Rabu, 19 November 2014

Penjelasan Hadis bahwa Nama Al-Mahdī (as) adalah Nama Nabi (SAW) dan Nama Ayahnya adalah Nama Ayah Nabi (SAW)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Ḥāsyiyyah atas Syarah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas terhadap Hadis mengenai Nama Diri dan Nama Ayah Al-Mahdīas


Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, bersabda:

“Terdapat dalam sebagian hadis dari Nabi Allah Yang TerpilihSAW bahwa beliau bersabda:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَّطَوَّلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ الْيَوْمَ حَتّٰى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلًا مِّنِّيْ أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِيْ.[1]

Hadis ini dikeluarkan oleh Abū Dāwūd yang merupakan salah seorang imam dari kalangan muḥadditsīn.[2]

Sabda beliau, “Dariku,” dan, “Namanya meniru namaku,” merupakan sebuah isyarat yang halus kepada penjelasan kami yang akan tersebut nantinya. Oleh karena itu, berpikirlah layaknya seorang pencari cahaya jika Engkau berkeinginan agar hakikat rahasia yang tertutupi tersingkap bagimu dan janganlah berpaling seraya menundukkan pandangan layaknya orang-orang yang aniaya! Ketahuilah! Sesungguhnya maksud dari peniruan kedua nama itu adalah peniruan secara rohani, bukan peniruan secara jasmani yang fana ini karena setiap orang memiliki nama di sisi Tuhan Empunya Kebesaran dan dia tidak akan mati hingga rahasia namanya tersingkapkan baginya, apakah dia seorang yang berbahagia atau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang celaka lagi sesat[3]. Penerapan makna di atas bisa juga dikenakan secara lahiriah sebagaimana namaku adalah Aḥmad dan salah satu nama beliau juga Aḥmad [4]. Namun, hal yang Kami dapati sebagai yang paling benar dan total adalah bahwa pada hakikatnya, kebersatuan kedua nama itu merupakan kebersatuan secara rohani sebagaimana hal itu tidak tersembunyi dari seorang arif yang memiliki kedua mata. Contoh dari perbandingan ini adalah apa yang diilhamkan kepadaku dari Tuhan Yang Maha Perkasa dan Aku tuliskan dalam kitabku yang bernama Al-Barāhīn. Yakni, Tuhan berbicara kepadaku dan memanggilku lagi berfirman:

يَا أَحْمَدُ! يَتِمُّ اسْمُكَ وَلَا يَتِمُّ اسْمِيْ.[5]

Inilah nama yang dianugerahkan kepada golongan rūḥāniyyīn. Isyarat kepadanya terdapat dalam firman-Nya:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ﴿﴾[5]

Yakni, Dia mengajarkannya hakikat segala sesuatu dan menjadikannya seorang alim secara menyeluruh lagi matsīl segenap alam raya[7].

Adapun penerapan makna dari kedua nama ayah yang sama itu sebagaimana terdapat dalam hadis Nabi SuciSAW, ketahuilah! Sesungguhnya hal itu merupakan sebuah isyarat yang halus kepada keterikatan dua rahasia dari Khātam-un-NabiyyīnSAW. Sesungguhnya ayah Nabi kitaSAW telah dipersiapkan sebagai sarana bagi kedatangan cahaya-cahaya hingga beliau berlalu dari dunia ini.  Cahaya Nabi kitaSAW telah nampak bergelombang dalam fitrat beliau. Namun, cahaya itu belum termanifestasikan dalam bentuk fisik beliau. Allah lebih mengetahui mengenai rahasia hakikat hal itu dan beliau telah berlalu dari dunia ini layaknya orang-orang yang tertutupi[8]. Seperti itulah ayah Al-Mahdīas menyerupai ayah Rasul MakbulSAW[9]. Oleh karena itu, berpikirlah layaknya orang-orang yang memiliki akal dan janganlah berjalan seraya berpaling layaknya orang-orang yang tergesa-gesa!”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Sirr al-Khilāfah dalam Rūḥānī Khazā’in v. 8 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 374]

Ḥāsyiyyah:

[1] Terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Seandainya tidak tersisa lagi dari dunia kecuali sehari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia membangkitkan pada waktu itu seseorang dariku atau dari ahli baitku yang namanya meniru namaku dan nama ayahnya meniru nama ayahku.”

[2] Hadis ini terdapat Sunan Abī Dāwūd, Kitāb Al-Mahdī, no. 4282. Sanad lengkapnya adalah sebagai berikut:

حدثنا مسدد؛ أن عمر بن عبيد حدثهم. (ح) وحدثنا محمد بن العلاء؛ حدثنا أبو بكر يعني ابن عياش. (ح) وحدثنا مسدد؛ حدثنا يحيى؛ عن سفيان. (ح) وحدثنا أحمد بن إبراهيم؛ حدثنا عبيد الله بن موسى؛ أخبرنا زائدة. (ح) وحدثنا أحمد بن إبراهيم؛ حدثني عبيد الله بن موسى؛ عن فطر، المعنى واحد كلهم، عن عاصم، عن زر، عن عبد اللّٰه، عن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ، قال زائدة في حديثه: لَّطَوَّلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ الْيَوْمَ، ثم اتفقوا: حَتّٰى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلًا مِّنِّيْ أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِيْ. زاد في حديث فطر: يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا. وقال في حديث سفيان: لَا تَذْهَبُ أَوْ لَا تَنْقَضِي الدُّنْيَا حَتّٰى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ. قال أبو داود: لفظ عمر وأبي بكر بمعنى سفيان، ولم يقل أبو بكر: العرب.

“Musaddad menceritakan kepada Kami; bahwa ‘Umar bin ‘Ubaid menceritakan kepada mereka. Jalur Lain: Muḥammad bin Al-‘Alā’ menceritakan kepada Kami; Abū Bakr bin ‘Ayyāsy menceritakan kepada Kami. Jalur Lain: Musaddad menceritakan kepada Kami; Yaḥyā menceritakan kepada Kami; Sufyān menceritakan kepada Kami. Jalur Lain: Aḥmad bin Ibrāhīm menceritakan kepada Kami; ‘Ubaidullāh bin Mūsā menceritakan kepada Kami; Zā’idah mengabarkan kepada Kami. Jalur Lain: Aḥmad bin Ibrāhīm menceritakan kepada Kami; ‘Ubaidullāh bin Mūsā menceritakan kepadaku; dari Fiṭr, – makna semuanya sama (semua jalur berporos pada ‘Āṣim) –, dari ‘Āṣim, dari Zirr, dari Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin Mas‘ūdra, dari Ḥaḍrat NabiSAW, beliau bersabda: Seandainya tidak tersisa lagi dari dunia, kecuali sehari, – Zā’idah menambahkan dalam redaksi hadisnya –: Niscaya Allah akan memanjangkan hari itu, – Kemudian semua perawi bersepakat –: Hingga Dia membangkitkan pada waktu itu seseorang dariku atau dari ahli baitku yang namanya meniru namaku dan nama ayahnya meniru nama ayahku, – NabiSAW menambahkan dalam redaksi hadis Fiṭr –: Dia akan memenuhi bumi dengan kesetaraan dan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan keaniayaan dan ketidakadilan sebelumnya, – NabiSAW bersabda dalam redaksi hadis Sufyān –: Dunia tidak akan pergi atau tidak akan berlalu hingga seseorang dari ahli baitku menguasai Arab yang namanya meniru namaku. Abū Dāwūd berkata: Redaksi ‘Umar bin ‘Ubaid dan Abū Bakr bin ‘Ayyāsy semakna dengan redaksi Sufyān. Hanya saja, Abū Bakr bin ‘Ayyāsy tidak menyebutkan kata Arab.”

Semua perawinya tsiqāt. Secara ringkas Saya sarikan di sini keterangan dari Al-‘Allāmah Al-Mizzī dalam Tahdzīb al-Kamāl dan Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar dalam Taqrīb at-Tahdzīb:

a. Musaddad

Nama lengkapnya adalah Musaddad bin Musarhid bin Musarbil Al-Asadī Al-Baṣarī. Dia merupakan seorang yang tsiqah lagi hafiz, berasal dari ṭabaqah ke-10.

b. ‘Umar bin ‘Ubaid

Nama lengkapnya adalah ‘Umar bin ‘Ubaid Aṭ-Ṭanāfisī Al-Kūfī Al-Ḥanafī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, berasal dari ṭabaqah ke-8.

c. Muḥammad bin Al-‘Alā’

Nama lengkapnya adalah Muḥammad bin Al-‘Alā’ bin Kuraib Al-Hamdānī Al-Kūfī. Dia merupakan seorang yang tsiqah lagi hafiz, berasal dari ṭabaqah ke-10.

d. Abū Bakr bin ‘Ayyāsy

Nama lengkapnya adalah Abū Bakr bin ‘Ayyāsy bin Sālim Al-Asadī Al-Kūfī. Dia merupakan seorang yang ṣadūq, berasal dari ṭabaqah ke-10.

e. Yaḥyā

Nama lengkapnya adalah Yaḥyā bin Sa‘īd bin Farrūkh Al-Qaṭṭān. Dia merupakan seorang yang tsiqah, mutqin, imam, dan hafiz, berasal dari ṭabaqah ke-9.

f. Sufyān

Nama lengkapnya adalah Sufyān bin bn Sa‘īd bin Masrūq Ats-Tsaurī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, hafiz, fakih, imam, dan hujah, berasal dari ṭabaqah ke-7.

g. Aḥmad bin Ibrāhīm

Nama lengkapnya adalah Aḥmad bin Ibrāhīm bin Katsīr Ad-Dauraqī. Dia merupakan seorang yang tsiqah lagi hafiz, berasal dari ṭabaqah ke-10.

h. ‘Ubaidullāh bin Mūsā

Nama lengkapnya adalah ‘Ubaidullāh bin Mūsā bin Bādzām Al-Kūfī Al-‘Abasī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, berasal dari ṭabaqah ke-9.

i. Zā’idah

Nama lengkapnya adalah Zā’idah bin Qudāmah Ats-Tsaqafī Al-Kūfī. Dia merupakan seorang yang tsiqah lagi tsabat, berasal dari ṭabaqah ke-7.

j. Fiṭr

Nama lengkapnya adalah Fiṭr bin Khalīfah Al-Makhzūmī Al-Kūfī. Dia merupakan seorang yang ṣadūq, berasal dari ṭabaqah ke-5.

k. ‘Āṣim bin Abī an-Nujūd

Nama lengkapnya adalah ‘Āṣim bin Abī an-Nujūd Al-Asadī Al-Kūfī, ahli qiraat yang terkenal. Dia merupakan seorang yang ṣadūq dalam ilmu hadis, berasal dari ṭabaqah ke-6.

l. Zirr

Nama lengkapnya adalah Zirr bin Ḥubais bin Ḥabbāsyah Al-Asadī Al-Kūfī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, berasal dari ṭabaqah ke-2.

Ada beberapa poin yang menarik dari riwayat di atas. Yang pertama adalah bahwa Al-Mahdias akan berasal dari ahli bait NabiSAW. Siapakah ahli bait itu? Sesungguhnya, ini merupakan pembahasan yang akan menyita banyak waktu. Secara ringkas, sebagaimana masyhur dan dipahami oleh banyak orang, ahli bait adalah keturunan Nabi Suci MuḥammadSAW melalui Sayyidatunā Fāṭimahra. Lantas, pertanyaannya, “Apakah Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, merupakan keturunan Az-Zahrāra?” Kita akan dengan lugas menjawab, “Ya!” Beliau mendapat sebuah wahyu:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ الصِهْرَ وَالنَّسَبَ.

“(Ini adalah terjemahan tafsiriah dari Ḥaḍrat Aḥmadas – penj.) Tuhan Yang telah mengaruniakan kepadamu rencana pernikahan dengan salah satu keluarga sayid yang mulia merupakan Tuhan Yang Hakiki. Demikian juga, Dia telah menjadikan moyangmu dari salah satu keluarga yang mulia yang merupakan campuran dari orang-orang Persia dan para sayid.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Tiryāq al-Qulūb dalam Rūḥānī Khazā’in v. 15 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 272-273]

Dalam menjelaskan makna wahyu ini, beliau menuturkan:

“Dalam wahyu ini, keluarga istriku dan keluargaku kedua-duanya secara bersamaan digambarkan sebagai keluarga-keluarga yang telah dipersiapkan oleh Tuhan dan telah diperlakukan dengan pujian sampai suatu batas yang sama. Ini merupakan indikasi yang jelas bahwa sebagaimana ipar-iparku merupakan keturunan Ḥaḍrat Fāṭimahra, dalam genealogiku juga terdapat campuran dari Ḥaḍrat Fāṭimahra melalui sebagian nenekku (maksud beliau adalah nenek dari jalur ayah – penj.). Keutamaan yang diberikan kepada keluarga istriku di atas keluargaku dalam wahyu tersebut adalah untuk menekankan fakta bahwa dia merupakan seorang keturunan langsung dari Ḥaḍrat NabiSAW, sedangkan Aku mewarisi darah beliau secara parsial.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Tuḥfa-e-Golerwiyya dalam Rūḥānī Khazā’in v. 17 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 117]

Dalam kesempatan lain, beliau bersabda:

“Sesungguhnya, Aku membaca dalam riwayat-riwayat dari kakek-kakekku dan mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku merupakan keturunan Mughal. Namun, Allah mewahyukan kepadaku bahwa mereka sejatinya merupakan orang-orang Persia, bukan berasal dari bangsa-bangsa Turki. Bersamaan dengan itu, Tuhanku mengabarkan kepadaku bahwa sebagian nenekku (maksudnya adalah nenek dari jalur ayah – penj.) merupakan keturunan Ḥaḍrat Fāṭimahra dan berasal dari ahli bait kenabian. Dengan demikian, Allah telah menyatukan dalam diri mereka bibit Isḥāqas dan Ismā‘īlas menurut hikmah-Nya dan maslahat-Nya yang sempurna.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Istiftā’ (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah Limited, 2005), h. 100]

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas pada dasarnya memang keturunan orang-orang Persia, tetapi dikenal sebagai orang-orang Mughal karena sebagian besar mereka merupakan para pemegang tampuk kekuasaan di Dinasti Mughal. Maulānā ‘Abd-ur-Raḥīm Dārdra menyebutkan bahwa beliau memiliki asal-usul dari sebuah suku yang disebut Barlās. Kata Barlās berasal dari bahasa Persia yang berarti ‘seorang pemberani yang berasal dari rumpun yang mulia’. Suku ini dahulunya mendiami dan memerintah di Kish yang pada zaman kuno disebut sebagai Sogdania dengan Samarqand sebagai ibu kotanya. Maulānā Dārdra mengutip Encylopeadia Britannica bahwa para penduduk Sogdania adalah salah satu suku dari orang-orang Iran.

[Maulānā ‘Abd-ur-Raḥīm Dārdra, Life of Aḥmadas (Surrey: Islam International Publications Limited, 2008), h. 8]

Adapun makna sabda beliau bahwa bibit Isḥāqas dan Ismā‘īlas dipersatukan dalam diri beliau adalah karena sesungguhnya orang-orang Persia merupakan keturunan Nabi Isḥāqas. Kita membaca dalam riwayat Al-Ḥāfiẓ Abū Nu‘aim Al-Iṣfahānī:

حدثنا عبد اللّٰه بن محمد بن جعفر؛ ثنا سعيد بن يعقوب بن سعيد أبو عثمان القرشي؛ ثنا عمار بن يزيد القرشي؛ ثنا عمر بن إبراهيم؛ ثنا إبراهيم بن محمد؛ عن صالح مولى التوأمة، عن أبي هريرة، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: فَارِسُ بَنُوْ إِسْحَاقَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

“‘Abdullāh bin Muḥammad bin Ja‘far menceritakan kepada Kami; Sa‘īd bin Ya‘qūb Abū ‘Utsmān Al-Qursyī menceritakan kepada Kami; ‘Ammār bin Yazīd Al-Qursyī menceritakan kepada Kami; ‘Umar bin Ibrāhīm menceritakan kepada Kami; Ibrāhīm bin Muḥammad menceritakan kepada Kami; dari Ṣāliḥ Maulā at-Tau’amah, dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Orang-orang Persia merupakan putra-putra Isḥāqas.”

