Senin, 14 Desember 2015

Biologi Molekular: Skak Mati Bagi Kreasionisme

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Biologi Molekular: Skak Mati Bagi Kreasionisme
Oleh: Zia M. Shah

Ilustrasi DNA

Dalam studi evolusi, merupakan hal dasar yang harus dicatat bahwa Darwin telah membuat tiga kontribusi terpisah bagi konsep ini. Dengan kata lain, terdapat tiga aspek berbeda dari karya-karyanya yang terentang selama beberapa dekade kehidupannya dari 1809 sampai 1882. Karena kita tengah berbicara mengenainya, merupakan hal yang sangat penting untuk fokus kepada tiga karyanya ini secara terpisah.

Pencapaian utama Darwin adalah bahwa ia telah berhasil meyakinkan dunia sains bahwa evolusi telah terjadi dan hewan-hewan memiliki hubungan yang dekat antara satu sama lain juga dengan saudara-saudara mereka yang jauh dari tumbuhan. Artikel ini akan menyinggung aspek tersebut.

Karya kedua Darwin adalah bahwa ia telah berhasil mengajukan bagaimana evolusi terjadi. Ia mengajukan bahwa seleksi alam adalah mekanisme utama di balik evolusi selama miliaran tahun. Akan tetapi, mungkin terdapat juga beberapa mekanisme tambahan yang berperan, seperti mekanisme-mekanisme genetik dan selular. Yang ketiga, Darwin atau setidaknya para neo-Darwinis mengusulkan ketidakikutsertaan kehendak suatu wujud hidup yang mengontrol proses dan hasil evolusi. Diusulkan bahwa evolusi secara keseluruhan merupakan sebuah proses buta yang hanya ditentukan oleh chance (peluang) dan survival of the fittest (kesintasan siapa yang paling kuat). Artikel ini melingkupi aspek pertama dari karya Darwin yang kita setujui secara utuh. Ini adalah sebuah topik yang tetap hangat sampai hari dan masa ini. Sebanyak 45% populasi Amerika Serikat memercayai bumi muda atau kreasionisme.

Bidang biologi molekular menyediakan bukti yang paling terperinci dan meyakinkan bagi evolusi biologis. Dalam penyingkapannya terhadap sifat alami DNA dan cara kerja organisme pada tingkat enzim dan molekul protein lain, ia telah menampilkan bahwa molekul-molekul ini mengandung informasi tentang hampir semua nenek moyang organisme. Hal ini telah memungkinkannya untuk merekonstruksi kejadian-kejadian evolusioner yang sebelumnya tidak diketahui serta untuk mengonfirmasi dan menyesuaikan gambaran kejadian-kejadian yang telah diketahui. Presisi, yang dengannya nenek moyang dapat dilacak, seperti paternitas dalam perkara hukum, merupakan salah satu bukti dari biologi molekular yang sangat menarik.

Analogi Sebuah Pohon

Dalam sebuah buku catatan, di tengah-tengah banyak gambar yang tak-pasti dan membingungkan, Darwin membuat sebuah sketsa sederhana untuk menangkap dengan tepat jalan konseptual teori yang terbentuk dalam pikirannya. Gambar tersebut adalah sebuah pohon bercabang yang lain dari biasanya, ditujukan untuk menyampaikan sejarah genealogis tumbuhan dan hewan: sebuah pohon kehidupan. Sebagai sebuah metafora, hal itu brilian, menyampaikan gagasan esensial bahwa kehidupan berasal dari suatu masa lalu yang samar dan jauh dengan kejadian yang unik lagi spontan. Dari nenek moyang tunggal ini, batang pohon kehidupan itu berdiversifikasi sepanjang waktu melalui percabangan berturut-turut dengan spesies-spesies baru yang terpisah dari yang lama. Akhir dari cabang-cabang tersebut merepresentasikan kepunahan, seperti dinosaurus. Menyadur kata-kata aslinya, “Afinitas semua makhluk dari satu kelas yang sama terkadang telah direpresentasikan oleh sebuah pohon besar. Aku percaya bahwa kiasan ini sebagian besarnya menyuarakan kebenaran. Ranting yang hijau dan berpucuk mungkin merepresentasikan spesies-spesies yang masih eksis dan ranting-ranting yang dihasilkan pada tahun-tahun sebelumnya mungkin merepresentasikan suksesi panjang dari spesies yang telah punah.” Dengan kata lain, ia telah memvisualisasikan sebuah pohon dengan suatu batang yang akan sejalan dengan konsep Tuhan dari orang-orang Yahudi, Kristen Unitarian, dan Islam. Ia tidak mengajukan tiga pohon dan sebuah pohon dengan tiga batang yang masing-masing menampilkan penciptaan Tuhan Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus, sejalan dengan konsep ketuhanan trinitarian!

Eksistensi suatu batang soliter tadinya hanyalah sebuah dugaan. Darwin tidak menyukai apa yang disebutnya sebagai gagasan ruwet nan berlebihan bahwa kehidupan muncul secara konstan, menciptakan suatu hutan kehidupan yang bercampur aduk di tempat sebuah pohon yang bersendirian. Hari ini, para biologiawan bersikeras bahwa dugaan Darwin pada dasarnya benar: kehidupan di muka bumi diturunkan dari suatu nenek moyang tunggal bersama.

Apa yang membuat mereka sangat yakin? Terdapat beberapa alasan istimewa untuk memercayai suatu nenek moyang tunggal. Sebagai sebuah pendahuluan, setiap organisme yang telah diketahui bersama-sama menggunakan suatu sistem fisik dan kimiawi yang seragam. Jalur-jalur metabolik bagaimana sel tumbuh, apa yang molekul kerjakan dan kapan, bagaimana energi digunakan dan dibebaskan, di mana protein-protein dibuat dan apa yang mereka kerjakan, semuanya pada dasarnya sama secara menyeluruh. Cara suatu sel menyimpan informasi genetik dan mereproduksinya juga umum untuk semua kehidupan. Mungkin bukti yang paling meyakinkan bagi adanya suatu asal-muasal yang seragam adalah bahwa instruksi-instruksi genetik diimplementasikan menggunakan suatu kode universal. Merupakan satu hal yang sangat berat untuk memercayai bahwa semua fitur spesifik yang kompleks dan besar ini muncul secara terpisah berkali-kali. Lebih tepatnya, mereka merefleksikan sifat-sifat yang telah ada dalam suatu sel nenek moyang universal dan diwariskan oleh keturunannya.

DNA Yang Seragam di Kalangan Kera

DNA manusia dapat diandaikan seperti sebuah deretan huruf yang sangat panjang – kira-kira tiga juta di antaranya – yang terkadang membentuk kata (gen). Proyek Genom Manusia telah memberikan kita pemahaman yang terus meningkat tentang cetak biru manusia dan relasinya dengan kera lain, seperti simpanse dan gorila.

Matt Ridley menulis dalam bukunya, Genome:

“Jika Anda memilih secara acak salah satu ‘paragraf’ dalam genom simpanse dan membandingkannya dengan paragraf sebandingnya dalam genom manusia, Anda akan mendapati sangat sedikit huruf yang berbeda: rata-rata kurang dari dua dari dua ratus. Kita, hingga 98% perkiraan, adalah simpanse dan mereka dengan tidak kurang percaya diri dari 98% adalah manusia. Jika hal itu tidak melekukkan harga diri anda, anggaplah bahwa simpanse hanyalah 97% gorila dan manusia juga 97% gorila. Dengan kata lain, kita lebih mirip simpanse daripada gorila.”

Sebuah uniformitas yang luar biasa terjadi di dalam komponen-komponen molekular organisme – dalam pembawaan alami komponen-komponen tersebut juga dalam cara-cara mereka dirakit dan digunakan –. Pada semua bakteri, tumbuhan, hewan, dan manusia, DNA mengandung suatu sekuens berbeda dari keempat komponen nukleotida, dan semua protein yang bervariasi disintesis dari kombinasi-kombinasi dan sekuens-sekuens berbeda dari 20 asam amino yang sama meskipun beberapa ratus asam amino lain juga tersedia. Kode genetik yang dengannya informasi yang terkandung dalam DNA sel diteruskan ke protein-protein sebenarnya sama di mana saja. Jalur-jalur metabolik yang serupa – sekuens-sekuens dari reaksi-reaksi biokimiawi (lihat metabolisme) – digunakan oleh organisme-organisme yang paling beraneka untuk memproduksi energi dan membuat komponen-komponen sel.

Mengutip kata-kata Encylopedia Britannica versi online:

“Masing-masing dari ribuan gen dan ribuan protein yang terkandung dalam suatu organisme menyediakan sebuah tes independen tentang sejarah evolusi organisme tersebut. Tidak semua tes yang memungkinkan telah dilakukan, tetapi ratusan telah dikerjakan, dan tidak ada satupun yang memberikan bukti yang bertentangan dengan evolusi. Mungkin tidak terdapat gagasan lain dalam bidang sains apapun yang telah diuji dengan panjang lebar dan sepenuhnya disokong seperti asal-muasal evolusioner suatu organisme.”

Pendeknya:

“Evolusi molekular telah menampilkan semua organisme hidup, dari bakteri sampai manusia, berkerabat lewat nenek moyang bersama.”

Vitamin C Kita Yang Hilang

Vitamin C atau asam askorbat merupakan sebuah koenzim yang disintesis semua tumbuhan dan hewan, kecuali manusia, kera, dan monyet. Sebagian besar mamalia dapat membuat sendiri vitamin C. Primata adalah sebuah kelompok yang mencakup manusia, kera, monyet, dan kukang. Primata yang berkerabat lebih jauh dari kera dan manusia, yakni kukang, memiliki gen-gen fungsional yang penuh untuk membuat vitamin C. Tampaknya kemampuan itu telah hilang di suatu tempat selama transisi dari kukang ke monyet. Pembuatan vitamin C memiliki beberapa langkah dan memerlukan banyak enzim untuk reaksi-reaksi kimia yang dibutuhkan. Enzim-enzim ini bertempat tinggal di hati. Salah satu dari enzim-enzim ini yang kurang dalam tubuh manusia, kera, dan beberapa primata disebut sebagai gulunolactone oxidase (GLO).

Mengutip kata-kata Prof. Kenneth Miller dalam buku terkininya:

“Kecuali jika ada rencana untuk memompa penjualan buah jeruk, mengapa kita telah didesain tanpa suatu gen yang seharusnya telah dapat membuat kehidupan diet kita menjadi jauh lebih sederhana? Orang-orang yang percaya bahwa genom kita memang telah didesain telah mendengar pertanyaan-pertanyaan ini sebelumnya, dan mereka memiliki jawaban yang sigap: sesuatu dapat benar-benar didesain, dan tetap jauh dari sempurna, seperti sebuah mobil yang buruk atau sebuah komputer yang sangat lelet. Desain, dengan demikian, tidak mengimplikasikan kesempurnaan, dan suatu desain yang buruk tetaplah desain. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa seorang desainer harus membuat kita sempurna secara metabolis. Cukup adil. Akan tetapi, bagian yang menarik dari cerita ini adalah bahwa kita tidak seutuhnya kehilangan gen GLO itu. Kenyataannya, ia berada di dalam kromosom 8, lokasinya di dalam genom kita persis sama dengan mamalia lain. Masalahnya adalah bahwa salinan gen GLO kita telah mengakumulasi banyak sekali mutasi, dalam bentuk perubahan-perubahan sekuens dasar DNA yang tidak lagi bekerja. Kita telah memasukkan vitamin C ke dalam diet kita karena kita membawa suatu versi cacat dari gen GLO kita. Efeknya, kita semua menderita suatu penyakit genetik, yang hanya dapat diperbaiki dengan memasukkan vitamin C ke dalam diet kita. Apa yang mengikutinya, tentu, merupakan sebuah pertanyaan yang logis. Jika sang desainer menginginkan kita untuk bergantung pada vitamin C, mengapa dia tidak membuang seutuhnya gen GLO itu dari rancangan genom kita? Mengapa bangkainya masih tersisa di sana?”

Semua manusia dan kera pada hari ini membawa gen yang pecah ini, kesimpulannya tidak terelakkan bahwa manusia, kera, dan primata berkerabat satu sama lain. Ini berarti bahwa nenek moyang bersama yang mula-mula kehilangan kapasitas membuat vitamin C bukanlah seorang manusia, melainkan seekor primata, sesosok nenek moyang yang menurut para penyuluh kreasionisme tidak seharusnya kita miliki. Dan inilah momen pencerahan!

Kesatuan ini menyingkapkan kontinuitas genetik dan nenek moyang bersama semua organisme. Tidak ada jalan rasional lain untuk menghitung uniformitas molekular mereka ketika berbagai struktur alternatif lain mungkin sekali setara. Kode genetik berperan sebagai sebuah contoh. Masing-masing sekuens khusus dari tiga nukleotida dalam DNA inti berlaku sebagai pola untuk produksi asam amino yang seutuhnya sama di dalam semua organisme. Tidak ada keharusan lain selain bahwa itu diperuntukkan bagi suatu bahasa untuk menggunakan suatu kombinasi huruf khusus untuk merepresentasikan suatu objek khusus. Jika ditemukan bahwa sekuens huruf-huruf tertentu, – planet, pohon, dan wanita – digunakan dengan arti-arti yang identik dalam sejumlah buku yang berbeda, seseorang dapat merasa yakin bahwa bahasa-bahasa yang digunakan dalam buku-buku tersebut berasal dari asal yang seragam.

Kromosom Nomor Dua Kita

Mengutip kata-kata Prof. Kenneth Miller dalam bukunya, Only A Theory: Evolution and The Battle of America’s Soul:

“Sejumlah 46 kromosom kita sebenarnya merupakan 23 pasang kromosom (karena kita mewarisi dua set komplit, satu dari ibu dan satu dari ayah), yang berarti bahwa kera besar memiliki 24 pasang kromosom. Jadi, jika kita berbagi suatu nenek-moyang bersama dengan organisme-organisme ini, kita, manusia, niscaya kehilangan satu pasang kromosom tunggal. Mungkinkah satu pasang kromosom tunggal itu hilang dalam satu lintasan yang memberikan kebangkitan untuk kita? Bukan suatu peluang. Kita cukup tahu perihal genetika primata untuk memahami bahwa hilangnya satu pasang kromosom komplit (dan semua gen yang dikandungnya) akan berakibat fatal bagi manusia dan simpanse. Kenyataannya, hanya terdapat satu cara untuk menjelaskan ketidakadaan sepasang kromosom yang terlihat pada spesies kita. Dalam lintasan yang mengarah ke kita, dua kromosom primata secara aksidental telah melebur untuk membentuk satu kromosom tunggal manusia. Keindahan hipotesis ini adalah bahwa itu dapat diuji. Jika salah satu kromosom kita memang diproduksi dengan cara ini, kita seharusnya dapat mengamati genom manusia dan mengidentifikasi suatu kromosom dengan dua paroh, yang secara harfiah tertempel bersama, dari nenek moyang primatanya. Jika kita tidak menemukan kromosom semacam itu, kenenekmoyangan evolusioner bersama yang dipostulasikan bagi spesies kita mungkin saja salah. Jika, di sisi lain, kita menemukan kromosom semacam itu, kita sekali lagi telah menemukan bukti yang mengonfirmasi evolusi. Sekarang, apa yang kita perlukan adalah sebuah cara untuk mengenali peleburan tersebut dan memecahkan ‘masalah kromosom yang hilang tersebut.’”

Bagian sentral dari kromosom disebut sentromer dan ujungnya disebut telomer. Kromosom manusia nomor dua memang mengandung DNA telomer di tengahnya, pada titik peleburannya, dan ia membawa dua sekuens sentromer dari kromosom simpanse nomor 12 dan 13. Lebih lanjut, gen-gen dalam kromosom manusia nomor dua tersusun dalam suatu penyatuan yang hampir utuh untuk pola gen-gen yang sesuai dalam kedua kromosom simpanse itu. Penyatuan itu amatlah jelas, pada kenyataannya, bahwa para saintis yang bekerja menyoal genom simpanse sekarang telah mengubah penomoran kromosom simpanse nomor 12 dan 13 menjadi 2A dan 2B, untuk menyatukan kromosom manusia dengan kromosom simpanse yang sesuai. Perkara forensik tentang kromosom yang hilang tersebut selesai tanpa sedikitpun keraguan.

Matt Ridley menulis dalam bukunya, Genome, di mana ia mendedikasikan satu bab bagi masing-masing 23 pasang kromosom manusia, ia berkata tentang kromosom kedua:

“Ini sebenarnya lebih mengejutkan bahwa manusia tidak memiliki 24 pasang kromosom. Simpanse memiliki 24 pasang kromosom, demikian juga gorila dan orangutan. Di antara para kera, kita adalah pengecualian. Di bawah mikroskop, perbedaan yang paling kentara dan nyata antara diri kita dan semua kera besar lainnya adalah bahwa kita memiliki kekurangan satu kromosom. Alasannya, hal itu dengan cepat menjadi terlihat, bukanlah bahwa sepasang kromosom kera telah pergi hilang di dalam diri kita, tetapi dua kromosom kera itu telah melebur bersama-sama di dalam diri kita. Kromosom nomor dua, kromosom manusia terbesar kedua, pada kenyataannya terbentuk dari peleburan dua kromosom kera yang berukuran sedang, sebagaimana dapat dilihat dari pola pita hitam pada masing-masing kromosom.”

Sedikit lebih lanjut pada bab yang sama, ia harus berkata:

“Selain dari peleburan kromosom nomor dua, perbedaan-perbedaan yang tampak antara simpanse dan manusia adalah sedikit dan kecil.”

Gen dan Protein

Mengutip kata-kata Encylopedia Britannica versi online:

“Gen dan protein adalah molekul panjang yang mengandung informasi dalam sekuens komponen-komponennya persis dengan cara yang sama kalimat-kalimat bahasa Inggris mengandung informasi dalam sekuens huruf-huruf dan kata-katanya. Sekuens-sekuens yang membuat gen diteruskan dari orang tua ke anak dan bersifat identik, kecuali untuk perubahan-perubahan sporadis yang dimulai oleh mutasi. Sebagai sebuah ilustrasi, seseorang mungkin berasumsi bahwa dua buah buku tengah diperbandingkan. Kedua buku tersebut adalah sepanjang 200 halaman dan mengandung jumlah bab yang sama. Pemeriksaan lebih dekat menyingkapkan bahwa dua buku itu identik halaman per halaman dan kata per kata, kecuali bahwa satu kata sporadis – katakanlah, satu dari 100 – berbeda. Dua buku itu seharusnya tidak dapat ditulis secara terpisah; salah satunya telah disalin dari yang lain, atau keduanya telah disalin, baik secara langsung maupun tidak, dari satu buku asal yang sama. Demikian juga, jika masing-masing komponen nukleotida direpresentasikan oleh satu huruf, sekuens nukleotida yang komplit di dalam DNA suatu organisme yang lebih tinggi, akan menuntut ratusan buku berhalaman ratusan, dengan ribuan huruf pada masing-masing halaman. Ketika ‘halaman-halaman’ tersebut (atau sekuens-sekuens nukleotida) dalam ‘buku-buku’ ini (organisme-organisme) diperiksa satu per satu, kesesuaian dalam ‘huruf-huruf’ (nukleotida-nukleotida) memberikan bukti tentang asal-muasal bersama yang tak-mungkin salah.”

Sitokrom C

Organisme-organisme yang berbeda memiliki proporsi gen yang besar secara bersama, khususnya gen-gen yang mengode protein pada inti sentral dari mesin kimia sel. Sebagai contoh, kebanyakan organisme, memiliki sebuah gen yang mengode protein penghasil energi sitokrom C, dan lebih lanjut, gen ini memiliki suatu sekuens nukleotida yang serupa di dalam semua organisme (yakni, sekuens tersebut dilestarikan). Akan tetapi, sekuens-sekuens sitokrom di dalam organisme-organisme yang berbeda menampilkan perbedaan-perbedaan, dan kunci filogeni adalah bahwa perbedaan-perbedaan tersebut secara proporsional lebih sedikit antara organisme-organisme yang berkerabat dekat. Argumen itu, menyoal kemiripan dalam sekuens nukleotida-nukleotida di dalam DNA (dan, dengan demikian, sekuens asam amino-asam amino di dalam protein), mengatakan bahwa buku-buku dengan teks yang sangat mirip tidak dapat berasal dari asal-muasal yang terpisah.

Bukti evolusi yang disingkapkan oleh biologi molekuler maju lebih jauh. Derajat keserupaan dalam sekuens nukleotida dan asam amino dapat dikuantifikasikan dengan tepat. Pada level selular enzim, terdapat sejumlah cerita menarik. Sebuah contoh cemerlang adalah enzim sitokrom yang terlibat dalam respirasi sel. Sekuens asam amino dalam protein ini telah diketahui untuk banyak organisme, dari bakteri dan ragi sampai serangga dan manusia; di dalam hewan, sitokrom c terdiri atas 104 asam amino. Di dalam manusia dan simpanse, molekul protein itu disebut sebagai sitokrom c, yang memerankan fungsi vital dalam respirasi di dalam sel. Ketika sekuens asam amino manusia dan monyet resus diperbandingkan, mereka didapati berbeda pada posisi 66 (isoleusin pada manusia, threonin pada monyet resus), tetapi identik pada 103 posisi yang lain.

Ketika manusia diperbandingkan dengan kuda, didapati perbedaan 12 asam amino; tetapi ketika kuda diperbandingkan dengan monyet resus, hanya terdapat perbedaan 11 asam amino. Bahkan, tanpa mengetahui sesuatu yang lain tentang sejarah evolusi manusia, seseorang dapat menyimpulkan bahwa garis keturunan manusia dan monyet resus berdivergensi dari satu sama lain pada waktu yang lebih terkini daripada mereka berdivergensi dari garis keturunan kuda. Derajat keserupaan mencerminkan keterkinian nenek moyang bersama. Dengan demikian, kesudahan dari anatomi komparatif dan disiplin-disiplin ilmu lain menyangkut sejarah evolusi dapat diuji dalam studi-studi molekular tentang DNA dan protein dengan mengeksaminasi sekuens nukleotida dan asam amino mereka.

Kesimpulan

Mengutip kata-kata Francis S. Collins, Kepala Proyek Genom Manusia:

“Tidak ada satupun biologiawan-yang-serius meragukan teori evolusi untuk menjelaskan kompleksitas mengagumkan dan keanekaragaman kehidupan. Kenyataannya, kekerabatan semua spesies melalui mekanisme evolusi merupakan suatu fondasi besar untuk memahami keseluruhan biologi yang sulit untuk dibayangkan bagaimana seseorang akan mempelajari kehidupan tanpa itu. Akan tetapi, area penyeledikan saintifik apa yang telah menimbulkan pertentangan dengan perspektif-perspektif keagamaan yang lebih besar daripada pandangan evolusioner Darwin? Dari sirkus semisal ‘percobaan monyet’ Scopes tepat pada 1925 terus sampai perdabatan hari ini di Amerika Serikat tentang pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah, pertarungan ini tidak menampilkan satupun tanda untuk berhenti.”

Sirkus semisal percobaan Scopes dapat disaksikan dalam sebuah film hitam-putih Inherit The Wind. Mereka yang menyukai film ini, yang menampilkan Scopes atau percobaan monyet pada 1925, tentang kreasionisme, mungkin siap untuk sequelnya. Ada sebuah pertarungan legal terkini yang dimainkan oleh Intelligent Design, di Desa Dover, Pennsylvania, pada 2005. Sebuah film PBS yang hebat dan terperinci tentang percobaan ini dapat dilihat secara online. Pengadilan Federal dalam kasus ini mengatur bahwa Intelligent Design tidak secara jelas berbeda dari ‘kreasionisme’ dan, dengan demikian, harus dikeluarkan dari kurikulum di sekolah-sekolah publik berdasarkan pada keputusan-keputusan sebelumnya. Intelligent Design berusaha untuk meredefinisi sains secara fundamental agar dapat menerima penjelasan-penjelasan supernatural.

Darwin sendiri secara mendalam gelisah akan efek teorinya terhadap kepercayaan keagamaan meskipun dalam The Origin of Species ia menanggung kesakitan untuk menunjukkan sebuah interpretasi harmonis yang memungkinkan, “Saya tidak melihat satupun alasan yang baik mengapa pandangan yang diberikan dalam volume ini harus mengguncangkan perasaan-perasaan keagamaan seseorang. ... Seorang penulis tersohor dan cakap-agama telah menulis kepadaku bahwa ia ‘telah secara bertahap belajar melihat bahwa beriman bahwa Dia membutuhkan suatu kerja penciptaan yang cepat untuk menyuplai kekosongan yang disebabkan oleh kerja hukum-hukum-Nya sama mulianya dengan beriman kepada suatu konsepsi ketuhanan bahwa Dia telah menciptakan beberapa bentuk asal yang mampu berkembang sendiri menjadi bentuk-bentuk yang lain dan diperlukan.’”

Kepercayaan pribadi Darwin tetap ambigu dan tampak bervariasi sepanjang tahun-tahun terakhir kehidupannya. Suatu kali ia berkata, “Agnostik akan menjadi deskripsi yang paling benar tentang keadaan pikiranku.” Pada waktu lain, ia menulis bahwa ia merasa amat tertantang oleh “Kesulitan ekstrem, atau bahkan ketidakmungkinan memahami alam semesta yang besar sekali dan hebat ini, termasuk manusia dengan kapasitasnya untuk melihat jauh ke belakang dan jauh ke masa depan, sebagai hasil dari peluang atau kemestian buta. Ketika, dengan demikian, bercermin, aku merasa tertarik untuk melihat suatu Sebab Pertama yang memiliki pikiran cerdas yang sampai derajat tertentu analog dengan pikiran manusia; dan aku pantas disebut sebagai seorang teis.”

Bahkan, Darwin menyimpulkan The Origin of Species dengan kalimat berikut, “Terdapat suatu kemegahan dalam pandangan hidup ini, dengan berbagai kekuatannya, yang dengan semula telah diembuskan oleh Sang Pencipta ke dalam beberapa bentuk atau ke dalam satu bentuk; dan itu, selagi planet ini berputar menurut hukum gravitasi yang tetap, dari sebuah awal yang sangat sederhana, bentuk-bentuk paling cantik dan paling hebat yang tak-pernah berakhir telah dan tengah berevolusi.”

Lagi, mengutip kata-kata Francis S. Collins:

“Banyak orang yang telah mempertimbangkan semua bukti saintifik dan spiritual masih melihat tangan Tuhan yang berkreasi dan membimbing bekerja. Bagi seorang yang beriman, tidak ada secarikpun kekecewaan atau ketidakpuasan dalam penemuan-penemuan tentang asal-muasal kehidupan yang sangat bertentangan! Betapa mengagumkan dan rumit kehidupan berubah! Betapa memuaskan secara mendalam elegansi digital dari DNA! Betapa menarik secara estetis dan agung secara artistik komponen-komponen benda hidup, dari ribosom yang mentranslasi DNA menjadi protein sampai ke metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, sampai ke bulu burung merak yang menakjubkan yang menarik pasangannya! Evolusi, sebagai suatu mekanisme, dapat dan haruslah benar. Akan tetapi, ia tidak berkata apa-apa tentang asal-muasal pengarangnya. Bagi mereka yang beriman kepada Tuhan, tersedia banyak alasan sekarang untuk lebih terkagum, tidak sebaliknya.

---0---

Bibliografi:

https://www.alislam.org/library/articles/Molecular_biology__Checkmate_to_Creationism-20081103MN.pdf

Sabtu, 05 Desember 2015

Akal, Silsilah Kenabian, dan Silsilah Khilafah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Akal, Silsilah Kenabian, dan Silsilah Khilafah

The Travelers, Meindert Hobbema, Encylopedia Britannica Online

Imam al-Māwardī suatu kali pernah mengutip seorang penyair, Ibrāhīm b. assān:

لَيْسَ مِنَ الخَيْرَاتِ شَيْءٌ يُّقَارِبُهُ
وَأَفْضَلُ قَسْمِ اللّٰهِ لِلْمَرْءِ عَقْلُهُ
فَقَدْ كَمُلَتْ أَخْلَاقُهُ وَمَآرِبُهُ
إِذَا أَكْمَلَ الرَّحْمَانُ لِلْمَرْءِ عَقْلَهُ

“Sebaik-baik pemberian Allah kepada manusia adalah akalnya. Tiada satupun karunia lain yang mampu mendekatinya
Bila Yang Maha Pemurah telah menyempurnakan akal seseorang, telah sempurna pulalah akhlak dan hajat-hajatnya.”1

Manusia, seperti diungkapkan Professor Cope, ahli paleontologi dan evolusi asal Amerika pada abad 19 M, ternyata lebih inferior dibandingkan hewan-hewan tertentu dalam ketajaman beberapa indra dan kekhasan berbagai struktur fisik. Ia tak dapat bersaing dengan mamalia-mamalia lain dalam perkembangan gigi dan seluruh giginya pun terbukti primitif; hidungnya tidak dapat memberikan pelayanan sebaik hidung anjing; menyoal penglihatan, elang memiliki mata yang jauh lebih baik; sendi pergelangan kaki domba lebih kuat dan lebih sulit untuk mengalami kerusakan daripada sendi yang sama pada manusia; kaki kuda terdiri atas suatu ujung yang padat dan elastis yang berfungsi sebagai pijakan berlari sewaktu tumitnya terangkat ke udara dan tidak menyentuh tanah sehingga hewan itu mampu meraih kelentingan dan kecepatan gerak di atas kemampuan plantigrade manusia. Demikian juga, dalam kajian embriologi evolusioner, kita akan mendapati kenyataan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia pada hakikatnya tidak jauh beda dengan pertumbuhan dan perkembangan hewan.2 Ringkasnya, manusia secara badani tidak memiliki keistimewaan khusus yang membuatnya unggul atas hewan. Secara taksonomik, ia justru digolongkan dalam Kerajaan Animalia.

Bersamaan dengan semua keterangan tersebut, manusia diakui sebagai makhluk tercerdas, malahan satu-satunya makhluk yang mampu menancapkan dan melanggengkan peradabannya di muka bumi ini. Kenyataan demikian dengan jelas tergambar dari penyematan nama Homo sapiens yang berarti ‘manusia cerdas’ untuk spesies kita. Tentu, hal ini tidak serta-merta terjadi dengan sendirinya, tetapi ada faktor-faktor tertentu yang memengaruhinya. Faktor pembeda yang menjadi kunci dalam hal ini adalah akal (reason).

Akal secara etimologis berasal dari bahasa Arab اَلْعَقْلُ yang berarti اَلْمَنْعُ ‘mencegah’, yakni karena akal mencegah pemiliknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tak patut. Secara definitif, sebagian ulama menjelaskan akal sebagai berikut:

قُوَّةٌ وَغَرِيْزَةٌ أَوْدَعَهَا اللّٰهُ سُبْحَانَهُ فِي الْإِنْسَانِ لِيَتَمَيَّزَ بِهَا عِنِ الْحَيَوَانِ بِإِدْرَاكِ الْعُلُوْمِ النَّظَرِيَّةِ.

“Sebuah kekuatan dan insting yang diberikan Allah Taala dalam diri manusia melalui penguasaan terhadap ilmu-ilmu naarī sehingga ia dapat dibedakan dari hewan.”3

Pendefinisian ini sangat menarik sebab yang diketengahkan adalah ilmu naarī. Dalam kajian ilmu mantik, ilmu naarī adalah kebalikan dari ilmu arūrī. Artinya, ilmu naarī hanya dapat diperoleh setelah melalui tahap-tahap pembelajaran tersendiri, berbeda dengan ilmu arūrī yang telah tertanam dalam kemampuan naluriah manusia. Sebagai contoh, seseorang akan mahir bermain tenis meja hanya bila ia terus-menerus berlatih dan meningkatkan skill juga tekniknya. Namun, seseorang tidak perlu belajar makan atau minum karena kedua hal itu merupakan keniscayaan yang pasti dilakukan manusia, bahkan oleh bayi yang baru lahir sekalipun.

Hewan-hewan lain, seperti simpanse yang berkerabat paling dekat dengan manusia, tidak memiliki kemampuan seperti itu. Misalnya, dalam konteks imitasi, studi menunjukkan bahwa simpanse memang dapat meniru perilaku orang lain, tetapi peniruannya itu terbatas pada produksi-ulang aksi yang dilakukan oleh orang lain tersebut, bukan pada gerakan kinematiknya. Manusia, kontrasnya, dapat menguasai tujuan akhir dan gerakan kinematik sekaligus.4 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia berpotensi untuk terus maju dalam kecerdasannya, sedangkan simpanse dan hewan-hewan lain yang lebih rendah tingkatannya cenderung mengalami stagnasi.

Sangat mungkin terjadi bahwa, disebabkan oleh hasratnya yang amat tinggi untuk maju, manusia ingin mencoba-coba sesuatu yang baru. Hanya saja, sesuatu yang hendak dicobanya itu belum tentu bermanfaat baginya, malahan sangat mungkin membuatnya rugi. Melihat hal ini, berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna dan penuh hikmah, Allah Taala telah berkehendak untuk membimbing manusia agar ia tidak melewati pakem-pakem yang hadir sebagai konsekuensi logis dari kepemilikan akal tadi. Oleh karena itu, Dia mengutus para nabi selaku penyuluh dan juru ingat agar manusia senantiasa mempergunakan akalnya semaksimal mungkin untuk kebaikan dan agar ia tidak terjerumus dalam hal-hal yag justru akan menyulitkannya. Wujud pertama dalam silsilah kenabian yang suci ini adalah arat Ādamas.

Silsilah kudus ini terus berlangsung seiring dengan kemajuan peradaban manusia. Tuhan telah menyebutkan bahwa tidak ada satupun kaum, kecuali pernah diutus kepada mereka paling tidak seorang rasul5 dan rasul itu berbicara dengan bahasa mereka.6 Ajaran yang dibawa mereka tidak lain dan tidak bukan adalah petuah-petuah yang akan mengantarkan tiap kaum itu kepada puncak kesuksesan. Kita dapat mengambil Banī Isrāīl sebagai contoh. Menurut keterangan alkitabiah, Banī Isrāīl diperbudak selama 400 tahun di Mesir sebelum kedatangan Nabi Mūsāas.7 Namun, begitu Nabi Mūsāas datang, mereka berhasil lepas dari perbudakan dan pelan-pelan merintis sebuah nasion besar. Puncaknya, 400 tahun kemudian, mereka mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Raja Dāūdas dan Raja Sulaimānas.8 Kesemua ini menunjukkan bahwa silsilah kenabian yang didasarkan wahyu ilahi tidaklah bertentangan diametral dengan akal. Sebaliknya, ia berperan layaknya stimulan yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas kerja akal budi manusiawi.

Taktala perkembangan akal telah sampai pada titik kulminasinya dan membutuhkan tuntunan yang paling besar, Allah Taala mengutus Nabi Suci MuammadSAW agar manusia dapat berakhlak (takhalluq) dengan akhlak-akhlak ilahi yang paling murni dan luhur. Allah Taala pun menjadikan Nabi SuciSAW sebagai sebuah mi‘yār atau refleksi sempurna yang memancarkan personifikasi semua nabi terdahulu. Dengan kata lain, nabi-nabi terdahulu itu pada hakikatnya merupakan manifestasi-manifestasi kecil dari Nabi SuciSAW sebelum wujud hakiki beliau hadir di dunia. Tepatlah demikian apa yang digambarkan arat Masīḥ Mau‘ūdas:

وَعِرْفَانُ إِبْرَاهِيْمَ دِيْنًا وَّمَرْصَدًا
لَهُ آيَتَا مُوْسٰى وَرُوْحُ ابْنِ مَرْيَمَ

“Beliau memiliki dua tanda Mūsāas dan roh Ibnu Maryamas,
serta ‘irfān Ibrāhīmas dalam agama dan tingkatan kerohanian.”9

Kepengikutan terhadap beliau adalah kunci majunya akal. arat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda lagi:

وَنَوَّرَ أَفْكَارَ الْعُقُوْلِ وَأَيَّدَا
هَدَى الْهَائِمِيْنَ إِلٰى صِرَاطٍ مُّقَوَّمٍ

“Beliau menunjuki para pecinta ke jalan yang teguh,
serta mencahayai dan menguatkan pikiran-pikiran yang dihasilkan oleh akal.”

Dunia menyaksikan betapa hebatnya kesuksesan yang dicapai oleh para Sahabatra berkat meneladani perilaku-perilaku RasūlullāhSAW secara menyeluruh. Tidak perlu lebih dari 400 tahun seperti Banī Isrāīl, kurang dari seabad pun sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk menancapkan panji-panji kejayaan di hampir sepertiga bagian dunia, khususnya dunia lama. Thomas Carlyle menuturkan:

“To the Arab Nation it was as a birth from darkness into light; Arabia first became alive by means of it. A poor shepherd people, roaming unnoticed in its deserts since the creation of the world: a Hero-Prophet was sent down to them with a word they could believe: see, the unnoticed becomes world-notable, the small has grown world-great; within one century afterwards, Arabia is at Grenada on this hand, at Delhi on that;—glancing in valour and splendour and the light of genius, Arabia shines through long ages over a great section of the world. Belief is great, live-giving. The history of a Nation becomes fruitful, soul-elevating, great, so soon as it believes. These Arabs, the man Mahomet, and that one century,—is it not as if a spark had fallen, one spark, on a world of what seemed black unnoticeable sand; but lo, the sand proves explosive powder, blazes heaven-high from Delhi to Grenada! I said, the Great Man was always as lightning out of Heaven; the rest of men waited for him like fuel, and then they too would flame.”11

“Bagi bangsa Arab, hal itu merupakan suatu kelahiran dari kegelapan menuju cahaya; Arabia pertama kali menjadi hidup melalui sarana itu. Suatu kaum pengggembala yang miskin, berkeliaran tak-tercatat dalam gurun-gurunnya sejak penciptaan dunia; seorang nabi-pahlawan diutus kepada mereka dengan sebuah kata yang dapat mereka imani; lihatlah, yang tak-tercatat menjadi yang patut dicatat dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi orang besar dunia; dalam satu abad mendatang, Arabia telah membentang di Granada di satu sisi, dan di Delhi di sisi lain;—memandang dengan keberanian dan kemegahan serta cahaya kegeniusan, Arabia bersinar dalam jangka waktu yang lama pada suatu belahan-bumi yang besar. Iman adalah agung, memberikan kehidupan. Sejarah suatu bangsa menjadi berbuah, mengangkat jiwa, agung, segera ketika ia beriman. Orang-orang Arab ini, sosok MuammadSAW, dan satu abad itu;— ia bukanlah seolah-olah bunga api yang telah gugur, satu bunga api, jatuh kepada sebuah dunia yang terlihat sebagai pasir hitam lagi tak-tercatat; tetapi amboi, pasir itu menyediakan bumbu yang eksplosif, membakar langit nan tinggi dari Delhi sampai Granada! Aku katakan, Manusia Agung itu selalu bagaikan halilintar yang muncul dari langit; manusia selainnya laksana bahan bakar baginya, dan mereka pun nantinya akan ikut berkobar.”

Akan tetapi, bukan teror yang mereka sebarkan kepada dunia. Sebaliknya, ilmu dan petunjuklah yang dipersembahkan mereka kepada manusia. arat Amadas lagi-lagi melukiskan kenyataan ini dengan sangat indah:

نَأُوْمًا كَأَمْوَاتٍ جَهُوْلًا يَّلَنْدَدَا
أَتَعْرِفُ قَوْمًا كَانَ مَيِّتًا كَمِثْلِهِمْ
مُنِيْرِيْنَ مَحْسُوْدِيْنَ فِي الْعِلْمِ وَالْهُدٰى
فَأَيْقَظَهُمْ هٰذَا النَّبِيُّ فَأَصْبَحُوْا

“Pernahkah engkau mengenal suatu kaum yang mati seperti mereka?
tidur bagai onggokan bangkai, jahil, nan saling bermusuhan.
Kemudian, NabiSAW ini membangunkan mereka hingga mereka menjadi,
bersinar dan dicemburui dalam ilmu dan hidayah.”12

Ilmu dan petunjuk yang didapat para Sahabatra tidak dipendam begitu saja tanpa ada pewarisan. Sebaliknya, berkat tuntutan akal mereka yang telah tercahayai kecemerlangan nabawi, mereka mendidik generasi berikutnya agar dapat melanjutkan kemajuan yang telah mereka peroleh. Memang, kebanyakan ilmu yang mereka ajarkan adalah ilmu-ilmu keagamaan. Akan tetapi, mereka tidak pernah melarang orang-orang untuk menyelami hikmah-hikmah yang terkandung dalam ilmu-ilmu dari jenis yang lain sebagaimana Imam mereka, Nabi Suci MuammadSAW, pernah bersabda:

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا.

“Perkataan hikmah adalah barang yang hilang dari seorang mukmin. Oleh karena itu, di manapun ia menemukannya, ialah sosok yang paling berhak atasnya.”13

Hasilnya, peradaban Islam – yang juga diakui para sejarawan Barat – merajai dunia hingga 600 tahun pasca kewafatan Nabi SuciSAW, terutama saat Daulah ‘Abbāsiyyah berada di bawah kepemimpinan Hārūn ar-Rasyīd (786-809 M). Dalam kata-kata Robin Doak, “The Islamic Empire is the most advanced civilization of its time.” Karya-karya Aristoteles, Euclid, Galen, Hippocrates, Plato, dan Ptolomeus diterjemahkan ke dalam bahasa Syria lalu ke dalam bahasa Arab.14 Ilmuwan-ilmuwan Muslim pun tampil dengan kemilau pada abad-abad itu. Nama-nama seperti Jābir b. ayyān, al-Khawārizmī, ar-Rāzī, al-Mas‘ūdī, Abū al-Wafā’, Al-Bīrūnī, ‘Umar Khayyām, Ibnu Rusyd, a-Ṭūsī, dan Ibnu an-Nafīs menghiasi angkasa sejarah sains dengan cahaya mereka yang cemerlang.15 Berkat sumbangsih mereka, Eropa berhasil bangkit dari tidurnya beberapa abad kemudian.

Sayangnya, sewaktu berada di puncak kekuasaan, kaum muslimin menjadi lalai terhadap perintah-perintah ilahi. Mereka tidak lagi menggunakan akal untuk kemaslahatan-kemaslahatan manusia, tetapi mereka mulai merambah dan menjamah hal-hal yang dilarang serta bertentangan dengan keluhuran akal itu sendiri. Otoritas, semisal Ibnu Katsīr, melaporkan bahwa Khalifah Terakhir ‘Abbāsiyyah, al-Musta‘im Billāh, pernah menghalalkan untuk dirinya sendiri sebuah deposito seharga 100.000 dinar milik an-Nāṣir Dāwūd b. al-Mu‘aẓẓam, Sultan Dinasti Ayyūbiyyah di Damaskus.16 Akibatnya, Allah Taala menghukum mereka dengan mengerahkan sepasukan besar bangsa asing dari timur. Ya, mereka adalah bangsa Mongol dengan Hulāgū Khān selaku komandan. Ibnu Katsīr menyebutkan bahwa Hulāgu Khān datang menyerang Baghdad dengan lebih dari 200.000 pasukan pada 12 Muarram 656 H, sedangkan tentara Kerajaan pada saat itu hanya berkisar kurang dari 10.000 prajurit.17 Hasilnya dapat ditebak: kehancuran masal Baghdad dan penduduknya. Penyerangan ini terjadi selama 40 hari dan menelan korban sebanyak 800.000-2.000.000 jiwa, masih menurut Ibnu Katsīr.18 Khalifah al-Musta‘im sendiri terbunuh pada 14 afar 656 H dan kuburannya disembunyikan.19 Bau bangkai yang dihasilkan dari tumpukan mayat ini mewabah pada tahun yang sama hingga ke Syiria.20

Satu kata yang cukup mewakili tragedi zaman itu: mengerikan! Demikianlah. Namun, itulah yang terjadi kala umat Islam tidak lagi mengarahkan akalnya pada kegunaan yang baik. Sejak saat itu, peradaban yang telah dibangun umat Islam selama ratusan tahun tidak pernah dapat menyeruak kembali, bahkan hingga sekarang. Kebalikannya, kemunduran demi kemunduranlah yang terus melanda tubuh umat yang malang ini. Puncaknya adalah tahun 1274 H sesuai dengan isāb al-jumal dalam ayat:

وَإِنَّا عَلٰى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُوْنَ ۝

“Dan Kami amat berkuasa untuk menghilangkan air yang telah Kami turunkan dari langit ke bumi itu.”21,22

Tahun 1274 H bertepatan dengan tahun 1857 M. Pada tahun itu, tepatnya 21 Mei 1857 M, Dinasti Mughāl di India runtuh setelah Delhi takluk di bawah kekuasaan Inggris dengan tertangkapnya Sultan Bahādur Syāh afar. Seorang cucu dan dua putranya ditembak lalu jenazah mereka dipajang dan dipamerkan di kotwali kantor polisi setempat. Sang Sultan sendiri diasingkan ke Rangoon, Burma, dan wafat di sana pada 1862.23

Terlepas dari segala dosanya, Allah Taala telah berjanji untuk memelihara agama yang fitri dan umat yang dikasihi ini dari kebinasaan total. Oleh sebab itu, Dia telah mengutus hamba-Nya di tanah yang menjadi titik terendah kemerosotan kaum muslimin, di tanah tempat kehinaan dan kepahitan yang memilukan itu terjadi, tanah Hindustan. Hamba itu digelarinya dengan julukan Almasih agar ia dapat membuktikan dengan dalil-dalil akal yang cemerlang kebatilan agama-agama lain, terutama Kekristenan. Selain itu, ia pun disematkan pangkat Almahdi karena ia bertugas untuk menampilkan ke hadapan dunia keunggulan Islam yang suci dengan nalar akal yang bergemerlapan pula. Di awal permunculannya, hamba itu menulis sebuah kitab yang amat masyhur di kalangan awam dan khawas:

براهين أحمدية على حقيّة كتاب الله القرآن والنبوة المحمدية

Bukti-Bukti Amadī mengenai Kebenaran Kitab Allah, Alquran, dan Kenabian MuammadSAW

Hamba itu telah mengembalikan nūr-e-qalb dan nūr-e-‘aql milik arat Muammad MuṣṭafāSAW yang telah hilang dari umat Islam. Hanya dengan dua nur itulah seseorang dapat berakhlak dengan akhlak-akhlak ilahi selaku penikmat nūr-e-way24 dan wahyu ini akan menutupi cacat yang sangat mungkin timbul akibat penggunaan akal yang salah kaprah oleh manusia.25 Hamba itu mampu berbuat demikian sebab ia telah sedemikian rupa fana dalam wujud JunjungannyaSAW sehingga perwujudannya tak-lain dan tak-bukan adalah perwujudan JunjungannyaSAW sendiri. Hamba itu menuturkan:

فَأَصْبَحْتُ مِنْ فَيْضَانِ أَحْمَدَ أَحْمَدَا
وَفَوَّضَنِيْ رَبِّي إِلٰى فَيْضِ نُوْرِهِ

“Dan Tuhanku telah mencelupkanku ke dalam limpahan cahaya beliau.
Jadilah Aku, dengan demikian, seorang Amad berkat pancaran AmadSAW.”26

Masih di tempat yang sama, hamba itu berseru-seru:

فِدًى لَّكَ رُوْحِيْ يَا مُحَمَّدُ سَرْمَدَا
وَهٰذَا مِنَ النُّوْرِ الَّذِيْ هُوَ أَحْمَدُ

“Dan ini berkat sang cahaya yang namanya adalah AmadSAW.
Biarlah rohku menjadi tebusan untuk engkau, wahai MuammadSAW, selama-lamanya!”27

Ya, hamba itu bukanlah siapa-siapa, melainkan Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, arat Mīrzā Ghulām Amadas dari Qadian, India. Beliau datang ke dunia sebagai salah satu rangkaian dari silsilah para penyuluh dan juru ingat terdahulu untuk mengingatkan kembali manusia, khususnya para pengikut Nabi Suci MuammadSAW, agar mereka memaksimalkan potensi kebaikan yang telah ditanam di dalam akal mereka oleh Allah Taala dalam menebar manfaat kepada sesama makhluk serta agar mereka senantiasa berusaha sekeras mungkin untuk menghindarkan diri dan orang lain dari kehancuran.

Beliau telah mangkat dari alam yang fana ini lebih dari seabad lalu, 26 Mei 1908 M atau 24 Rabī‘ ats-Tsānī 1326 H. Setelah itu, tongkat kepemimpinan dalam Jamaah diteruskan secara estafet melalui institusi khilafah. Sebagai khalifah pertama, terpilih arat Maulānā Nūr ad-Dīnra. Beliau memimpin Jamaah selama enam tahun, dari 27 Mei 1908 sampai 13 April 1914. Sebagai khalifah kedua, terpilih arat Mīrzā Basyīr ad-Dīn Mamūd Amadra. Beliau memegang tampuk kekhalifahan selama 51 tahun, dari 14 April 1914 sampai 8 November 1965. Pada masa beliau, Jamaah Ahmadiyah mulai melebarkan sayap-sayap misi ke seantero dunia. Sebagai khalifah ketiga, terpilih arat Mīrzā Nāṣir Amadrh. Beliau menjabat selama 17 tahun, dari 9 November 1965 sampai 9 Juni 1982. Sebagai khalifah keempat, terpilih arat Mīrzā Ṭāhir Amadrh. Beliau mengimami Jamaah selama 21 tahun, dari 10 Juni 1982 sampai 19 April 2003. Beliau sempat mengunjungi Indonesia pada pertengahan tahun 2000. Sebagai khalifah kelima, terpilih arat Mīrzā Masroor Amadatba sejak 22 April 2003 hingga sekarang.

Khilafah, selaku penerus silsilah kenabian, bertugas untuk terus-menerus mengimbau dan menyeru manusia agar mereka selalu mengedepankan akal sehat dalam mengambil segala tindakan. Terlebih lagi, pada hari-hari ini, situasi dunia telah semakin genting. Mengingat hal tersebut, di akhir khotbah Jumat yang lalu tertanggal 4 Desember 2015, arat Mīrzā Masroor Amadatba mengingatkan para Ahmadi untuk terus-menerus berdoa agar kehancuran akibat perang dunia ditiadakan dan kedamaian kembali hadir ke muka bumi. Ketika dunia tengah sibuk menjadi hewan, bahkan lebih rendah darinya, dengan menyalahgunakan akal mereka, Khilafah senantiasa mengimbau kita untuk benar-benar menjadi insan rabani yang utuh dengan tidak kenal lelah berdoa agar Tuhan selalu memberi kita taufik dalam memanfaatkan potensi akal semaksimal mungkin bagi kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia. Benarlah syair kutipan Imam al-Māwardī di atas bahwa akal yang sempurna akan membuahkan akhlak yang baik dan hal ini hanya akan dapat dicapai melalui silsilah Khilafah Ahmadiyah.

Bogor, 5 Desember 2015, 09.55 WIB.

---0---

Bibliografi

1 Abū al-asan al-MāwardīAdab ad-Dunyā wa ad-Dīn (Beirut: Dār Iqra’, 1985 M/1405 H), hh. 7-8.

2 Edward Payson Evans, Evolutional Ethics and Animal Psychology (New York: D Appleton Company, 1897), hh. 344-345.

3 Murtaḍā az-ZabīdīTāj al-‘Urūs min Jawāhir al-Qāmūs, vol. 30 (Kuwait: Maba‘at ukūmat Kuwait, 1998 M/1419 H), hlm. 19.

4 Kaneko T & Tomonaga M. 2012. Relative contributions of goal representation and kinematic information to self-monitoring by chimpanzees and humans. Cognition. 125:168-178.

5 Q.S. 35:25.

6 Q.S. 14:5.

7 Keluaran 12:41.

8 I Raja-Raja 6:1.

9 arat Mīrzā Ghulām AmadasKaramāt a-Ṣādiqīn; dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 7 (Surrey: Islam International, 2009a), hlm. 90.

10 Ibid, hlm. 91.

11 Thomas Carlyle, On-Heroes, Hero-Worship, and The Heroic in History (New York: Longmans, Green, and Co, 1906), hlm. 75.

12 arat Mīrzā Ghulām Amadasop. cit., 2009a, hlm. 93.

13 Jāmi‘ at-TirmidzīKitāb al-‘IlmBāb Mā Jā’a fī Fal al-Fiqh ‘alā al-‘Ibādah, no. 2687.

14 Robin Doak, Great Empires of The Past: Empire of The Islamic World (New York, Facts on File, 2005), hlm. 89.

15 Prof. Dr. Abdus Salam, “Islam and Science: Concordance or Conflict?”, diakses dari https://www.alislam.org/library/articles/Islam-and-Science-Concordance-or-Conflict.pdf pada 3 Desember 2015 pukul 17.22 WIB.

16 Abu al-Fidā’ Ismāīl b. ‘Umar b. Katsīr ad-Dimasyqī, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, vol. 15 (Damaskus: Dār Ibni Katsīr, 2010 M/1431 H), hlm. 319.

17 Ibid, hlm. 312.

18 Ibid, hlm. 315.

19 Ibid, hlm. 316.

20 Ibid, hlm. 317.

21 Q.S. 23:19.

22 arat Mīrzā Ghulām AmadasIzālah Auhām; dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 3 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009b), hlm. 456.

23 John Capper, Delhi: The Capital of India (New Delhi: Asian Educational Services, 1997), hlm. 30.

24 arat Mīrzā Ghulām AmadasBarāhīn-i-Amadiyyah, vol. 3 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2014), hlm. 99.

25 arat Mīrzā Ghulām AmadasThe Philosophy of The Teachings of Islam (Surrey: Islam International Publications Limited, 2010), hlm. 184.

26 arat Mīrzā Ghulām Amadasop. cit., 2009a, hlm. 93.

27 Ibid, hlm. 91.