Minggu, 01 Februari 2015

Menjawab Syī‘ah: Benarkah Derajat Imam Lebih Tinggi daripada Derajat Nabi?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Menjawab Syī‘ah: Benarkah Derajat Imam Lebih Tinggi daripada Derajat Nabi?

Imam Alīra menurut Syī‘ah
Orang-orang Syī‘ah, dalam menyokong pendirian mereka mengenai keutamaan para imam maksum di atas para nabi, mengutip ayat ke-125 Sūrah al-Baqarah berikut ini:

وَإِذِ ابْتَلٰى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ ﴿﴾

“Dan ingatlah ketika Ibrāhīmas dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu beliau menyempurnakankannya! Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia.’”

Sebagai jawaban atas perkataan mereka itu, Kami menyuguhkan di sini keterangan Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ II, Muṣliḥ Mau‘ūd, Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra dalam At-Tafsīr Al-Kabīr. Jika pembaca mendapati kesalahan dalam terjemahan ini, silakan memberikan komentar dan masukan. Semoga bermanfaat!

“Allah Taala berfirman, ‘Ingatlah ketika Kami berkehendak untuk mengungkapkan kebaikan dan ketakwaan dalam diri Ibrāhīmas supaya tersingkap bagi Ibrāhīmas kemampuan ruhani yang tersembunyi dalam dirinya. Allah memerintahkan beliau untuk melakukan beberapa perkara dalam rangka memanifestasikan kemampuan beliau lalu Ibrāhīmas pun menaati apa yang diperintahkan Allah itu.’ Demikianlah manusia mengetahui bahwa kekuatan dan kemampuan yang luhur dalam hal ketaatan dalam diri Ibrāhīmas sangatlah langka bandingannya dan tidak dapat dijumpai dalam diri seorangpun. Sebagai contoh, Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih putra tunggal beliau dalam jalan-Nya. Ketika beliau telah bersiap-siap melaksanakan perintah ini secara lahiriah, Allah berfirman kepada beliau, ‘Tidaklah demikian maksud Kami. Sebaliknya, ada hal lain yang menjadi maksud Kami.’ Kemudian, kehendak Allah ini menjadi jelas ketika Dia memerintahkan beliau untuk meningggalkan Hājarra dan Ismā‘īlas di sebuah tempat yang tandus lalu beliau pun membawa keduanya dan meninggalkan keduanya di sana. Demikianlah beliau berhasil dalam ujian ini. Dunia pun mengenal bahwa Ibrāhīmas senantiasa menyambut apa yang diperintahkan Allah kepada beliau meski perintah ini pada awalnya tampak mengerikan dan menakutkan.

Difirmankan di sini, ‘Dan ketika Ibrāhīm dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat.’ Kata beberapa kalimat merupakan bentuk jamak yang menunjukkan jumlah banyak. Bersamaan dengan itu, hanya satu kejadian yang masyhur, yakni kekesatriaan beliau untuk menyembelih putra beliau. Akan tetapi, Talmud mencatat bahwa Ibrāhīmas telah dicobai 10 kali[1].

Dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia,’ keimaman yang dimaksud bukanlah kenabian karena Ibrāhīmas telah mencapai kenabian sebelumnya. Maksudnya hanyalah bahwa beliau dalam waktu yang dekat akan menjadi contoh dan teladan bagi dunia dan dalam waktu yang lama akan diikuti oleh manusia dalam jumlah yang banyak. Kata bagi manusia mengisyaratkan kepada ‘sekumpulan besar dari antara manusia’.

Yang benar adalah bahwa ini meruapakan janji bagi Ibrāhīmas yang berkaitan dengan masa depan. Jika maksudnya tidak demikian, tidak ada seorangpun bersama beliau pada zaman itu, kecuali sedikit. Namun, lihatlah pada hari ini! Beliau ditakbirkan sebagai imam dan panutan di sebagian besar dunia dan manusia menyebut beliau dengan segala penghargaan dan penghormatan. Setiap nabi tidak diragukan lagi merupakan teladan bagi kaum beliau masing-masing. Akan tetapi, tidak semua nabi dapat menjadi teladan bagi seluruh dunia. Adapun Ibrāhīmas, beliau merupakan satu-satunya di antara para nabi terdahulu yang disebut di tengah-tengah berbagai kaum di dunia dengan pengangungan dan penghormatan. Ambillah orang-orang Kristen sebagai contoh! Mereka tidaklah menghormati Mūsāas sebagaimana mereka menghormati Ibrāhīmas. Mereka menyebut Sayyidunā ‘Īsāas dengan perlakuan khusus karena mereka mentakbirkan beliau salah seorang keturunan Ibrāhīmas. Mereka mencela para nabi terdahulu dengan pencurian dan pengkhianatan[2]. Akan tetapi, mereka sangat menghargai Ibrāhīmas. Inilah dia makna, ‘Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia.’ Yakni, ‘Kami akan menjadikan perkataan-perkataanmu dan perbuatan-perbuatanmu sebagai panutan bagi manusia.’

Kemudian, lihatlah juga haji yang merupakan ritual yang terkemuka di antara ibadah-ibadah islami lainnya! Haji ini diprakarsai oleh Ibrāhīmas. Melalui haji ini, dunia mengingat beliau sampai sekarang. Demikian juga, beliau diingat ketika ada pengorbanan sesembelihan. Sesungguhnya, Kita termasuk dalam umat Nabi MuḥammadSAW. Bersamaan dengan itu, Kita senantiasa mengingat pengorbanan Ibrāhīmas  setiap ‘Īd al-Aḍḥā. Akan tetapi, tidak ada dalam Islam suatu hari tertentu bagi Mūsāas dan ‘Īsāas yang mengingatkan Kita akan perbuatan keduanya dan memperbaharui ingatan akan keduanya. Sebaliknya, bagi Ibrāhīmas dan juga ingatan akan beliau terdapat suatu hari khusus di kalangan kaum muslimin.

Saudara-saudara Syī‘ah kita berkata, ‘Sesungguhnya Allah Taala berfirman kepada Ibrāhīmas, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia,’ ketika beliau telah menjadi seorang nabi. Ini menunjukkan bahwa pangkat imam lebih tinggi daripada pangkat nabi.’

Benar bahwa Ibrāhīmas dianugerahi keimaman setelah kenabian. Namun, yang menjadi soal adalah, ‘Apakah imam secara leksikal bermakna ‘suatu pangkat yang diraih oleh seseorang setelah kenabian’?’ Jika keimaman merupakan suatu pangkat yang diraih setelah kenabian dan lebih tinggi dari kenabian itu sendiri, Kita mau tak mau mesti mengakui bahwa sebagian nabi tidak harus ditaati karena bahasa mengajarkan kita bahwa imam adalah ‘dia yang dikedepankan dan ditaati’. Dengan demikian, manusia tidak harus menaati Ibrāhīmas sebelum beliau mencapai pangkat keimaman meskipun beliau telah menjadi nabi. Ini tidaklah benar karena Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّٰهِ ﴿﴾

‘Kami tidak pernah mengutus seorangpun rasul, kecuali supaya ditaati dengan izin Allah.’[3]

Ini menunjukkan bahwa Allah telah mewajibkan manusia untuk menaati setiap nabi segera setelah beliau menjadi nabi. Berdasarkan hal itu, keimamaan tidak menjadi suatu pangkat yang terpisah dari kenabian, tetapi keimaman pada hakikatnya merupakan sebuah sifat yang tetap bagi seorang nabi.

Kemudian, Alquran mengajarkan Kita bahwa terdapat juga jenis keimaman lain yang dicapai oleh manusia sebelum kenabian. Allah Taala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللّٰهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ﴿﴾

‘Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Sang Rasul, dan para pemegang kekuasaan di antara Kalian!”[4]

Allah pertama-tama menyebut diri-Nya, kemudian Ḥaḍrat RasulSAW, dan kemudian para pemegang kekuasaan yang tidak termasuk dalam kalangan para rasul. Ini berarti bahwa terdapat juga orang-orang yang tidak termasuk ke dalam golongan para nabi dan rasul, tetapi ketaatan kepada mereka merupakan keharusan. Dengan demikian, karena imam adalah ‘dia yang ditaati’, keimaman seperti ini memiliki derajat yang lebih rendah daripada kenabian. Adapun keimaman yang melazimkan kenabian, manusia tidak dapat mencapainya, kecuali bersamaan dengan kenabian. Manusia mungkin saja menjadi seorang imam tanpa menjadi seorang nabi. Akan tetapi, seseorang tidak mungkin menjadi nabi dan rasul kemudian diharamkan dari keimaman sebagaimana hal itu telah jelas dari firman Allah Taala, ‘Kami tidak pernah mengutus seorangpun rasul, kecuali supaya dia ditaati dengan izin Allah.’

