Kamis, 26 November 2015

Haruskah Jihad ke Tolikara?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Catatan: Tulisan ini Saya buat ketika isu Tolikara tengah hangat-hangatnya muncul di berbagai media publik, tepatnya 22 Juli 2015. Sayangnya, lagi-lagi, buah tangan saya kali ini belum juga dapat menembus meja redaksi harian Kompas. Hanya saja, pada 10 September 2015, pihak Kompas mengirim sebuah email dengan judul “Pengembalian Artikel Kompas”. Email tersebut saya tampilkan di sini secara utuh tanpa penambahan dan pengurangan sedikitpun agar para pembaca juga dapat mengambil faedah dan manfaat darinya.

Yth. Sdr Iffat Aulia Ahmad
di tempat.

Disertai salam dan hormat,

Kami memberitahukan bahwa pada tanggal 23 Juli 2015 Redaksi Kompas telah menerima ARTIKEL Anda berjudul "Haruskah Jihad Ke Tolikara?". Terima kasih atas partisipasi dan kepercayaan yang Anda berikan kepada Kompas.

Setelah membaca dan mempelajari substansi yang diuraikan di dalamnya, akhirnya kami menilai ARTIKEL tersebut tidak dapat dimuat di harian Kompas. Pertimbangan kami,

   √ kesulitan mendapatkan tempat

Harapan kami, Anda masih bersedia menulis lagi untuk melayani masyarakat melalui Kompas, dengan topik atau tema tulisan yang aktual dan relevan dengan persoalan dalam masyarakat, disajikan secara lebih menarik.

Untuk kelengkapan administrasi, bila mengirimkan tulisan mohon disertakan pas foto (abaikan bila sudah pernah kirim). Terima kasih.

Jakarta, 10 September 2015

Hormat kami,

Desk Opini Kompas

C A T A T A N:

Kriteria umum untuk ARTIKEL Kompas :
1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain .
2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain termasuk Blog, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.
3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang actual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.
4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komunitas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.
5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.
6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.
7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.
8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.
9. Menyertakan data diri/daftar riwayat hidup singkat (termasuk nomor telepon/HP), nama Bank, dan nomor rekening (abaikan bila sudah pernah kirim).
10. Alamat e-mail opini@kompas.co.id

Haruskah Jihad ke Tolikara?


http://news.metrotvnews.com/

Kasus Tolikara yang terjadi beberapa hari lalu telah menimbulkan kegemparan yang cukup besar di negeri ini, khususnya bagi kaum Muslimin dan Nasrani. Di satu sisi, saudara-saudara Kristiani merasa tidak enak dan banyak di antara mereka, sebagaimana dapat dilihat di berbagai media sosial, menyampaikan permintaan maaf mereka atas tindakan saudara-saudara seiman mereka dari Bumi Cenderawasih itu. Di sisi lain, kaum Muslimin, sebagaimana dapat diperhatikan di berbagai tempat di Tanah Air, termasuk di domisili penulis di Jakarta Utara, memang menyayangkan kejadian ini, tetapi mereka mampu menyikapinya dengan kepala dingin dan kearifan yang mendalam. Meski demikian, ada juga segelintir orang dari yang terprovokasi dan sampai ada pula yang melontarkan seruan jihad. Sebenarnya, apa itu jihad dan apa relevansinya dalam kasus ini?

Jihad secara etimologis bermakna ‘usaha’. Secara istilah, jihad mengandung arti ‘usaha untuk melawan musuh yang secara khusus memerangi kaum Muslimin dengan motif dan atas nama agama’. Apabila Kita mengkonjungsikan definisi ini dengan realitas yang terjadi di Tolikara, seruan jihad ini sama sekali tidak relevan. Mengapa? Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini. Yang pertama, benar, sesuai dengan konfirmasi dari Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, jika dikatakan bahwa Jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) telah mengimbau dalam surat tertanggal 11 Juli 2015 agar pelaksanaan Salat Idul Fitri ditiadakan, bahkan mereka melarang wanita muslim untuk memakai jilbab, karena mereka akan menyelenggarakan seminar dan KKR pemuda GIDI tingkat internasional. Ditilik dari sudut pandang ini, harus diakui bahwa tindakan Jemaat GIDI ini salah dan tidak dapat dibenarkan. Namun, Kita juga harus menyadari bahwa sifat keantian Jemaat GIDI ini tidak hanya tertuju kepada kaum Muslimin, tetapi juga kepada sesama kelompok Kristen sendiri, dalam konteks ini adalah Gereja Advent. Jadi, dapat disimpulkan dari sini bahwa Jemaat GIDI adalah sebuah Jemaat yang bersifat ekslusif dan eksklusivitas ini tertuju kepada semua golongan keagamaan. Atas dasar ini, seruan jihad tidak dapat dikenakan kepada mereka karena seruan jihad hanya dapat dikenakan kepada mereka yang secara khusus memerangi kaum Muslimin dan berusaha untuk memusnahkan mereka atas nama agama seperti yang dahulu dilakukan oleh kaum Quraisy dan musyrikin Arab terhadap Nabi Muhammad.

Yang kedua, insiden pembakaran Musala Baitul Muttaqin bukanlah sesuatu yang disengaja, melainkan suatu reaksi yang ditimbulkan oleh aksi represif polisi. Fakta yang ditemukan Komnas HAM menunjukkan, seperti dilansir Kompas pada 19 Juli 2015, bahwa aparat kepolisian menembaki warga Jemaat GIDI yang tengah mengajukan protes hingga melukai 11 orang, bahkan menewaskan seorang siswa Sekolah Dasar. Sebagai respon terhadap aksi polisi itu, mereka membalas dengan membakar kios, rumah, dan pada akhirnya musala. Artinya, mereka sama sekali tidak memiliki kesengajaan untuk membakar Musala Baitul Muttaqin. Dalam kajian para ulama salaf, seruan jihad hanya dapat ditujukan kepada mereka yang memerangi kaum Muslim bil i‘timad, yakni dengan kesengajaan. Tanpa itu, jihad tidak dapat dilaksanakan. Kita melihat dalam sejarah bagaimana orang-orang Quraisy di bawah kepimimpinan Abu Jahal dengan sengaja berparade menuju Madinah untuk menyerang kaum Muslimin menjelang meletusnya Perang Badr. Kesengajaan mereka ini dapat diketahui dari fakta bahwa mereka telah selama lebih dari 13 tahun menganiaya dan menyiksa kaum Muslimin di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Terlebih lagi, mereka telah mengutus Abu Sufyan, seorang saudagar yang cerdik, untuk mengepalai kafilah dagang kaum Quraisy ke Syiria sebelum Perang Badar sehingga mereka bisa memperoleh keuntungan yang banyak yang akan digunakan untuk memerangi kaum Muslimin. Demikian juga, kesengajaan ini ada dan tampak ke permukaan ketika Abu Sufyan memimpin pasukan kaum Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari kaum musyrikin Arab pada Perang Uhud dan Perang Khandaq. Dari keterangan-keterangan ini, Kita dapat menarik kesimpulan bahwa seruan jihad ke Tolikara sama sekali tidak memiliki relevansi yang jelas karena tidak ada kesengajaan yang mendasari Jemaat GIDI untuk melakukan pembakaran Musala Baitul Muttaqin. Pembakaran ini hanya merupakan suatu bentuk reaksi yang pada ujungnya merambat kepada terbakarnya Musala Baitul Muttaqin.

