Sabtu, 23 Januari 2016

Murtadkah Para Sahabat (ra)? Perspektif Baru dalam Menjawab Syī‘ah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Murtadkah Para Sahabatra? Perspektif Baru dalam Menjawab Syī‘ah


Salah satu ciri khas yang membedakan Syī‘ah dan Sunnah (Ahl-e-Tasannun, dalam istilah Syī‘ah) adalah masalah kemurtadan para Sahabat Nabi Suci MuḥammadSAW. Sebagai contoh, Al-‘Ayyāsyī[1] (w. 320 H) menyuguhkan sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abū Ja‘far Al-Bāqirrh dalam Tafsīr-nya di bawah Surah Āli ‘Imrān ayat 145:

عن حنان بن سدير، عن أبيه، عن أبي جعفر، قال: كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا ثَلَاثَةٌ. فَقُلْتُ: مَنِ الثَّلَاثَةُ؟ فَقَالَ: اَلْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَأَبُوْ ذَرِّ الْغِفَارِيْ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيْ. ثُمَّ عَرَفَ أُنَاسٌ بَعْدَ يَسِيْرٍ، وَقَالَ: هٰؤُلَاءِ الَّذِيْنَ دَارَتْ عَلَيْهِمْ الرَّحَا وَأَبَوْا أَنْ يُّبَايِعُوْا حَتّٰى جَاؤُوْا بَأَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُكْرَهًا فَبَايَعَ. وَذٰلِكَ قَوْلُ اللّٰهِ تَعَالٰى: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰى أَعْقَابِكُم وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْئًا وَّسَيَجْزِي اللّٰهُ الشَّاكِرِيْنَ.

“Dari Ḥannān bin Sadīr, dari ayahnya, dari Abū Ja‘farrh, beliau berkata: Manusia menjadi murtad pasca kewafatan NabiSAW, kecuali tiga.” Aku bertanya: Siapakah ketiga orang itu? Beliau menjawab: Al-Miqdād bin Al-Aswadra, Abū Dzarr Al-Ghifārīra, dan Salmān Al-Fārisīra. Beliau berkata lagi: Inilah orang-orang yang menanggung penderitaan dan menolak untuk berbaiat hingga mereka mendatangi Amīr-ul-Mu’minīn ‘Alīra yang akhirnya berbaiat karena dipaksa. Demikianlah firman Allah Taala: Tiadalah Muḥammad, kecuali seorang rasul. Telah wafat sebelumnya para rasul. Apakah, jika ia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik  ke belakang? Siapa yang berbalik ke belakang, ia sama sekali tidak merugikan Allah. Allah pasti akan mengganjar orang-orang yang bersyukur.”[2]

Dalam rangka mendukung riwayat yang disebutkan di atas, orang-orang Syī‘ah kerapkali mengutip hadis-hadis Ahli Sunah yang menurut mereka memperbincangkan kemurtadan para Sahabatra. Yang paling sering mereka nukil adalah hadis tentang ḥauḍ (telaga NabiSAW di surga) yang memang termasuk hadis mutawātir karena diriwayatkan lebih dari 30 Sahabatra[3]. Di antara sekian banyak hadis tentang ḥauḍ, ada dua riwayat yang secara eksplisit memuat redaksi dengan kata irtaddū dan murtaddīn. Redaksi pertama dicatat oleh Imam Al-Bukhārī sebagai berikut:

حدثنا أحمد بن صالح؛ حدثنا ابن وهب؛ قال: أخبرني يونس؛ عن ابن شهاب، عن ابن المسيب، أنه كان يحدث عن أصحاب النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، أن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم قال: يَرِدُ عَلَى الْحَوْضِ رِجَالٌ مِّنْ أَصْحَابِيْ فَيُحَلَّئُوْنَ عَنْهُ، فَأَقُوْلُ: يَا رَبِّ! أَصْحَابِي؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمُ ارْتَدُّوْا عَلٰى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرٰى.

“Aḥmad bin Ṣāliḥ menceritakan kepada kami; Ibnu Wahb menceritakan kepada kami; dia berkata: Yūnus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihāb, dari Ibnu al-Musayyab, bahwa ia biasa menceritakan hadis dari para Sahabat Ḥaḍrat NabiSAW, bahwa Ḥaḍrat NabiSAW bersabda: Akan datang ke ḥauḍ sekelompok orang dari antara Sahabatku, tetapi mereka lalu dihalau darinya. Aku pun akan bertanya: Wahai Tuhanku! Bukankah mereka adalah Sahabatku? Dia akan menjawab: Sesungguhnya, engkau tidak memiliki ilmu tentang apa yang mereka perbuat setelah engkau. Sesungguhnya, mereka telah murtad ke belakang.”[4]

Adapun redaksi kedua, Imam Al-Ḥākim An-Naisābūrī menulis:

حدثني علي بن عيسى الحيري؛ ثنا مسدد بن قطن؛ ثنا عثمان بن أبي شيبة؛ ثنا معاوية بن هشام؛ ثنا سفيان؛ ثنا المغيرة بن النعمان؛ عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس رضي اللّٰه عنهما، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وآله وسلم: يُؤْخَذُ بِنَاسٍ مِّنْ أَصْحَابِيْ ذَاتَ الشِّمَالِ، فَأَقُوْلُ: أَصْحَابِيْ أَصْحَابِيْ؟ فَيُقَالَ: إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِّيْنَ عَلٰى أَعْقَابِهِمْ بَعْدَكَ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ.

“‘Alī bin ‘Īsā Al-Ḥiyarī menceritakan kepada kami; Musaddad bin Qaṭn menceritakan kepada kami; ‘Utsmān bin Abī Syaibah menceritakan kepada kami; Mu‘āwiyah bin Hisyām menceritakan kepada kami; Sufyān Ats-Tsaurī menceritakan kepada kami; dari Sa‘īd bin Jubair, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Akan didatangkan sekelompok manusia dari antara Sahabatku dan ditempatkan di arah kiri (maksudnya neraka, – penerjemah). Aku pun bertanya? Sahabatku, bukankah mereka adalah Sahabatku? Dijawab: Sesungguhnya, mereka selalu menjadi murtad ke belakang sepeninggal engkau. Aku pun akan berkata sebagaimana seorang hamba yang saleh, ‘Īsā bin Maryamas, berkata: Dahulu, Aku memang menjadi penjaga mereka selama Aku hidup. Namun, setelah Engkau mewafatkanku, hanya Engkaulah satu-satunya penjaga atas mereka.”[5]

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajarrh berujar bahwa kata أَصْحَابِيْ di sini adalah khabar maḥdzūf dari mubtada’ هٰؤُلَاءِ ‘mereka ini’[6]. Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW sebenarnya tengah memohon kepada Allah Taala agar orang-orang yang digiring ke arah neraka tersebut diselamatkan. Sebab, sepengetahuan beliau, mereka adalah Sahabatra. Akan tetapi, Allah Taala menyanggah bahwa mereka tidak termasuk golongan Sahabatra karena telah murtad pasca kewafatan beliau. Artinya, kedua hadis tersebut sama sekali tidak menjatuhkan vonis murtad kepada Sahabatra. Sebaliknya, keduanya membersihkan Sahabatra dari tuduhan murtad dan memberikan definisi bahwa Sahabatra adalah orang yang sama sekali tidak pernah murtad atau setidaknya pernah murtad lalu kembali memeluk Islam serta wafat dalam keadaan Islam[7]. Setelah mendengar penjelasan ini, Ḥaḍrat NabiSAW insaf lantas berujar bahwa beliau hanyalah seorang manusia biasa. Selagi beliau hidup, beliau senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk membimbing dan menuntun para pengikut beliau menuju jalan yang lurus. Adapun sesudah mangkat ke hadirat ilahi, beliau sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di tengah-tengah pengikut beliau. Beliau sangat mengharapkan para pengikut beliau itu benar-benar memegang teguh ajaran yang beliau sampaikan, yakni Alquran dan Sunah, sehingga mereka dapat berkumpul beserta beliau lagi di alam akhirat. Orang yang seperti inilah yang dinamakan ṣaḥābī. Jadi, Sahabatra adalah orang-orang yang selalu menyertai NabiSAW, baik di dunia maupun di akhirat[8]. Adapun mereka yang pernah beserta NabiSAW di dunia, tetapi gagal memasuki surga beliau di akhirat karena penyelewengan mereka sepeninggal beliau, mereka itulah yang dikenai sabda beliau:

سُحْقًا سُحْقًا لِّمَنْ بَدَّلَ بَعْدِيْ.

“Celakalah, celalakah, ia yang mengubah-ngubah sepeninggalku.”[9]

Perspektif yang serupa dapat dijumpai pula dalam Alquran. Bercerita tentang Nabi Nūḥas, Allah Tabaraka Wa Taala berfirman:

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِيْ مِنْ أَهْلِيْ وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِيْنَ ﴿﴾ قَالَ يَا نُوْحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّيْ أَعِظُكَ أَن تَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ ﴿﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْ أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِيْنَ ﴿﴾

“Dan Nūḥas berseru kepada Tuhannya: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya, putraku termasuk ke dalam keluargaku. Sesungguhnya, janji Engkau pastilah benar dan Engkau adalah hakim yang paling adil. Dia menjawab: Wahai Nūḥas! Sesungguhnya, ia tidaklah termasuk ke dalam keluarga engkau. Sesungguhnya, ia telah melakukan amal yang tidak saleh. Oleh karena itu, janganlah menanyai-Ku apa yang engkau tiada berilmu tentangnya. Aku menasihati engkau supaya engkau tidak termasuk ke dalam orang-orang yang jahil. Nūḥas berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya, Aku berlindung kepada Engkau dari menanyai Engkau apa yang Aku tiada berilmu tentangnya. Jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihiku, niscaya Aku termasuk ke dalam orang-orang yang merugi.”[10]

Ketika putra beliau tenggelam, Nabi Nūḥas memohon kepada Allah Taala agar berkenan menyelamatkannya mengingat Allah telah berjanji untuk menyelamatkan semua anggota keluarga beliau. Akan tetapi, Allah Taala menolak untuk menyelamatkannya dengan alasan bahwa putra Nūḥas tidaklah termasuk ke dalam keluarga beliau karena ia melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Di sini, Allah Taala memberikan pengertian kepada Ḥaḍrat Nūḥas bahwa yang dimaksud dengan keluarga dalam janji-Nya adalah mereka yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau dalam setiap kondisi. Hubungan darah secara lahiriah tidaklah berarti apa-apa. Mendengar keterangan ini, Sayyidunā Nūḥas menyadari kekeliruan ijtihad beliau dalam memahami janji ilahi sehingga beliau dengan segera dan seketika itu pula meminta pengampunan-Nya.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari semua keterangan di atas ialah bahwa kedua hadis tentang ḥauḍ di atas sama sekali tidak menempelkan cap murtad kepada Sahabatra. Keduanya justru membebaskan Sahabatra dari tuduhan-tuduhan keji para penuduh bahwa mereka tidak termasuk ke dalam kelompok yang digiring ke neraka karena yang dinamakan sebagai Sahabatra adalah orang-orang yang setia menemani Nabi Suci MuḥammadSAW, baik di alam fana ini maupun di alam kekal kemudian.

Natijah Menganggap Sahabatra Murtad

Sahabatra adalah orang-orang yang disifati dalam Alquran sebagai:

وَالسَّابِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ﴿﴾

“Dan as-sābiqūn al-awwalūn dari kalangan muhajirin, ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah telah rida kepada mereka dan mereka pun telah rida kepada-Nya serta Dia telah menyediakan bagi mereka kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai selaku orang-orang yang kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah dia kemenangan yang teramat besar.”[11]

Oleh karena itu, menganggap seorang saja dari sosok-sosok yang telah dijanjikan memasuki surga tersebut murtad adalah kejahatan dan dosa besar. NabiSAW diriwayatkan pernah bersabda:

لا يَرْمِيْ رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفِسْقِ وَلا يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمّْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذٰلِكَ.

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kekafiran dan tidak pula menuduhnya dengan kefasikan, kecuali akan kembali tuduhannya itu kepadanya apabila sang tertuduh tidak demikian.”[12]

Jika yang berlaku antara dua orang biasa saja demikian, bagaimana halnya dengan orang yang menimpakan cap murtad kepada Sahabatra yang telah dipuji secara langsung oleh Allah Taala dalam Kitab-Nya Yang Mulia bahwa mereka adalah penghuni surga? Jawabannya terdapat dalam hadis lain:

مَنْ عَادٰى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ.

“Siapa yang memusuhi salah seorang wali-Ku, Aku pasti akan mengundangnya untuk berperang.”[13]

Apa hasil dari peperangan antara Allah Taala dan orang yang menganggap salah seorang wali-Nya murtad? Hasilnya adalah tercabutnya iman dari hati sang pemvonis. Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Imam Zaman, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad Qādiānīas, Imām Mahdī dan Masīḥ Mau‘ūd, berkomentar mengenai orang-orang seperti itu:

فَنَزَعَ اللّٰهُ مِنْ قُلُوْبِهِمْ كُلَّ حَلَاوَةِ الْإِيْمَانِ وَنُوْرِ الْعِرْفَانِ، وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمَاتٍ خَاسِرِيْنَ مَخْذُوْلِيْنَ.

“Karenanya, Allah mencabut segala kemanisan iman dan cahaya makrifat dari dalam hati mereka serta meninggalkan mereka dalam kegelapan layaknya orang-orang yang merugi dan direndahkan.”[14]

Secara khusus, berkenaan dengan Syī‘ah yang menganggap sebagian besar Sahabatra murtad, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas selaku hakim yang adil telah bersabda:

وَلِأَجْلِ ذٰلِكَ لَا نَرٰى فِي الشِّيْعَةِ رَجُلًا مِّنَ الْأَوْلِيَاءِ، وَلَا أَحَدًا مِّنْ زُمَرِ الْأَتْقِيَاءِ، فَإِنَّهُمْ عَلٰى أَعْمَالٍ غَيْرِ مَرْضِيَّةٍ عِنْدَ اللّٰهِ، وَإْنَّهُمْ يُعَادُوْنَ الصَّالِحِيْنَ.

“Oleh karena itu, kita tidak akan pernah melihat seorangpun dari kalangan Syī‘ah yang termasuk dalam kelompok para wali dan muttaqī. Sebabnya ialah bahwa mereka berada di atas amal-amal yang tidak diridai Allah dan mereka memusuhi orang-orang yang saleh.”[15]

Akhir kata, alangkah baiknya bila penulis menutup tulisan ini dengan sebuah bait syair Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas yang sangat cocok dengan pembahasan kali ini:

وَمَوْتُ الْفَتٰى خَيْرٌ لَّهُ مِنْ مَّنَاكِرِ
وَآخِرُ نُصْحِيْ تَوْبَةٌ ثُمَّ تَوْبَةٌ

“Dan akhir nasihatku adalah taubat demi taubat sebab kematian seorang pemuda lebih baik baginya daripada melakukan kemungkaran.”[16]

Catatan: Penulis akan merasa sangat senang jika ada saudara-saudara dari kalangan Syī‘ah yang berkenan untuk menanggapi tulisan ini.

[1] Al-‘Ayyāsyī yang bernama lengkap Muḥammad bin Mas‘ūd bin Muḥammad bin ‘Ayyāsy As-Sulamī (dari suku Sulaim) As-Samarqandī (dari kota Samarqand) adalah sosok muktabar di tengah-tengah kalangan Syī‘ah. ‘Abbās Al-Qummī (w. 1359 H), sejarawan syī‘ī, menyebutkan bahwa ia digelari tsiqah ṣadūq oleh para ahli hadis Syī‘ah. Lebih lanjut, ia merupakan seorang pembesar Syī‘ah, berkedudukan agung, luas dalam hafalan hadis, ahli dalam sistematika periwayatan serta berkecimpung di dalamnya. Ia telah menulis lebih dari 200 buku. Pada awal umurnya, ia adalah seorang suni (‘āmī al-madzhab ‘mazhab awam’) dan banyak mendengar hadis Ahli Sunah lalu berganti keyakinan menjadi seorang syī‘ī pada usia yang masih muda. Ia merupakan penduduk negeri Timur (ahl al-masyriq) yang paling banyak ilmu, adab, keutamaan, pemahaman, dan kemuliannya. Al-Kisysyī, penulis kitab Rijāl al-Kisysyī yang masyhur di kalangan Syī‘ah, termasuk dalam murid dan pelayannya.

[‘Abbās Al-Qummī, Al-Kunā Wa Al-Alqābvol. 2 (Teheran: Maktabah aṣ-Ṣadr, 1429 H), hh. 490-491]

[2] Muḥammad bin Mas‘ūd Al-‘Ayyāsyī, Tafsīr al-‘Ayyāsyī, vol. 1 (Beirut: Mu’assasah al-A‘lamī Li al-Maṭbū‘āt, 1991 M/1411 H), hlm. 223]

[3] Ibnu Abī al-‘Izz Al-Ḥanafī, Syarḥ al-‘Aqīdah aṭ-Ṭaḥāwiyyah, vol. 1 (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1997 M/1417 H), hlm. 277.

[4] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb Fī al-Ḥauḍ Wa Qaulihī Ta‘ālā Innā A‘ṭaināka al-Kautsar, no. 6586.

[5] Al-Mustadrak ‘Alā aṣ-Ṣaḥīḥain, Kitāb at-Tafsīr, Bāb Tafsīri Sūrat az-Zukhruf, no. 3673.

[6] Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī Bi Syarḥi Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, vol. 11 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379 H), hlm. 385]

[7] Hal ini disebabkan oleh penggunaan keterangan عَلٰى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرٰى dan عَلٰى أَعْقَابِهِمْ. Secara leksikal, kata irtadda sudah bermakna ‘kembali’, ‘berbalik’, ‘mundur’. Logikanya, sesuatu yang kembali, berbalik, atau mundur pastilah ke arah belakang. Namun, keterangan ke belakang tetap ditambahkan untuk menegaskan. Jika keterangan itu tidak ditambahkan, keindahan makna kalimat hadis di atas akan berkurang. Dalam ilmu balāghah, hal ini disebut sebagai tatmīm. Contohnya dalam Alquran adalah Surah Banī Isrā’īl ayat 2:

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِهِ لَيْلًا ﴿﴾

Dalam ayat di atas, kata أَسْرٰى pada dasarnya sudah mencakup makna ‘memperjalankan pada malam hari’. Namun, keterangan لَيْلًا tetap ditambahkan untuk menyatakan bahwa Yang Mulia RasūlullāhSAW diperjalankah hanya pada sebagian malam, tidak seutuhnya.

[Sayyid ‘Alī Ṣadr-ud-Dīn Ma‘ṣūm Al-Madanī, Anwār ar-Rabī‘ Fī Anwā‘ al-Badī‘, vol. 3(Karbala: Maktabah al-‘Irfān, 1969 M/1388 H), hlm. 52]

[8] Pengertian ini sesuai dengan makna Sahabatra yang didefinisikan oleh Tim Ahlul Bait Indonesia:

“Kata aṣ-ṣāḥib berarti ‘yang menemani’ (al-mu‘āsyir) dan ‘yang selalu menyertai ke manapun (al-mulāzim) serta, ‘tidak dikatakan, kecuali kepada seseorang yang sering menyertai temannya.’ ‘Dan persahabatan mensyaratkan adanya kebersamaan yang lama.’”

[Tim Ahlul Bait Indonesia, Buku Putih Mazhab Syiah menurut Para Ulamanya Yang Muktabar (Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia, 2012), hlm. 51.

[9] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Jā’a Fī Qaulillāhi Ta‘ālā Wattaqū Fitnatan Lā Tuṣībanna al-Ladzīna Ẓalamū Minkum Khāṣṣah, no. 7051.

[10] Q.S. 11:46-48.

[11] Q.S. 9:100.

[12] Masā’i al-Akhlāq Li Al-Kharā’iṭī, Bāb Mā Yukrahu Min La‘n al-Mu’min Wa Takfīrihi, no. 13.

[13] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb at-Tawāḍu‘, no. 6502.

[14] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Ḥamāmat al-Busyrā Ilā Ahli Makkata Wa Ṣulaḥā’i Umm al-Qurā (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007), hlm. 4.

[15] ____________________________________, Sirr al-Khilāfah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007), hlm. 48.

[16] ____________________________________, Anjām-e-Āthām dalam Rūḥānī Khazā’in v. 11 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hlm. 137

Tidak ada komentar:

Posting Komentar