Sekarang Kita mesti mengakui salah satu dari dua hal ini: apakah Allah Taala berfirman kepada Ibrāhīmas, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia,’ sebelum mencapai kenabian atau Dia memfirmankan wahyu itu kepada beliau setelah kenabian. Jika wahyu itu difirmankan setelah kenabian, keimaman yang dimaksud di sini tidak mungkin dimaknai dengan makna umumnya. Sebaliknya, Kita mesti menerima makna lain. Yang terjadi adalah bahwa janji ini telah sempurna setelah beliau menjadi seorang nabi karena Allah berfirman, ‘Dan ketika Ibrāhīmas dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu beliau pun menyempurnakankannya.’ Yakni, Dia menguji beliau dengan beberapa kalimat lalu beliau pun mengimplementasikan apa yang diperintahkan dari Allah. Kita pun menyadari dari sejarah para nabi bahwa mereka tidaklah diuji kecuali setelah mencapai kenabian, bukan sebelumnya. Berdasarkan sunah para nabi ini, Kita mesti mengikarkan bahwa ilham dan janji ini difirmankan setelah kenabian.

Sekarang Kita melihat apakah mungkin ada makna lain yang dimaksud dari firman ini. Kita hendaknya mengingat bahwa setiap kata mengandung dua makna: makna nisbi dan makna biasa. Makna nisbi senantiasa berubah tergantung pada penisbatannya. Sebagai contoh, ketika kita berkata kepala (bahasa Arabnya adalah رئيس – penj.), kata itu secara umum bermakna ‘pribadi yang menjadi atasan bagi seseorang atau banyak orang’. Namun, kepala ini bisa saja menjadi atasan suatu kota, provinsi, daerah, atau yang lainnya. Kata ini menunjukkan kepemimpinan atas orang-orang besar dan orang-orang kecil secara acak. Makna khususnya tidak akan dapat menjadi jelas sebelum penisbatannnya terlebih dahulu diketahui. Jika kita berkata kepala gereja, kepala pekerja, atau kepala tentara, barulah jelas makna yang dimaksud dan Kita pun menjadi sadar bahwa kata itu dinisbatkan kepada tingkatan tertentu. Dengan demikian, penisbatan ini merubah makna.

Terdapat juga contoh lain dalam Alquran mengenai kata ṣiddīq. Maknanya adalah ‘seseorang yang memiliki banyak kesalehan’. Seseorang yang memiliki banyak kesalehan bisa saja merupakan seorang nabi atau bukan seorang nabi. Jika kata ṣiddīq dimaknai dengan makna umumnya, derajat ṣiddīq ini lebih rendah daripada derajat seorang nabi. Akan tetapi, jika kata ini diterapkan kepada seorang nabi, hal itu mengisyaratkan kepada kekhususan tertentu dalam diri nabi itu sebagaimana tertulis dalam Alquran mengenai Sayyidunā Idrīsas:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيْسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا ﴿﴾

‘Dan ingatlah Idrīsas dalam Kitab ini! Sesungguhnya dia merupakan seorang sidik lagi nabi.’[5]

Bersamaan dengan itu, Allah berfirman di tempat lain:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنْ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ ﴿﴾

‘Siapa beriman kepada Allāh dan Sang Rasul, mereka itulah yang akan digolongkan ke dalam golongan para nabi, para ṣiddīq, para syahid, dan orang-orang yang saleh.’[6]

Di sini Dia meletakkan para sidik di bawah kenabian. Demikian juga, tercantum mengenai Ismā‘īlas:

كَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا ﴿﴾

‘Dia di sisi Tuhannya merupakan seorang yang diridai.’[7]

Namun, Allah Taala menyebutkan derajat ini di bawah kenabian di dalam firman-Nya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿﴾ اِرْجِعِيْ إِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿﴾

‘Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai.’[8]

Di sana setiap mukmin yang memiliki jiwa yang tenang dan meninggal dalam kondisi beriman disifati bahwa dia merupakan ‘seorang yang diridai’. Seandainya makna, ‘Dia di sisi Tuhannya merupakan seorang yang diridai,’ adalah bahwa setiap mukmin yang diridai Allah lebih luhur dari seorang nabi, Kita harus mengakui bahwa setiap mukmin yang memiliki jiwa yang tenang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada seorang nabi! Demikian juga, kita harus mengakui setiap pribadi yang diterapkan kepadanya nama ṣiddīq memiliki derajat yang lebih mulia daripada seorang nabi!

Allah Taala berfirman mengenai umat al-MuṣṭafāSAW:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۖ ﴿﴾

‘Orang-orang badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman.’ Namun, katakanlah, ‘Kami telah masuk Islam.’ Iman belumlah masuk ke dalam hati kalian.’[9]

Yakni, orang-orang badui mendatangi NabiSAW dan berkata kepada beliau, ‘Kami sungguh telah beriman.’ Oleh karena itu, Allah berfirman kepada Rasul-NyaSAW, ‘Katakanlah kepada mereka, ‘Kalian belum beriman. Namun, Kalian boleh berkata, ‘Kami telah masuk Islam.’ Iman belum masuk ke dalam hati kalian sampai sekarang.’’ Akan tetapi, Allāh berfirman mengenai Ibrāhīmas:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ ﴿﴾

‘Ingatlah ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Berserah dirilah (Islam bermakna ‘penyerahan diri’ – penj.)! Dia menjawab, ‘Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam.’’[10]

Perintah ini dikenakan kepada beliau setelah kenabian. Ketika Ibrāhīmas menjawab, ‘Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam,’ Allah sangat menyanjung keislaman beliau. Bersamaan dengan itu, ketika orang-orang badui berkata, ‘Kami telah beriman.’, Allah berfirman kepada orang-orang yang mengklaim telah beriman ini, ‘Janganlah kalian berkata, ‘Kami telah beriman.’ Sebaliknya, katakanlah, ‘Kami telah masuk Islam,’ karena iman sampai sekarang belum masuk ke dalam hati kalian!’’ Keislaman mereka seolah-olah lebih rendah daripada keimanan.

Seandainya Kita menerapkan pendirian Syī‘ah dalam hal ini, maknanya akan menjadi bahwa setiap orang yang mengklaim sebagai muslim memiliki derajat yang lebih tinggi daripada seorang nabi karena Allah berfirman kepada IbrāhīmSAW setelah mencapai kenabian, ‘Jadilah seorang muslim!’ lalu beliau pun menjawab, ‘Aku telah menjadi muslim.’ Demikian juga, seandainya makna keimaman adalah setelah kenabian, yakni seorang imam lebih besar daripada seorang nabi, Kita dipaksa untuk menganggap setiap muslim memiliki derajat yang lebih luhur daripada setiap nabi karena Ibrāhīmas pun menjadi seorang muslim setelah mencapai kenabian sebagaimana beliau mencapai keimaman setelah kenabian. Dalam bentuk ini, setiap muslim memiliki derajat yang lebih tinggi daripada setiap nabi.

Dengan demikian, keimaman bukan merupakan satu-satunya pangkat yang memiliki derajat lebih tinggi daripada kenabian. Keimaman yang dicapai seorang nabi setelah kenabian semata-mata berstatus sama dengan status keislaman yang juga dicapai setelah kenabian. Oleh karena itu, keislaman setiap pribadi tidaklah memiliki derajat yang lebih mulia daripada kenabian. Keislaman yang seorang nabi sampai kepadanya setelah mencapai kenabian itu hanya berarti bahwa ia memiliki derajat yang lebih mulia daripada kenabiannya sendiri. Setiap hal terbatas dalam ruang lingkupnya masing-masing. Di sana terdapat keislaman yang lebih rendah daripada keimanan, di sana terdapat keislaman yang dicapai manusia setelah keimanan, dan di sana terdapat juga keislaman yang dicapai manusia setelah mencapai kenabian.

Sebagai contoh, ambillah kata ketua kelas (bahasa Arabnya adalah نقيب – penj.) yang diterapkan kepada seorang murid yang diutamakan dari teman-teman sekelasnya. Di sana terdapat ketua kelas bagi kelas permulaan dan di sana terdapat juga ketua kelas bagi kelas menengah. Ketua kelas bagi kelas terendah ini tidak mungkin memiliki derajat yang lebih luhur daripada ketua kelas bagi kelas menengah meskipun dia sendiri sama-sama merupakan seorang ketua kelas. Sebaliknya, ilmu yang dimilikinya berada di bawah ilmu seorang siswa di kelas menengah. Seperti ini pulalah keadaannya berkenaan dengan keimaman yang berada di bawah kenabian. Keimaman seperti ini tidak sampai pada status keimaman yang dicapai manusia setelah mencapai kenabian. Terdapat jarak yang sangat jauh antara keduanya. Lihatlah di tengah-tengah kaum muslimin! Orang yang memimpin mereka dalam shalat dinamakan imam. Kemudian, seorang khalifah juga merupakan imam. Seorang nabi pun merupakan imam. Kemudian, Alquran mengajarkan kita sebuah doa:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ﴿﴾

‘Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’[11]

Yakni, ‘Jadikanlah sebagian mukmin nan bertakwa berpanutan denganku dan jadikanlah Aku imam bagi mereka.’ Apakah hal ini bermakna bahwa setiap orang yang berdoa dengan doa ini berkehendak untuk mencapai derajat yang lebih tinggi daripada derajat para nabi? Seandainya ini adalah maknanya, Kita mesti mengakui bahwa terdapat sebuah derajat yang lebih tinggi daripada derajat para nabi yang mungkin dicapai manusia karena Allah telah mengajarkan kita doa ini? Tidak, sekali-kali tidak! Bahkan, Syī‘ah sendiri tidak berpegangan pada pendapat ini.

Dengan demikian, hakikat firman Allah, ‘Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia,’ adalah, ‘Wahai Ibrāhīmas! Engkau tidak diragukan lagi merupakan seorang nabi bagi kaummu. Akan tetapi, Engkau terus-menerus berhasil dalam semua ujian ini dan kakimu tidak pernah goyah. Sebaliknya, Engkau selalu menyambut perintah-perintah-Ku dengan segala keberanian. Engkau menempatkan istrimu di sebuah padang pasir yang tidak memiliki sebutirpun air dan secuilpun rerumputan. Engkau menerima kematian bagi dirimu dan keluargamu. Oleh karena itu, Aku kelak akan mencurahkan nikmat atasmu dan Aku akan menjadikan peristiwamu sebagai contoh bagi seluruh dunia sampai hari kiamat. Tiap kali Kami mendidik manusia akan keteguhan dalam medan-medan cobaan dan ujian, Kami akan mengetengahkan kejadian ketegaranmu ini sebagai contoh supaya mereka berasa dengannya.

Untuk alasan ini, ketika Allah Taala berfirman, ‘Dan ketika Ibrāhīm dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat,’ Dia merangkaikannya dengan firman-Nya yang lain, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia.’ Jika maksudnya tidak demikian, yakni seandainya keimaman merupakan suatu pangkat yang terpisah dari kenabian, Dia tidak akan menyebutkan firman-Nya tentang keimaman Ibrāhīmas itu bersamaan dengan semua ujian ini dan keberhasilan Ibrāhīmas di dalamnya. Oleh karena itu, firman-Nya, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia,’ setelah penyebutan ujian-ujian dan keberhasilan Ibrāhīmas di dalamnya semata-mata mengisyaratkan kepada hal yang sama bahwa, ‘Kami kelak akan menjadikan peristiwa kehidupanmu yang agung ini sebagai pelita bagi orang lain dalam jalan ini serta contoh dan model bagi manusia sampai hari kiamat.’”

[1] Babylonian Talmud, 1/108.

[2] Yohanes 10:8.

[3] Q.S. 4:65.

[4] Q.S. 4:60.

[5] Q.S. 19:75.

[6] Q.S. 4:70.

[7] Q.S. 19:56.

[8] Q.S. 89:28-29.

[9] Q.S. 49:15.

[10] Q.S. 2:132.

[11] Q.S. 25:75.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar