Sabtu, 30 Januari 2016

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah dan Ahl al-Kisā’

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah dan Ahl al-Kisā

Kaligrafi Ahli Bait

Dalam tradisi sīrah nabawiyyah, kita mengenal adanya pribadi-pribadi dari kalangan keluarga Nabi Suci MuammadSAW yang disebut sebagai Ahl al-Kisā, yakni mereka yang pada satu kesempatan diselimuti oleh arat RasūlullāhSAW dengan satu selimut bersama beliau secara khusus. Imam at-Tirmidzīrh mencatat dalam Sunan-nya:


“Mamūd b. Ghailān menceritakan kepada kami; Abū Amad az-Zubairī menceritakan kepada kami; Sufyān menceritakan kepada kami; dari Zubaid, dari Syahr b. ausyab, dari arat Ummu Salamahra, bahwa arat NabiSAW suatu kali menutupi asanra, usainra‘Alīra, dan Fāṭimahra lalu bersabda: Ya Allah! Mereka ini adalah Ahli aitku dan orang-orang dekatku. Buanglah kekotoran dari mereka dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya! arat Ummu Salamahra pun bertanya: Apakah Aku bersama mereka, wahai Rasūlullāh? Beliau menjawab: Sesungguhnya, engkau akan menuju kebaikan.” AbūĪsā at-Tirmidzī berkata: Ini adalah sebuah hadis yang hasan sahih.1

Terlepas dari persengketaan antara Ahli Sunnah dan Syiah mengenai siapa-siapa saja yang dikategorikan sebagai Ahli Bait NabiSAW, kedua kelompok tersebut sepakat bahwa Ahl al-Kisā, yakni Imam ‘Alīra, Sayyidah Fāṭimahra, Imam asanra, dan Imam usainra, termasuk dalam Ahli Bait. Di bawah ini, penulis akan menyuguhkan beberapa pengalaman spiritual Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Imam Mahdi dan Masīḥ Mau‘ūd, arat Mīrzā Ghulām Amadas dari Qadian, dengan wujud-wujud suci Ahl al-Kisā tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab beliau.

Dalam sebuah kitab, beliau menarasikan:


“Pada suatu hari, setelah selesai dari kewajiban-kewajiban dan kebiasaan-kebiasaan waktu sore, ketika dalam keadaan terjaga, tidak mengantuk dan tidak pula tidur, tiba-tiba Aku mendengar suara ketukan pintu. Aku pun berusaha mencari tahu, ternyata ada sekelompok orang yang datang mengunjungiku dengan bercepat-cepat. Ketika mereka mendekat kepadaku, kenallah Aku bahwa mereka adalah lima orang yang beberkat: ‘Alīra, kedua putra beliau, istri beliau az-Zahrāra, dan Penghulu Para RasulSAW. Ya Allah! Sampaikanlah selalu selawat kepada beliau dan keluarga beliau hingga hari pembalasan! Aku melihat bahwa az-Zahrāra meletakkan kepalaku di atas paha beliau dan memandangiku dengan pandangan kelemah-lembutan yang Aku ketahui dari wajah beliau. Pahamlah Aku bahwa Aku memiliki perhubungan dengan usainra dan Aku menyerupai beliau dalam beberapa sifat dan peri keadaan. Allah mengetahuinya dan Dialah wujud yang paling mengetahui di seantero alam semesta. Aku juga melihat bahwa ‘Alīra memperlihatkan kepadaku sebuah kitab dan berkata, ‘Ini adalah tafsir Alquran. Akulah yang menulisnya dan Tuhanku memerintahkanku untuk memberikannya kepadamu.’ Aku pun mengulurkan tanganku dan mengambilnya. RasūlullāhSAW melihat dan mendengar, tetapi tidak berkata-kata seolah-olah beliau bersedih karena beberapa kesedihanku. Aku melihat beliau dan tampaklah bahwa wajah beliau adalah wajah yang sama yang telah Aku lihat sebelumnya. Rumahku menjadi bercahaya karena cahaya beliau. Mahasucilah Allah, Sang Pencipta cahaya dan orang-orang yang bercahaya.”

Di tempat lain, beliau menuturkan:


“Sesungguhnya, Aku telah melihat beliau – yakni, ‘Alīra – dalam keadaan terjaga, tidak dalam kondisi tidur. Beliau memberikan tafsir Kitab Allah Yang Maha Mengetahui kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah tafsirku. Sekarang, engkau telah diberi kepercayaan lantas bergembiralah atas apa yang dikaruniakan kepadamu.’ Aku pun menjulurkan tanganku dan mengambil tafsir tersebut. Oleh sebab itu, Aku amat bersyukur kepada Allah, Sang Pemberi Karunia Yang Mahakuasa. Aku mendapati beliau sebagai sosok yang bertubuh tegap dan berakhlak murni, rendah hati, terputus dari dunia, cemerlang, dan bercahaya. Aku berkata dengan mengangkat sumpah bahwa beliau menjumpaiku dengan cinta dan kasih sayang. Terbersit dalam sanubariku bahwa beliau mengenalku dan akidahku serta mengetahui apa yang mengenainya Aku bertentangan dengan Syiah dalam jalanku dan kecenderunganku. Akan tetapi, beliau tidaklah menampakkan kejijikan dan penolakan. Sebaliknya, beliau menemuiku dan menyahabatiku layaknya para pecinta yang mukhlis serta mengejawantahkan kecintaan layaknya para sahabat yang setia. Bersama beliau, terdapat usainra, asanra, dan Penghulu Para Rasul Khātam an-NabiyyīnSAW. Bersama mereka, juga terdapat seorang pemudi yang cantik, saleh, luhur, beberkat, suci, agung, mulia, bersinar wajahnya, nan bercahaya penampilannya. Terbersit dalam sanubariku bahwa beliau adalah az-Zahrā’ Fāṭimahra. Kemudian, beliau mendatangiku ketika Aku tengah bersandar lalu meletakkan kepalaku di paha beliau dan berhalus perangai. Aku melihat bahwa beliau bersedih, menggelisah, berlemah lembut, dan merisau karena beberapa kesedihanku layaknya para ibu kala anak-anaknya tengah tertimpa musibah. Tahulah Aku bahwa Aku memiliki kedudukan sebagai putra beliau dalam pertalian agama. Terlintas dalam hatiku bahwa kesedihan beliau adalah isyarat atas keaniayaan yang akan Aku hadapi dari kaumku dan orang-orang senegeriku yang memusuhi. Kemudian, asanra dan usainra datang kepadaku dan menunjukkan kecintaan layaknya para saudara serta menyahabatiku layaknya para penolong. Ini adalah salah satu dari kasyaf-kasyaf dalam keadaan terjaga. Telah lewat darinya beberapa tahun belakangan.

Aku memiliki perhubungan yang halus dengan ‘Alīra dan usainra. Tiada yang mengetahui rahasianya selain Tuhan timur dan barat. Sesungguhnya, Aku mencintai ‘Alīra dan kedua putra beliau serta memusuhi siapa yang memusuhi beliau. Bersamaan dengan itu, Aku tidaklah termasuk dalam orang-orang yang berlebihan dan lancang. Aku hanya tidak dapat berpaling dari apa yang telah Allah singkapkan kepadaku dan tidak pulalah Aku termasuk dalam orang-orang yang melampaui batas. Apabila kalian tidak berkenan menerimanya, amalku akan Kutanggung sendiri dan kalian pun akan menanggung amal kalian sendiri. Kelak, Allah akan memutuskan antara kami dan kalian dan Dia sajalah hakim yang paling adil.”3

Dari peristiwa-peristiwa rohani ini, kita dapat menyimpulkan, betapa adiluhungnya kedudukan Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, arat Amadas, di sisi Allah Taala sehingga Dia berkehendak membukakan pintu-pintu adiwidia-Nya kepada beliau. Beliau adalah aditokoh bagi kaum muslimin pada akhir zaman ini yang bertugas untuk membentuk tiap muslim dan muslimah menjadi adiraja dan adiratna yang bertahta di atas singgasana dunia dan akhirat. Namun, untuk menduduki kedua takhta tersebut, diperlukan daya-upaya yang tidak sembarangan. arat Masīḥ Mau‘ūdas sendiri telah melukiskannya:


“Reguklah keterputusan, keterputusan dari dunia, agar dihadiahkan kepada kalian kebersampaian dan kedetakan dengan Allah! Pecahkanlah sarana-sarana duniawi agar diciptakan bagi kalian sarana-sarana ukhrawi! Matilah agar dikembalikan kepada kalian kehidupan, wahai para tercinta!”4

Keselamatanlah teruntuk mereka yang mengikuti petunjuk!

---0---

Bibliografi

1 Jāmi‘ at-TirmidzīKitāb al-ManāqibBāb Mā Jā’a Fī Fal Fāṭimahra, no 3871.

2 arat Mīrzā Ghulām Amadasat-Tablīgh (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2004 M/1425 H), hh. 107-108.

3 arat Mīrzā Ghulām AmadasSirr al-Khilāfah li Man Yabtaghī Subul ats-Tsaqāfah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007 M/1428 H), hh. 53-54.

4 arat Mīrzā Ghulām Amadasal-Khubah al-Ilhāmiyyah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009 M/1430 H), hlm. 25.

Hakikat Ahmadiyah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Hakikat Ahmadiyah

Catatan: Ini adalah reproduksi dari artikel lama saya yang dimuat dalam majalah GEMA edisi Juli 2012 – kira-kira 4 tahun lalu sewaktu masih berumur 15 tahun – dengan beberapa perubahan kata dan ejaan. Semoga bermanfaat!

Ahmadiyah, sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Selaku anggotanya, setiap orang di antara kita pasti berkomitmen dan bersikap untuk berkhidmat dengan penuh ketulusan dan kebanggaan. Namun, apa sebenarnya hakikat Ahmadiyah itu?

Satu konsep filsafat yang paling mendasar adalah, “Cogito ergo sum,”, atau “I think, hence I am,” artinya, “Aku berpikir, lantas adalah Aku.”1 Berangkat dari realitas ini, manusia memulai segala serba-serbi kehidupannya di pelataran ruang dan waktu. Kesadaran berpikir ini menimbulkan suatu stimulus yang darinya terangkai gerak kehidupan. Dalam kaitannya sebagai Homo philosophicus, manusia senantiasa berpikir tentang segenap eksistensi yang berada di sekelilingnya, baik dalam skala universal maupun dalam dimensi yang lebih inferior. Pada akhirnya, yang merupakan finalitas pertanyaan manusia adalah, “Mengapa Aku ini ada?”

Natijah dari pengamatan empiris manusia mengantarkan mereka kepada suatu ketentuan mutlak di alam raya ini, yakni rangkaian sebab-akibat. Baik mikrokosmos (manusia itu sendiri) maupun makrokosmos (keseluruhan jagad raya ini) tersusun di atas lintasan keteraturan yang sedemikian rupa sehingga jika ada suatu benda yang sedikit saja menyimpang dari lintasan tersebut, akan terjadilah chaos. Semakin manusia mendalami seluk-beluk kejadian ini, semakin pula hati mereka bertanya-tanya, “Adakah segala sesuatunya ini merupakan qudrat belaka atau adakah irādah yang memulai dan mengaturnya? Adakah wujud Sang Musabbibu-l’Asbāb (penyebab dari segala sebab) itu benar-benar nyata?”

Dalam ilmu biologi, kita mengenal apa yang disebut dengan sel, yaitu kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Sel mampu melakukan semua aktivitas kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel. Kebanyakan makhluk hidup tersusun atas sel tunggal atau disebut organisme uniseluler, misalnya ialah bakteri dan amoeba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia, merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe sel terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing. Sebagai contoh, tubuh manusia tersusun atas lebih dari 3.72×1013 sel.2 Meskipun demikian, seluruh tubuh semua organisme berasal dari pembelahan satu sel saja. Kita tahu bahwa proses kejadian manusia bermula dari pembelahan sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma, menjadi zigot, menjadi dua, empat, delapan, dan seterusnya hingga berkembang menjadi embrio, janin, dan pada masanya akan lahir ke dunia dalam bentuk bayi.

Adakalanya pun demikian dengan realitas yang berjalan di alam raya ini. Ada sesuatu yang memulai dan berpangkal dari sana kian mengembang menuju bentuk dan tahapan yang lebih kompleks. Para ilmuwan percaya, 13.82 miliar tahun silam,3 tidak ada sedikitpun materi. Tiba-tiba ada satu titik yang bahkan lebih kecil dari partikel atom melontarkan materi yang melahirkan ruang dan waktu. Alam semesta mengembang dari keadaan awal yang sangat masif dan panas lalu berangsur-angsur meluas dan dingin sampai sekarang.

Ringkasnya, segala sesuatu di dunia ini ada permulaannya. Ketika manusia bertanya, “Mengapa Aku ini ada?” jawabannya ialah karena adanya satu aksi yang imbas dari aksi tersebut adalah lahirnya manusia. Lantas, adakah gerangan itu merupakan suatu qudrat saja atau ada irādah yang memulai dan mengaturnya? Tidak, sebab qudrat itu terjadi karena ada irādah yang memulai dan mengaturnya. Taktala dua manusia bersatu, terdapat satu irādah yang terus berproses sampai menghasilkan qudrat, yakni manusia. Apabila segala sesuatunya kita hubungkan benang merahnya, secara pasti akan merujuk kepada Sang Musabbibu-l’Asbāb pada kesudahannya. Kemudian, apakah Sang Musabbibu-l’Asbāb itu ada juga permulaannya?

Seorang tukang meja membuat meja dari bahan baku yang beraneka ragam. Dia menggunakan kayu, batu, paku, dan lain sebagainya. Sebelum meja itu menjadi satu benda yang eksistensinya nyata secara lahiriah, tukang meja itu sudah ada terlebih dahulu. Keberadaan tukang meja itu tidak tergantung pada keberaaan meja itu, justru meja itu yang sangat bergantung kepada keberadaan sang tukang meja. Sebab, dengan adanya tukang meja itu, berbagai benda yang awalnya tidak teratur dan tidak terdesain dengan apik dapat diubah dan diolah menjadi meja yang merupakan bentuk konkret dari ciptaan tukang meja itu. Tentu, sang tukang meja berhak menghancurkannya lagi atau dia bisa pula merancang sesuatu yang lebih dengan mengandalkan meja tadi berpadukan benda lain. Semuanya berpulang kepada sang tukang meja.

Demikian juga halnya dengan konsep Sang Musabbibu-l’Asbāb. Dia sama sekali tidak tergantung pada wujud selain-Nya. Selain Dia, segala sesuatu merupakan makhluk-Nya dan setiap saat menggantungkan nasib mereka pada bantuan-Nya dan dukungan-Nya. Dia adalah Qadīm (terdahulu) sedang selain-Nya adalah ḥadīts (baru). Semua pekerjaan-Nya terbit dari irādah-Nya sendiri, bukan karena terpaksa.

Segala sesuatu di dunia ini semata hanya merupakan takhyīl (imajinasi) belaka. Realitas sejati hanya Tuhan yang bereksistensi dalam wujud alam raya ini. Kepada para hamba-Nya, Dia berfirman, “Anā al-Maujūd,” “Aku ada”. Padahal, Dia sejatinya bukanlah al-Maujūd. Bahkan, Dia adalah Wujūdu-l’Mawājīd, yakni Wujud yang dari-Nya segala sesuatu menjadi ada. Bagaimanakah cara mendapati al-Wujūd itu? “Man ‘arafa nafsahū fa qad ‘arafa Rabbahū,” “Siapa yang mengenal dirinya sendiri, dia telah mengenal Tuhannya.”4

Tuhan memang al-Wujūd, tetapi manusia tidak bisa menjadi satu dalam wujud-Nya. Manusia hanya bisa sampai pada kesaksian (syuhūd). Oleh karena itu, ketika manusia telah mencapai syuhūd (menyaksikan penampakan Tuhan), dia telah benar-benar memperoleh ‘irfān (pengenalan sejati terhadap Tuhan). Jadi, ada suatu relasi kausal antara mengenal diri sendiri dan mengenal wujud Tuhan, ada keterkaitan yang saling bertautan. Dengan mengenal diri sendiri, kita menyadari bahwa diri kita sebenarnya tak mempunyai arti apa-apa. Dengan penuh tadabur, kita menjadi yakin bahwa semata-mata Tuhanlah yang mengendalikan seluruh aspek kehidupan kita. Berangkat dari sinilah kita mengenal hablun minallāh dan hablun min an-nās.

Ketika jiwa yang kosong telah terisi ‘irfān ilahi nan murni, niscaya buahnya akan tumbuh memberi manfaat bagi yang memakannya. Siapa yang akan memakan buah ilāhiyyah itu? Yang jelas ialah orang-orang di sekitar kita yang terahmati dengan kehadiran kita. Inilah dua basis intelegensia sufistik yang dihayati dengan penuh ketulusan ‘azm (tekad) oleh para sufi, yaitu hablun minallāh dan hablun min an-nās. Ke arah ini jugalah seluruh ajaran Alquran ditujukan.

Untuk mengajarkan dua basis intelegensia ini, Allah mengutus Sufi Terbesar sebagai contoh nan paripurna, Muḥammad al-MuṣṭafāSAW. Beliau inilah yang dimaksudkan oleh Alquran, “Innaka la ‘alā khuluqin ‘aẓīm,” “Sesungguhnya, engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.”5 Orang-orang yang datang sesudah beliau semata hanyalah burūz (bayangan) dan ẓill (pantulan) dari cahaya sufiyah MuḥammadSAW. Inilah ajaran Islam Ahmadiyah yang didirikan oleh murid terbesar beliau, seorang ‘āsyiq ḥaqīqī dalam diri beliau, Sayyidinā Mīrzā Ghulām Aḥmad al-Qādiānīas, Ahli Tasawuf Zamani.

Ḥaḍrat Aḥmadas bersabda dalam buku beliau, al-Istiftā’, bahwa salah satu tujuan diutusnya beliau ialah, “Li urawwija mā kasada,” “Supaya Aku menjadikan laku barang sesuatu yang tidak laku.”6 Ternyata, ungkapan ini merupakan kiasan, artinya ialah bahwa beliau diutus untuk mengangkat orang-orang hina-dina dalam pandangan Tuhan menjadi burung-burung yang terbang di angkasa keruhanian. Beliau datang untuk merevitalisasi ajaran-ajaran suci Sang Sufi Terbesar, beliau adalah manifestasi kebenaran Sang Guru Jagad. Untuk itulah Jemaat Ahmadiyah ini didirikan, yakni agar dunia tahu bahwa MuḥammadSAW itulah satu-satunya nabi yang hidup di bawah kolong langit ini selaku wasilah cinta keindahan antara Khalik dan makhluk-Nya. Inilah hakikat Ahmadiyah yang harus kita resapi dan junjung tinggi selaku anggotanya seperti dilukiskan sendiri oleh Pendirinya:

اول کسی که لاف تعشق زندمنم
ور کوئی تواگر سر عشاق رازنند

“Jikalau dalam menempuh jalan Engkau, kepala para pecinta Engkau dipenggal,
Akulah wujud pertama yang mengaku cinta kepada Engkau.”7

---0---

Bibliografi

1 Rene Descartes, Discourse on A Method (London: J. M. Dent & Sons Ltd., 1912), hlm. 27.

2 Bianconi E, et al. 2013. An estimation of the number of cells in the human body. Ann Hum Biol. 40(6):463-71.

3 Editors, “Planck reveals an almost perfect universe”, diakses dari 
http://www.esa.int/Our_Activities/Space_Science/Planck/Planck_reveals_an_almost_perfect_Universe pada Kamis, 30 Juni 2016, pukul 07.05 WIB.

4 Abū Ḥāmid Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, vol. 4 (Semarang: Karya Toha Putra, tt), hlm. 293.

5  Q.S. 68:5.

6 Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadasal-Istiftā’ (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2005), hlm. 27.

7 Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasDurr-e-Tsamīn Fārsī (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 1990), hlm. 133.

Sabtu, 23 Januari 2016

Murtadkah Para Sahabat (ra)? Perspektif Baru dalam Menjawab Syiah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Murtadkah Para Sahabatra? Perspektif Baru dalam Menjawab Syiah

The Prophet with his companions in a Turkish miniature, Wikipedia Commons

Salah satu ciri khas yang membedakan Syiah dan Sunnah (Ahl-e-Tasannun, dalam istilah Syiah) adalah masalah kemurtadan para Sahabat Nabi Suci MuammadSAW. Sebagai contoh, al-‘Ayyāsyī1 (w. 320 H) menyuguhkan sebuah riwayat – yang dinisbahkan kepada Imam Abū Ja‘far al-Bāqirrh – perihal Surah Āli ‘Imrān ayat 145 bahwa:

عَنْ حَنَّانِ بْنِ سَدِيْرٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ أَبِيْ جَعْفَرَ، قَالَ: كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا ثَلَاثَةٌ. فَقُلْتُ: مَنِ الثَّلَاثَةُ؟ فَقَالَ: اَلْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَأَبُوْ ذَرِّ الْغِفَارِيْ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيْ. ثُمَّ عَرَفَ أُنَاسٌ بَعْدَ يَسِيْرٍ، وَقَالَ: هٰؤُلَاءِ الَّذِيْنَ دَارَتْ عَلَيْهِمْ الرَّحَا وَأَبَوْا أَنْ يُّبَايِعُوْا حَتّٰى جَاؤُوْا بَأَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُكْرَهًا فَبَايَعَ. وَذٰلِكَ قَوْلُ اللّٰهِ تَعَالٰى: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰى أَعْقَابِكُم وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْئًا وَّسَيَجْزِي اللّٰهُ الشَّاكِرِيْنَ.

“Dari annān b. Sadīr, dari ayahnya, dari Abū Ja‘farrh, beliau berkata: Orang-orang menjadi murtad sepeninggal NabiSAW, kecuali tiga. Aku bertanya: Siapakah ketiga orang itu? Beliau menjawab: Miqdād b. Aswadra, Abū Dzarr al-Ghifārīra, dan Salmān al-Fārisīra. Beliau berkata lagi: Inilah orang-orang yang menanggung penderitaan dan menolak untuk berbaiat hingga mereka mendatangi Amīru-l’Mu’minīn ‘Alīra yang akhirnya berbaiat karena dipaksa. Demikianlah firman Allah Taala: Tiadalah Muammad, kecuali seorang rasul. Telah wafat sebelumnya para rasul. Apakah, jika ia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik  ke belakang? Siapa yang berbalik ke belakang, ia sama sekali tidak merugikan Allah. Allah pasti akan mengganjar orang-orang yang bersyukur.”2

Dalam rangka mendukung riwayat yang disebutkan di atas, orang-orang Syiah kerapkali mengutip hadis-hadis Ahl as-Sunnah yang, menurut mereka, memperbincangkan kemurtadan para Sahabatra. Salah satu yang paling sering mereka nukil adalah hadis tentang au (telaga NabiSAW di surga) yang memang termasuk hadis mutawātir karena diriwayatkan lebih dari 30 Sahabatra.3 Di antara sekian banyak hadis mengenai au, ada dua riwayat yang secara eksplisit memuat redaksi dengan kata irtaddū dan murtaddīn. Redaksi pertama dicatat oleh Imam al-Bukhārī sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ؛ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ؛ قَالَ: أَخْبَرَنِيْ يُوْنُسُ؛ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ، أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَرِدُ عَلَى الْحَوْضِ رِجَالٌ مِّنْ أَصْحَابِيْ فَيُحَلَّئُوْنَ عَنْهُ، فَأَقُوْلُ: يَا رَبِّ! أَصْحَابِي؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمُ ارْتَدُّوْا عَلٰى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرٰى.

“Amad b. Ṣāli menceritakan kepada kami; Ibnu Wahb menceritakan kepada kami; dia berkata: Yūnus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihāb, dari Ibnu al-Musayyab, bahwa ia biasa menceritakan hadis dari para Sahabat arat NabiSAW, bahwa arat NabiSAW bersabda: Akan datang ke au sekelompok orang dari antara Sahabatku, tetapi mereka lalu dihalau darinya. Aku pun akan bertanya: Wahai Tuhanku! Bukankah mereka adalah Sahabatku? Dia akan menjawab: Sesungguhnya, engkau tidak memiliki ilmu tentang apa yang mereka perbuat setelah engkau. Sesungguhnya, mereka telah murtad ke belakang.”4

Adapun redaksi kedua, Imam al-Ḥākim an-Naisābūrī menulis:

حَدَّثني عَلِيُّ بْنُ عِيْسَى الْحِيَرِيُّ؛ ثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ قَطْنٍ؛ ثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ؛ ثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ؛ ثَنَا سُفْيَانُ؛ ثَنَا الْمُغِيْرَةُ بْنُ النُّعْمَانُ؛ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهَ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: يُؤْخَذُ بِنَاسٍ مِّنْ أَصْحَابِيْ ذَاتَ الشِّمَالِ، فَأَقُوْلُ: أَصْحَابِيْ أَصْحَابِيْ؟ فَيُقَالَ: إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِّيْنَ عَلٰى أَعْقَابِهِمْ بَعْدَكَ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ.

“‘Alī b. ‘Īsā al-iyarī menceritakan kepada kami; Musaddad b. Qan menceritakan kepada kami; ‘Utsmān b. Abī Syaibah menceritakan kepada kami; Mu‘āwiyah b. Hisyām menceritakan kepada kami; Sufyān ats-Tsaurī menceritakan kepada kami; dari Sa‘īd b. Jubair, dari arat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: arat RasūlullāhSAW bersabda: Akan didatangkan sekelompok manusia dari antara Sahabatku dan ditempatkan di arah kiri (maksudnya neraka, – penerjemah). Aku pun bertanya? Sahabatku, bukankah mereka adalah Sahabatku? Dijawab: Sesungguhnya, mereka selalu menjadi murtad ke belakang sepeninggal engkau. Aku pun akan berkata sebagaimana seorang hamba yang saleh, ‘Īsā b. Maryamas, berkata: Dahulu, Aku memang menjadi penjaga mereka selama Aku hidup. Namun, setelah Engkau mewafatkanku, hanya Engkaulah satu-satunya penjaga atas mereka.”5

Al-Ḥāfi Ibnu ajarrh berujar bahwa kata أَصْحَابِيْ di sini adalah khabar madzūf dari mubtada’هٰؤُلَاءِ  ‘mereka ini’.6 Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa arat RasūlullāhSAW sebenarnya tengah memohon kepada Allah Taala agar orang-orang yang digiring ke arah neraka tersebut diselamatkan. Sebab, sepengetahuan beliau, mereka adalah Sahabatra. Akan tetapi, Allah Taala menyanggah bahwa mereka tidak termasuk golongan Sahabatra karena telah murtad pasca kewafatan beliau. Artinya, kedua hadis tersebut sama sekali tidak menjatuhkan vonis murtad kepada Sahabatra. Sebaliknya, keduanya membersihkan Sahabatra dari tuduhan murtad dan memberikan definisi bahwa Sahabatra adalah orang yang sama sekali tidak pernah murtad atau setidaknya pernah murtad lalu kembali memeluk Islam serta wafat dalam keadaan Islam.7 Setelah mendengar penjelasan ini, arat NabiSAW insaf lantas berujar bahwa beliau hanyalah seorang manusia biasa. Selagi beliau hidup, beliau senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk membimbing dan menuntun para pengikut beliau menuju jalan yang lurus. Adapun sesudah mangkat ke hadirat ilahi, beliau sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di tengah-tengah pengikut beliau. Beliau sangat mengharapkan para pengikut beliau itu benar-benar memegang teguh ajaran yang beliau sampaikan, yakni Alquran dan Sunah, sehingga mereka dapat berkumpul beserta beliau lagi di alam akhirat. Orang yang seperti inilah yang dinamakan aḥābī. Jadi, Sahabatra adalah orang-orang yang selalu menyertai NabiSAW, baik di dunia maupun di akhirat.8 Adapun mereka yang pernah beserta NabiSAW di dunia, tetapi gagal memasuki surga beliau di akhirat karena penyelewengan mereka sepeninggal beliau, mereka itulah yang dikenai sabda beliau:

سُحْقًا سُحْقًا لِّمَنْ بَدَّلَ بَعْدِيْ.

“Celakalah, celalakah, ia yang mengubah-ngubah sepeninggalku.”9

Perspektif yang serupa dapat dijumpai pula dalam Alquran. Bercerita tentang Nabi Nūḥas, Allah Tabaraka Wa Taala berfirman:

وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِيْ مِنْ أَهْلِيْ وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِيْنَ ۝ قَالَ يَا نُوْحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّيْ أَعِظُكَ أَن تَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْ أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِيْنَ ۝

“Dan Nūḥas berseru kepada Tuhannya: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya, putraku termasuk ke dalam keluargaku. Sesungguhnya, janji Engkau pastilah benar dan Engkau adalah hakim yang paling adil. Dia menjawab: Wahai Nūḥas! Sesungguhnya, ia tidaklah termasuk ke dalam keluarga engkau. Sesungguhnya, ia telah melakukan amal yang tidak saleh. Oleh karena itu, janganlah menanyai-Ku apa yang engkau tiada berilmu tentangnya. Aku menasihati engkau supaya engkau tidak termasuk ke dalam orang-orang yang jahil. Nūḥas berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya, Aku berlindung kepada Engkau dari menanyai Engkau apa yang Aku tiada berilmu tentangnya. Jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihiku, niscaya Aku termasuk ke dalam orang-orang yang merugi.”10

Ketika putra beliau tenggelam, Nabi Nūḥas memohon kepada Allah Taala agar berkenan menyelamatkannya mengingat Allah telah berjanji untuk menyelamatkan semua anggota keluarga beliau. Akan tetapi, Allah Taala menolak untuk menyelamatkannya dengan alasan bahwa putra Nūḥas tidaklah termasuk ke dalam keluarga beliau karena ia melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Di sini, Allah Taala memberikan pengertian kepada arat Nūḥas bahwa yang dimaksud dengan keluarga dalam janji-Nya adalah mereka yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau dalam setiap kondisi. Hubungan darah secara lahiriah tidaklah berarti apa-apa. Mendengar keterangan ini, Sayyidinā Nūḥas menyadari kekeliruan ijtihad beliau dalam memahami janji ilahi sehingga beliau dengan segera dan seketika itu pula meminta pengampunan-Nya.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari semua keterangan di atas ialah bahwa kedua hadis tentang au di atas sama sekali tidak menempelkan cap murtad kepada Sahabatra. Keduanya justru membebaskan Sahabatra dari tuduhan-tuduhan keji para penuduh bahwa mereka tidak termasuk ke dalam kelompok yang digiring ke neraka karena yang dinamakan sebagai Sahabatra adalah orang-orang yang setia menemani Nabi Suci MuammadSAW, baik di alam fana ini maupun di alam kekal kemudian.

Natijah Menganggap Sahabatra Murtad

Sahabatra adalah orang-orang yang disifati dalam Alquran sebagai:

وَالسَّابِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝

“Dan as-sābiqūn al-awwalūn dari kalangan muhajirin, ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah telah rida kepada mereka dan mereka pun telah rida kepada-Nya serta Dia telah menyediakan bagi mereka kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai selaku orang-orang yang kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah dia kemenangan yang teramat besar.”11

Oleh karena itu, menganggap seorang saja dari sosok-sosok yang telah dijanjikan memasuki surga tersebut murtad adalah kejahatan dan dosa besar. NabiSAW diriwayatkan pernah bersabda:

لا يَرْمِيْ رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفِسْقِ وَلا يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمّْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذٰلِكَ.

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kekafiran dan tidak pula menuduhnya dengan kefasikan, kecuali akan kembali tuduhannya itu kepadanya apabila sang tertuduh tidak demikian.”12

Jika yang berlaku antara dua orang biasa saja demikian, bagaimana halnya dengan orang yang menimpakan cap murtad kepada Sahabatra yang telah dipuji secara langsung oleh Allah Taala dalam Kitab-Nya Yang Mulia bahwa mereka adalah penghuni surga? Jawabannya terdapat dalam hadis lain:

مَنْ عَادٰى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ.

“Siapa yang memusuhi salah seorang wali-Ku, Aku pasti akan mengundangnya untuk berperang.”13

Apa hasil dari peperangan antara Allah Taala dan orang yang menganggap salah seorang wali-Nya murtad? Hasilnya adalah tercabutnya iman dari hati sang pemvonis. Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Imam Zaman, arat Mīrzā Ghulām Amad al-Qādiānīas, Imam Mahdi dan Masīḥ Mau‘ūd, berkomentar mengenai orang-orang seperti itu:

فَنَزَعَ اللّٰهُ مِنْ قُلُوْبِهِمْ كُلَّ حَلَاوَةِ الْإِيْمَانِ وَنُوْرِ الْعِرْفَانِ، وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمَاتٍ خَاسِرِيْنَ مَخْذُوْلِيْنَ.

“Karenanya, Allah mencabut segala kemanisan iman dan cahaya makrifat dari dalam hati mereka serta meninggalkan mereka dalam kegelapan layaknya orang-orang yang merugi dan direndahkan.”14

Secara khusus, berkenaan dengan Syiah yang menganggap sebagian besar Sahabatra murtad, arat Masīḥ Mau‘ūdas selaku hakim yang adil telah bersabda:

وَلِأَجْلِ ذٰلِكَ لَا نَرٰى فِي الشِّيْعَةِ رَجُلًا مِّنَ الْأَوْلِيَاءِ، وَلَا أَحَدًا مِّنْ زُمَرِ الْأَتْقِيَاءِ، فَإِنَّهُمْ عَلٰى أَعْمَالٍ غَيْرِ مَرْضِيَّةٍ عِنْدَ اللّٰهِ، وَإْنَّهُمْ يُعَادُوْنَ الصَّالِحِيْنَ.

“Oleh karena itu, kita tidak akan pernah melihat seorangpun dari kalangan Syiah yang termasuk dalam kelompok para wali dan muttaqī. Sebabnya ialah bahwa mereka berpijak di atas amal-amal yang tidak diridai Allah dan mereka memusuhi orang-orang yang saleh.”15

Akhir kata, alangkah baiknya bila penulis menutup tulisan ini dengan sebuah bait syair arat Masīḥ Mau‘ūdas yang sangat cocok dengan pembahasan kali ini:

وَمَوْتُ الْفَتٰى خَيْرٌ لَّهُ مِنْ مَّنَاكِرِ
وَآخِرُ نُصْحِيْ تَوْبَةٌ ثُمَّ تَوْبَةٌ

“Dan, akhir nasihatku adalah taubat demi taubat.
Sebab, kematian seorang pemuda lebih baik baginya daripada berbuat kemungkaran.”16

---0---

Bibliografi

1 Al-‘Ayyāsyī yang bernama lengkap Muammad b. Mas‘ūd b. Muammad b. ‘Ayyāsy as-Sulamī (dari suku Sulaim) as-Samarqandī (dari kota Samarqand) adalah sosok muktabar di tengah-tengah kalangan Syiah. ‘Abbās al-Qummī (w. 1359 H), sejarawan syīī, menyebutkan bahwa ia digelari tsiqah adūq oleh para ahli hadis Syiah. Lebih lanjut, ia merupakan seorang pembesar Syiah, berkedudukan agung, luas dalam hafalan hadis, ahli dalam sistematika periwayatan serta berkecimpung dalam padanya. Ia telah menulis lebih dari 200 buku. Pada awal umurnya, ia adalah seorang suni (āmī al-madzhab ‘mazhab awam’) dan banyak mendengar hadis Ahl as-Sunnah lalu berganti keyakinan menjadi seorang syīī pada usia yang masih muda. Ia merupakan penduduk negeri Timur (ahl al-masyriq) yang paling banyak ilmu, adab, keutamaan, pemahaman, dan kemuliannya. Al-Kisysyī, penulis kitab Rijāl al-Kisysyī yang masyhur di kalangan Syiah, termasuk dalam murid dan pelayannya.

Sumber: ‘Abbās al-Qummīal-Kunā wa al-Alqāb, vol. 2 (Teheran: Maktabat a-adr, 1429 H), hh. 490-491.

2 Muammad b. Mas‘ūd al-‘AyyāsyīTafsīr al-‘Ayyāsyī, vol. 1 (Beirut: Mu’assasat al-A‘lamī li al-Mabūāt, 1991 M/1411 H), hlm. 223.

3 Ibnu Abī al-‘Izz al-anafīSyar al-‘Aqīdah a-aḥāwiyyah, vol. 1 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1997 M/1417 H), hlm. 277.

4 aḥīḥ al-BukhārīKitāb ar-RiqāqBāb fī al-au wa Qaulih Ta‘ālā Innā A‘aināka al-Kautsar, no. 6586.

5 Al-Mustadrak ‘alā a-aḥīḥainKitāb at-TafsīrBāb Tafsīr Sūrat az-Zukhruf, no. 3673.

6 Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘AsqalānīFat al-Bārī bi Syar aḥīḥ al-Bukhārī, vol. 11 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1379 H), hlm. 385.

7 Hal ini disebabkan oleh penggunaan keterangan عَلٰى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرٰى dan عَلٰى أَعْقَابِهِمْ. Secara leksikal, kata irtadda sudah bermakna ‘kembali’, ‘berbalik’, ‘mundur’. Logikanya, sesuatu yang kembali, berbalik, atau mundur pastilah ke arah belakang. Namun, keterangan ke belakang tetap ditambahkan untuk menegaskan. Jika keterangan itu tidak ditambahkan, keindahan makna kalimat hadis di atas akan berkurang. Dalam ilmu balāghah, hal ini disebut sebagai tatmīm. Contohnya dalam Alquran adalah Surah Banī Isrāīl ayat 2:

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِهِ لَيْلًا ۝

Dalam ayat di atas, kata أَسْرٰى   pada dasarnya sudah mencakup makna ‘memperjalankan pada malam hari’. Namun, keterangan لَيْلًا tetap ditambahkan untuk menyatakan bahwa Yang Mulia RasūlullāhSAW diperjalankah hanya pada sebagian malam, tidak seutuhnya.

Sayyid ‘Alī adr ad-Dīn Ma‘ṣūm al-MadanīAnwār ar-Rabī‘ fī Anwā‘ al-Badī, vol. 3 (Karbala: Maktabat al-‘Irfān, 1969 M/1388 H), hlm. 52.

8 Pengertian ini sesuai dengan makna Sahabatra yang didefinisikan oleh Tim Ahlul Bait Indonesia:

“Kata a-ṣāḥib berarti ‘yang menemani’ (al-mu‘āsyir) dan ‘yang selalu menyertai ke manapun (al-mulāzim) serta, ‘tidak dikatakan, kecuali kepada seseorang yang sering menyertai temannya.’ ‘Dan persahabatan mensyaratkan adanya kebersamaan yang lama.’”

Sumber: Tim Ahlul Bait Indonesia, Buku Putih Mazhab Syiah menurut Para Ulamanya Yang Muktabar (Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia, 2012), hlm. 51.

9 aḥīḥ al-BukhārīKitāb al-FitanBāb Mā Jā’a fī Qaulillāhi Ta‘ālā Wattaqū Fitnatan Lā Tuṣībanna al-Ladzīna alamū Minkum Khāṣṣah, no. 7051.

10 Q.S. 11:46-48.

11 Q.S. 9:100.

12 Masā’i al-Akhlāq li Al-Kharā’iṭīBāb Mā Yukrah Min La‘n al-Mu’min wa Takfīrih, no. 13.

13 aḥīḥ al-BukhārīKitāb ar-RiqāqBāb at-Tawāḍu‘, no. 6502.

14 arat Mīrzā Ghulām Amadasamāmat al-Busyrā ilā Ahli Makkata wa ulaḥā’i Umm al-Qurā (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007), hlm. 4.

15 arat Mīrzā Ghulām AmadasSirr al-Khilāfah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007), hlm. 48.

16 arat Mīrzā Ghulām AmadasAnjām-e-Āthām; dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 11 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hlm. 137.