan dengannya, bahkan pada memoir-memoir Gentile, dalam kata-kata seperti ini, ‘Matahari bergerhana, sebuah gempa bumi terjadi di Betania dan banyak rumah terjungkir balik di Nicea.’ Segala hal yang diucapkan dalam memoir itu berhubungan dengan apa yang terjadi sewaktu penderitaan Juru Selamat kita. Begitu pula pengarang Olympiads (Phlegon – Pen.) menulis dan berkata dalam buku ke-13 dalam kata-kata seperti ini, ‘Pada tahun keempat dari tahun ke-202 Olimpiad, terjadi sebuah gerhana matahari, terbesar dari yang ada sebelumnya. Suasana menjadi malam pada pukul keenam hari itu sehingga bintang-bintang pun tampak di langit. Terjadi juga sebuah gempa bumi besar di Betania yang menjungkirbalikkan banyak rumah di kota Nicea.”15

Adapun yang dikalamkan oleh Origen adalah:

“And with regard to the eclipse in the time of Tiberius Cæsar, in whose reign Jesus appears to have been crucified, and the great earthquakes which then took place, Phlegon too, I think, has written in the thirteenth or fourteenth book of his Chronicles.”

“Dan berkenaan dengan gerhana pada era Tiberiues Cæsar, yang di dalam masa kekuasaannya kemungkinan Yesus disalibkan serta gempa bumi-gempa bumi besar berlangsung, Phlegon juga, saya pikir, telah menulisnya dalam buku ke-13 atau ke-14 dari Chronicle-nya.”16

Charles Burlingname Waite (w. 1909 M), sejawaran dan mantan hakim federal Amerika Serikat di era Abraham Lincoln, setelah penelaahan yang mendalam, sampai pada pernyataan bahwa kedua kutipan Origen dan Eusebius di atas adalah pemalsuan atas nama Phlegon. Dia mengajukan beberapa alasan rasional dan logis untuk membuktikan klaimnya.

Pertama, ia berkata bahwa Phlegon adalah sejarawan heathen, yakni penyembah berhala – karena berasal dari Yunani –, yang menulis di sekitar pertengahan abad kedua dan karya-karyanya telah hilang.17 Jadi, dari sosoknya sendiri, Phlegon sudah patut dipertanyakan kredibilitasnya, apakah yang dipenakannya sejarah atau bukan.

Kedua, riwayat yang Origen rawikan dari Phlegon tersebut juga mengundang kesangsian. Para penulis kontemporer yang telah meneliti dengan saksama memaparkan bahwa matahari tidak mungkin bergerhana taktala Yesus disalib sebab penyaliban itu berlaku kala paskah (passover) Yahudi, yakni saat bulan tengah berpurnama.18

Betapa pun juga, toh, Origen, dalam tafsirnya terhadap Matius 27:45, akhirnya mengatakan bahwa Phlegon memang tidak menyebutkan kematian Yesus sebagai waktu terjadinya gerhana matahari tersebut. Oleh sebab itu, ia menyimpulkan, “Kita mesti tidak terlalu positif mempertahankan, dalam melawan para penyembah berhala (yang menaruh keberatan dan menjadi lawan debatnya – Pen.), bahwa Phlegon berbicara tentang kegelapan yang berlangsung saat kewafatan Yesus Kristus.19

Memperbincangkan nukilan Eusebius dari Phlegon tadi, Waite menjulukinya dengan kalimat:

“This is one of the most manifest of the forgeries of Eusebius.”

“Ini merupakan salah satu pemalsuan yang paling kentara dari Eusebius.”20

Seandainya benar bahwa ini adalah perkataan Phlegon, ujar Waite, yakni terjadi gerhana persis ketika Yesus disalibkan, niscaya Origen akan terlebih dahulu mempergunakannya sebagai senjata untuk melawan musuh-musuh debatnya yang sangat keras kala itu.

Lagi pula, lanjut Waite, nukilan tersebut mengandung bukti internal yang menampakkan kepalsuannya. Eusebius, dalam saduran itu, terlihat sudah mengutip Phlegon sejak awal dalam kalimat, “Matahari bergerhana, sebuah gempa bumi terjadi di Betania dan banyak rumah terjungkir balik di Nicea.” Akan tetapi, Phlegon kemudian dibuat berkata, “Pada tahun keempat dari tahun ke-202 Olimpiad ... Nicea.” Semua materi baru ini, ungkap Waite, diimbuhkan ke dalam kutipan dan dengan kutipan itu sendiri sejatinya berbeda. Apa yang tadinya hanya “sebuah gempa bumi” menjadi “sebuah gempa bumi besar” dan frasa “matahari bergerhana” terus ditambah-tambahi dengan berbagai macam kejadian.

