Selasa, 21 Juli 2015

Wali Allah dan Pengabulan Doa

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Wali Allah dan Pengabulan Doa

Foto ini diambil pada hari ketika peristiwa Al-Khubah Al-Ilhāmiyyah terjadi

Yang duduk di kursi (dari kanan ke kiri): ‘Abd-ul-amīd bin Syaikh Ramatullāh, Syaikh Ramatullāh (sahabat ini pada nantinya membelot ke Ahmadiyah Lahore), Maulawī ‘Abd-ul-Karīm Sialkotīra, arat Masīḥ Mau‘ūdas, Maulawī Ghulām Ḥasan Pesyawarīra, Ḥakīm-ul-Millah Maulawī Nūr-ud-Dīn Bherawīra (Khalīfat-ul-Masīḥ I), Ṣāḥibzādah Mīrzā Basyīr Aḥmadra, Ṣāḥibzādah Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra (Khalīfat-ul-Masīḥ II).
Yang duduk di lantai (dari kanan ke kiri): Dr. Khalīfah Rasyīd-ud-Dīnra, Seth Ismāīl Ādamra, Muftī Muammad Ṣādiq Bherawīra, Mīrzā Khudā Bakhsyra, Syaikh Maulā Bakhsyra, Syaikh ‘Abd-ur-Razzāq bin Syaikh Maulā Bakhsyra.
Yang berdiri: Fal Ilāhī Lahorīra, Munsyī Tāj-ud-Dīnra, Mīr Nāṣir Nawwābra (mertua Masīḥ Mau‘ūdas), Mīr Ḥāmid ‘Alī Sialkotīra, Master Ghulām Muḥammad Sialkotīra.

Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Imām Mahdī dan Masīḥ Mau‘ūdas, bersabda:

اِعْلَمْ أَنَّ اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ سِرٌّ مِّنْ أَسْرَارِ حِكْمَةٍ رَّبَّانِيَّةٍ خُصِّصَ بِهَا حِزْبُ الرُّوْحَانِيِّيْنَ. وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ اللّٰهِ أَنَّهُ يُسَخِّرُ عَالَمَ الْمَوَالِيْدِ وَتَأْثِيْرَاتِ أَجْرَامِ السَّمَاءِ وَقُلُوْبَ النَّاسِ عِنْدَ دَعْوَاتِ أَوْلِيَائِهِ الْمُقَرَّبِيْنَ. فَرُبَّمَا يَسْتَحِيْلُ الْهَوَاءُ الرَّدِيُّ مِنْ عَقْدِ هِمَمِهِمْ إِلٰى صَالِحَةٍ طَيِّبَةٍ، وَالصَّالِحَةُ إِلٰى فَاسِدَةٍ وَّبَائِيَّةٍ، وَالْقُلُوْبُ الْقَاسِيَةُ إِلٰى طَبَائِعٍ لَّيِّنَةٍ مُّتَحَنِّنَةٍ، وَالْمُتَحَنِنَّةُ إِلٰى قَاسِيَةٍ غَلِيْظَةٍ، بِإِذْنِ الْمُتَصَرِّفِ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِيْنَ. وَإِذَا اشْتَدَّتْ حَاجَةُ وَلِيِّ اللّٰهِ إِلٰى ظُهُوْرِ شَيْءٍ مَّعْدُوْمٍ، وَيَتَوَجَّهُ لِظُهُوْرِهِ بِاسْتِغْرَاقٍ تَامٍّ، فَيَحْدُثُ هٰذَا الشَّيْءُ بِعَقْدِ هِمَّتِهِ، وَكَذٰلِكَ إِذَا تَوَجَّهَ الْوَلِيُّ لِإْعْدَامِ الْمَوْجُوْدِ فَإِذَا هُوَ مِنَ الْمَعْدُوْمِيْنَ. وَذٰلِكَ أَصْلُ الْخَـوَارِقِ لاَ تَحَسُّهَا حَاسَّةُ حُكَمَاءِ الظَّاهِرِ، وَلَا يَذُوْقُ طَعْمَهَا عُقُوْلُ الْفَلْسَفِيِّيْنَ. وَإِنَّ لِلْأَوْلِيَاءِ حَوَاسًّا آخَرَ تَتَنَـزَّلُ مِنْ تِلْقَاءِ الْحَقِّ. فَإِذَا رُزِقُوْا مِنْ تِلْكَ الْحَوَاسِّ فَيَتَحَلَّوْنَ بِحُلَلٍ مُّبْتَكِرَةٍ، وَيَسْمَعُوْنَ أَغْنِيَةً جَدِيْدَةً، مَا سَمِعَتْ أُذُنٌ نَّظِيْرَهَا فِي الْعَالَمِيْنَ. يُصَفَّى عُقُوْلُهُمْ بِكَمَالِ الصَّفَاءِ، وَيُؤْتَوْنَ عِلْمَ ذَرَاِئِعِ الْاِسْتِنْبَـاطِ وَالْاِجْتِهَادِ. يُعجِبُ الْعُقُوْلَ دِقَّةُ غُمُوْضِهَا، وَيَكْفُرُ بِهَا كُلُّ غَبِيٍّ غَيْرِ ذَهِينٍ.وَكَانَ اللّٰهُ مَعَهُمْ فِيْ كُلِّ حَالِهِمْ، وَكَانَتْ يَدُهُ عَلٰى مُهِمَّاتِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ. إِذَا غَلَّقُوْا بَابًا فِي الْأَرْضِ فَتُغَلَّقُ فِي السَّمَاءِ، وَإِذَا فَتَحُوْا فَتُفْتَحُ فِي الْأَفْلَاكِ. دَارَتِ السَّمَاوَاتُ بِدَوْرَةِ عَزِيْمَتِهِمْ، وَقُلِّبَ الْأُمُوْرُ بِتَقَلُّبِ هِمَمِهِمْ، وَيُرِي اللّٰهُ خَلْقَهُ عِزَّتَهُمْ وَوَجَاهَتَهُمْ لِيُرَغِّبَ الْمُتَفَطِّنِيْنَ إِلَيْهِمْ وَالسَّعِيْدِيْنَ.

“Ketahuilah! Sesungguhnya, pengabulan doa merupakan sebuah rahasia di antara rahasia-rahasia hikmah ketuhanan yang dikhususkan dengannya golongan rūḥāniyyīn. Telah mengalir adat Allah bahwa Dia menundukkan alam rahim, pengaruh benda-benda langit, dan hati manusia ketika wali-wali muqarrab-Nya memanjatkan doa. Berkat kerasnya keinginan mereka, bisa saja udara yang buruk berubah menjadi bagus nan baik dan udara yang baik menjadi jelek nan berwabah serta bisa saja hati yang berkepala batu berubah menjadi lunak nan lembut dan hati yang lembut menjadi berkepala batu nan tebal dengan seizin Wujud Yang Maha Menggerakkan di langit dan di bumi. Sewaktu kebutuhan seorang wali Allah akan hadirnya sesuatu yang tadinya belum ada telah mendesak dan dia bertawajuh demi kehadirannya dengan ketenggelaman yang sempurna, muncullah sesuatu itu berkat kerasnya keinginannya. Demikian juga, jika seorang wali bertawajuh demi tiadanya sesuatu yang tadinya berwujud, dengan seketika sesuatu itu benar-benar menjadi tiada. Hal itu merupakan pokok mukjizat-mukjizat yang tak mampu dijangkau oleh indra para cendekiawan duniawi dan tidak pula dapat dicicipi kelezatannya oleh akal para filsuf. Sesungguhnya, bagi para wali terdapat indra-indra lain yang senantiasa turun secara langsung dari haribaan Wujud Yang Mahabenar. Taktala mereka telah diberikan indra-indra itu, mereka akan mengenakan jubah-jubah murni dan mereka akan mendengarkan lagu-lagu baru yang tidak pernah didengar bandingannya oleh telinga di alam semesta. Akal mereka akan disucikan dengan kesucian yang sempurna dan mereka akan dikaruniai ilmu kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam mengambil istinbāṭ dan ijtihad. Kedalaman misterinya menakjubkan akal dan setiap orang yang bebal lagi tiada berbudi akan mengingkarinya. Allah selalu bersama mereka dalam setiap keadaan dan tangan-Nya selalu berada di atas apa yang menjadi kepentingan dan pekerjaan mereka. Apabila mereka menutup sebuah pintu di bumi, tertutup pulalah pintu itu di langit. Apabila mereka membukanya, terbuka pulalah itu di angkasa. Langit beredar seiring dengan kebulatan tekad mereka dan perkara-perkara bergerak seiring dengan bergeraknya keinginan mereka. Allah menampakkan kepada para makhluk-Nya kemuliaan dan kehormatan mereka agar orang-orang yang cerdas dan penggembira mengarah kepada mereka.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Mir’ātu Kamālāt al-Islām dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 5 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 588-589]