Jumat, 03 Juni 2016

Agama dan Kemampuan Alami Manusia

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Agama dan Kemampuan Alami Manusia

arat Mirzā Masroor Amadatba, Khalīfat-ul-Masī V, Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional, menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Bait-ul-Aad, Nagoya, Jepang, pada 20 November 2015.

“Di sini, merupakan kesalahan untuk berpikir bahwa suatu bangsa atau masyarakat keseluruhannya baik atau buruk secara alami. Hukum ilahi tentang alam memperkenankan setiap umat untuk mengaku bahwa, sebagaimana di tengah-tengah mereka terdapat orang-orang yang sedari sananya rusak, tidak berakhlak, dan buruk, di antara mereka pun terdapat orang-orang yang secara alami lembut, mulia, dan bajik. Baik orang Hindu, Buddha, Persia, Yahudi, Sikh, maupun Buddha, bahkan chūhrā dan chamār* tidak ada yang berada di luar hukum ini. Sebagaimana suatu masyarakat tumbuh dalam peradaban dan keterpelajaran serta meraih pengetahuan dan prestise sebagai suatu bangsa, sampai kepada derajat yang sama, orang-orang yang budiman di tengah-tengah mereka pun meraih kemasyhuran berkat kehidupan mereka yang bajik, karakter, dan tingkah laku teladan. Seandainya tidak ada pribadi-pribadi dalam setiap bangsa yang sedari sananya baik, perubahan belaka dari agama atau keimanan tidak mampu menciptakan kebaikan sebab hukum ilahi tentang alam ini tidak dapat dibatalkan. Seseorang yang benar-benar lapar dan haus akan kebenaran akan menyadari bahwa, jauh sebelum rekahan fajar agama, Tuhan telah menetapkan bahwa sebagian orang secara alami akan memiliki bagian cinta dan kasih-sayang yang lebih besar, sedangkan yang lain akan lebih mudah marah dan murka. Agama mengajarkan bahwa semua kecintaan, kepatuhan, ketulusan, dan keberimanan yang dimiliki oleh seorang penyembah berhala atau manusia terhadap benda-benda ini sebenarnya harus diarahkan kepada Tuhan serta ketulusan dengan derajat yang sama harus diperagakan di jalan-Nya.

Seberapa jauhkah agama memengaruhi kondisi alami manusia? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang tidak dijawab oleh Injil sebab Injil telah jauh terhapus dari jalan-jalan hikmat. Namun, Alquran Suci telah menjawabnya dengan perincian yang hebat. Ia menjelaskan bahwa bukanlah fungsi agama untuk mengubah kemampuan alami manusia atau untuk menyulap serigala menjadi kambing. Tujuan agama adalah membimbing manusia untuk menggunakan kemampuan alaminya secara tepat dengan memperhatikan kebutuhan waktu dan tempat. Agama tidak dimaksudkan untuk mengubah kemampuan manusia. Daripada menitikberatkan pada satu kemampuan tertentu, seperti kasih atau pengampunan, agama harus menyuruh manusia untuk menggunakan semua kemampuannya. Tidak ada kemampuan manusia yang dengan sendirinya buruk. Merupakan kesalahan mereka atau penggunaan yang tidak seimbang yang membuatnya demikian. Seseorang tidak bisa disalahkan karena kemampuan-kemampuan alaminya, kecuali ia menyalahgunakannya. Singkatnya, Sang Penganugerah Yang Mahakekal telah mengaruniai bangsa-bangsa dengan kemampuan-kemampuan alami dalam ukuran yang setara. Sebagaimana masyarakat dari setiap bangsa diberkati dengan ciri-ciri fisik, seperti mata, hidung, mulut, tangan, dan kaki, mereka pun diberkati dengan kemampuan-kemampuan batin. Di tengah-tengah setiap bangsa, terdapatnya orang-orang yang baik atau buruk tergantung pada penggunaan mereka yang seimbang atau tidak seimbang terhadap kemampuan-kemampuan tersebut. Kami hanya akan percaya suatu bangsa menjadi bajik di bawah pengaruh sebuah agama, atau bahwa satu agama tertentu merupakan landasan kesusilaan para pengikutnya, bila beberapa pengikut setianya dijumpai mempunyai keunggulan-keunggulan rohani yang tidak dijumpai dalam agama-agama lain. Aku mendeklarasikan dengan segala penekanan bahwa keunggulan-keunggulan ini hanya dapat dijumpai dalam Islam. Islam telah membimbing ribuan orang menuju aras kesucian yang sedemikian rupa sehingga ruh Tuhan terlihat bersemayam dalam diri mereka dan cahaya pengabulan ilahi bersinar dalam diri mereka dengan suatu cara sehingga mereka sungguh-sungguh tampak sebagai pengejawantahan keagungan Tuhan. Orang-orang seperti itu dijumpai pada setiap permulaan abad. Ini bukanlah klaim yang tidak berdasar sebab Tuhan sendiri telah bersaksi atas kehidupan mereka yang suci.”

* Pekerja kasar di India dan Pakistan, khsusunya Punjab, biasanya berasal dari kasta-kasta Hindu yang dikatakan terendah

[Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmadas, Four Questions by Mr. Sirājuddīn, A Christian, And Their Answers: English Translation of Sirājuddīn ‘Īsā’ī Kei Chār Sawāloń Kā Jawāb (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 15-16]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar