Minggu, 30 November 2014

Persahabatan dalam Nama Allah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Mutiara Alquran Suci


“Dan berpegangteguhlah kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai! Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Kamu dahulu saling bermusuhan kemudian Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain sehingga, dengan nikmat-Nya, Kamu menjadi saling bersaudara dan ketika Kamu dahulu berada di tepi jurang api kemudian Dia menyelamatkanmu darinya! Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya Kamu mendapat petunjuk.”

[Surah Āli ‘Imrān ayat 104]


“Dan Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka. Seandainya Engkau membelanjakan apa yang ada di bumi ini seluruhnya, niscaya Engkau tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka. Akan tetapi, Allahlah yang telah menanamkan kecintaan di antara mereka. Sesungguhnya, Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

[Surah Al-Anfāl ayat 64]


“Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu saling bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu! Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani!”

[Surah Al-Ḥujurāt ayat 11]

Sabda Khātam-un-NabiyyīnSAW

عن أنس بن مالك رضي اللّٰه عنه، عن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: ثَلَاثٌ مَّنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَّكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُّحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا ِللّٰهِ، وَأَنْ يَّكْرَهَ أَنْ يَّعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُّقْذَفَ فِي النَّارِ.

“Dari Ḥaḍrat Anas bin Mālikra, dari Ḥaḍrat NabiSAW, beliau bersabda: Ada tiga hal yang jika seseorang memilikinya di dalam dirinya, dia akan menjumpai kemanisan iman. Pertama, dia harus mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain. Kedua, dia harus mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Ketiga, dia harus membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”

[Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Al-Īmān, Bāb Ḥalāwat al-Īmān, no. 16]

عن أبي هريرة، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: إِنَّ اللّٰهَ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلَالِيَ الْيَوْمَ؟ أُظِلُّهُمْ فِيْ ظِلِّيْ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّيْ.

“Dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, beliau bersabda: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Sesungguhnya, Allah akan berfirman pada hari kiamat: Di manakah orang-orang yang saling mencintai satu sama lain dengan keagungan-Ku? Pada hari ketika tidak ada naungan selain dari naungan-Ku ini, Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku.”

[Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Al-Birr Wa Aṣ-Ṣilah Wa Al-Ādāb, Bāb Fī Faḍl al-Ḥubb Fillāh, no. 2568]

عن عبادة، قال: سمعت رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم يقول: حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَزَاوِرِيْنَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَبَاذِلِيْنَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ، وَالْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلٰى مَنَابِرَ مِنْ نُّورٍ يَّغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَالصِّدِّيْقُونَ وَالشُّهَدَاءُ.

“Dari Ḥaḍrat ‘Ubādah bin āmitra, beliau berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Orang-orang yang saling mencintai satu sama lain dalam nama-Ku berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling mengunjungi satu sama lain berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling memberi satu sama lain berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling menasihati satu sama lain berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling mencintai satu sama lain dalam nama-Ku kelak akan berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yang para nabi, sidik, dan syahid mencemburui mereka karena tempat mereka itu.”

[Al-Aḥādīts Al-Mukhtārah, Musnad Ḥaḍrat ‘Ubādah bin Ṣāmitra, no. 376]

Wejangan Imam Zamanas


“Amal manusia, tanpa adanya persahabatan dengan orang-orang yang benar, bercacat lagi tiada berfaedah. Adalah satu hal yang susah bagi seseorang untuk pergi dengan selamat membawa imannya tanpa melalui jalan kefanaan atau persahabatan dengan orang-orang yang telah fana. Seseorang yang berbahagia adalah dia yang memikirkan keselamatannya dan imannya di atas segala sesuatu dan memilih keterikatan dengan Jamaah dengan meninggalkan percekcokan lahiriah yang tidak benar dan pertikaian-pertikaian yang tidak terpuji. Siapa yang Allah Taala anugerahkan kepadanya semangat dan kegairahan di jalan-Nya, ketahuilah dengan yakin bahwa kegairahan dan kecintaan ilahi itu merupakan nikmat yang besar yang Muḥammad Al-MuṣṭafāSAW berikan kepada dunia! Siapa yang dikaruniai kecintaan Allah dan Rasul-NyaSAW, dia sungguh telah meraih tujuan hakikinya. Dia adalah seorang yang berbahagia dengan tanpa keraguan. Api neraka diharamkan untuk menyentuhnya. Namun, siapa yang tidak dikaruniai kecintaan itu dan tidak mengenai keagungan Tuhannya dan NabinyaSAW, pendakwaannya secara lisan bahwa dia merupakan seorang muslim tidak memiliki hakikat apapun. Sesungguhnya salat dan puasa tanpa adanya kecintaan diri terhadap Allah dan Rasul-NyaSAW nihil dari hakikat keduanya. Tersebut dalam sebuah hadis:

Suatu zaman akan datang kepada umatku ketika mereka bersalat, berpuasa, dan berkumpul di dalam masjid-masjid, tetapi tidak ada seorangpun muslim di antara mereka.

Yakni, tidak akan ada satupun dari antara mereka seorang mukmin hakiki. Sebaliknya, mereka akan menjadi tawanan-tawanan bagi dunia mereka dan urusan-urusan mereka.”

[Maktūbāt-e-Aḥmadiyya v. 1, risalah no. 26; Al-Khazā’in Ad-Dafīnah, h. 440]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar