Rabu, 04 Februari 2015

Fatwa-Fatwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd (as) mengenai Rokok dan Benda-Benda Lain Yang Memabukkan

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Fatwa-Fatwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mengenai Rokok dan Benda-Benda Lain Yang Memabukkan


“Terdapat dalam sebuah hadis:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يُعِيْنُهُ.

‘Salah satu keindahan Islam seseorang adalah bahwa dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat.’

Kelor, hokah, tembakau, opium, dan lain sebagainya termasuk dalam kategori ini.

Penjauhan diri seseorang dari benda-benda ini membuat hidupnya sangat ringan, bahkan seandainya Kita mempersepsikan bahwa benda-benda ini tidak memiliki sedikitpun kemudaratan, selain bahwa benda-benda ini memasukkan manusia kepada cobaan yang dahsyat dan kesulitan-kesulitan yang besar. Sebagai contoh, jika seseorang dipenjarakan dan dia hanya mendapati roti dalam penjara itu, tetapi dia tidak mendapatkan morfin, opium, atau hal-hal lain yang menyerupai keduanya atau seandainya dia pergi ke suatu tempat yang mirip dengan penjara, hal itu juga tetap akan membuatnya menderita suatu penderitaan yang luar biasa.

Seseorang hendaknya tidak menghancurkan kesehatannya sendiri demi suatu kepuasan yang remeh-temeh.

Betapa mengerikannya hukum syariat ketika mentakbirkan benda-benda yang berbahaya ini membawa kemudaratan juga bagi keimanan dan di atasnya terdapat khamar. Tidak ada keraguan bahwa terdapat permusuhan antara benda-benda yang memabukkan dan ketakwaan. Salah satu yang terbesar dalam merusak adalah opium karena kerusakan yang dibuatnya lebih dahsyat secara medis daripada khamar, yakni menghancurkan segala kekuatan yang manusia diciptakan dengannya.”

[Majalah Badr, 10 Oktober 1902, h. 3]

“Kita tidak menggolongkan tembakau ke dalam benda-benda yang memabukkan. Akan tetapi, menghisapnya merupakan sebuah perbuatan yang sia-sia. Allah Taala telah berfirman mengenai keadaan orang-orang mukmin:

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ﴿﴾

‘Mereka adalah orang-orang yang berpaling dari kesia-siaan.’[2]

Hanya saja, jika seorang dokter mensifatinya sebagai sarana kesembuhan bagi seseorang, tidak ada yang dapat melarang pemakaiannya. Adapun penghisapannya seperti biasa, hal itu sia-sia dan kemubaziran belaka. Seandainya benda itu ada pada zaman Ḥaḍrat RasūlullāhSAW, beliau tentu akan membencinya dan tidak akan menyukainya bagi para Sahabatra.

[Majalah Al-Ḥakam, 24 Maret 1903, h. 7]

Suatu kali dibacakan di majelis Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas sebuah selebaran berbahasa Inggris mengenai kemudaratan-kemudaratan tembakau. Di dalamnya terdapat keterangan bahwa penggunaan tembakau merupakan sebab segala penyakit dan di dalamnya juga digunakan bahasa-bahasa hiperbolik dalam menjelek-jelekkan tembakau. Lantas, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda:

“Lihatlah perbedaan yang luas antara firman Allah dan perkataan makhluk! Sesungguhnya, Allah Taala, ketika menjelaskan kemudaratan-kemudaratan suatu benda, Dia menyebutkan juga manfaat-manfaatnya beserta kemudaratan-kemudaratannya itu karena tidak ada satupun benda yang sama sekali tidak didapati beberapa manfaat di dalamnya. Akan tetapi, lihatlah ilmu-ilmu manusia! Mereka berlebih-lebihan dalam menjelaskan kemudaratan-kemudaratan sebagian benda seperti ketika mereka sama sekali tidak menyebutkan sedikitpun manfaat tembakau.

Tidak ada syak-wasangka bahwa syariat tidak membicarakan sedikitpun mengenai tembakau. Akan tetapi, Kami menganggap penggunaannya makruh karena Ḥaḍrat RasūlullāhSAW tentu akan melarang penggunaannya seandainya benda itu ada pada zaman beliau.”

[Majalah Badr, 24 Juli 1903]

“Sesungguhnya, tembakau tidak sama dengan khamar karena tidak mengarahkan manusia kepada kefasikan dan kedurjanaan. Akan tetapi, membencinya dan menjauhkan diri darinya merupakan tuntutan ketakwaan karena keluar dari mulut penghisapnya bau yang tak sedap sebagaimana memasukkan dan mengeluarkan asap dari mulut merupakan pemandangan yang menjijikkan. Seandainya tembakau ada pada zaman Ḥaḍrat RasūlullāhSAW, beliau tidak akan mentoleransi penggunaannya. Sesungguhnya, hal itu adalah perbuatan yang absurd dan tidak berfaedah. Hanya saja, Kita tidak menggolongkannya ke dalam benda-benda yang memabukkan. Seandainya benda itu digunakan untuk penyembuhan, Kita tidak melarangnya. Adapun untuk selainnya, hal itu hanyalah membuang-buang uang. Seseorang yang memiliki kesehatan yang baik adalah dia yang semata-mata tidak menetapi sesuatu seperti ini.”