Yang ketiga, Allah telah memberikan kaedah yang jelas mengenai peperangan dan perdamaian dalam Surah Al-Anfal ayat 61. Dia berfirman, “Jika orang-orang yang memerangi kalian condong kepada perdamaian, condonglah pula kepadanya dan bertawakallah kepada Allah! Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ayat ini dengan terang-benderang menerangkan bahwa ketika perdamaian telah ditegakkan, tidak boleh ada lagi peperangan dan kaum Muslimin secara khusus tidak diperkenankan untuk melanjutkan atau memulai kembali pertikaian. Dalam kasus Tolikara ini, Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikmbo, sesuai dengan berita yang dilansir Kompas pada 18 Juli 2015, telah menyampaikan permohonan maaf kepada warga muslim di Indonesia, secara khusus di Kabupaten Tolikara atas pembakaran kios-kios yang menyebabkan musala (rumah ibadah warga muslim) ikut terbakar. Hal senada juga telah disampaikan oleh Dirjen Bimas Kristen Kementrian Agama Republik Indonesia. Dengan demikian, kaum Muslimin yang berada di Papua saja sudah tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pertikaian, apalagi mereka yang berasal dari luar Papua yang sampai meneriakkan seruan untuk berjihad dan mengangkat senjata. Pertikaian telah usai dan masalah kini berada di tangan pihak yang berwenang untuk mengusut tuntas kasus ini sampai selesai dengan adil, transparan, dan tanpa pandang bulu. Mereka yang terlalu “bersemangat” untuk datang dan berjihad ke Tolikara lebih baik mengalihkan perhatian ke arah doa, semoga arwah korban yang meninggal diterima di sisi Allah Taala dan semoga peristiwa semacam ini tidak akan terulang lagi pada masa mendatang, karena inilah yang sejatinya menjadi sunah Rasulullah dalam situasi seperti ini sebagaimana yang beliau lakukan saat Tragedi Ar-Raji‘ dan Tragedi Bi’r Ma‘unah terjadi.

Yang keempat, penulis ingin menyoroti satu kesalahan dari pihak kaum Muslimin sendiri yang menyebabkan warga Jemaat GIDI melayangkan protes hingga mereka ditembaki polisi dan terjadilah insiden pembakaran itu, yaitu penggunaan loud speaker saat pelaksanaan Salat Id. Ini terkesan sepele, tetapi telah terbukti berdampak luas dari kejadian yang terjadi di Tolikara ini. Penulis sendiri tinggal di lingkungan yang dikelilingi banyak masjid yang semuanya menggunakan loud speaker saat salat, zikir, doa, dan acara-acara keagamaan lain. Penulis sering bersalat di salah satu masjid yang terdekat dan merasa terganggu dengan suara yang dihasilkan oleh loud speaker itu. Ini terjadi ketika sedang beribadah, bagaimana jika Kita tengah berada di rumah lalu terusik dengan suara loud speaker tadi? Hanya saja, sebagai seorang muslim, penulis masih dapat mentoleransi (bukan memaklumi) hal ini. Akan tetapi, bagaimana halnya dengan saudara-saudara kita dari kalangan nonmuslim? Kebetulan, di lingkungan penulis terdapat pemeluk-pemeluk agama lain, seperti Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Penulis tidak dapat beranda-andai dan meraba-raba sesuatu yang hakikatnya tidak dapat diketahui dengan kasat mata. Yang jelas, penulis sangat bersimpati dan merasa tak enak kepada mereka sebagaimana saudara-saudara Kristiani Indonesia yang lain merasa tak enak kepada kaum Muslimin seantero Nusantara atas tindakan melanggar hukum yang dilakukan Jemaat GIDI. Jika loud speaker dipergunakan untuk azan, hal itu tak masalah karena azan adalah panggilan untuk salat dan kaum Muslimin wajib diberitahu kapan waktu salat tiba. Akan tetapi, zikir, doa, dan pengajian yang hanya mengganggu kenyamanan orang lain, zikir, doa, dan pengajian semacam itu tidak berarti apa-apa di sisi Allah Taala.

Kesimpulannya, dari keempat alasan ini, jihad mengangkat senjata ke Tolihara tidak memiliki legitimasi, urgensi, dan relevansi apapun, baik dari Alquran, sunah, maupun akal. Oleh karena itu, kaum Muslimin di seluruh penjuru Tanah Air hendaknya menahan diri dari tindakan-tindakan balas dendam, berkepala dingin, dan menyerahkan segala proses hukum kepada pihak yang berwajib. Benarlah apa yang dikatakan oleh Khatamul Khulafa, Ahmad Al-Hindi, dalam kitabnya yang terkenal, Tuhfatu Baghdad:

“Keluarkanlah segala permusuhan dari dalam hati dan sucikanlah diri dari racun pertentangan!”

1 komentar: