Sabtu, 22 November 2014

Wahyu-Wahyu Yang Diterima Syaikh ‘Abd-ul-Qādir Al-Jailānī (rh)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Wahyu-Wahyu Yang Diterima Syaikh ‘Abd-ul-Qādir Al-Jailānīrh


Sebagian kaum muslim beranggapan, bersebab sedikitnya penelaahan dan perenungan, bahwa wahyu telah terputus pasca kewafatan Nabi Suci MuḥammadSAW. Padahal, Allah merupakan wujud Al-Mutakallim atau ‘Yang Maha Berbicara’. Sifat-sifat-Nya azali dan abadi, tidak ada yang berubah atau rusak. Sebagaimana Dia dahulu berbicara kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, pada hari ini pun pintu mukālamah (perbincangan) dan mukhāṭabah (pembicaraan) masih terbuka, bahkan sampai hari penghabisan. Namun, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi sesuai dengan apa yang disabdakan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas:

مِلْكٌ بَعْدَ الْاِتِّبَاعِ.

Yakni, seseorang akan mendapat kelezatan wahyu setelah mengikuti Sayyidunā Khātam-un-NabiyyīnSAW secara sempurna dan menyeluruh. Tanpa hal ini, seseorang tidak akan mampu untuk memasuki gerbang Istana Ilahi. Pada saat ini, satu-satunya jalan untuk sampai kepada singgasana Sang Raja adalah melalui perantaraan Nabi MuḥammadSAW. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mengekspresikan realitas ini dengan sangat indah:

وَبِهِ الْوُصُوْلُ بِسُدَّةِ السُّلْطَانِ
وَاللّٰهِ إِنَّ مُحَمَّدًا كَرِدَافَةٍ

“Demi Allah! MuḥammadSAW itu layaknya seorang deputi. Melalui beliau sajalah seseorang dapat sampai kepada Istana Sang Sultan.”

Kata الْوُصُوْلُ dalam bait di atas menempati posisi mubtada’ mu’akhkhar yang berfaedah mensignifikasikan kesangatan dan kekhususan. Partikel alif lām atau ma‘rifah yang ditambahkan di dalamnya menunjukkan jawaban bagi orang-orang yang bertanya, “Bagaimana jalan menuju Tuhan?” Dengan bait itu, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas seolah-olah berseru, “Wahai para pencari Tuhan! Apabila Kalian benar-benar berkeinginan untuk menempuh akses menuju Hadirat Ilahi, Kalian tidak akan dapat menjumpainya dalam wujud pribadi manapun, kecuali dia yang telah sampai kepada-Nya dan telah diberikan kunci-kunci Kerajaan Surga, seorang yang segenap penduduk langit merupakan para khadimnya, dialah Nabi Muḥammad Khātam-ur-RusulSAW.”

Kata سُدَّةِ di atas juga menampilkan keistimewaan Nabi SuciSAW. Kata itu berasal dari verba سَدَّ yang berarti ‘menutup’. Jadi, menurut keterangan ini, Nabi SuciSAW merupakan satu-satunya wujud yang mampu membuka pintu ketuhanan yang semula tertutup sehingga wewangian-wewangian ilahi dapat dicium semerbaknya, bahkan oleh para penghuni bumi yang tinggal di penghujung barat dan penghujung timur.

Mereka yang berfitrat baik akan menerima beliau dan, dengan demikian, menjadi para penikmat keharuman Allah. Mereka merupakan para pemangku tongkat estafet kehidupan pancaran beliau. Allah menyicipkan bagi mereka kelezatan wahyu-Nya yang menandakan totalitas mereka dalam penghambaan diri bagi Rasul KarimSAW. Sungguh, betapa banyak wujud-wujud seperti itu telah, sedang, dan akan hadir dalam ummat Islam. Di antara mereka yang paling utama adalah Syaikh ‘Abd-ul-Qādir al-Jailānīrh, seorang yang masyhur dengan perkataan:

قدمي هذه على رقبة كل ولي اللّٰه.

“Kakiku ini berada di atas leher setiap wali Allah.”

Wahyu-wahyu dan pengalaman-pengalaman ghaib beliau seperti kasyaf dan ru’yā banyak beredar dalam kitab-kitab yang beliau karang sendiri dan juga buku-buku manāqib tentang beliau. Adapun dalam tulisan ini, penulis hanya akan mengetengahkan kumpulan wahyu-wahyu yang dinamai “Al-Ghautsiyyah” yang menjadi subbab dari “Al-Maqālāt Ar-Ramziyyah” dalam kitab beliau Dīwān ‘Abd-il-Qādir Al-Jailānīrh. Subbab ini dinamai “Al-Ghautsiyyah” karena setiap wahyu yang beliau terima diawali dengan panggilan:

يا غوث الأعظم!

“Wahai Ghauts Al-A‘ẓam!”

Kata غوث sejatinya memiliki arti ‘bantuan’ atau ‘pertolongan’. Namun, dalam istilah sufi, kata itu adalah lakab yang disematkan kepada seorang quṭb yang merupakan tingkatan tertinggi dari kewalian yang telah menjadi paripurna dalam segala hal atau biasa disebut القطب الكامل الجامع. Sedangkan kata الأعظم merupakan na‘t atau ṣifat dalam bentuk ism tafḍīl dari العظيم yang berarti ‘yang teragung’. Jadi, berdasarkan keterangan ini, kita bisa membayangkan betapa tingginya derajat keruhanian beliau.

Sebagai tambahan, wahyu-wahyu yang beliau terima ini dapat dijadikan sebuah apologetika untuk orang-orang yang menaruh keberatan bahwa Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, menerima wahyu dari Tuhan. Kita bisa mengetengahkan wahyu-wahyu ini kepada para penentang, apalagi bila penentang itu berasal dari kalangan NU, seraya berkata, “Jika kalian mendustakan Masīḥ Mau‘ūdas karena beliau mengaku mendapat wahyu, apakah Kalian juga akan menganggap Syaikh ‘Abd-ul-Qādirrh berdusta karena beliau mengaku bahwa Tuhan menurunkan wahyu-wahyu kepada beliau? Al-‘Iyādzu Billāh!”

Memang, “Two wrongs do not make a right”. Namun, dengan menggunakan apologetika, Kita bisa membungkam lawan terlebih dahulu untuk tidak lagi menghujamkan pelurunya kepada kita. Selanjutnya, Kita dapat melucuti amunisi mereka dengan menerangkan kebatilan pandangan yang mereka anut lantas Kita akan leluasa “menembaki” mereka pada tahap berikutnya dengan menjelaskan bahwa wahyu-wahyu yang didapat oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas tidak bertentangan dengan Alquran. Justru, wahyu itu bagaikan pelayan yang siap melayani majikannya.

Untuk mempersingkat, di bawah ini penulis sajikan kepada para pembaca wahyu-wahyu Syaikh ‘Abd-ul-Qādir dalam Ad-Dīwān karya beliau yang diterbitkan oleh Dār al-Jīl, Beirut, pada 1989 M/1409 H halaman 206-230. Perlu diketahui sebelumnya bahwa penulis hanya menerjemahkan dan tidak menambahkan catatan-catatan penjelas. Semoga bermanfaat!


DĪWĀN ‘ABD-UL-QĀDIR AL-JAILĀNĪrh

AL-MAQĀLĀT AR-RAMZIYYAH

AL-GHAUTSIYYAH

Al-Ghauts Al-A‘ẓam yang hatinya kering dari wujud selain Allah dan yang hanya menaruh cinta pada wujud Allah -, bersabda:

Allah Taala berfirman:

“Wahai Ghauts Al-A‘ẓam!”

Aku menjawab:

Labbaik, wahai Rabb Ghauts!”

Dia berfirman:

“Setiap tingkatan antara An-Nāsūt dan Al-Malakūt adalah syarī‘at. Setiap tingkatan antara Al-Malakūt dan Al-Jabrūt adalah ṭarīqat. Setiap tingkatan antara Al-Jabrūt dan Al-Lāhūt adalah ḥaqīqat.”

Dia berfirman:

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Tidaklah Aku bermanifestasi dalam suatu benda seperti manifestasi-Ku dalam diri manusia.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Wahai Rabb-ku! Apakah Engkau bertempat?”

Dia menjawab:

“Aku adalah Sang Pencipta tempat dan Aku tidaklah bertempat.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Wahai Rabb-ku! Apakah Engkau makan dan minum?”

Dia menjawab:

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Makanan dan minuman seorang fakir adalah makanan-Ku dan minuman-Ku.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Wahai Rabb-ku! Dari apakah Engkau menciptakan malaikat?”

Dia menjawab:

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku menciptakan malaikat dari cahaya manusia dan Aku menciptakan manusia dari cahaya-Ku.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku menjadikan manusia sebagai kendaraan bagi-Ku dan Aku menjadikan alam-alam selainnya sebagai tunggangan baginya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sebaik-baik yang mencari adalah Aku dan sebaik-baik yang dicari adalah manusia. Sebaik-baik yang menunggang adalah manusia dan sebaik-baik yang ditunggang baginya adalah alam-alam selainnya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Manusia adalah adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya. Seandainya manusia mengenal kedudukannya di sisi-Ku, niscaya dia akan berkata pada setiap hela nafasnya, ‘Tidak ada kerajaan pada hari ini kecuali kepunyaanku.’

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Tidaklah manusia makan dan minum, tidak juga berdiri dan duduk, tidak juga berbicara dan diam, tidak juga melakukan sesuatu, tidak juga memfokuskan diri untuk sesuatu, dan tidak juga hilang dari sesuatu, kecuali Aku, dari dalam dirinya, berkediaman, memberikannya gerak, dan memberikannya tempat.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Tubuh, jiwa, hati, ruh, pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki manusia, setiap hal itu dimanifestasikan baginya oleh diri-Ku dan untuk diri-Ku. Tidak ada Dia selain Aku dan tidak Aku selain-Nya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Jika Engkau melihat seseorang yang terbakar oleh api kefakiran dan terpatahkan oleh banyaknya kemelaratan dan anak, mendekatlah kepadanya, karena tidak ada hijab antara Aku dan dia!

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Janganlah memakan suatu makanan, meminum suatu minuman, dan tidur, kecuali dengan hati yang senantiasa hadir terjaga dan mata yang senantiasa memperhatikan!

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang meninggalkan safar-Ku secara batiniah, dia akan dicobai dengan safar lahirah dan tidaklah bertambah dari-Ku, kecuali kejauhan dalam safar lahiriah.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Kebersatuan dengan-Ku adalah sebuah keadaan yang tak bisa diibaratkan dengan perkataan lisan. Oleh karena itu, siapa yang beriman kepadanya sebelum keadaan itu berwujud, dia telah kafir. Namun, siapa yang menginginkan ibarat mengenainya setelah sampai kepadanya, dia telah melakukan kesyirikan.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang berbahagia dengan kebahagiaan azali, sukacitalah baginya, dia tidak akan gagal selamanya. Sebaliknya, siapa yang celaka dengan kecelakaan azali, kemalanganlah baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku telah menjadikan kefakiran dan kemelaratan sebagai tunggangan bagi manusia. Oleh karena itu, siapa yang menungganginya, dia telah sampai kepada rumahnya tanpa harus menempuh gurun-gurun dan padang-padang pasir.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Seandainya manusia mengetahui apa yang akan dia miliki setelah kematian, niscaya dia tidak akan mengharapkan kehidupan di dunia dan akan berujar di setiap waktu dan saat, ‘Wahai Rabb-ku! Matikanlah aku, matikanlah aku!’

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Hujah makhluk di sisi Allah pada hari kiamat adalah ketulian, kebisuan, dan kebutaan kemudian kebingungan dan tangisan. Demikian juga di dalam kubur!

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Cinta adalah hijab antara yang mencintai dan yang dicintai. Jika yang mencintai telah fana dari cintanya, dia akan sampai kepada yang dicintainya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku melihat ruh-ruh saling berguncang satu sama lain dalam jasad mereka setelah firman-Nya, ‘Bukankah Aku adalah Rabb kalian?’ sampai hari kiamat.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang bertanya kepada-Ku mengenai ru’yah setelah mendapat ilmunya, dia telah menjadi maḥjūb dari ilmu ru’yah hakiki. Siapa yang menyangka ru’yah adalah pusat dari ilmu, dia telah tertipu dengan ru’yah Allah Taala.”

Kemudian, Dia berfirman kepadaku:

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang telah melihat-Ku, dia akan merasa cukup untuk bertanya pada setiap keadaan. Siapa yang belum melihat-Ku, pertanyaan tidak akan bermanfaat baginya. Seorang fakir di sisi-Ku bukanlah dia yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan, seorang fakir adalah dia yang memiliki perintah dalam segala sesuatu ketika dia berkata kepada sesuatu, ‘Jadilah! Kemudian, jadilah sesuatu itu.’”

Kemudian, Dia berfirman kepadaku:

“Tidak ada lagi keakraban dan nikmat di dalam surga setelah manifestasi-Ku di dalamnya. Pun, tidak ada lagi depresi dan pembakaran di dalam neraka setelah pidato-Ku kepada para penghuninya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku lebih mulia dari setiap orang yang mulia dan Aku lebih penyanyang dari setiap penyayang.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Kemudian, tidurlah di sisi-Ku, tidak seperti tidurnya orang-orang awam, lalu pandangilah Aku secara dawam!”

Lantas, Aku bertanya:

“Wahai Rabb-ku! Bagaimana cara Aku tidur di sisi-Mu?”

Dia menjawab:

“Dengan diamnya tubuh dari kelezatan-kelezatan, diamnya jiwa dari syahwat-syahwat, diamnya hati dari kekhawatiran-kekhawatiran, diamnya ruh dari waktu-waktu, dan kefanaan zat Engkau di dalam zat-Ku.”

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Katakanlah kepada teman-teman engkau dan terkasih-terkasih engkau, ‘Siapa di antara Kalian yang menghendaki persahabatan dengan-Ku, dia harus menanggung kefakiran, kemudian kefakirannya kefakiran, dan kemudian kefakiran dari kefakiran. Jika kefakiran mereka telah menjadi sempurna, tidak akan ada lagi sesuatu di hadapan mereka, kecuali Aku.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sukacitalah bagi Engkau jika Engkau berlemah-lembut kepada makhluk-Ku dan sukacitalah bagi Engkau jika Engkau berpengampunan kepada makhluk-Ku.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku telah menjadikan di dalam jiwa jalan bagi orang-orang yang zahid. Pun, Aku telah menjadikan di dalam hati jalan bagi orang-orang yang arif. Pun, Aku telah menjadikan di dalam ruh jalan bagi orang-orang yang wāqif. Pun, Aku telah menjadikan diri-Ku penanggung rahasia-rahasia.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Katakanlah kepada teman-teman engkau dan terkasih-terkasih engkau, ‘Ambillah panggilan seorang fakir sebagai ganimah karena mereka berada di sisi-Ku dan Aku berada di sisi mereka!’

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku adalah tempat kembali, kediaman, dan tempat tunggu segala sesuatu. Kepada Akulah semuanya akan kembali.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Janganlah memandang surga dan apa yang terdapat di dalamnya! Sebaliknya, pandanglah Aku secara dawam dengan tanpa perantara! Janganlah memandang neraka dan apa yang terdapat di dalamnya! Sebaliknya, pandanglah Aku secara dawam dengan tanpa perantara!

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Para penghuni surga sibuk dengan surga, para penghuni neraka sibuk dengan neraka, dan para penghuni-Ku sibuk dengan-Ku.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sesungguhnya Aku memiliki hamba-hamba dari antara para penghuni surga yang memohon perlindungan dari na‘īm sebagaimana para penduduk neraka memohon perlindungan dari jaḥīm.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Ku memohon pertolongan dari dekat sebagaimana orang-orang yang berkejauhan dari-Ku meminta pertolongan dari jauh.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sesungguhnya Aku memiliki hamba-hamba, selain para nabi dan rasul, yang tidak seorang pun di antara para ahli dunia dan ahli akhirat dan tidak juga Malik dan Ridwan mengetahui keadaan mereka. Aku tidak menciptakan mereka supaya mereka mendapatkan surga dan neraka, ganjaran dan hukuman, bidadari, istana-istana, dan pelayan-pelayan. Oleh karena itu, sukacitalah bagi siapa yang beriman kepada mereka. Jika dia tidak mengenal mereka, wahai Ghauts Al-A‘ẓam, Engkaulah salah satu dari antara mereka.

Di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah bahwa tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makanan dan minuman. Jiwa mereka terbakar dari syahwat-syahwat, hati mereka terbakar dari kekhawatiran-kekhawatiran, dan ruh mereka terbakar dari waktu-waktu. Mereka itulah para pemilik al-baqā’ yang terbakar dengan cahaya al-liqā’.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Jika seorang yang haus mendatangi Engkau pada suatu hari yang sangat panas, sedangkan Engkau memiliki air yang dingin dan Engkau tidak membutuhkan air itu, jika Engkau mencegahnya untuk meminumnya, Engkau adalah yang paling bakhil dari antara orang-orang yang bakhil. Bagaimana bisa Aku mencegah mereka dari rahmat-Ku, sedangkan Aku adalah Yang Paling Mulia dari antara orang-orang yang paling mulia.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Tidaklah seseorang menjadi jauh dari-Ku bersebab maksiat-maksiat dan tidak juga seseorang menjadi dekat dengan-Ku bersebab ketaatan-ketaatan.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Seandainya seseorang menjadi dekat dengan-Ku, niscaya dia dahulunya termasuk di antara orang-orang yang berbuat maksiat-maksiat karena mereka memiliki kelemahan dan penyesalan.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Kelemahan adalah sumber cahaya-cahaya sedangkan ujub adalah sumber kegelapan.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sampaikanlah kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya karunia dan kemuliaan dan sampaikanlah kabar pertakut kepada orang-orang yang ujub tentang adanya keadilan dan siksa.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku dekat dengan seorang pemaksiat setelah dia berhenti melakukan kemaksiatan dan Aku jauh dari seorang penaat ketika dia berhenti melakukan ketaatan-ketaatan.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Aku menciptakan orang-orang awam, namun mereka tidak mampu memikul cahaya kecemerlangan-Ku lantas Aku menjadikan hijab kegelapan antara Aku dengan mereka. Aku juga menciptakan orang-orang khusus, tetapi mereka tidak mampu memikul ketetanggaan dengan-Ku, lantas Aku menjadikan cahaya-cahaya sebagai hijab.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Katakanlah kepada teman-teman engkau, ‘Siapa yang ingin sampai kepada-Ku, dia harus keluar dari segala sesuatu selain-Ku.’
Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Keluarlah dari rintangan dunia, niscaya Engkau akan sampai kepada-Ku!

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Keluarlah dari tubuh dan jiwa, kemudian keluarlah dari hati dan ruh, dan kemudian keluarlah dari hukum dan perintah, niscaya Engkau akan sampai kepada-Ku!”

Kemudian, Aku bertanya:

“Wahai Rabb-ku! Salat apakah yang terdekat dengan-Mu?”

Dia menjawab:

“Salat yang di dalamnya tidak ada apapun selain-Ku dan pelakunya hilang darinya.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Puasa apa yang terdekat dengan-Mu?”

Dia menjawab:

“Puasa yang di dalamnya tidak ada apapun selain-Ku dan pelakunya hilang darinya.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Perbuatan apa yang termulia di sisi-Mu?”

Dia menjawab:

“Yang di dalamnya tidak ada apapun selain-Ku, termasuk surga dan neraka, dan pelakunya hilang darinya.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Tangisan apa yang termulia dengan-Mu?”

Dia menjawab:

“Tangisan orang-orang yang sering tertawa.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Tawa apa yang termulia di sisi-Mu?”

Dia menjawab:

“Tawa orang-orang yang sering menangis.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Taubat apa yang termulia di sisi-Mu?”

Dia menjawab:

“Taubat orang-orang yang maksum.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Kemaksuman apa yang termulia di sisi-Mu?”

Dia menjawab:

“Kemaksuman orang-orang yang bertaubat.”

“Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Seorang pemilik ilmu duniawi tidaklah memiliki jalan di sisi-Ku, kecuali setelah mengingkarinya karena sesungguhnya jika dia meninggalkan ilmu yang dimilikinya, dia akan menjadi setan.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Apa makna keasyikan?”

Dia menjawab:

“Berasyiklah bagi-Ku dan kosongkanlah hati Engkau dari selain-Ku.”

“Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Jika Engkau telah mengenali bentuk lahir keasyikan, Engkau harus menjadi fana dari keasyikan karena keasyikan adalah hijab antara yang berasyik dan diasyik.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Jika Engkau menginginkan taubat, Engkau harus mengeluarkan kedambaan untuk berbuat dosa dari dalam jiwa dan kemudian Engkau harus mengeluarkan kekhawatiran-kekhawatirannya dari hati lantas Engkau akan sampai kepada-Ku. Dan, bersabarlah! Jika Engkau tidak bersabar, Engkau termasuk di antara orang-orang yang mengolok-olok.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Jika Engkau berkeinginan untuk masuk ke dalam kehormatan-Ku, janganlah condong kepada al-mulk, al-malakūt, dan al-jabrūt karena al-mulk adalah setan bagi seorang alim, al-malakūt adalah setan bagi seorang arif, dan al-jabrūt adalah setan bagi seorang wāqif! Oleh karena itu, siapa yang rida terhadap salah satu dari mereka, Dia di sisi-Ku termasuk di antara orang-orang yang diusir.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Mujāhadah adalah lautan musyāhadah. Ikan-ikannya adalah orang-orang yang wāqif. Oleh karena itu, siapa yang ingin masuk ke dalam lautan musyāhadah, dia harus memilih mujāhadah.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang diharamkan dari mujāhadah, dia tidak akan memiliki jalan menuju musyāhadah.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang memilih mujāhadah kepada-Ku, dia akan diberikan musyāhadah-Ku terlepas apakah dia menghendakinya atau menolaknya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Para pencari wajib menempuh mujāhadah sebagaimana mereka wajib menempuh-Ku.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sukacitalah bagi seorang hamba yang hatinya condong kepada mujāhadah. Kemalanganlah bagi seorang hamba yang hatinya cenderung kepada syahwat-syahwat.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Jika Engkau berkeinginan untuk memandangi-Ku di setiap tempat, pilihlah hati yang kosong dari selain-Ku!

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Sesungguhnya hamba yang paling Aku cintai adalah seorang hamba yang memiliki orang tua dan anak, tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika orang tuanya mati, dia tidak bersedih atas kematiannya. Jika anaknya mati, dia tidak berduka atas kematiannya. Dengan demikian, jika dia telah sampai pada kedudukan ini, dia di sisi-Ku tidak berorang tua lagi tidak beranak dan tidak ada seorangpun yang setara dengannya.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang tidak mencicipi kefanaan orang tua dengan kecintaan-Ku dan kefanaan anak dengan kesayangan-Ku, dia tidak akan dapat mencicipi kelezatan al-waḥdāniyyat dan al-fardāniyyat.”

Kemudian, Aku bertanya:

“Wahai Rabb-ku! Apa itu ilmunya ilmu?”

Dia menjawab:

“Ilmunya ilmu adalah merasa bodoh dari ilmu.”

Kemudian, Aku bertanya tentang mi‘rāj. Dia menjawab:

“Ia adalah naik meninggalkan segala sesuatu selain-Ku. Kesempurnaan mi‘rāj adalah ketika hati tidak lagi menyimpang dan memberontak.”

“Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Tidak ada salat bagi yang tidak memiliki mi‘rāj di sisi-Ku.

Wahai Ghauts Al-A‘ẓam! Siapa yang diharamkan dari salat, dia akan diharamkan dari mi‘rāj di sisi-Ku.”

تم بمننه وكرمه

Tidak ada komentar:

Posting Komentar