Minggu, 13 Maret 2016

Menjawab Tifatul Sembiring: Studi Kritis atas Hadis Yang Menyatakan Bahwa Pelaku Liwāṭ Harus Dibunuh

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Menjawab Tifatul Sembiring: Studi Kritis atas Hadis Yang Menyatakan Bahwa Pelaku Liwāṭ Harus Dibunuh


Dua minggu, selepas pengajian Khuddam gabungan Jakarta Pusat dan Jakarta Barat di daerah Cabe Rawit, Jakarta Barat, terjadi bincang-bincang ringan antara para peserta dan kedua narasumber, Mln. Jusmansyah dan Mln. Hasyim. Saat tengah asyik-asyiknya mengobrol, Mln. Jusmansyah tetiba saja memperbincangkan kicauan mantan Menkominfo era Presiden SBY, Tifatul Sembiring, yang di dalamnya ia mengutip sebuah hadis bahwa pelaku sodomi (liwāṭ) harus dihukum mati. Pagi ini, saya membuka-buka laman twitter pribadi dan mendapati bahwa kicauan Pak Tifatul telah sedemikian viral di berbagai media sosial, bahkan masuk sebagai berita di berbagai media massa elektronik, sampai-sampai ada sebagian pihak yang berniat untuk melaporkan sang mantan menteri kepada kepolisian dengan tuduhan hate speech. Setelah diingat-ingat, saya pun kembali “engeh” bahwa hadis yang dikutip Pak Tifatul di dalam kicauannya itu pernah juga dimuat dalam selebaran yang diterbitkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) baru-baru ini dan disirkulasikan di kampus saya, Institut Pertanian Bogor (IPB). Sebagai respon terhadap tweet Pak Tifatul, Akhmad Sahal, aktivis muda NU yang tengah mengambil program doktoral di Amerika Serikat, menuliskan “kultwit” yang di dalamnya ia menjelaskan posisi atau kedudukan hadis, terutama hadis ahad, dalam epistemologi hukum Islam seraya mengutip Muhammad Abduh. Beberapa hari kemudian, Pak Tifatul balik menanggapi kicauan Mas Sahal, di sana ia mengharapkan Mas Sahal dan yang lainnya seharusnya melakukan kajian mendalam tentang sanad hadis tersebut sesuai dengan kaedah ilmu hadis. Beliau berkeyakinan bahwa hadis tersebut sahih. Mengingat booming-nya kasus ini, saya tertarik untuk menyambut seruan Pak Tifatul untuk mendiskusikan hadis kutipan beliau dari sudut pandang dirāyah, yakni berfokus pada status dan keadaan rijāl atau para perawi yang terdapat dalam sanadnya. Saya tidak akan melenceng lebih jauh ke aspek legal-formal hukuman sodomi. Saya hanya akan mengetengahkan apakah hadis Pak Tifatul tersebut sah atau tidak menurut ilmu kritik hadis yang dikenal dengan sebutan al-jarḥ wa at-ta‘dīl.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam pembahasan sesungguhnya, saya akan mengetengahkan terlebih dahulu definisi hadis sahih menurut para ahli yang muktabar dalam ilmu ini sehingga akan mudah nantinya menentukan apakah hadis rujukan Pak Tifatul sahih atau tidak. Imam Ibnu Ṣalāḥ Asy-Syahrazūrīrh (w. 643 H) menuturkan dalam Ma‘rifat Anwā‘ ‘Ilm al-Ḥadīts, salah satu kitab yang paling masyhur dalam ilmu hadis:

أَمَّا الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ فَهُوَ الْحَدِيْثُ الْمُسْنَدُ الَّذِيْ يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ الْعَدَلِ الضَّابِطِ عَنْ الْعَدَلِ الضَّابِطِ إِلٰى مُنْتَهَاهُ وَلَا يَكُوْنُ شَاذًّا وَلَا مُعَلَّلًا .

“Adapun hadis sahih, ia adalah hadis musnad yang sanadnya bersambung melalui penukilan seorang perawi ‘adal dan ḍābiṭ dari seorang perawi ‘adal dan ḍābiṭ yang lain terus-menerus sampai ke ujungnya, bukan syādz dan bukan pula mu‘allal.”[1]

Beliau melanjutkan:

فَهٰذَا هُوَ الْحَدِيْثُ الَّذِيْ يُحْكَمُ لَهُ بِالصِّحَّةِ بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ.

“Inilah hadis yang dihukumi dengan kesasihan tanpa adanya perselisihan di antara para ahli hadis.”[2]

Sekarang, kita akan memperjelas makna dari istilah-istilah yang diberi garis miring. Imam As-Syarīf Al-Jurjānīrh (w. 816 H) menulis dalam Syarḥ ad-Dībāj al-Mudzahhab bahwa makna dari musnad ialah:

مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ مَرْفُوْعًا إِلٰى رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Hadis yang sanadnya bersambung secara langsung kepada Ḥaḍrat RasūlullāhSAW.”[3]

Sementara itu, ‘adal menurut beliau adalah:

فَالْعَدَالَةُ أَنْ يَكُوْنَ الرَّاوِيُ بَالِغًا مُسْلِمًا عَاقِلًا سَلِيْمًا مِنْ أَسْبَابِ الْفِسْقِ وَخَوَارِمِ الْمُرُوْءَةِ.

‘Ādālah ialah ketika seorang perawi balig, muslim, berakal, serta bebas dari ciri-ciri kefasikan dan kekurangan-kekurangan akhlak.”[4]

Berkenaan dengan ḍābiṭ, beliau menerangkan:

وَالضَّبْطُ أَنْ يَكُوْنَ الرَّاوِيُ مُتَيَقِّظًا حَافِظًا غَيْرَ مُغَفَّلٍ وَلَا سَاهٍّ وَلَا شَاكٍّ فِيْ حَالَتَيِ التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ.

Ḍabṭ adalah ketika seorang perawi sadar, hafal, tidak bodoh, tidak pelupa, serta tidak ragu saat mengambil hadis dari gurunya dan menyampaikan hadis kepada muridnya.”[5]

Adapun tentang hadis syādz, beliau menjelaskan:

قَالَ الشَّافِعِيُّ: الشَّاذُّ مَا رَوَاهُ الثِّقَةُ مُخَالِفًا لِمَا رَوَاهُ النَّاسُ. قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: فِيْ الشَّاذِّ تَفْصِيْلٌ، فَمَا خَالِفُ مُفْرِدِهِ أَحْفَظُ مِنْهُ وَأَضْبَطُ فَشَاذٌّ مَرْدُوْدٌ، وَإِنْ لَمْ يُخَالِفْ وَهُوَ عَدَلٌ ضَابِطٌ فَصَحِيْحٌ، وَإِنْ رَوَاهُ غَيْرُ ضَابِطٍ لٰكِنْ لَا يَبْعُدُ عَنْ دَرَجَةِ الضَّابِطِ فَحَسَنٌ، وَإِنْ بَعُدَ فَمُنْكَرٌ.

“Asy-Syāfi‘īrh berkata: Syādz adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang tsiqah dengan menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh orang banyak. Ibnu Ṣalāḥ berkata: Terdapat perincian dalam syādz. Apabila seorang perawi yang bersendirian dalam meriwayatkan suatu hadis diselisihi oleh perawi lain yang lebih hafal dan lebih ḍābiṭ darinya, hadisnya tersebut syādz yang hukumnya tertolak. Apabila ia tidak menyelisihi dan ia sendiri adalah seorang ‘adal dan ḍābiṭ, hadisnya tersebut sahih. Apabila perawinya tadi tidak ḍābiṭ, tetapi tidak jauh dari derajat ḍābiṭ, hadisnya hasan. Apabila perawi tadi jauh dari derajat ḍābiṭ, hadisnya munkar.”[6]

Terakhir, mengenai hadis mu‘allal, beliau berujar:

 اَلْمُعَلَّلُ مَا فِيْهِ أَسْبَابٌ خَفِيَّةٌ غَامِضَةٌ قَادِحَةٌ، وَالظَّاهِرُ السَّلَامَةُ.

Mu‘allal adalah hadis yang di dalamnya terdapat sebab-sebab tersembunyi nan dalam yang membuatnya tercela, padahal tampak dari luar bahwa hadis tersebut selamat dari sebab-sebab tadi.”[7]

Demikianlah syarat-syarat hadis sahih. Sebuah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas, menurut Ibnu Ṣalāh, itulah yang disebut sebagai hadis daif[8].

Sekarang, kita akan mengeksaminasi hadis Pak Tifatul dengan standar-standar yang telah dituliskan di atas. Kita akan dapat menyaksikan, sahihkah hadis tersebut seperti beliau nyatakan atau daif.

Jika kita menelaah kitab-kitab hadis, kita akan mendapati bahwa hadis riwayat Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra dalam Musnad Aḥmad tentang hukuman mati bagi para pelaku liwāṭ, baik subjek maupun objeknya, sebenarnya telah banyak dikutip para ahli hadis. Berikut adalah daftar kitab-kitab hadis yang memuat hadis tersebut:

1. Sunan Ibni Mājah karangan Ibnu Mājah Al-Qazwīnīrh (w. 275 H)

2. Sunan Abī Dāūd karangan Abū Dāūd As-Sijistānīrh (w. 275 H)

3. Musnad Aḥmad karangan Aḥmad bin Ḥanbal Asy-Syaibānīrh (w. 241 H)

4. Al-Mustadrak ‘Alā aṣ-Ṣaḥīḥain karangan Al-Ḥākim An-Naisābūrīrh (w. 405 H)

5. Al-Aḥādīts al-Mukhtārah karangan Aḍ-Ḍiyā’ Al-Maqdisīrh (w. 643 H)

6. Al-Muntaqā Min as-Sunan al-Musnadah karangan Abū Muḥammad bin Al-Jārūdrh (w. 307 H).

7. Sunan ad-Dāruquṭnī karangan Ad-Dāruquṭnīrh (w. 385 H)

8. As-Sunan aṣ-Ṣughrā karangan Al-Baihaqīrh (w. 458 H)

9. As-Sunan al-Kubrā karangan Al-Baihaqīrh (w. 458 H)

10. Ma‘rifat as-Sunan Wa al-Ātsār karangan Al-Baihaqīrh (w. 458 H)

11. Musnad Abī Ya‘lā Al-Mauṣilī karangan Abū Ya‘lā Al-Mauṣilīrh (w. 307 H)

12. Musnad ‘Abd ibni Ḥumaid karangan ‘Abd bin Ḥumaidrh (w. 249 H)

13. Muṣannaf ‘Abdir-Razzāq karangan ‘Abdur-Razzāq Aṣ-Ṣan‘ānīrh (w. 211 H)

14. Al-Mu‘jam al-Kabīr karangan Aṭ-Ṭabrānīrh (w. 360 H)

15. Mu‘jam Ibni Al-A‘rābī karangan Abū Sa‘īd Ibnu Al-A‘rābīrh  (w. 340 H)

16. Mu‘jam Asāmī Syuyūkhi Abī Bakr Al-Ismā‘īlī karangan Abū Bakr Al-Ismā‘īlīrh (w. 371 H)

17. Ad-Dīnār Min Ḥadīts al-Masyā’ikh al-Kibār karangan Adz-Dzahabīrh (w. 678 H)

18. Al-‘Ilal al-Kabīr karangan Abū ‘Īsā At-Tirmidzīrh (w. 279 H)

19. Nāsikh al-Ḥadīts Wa Mansūkhuhu karangan Ibnu Syāhīnrh (w. 385 H)

20. Syu‘ab al-Īmān karangan Al-Baihaqīrh (w. 458 H)

21. Tahdzīb al-Ātsār karangan Aṭ-Ṭabarīrh (w. 310 H)

22. Syarḥ as-Sunnah karangan Al-Baghawīrh (w. 516 H)

23. Musykil al-Ātsār katrangan Aṭ-Ṭaḥāwīrh (w. 321 H)

24. Dzamm al-Liwāṭ karang Al-Ājurrīrh (w. 360 H)

26. Al-Muḥallā Bi al-Ātsār karangan Ibnu Ḥazm Al-Andalusīrh (w. 456 H)

27. At-Taḥqīq Fī Aḥādīts al-Khilāf karangan Ibnu Al-Jauzīrh (w. 597 H)

28. Al-Istidzkār karangan Ibnu ‘Abdil-Barrrh (w. 463 H)

29. Ḥilyat al-Auliyā Wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’ karangan Abū Nu‘aim Al-Iṣfahānīrh (w. 430 H)

30. Akhbār Aṣbahān karangan Abū Nu‘aim Al-Iṣfahānīrh (w. 430 H)

31. Tārīkh Dimasyq karangan Ibnu ‘Asākirrh (w. 571 H)

32. Dzamm al-Malāhī karangan Ibnu Abid-Dunyārh (w. 280 H)

33. I‘tilāl al-Qulūb karangan Al-Kharā’iṭīrh (w. 327 H)

34. Dzamm al-Hawā karangan Ibnu Al-Jauzīrh (w. 597 H)

35. At-Tabṣirah karangan Ibnu Al-Jauzīrh (w. 597 H)

36. Masā’i al-Akhlāq karangan Al-Kharā’iṭīrh (w. 327 H)

Dari 36 kitab di atas, terdapat kurang lebih 60 tawābi‘ bagi hadis tersebut, yakni hadis dengan matan atau redaksi yang identik dengan hadis pertama, sama-sama dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, tetapi berbeda jalur. Paling tidak, hadis tersebut memiliki enam jalur utama yang kesemuanya berpangkal pada sosok seorang perawi bernama ‘Ikrimah, maulā atau pembantu Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra. Jalur-jalur itu adalah ‘Amrū bin ‘Abī ‘Amrū, Dāūd bin Ḥuṣain, Ibnu Abī Ḥabībah, Ibnu Juraij, dan ‘Abbād bin Manṣūr. Supaya lebih mudah, kita dapat langsung menentukan kesahihan atau kedaifan tersebut melalui jalur-jalur periwayatan ini karena telah jelas menurut para ulama bahwa ‘Ikrimah seorang tsiqah tsabat (terpercaya nan kokoh)[9], sedangkan Ibnu ‘Abbāsra termasuk dalam kalangan Sahabat NabiSAW yang disepakati sebagai orang-orang ‘adal. Jika di antara jalur-jalur ini terdapat satu saja jalur yang sahih, semua jalur lainnya akan terangkat menjadi sahih li ghairihi meskipun pada dasarnya daif. Sebaliknya, bila semua jalur itu daif, artinya adalah bahwa hadis tersebut memang daif dan tidak bersumber dari Nabi Suci MuḥammadSAW.

Sekarang, kita akan memeriksa keadaan jalur-jalur tadi untuk menentukan apakah hadis Pak Tifatul sahih atau daif. Sebelumnya, saya akan menampilkan sanad yang lengkap dari setiap jalur beserta redaksinya.

Jalur I: ‘Amrū bin ‘Abī ‘Amrū

Jalur ini diriwayatkan oleh banyak ulama hadis. Sebagai pemodelan, saya akan mengutarakan riwayat Imam Aḥmadrh seperti tertuang dalam kicauan Pak Tifatul.

حَدَّثَنَا أَبُوْ سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ؛ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ مُحَمَّدٍ؛ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِيْ عَمْرٍو، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ.

“Abū Salamah Al-Khuzā‘ī menceritakan kepada kami; ia berkata: ‘Abdul-‘Azīz bin Muḥammad mengabarkan kepada kami; dari ‘Amrū bin ‘Abī ‘Amrū, dari ‘Ikrimah, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Siapa yang kalian dapati tengah melakukan perbuatan kaum Lūṭas, bunuhlah subjek dan objeknya!”[10]

Inilah sejatinya redaksi dari Imam Aḥmadrh tanpa menyebutkan persetubuhan dengan binatang serta perintah untuk membunuh manusia dan binatangnya sekaligus seperti yang dikutip Pak Tifatul. Ziyādah atau tambahan redaksi demikian tidak dikeluarkan oleh Imam Aḥmadrh, tetapi oleh At-Tirmidzī dalam Al-‘Ilal Al-Kabīr masih dalam jalur yang sama. Ziyādah tersebut berbunyi:

وَمَنْ وَجَدْتُمُوْهُ وَقَعَ عَلٰى بَهِيْمَةٍ، فَاقْتُلُوْهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيْمَةَ.

“Siapa yang kalian dapati menyetubuhi binatang, bunuhlah ia dan bunuhlah pula binatangnya!”[11]

Sekarang, kita akan memeriksa status keperawian ‘Amrū bin ‘Abī ‘Amrū. Hadisnya sebenarnya diterima oleh Al-Bukhārīrh dan Muslimrh. Meskipun demikian, para ulama tetap terbelah menjadi dua dalam perkara ini: ada yang menganggapnya tsiqah dan ada pula yang mengingkarinya. Berikut adalah para ulama yang menyanjungnya:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Abū Ḥātim Ar-Rāzīrh
لا بأس به.
Tidak ada masalah dengannya.
Aḥmadrh
ما به بأس.
Tidak ada masalah dengannya.
Adz-Dzahabīrh
حديثه صالح حسن منحط عن الدرجة العليا من الصحيح.
Hadisnya bagus, hasan, turun dari derajat sahih yang tinggi.[12]

Adapun para ulama yang mencelanya, mereka adalah:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Abū Dāūdrh
ليس بالقوي .
Tidak kuat.
Yaḥyā bin Sa‘īd Al-Qaṭṭānrh
١.لا يحتج بحديثه.
٢. يستضعف.
٣. ليس بالقوي.
1. Hadisnya tidak dapat dijadikan hujah.
2. Dilemahkan.
3. Tidak kuat.
Al-Jauzajārīrh
مضطرب الحديث.
Hadisnya goncang.
‘Abdul-Ḥaqq Al-Isybīlīrh
لا يحتج به.
Tidak dapat dijadikan hujah.
An-Nasā’īrh
ليس بالقوي.
Tidak kuat.
Ibnu Ma‘īnrh
عمر بن أبي عمرو ثقة ينكر عليه حديث عكرمة عن ابن عباس أن النبي صلعم قال: اُقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ.
‘Amrū bin ‘Abī ‘Amrū pada dasarnya tsiqah, tetapi hadisnya dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbāsra bahwa NabiSAW bersabda, “Bunuhlah subjek dan objek liwāṭ!” dinyatakan munkar.[13]

Dari keterangan-keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ‘Amrū pada asalnya ialah perawi tsiqah, tetapi seringkali berwaham. Ini juga merupakan kesimpulan Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajarrh[14]. Khusus tentang hadis liwāṭ ini, menurut Ibnu Ma‘īnrh, riwayatnya dihukumi munkar. Dalam ilmu hadis, hal demikian dikenal dengan istilah jarḥ muqayyad, yaitu celaan kepada suatu perawi yang secara khusus ditujukan untuk riwayat-riwayat tertentu saja. Oleh sebab itu, hadis dengan jalur ‘Amrū ini tidak dapat dijadikan landasan dan pegangan. Terbuktilah, dengan demikian, bahwa jalur pertama ini daif.

Jalur II dan Jalur III: Dāūd bin Ḥuṣain dan Ibnu Abī Ḥabībah

Ibnu Al-Jauzīrh mengeluarkan dalam Dzamm al-Hawā:

أَخْبَرَنَا ابْنُ الْحُصَيْنِ؛ قَالَ: أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُذْهِبِ؛ قَالَ: أَنْبَأَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ؛ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ؛ قَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ؛ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ؛ قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي حَبِيْبَةَ وَدَاوُدُ بْنُ الْحُصَيْنِ؛ عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ فِيْ عَمَلِ قَوْمِ لُوْطٍ.

“Ibnu Al-Ḥuṣain; ia berkata: Ibnu Al-Mudzhib memberitakan kepada kami; ia berkata: Aḥmad bin Ja‘far memberitakan kepada kami; ia berkata: ‘Abdullāh bin Aḥmad bin Ḥanbal menceritakan kepada kami; ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku; ia berkata: Abul-Qāsim bin Abiz-Zinād menceritakan kepada kami; ia berkata: Ibnu Abī Ḥabībah dan Dāūd bin Al-Ḥuṣain mengabarkan kepadaku; dari ‘Ikrimah, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Bunuhlah subjek dan objek yang melakukan perbuatan kaum Lūṭas!”[14]

Lahiriahnya, tampak dari riwayat di atas bahwa masing-masing Dāūd bin Al-Ḥuṣain dan Ibnu Abī Ḥabībah mengambil hadis dari ‘Ikrimah. Akan tetapi, bila kita telusuri ke Musnad Aḥmad yang darinya Ibnu Al-Jauzī meriwayatkan jalur ini, akan terlihat adanya kesalahan dalam rangkaian sanadnya. Dalam Musnad Aḥmad, disebutkan bahwa Ibnu Abī Ḥabībah tidaklah meriwayatkan secara langsung dari ‘Ikrimah, tetapi ia meriwayatkan dari Dāūd, lalu Dāūdlah yang meriwayatkan dari ‘Ikrimah. Kita membaca:

حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ؛ قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِيْ حَبِيْبَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ فِيْ عَمَلِ قَوْمِ لُوطٍ، وَالْبَهِيْمَةَ وَالْوَاقِعَ عَلٰى الْبَهِيْمَةِ، وَمَنْ وَقَعَ عَلٰى ذَاتِ مَحْرَمٍ فَاقْتُلُوْهُ.

Abul-Qāsim bin Abiz-Zinād menceritakan kepada kami; ia berkata: Ibnu Abī Ḥabībah mengabarkan kepadaku; dari Dāūd bin Al-Ḥuṣain, dari ‘Ikrimah, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Bunuhlah subjek dan objek yang melakukan perbuatan kaum Lūṭas serta binatang dan yang menyetubuhi binatang! Siapa yang menyetubuhi sesama jenisnya, bunuhlah ia!”[15]

Jelas dari rangkaian sanad Musnad Aḥmad selaku rujukan bahwa Ibnu Al-Jauzīrh telah keliru menisbahkan periwayatan Ibnu Abī Ḥabībah secara langsung kepada ‘Ikrimah. Yang benar adalah bahwa Ibnu Abī Ḥabībah meriwayatkan dari Dāūd dan Daud meriwayatkan dari ‘Ikrimah. Kemudian, berdasarkan keterangan Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajarrh, Ibnu Abī Ḥabībah merupakan perawi daif[16]. Artinya, riwayat Ibnu Al-Jauzīrh dan Aḥmadrh di sini lemah. Kendati demikian, kita harus tetap memeriksa apakah Dāūd bin Ḥuṣain seorang tsiqah atau tidak sebab dalam riwayat lain masih dalam jalur yang sama, riwayat Abū Bakr Al-Ismā‘īlīrh misalnya, ada seorang perawi bernama Ḥafṣ bin Ghiyāts An-Nakha‘ī yang meriwayatkan dari Dāūd bin Ḥuṣain. Menurut Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajarrh lagi, ia seorang perawi tsiqah sekaligus faqīh (ahli fikih)[18]. Atas dasar ini, saya akan menghadirkan komentar-komentar para ahli hadis mengenai sosok Dāūd bin Ḥuṣain. Tentu, pertama-tama, saya ketengahkan pujian para ulama kepadanya:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Ibnu Ma‘īnrh
ليس به بأس .
Tidak ada masalah dengannya.
An-Nasā’īrh
ليس به بأس.
Tidak ada masalah dengannya.
Yaḥyā bin Sa‘īd Al-Qaṭṭānrh
ثقة.
Tsiqah.[18]

Sementara itu, para ahli yang mencelanya adalah:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Sufyān bin ‘Uyainahrh
كنا نتقي حديثه.
Kami menakuti hadisnya.
Abū Zur‘ah Ar-Rāzīrh
لين.
Lunak.
Abū Ḥātim Ar-Rāzīrh
لولا أن مالكا روى عنه لترك حديثه.
Seandainya saja Mālik tidak meriwayatkan darinya, hadisnya pasti sudah ditinggalkan.
‘Alī bin Al-Madīnīrh
١. ما رواه عن عكرمة فمنكر.
٢. مرسل الشعبي وسعيد بن المسيب أحب إلي من داود عن عكرمة عن ابن عباس.
1. Riwayatnya dari ‘Ikrimah munkar.
2. Hadis mursal As-Sya‘bī dan Sa‘īd bin Al-Musayyab lebih kusukai daripada hadis Dāūd dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbāsra.
Abū Dāūdrh
أحاديثه عن عكرمة مناكير، وأحاديثه عن شيوخه مستقيمة.
Hadis-hadisnya dari ‘Ikrimah munkar, sedangkan hadis-hadisnya dari guru-gurunya lurus.
Ibnu Ḥibbānrh
كان يذهب مذهب الشارة، ولم يكن بداعية.
Ia bermazhab khawārij, tetapi belum menjadi dainya.
‘Abbās Ad-Dūrīrh
كان داود بن الحصين عندي ضعيفا.
Dāūd bin Ḥuṣain menurutku seorang daif.
Adz-Dzahabīrh
رمي بالقدر.
Dituduh berpaham qadariyyah.[19]

Lagi-lagi, layaknya ‘Amrū, lebih banyak ulama hadis yang mencela perawi jalur utama kedua dari hadis yang tengah kita bahas ini. Lagi-lagi pula, sang perawi, Dāūd bin Ḥuṣain, mendapatkan jarḥ muqayyad bahwa setiap riwayatnya dari ‘Ikrimah munkar. Keluarlah sudah kalimat putusan: jalur kedua ini daif.

Jalur IV: Ibnu Juraij

Al-Kharā’iṭīrh mencatat:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ دَاوُدَ الْقَنْطَرِيُّ؛ ثنا عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ صَالِحٍ؛ ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوْبَ؛ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اُقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ، وَالَّذِيْ يَأْتِي الْبَهِيْمَةَ، وَالَّذِيْ يَأْتِيْ كُلَّ ذَاتِ مَحْرَمٍ.

“‘Alī bin Dāūd Al-Qanṭarī menceritakan kepada kami; ‘Abdullah bin Ṣāliḥ menceritakan kepada kami; Yaḥyā bin Ayyūb menceritakan kepada kami; dari ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Azīz bin Juraij, dari ‘Ikrimah, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Bunuhlah subjek dan objek liwāṭ, orang yang menyetubuhi binatang, dan orang yang menyetubuhi sesama jenis.”[20]

Ibnu Ḥajarrh mengatakan bahwa Ibnu Juraij adalah salah seorang perawi dari kalangan tabiin yang:

ثِقَةٌ فَقِيْهٌ فَاضِلٌ وَكَانَ يُدَلِّسُ وَيُرْسِلُ.

Tsiqah, faqīh, dan fāḍil (memiliki keutamaan), tetapi acapkali membuat tadlīs dan irsāl.”[21]

Secara singkat, tadlīs adalah apabila seorang perawi meriwayatkan dari seseorang yang pernah ia jumpai, tetapi ia sendiri tidak pernah mendengarnya secara langsung[22]. Sementata itu, irsāl adalah apabila salah seorang perawi dari kalangan tabiin mengatakan, “Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda...” tanpa menyebutkan perawi dari kalangan Sahabatra[23]. Kedua jenis hadis ini sama-sama dihukumi dengan kedaifan[24].

Berkenaan dengan mudallis, yakni pelaku tadlīs, terdapat tingkatan-tingkatan terentu di antara mereka sebagaimana dituangkan Ibnu Ḥajarrh dalam Ṭabaqāt al-Mudallisīn. Berdasarkan klasifikasi itu, Ibnu Juraij dikelompokkan ke dalam tingkatan ketiga[25] yang hadisnya tidak dapat diterima dan dijadikan sebagai hujah, kecuali jika perawi dari tingkatan ini menyebutkan secara pasti bahwa ia benar-benar mendengar hadis dari fulan[26], yaitu dengan mempergunakan ṣighat at-taḥdīts, seperti sami‘tu (Aku telah mendengar), ḥaddatsanā (telah menceritakan kepada kami), akhbaranā (telah mengabarkan kepada kami), dan kata-kata lain semisalnya[26]. Dalam riwayat Al-Kharā’iṭīrh dan riwayat-riwayat lainnya, Ibnu Juraij tidaklah menggunakan salah satu dari ṣighat at-taḥdīts, tetapi menggunakan huruf ‘an yang dalam ilmu hadis dikenal dengan istilah ‘an‘anah. Artinya, riwayatnya ini tertolak berdasarkan kaedah tadi. Dengan demikian, jalur ketiga ini pun terbukti lemah.

Jalur V: ‘Abbād bin Manṣūr

Al-Ājurrirh mencatat dalam Dzamm al-Liwāṭ:

حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ دَاوُدَ؛ قَالَ: حَدَّثَنَا هَارُوْنُ بْنُ سُلَيْمَانَ وَالْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ؛ قَالا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ وَهُوَ ابْنُ عَطَاءٍ؛ عَنْ عَبَّادِ بْنِ مَنْصُوْرٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ.

“Abū Bakr bin Abī Dāūd menceritakan kepada kami; ia berkata: Hārūn bin Sulaimān dan Al-Ḥasan bin Muḥammad bin Aṣ-Ṣabbāh menceritakan kepada kami; mereka berdua berkata: ‘Aṭā’ bin ‘Abdil-Wahhāb menceritakan kepada kami, dari ‘Abbād bin Manṣūr, dari ‘Ikrimah, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Bunuhlah subjek dan objek liwāṭ!”[27]

Ketika menyebutkan profil ‘Abbād, Adz-Dzahabīrh menghadirkan komentar para ulama hadis mengenainya. Ternyata, semua ulama yang dikutipnya berkomentar buruk tentangnya. Berikut adalah matriksnya:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Ibnu Ma‘īnrh
ليس بشيئ.
Bukanlah apa-apa.
An-Nasā’īrh
ضعفه
Mendaifkannya.
Yaḥyā bin Sa‘īd Al-Qaṭṭānrh
ليس حديثه بالقوي ولكن يكتب.
Hadisnya tidaklah kuat, tetapi boleh ditulis.
Ibnu al-Junaidrh
متروك قدري.
Penganut qadariyyah yang matrūk (ditinggalkan).
Abū Ḥātim Ar-Rāzīrh
ضعيف يكتب حديثه، نرى أنه أخذ هذه الأحاديث عن ابن أبي يحيى عن داود بن الحصين عن عكرمة.
Daif, tetapi boleh ditulis hadisnya. Kami melihat bahwa ia mengambil hadis-hadis ini dari Ibnu Abī Yaḥyā dari Dāūd bin Ḥuṣain dari ‘Ikrimah.
As-Sājīrh
ضعيف مدلس.
Daif mudallis.
Aḥmad bin Ḥanbalrh
كان يدلس روى مناكير.
Acapkali melakukan tadlīs, meriwayatkan hadis-hadis munkar.
Al-Bukhārīrh
ربما دلس عباد عن عكرمة.
Kemungkinan ia melakukan tadlīs dari ‘Ikrimah.
Ibnu Ḥibbānrh
كان داعيا إلى القدر، وكلما رواه عن عكرمة سمعه من إبراهيم بن أبي يحيى عن داود بن الحصين عن عكرمة.
Ia merupakan seorang dai qadariyyah. Setiap yang diriwayatkannya dari ‘Ikrimah ia dengar dari Ibrāhīm bin Abī Yaḥyā dari Dāūd bin Ḥuṣain dari ‘Ikrimah.[28]

Sangat terang-benderang bahwa sosok perawi bernama ‘Abbād bin Manṣūr ini daif. Seandainya kita asumsikan bahwa ia meriwayatkan dari Ibrāhīm bin Abī Yaḥyā, hadisnya tetap daif karena Ibrāhīm bin Abī Yaḥyā seorang matrūk[29].

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari keempat jalur di atas adalah bahwa hadis tentang perintah untuk membunuh pelaku liwāṭ daif dan batil sehingga tidak dapat dijadikan landasan atau acuan penerapan hukum pidana Islam. Kami sangat terbuka bila ada orang atau kelompok yang hendak menyanggah tulisan kami ini. Namun, jika memang tiada lagi tempat melarikan diri, apalah salahnya menarik pernyataan yang salah lalu memohon maaf atas hal tersebut? Semoga Allah Taala menunjuki kita semua ke jalan hidayah. Āmīn!

Wassalām

Jakarta, 13 Maret 2016 M/3 Jumāda Ats-Tsāniyyah 1437 H/13 Amān 1395 HS

Ibnu Abī ‘Iffat Al-Aḥmadī Al-Indūnisī

Catatan Kaki

[1] Ibnu Ṣalāḥ Asy-Syahrazūrī, Ma‘rifat Anwā‘ ‘Ilm al-Ḥadīts (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002 M/1423 H), hlm. 79.

[2] Ibid, hlm. 80.

[3] Syams-ud-Dīn At-Tabrīzī, Syarḥ ad-Dībāj al-Mudzahhab Fī Muṣṭalaḥat al-Ḥadīts (Kairo: Muṣṭafā Al-Bābī Al-Ḥalabī, 1350 H), hlm. 27.

[4] Ibid, hlm. 49.

[5] Ibid.

[6] Ibid, hlm. 38.

[7] Ibid, hlm. 39.

[8] Ibnu Ṣalāḥ, op. cit., hlm. 112.

[9] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Taqrīb at-Tahdzīb (Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1416 H), hlm. 679.

[10] Musnad Aḥmad, no. 2727.

[11] Al-‘Ilal al-Kabīr, no. 427.

[12] Syams-ud-Dīn Muḥammad bin Aḥmad Adz-Dzahabī, Mīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl, vol. 5 (Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), hlm. 337.

[13] Ibid.

[14] Dzamm al-Hawā, no. 582.

[15] Musnad Aḥmad, no. 2722.

[16] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, op. cit., hlm. 104.

[17] Abū Bakr Al-Ismā‘īlī, Mu‘jam Asāmī Syuyūkhi Abī Bakr Al-Ismā‘īlī, vol. 2 (Madinah: Maktabah al-‘Ulūm Wa al-Ḥikam, 1990 M/1410 H), hlm. 526.

[18] Syams-ud-Dīn Muḥammad bin Aḥmad Adz-Dzahabī, Mīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl, vol. 3 (Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), hh. 6-10.

[19] Ibid.

[20] Masā’i al-Akhlāq, no. 436.

[21] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, op. cit., hlm. 624.

[22] Ibnu Ṣalāḥ Asy-Syahrazūrī, op. cit., hlm. 127.

[23] Ibid, hlm. 157.

[24] Ibid, hlm. 159.

[25] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Ṭabaqāt al-Mudallisīn (Kairo: Al-Maṭba‘ah al-Ḥusainiyyah, 1322 H), hlm. 14.

[26] Ibid, hlm. 1.

[27] Dzamm al-Liwāṭ, no. 25.

[28] Syams-ud-Dīn Muḥammad bin Aḥmad Adz-Dzahabī, Mīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl, vol. 3 (Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), hh. 41-42.

[29] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, op. cit., 1416 H, hlm. 115. 

1 komentar:

  1. Di luar persoalan hadis diatas tentang pelaku Liwath mesti dibunuh atau tidak sebagai penyelenggara negara khususnya dibidang hukum perlu mengkaji dampak buruk bahaya LGBT ditengah-tengah masyarakat. Seperti halnya para pelaku pengedar narkoba yg bisa dikenakan hukuman mati. Dan jika Liwath juga sdh mengancam kehidupan bernegara maka tidak salahnya pemerintah mana pun baik yg bersyariat Islam mau pun tidak mesti bersikap.

    BalasHapus