Minggu, 28 Februari 2016

Silsilah Ibnu ‘Arabī (rh) I: Imām Mahdī (as) dan Ahli Bait

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Silsilah Ibnu ‘Arabīrh I: Imām Mahdīas dan Ahli Bait

Makam Ibnu ‘Arabīrh di kaki Gunung Qāsiyūn, Damaskus, Syiria
Muḥy-id-Dīn Ibnu ‘Arabīrh, sosok yang secara bulat dinyatakan sebagai Asy-Syaikh Al-Akbar atau ‘Master Terbesar’, dalam Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah di bawah bab ke-39 yang bertemakan “Rahasia tentang Salmān Al-Fārisīra” menulis:

لَمَّا كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ عَبْدًا مَحْضًا قَدْ طَهَّرَهُ اللّٰهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ تَطْهِيْرًا وَأَذْهَبَ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَهُوَ كُلُّ مَا يَشِيْنُهُمْ فَإِنَّ الرِّجْسَ هُوَ الْقَذْرُ عِنْدَ الْعَرَبِ هٰكَذَا حَكَى الْفَرَّاءُ، قَالَ تَعَالٰى: إِنَّما يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا. فَلَا يُضَافُ إِلَيْهِمْ إِلَّا الْمُطَهَّرُ وَلَابُدَّ فَإِنَّ الْمُضَافَ إِلَيْهِمْ هُوَ الَّذِيْ يُشَبِّهُهُمْ، فَمَا يُضِيْفُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ اِلَّا مَنْ لَهُ حُكْمُ الطَّهَارَةِ وَالتَّقْدِيْسِ، فَهٰذِهِ شَهَادَةُ مِنَ النَّبِيِّ سَلْمَانَ الْفَارِسِيَّ بِالطَّهَارَةِ وَالْحِفْظِ اْلِإٰلِهيْ وَالْعِصْمَةِ حَيْثُ قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ: سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ. وَشَهِدَ اللّٰهُ لَهُمْ بِالتَّطْهِيْرِ وَذَهَابِ الرِّجْسِ عَنْهُمْ.

“Ketika Ḥaḍrat RasūlullāhSAW merupakan seorang hamba yang suci yang telah ditahirkan Allah bersama-sama dengan Ahli Bait beliau serta dihilangkan-Nya pula kekotoran diri mereka, yakni segala hal yang mengaibkan mereka – karena karena kekotoran adalah kejijikan yang dijauhi menurut orang-orang Arab seperti dihikayatkan Al-Farrā’ –, Allah Taala berfirman: Allah hanyalah ingin untuk menghilangkan kotoran dari diri kalian, wahai Ahli Bait, dan menahirkan kalian setahir-tahirnya. Oleh sebab itu, tidaklah boleh seorangpun digolongkan kepada mereka selain dari ia yang tahir karena orang yang patut digolongkan kepada mereka adalah ia yang menyerupai mereka lalu mereka sendiri pun tidak menggolongkan seorangpun kepada diri mereka selain dari ia yang telah dihukumi dengan ketahiran dan kekudusan. Inilah kesaksian dari Ḥaḍrat NabiSAW atas ketahiran, penjagaan ilahi, dan kemaksuman Salmānra kala Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Salmānra adalah salah seorang dari antara kita, Ahli Bait. Allah telah bersaksi atas ketahiran dan dihilangkannya kotoran dari diri mereka.”ِ

Pada bagian selanjutnya masih dalam bab yang sama, beliau menuturkan:

فَدَخَلَ الشُّرَفَاءُ أَوْلَادُ فَاطِمَةَ كُلُّهُمْ وَمَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ مِثْلَ سَلْمَانَ اْلفَارِسِيِّ إِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فِيْ حُكْمِ هٰذِهِ الآيَةِ مِنَ الْغُفْرَانِ، فَهُمْ الْمُطَهَّرُوْنَ اخْتِصَاصًا مِنَ اللّٰهِ وَعِنَايَةً بِهِمْ لِشَرْفِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنَايَةِ اللّٰهِ بِهِ.

“Dengan demikian, masuklah semua orang yang terhormat, anak-anak Fāṭimahra, dan Ahli Bait lainnya, seperti Salmān Al-Fārisīra, sampai hari kiamat ke dalam hukum pengampunan dari ayat ini. Dengan demikian, merekalah orang-orang yang tahir sebagai suatu bentuk pengkhususan dan pertolongan Allah bagi mereka bersebab kehormatan MuḥammadSAW dan pertolongan Allah bagi beliau.”[1]

Dari keterangan di atas, tampaklah bahwa Ibnu ‘Arabī dikaruniai kecermatan yang tajam dalam menarik ta‘mīm (peng-umum-an) dari dalam takhṣīṣ (pengkhususan). Bila kita menengok tafsir-tafsir klasik yang digubah para mufasir di bawah ayat ini, akan dijumpai perselisihan yang besar di antara mereka, teruatama menyangkut isu sektarian antara Sunnah dan Syī‘ah. Akan tetapi, Ibnu ‘Arabīra berhasil keluar dari problematika khilāfiyyat dan justru menyelam lebih jauh ke dalam lautan rahasia yang terkandung di dalamnya. Ringkasnya, memang benar bahwa Ahli Bait yang dimaksud dalam ayat ini adalah keluarga NabiSAW, khususnya Ḥaḍrat ‘Alīra, Ḥaḍrat Fāṭimahra, Ḥaḍrat Ḥasanra, dan Ḥaḍrat Ḥusainra. Namun, terdapat makna lain di samping pengertian tersebut, yakni orang-orang yang mengikuti mereka dalam kesucian, ketahiran, dan kekudusan juga dapat dinamai Ahli Bait. Hal serupa juga diungkapkan Nasywān Al-Ḥumairī, penyair masyhur asal Yaman pada abad 6 Hijriah:

مِنَ الْأَعَاجِمِ وَالسُّوْدَانِ وَالْعَرَبِ
صَلَّى الْمُصَلِّيْ عَلَى الطَّاغِيْ أَبِيْ لَهَبٍ
آلُ النَّبِيِّ هُمْ أُتْبَاعُ مِلَّتِهِ
لَوْ لَمْ يَكُنْ آلُهُ إِلَّا قَرَابَتَهُ

“Keluarga Ḥaḍrat NabiSAW adalah mereka yang menjadi pengikut agama abeliau, baik dari kalangan ‘Ajam, Sudan, maupun Arab.

Seandainya keluarga beliau hanyalah kerabat dekat beliau, niscaya seorang yang berselawat akan berselawat kepada Si Durjana Abū Lahab.”[2]

Kecermatan yang sama juga kita jumpai dalam sosok Az-Zamakhsyarīrh. Taktala mengomentari hadis terkenal bahwa setiap orang pasti disentuh setan saat lahir, kecuali Nabi ‘Īsāas dan ibunda beliau[3], beliau berujar:

فَإِنْ صَحَّ فَمَعْنَاهُ أَنَّ كُلَّ مَوْلُوْدٍ يَطْمَعُ الشَّيْطَانُ فِيْ إِغْوَائِهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا، فَإِنَّهُمَا كَانَا مَعْصُوْمَيْنِ، وَكَذٰلِكَ كُلُّ مَنْ كَانَ فِيْ صِفَتِهِمَا.

“Apabila hadis ini sahih, maknanya adalah bahwa setiap bayi disentuh setan dalam usahanya untuk menyelewengkan manusia, kecuali Maryamra dan putra beliau, karena mereka berdua maksum. Demikian pulalah halnya setiap orang yang memiliki sifat mereka berdua.”[4]

Jelas dari Ibnu ‘Arabīrh dan Az-Zamakhsyarīrh bahwa seseorang dapat disebut dengan nama orang lain bila ia menyerupainya dalam beberapa keadaan. Pertanyaannya, apakah penakwilan yang demikian memiliki padanan dalam Alquran selaku kitab yang paling indah nan murni dalam balāghah dan faṣāḥah? Jawabannya, ya, sebagaimana Allah Taala berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلٰى مُوْسٰى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِيْ إِنَّكُم مُّتَّبَعُوْنَ ﴿﴾ فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِيْنَ ﴿﴾ إِنَّ هٰؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيْلُوْنَ ﴿﴾ وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُوْنَ ﴿﴾ وَإِنَّا لَجَمِيْعٌ حَاذِرُوْنَ ﴿﴾ فَأَخْرَجْنَاهُم مِّن جَنَّاتٍ وَعُيُوْنٍ ﴿﴾ وَكُنُوْزٍ وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍ ﴿﴾ كَذٰلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ ﴿﴾

“Dan Kami wahyukan kepada Musa: Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam hari karena niscaya kalian akan dikejar! Firaun pun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan. Sesungguhnya, mereka itu hanyalah segolongan kecil, tetapi mereka itu telah sungguh-sungguh menimbulkan kemarahan kami, sedangkan kita adalah golongan besar yang bersiaga. Kemudian, Kami keluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air serta khazanah-khazanah dan tempat tinggal yang terhormat. Demikianlah keadaannya. Kami pun lalu mewariskannya kepada Banī Isrā’īl.”[5]

Dalam ayat ini, Allah mengisahkan bahwa kebun, mata air, khazanah, dan tempat tinggal yang dahulu dipunyai oleh Firaun diwariskan kepada Banī Isrā’īl. Padahal, seperti kita ketahui, segala kepunyaan Firaun itu terletak di tanah Mesir, sedangkan tanah perjanjian bagi Banī Isrā’īl adalah Palestina. Namun, Allah Taala tidak menambahkan kata مثل sebelum ḍamīr ها dalam ayat di sini. Praktik ini dalam ilmu balāghah dikenal dengan nama tasybīh balīgh, yakni menisbahkan suatu benda kepada benda lain dengan menghilangkan adawāt at-tasybīh atau ‘perangkat-perangkat penyerupaan’ karena sudah sangat serupanya sesuatu yang diserupakan (musyabbah bihī) dengan benda asal yang menjadi model penyerupaan (musyabbah). Artinya, dalam pandangan Allah Taala, Mesir dan Palestina merupakan dua tempat dengan kemiripan yang kuat satu sama lain sehingga kedua nama tersebut terkategorikan substitutif. Dengan demikian, terjawablah sudah pertanyaan yang terlontar sebelumnya.

Imām Mahdīas dan Ahli Bait

Dalam sebuah hadis, Yang Mulia RasūlullāhSAW diriwayatkan pernah bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ يُصْلِحُهُ اللّٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ.

“Al-Mahdīas berasal dari kami, Ahli Bait. Allah akan mengislahkannya dalam satu malam.”[6]

Dengan kaidah yang diterapkan Ibnu ‘Arabīrh terhadap Ḥaḍrat Salmānra tadi, kita dapat menerangkan dari hadis ini bahwa Al-Mahdīas adalah wujud suci nan kudus layaknya Ahli Bait. Beliau mengikuti jejak Ahli Bait dalam setiap langkah dan mewarisi kesucian mereka, terkhusus dalam perangai mereka yang cinta damai. Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas telah mendakwahkan diri pada zaman ini bahwa beliau adalah Imām Mahdī yang dijanjikan. Beliau menyampaikan:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنِّيْ أَنَا الْمَسِيْحُ الْمُحَمَّدِيُّ وَإِنِّيْ أَنَا أَحْمَدُ الْمَهْدِيُّ.

“Wahai manusia! Sesungguhnya, Aku adalah Al-Masīḥ Al-Muḥammadī dan Aḥmad Al-Mahdī.”[7]

Oleh sebab itu, beliau diserahi tugas untuk meneruskan pesan perdamaian Ahli Bait. Mengenai hal ini, beliau bersabda:

“Acapkali terjadi bahwa Nabi SuciSAW memberi tahuku akan sesuatu dan Aku mendengarnya, tetapi Aku tidak melihat wajah beliau. Ini adalah kondisi pertengahan antara kasyaf dan wahyu. Malam lalu, beliau berbicara mengenai Masīḥ Mau‘ūdas:

يَضَعُ الْحَرْبَ وَيُصَالِحُ النَّاسَ.

‘Dia akan menghentikan peperangan dan mengislahkan manusia.’

Maknanya adalah bahwa akan terdapat dua tanda bagi Masīḥ Mau‘ūdas. Pertama, secara eksternal, tidak akan ada perkelahian. Kedua, secara internal, perdamaian bersama akan dibuat.

Selanjutnya, beliau bersabda:

سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ.
            
            ‘Salmān berasal dari kami, Ahli Bait.’

Kata silmān berarti ‘dua perdamaian’.

Kemudian, beliau bersabda:
عَلٰى مَشْرَبِ الْحَسَنِ.
            
            ‘Di atas jalan Ḥasanra.’

Maknanya adalah bahwa Ḥaḍrat Ḥasanra telah mendatangkan dua perdamaian: yang pertama ialah ketika beliau berdamai dengan Ḥaḍrat Mu‘āwiyahra dan yang kedua ketika beliau mengetengahkan perdamaian di tengah-tengah Sahabat NabiSAW. Hal ini menampakkan bahwa Masīḥ Mau‘ūdas memiliki sifat-sifat Ḥasanra.

Beliau lalu bersabda:

حسن  کا  دودہ پئے گا.
            
            ‘Ia akan meminum susu yang diminum Ḥasanra.’

Sabda bahwa Al-Mahdīas akan termasuk keturunan Fāṭimahra telah dijelaskan lewat wahyu ini dan tugas Masīḥ Mau‘ūdas yang juga Al-Mahdīas telah diperinci. Mereka yang menduga bahwa segera setalah muncul ia akan menghunus pedang dan menyembelih kaum kafir berada dalam kekeliruan. Yang benar, sebagaimana ditunjukkan dalam wahyu ini, adalah bahwa ia akan mewarisi dua jenis perdamaian: ia akan membawa perdamaian ke luar dan ia akan menggalakkan rekonsiliasi ke dalam.”

Dari sini, makna rohani Ahli Bait telah tergenapi dalam sosok Ḥaḍrat Aḥmadas selaku Imām Mahdī. Akan tetapi, janganlah juga menganggap bahwa makna literal hadis di atas tidak berlaku bagi beliau sebab beliau secara lahiriah pun merupakan keturunan Ḥaḍrat Fāṭimahra. Ḥaḍrat Aḥmadas sendiri menuturkan:

“Merupakan kenyataan sejarah yang terekam dalam riwayat para pendahuluku bahwa salah seorang nenekku berasal dari keluarga Nabi SuciSAW yang mulia melalui putri beliau, Fāṭimahra. Hal ini telah diabsahkan oleh Nabi SuciSAW dalam sebuah mimpi ketika beliau menyapaku dengan kata-kata berikut:

سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ عَلٰى مَشْرَبِ الْحَسَنِ.

‘Salmān berasal dari kami, Ahli Bait, di atas jalan Ḥasanra.[9]

Dengan demikian, beliau menamaiku Salmān (Silmān), yakni perdamaian ganda. Kata silm dalam bahasa Arab berarti ‘perdamaian’. Maksudnya, telah ditakdirkan bahwa Aku akan mendatangkan dua jenis perdamaian: pertama secara internal yang akan mengakhiri dendam-kesumat dan kedengkian dan kedua secara eksternal yang akan menghapus penyebab-penyebab permusuhan dari luar dan menarik pengikut agama-agama lain kepada Islam dengan memperlihatkan keagungannya. Hal ini tampak bagiku bahwa dengan penyebutan Salmān dalam hadis saat mimpi di atas, Akulah yang dimaksudkan karena nubuat tentang perdamaian ganda tidak berlaku bagi Salmān yang lain.”

Telah jelas dari keterangan-keterangan di atas bahwa Imām Mahdīas merupakan salah seorang dari kalangan Ahli Bait, baik menurut makna denotatif maupun konotatif. Telah jelas pula bahwa nubuat berkenaan dengan Imām Mahdīas telah tergenapi dalam personifikasi Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad Qādānīas, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah. Oleh sebab itu, merupakan kewajiban kita untuk beriman kepada beliau. Adapun ia yang memusuhi, biarlah ia meneguk racun permusuhannya sendiri. Imām Mahdīas sendiri telah berseru:

سَمٌ مُعَادَاتِيْ وَسِلْمِيْ أَسْلَمُ
إِنِّيْ صَدُوْقٌ مُصْلِحٌ مُتَرَدِّمٌ

“Sesungguhnya, Aku adalah seorang yang jujur, pembuat islah, lagi pembagus barang yang rusak. Racun adalah memusuhiku dan berdamai denganku adalah perdamaian yang paling baik.”[10]

Catatan Kaki

[1] Ibnu ‘Arabī, Al-Futūḥāt al-Makkiyyah, vol. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999 M/1420 H), hlm. 298.

[2] Muḥammmad Asy-Syaukanī, Nail al-Auṭār Min Asrāri Muntaqā al-Akhbār, vol. 3 (Riyadh: Dār Ibni al-Qayyim, 2005 M/1426), hlm. 277.

[3] Hadis yang dimaksud berbunyi:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نُخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ.

“Setan menusuk setiap bayi saat dilahirkan hingga ia menangis lantaran tusukan setan itu, kecuali Ibnu Maryamas dan ibunda beliau.”

[Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Faḍā’il, Bāb Faḍā’ili ‘Īsā ‘alaih as-salām, no. 2366]

[4] Jārullāh Az-Zamakhsyarī, Tafsīr al-Kasysyāf ‘An Ḥaqā’iq at-Tanzīl Wa ‘Uyūn al-Aqāwīl Wa Wujūh at-Ta’wīl (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2009 M/1430 H), hlm. 170.

[5] Q.S. 26:53-60.

[6] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Khurūj al-Mahdī, no. 4085.

[7] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hlm. 22.

[8] Sir Zafrullah Khan (translator), Tadhkira: English Renderings of The Divine Revelations, Dreams, and Visions Vouchsafed to Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas of Qadian, The Promised Messiah and Mahdi (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hlm. 491.

[9] Ibid, hh. 491-492.

[10] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Bāqah Min Bustān al-Mahdī: Tuḥfah Baghdād, Itmām al-Ḥujjah, Ḥujjatullāh, Targhīb al-Mu’minīn, Ḥaqīqat al-Mahdī (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007), hlm. 127.

2 komentar:

  1. Masya Allah, selanjutnya sangat ditunggu silsilah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sampai kepada Hadhrat Fatimah al-Zahra r.a. Jazakallah

    BalasHapus
  2. Sepertinya, silsilah itu tidak mungkin dibuka meskipun oleh salah satu khandān MGA untuk umum maupun kepada jamaah. Tapi, saya yakin bagi tiap keluarga yang merasa ada Ahlul Baiat, pada umumnya, tentu memegang rapi silsilah atau geneologi tersebut turun temurun.

    BalasHapus