Sabtu, 30 Januari 2016

Hakikat Ahmadiyah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Catatan: Ini adalah reproduksi dari artikel lama saya yang dimuat dalam majalah GEMA edisi Juli 2012 – kira-kira 4 tahun lalu sewaktu masih berumur 15 tahun – dengan beberapa perubahan kata dan ejaan. Semoga bermanfaat!

HAKIKAT AHMADIYAH


Ahmadiyah, sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Selaku anggotanya, setiap orang di antara kita pasti berkomitmen dan bersikap untuk berkhidmat dengan penuh ketulusan dan kebanggaan. Namun, apa sebenarnya hakikat Ahmadiyah itu?

Satu konsep filsafat yang paling mendasar adalah, “Cogito ergo sum,”, atau “I think, hence I am,” artinya, “Aku berpikir, lantas adalah Aku.”[1] Berangkat dari realitas ini, manusia memulai segala serba-serbi kehidupannya di pelataran ruang dan waktu. Kesadaran berpikir ini menimbulkan suatu stimulus yang darinya terangkai gerak kehidupan. Dalam kaitannya sebagai Homo philosophicus, manusia senantiasa berpikir tentang segenap eksistensi yang berada di sekelilingnya, baik dalam skala universal maupun dalam dimensi yang lebih inferior. Pada akhirnya, yang merupakan finalitas pertanyaan manusia adalah, “Mengapa Aku ini ada?”

Natijah dari pengamatan empiris manusia mengantarkan mereka kepada suatu ketentuan mutlak di alam raya ini, yakni rangkaian sebab-akibat. Baik mikrokosmos (manusia itu sendiri) maupun makrokosmos (keseluruhan jagad raya ini) tersusun di atas lintasan keteraturan yang sedemikian rupa sehingga jika ada suatu benda yang sedikit saja menyimpang dari lintasan tersebut, akan terjadilah chaos. Semakin manusia mendalami seluk-beluk kejadian ini, semakin pula hati mereka bertanya-tanya, “Adakah segala sesuatunya ini merupakan qudrat belaka atau adakah irādat yang memulai dan mengaturnya? Adakah wujud Sang Musabbibul-Asbāb (penyebab dari segala sebab) itu benar-benar nyata?”

Dalam ilmu biologi, kita mengenal apa yang disebut dengan sel, yaitu kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu melakukan semua aktivitas kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel. Kebanyakan makhluk hidup tersusun atas sel tunggal atau disebut organisme uniseluler, misalnya ialah bakteri dan amoeba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia, merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe sel terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing. Sebagai contoh, tubuh manusia tersusun atas lebih dari 3.72×1013 sel[2]. Meskipun demikian, seluruh tubuh semua organisme berasal dari pembelahan satu sel saja. Kita tahu bahwa proses kejadian manusia bermula dari pembelahan sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma, menjadi zigot, menjadi dua, empat, delapan, dan seterusnya hingga berkembang menjadi embrio, janin, dan pada masanya akan lahir ke dunia dalam bentuk bayi.

Adakalanya pun demikian dengan realitas yang berjalan di alam raya ini. Ada sesuatu yang memulai dan berpangkal dari sana kian mengembang menuju bentuk dan tahapan yang lebih kompleks. Para ilmuwan percaya, 13.82 miliar tahun silam[3], tidak ada sedikitpun materi. Tiba-tiba ada satu titik yang bahkan lebih kecil dari partikel atom melontarkan materi yang melahirkan ruang dan waktu. Alam semesta mengembang dari keadaan awal yang sangat masif dan panas lalu berangsur-angsur meluas dan dingin sampai sekarang.

Ringkasnya, segala sesuatu di dunia ini ada permulaannya. Ketika manusia bertanya, “Mengapa Aku ini ada?” jawabannya ialah karena adanya satu aksi yang imbas dari aksi tersebut adalah lahirnya manusia. Lantas, adakah gerangan itu merupakan suatu qudrat saja atau ada irādat yang memulai dan mengaturnya? Tidak, sebab qudrat itu terjadi karena ada irādat yang memulai dan mengaturnya. Taktala dua manusia bersatu, terdapat satu irādat yang terus berproses sampai menghasilkan qudrat, yakni manusia. Apabila segala sesuatunya kita hubungkan benang merahnya, secara pasti akan merujuk kepada Sang Musabbibul-Asbab pada kesudahannya. Kemudian, apakah Sang Musabbibul-Asbāb itu ada juga permulaannya?

Seorang tukang meja membuat meja dari bahan baku yang beraneka ragam. Dia menggunakan kayu, batu, paku, dan lain sebagainya. Sebelum meja itu menjadi satu benda yang eksistensinya nyata secara lahiriah, tukang meja itu sudah ada terlebih dahulu. Keberadaan tukang meja itu tidak tergantung pada keberaaan meja itu, justru meja itu yang sangat bergantung kepada keberadaan sang tukang meja. Sebab, dengan adanya tukang meja itu, berbagai benda yang awalnya tidak teratur dan tidak terdesain dengan apik dapat diubah dan diolah menjadi meja yang merupakan bentuk konkret dari ciptaan tukang meja itu. Tentu, sang tukang meja berhak menghancurkannya lagi atau dia bisa pula merancang sesuatu yang lebih dengan mengandalkan meja tadi berpadukan benda lain. Semuanya berpulang kepada sang tukang meja.

Demikian juga halnya dengan konsep Sang Musabbibul-Asbāb. Dia sama sekali tidak tergantung pada wujud selain-Nya. Selain Dia, segala sesuatu merupakan makhluk-Nya dan setiap saat menggantungkan nasib mereka pada bantuan-Nya dan dukungan-Nya. Dia adalah Qadīm (terdahulu) sedang selain-Nya adalah ḥadīts (baru). Semua pekerjaan-Nya terbit dari irādat-Nya sendiri, bukan karena terpaksa.

Segala sesuatu di dunia ini semata hanya merupakan takhyīl (imajinasi) belaka. Realitas sejati hanya Tuhan yang bereksistensi dalam wujud alam raya ini. Kepada para hamba-Nya, Dia berfirman, “Anā al-Maujūd,” “Aku ada”. Padahal, Dia sejatinya bukanlah al-Maujūd. Bahkan, Dia adalah Wujūd-ul-Mawājīd, yakni Wujud yang dari-Nya segala sesuatu menjadi ada. Bagaimanakah cara mendapati Al-Wujūd itu? “Man ‘arafa nafsahū fa qad ‘arafa Rabbahū,” “Siapa yang mengenal dirinya sendiri, dia telah mengenal Tuhannya.”[4]

Tuhan memang Al-Wujūd, tetapi manusia tidak bisa menjadi satu dalam wujud-Nya. Manusia hanya bisa sampai pada kesaksian (syuhūd). Oleh karena itu, ketika manusia telah mencapai syuhūd (menyaksikan penampakan Tuhan), dia telah benar-benar memperoleh ‘irfān (pengenalan sejati terhadap Tuhan). Jadi, ada suatu relasi kausal antara mengenal diri sendiri dan mengenal wujud Tuhan, ada keterkaitan yang saling bertautan. Dengan mengenal diri sendiri, kita menyadari bahwa diri kita sebenarnya tak mempunyai arti apa-apa. Dengan penuh tadabur, kita menjadi yakin bahwa semata-mata Tuhanlah yang mengendalikan seluruh aspek kehidupan kita. Berangkat dari sinilah kita mengenal hablum minallāh dan hablum min an-nās.

Ketika jiwa yang kosong telah terisi ‘irfān ilahi nan murni, niscaya buahnya akan tumbuh memberi manfaat bagi yang memakannya. Siapa yang akan memakan buah ilāhiyyat itu? Yang jelas ialah orang-orang di sekitar kita yang terahmati dengan kehadiran kita. Inilah dua basis intelegensia sufistik yang dihayati dengan penuh ketulusan ‘azm (tekad) oleh para sufi, yaitu hablum minallāh dan hablum min an-nās. Ke arah ini jugalah seluruh ajaran Alquran ditujukan.

Untuk mengajarkan dua basis intelegensia ini, Allah mengutus Sufi Terbesar sebagai contoh nan paripurna, Muḥammad Al-MuṣṭafāSAW. Beliau inilah yang dimaksudkan oleh Alquran, “Innaka la ‘alā khuluqin ‘aẓīm,” “Sesungguhnya, engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.”[5] Orang-orang yang datang sesudah beliau semata hanyalah burūz (bayangan) dan ẓill (pantulan) dari cahaya sufiyah MuḥammadSAW. Inilah ajaran Islam Ahmadiyah yang didirikan oleh murid terbesar beliau, seorang ‘āsyiq ḥaqīqī dalam diri beliau, Sayyidunā Mīrzā Ghulām Aḥmad Al-Qādiānīas, Ahli Tasawuf Zamani.

Ḥaḍrat Aḥmadas bersabda dalam buku beliau, Al-Istiftā’, bahwa salah satu tujuan diutusnya beliau ialah, “Li urawwija mā kasada,” “Supaya Aku menjadikan laku barang sesuatu yang tidak laku.”[6] Ternyata, ungkapan ini merupakan kiasan, artinya ialah bahwa beliau diutus untuk mengangkat orang-orang hina-dina dalam pandangan Tuhan menjadi burung-burung yang terbang di angkasa keruhanian. Beliau datang untuk merevitalisasi ajaran-ajaran suci Sang Sufi Terbesar, beliau adalah manifestasi kebenaran Sang Guru Jagad. Untuk itulah Jemaat Ahmadiyah ini didirikan, yakni agar dunia tahu bahwa MuḥammadSAW itulah satu-satunya nabi yang hidup di bawah kolong langit ini selaku wasilah cinta keindahan antara Khalik dan makhluk-Nya. Inilah hakikat Ahmadiyah yang harus kita resapi dan junjung tinggi selaku anggotanya seperti dilukiskan sendiri oleh Pendirinya:

ور کوئی تواگر سر عشاق رازنند

اول کسی که لاف تعشق زندمنم

“Jikalau dalam menempuh jalan Engkau, kepala para pecinta Engkau dipenggal, Akulah wujud pertama yang mengaku cinta kepada Engkau.”[7]

Catatan Kaki

[1] Rene Descartes, Discourse on A Method (London: J. M. Dent & Sons Ltd., 1912), hlm. 27.

[2] Bianconi E, et al.. 2013. An estimation of the number of cells in the human body. Ann Hum Biol. 40(6):463-71.doi: 10.3109/03014460.2013.807878.

[3] Editors, “Planck reveals an almost perfect universe”, diakses dari http://www.esa.int/Our_Activities/Space_Science/Planck/Planck_reveals_an_almost_perfect_Universe pada Kamis, 30 Juni 2016, pukul 07.05 WIB.

[4] Abū Ḥāmid Al-Ghazālī, Iḥyā’u ‘Ulūm ad-Dīn, vol. 4 (Semarang: Karya Toha Putra, tt), hlm. 293.

[5]  Q.S. 68:5.

[6] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasAl-Istiftā’ (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2005), hlm. 27.

[7] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasDurr-e-Tsamīn Fārsī (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 1990), hlm. 133.

#IslamAhmadiyya

#NoLifeWithoutKhalifa

#LoveForAllHatredForNone

Tidak ada komentar:

Posting Komentar