[Majalah Badr, 3 April 1903, h. 83]

“Manusia dimungkinkan untuk dapat meninggalkan apa yang sudah menjadi kebiasaannya jika dia merupakan seorang mukmin yang benar. Terdapat banyak orang di dunia yang telah berhasil meninggalkan kebiasaan-kebiasaan terdahulu mereka. Terdapat sebagian orang yang terus-menerus meminum khamar sepanjang hidup, tetapi mereka meninggalkannya pada masa tua mereka dengan sekejap saja, padahal meninggalkan suatu adat tertentu pada masa tua dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Akan tetapi, mereka juga menjadi sembuh setelah merasa sakit sebentar karena meninggalkannya. Aku melarang menghisap hokah dan mentakbirkannya sesuatu yang tidak boleh dilakukan, kecuali jika benda itu dibutuhkan untuk sesuatu yang penting. Sesungguhnya, hal itu merupakan perbuatan yang sia-sia yang harus dijauhi manusia.”

[Majalah Badr, 28 Februari 1907, h. 10]

Pada 29 Mei 1898, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas menyebarkan sebuah pengumuman yang ringkasannya adalah:

“Telah sampai kepadaku keluhan berkenaan dengan sebagian anggota Jemaatku yang tidak menghadiri salat lima waktu. Sebagian mereka mendatangi majelis-majelis dengan perbuatan-perbuatan munkar seperti olok-olok, ejek-mengejek, menghisap hokah, dan melakukan perbincangan yang sia-sia. Disangka bahwa di antara mereka terdapat juga orang-orang yang tidak memegang prinsip-prisnip suci kesalehan dan kewarakan. Oleh karena itu, Aku sungguh telah mengusir mereka dari Qadian dengan tanpa keraguan supaya mereka tidak menyebabkan orang-orang lain menjadi jelek pula. Sesungguhnya, meninggalkan hokah merupakan sebuah perbuatan yang terpuji karena dari penghisapnya keluar bau yang tak sedap. Almarhum ayahku sering mengulang-ngulang sebuah bait syair gubahan beliau yang telah dipinjamkan kepada seseorang yang menjelaskan kerusakan yang diakibatkan oleh menghisapnya.”

[Al-Fatāwā Al-Aḥmadiyyah, v. 2, h. 59]

Seseorang bertanya, “Kami telah mendengar bahwa Tuan mengharamkan menghisap hokah.” Lantas, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas menjawab:

“Kami tidak pernah menetapkan satupun hukum bahwa rokok haram layaknya keharaman memakan daging babi dan meminum khamar. Hanya saja, hal itu merupakan perbuatan yang sia-sia yang setiap mukmin wajib meninggalkannya. Adapun menghisapnya untuk sesuatu yang penting seperti penyembuhan medis, hal itu tidak bermasalah.”

[Majalah Badr, 2 April 1903, h. 82 dan 23 Juli 1903, h. 88]

“Pendapat bahwa orang-orang kafir merasakan kepuasan dengan kelegaan yang hakiki temasuk dalam kesalahan. Sesungguhnya, orang-orang yang berpendapat demikian tidak menyadari bagaimana orang-orang ini telah menjadi budak khamar dan benda-benda yang memabukkan lainnya. Betapa banyak di antara mereka yang kekuatannya menjadi lemah. Seandainya mereka memiliki ketenangan dan ketentraman, mengapa mereka melakukan bunuh diri? Sesungguhnya, seorang mukmin tidak akan pernah selamanya melakukan bunuh diri. Hal yang masyhur dari khamar dan benda-benda yang memabukkan lainnya adalah bahwa hal itu dapat memberikan kekuatan lahiriah. Akan tetapi, yang terbesar dalam memberikan kekuatan dan mendatangkan kelegaan dan ketentraman adalah iman yang tulus. Seorang mukmin adalah dia yang Allāh berfirman mengenainya:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ﴿﴾

‘Terdapat dua surga bagi dia yang takut akan kedudukan Tuhannya.’”[3]

[Majalah Al-Ḥakam, 17 Agustus 1902, h. 6]

“Banyak orang tidak menyadari hakikat baiat. Ingatlah! Sesungguhnya, Kalian telah bertaubat pada hari ini dengan mengakui dosa-dosa kalian yang silam di hadapan Allah Taala. Kalian telah berjanji untuk tidak mendatangi lagi, baik dosa kecil maupun dosa besar, pada masa mendatang. Inilah janji dan ikrar yang Kalian ikat kepada Allah di atas tanganku. Oleh karena itu, Kalian wajib menjauhkan diri kalian dari dosa-dosa ini sebisa usaha dan akal kalian sesuai dengan janji dan ikrar kalian. Hal itu disebabkan bahwa janji ini memiliki dua efek. Siapa yang beramal dengannya, Allah akan mewariskan kepadanya karunia-karunia-Nya di kehidupan ini dan menurunkan rahmat-Nya sesuai dengan janji-Nya. Adapun dia yang melanggar perjanjian ini dan membatalkan ikrar ini, dia berhak mendapatkan azab Allah karena pembatalannya terhadap janjinya dan ikrarnya ada beserta Allah, yakni dia berbuat buruk kepada-Nya. Kalian melihat di dunia bahwa dia yang membatalkan perjanjiannya dikutuk dan dihukum dengan kejahatan membatalkan perjanjian. Oleh karena itu, ikrar kalian pada hari Jumat ini untuk menjauhkan diri kalian dari dosa-dosa merupakan sebuah perjanjian yang besar karena bisa menjadi asas bagi rahmat atau azab. Jika seseorang meninggalkan semua hal yang telah menjadi kebiasaannya yang mengantarkannya kepada kemaksiatan terhadap-Nya dan kemurkaan-Nya ini demi mengharap wajah Allah, dia berhak mendapatkan rahmat yang besar.

Sesungguhnya, memperbaiki kebiasaan-kebiasaan merupakan sebuah perkara yang sangat sulit bagi para penyalah guna opium, khamar, kedustaan, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lain. Perkara ini tidaklah mudah, kecuali bagi dia yang dilingkupi karunia Allah. Demikian juga, siapa yang memiliki kebiasaan melakukan suatu kemaksiatan dalam jangka waktu yang lama dari usianya, dia akan menjadi sangat susah untuk meninggalkannya seperti susahnya meninggalkan opium, marijuana, dan morfin bagi orang yang menyalahgunakannya. Seseorang tidak mungkin dapat meninggalkan kebiasaannya tanpa merasa sakit. Akan tetapi, jika dia memikul rasa sakit itu, dia akan mampu meninggalkannya dan meraih kelegaan. Kemudian, terdapat lagi satu kesukaran lain bahwa siapa yang menyalahgunakan opium, khamar, dan benda-benda yang memabukkan lainnya tidak akan disukai oleh keluarganya dan mereka menghendakinya untuk meninggalkannya. Karena, selama menyalahgunakan benda-benda yang memabukkan ini, dia menjadi lupa akan tanggungan hidupnya dan menjadi malas darinya. Oleh karena itu, keluarganya, anak-anaknya, dan orang tuanya menjadi murka dan berusaha sekuat tenaga agar dia meninggalkannya.”

[Al-Fatāwā Al-Aḥmadiyyah, v. 2, hh. 59-61]

“Wahai orang-orang yang berakal! Dunia tidaklah kekal. Oleh karena itu, berhati-hatilah dan kembalilah kepada kebenaran! Tinggalkanlah setiap jalan yang menyimpang! Tinggalkanlah setiap benda yang memabukkan! Khamar bukan satu-satunya benda yang dapat menghancurkan manusia. Bahkan, sesungguhnya opium, ganja, marijuana, morfin, toddy, dan benda-benda yang memabukkan lainnya yang dijadikan kebiasaan, kesemuanya itu meruntuhkan dan menghancurkan akal pada akhirnya. Oleh karena itu, jaunkanlah diri kalian darinya!

Sesungguhnya, Aku tidak memahami mengapa Kalian menyalahgunakan benda-benda ini yang telah menyebabkan kematian ribuan penyalah guna lain seperti Kalian. Sesungguhnya, kemudaratan-kemudaratan yang dihasilkan khamar bagi orang-orang Eropa disebabkan bahwa dahulu Nabi ‘Īsāas biasa meminumnya, mungkin karena suatu penyakit kronis atau kebiasaan terdahulu. Akan tetapi, wahai Kalian kaum muslimin! Sesungguhnya Nabi kalianSAW bersih dan suci dari setiap benda yang memabukkan dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu, siapa yang sebenarnya Kalian ikuti, sedangkan Kalian menamakan diri kalian muslim? Alquran tidaklah menghalalkan khamar layaknya Injil. Kemudian, atas dasar apakah Kalian menghalalkan penyalahgunaannya? Apakah Kalian menyangka bahwa Kalian tidak akan mati?”

[Al-Fatāwā Al-Aḥmadiyyah, v. 2, h. 71]

[1] Jāmi‘ at-Tirmidzī, Abwāb az-Zuhd, no. 2317.

[2] Surah Al-Mu’minūn ayat 4.

[3] Surah Ar-Raḥmān ayat 47.

Selasa, 03 Februari 2015

KPK, Korupsi, dan Paradigma Sistem Hukum

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Di bawah ini adalah revisi salah satu tulisan lama saya. Tulisan ini pernah Saya usahakan agar dimuat di beberapa media: Kompas, Republika, dan Sinar Harapan. Pada awalnya, Saya mengirimkan tulisan ini pada Juni 2014 lalu ke redaksi Kompas. Namun, karena tidak ada jawaban, Saya beralih ke Republika. Pada Desember lalu, Saya juga telah mengusahakan agar tulisan ini dimuat di Sinar Harapan. Akan tetapi, apatah daya, tulisan ini masih belum dapat menembusnya. Oleh karena itu, Saya berpikir bahwa lebih baik tulisan ini dimuat dalam blog saya supaya tidak menjadi sia-sia. Dalam tulisan ini, Saya sudah memprediksi kisruh KPK akhir-akhir ini ketika tanggul KPK jebol oleh arus koruptor kepolisian yang sangat deras. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi para pembaca!

KPK, Korupsi, dan Paradigma Sistem Hukum


Pada beberapa tahun terakhir ini, Kita melihat euforia yang begitu besar dalam masyarakat taktala mereka menyaksikan KPK berhasil menjerat para pencuri uang mereka. Kegeraman mereka terhadap koruptor telah sedemikian rupa membuncah sehingga tidak ada lagi kebahagiaan bagi mereka selain ditangkapnya kelompok maling itu. Dalam kata lain, mereka telah meredefinisi makna kebahagiaan menjadi lebih sederhana: kenelangsaan orang yang menelangsakan mereka.

Hal ini adalah lumrah dalam psikologi sekelompok manusia yang tertindas. Mereka, karena tidak memiliki kekuatan untuk bereaksi sesuai dengan hukum Newton, mengharapkan kehadiran suatu kekuatan lain yang mampu menghentikan penindasan terhadap mereka. Dalam konteks ini, KPK dianggap dan diyakini sebagai pengejawantahan kekuatan penolong itu sehingga, ketika rong-rongan suara untuk melemahkannya terdengar, mereka bergegas menggalang segenap kemampuan mereka untuk menyelamatkan juru selamat mereka itu. Kita telah mengetahui bagaimana masifnya gerakan Save KPK sewaktu terjadi perselisihan antara KPK dan Kepolisian,  Cicak vs Buaya, dan berbagai momen lainnya. Semua ini menunjukkan adanya semacam KPK-dependencia yang tertanam dalam hati masyarakat Indonesia.

Di satu sisi, ini merupakan sesuatu yang baik. Namun, dalam sudut pandang lain, ini bisa menimbulkan bahaya di masa mendatang. Layaknya tanggul, apabila terus-menerus digerus oleh aliran sungai yang dahsyat, niscaya pada suatu saat akan jebol juga. KPK pun dapat bernasib seperti tanggul ini. Akan tetapi, gelombang besarnya bukanlah teriakan-teriakan pembubaran KPK lagi, justru para koruptor itu sendiri yang merupakan ancaman terbesarnya.

Sistem yang dipakai dalam hukum Indonesia saat ini masih berupa punishment yang didefinisikan sebagai:

“The state’s imposition of unpleasant consequences on an offender for her offence.”[1]

Berdasarkan sistem ini, KPK berposisi sebagai penjaga bagi batasan hukum yang wajib untuk tidak dilanggar.  Ia bukan merupakan pencegah kala ada seseorang atau sekelompok orang yang berusaha mendekatinya. Barulah, sewaktu ada seseorang atau sekelompok orang yang berupaya menembus dan melewati batas itu, KPK dapat bertindak untuk menangkapnya. Apabila jumlah orang yang melakukan korupsi dapat dipastikan kecil dan sedikit, tentunya hal ini tidak akan berbahaya. Namun, siapa yang dapat menentukan kecilnya dan sedikitnya jumlah mereka? Malahan, menurut data KPK per 31 Oktober 2014, sejak 2004 s.d. 2014, terdapat total 658 perkara yang ditindak sampai pada tahap penyelidikan dan 287 perkara yang ditindak sampai pada tahap eksekusi[2]. Pada 2014 sendiri, masih menurut data KPK tersebut, sudah terdapat 73 kasus yang ditangani sampai pada tahap penyelidikan dan 40 kasus yang ditangani sampai pada tahap eksekusi. Jumlah-jumlah ini secara natural pasti akan terus bertambah hingga akhir tahun dan sangat mungkin melewati angka 81 untuk tahap penyelidikan dan 44 untuk tahap eksekusi sebagaimana tahun lalu. Perlu diketahui di sini bahwa beberapa kasus korupsi tidak hanya menyeret satu orang bahkan lebih dari itu. Sebagai contoh, kasus jual beli gas alam di Bangkalan baru-baru ini telah menjerat tiga tersangka[3]. Bisa Kita bayangkan berapa ribu orang yang telah tertangkap dari ratusan kasus itu.

Bila arus koruptor ini tidak dihentikan, KPK pada titik tertentu akan kewalahan dan tidak dapat berfungsi lagi untuk menangani kasus korupsi layaknya tanggul yang jebol tadi. Dengan demikian, korupsi akan menancapkan supremasinya di Indonesia dan tidak ada yang dapat menghalanginya. Hal ini tidak dapat dibiarkan dan harus dicegah sedini mungkin. Melihat gejala-gejala yang telah dan tengah timbul, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai pencegahan itu. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan merubah paradigma sistem hukum di Indonesia dari punishment menjadi prevention.

Dalam paradigma prevention, tindak pidana tidaklah dimaknai sebagai offence (pelanggaran), tetapi sin (dosa). Dosa adalah racun. Seseorang yang sadar dan berakal pasti tidak akan menenggak racun[4]. Demikian juga, seseorang atau sekolompok orang tidak akan melakukan tindak pidana jika dia arif dan insaf bahwa itu adalah dosa dan dosa adalah racun. Untuk mengimplementasikan hal ini, semuanya berkaitan dan kembali kepada pendidikan, wabil khusus pendidikan agama.

Mengapa banyak orang berani dan sampai hati melakukan tindak pidana? Karena, mereka tidak sepenuhnya menghayati dan memahami agama. Mengapa mereka tidak sepenuhnya menghayati dan memahami agama? Karena, mereka hanya mengambil sisi ilmu dari dari agama dan membuang sisi moral darinya. Padahal, agama bukan ilmu atau moral belaka, melainkan ia adalah gabungan dari keduanya. Oleh karena itu, agama mengutuk seseorang atau sekelompok orang yang hanya bisa berbicara, tetapi tidak mampu atau tidak mau menerapkan apa yang dia atau mereka perbincangkan itu[5].

Apabila seseorang atau sekelompok orang sepenuhnya menghayati dan memahami agama, jangankan melanggar, mendekati tindak pidana pun tidak akan dia atau mereka lakukan karena dia atau mereka seutuhnya yakin bahwa itu adalah dosa, dosa adalah racun, dan racun akan mengantarkan kepada kematian. Dengan demikian, aspek utama dari paradigma prevention telah terpenuhi.

Bagaimana dengan korupsi? Korupsi yang merupakan suatu bentuk tindak pidana akan secara perlahan tereduksi dan tereliminasi. Pada tahap selanjutnya, ketika paradigma prevention telah diimplementasikan secara menyeluruh oleh seluruh lapisan masyarakat, dari kelas sosial dan politik terendah sampai tertinggi, bukan mustahil korupsi akan benar-benar lenyap. Alhasil, KPK-dependencia akan serta-merta hilang dan beban KPK sendiri akan berkurang. Lantas, masyarakat yang tadinya harus meredefinisi kebahagiaan kini dapat kembali merasakan kebahagiaan dalam arti yang sebenar-benarnya dan seluas-luasnya.

Bilakhir, penulis ingin mengajak para pembaca untuk tidak sekali-sekali mendekati korupsi atau tindak pidana apapun karena, sesuai dengan sebuah bait syair gubahan Ibnu al-‘Assāl:

مَنْ جَاوَرَ الشَّرَّ لَا يَأْمَنُ عَوَاقِـبَهُ
كَيْفَ الَحيَاةُ مَعَ الْحَيَّاتِ فِيْ سَفَـطْ

“Siapa yang bertetangga dengan keburukan, niscaya dia tak akan aman dari akibat-akibatnya.
Bagaimana bisa seseorang hidup, sedangkan tangannya berada di dalam satu kantong dengan ular-ular berbisa.”[6]

Semoga Kita semua selamat dari keburukan korupsi dan tindak pidana lainnya!

[1] Nicola Lacey, State Punishment: Political Principles and Community Values (New York: Routledge, 2002), h. 7.

[4] Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Nasīm-e-Da‘wāt dalam Rūḥānī Khazā’in v. 19 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 447.

[5] (Islam) Surah Al-Baqarah ayat 44, Surah Aṣ-Ṣāff ayat 2-3; (Kristen) Matius 23:1-36, Markus 7:6-8; (Hindu) Kulārṇava-tantra 13; (Buddha) Dhammapada 394.

[6] Asy-Syaikh Aḥmad bin Muḥammad Al-Maqqarī, Nafḥ aṭ-Ṭīb Min Ghun al-Andalus Ar-Raṭīb v. 4 (Beirut: Dār Ṣādir, 1968 M/1388 H), h. 352.

Minggu, 01 Februari 2015

Menjawab Syī‘ah: Benarkah Derajat Imam Lebih Tinggi daripada Derajat Nabi?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Menjawab Syī‘ah: Benarkah Derajat Imam Lebih Tinggi daripada Derajat Nabi?

Imam Alīra menurut Syī‘ah
Orang-orang Syī‘ah, dalam menyokong pendirian mereka mengenai keutamaan para imam maksum di atas para nabi, mengutip ayat ke-125 Sūrah al-Baqarah berikut ini:

وَإِذِ ابْتَلٰى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ ﴿﴾

“Dan ingatlah ketika Ibrāhīmas dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu beliau menyempurnakankannya! Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia.’”

Sebagai jawaban atas perkataan mereka itu, Kami menyuguhkan di sini keterangan Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ II, Muṣliḥ Mau‘ūd, Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra dalam At-Tafsīr Al-Kabīr. Jika pembaca mendapati kesalahan dalam terjemahan ini, silakan memberikan komentar dan masukan. Semoga bermanfaat!

“Allah Taala berfirman, ‘Ingatlah ketika Kami berkehendak untuk mengungkapkan kebaikan dan ketakwaan dalam diri Ibrāhīmas supaya tersingkap bagi Ibrāhīmas kemampuan ruhani yang tersembunyi dalam dirinya. Allah memerintahkan beliau untuk melakukan beberapa perkara dalam rangka memanifestasikan kemampuan beliau lalu Ibrāhīmas pun menaati apa yang diperintahkan Allah itu.’ Demikianlah manusia mengetahui bahwa kekuatan dan kemampuan yang luhur dalam hal ketaatan dalam diri Ibrāhīmas sangatlah langka bandingannya dan tidak dapat dijumpai dalam diri seorangpun. Sebagai contoh, Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih putra tunggal beliau dalam jalan-Nya. Ketika beliau telah bersiap-siap melaksanakan perintah ini secara lahiriah, Allah berfirman kepada beliau, ‘Tidaklah demikian maksud Kami. Sebaliknya, ada hal lain yang menjadi maksud Kami.’ Kemudian, kehendak Allah ini menjadi jelas ketika Dia memerintahkan beliau untuk meningggalkan Hājarra dan Ismā‘īlas di sebuah tempat yang tandus lalu beliau pun membawa keduanya dan meninggalkan keduanya di sana. Demikianlah beliau berhasil dalam ujian ini. Dunia pun mengenal bahwa Ibrāhīmas senantiasa menyambut apa yang diperintahkan Allah kepada beliau meski perintah ini pada awalnya tampak mengerikan dan menakutkan.

Difirmankan di sini, ‘Dan ketika Ibrāhīm dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat.’ Kata beberapa kalimat merupakan bentuk jamak yang menunjukkan jumlah banyak. Bersamaan dengan itu, hanya satu kejadian yang masyhur, yakni kekesatriaan beliau untuk menyembelih putra beliau. Akan tetapi, Talmud mencatat bahwa Ibrāhīmas telah dicobai 10 kali[1].

Dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia,’ keimaman yang dimaksud bukanlah kenabian karena Ibrāhīmas telah mencapai kenabian sebelumnya. Maksudnya hanyalah bahwa beliau dalam waktu yang dekat akan menjadi contoh dan teladan bagi dunia dan dalam waktu yang lama akan diikuti oleh manusia dalam jumlah yang banyak. Kata bagi manusia mengisyaratkan kepada ‘sekumpulan besar dari antara manusia’.

Yang benar adalah bahwa ini meruapakan janji bagi Ibrāhīmas yang berkaitan dengan masa depan. Jika maksudnya tidak demikian, tidak ada seorangpun bersama beliau pada zaman itu, kecuali sedikit. Namun, lihatlah pada hari ini! Beliau ditakbirkan sebagai imam dan panutan di sebagian besar dunia dan manusia menyebut beliau dengan segala penghargaan dan penghormatan. Setiap nabi tidak diragukan lagi merupakan teladan bagi kaum beliau masing-masing. Akan tetapi, tidak semua nabi dapat menjadi teladan bagi seluruh dunia. Adapun Ibrāhīmas, beliau merupakan satu-satunya di antara para nabi terdahulu yang disebut di tengah-tengah berbagai kaum di dunia dengan pengangungan dan penghormatan. Ambillah orang-orang Kristen sebagai contoh! Mereka tidaklah menghormati Mūsāas sebagaimana mereka menghormati Ibrāhīmas. Mereka menyebut Sayyidunā ‘Īsāas dengan perlakuan khusus karena mereka mentakbirkan beliau salah seorang keturunan Ibrāhīmas. Mereka mencela para nabi terdahulu dengan pencurian dan pengkhianatan[2]. Akan tetapi, mereka sangat menghargai Ibrāhīmas. Inilah dia makna, ‘Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia.’ Yakni, ‘Kami akan menjadikan perkataan-perkataanmu dan perbuatan-perbuatanmu sebagai panutan bagi manusia.’

Kemudian, lihatlah juga haji yang merupakan ritual yang terkemuka di antara ibadah-ibadah islami lainnya! Haji ini diprakarsai oleh Ibrāhīmas. Melalui haji ini, dunia mengingat beliau sampai sekarang. Demikian juga, beliau diingat ketika ada pengorbanan sesembelihan. Sesungguhnya, Kita termasuk dalam umat Nabi MuḥammadSAW. Bersamaan dengan itu, Kita senantiasa mengingat pengorbanan Ibrāhīmas  setiap ‘Īd al-Aḍḥā. Akan tetapi, tidak ada dalam Islam suatu hari tertentu bagi Mūsāas dan ‘Īsāas yang mengingatkan Kita akan perbuatan keduanya dan memperbaharui ingatan akan keduanya. Sebaliknya, bagi Ibrāhīmas dan juga ingatan akan beliau terdapat suatu hari khusus di kalangan kaum muslimin.

Saudara-saudara Syī‘ah kita berkata, ‘Sesungguhnya Allah Taala berfirman kepada Ibrāhīmas, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia,’ ketika beliau telah menjadi seorang nabi. Ini menunjukkan bahwa pangkat imam lebih tinggi daripada pangkat nabi.’

Benar bahwa Ibrāhīmas dianugerahi keimaman setelah kenabian. Namun, yang menjadi soal adalah, ‘Apakah imam secara leksikal bermakna ‘suatu pangkat yang diraih oleh seseorang setelah kenabian’?’ Jika keimaman merupakan suatu pangkat yang diraih setelah kenabian dan lebih tinggi dari kenabian itu sendiri, Kita mau tak mau mesti mengakui bahwa sebagian nabi tidak harus ditaati karena bahasa mengajarkan kita bahwa imam adalah ‘dia yang dikedepankan dan ditaati’. Dengan demikian, manusia tidak harus menaati Ibrāhīmas sebelum beliau mencapai pangkat keimaman meskipun beliau telah menjadi nabi. Ini tidaklah benar karena Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّٰهِ ﴿﴾

‘Kami tidak pernah mengutus seorangpun rasul, kecuali supaya ditaati dengan izin Allah.’[3]

Ini menunjukkan bahwa Allah telah mewajibkan manusia untuk menaati setiap nabi segera setelah beliau menjadi nabi. Berdasarkan hal itu, keimamaan tidak menjadi suatu pangkat yang terpisah dari kenabian, tetapi keimaman pada hakikatnya merupakan sebuah sifat yang tetap bagi seorang nabi.

Kemudian, Alquran mengajarkan Kita bahwa terdapat juga jenis keimaman lain yang dicapai oleh manusia sebelum kenabian. Allah Taala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللّٰهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ﴿﴾

‘Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Sang Rasul, dan para pemegang kekuasaan di antara Kalian!”[4]

Allah pertama-tama menyebut diri-Nya, kemudian Ḥaḍrat RasulSAW, dan kemudian para pemegang kekuasaan yang tidak termasuk dalam kalangan para rasul. Ini berarti bahwa terdapat juga orang-orang yang tidak termasuk ke dalam golongan para nabi dan rasul, tetapi ketaatan kepada mereka merupakan keharusan. Dengan demikian, karena imam adalah ‘dia yang ditaati’, keimaman seperti ini memiliki derajat yang lebih rendah daripada kenabian. Adapun keimaman yang melazimkan kenabian, manusia tidak dapat mencapainya, kecuali bersamaan dengan kenabian. Manusia mungkin saja menjadi seorang imam tanpa menjadi seorang nabi. Akan tetapi, seseorang tidak mungkin menjadi nabi dan rasul kemudian diharamkan dari keimaman sebagaimana hal itu telah jelas dari firman Allah Taala, ‘Kami tidak pernah mengutus seorangpun rasul, kecuali supaya dia ditaati dengan izin Allah.’

Sekarang Kita mesti mengakui salah satu dari dua hal ini: apakah Allah Taala berfirman kepada Ibrāhīmas, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia,’ sebelum mencapai kenabian atau Dia memfirmankan wahyu itu kepada beliau setelah kenabian. Jika wahyu itu difirmankan setelah kenabian, keimaman yang dimaksud di sini tidak mungkin dimaknai dengan makna umumnya. Sebaliknya, Kita mesti menerima makna lain. Yang terjadi adalah bahwa janji ini telah sempurna setelah beliau menjadi seorang nabi karena Allah berfirman, ‘Dan ketika Ibrāhīmas dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu beliau pun menyempurnakankannya.’ Yakni, Dia menguji beliau dengan beberapa kalimat lalu beliau pun mengimplementasikan apa yang diperintahkan dari Allah. Kita pun menyadari dari sejarah para nabi bahwa mereka tidaklah diuji kecuali setelah mencapai kenabian, bukan sebelumnya. Berdasarkan sunah para nabi ini, Kita mesti mengikarkan bahwa ilham dan janji ini difirmankan setelah kenabian.

Sekarang Kita melihat apakah mungkin ada makna lain yang dimaksud dari firman ini. Kita hendaknya mengingat bahwa setiap kata mengandung dua makna: makna nisbi dan makna biasa. Makna nisbi senantiasa berubah tergantung pada penisbatannya. Sebagai contoh, ketika kita berkata kepala (bahasa Arabnya adalah رئيس – penj.), kata itu secara umum bermakna ‘pribadi yang menjadi atasan bagi seseorang atau banyak orang’. Namun, kepala ini bisa saja menjadi atasan suatu kota, provinsi, daerah, atau yang lainnya. Kata ini menunjukkan kepemimpinan atas orang-orang besar dan orang-orang kecil secara acak. Makna khususnya tidak akan dapat menjadi jelas sebelum penisbatannnya terlebih dahulu diketahui. Jika kita berkata kepala gereja, kepala pekerja, atau kepala tentara, barulah jelas makna yang dimaksud dan Kita pun menjadi sadar bahwa kata itu dinisbatkan kepada tingkatan tertentu. Dengan demikian, penisbatan ini merubah makna.

Terdapat juga contoh lain dalam Alquran mengenai kata ṣiddīq. Maknanya adalah ‘seseorang yang memiliki banyak kesalehan’. Seseorang yang memiliki banyak kesalehan bisa saja merupakan seorang nabi atau bukan seorang nabi. Jika kata ṣiddīq dimaknai dengan makna umumnya, derajat ṣiddīq ini lebih rendah daripada derajat seorang nabi. Akan tetapi, jika kata ini diterapkan kepada seorang nabi, hal itu mengisyaratkan kepada kekhususan tertentu dalam diri nabi itu sebagaimana tertulis dalam Alquran mengenai Sayyidunā Idrīsas:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيْسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا ﴿﴾

‘Dan ingatlah Idrīsas dalam Kitab ini! Sesungguhnya dia merupakan seorang sidik lagi nabi.’[5]

Bersamaan dengan itu, Allah berfirman di tempat lain:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنْ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ ﴿﴾

‘Siapa beriman kepada Allāh dan Sang Rasul, mereka itulah yang akan digolongkan ke dalam golongan para nabi, para ṣiddīq, para syahid, dan orang-orang yang saleh.’[6]

Di sini Dia meletakkan para sidik di bawah kenabian. Demikian juga, tercantum mengenai Ismā‘īlas:

كَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا ﴿﴾

‘Dia di sisi Tuhannya merupakan seorang yang diridai.’[7]

Namun, Allah Taala menyebutkan derajat ini di bawah kenabian di dalam firman-Nya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿﴾ اِرْجِعِيْ إِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿﴾

‘Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai.’[8]

Di sana setiap mukmin yang memiliki jiwa yang tenang dan meninggal dalam kondisi beriman disifati bahwa dia merupakan ‘seorang yang diridai’. Seandainya makna, ‘Dia di sisi Tuhannya merupakan seorang yang diridai,’ adalah bahwa setiap mukmin yang diridai Allah lebih luhur dari seorang nabi, Kita harus mengakui bahwa setiap mukmin yang memiliki jiwa yang tenang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada seorang nabi! Demikian juga, kita harus mengakui setiap pribadi yang diterapkan kepadanya nama ṣiddīq memiliki derajat yang lebih mulia daripada seorang nabi!

Allah Taala berfirman mengenai umat al-MuṣṭafāSAW:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۖ ﴿﴾

‘Orang-orang badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman.’ Namun, katakanlah, ‘Kami telah masuk Islam.’ Iman belumlah masuk ke dalam hati kalian.’[9]

Yakni, orang-orang badui mendatangi NabiSAW dan berkata kepada beliau, ‘Kami sungguh telah beriman.’ Oleh karena itu, Allah berfirman kepada Rasul-NyaSAW, ‘Katakanlah kepada mereka, ‘Kalian belum beriman. Namun, Kalian boleh berkata, ‘Kami telah masuk Islam.’ Iman belum masuk ke dalam hati kalian sampai sekarang.’’ Akan tetapi, Allāh berfirman mengenai Ibrāhīmas:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ ﴿﴾

‘Ingatlah ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Berserah dirilah (Islam bermakna ‘penyerahan diri’ – penj.)! Dia menjawab, ‘Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam.’’[10]

Perintah ini dikenakan kepada beliau setelah kenabian. Ketika Ibrāhīmas menjawab, ‘Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam,’ Allah sangat menyanjung keislaman beliau. Bersamaan dengan itu, ketika orang-orang badui berkata, ‘Kami telah beriman.’, Allah berfirman kepada orang-orang yang mengklaim telah beriman ini, ‘Janganlah kalian berkata, ‘Kami telah beriman.’ Sebaliknya, katakanlah, ‘Kami telah masuk Islam,’ karena iman sampai sekarang belum masuk ke dalam hati kalian!’’ Keislaman mereka seolah-olah lebih rendah daripada keimanan.

Seandainya Kita menerapkan pendirian Syī‘ah dalam hal ini, maknanya akan menjadi bahwa setiap orang yang mengklaim sebagai muslim memiliki derajat yang lebih tinggi daripada seorang nabi karena Allah berfirman kepada IbrāhīmSAW setelah mencapai kenabian, ‘Jadilah seorang muslim!’ lalu beliau pun menjawab, ‘Aku telah menjadi muslim.’ Demikian juga, seandainya makna keimaman adalah setelah kenabian, yakni seorang imam lebih besar daripada seorang nabi, Kita dipaksa untuk menganggap setiap muslim memiliki derajat yang lebih luhur daripada setiap nabi karena Ibrāhīmas pun menjadi seorang muslim setelah mencapai kenabian sebagaimana beliau mencapai keimaman setelah kenabian. Dalam bentuk ini, setiap muslim memiliki derajat yang lebih tinggi daripada setiap nabi.

Dengan demikian, keimaman bukan merupakan satu-satunya pangkat yang memiliki derajat lebih tinggi daripada kenabian. Keimaman yang dicapai seorang nabi setelah kenabian semata-mata berstatus sama dengan status keislaman yang juga dicapai setelah kenabian. Oleh karena itu, keislaman setiap pribadi tidaklah memiliki derajat yang lebih mulia daripada kenabian. Keislaman yang seorang nabi sampai kepadanya setelah mencapai kenabian itu hanya berarti bahwa ia memiliki derajat yang lebih mulia daripada kenabiannya sendiri. Setiap hal terbatas dalam ruang lingkupnya masing-masing. Di sana terdapat keislaman yang lebih rendah daripada keimanan, di sana terdapat keislaman yang dicapai manusia setelah keimanan, dan di sana terdapat juga keislaman yang dicapai manusia setelah mencapai kenabian.

Sebagai contoh, ambillah kata ketua kelas (bahasa Arabnya adalah نقيب – penj.) yang diterapkan kepada seorang murid yang diutamakan dari teman-teman sekelasnya. Di sana terdapat ketua kelas bagi kelas permulaan dan di sana terdapat juga ketua kelas bagi kelas menengah. Ketua kelas bagi kelas terendah ini tidak mungkin memiliki derajat yang lebih luhur daripada ketua kelas bagi kelas menengah meskipun dia sendiri sama-sama merupakan seorang ketua kelas. Sebaliknya, ilmu yang dimilikinya berada di bawah ilmu seorang siswa di kelas menengah. Seperti ini pulalah keadaannya berkenaan dengan keimaman yang berada di bawah kenabian. Keimaman seperti ini tidak sampai pada status keimaman yang dicapai manusia setelah mencapai kenabian. Terdapat jarak yang sangat jauh antara keduanya. Lihatlah di tengah-tengah kaum muslimin! Orang yang memimpin mereka dalam shalat dinamakan imam. Kemudian, seorang khalifah juga merupakan imam. Seorang nabi pun merupakan imam. Kemudian, Alquran mengajarkan kita sebuah doa:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ﴿﴾

‘Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’[11]

Yakni, ‘Jadikanlah sebagian mukmin nan bertakwa berpanutan denganku dan jadikanlah Aku imam bagi mereka.’ Apakah hal ini bermakna bahwa setiap orang yang berdoa dengan doa ini berkehendak untuk mencapai derajat yang lebih tinggi daripada derajat para nabi? Seandainya ini adalah maknanya, Kita mesti mengakui bahwa terdapat sebuah derajat yang lebih tinggi daripada derajat para nabi yang mungkin dicapai manusia karena Allah telah mengajarkan kita doa ini? Tidak, sekali-kali tidak! Bahkan, Syī‘ah sendiri tidak berpegangan pada pendapat ini.

Dengan demikian, hakikat firman Allah, ‘Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia,’ adalah, ‘Wahai Ibrāhīmas! Engkau tidak diragukan lagi merupakan seorang nabi bagi kaummu. Akan tetapi, Engkau terus-menerus berhasil dalam semua ujian ini dan kakimu tidak pernah goyah. Sebaliknya, Engkau selalu menyambut perintah-perintah-Ku dengan segala keberanian. Engkau menempatkan istrimu di sebuah padang pasir yang tidak memiliki sebutirpun air dan secuilpun rerumputan. Engkau menerima kematian bagi dirimu dan keluargamu. Oleh karena itu, Aku kelak akan mencurahkan nikmat atasmu dan Aku akan menjadikan peristiwamu sebagai contoh bagi seluruh dunia sampai hari kiamat. Tiap kali Kami mendidik manusia akan keteguhan dalam medan-medan cobaan dan ujian, Kami akan mengetengahkan kejadian ketegaranmu ini sebagai contoh supaya mereka berasa dengannya.

Untuk alasan ini, ketika Allah Taala berfirman, ‘Dan ketika Ibrāhīm dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat,’ Dia merangkaikannya dengan firman-Nya yang lain, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia.’ Jika maksudnya tidak demikian, yakni seandainya keimaman merupakan suatu pangkat yang terpisah dari kenabian, Dia tidak akan menyebutkan firman-Nya tentang keimaman Ibrāhīmas itu bersamaan dengan semua ujian ini dan keberhasilan Ibrāhīmas di dalamnya. Oleh karena itu, firman-Nya, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan Engkau imam bagi manusia,’ setelah penyebutan ujian-ujian dan keberhasilan Ibrāhīmas di dalamnya semata-mata mengisyaratkan kepada hal yang sama bahwa, ‘Kami kelak akan menjadikan peristiwa kehidupanmu yang agung ini sebagai pelita bagi orang lain dalam jalan ini serta contoh dan model bagi manusia sampai hari kiamat.’”

[1] Babylonian Talmud, 1/108.

[2] Yohanes 10:8.

[3] Q.S. 4:65.

[4] Q.S. 4:60.

[5] Q.S. 19:75.

[6] Q.S. 4:70.

[7] Q.S. 19:56.

[8] Q.S. 89:28-29.

[9] Q.S. 49:15.

[10] Q.S. 2:132.

[11] Q.S. 25:75.