Anehnya lagi, kata Waite, ada-ada saja bahwa seorang sejarawan penyembah berhala, demi menopang agama Kristen, sampai rela menarasikan sebuah gempa bumi dan gerhana matahari yang berlangsung persis ketika Yesus disalibkan kendati hari itu adalah hari purnacandra. Hal ini hanya dapat disamai dengan membuat seorang sejarawan Yahudi mempermaklumkan bahwa Yesus adalah Mesias.21

Selanjutnya, pengurus laman “Apologia Kristen” menyalin keterangan Thallus, sejarawan Yunani lain pada pertengahan abad pertama, yang ditulis ulang oleh Julius Africanus (w. 240 M), pelancong dan sejarawan Kristen yang juga terkenal:

“This darkness Thallus, in the third book of his History, calls, as appears to me without reason, an eclipse of the sun.”

“Kegelapan yang disebut Thallus dalam buku ketiga History­-nya sebagai gerhana matahari ini tampak tidak masuk akal bagi saya.”

Agar lebih jelas, saduran lengkapnya adalah sebagai berikut:

“On the whole world there pressed a most fearful darkness; and the rocks were rent by an earthquake, and many places in Judea and other districts were thrown down. This darkness Thallus, in the third book of his History, calls, as appears to me without reason, an eclipse of the sun. For the Hebrews celebrate the passover on the 14th day according to the moon, and the passion of our Savior falls on the day before the passover; but an eclipse of the sun takes place only when the moon comes under the sun. And it cannot happen at any other time but in the interval between the first day of the new moon and the last of the old, that is, at their junction: how then should an eclipse be supposed to happen when the moon is almost diametrically opposite the sun? Let opinion pass however; let it carry the majority with it; and let this portent of the world be deemed an eclipse of the sun, like others a portent only to the eye. Phlegon records that, in the time of Tiberiues Cæsar, at full moon, there was a full eclipse of the sun from the sixth hour to the ninth –manifestly that one of which we speak. But what has an eclipse in common with an earthquake, the rending rocks, and the resurrection of the dead, and so great a perturbation throughout the universe? Surely no such event as this is recorded for a long period. But, it was a darkness induced by God, because the Lord happened then to suffer.”

“Di seluruh dunia, terpampang kegelapan yang amat menakutkan, bukit-bukit batu terbelah karena sebuah gempa bumi, dan banyak tempat di Yudea dan desa-desa lain terjengkolet. Kegelapan yang disebut Thallus dalam buku ketiga History­-nya sebagai gerhana matahari ini tampak tidak masuk akal bagi saya. Sebab, orang-orang Ibrani merayakan paskah pada hari ke-14 berdasarkan bulan dan penderitaan Tuhan kita jatuh tempo sehari sebelum paskah. Akan tetapi, sebuah gerhana matahari hanya dapat berlangsung ketika bulan berada di bawah matahari dan tidak dapat pula terjadi di sembarang waktu selain dalam interval antara hari pertama bulan baru dan hari-hari terakhir bulan tua, yakni saat persinggungan keduanya. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin sebuah gerhana dikira telah terjadi ketika bulan hampir secara diametral berlawanan dengan matahari? Bagaimanapun jua, biarlah pemikiran ini mengalir, biarlah ia membawa sebagian besar orang bersamanya, biarlah tanda dunia ini dianggap sebagai sebuah gerhana matahari, seperti yang lainnya, tanda yang hanya bertautan dengan mata. Phlegon merekam bahwa pada masa Tiberius Cæsar, saat bulan purnama, telah terjadi gerhana matahari total dari pukul keenam sampai pukul kesembilan, kentaranya gerhana yang tengah kita bicarakan. Akan tetapi, apa pertaliannya sebuah gerhana dengan sebuah gempa bumi, bukit-bukit batu yang terbelah, dan kekacauan yang amat besar di segenap alam raya? Sungguh, peristiwa demikian tidak pernah terekam dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi, itu adalah sebuah kegelapan yang ditimbulkan oleh Allah sebab Tuhan tengah menyengsara.”22

Dari sini bisa diketahui dengan jelas bahwa Julius Africanus pun mulanya menyangsikan keterangan Thallus dan Phlegon karena menurutnya tidak masuk akal bahwa matahari bergerhana ketika bulan tengah berpurna. Sayangnya, disebabkan oleh ketidakadaan data lain di luar kedua ahli sejarah heathen tersebut, Julius menerima saja keterangan mereka tanpa ambil pusing lagi. Toh, dengan mengadopsi pendapat itu, ditambah beberapa bahan lain, ia dapat menghiasi dekorasi teologisnya tentang ketuhanan Yesus.

Mengetengahkan lagi argumen Waite, hikayat Thallus ini juga patut disyaki. Thallus adalah sejarawan Syiria yang menulis dalam bahasa Yunani pada pertengahan abad kedua Masehi. Ia dikutip oleh Justin Martyr, Tertullian, Minucius Felix, Lactantius, dan Theopilus. Namun, kutipan di atas sama sekali tidak dijumpai dalam karya-karya mereka dan tidak pula diketahui oleh penulis kuno yang lain.23

Jadi, seperti kepunyaan Phlegon, narasi Thallus pun sama-sama dipalsukan.

Berikutnya, penulis blog mengatakan bahwa gempa bumi yang tercantum dalam Matius diceritakan pula oleh Dionysius dari Alexandria (w. 265 M) dalam suratnya kepada Basilides, Bishop Pentapolis. Bila naskah surat tersebut dibaca dengan teliti, akan tampaklah bahwa sang penulis tidak membacanya secara langsung atau setidaknya kurang hati-hati. Dalam surat itu,  Dionysius memang menyebutkan kisah gempa bumi, tetapi yang dituturkannya hanyalah saduran yang sama persis dari Matius 28:1-6 tentang kebangkitan Yesus.24 Kemudian, tujuan surat yang ditulis oleh Dionysius sejatinya adalah untuk menjawab pertanyaan Basilides mengenai pukul berapa seseorang mesti mengakhiri puasanya di saat paskah.25 Hal ini wajar mengingat Dionysius dari Alexandria adalah Paus,26 pemimpin tertinggi Gereja Roma, yang berkapasitas untuk memberikan jawaban-jawaban keagamaan semacam itu.

Singkatnya, Dionysius bukanlah sejarawan. Oleh sebab itu, andaikata ditemukan di tempat lain bahwa Dionysius menarasikan peristiwa semisal gempa bumi yang terjadi lebih dari 100 tahun sebelum ia lahir tanpa menyinggung sumber utamanya, keterangannya tersebut tidak layak dipertimbangkan dan sama sekali tidak memiliki historical value.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti-bukti ini adalah, sebagaimana peristiwa yang diperbincangkan Phlegon dan Thallus tidak benar alias dipalsukan atas nama mereka, lalu tulisan Dionysius pun semata-mata menukil dari Matius, kebangkitan orang-orang kudus dari kuburan juga sama-sama batil dari kaca mata lahiriah.27

Selanjutnya, masih untuk membenarkan kepercayaannya bahwa orang-orang kudus benar-benar bangkit dari kubur dan berjalan menampakkan diri ke hadapan khalayak ramai, admin blog mengajukan kembali kutipan Quadratus (w. 129 M), Bishop Athena yang juga apologis pertama Kekristenan, sebagai berikut:

“But our Savior's works were permanent, for they were real. Those who had been cured or rose from the dead not only appeared to be cured or raised but were permanent, not only during our Savior’s stay on earth, but also after his departure. They remained for a considerable period, so that some of them even reached our times.”

“Akan tetapi, karya-karya Juru Selamat kita permanen karena mereka nyata. Mereka yang telah disembuhkan atau dibangkitkan dari kematian tidak hanya tampak sembuh atau dibangkitkan, tetapi mereka permanen, tidak hanya ketika Juru Selamat kita tinggal di bumi, tetapi juga setelah kemangkatannya. Mereka tetap ada untuk jangka waktu yang cukup lama hingga beberapa orang dari antara mereka mencapai masa kita.”

Menurut tulisan pihak blog “Apologia Kristen”, orang-orang kudus yang dibangkitkan setelah Yesus bangkit termasuk dalam kategori yang dipercakapkan Quadratus ini.

Sebermulanya, perlu dijernihkan di sini bahwa kalam Quadratus di atas tidak terlihat di dalam catatan sejarah mana pun, kecuali dalam Ecclesiastical History, lagi-lagi karangan Eusebius. Kelengkapannya ialah di bawah ini:

“After Trajan held power for nineteen and a half years, Aelius Hadrian succeeded to the rule. To this one, Quadratus addressed and delivered a writing in which he set forth a defense of our religion, since some wicked men were attempting to cause a disturbance in our affairs. And the book is still in circulation among most of the brothers; indeed we ourselves have a copy, from which one can see clear signs both of the man’s intelligence and of his apostolic orthodoxy. And he reveals his early date by what he reports in his own words:

‘But the works of our savior were always present, for they were true. Those who were healed and raised from the dead were not only seen when healed and raised, but they were always present, and not just while the savior was here, but even when he had gone they remained for a long time, so that some of them have survived to our own time.’”

“Setelah Trajan berkuasa selama 19,5 tahun, Aelius Hadrian naik menggantikannya. Kepada orang ini, Quadratus pernah memberikan dan menyampaikan sebuah tulisan yang di dalamnya ia mengetengahkan pembelaan bagi agama kita karena beberapa orang jahat berupaya mengacaukan urusan kita. Buku itu masih beredar di antara sebagian besar saudara-saudara kita, bahkan kami memiliki sebuah salinannya, yang darinya seseorang dapat melihat tanda-tanda yang jelas mengenai kecerdasan orang ini dan ortodoksi apostoliknya. Ia menyingkapkan waktu awalnya (yakni, waktu awal ia menjabat sebagai Bishop Athena dan berapologi kepada Kaisar Hadrian – Pen.) dengan apa yang dilaporkannya dalam kata-katanya sendiri:

“Akan tetapi, karya-karya Juru Selamat kita langgeng karena mereka nyata. Mereka yang telah disembuhkan atau dibangkitkan dari kematian tidak hanya tampak sembuh atau dibangkitkan, tetapi mereka langgeng, tidak hanya ketika Juru Selamat masih ada di sini, tetapi juga setelah ia pergi. Mereka tetap ada untuk waktu yang lama hingga beberapa orang dari antara sintas hingga masa kita.”28

Berbincang tentang Eusebius, telah dipaparkan dengan jelas pada paragraf-paragraf di atas bahwa ia berkecendrungan untuk membuat-buat riwayat sejarah demi menguntungan kepercayaan Kekristenan. Prof. Stowe, D.D., pengarang Origin and History of the Books of the Bible mengungkapkan:

“Reject Eusebius! And what have we for a history of the Christian churches of the first three centuries, or of the books used as scripture in those churches?”

“Tolaklah Eusebius! Apatah yang kita miliki tentang sejarah gereja-gereja Kristen pada tiga abad pertamanya atau buku-buku yang digunakan sebagai kitab suci di gereja-gereja itu?”29

Kemudian, soal keterangan Eusebius tentang Quadratus, Catholic Encylopedia menyatakan bahwa selain kata-kata yang dikutipnya di atas, semua Apology yang dibuat oleh Quadratus telah hilang.30 Artinya, keautentikan nukilan Eusebius ini sangat diragukan karena tidak ada sumber-sumber pendukungnya. Oleh karena itu, Eusebius tidak boleh dijadikan rujukan dalam konteks ini seperti diutarakan Carles Waite:

“And yet, the truth requires that he should not at all be relied upon, except where he is supported by earlier, or at least contemporary writers, or by strong circumstantial evidence.”

“Kini, merupakan tuntutan kebenaran untuk tidak memercayai Eusebius sama sekali, kecuali di mana ia didukung oleh penulis-penulis yang lebih awal atau paling tidak penulis-penulis sezamannya atau oleh bukti yang kuat nan terperinci.”31

Di samping itu, seumpama petikan Eusebius dari Quadratus tersebut autentik, yakni Quadratus memang benar-benar memperkatakannya, mengapakah tidak disebutkan pula olehnya siapa-siapa saja di antara hasil karya penyembuhan dan pembangkitan Yesus yang masih hidup sampai masanya serta mengapakah mereka tidak turut memberikan kesaksian? Seandainya mereka ikut bersaksi, niscaya semakin banyak orang yang percaya dan dibaptis ke dalam agama Kristen. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Walhasil, dua penjelasan historis dan logis ini cukup untuk membuktikan bahwa ucapan Quadratus itu palsu alias tidak ada orang-orang kudus yang bangkit dari kubur lalu terus hidup sampai masa yang cukup lama, lebih dari seratus tahun.

Adapun kutipan Irenaeus (w. 188 M), Ignatius (w. 108 M), dan Clement yang dipetik oleh penulis, seperti perkataan Dionysius, hanyalah copy-paste dari Alkitab. Jadi, ujaran-ujaran mereka tidak mengandung nilai historis yang baru.

Sampai sini, di luar Mat. 27:52-53, semua keterangan sejarah yang diajukan tentang kebangkitan orang-orang kudus serta kepenampakkan mereka di tengah-tengah masyarakat Yahudi Yerusalem telah terbukti tidak benar. Dengan begitu, selain karena bersendirian dalam meriwayatkannya dibandingkan dengan ketiga penulis Injil yang lain, hikayat Matius ini tertolak secara harfiah.

Penafsiran Yang Segar

Apabila kebiasaan-kebiasaan keempat penulis Injil dalam menulis Injil mereka masing-masing dicermati dan ditelaah, akan terlihat bahwa tiap-tiap mereka berusaha melebihi satu sama lain dalam mengisahkan hal-hal ajaib guna mendirikan bangunan ketuhanan Yesus Kristus, terlebih lagi Matius. Contoh sederhananya adalah mukjizat penyembuhan ibu mertua Petrus di Kapernaum. Lukas mengungkapkan:

“Kemudian ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.”32

Adapun Markus menarasikan:

“Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.”33

Sementara itu, Matius menceriterakan:

“Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia.”34

Bisa dilihat dengan mudah bahwa Matius condong sekali untuk membesar-besarkan suatu masalah. Jika Lukas meriwayatkan bahwa Yesus menghardik penyakit, yakni menjampi-jampi agar penyakit itu keluar, dan Markus merawikan bahwa Yesus memegang tangan ibu mertua Petrus lalu membangunkannya, yakni, “Took her by the hand,” menurut King James Version,35 Matius berlari jauh di depan meninggalkan mereka berdua dengan menarasikan bahwa Yesus hanya menyentuh atau menempelkan tangan beliau sedikit saja ke tubuh ibu mertua Petrus untuk menyembuhkannya sebagaimana dituliskan KJV, “Touched her hand.”36

Sebenarnya, bila dicermati lebih mendalam, penyembuhan yang Yesus lakukan tidak semata-mata dengan menyentuhkan tangan beliau ke badan ibu mertua Simon Petrus, tetapi dengan ketiga cara tersebut, yakni dengan pertama-tama berdoa lalu mengusapkan tangan beliau yang sudah sarat keberkatan doa itu ke badan ibu mertua Petrus seraya berupaya membuatnya bangun. Seseorang yang menggeluti pembacaan kisah-kisah para nabi dan orang-orang saleh akan mengarifi dan menginsafi interpretasi ini.

Nah, kasus serupa dengan corak yang sedikit berbeda berlaku juga pada cerita kebangkitan orang-orang kudus dan kepenampakkan mereka di Yerusalem. Kisah tersebut sedasarnya memang nyata. Akan tetapi, didorong oleh hasratnya yang begitu besar untuk menunjukkan keilahian Yesus melalui mukjizat-mukjizat yang sifatnya indrawi (by sense), Matius sengaja menyelipkan pengisahannya ketika menarasikan fenomena-fenomena alam yang berlangsung satu waktu dengannya, yakni gempa bumi dan kegelapan suasana, agar pembaca terkesan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terlaksana secara harfiah seperti keduanya. Padahal, pada hakikatnya, apa yang terjadi bukanlah suatu kejadian lahiriah, melainkan suatu pemandangan rohani atau kasyaf yang dilihat oleh orang-orang saleh. Mengap begitu? Sebab, tanpa menafsirkan peristiwa tersebut secara alegoris, akan timbul banyak sekali konsekuensi logis-teologis yang menyulitkan (isykāl). Di antaranya adalah:

Bangkitnya orang-orang dari kubur mereka menandakan bahwa kiamat telah terjadi. Dengan demikian, iman, yang dengan memeluknya seorang mukmin mendapat ganjaran dan dengan menolaknya seorang kafir memperoleh hukuman, akan sia-sia dan tidak berguna lagi sebab hijab kegaiban telah terbuka dan tampak terang-benderang semisal siang dan malam.

Merupakan fitrah manusia bahwa ia ingin sekali menanyakan perkara-perkara keimanan dari orang-orang yang sudah mati, apalagi orang-orang suci, agar mereka selamat dan mendapat petunjuk. Bangunnya orang-orang kudus dari pemakaman dan berjalannya mereka ke tengah kota tentu akan menjadi kesempatan emas bagi orang-orang Yahudi untuk menanyakan, apakah pendakwahan Yesus sebagai Tuhan dan Anak Tuhan benar atau salah. Apabila orang-orang kudus benar-benar bangkit dan masuk ke tengah kota lalu memberi kesaksian tentang ketuhanan Yesus Kristus, niscaya orang-orang Yahudi akan segera beriman. Namun, pada akhirnya, sebagaimana diketahui, sebagian besar orang-orang Yahudi tetap tidak percaya akan ketuhanan Kristus.37

Kedua isykāl di atas menutup pintu literalisme dalam penafsiran ayat Matius ini.

Sekarang, karena merupakan kasyaf, narasi Matius ini membutuhkan takwil. Pertanyaannya, gerangan apakah takwilnya? Takwilnya adalah bahwa ‘Īsā b. Maryamas, Mesias Israel, Nabi Suci Tuhan, selamat dari kematian terkutuk di tiang salib. Syaikh ‘Abd al-Ghanī an-Nābilusīrh (w. 1143 H), penafsir mimpi yang teramat masyhur, menyatakan:

مَنْ رَأٰى أَنَّ الْمَوْتٰى قَدْ وُثِبُوْا مِنْ قُبُوْرِهِمْ وَرَجَعُوْا إِلٰى دُوَرِهِمْ فِإِنَّهُ يُطْلَقُ مَنْ فِي السِّجْنِ.

“Siapa yang melihat bahwa orang-orang yang telah meninggal dibangunkan dari kubur mereka dan kembali ke rumah-rumah mereka, artinya adalah, akan dibebaskanlah dia yang berada di dalam penjara.”38

Mengomentari hikmah yang amat mendalam di balik kasyaf ini, Almasih Akhir ZamanPendiri Jamaah Muslim AhmadiyahḤaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas bersabda:

وَالْآنَ تَرَوْنَ كَيْفَ أَنَّ هٰذَا التَّعْبِيْرَ يَنْطَبِقُ عَلَى الْمَسِيْحِ انْتِبَاقًا مَّعْقُوْلًا لِّلْغَايَةِ، حَيْثُ لَا نَلْبَثُ أَنْ نُّدْرِكَ أَنَّ الرُّؤْيَا، الَّتِيْ شُوْهِدَ فِيْهَا الْأَبْرَارُ مِنَ الْمَوْتٰى يَدْخُلُوْنَ الْمَدِيْنَةَ، كَانَتْ تَّنْطَوِيْ إِشَارَةً لِّأَهْلِ الْفِرَاسَةِ بِأَنَّ الْمَسِيْحَ قَدْ نُجِّيَ مِنَ الْمَوْتِ عَلَى الصَّلِيْبِ.

“Sekarang kalian melihat, bagaimana takwil ini secara logis cocok sekali dengan perikeadaan Almasihas. Mimpi yang dalam padanya orang-orang suci yang sudah mati terlihat memasuki kota itu mengandung isyarat bagi ahli firasat bahwa Almasihas telah diselamatkan dari kematian di atas salib.”39

Nabi ‘Īsāas tidak mungkin terbunuh di palang salib karena seorang yang mati tergantung di palang salib:

כי קללת אלהים תלוי.

Yakni, menjadi ‘orang kutukan Tuhan’.40 Lebih jauh lagi, kata qilelat (קללת) dapat bermakna ‘kebencian’, ‘kejijikan’, dan ‘laknat’.41 Selaku wujud suci nan luhur, ‘Īsā b. Maryamas tidaklah pantas dijuluki sebagai yang dijijiki dan dibenci Tuhan. Hanya orang tidak beradablah yang berani dan sampai hati memperkatakannya.

Sebaliknya, Allah Taala telah menjawab semua doa42 yang beliau panjatkan semalam suntuk di Taman Getsemani di mana beliau mohon agar cawan salib dicabut dari beliau.43 Mimpi bahwa orang-orang kudus bangkit dari kubur dan memperlihatkan diri mereka di tengah kota Yerusalem sejatinya adalah kabar suka serta hiburan bagi para pengikut Nabi ‘Īsāas yang saleh bahwa Guru mereka tidak dihinakan di tangan para pembangkang Yahudi. Inilah makna firman Tuhan Yang Mahalatif dalam Alquran:

يَا عِيْسٰى إِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ ۝44

Yaitu:

إِنِّيْ عَاصِمُكَ مِنْ أَنْ يَقْتُلَكَ الْكُفَّارُ، وَمُؤَخِّرُك إِلٰى أَجَلٍ كَتَبْتُهُ لَكَ، وَمُمِيْتُكَ حَتْفَ أَنْفِكَ لَا قَتِيْلًا بِأَيْدِيْهِمِ.

“Duhai ‘Īsāas! Pastilah Aku akan melindungi dikau dari pembunuhan oleh orang-orang yang ingkar, memperpanjang usia dikau hingga ajal yang telah Kutetapkan bagi dikau, kemudian mewafatkan dikau tepat pada waktunya, tidak dengan terbunuh di tangan mereka.”45

Keselamatanlah bagi mereka yang pengikuti petunjuk!

فَالْحَمْدُ لِلّٰهِ دَائِمًا وَأَبَدًا
---0---

Bibliografi

1 Mat 27:52-53.

2 Menurut estimasi historis, Injil Matius ditulis pada 70/80 M, Markus pada 65-70 M, Lukas pada 70/80 M, dan Yohanes pada 90 M.

Lihat: Julio Trebolle Barrera, The Jewish Bible and the Christian Bible: An Introduction to the History of the Bible (Leiden: Koninklijke Brill NV, 1998), hlm. 246.

3 Admin, “Bangkitnya orang-orang kudus (Mat 27:52-53)”, diakses dari http://apologiakristen.blogspot.co.id/2011/03/bangkitnya-orang-orang-kudus-mat-2752.html pada Jumat, 1 Juli 2016, pukul 17.17 WIB.

4 Untuk menyokong hujahnya, sang blogger membawakan keterangan Talmudik Nabi Yeremia di mana beliau bersabda:

“When you bury me, put shoes on my feet, and give me a staff in my hand, and lay me on one side; that when Messias comes I may be ready.”

Lihat: John Lightfoot, D.D., Horae Hebraicæ et Talmudicæ: Hebrew and Talmudical Exercitations upon the Gospels, the Acts, Some Chapters of St. Paul’s Epsitle to the Romans, and the First Epistle to the Corinthians (Oxford: Oxford University Press, 1859), hlm. 372; William Trollope, M.A., Analecta Theologica: A Critical, Philological, and Exegetical Commentary on the New Testament (London: Gilbert and Rivington Printers, 1842), hlm. 378.

5 William Jenks, D.D. (ed), The Comprehensive Commentary on the Holy Bible (Brattleboro: Fessenden and Co., 1834), hlm. 299.

6 Para cendekiawan modern Alkitab telah banyak membahas hal ini. Untuk lebih rincinya, silakan baca The New Testament and Hellenistic Judaism yang dieditori oleh Peder Borgen dan Søren Giversen terbitan Aarhus University Press dan Hendrickson Publishers, Massacusetts, 1997.

7 Luke Timothy Johnson, The Gospel of Luke; dalam Daniel J. Harrington (ed), Sacra Pagina, vol. 3 (Collegeville: The Liturgical Press), hlm. 28.

8 W.R. Telford, The Theology of the Gospel of Mark (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), hlm. 94.

9 Ibid, hh. 94-95.

10 Nuansa keilahian Yesus sudah terasa sejak awal muatan Injil Yohanes. Dalam Yoh. 1:1-5, Yesus digambarkan sebagai logos atau kalam azali Tuhan yang menjasad. Keazalian Kristus juga diulang dalam Yoh. 17:5 di mana diterangkan bahwa kemuliaan Yesus telah mewujud di sisi Tuhan sebelum dunia diciptakan. Akhirnya, pada Yoh. 20:30, disingkapkan bahwa tujuan penulisan Injil ini memang untuk mengimankan mitra wicaranya ke dalam nama Yesus.

11 Yoh 11:1-45.

12 Mat 3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-23; Yoh 1:15-18.

13 Mat 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13.

14 Mat 17:11-12; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36.

15 C.B. Waite, History of the Christian Religion to the Year Two Hundred (Chicago: C.V. Waite and Company, 1881), hlm. 293.

16 Origen, Book II Against Celcus; dalam The Writings of Origen, vol. 2 (Edinburgh: T. & T. Clark; London: Hamilton and Co.; Dublin: John Robertson and Co., 1769), hlm. 38.

17 C.B. Waite, op. cit., hh. 291-292.

18 Ibid, hlm. 292.

19 Ibid.

20 Ibid.

21 Ibid, hh. 292-293.

22 Alexander Roberts, D.D, & James Donaldson, LL.D. (eds), The Extant Writings of Julius Africanus; dalam The Ante-Nicene Fathers: Translation of the Writings of the Fathers down to A.D. 325, vol. 6 (Buffalo: The Christian Literature Company, 1886), hh. 136-137.

23 C.B. Waite, op. cit., hlm. 294.

24 Charles Lett Feltoe, D.D. (ed), St. Dionysius of Alexandria: Letters and Treatises (London: Society for Promoting Christian Knowledge; New York: The Macmillan Company, 1918), hlm. 77.

25 Ibid, hh. 76-81.

26 Charles G. Herbermann, Ph.D., LL.D., et al. (eds), The Catholic Encyclopedia: An International Work of Reference on the Constitution, Doctrine, Discipline, and History of the Catholic Church, vol. 5 (New York: The Catholic Encylopedia Press Inc., 1913), hlm. 9.

27 Gempa bumi memang terjadi saat penyaliban Kristus. Mat. 27:51 menyebutkannya secara eksplisit. Kata-kata lain yang mengindikasikan adanya gempa adalah, “Tabir Bait Suci terbelah dua,” dalam Mat. 27:41, Mrk. 15:38, dan Luk. 23:45. Berkenaan dengan gerhana matahari, Alkitab tidak memuat keterangan tersebut. Hanya saja, Mat. 27:45, Mrk. 15:33, dan Luk. 23:44 mengisahkan perihal kegelapan yang meliputi daerah di mana Yesus disalib dengan tambahan kata-kata, “Sebab matahari tidak bersinar,” pada Lukas. Dengan menimbang pengutaraan-pengutaraan Injil dan keterangan-keterangan Bapa-Bapa Gereja, tampak bahwa ada tendensi dalam diri mereka untuk mengada-adakan riwayat-riwayat sejarah yang secara harfiah linear dengan pandangan Alkitab lalu menisbahkannya kepada tokoh-tokoh sejarawan yang terkenal pada masa itu guna mendukung keyakinan mereka bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Hal ini bisa dibilang maklum karena orang-orang Kristen pada 300 tahun pertama mereka memang mendapatkan himpitan yang amat berat, baik secara politis maupun teologis.

28 Berikut disalinkan naskah Yunaninya mengingat sumber yang dirujuk memuat naskah tersebut:

Ύραϊανον δέ έφ όλους βτβσιν είκοσι τήν αρχήν μησίν έζ δέονσιν κρατήσαντος, Αΐλιος Αδριανός διαδέχεται τήν ήγερονίαν. τοντω Κοδράτος λόγον προσφωνήσας άναδίδωσιν, άπολογίαν σνντάζας νπέρ τής καθ" ήρας θεοσέβειας, ότι δή τίνες πονηροί άνδρες τονς ήρετέρονς ένοχλείν έπειρώντο. εις ετι δέ φέρεται παρά πλείστοις τών αδελφών, άτάρ καί παρ3 ήμΐν τό σνγγραρρα, έζ ον κατιδεΐν εστίν λαμπρά τεκρήρια τής τε τον ανδρός διανοίας καί τής αποστολικής όρθοτομίας. ό δ' αντός τήν καθ3 έαντον αρχαιότητα παραφαίνει, δι ών ιστορεί ταντα ίδίαις φωναΐς.

τον δέ σωτήρος ηρών τά έργα άεί παρήν, αληθή γάρ ήν, οί θεραπενθέντες, οί άναστάντες έκ νεκρών, οΧ ονκ ώφθησαν ρόνον θεραπεν όμενοι καί άνιστάρενοι άλλά καί άεί παρόντες, ονδέ έπιδηρονντος μόνον τον σωτήρος, άλλά καί άπαλλαγέντος ήσαν έπι χρόνον ίκανόν, ώστε καί εις τονς ήρετέρονς χρόνονς τινές αντών άφίκοντο.

Lihat: Bart D. Ehrman (ed), Papias and Quadratus; dalam The Apostolic Fathers, vol. 2 (Cambridge, Massachusetts, London: Harvard University Press, 2003), hh. 118-119; Eusebius, The Ecclesiastical History (London: William Heinemann Ltd.; New York: G.P. Putnam’s Sons, 1926), hh. 306-309.

29 C.B. Waite, op. cit., hlm. 295.

30 Charles G. Herbermann, Ph.D., LL.D., et al. (eds), The Catholic Encyclopedia: An International Work of Reference on the Constitution, Doctrine, Discipline, and History of the Catholic Church, vol. 12 (New York: The Catholic Encylopedia Press Inc., 1913), hlm. 580.

31 C.B. Waite, op. cit., hlm. 295.

32 Luk 4:38-39.

33 Mrk 1:29-31.

34 Mat 8:14-15.

35 Admin, “Mark 1 King James Version”, diakses dari https://www.kingjamesbibleonline.org/Mark-Chapter-1/, pada Minggu, 5 Agustus 2018, pukul 11.55 WIB.

36 Admin, “Matthews 8 King James Version”, diakses dari https://www.kingjamesbibleonline.org/Matthew-Chapter-8/, pada Minggu, 5 Agustus 2018, pukul 11.57 WIB.

37 Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadasal-Masīḥ an-Nāṣirī fī al-Hind (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2002 M/1423 H), hh. 43-45.

38 Syaikh ‘Abd al-Ghanī an-NābilusīrhTa‘ṭīr al-Anām fī Tafsīr al-Manām, vol. 2 (Kairo: Maṭba‘at al-Istiqāmah, 1384 H), hh. 285-286.

39 Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadasop. cit., hlm. 47.

40 “Maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah.” (Ul 21:23)

41 Samuel Prideaux Tregelles (trans), Genesius’s Hebrew and Chaldee Lexicon to the Old Testament Scriptures (London: Samuel Bagster and Sons Ltd., 1857), hlm. 733.

42 “Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis  dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya ia telah didengarkan.” (Ibr 5:7)

43 “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. Ya Bapaku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat 26:39,42)

44 Q.S. 3:55.

45 Jārullāh az-Zamakhsyarī, Tafsīr al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq at-Tanzīl wa ‘Uyūn al-Aqāwīl wa Wujūh at-Ta’wīl (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2009 M/1430 H), hlm. 174.