[Al-Ḥāfiẓ Abū Nu‘aim Al-Iṣfahānī, Akhbāru Aṣbahān v. 1 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1990 M/1441 H), h. 29]

Hadis ini lemah karena faktor Ibrāhīm bin Muḥammad al-Aslamī. Mayoritas ulama melemahkannya meski Asy-Syāfi‘ī menjauhkannya dari atribut kedustaan, men-tsiqah-kannya, dan berhujah dengannya. Namun, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Uqdah dan Ibnu ‘Adī, dia bukan seorang yang munkar. Demikian juga, dia bukan seorang pemalsu hadis menurut Adz-Dzahabī. Ini saya sarikan dari Tahdzīb al-Kamāl dan Mīzān al-I‘tidāl.

Tidak diketahui pula secara pasti siapa ‘Umar bin Ibrāhīm yang dimaksud dalam riwayat di atas. Yang jelas, Abū Nu‘aim menyebutkan 4 orang dengan nama seperti itu dalam keterangan para perawi Akhbāru Aṣbahān:

a. ‘Umar bin Ibrāhīm bin Syabīb Az-Zandī Al-Muqri’

Dia meriwayatkan dari orang-orang Iraq. Abu Nu‘aim tidak memberikan kritik dan tidak juga pujian kepadanya (majhūl al-ḥāl).

b. ‘Umar bin Ibrāhīm bin Muḥammad bin Ibrāhīm Abū Bakr Al-Karrānī

Dia meriwayatkan dari ‘Alī bin Sa‘īd Al-‘Askarī. Abu Nu‘aim tidak memberikan kritik dan tidak juga pujian kepadanya (bin).

c. ‘Umar bin Ibrāhīm bin Wāḍiḥ Abū Ḥafṣ Aṣ-Ṣūfī Al-Madīnī Al-Mu‘āfir

Dia meriwayatkan dari Ibnu al-A‘rābī dan orang-orang yang berada dalam satu ṭabaqah dengannya. Abu Nu‘aim tidak memberikan kritik dan tidak juga pujian kepadanya (majhūl al-ḥāl).

d. ‘Umar bin Ibrāhīm bin Muḥammad Al-Fākhir Abū Ṭāhir As-Suraijānī

Dia mendengarkan ḥadīts dari Aḥmad bin Sulaimān An-Najjād dan Ja‘far Al-Khālidī di Iraq serta dari orang-orang Rayy (sekarang Teheran) yang bergelar “Ar-Rāzī”. Abū Nu‘aim menyebutkan bahwa dia merupakan seorang المعدل atau ‘yang diberikan ta‘dīl (sanjungan)’.

‘Umar bin Ibrāhīm memiliki mutāba‘ah dari Mas‘ūd bin Al-Azraq yang dimasukkan oleh Ibnu Ḥibbān dalam Ats-Tsiqāt. Riwayatnya terdapat dalam kitab yang sama,  Akhbār Aṣbahān. Ini juga Saya ambil dari Tahdzīb al-Kamāl karangan Al-‘Allāmah Al-Mizzī.

Ada dua syawāhid bagi hadis di atas dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Umarra dan Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra masih dalam Akhbār Aṣbahān. Syāhid Ḥaḍrat Ibnu ‘Umarra berbunyi:

حدثنا أبي؛ ثنا أبو بكر عبد اللّٰه بن جعفر الخشاب؛ ثنا أبو سعيد حاتم بن منصور الشافي؛ ثنا إبراهيم بن سلام مولى بني هاشم؛ ثنا عبد المجيد بن أبي رواد؛ عن أبيه، عن نافع، عن ابن عمر، أن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: إِنَّ فَارِسَ مِنْ وُّلْدِ إِسْحَاقَ.

“Ayahku menceritakan kepadaku; Abū Bakr bin ‘Abdillāh bin Ja‘far Al-Khasysyāb menceritakan kepadaku; Abū Sa‘īd Ḥātim bin Manṣūr Asy-Syāfī menceritakan kepada Kami; Ibrāhīm bin Sallām Maulā Banī Hāsyim menceritakan kepada Kami; ‘Abd-ul-Majīd bin Abī Warrād menceritakan kepada Kami; dari ayahnya, dari Nāfi‘, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Umarra, bahwa Ḥaḍrat NabiSAW bersabda: Sesungguhnya orang-orang Persia merupakan anak-anak Isḥāqas.”

Sanad hadis ini garib menurut Al-Jūrqānī dalam Al-Abāṭīl Wa Al-Manākīr Wa Aṣ-Ṣiḥāḥ Wa Al-Masyāhīr. Keterangan para perawinya adalah sebagai berikut:

a. ‘Abdullāh bin Aḥmad bin Isḥāq Al-Iṣfahānī (ayah Abū Nu‘aim)

Dia seorang yang hafiz lagi imam, berasal dari ṭabaqah ke-15.

[Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’ v. 16 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1996 M/1417 H), h. 281]

b. ‘Abdullāh bin Ja‘far Al-Khasysyāb

Dia merupakan penduduk Madinah dan meriwayatkan hadis dari orang-orang Hijaz. Abū Nu‘aim tidak memberikan pujian atau kritik terhadapnya.

[Al-Ḥāfiẓ Abū Nu‘aim Al-Iṣfahānī, Akhbāru Aṣbahān v. 2 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1990 M/1441 H), h. 36]

c. Abū Sa‘īd Ḥātim bin Manṣūr Asy-Syāfī

Menurut Ibnu Quṭlūbughā, dia merupakan seorang yang tsiqah. Dia juga merupakan seorang syaikh (guru) dari Imam Al-‘Uqailī.

[Ibnu Quṭlūbughā Al-Ḥanafī, Ats-Tsiqāt Min Man Lam Yaqa‘ Fī Al-Kutub As-Sittah v. 3 (Sanaa: Markaz an-Nu‘mān Li Al-Buḥūts Wa Ad-Dirāsāt Al-Islāmiyyah, 2010 M/1431 H), h. 288]

d. Ibrāhīm bin Sallām Maulā Banī Hāsyim

Ibnu Ḥajar mengutip Ad-Dāruquṭnī dan Abu Aḥmad Al-Ḥākim bahwa Ibrāhīm bin Sallām lemah.

[Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Lisān al-Mīzān v. 1 (Beirut: Dār Al-Basyā’ir Al-Islāmiyyah, 2002 M/1423), h. 291]

e. ‘Abd-ul-Majīd bin ‘Abd-il-‘Azīz bin Abī Warrād (ada kesalahan dari Abū Nu‘aim)

Aḥmad, Yaḥyā bin Ma‘īn, Abū Dāwūd, dan An-Nasā’ī men-tsiqah-kannya. Dia bukan merupakan seorang yang kuat, menurut Abū Ḥātim, tetapi hadisnya tetap dapat ditulis. Demikian juga, Ad-Dāruquṭnī menyatakan bahwa dia tidak dapat dijadikan sebagai hujah, teapi dapat digunakan sebagai iktibar.

[Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Mīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl v. 4 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), hh. 390-391]

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar menyimpulkan bahwa dia merupakan seorang yang ṣadūq yang terkadang melakukan kesalahan. Dia berasal dari ṭabaqah ke-9.

[Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Taqrīb at-Tahdzīb (Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1416 H), h. 620]

f. ‘Abd-ul-‘Azīz bin Abī Warrād

Dicukupkan di sini bahwa Imam Al-Bukhārī memakainya dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ.

[Yūsuf bin ‘Abd-ir-Raḥmān Al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl Fī Asmā’ ar-Rijāl v. 18 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1992 M/1413 H), h. 140]

g. Nafi‘ Maulā Ḥaḍrat Ibnu ‘Umarra

Dicukupkan di sini bahwa Al-Jamā‘ah, yaitu Mālik, Al-Bukhārī, Muslim, Abū Dāwūd An-Nasā’ī, dan At-Tirmidzī memakainya dalam kitab-kitab mereka.

[Yūsuf bin ‘Abd-ir-Raḥmān Al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl Fī Asmā’ ar-Rijāl v. 29 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1992 M/1413 H), h. 306]

Adapun syawāhid Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra berbunyi:

حدثنا منصور بن محمد بن الحسن الحذاء؛ ثنا عبد اللّٰه بن أبي داود؛ ثنا أيوب الوزان؛ ثنا سعيد بن منصور؛ ثنا إبراهيم بن هراسة؛ عن سفيان الثوري. (ح) وحدثنا محمد بن الحسن اليقطيني؛ ثنا أحمد بن محمد بن أبي حمدان الأنطاكي؛ ثنا جعفر بن محمد بن الحجاج؛ ثنا سعيد بن منصور بن شعبة الخراساني؛ ثنا إبراهيم بن هراسة؛ ثنا سفيان الثوري؛ عن معاوية بن قرة، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم وذكرت عنده فارس، فقال: فَارِسُ عَصَبَتُنَا أَهْلَ الْبَيْتِ. زاد جعفر: قيل لسعيد: ما يعني: عَصَبَتُنَا أَهْلَ الْبَيْتِ؟ قال: هم ولد إسحاق، عم ولد إسماعيل.

“Manṣūr bin Muḥammad bin Al-Ḥasan Al-Ḥadzdzā’ menceritakan kepada Kami; ‘Abdullāh bin Abī Dāwūd menceritakan kepada Kami; Ayyūb Al-Wazzān menceritakan kepada Kami; Sa‘īd bin Manṣūr menceritakan kepada Kami; Ibrāhīm bin Harrāsah menceritakan kepada Kami; dari Sufyān Ats-Tsaurī. Jalur Lain: Muḥammad bin Al-Ḥasan Al-Yaquṭīnī menceritakan kepada Kami; Aḥmad bin Muḥammad bin Abī Ḥamdān Al-Anṭākī menceritakan kepada Kami; Ja‘far bin Muḥammad bin Al-Ḥajjāj menceritakan kepada Kami; Sa‘īd bin Manṣūr bin Syu‘bah Al-Khurāsānī menceritakan kepada Kami; Ibrāhīm bin Hirāsah menceritakan kepada Kami; Sufyān Ats-Tsaurī menceritakan kepada Kami; – semua jalur berporos pada Mu‘āwiyah bin Qurrah –, dari Mu‘āwiyah bin Qurrah, dari Sa‘īd bin Jubair, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda ketika disinggung mengenai orang-orang Persia: Orang-orang Persia adalah kelompok kami, mereka termasuk di antara ahli bait. Ja‘far menambahkan: Ditanyakan kepada Sa‘īd bin Manṣūr: Apa makna dari bahwa mereka termasuk di antara ahli bait? Dia menjawab: Mereka adalah anak-anak Isḥāqas, paman anak-anak Ismā‘īlas.”

Riwayat ini lemah karena faktor Ibrāhīm bin Hirāsah, seorang yang para ahli ilmu telah bersepakat atas kelemahannya. Dia berasal dari ṭabaqah ke-7. Demikianlah Saya sarikan dari Mīzān al-I‘tidāl dan Taqrīb at-Tahdzīb.

Dalam ilmu dirāyah atau muṣṭalaḥah, kelemahan suatu hadis dapat terangkat jika memiliki syawāhid meski syawāhid itu sama-sama lemah. Ringkasnya, karena memiliki syawāhid dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Umarra dan Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, walau keduanya sama-sama lemah, derajat hadis Ḥaḍrat Abū Hurairahra terangkat menjadi ḥasan bi syawāhidihi. Hadis hasan tergolong ke dalam kelompok ḥadīts maqbūl yang dapat diterima.

Hal yang menarik lainnya adalah sabda Ḥaḍrat Aḥmadas, “Menurut hikmah-Nya dan maslahat-Nya yang sempurna.” Menurut hemat saya, ini merujuk kepada ayat terakhir dari Surah Muḥammad:

هَا أَنْتُمْ هٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَبْخَلُۖ وَمَنْ يَّبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهِۚ وَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُۚ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْا أَمْثَالَكُم ﴿﴾

“Ingatlah! Kalian merupakan orang-orang yang dipanggil untuk membelanjakan di jalan Allah. Namun, di antara Kalian terdapat orang yang bakhil. Siapa yang bakhil, sejatinya ia hanya bakhil terhadap dirinya sendiri. Allahlah Wujud Yang Mahakaya dan Kalianlah orang-orang fakir yang sesungguhnya. Oleh karena itu, apabila Kalian berpaling, Dia akan mengganti Kalian dengan suatu kaum yang lain dari Kalian dan mereka tidak akan berbuat seperti apa yang Kalian perbuat.”

Ayat ini menubuatkan bahwa pada akhir zaman, orang-orang Arab akan menjadi sangat pelit dan bakhil dalam menginfakkan harta-benda di jalan Tuhan. Apabila kepelitan itu telah mencapai batas akhirnya yang menyebabkan mereka berpaling dari amalan-amalan agama, Allah akan mengganti mereka dengan suatu kaum yang akan bersiap-sedia mengorbankan harta-benda untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia. Siapakah kaum itu? Mereka adalah orang-orang Persia! Dalam sebuah hadis, Nabi SuciSAW bersabda:

حدثنا يونس بن عبد الأعلى؛ قال: حدثنا عبد اللّٰه بن وهب؛ قال: حدثنا مسلم بن خالد؛ عن العلاء بن عبد الرحمن، عن أبيه، عن أبي هريرة رضي اللّٰه عنه، أن رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم تلا هذه الآية: وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْا أَمْثَالَكُم سورة محمد آية 39. قالوا: يا رسول اللّٰه! من هؤلاء الذين إن تولينا استبدلوا بنا ولا يكونوا أمثالنا؟ فضرب على فخذ سلمان، وقال: هٰذَا وَقَوْمُهُ، وَلَوْ كَانَ الدِّيْنُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَتَنَاوَلُهُ رِجَالٌ مِّنَ الْفُرْسِ.

“Yūnus bin ‘Abd-il-A‘lā menceritakan kepada Kami; dia berkata ‘Abdullāh bin Wahb; dia berkata: Muslim bin Khālid menceritakan kepada Kami; dari Al-‘Alā bin ‘Abd-ir-Raḥmān, dari ayahnya, dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW menilawatkan ayat ini: Oleh karena itu, apabila Kalian berpaling, Dia akan mengganti Kalian dengan suatu kaum yang lain dari Kalian dan mereka tidak akan berbuat seperti apa yang Kalian perbuat. Para Sahabatra bertanya: Wahai Rasūlullāh! Siapakah orang-orang itu yang apabila Kita berpaling, mereka akan dijadikan sebagai ganti dari kita dan mereka tidak akan berbuat seperti apa yang Kita berbuat? Lantas, beliau menepuk pundak Ḥaḍrat Salmānra seraya berkata: Orang ini dan kaumnya. Apabila agama telah berada di Bintang Tsurayyā, orang-orang dari Persia akan meraihnya kembali.”

[Syarḥ Musykil al-Ātsār Li Abī Ja‘far aṭ-Ṭaḥawī, no. 2134]

Sanad hadis ini diisi oleh para perawi Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, tetapi bercacat karena faktor Muslim bin Khālid, seorang yang memiliki ingatan yang buruk. Meski demikian, dia memiliki mutāba‘ah dari ‘Abd-ul-‘Azīz bin Muḥammad Ad-Darāwardī dalam Syarḥ Musykil al-Ātsār no. 2135, seorang yang tsiqah lagi tsabat menurut Ibnu Al-Madīnī. Sanad Ad-Darāwardī ṣaḥīḥ li dzātihi ‘alā syarṭi Muslim. Dengan demikian, derajat hadis Muslim bin Khālid ini terangkat berkat mutāba‘ah itu menjadi ṣaḥīḥ li ghairihi.

Penggenapan hadis sangat jelas terdapat dalam Jemaat Muslim Ahmadiyah, yakni Jemaat yang didirikan oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas. Kita dapat melihat betapa hebatnya para Muslim Ahmadi berkebangsaan India-Pakistan yang di dalam diri mereka terdapat campuran darah Persia sejak generasi Sahabat Imām Mahdīas hingga sekarang dalam pengorbanan harta. Terakhir, Pakistan menjadi “juara” dalam “perlombaan” Taḥrīk-e-Jadīd periode 2013-2014. Bahkan, bukan itu saja, mereka juga menempati posisi teratas dalam pengorbanan jiwa. Sudah ratusan orang mereguk piala kesyahidan dalam mempertahankan dan memperjuangkan iman mereka kepada Imam Zamanas. Singkatnya, nubuat Nabi SuciSAW telah terbukti dalam diri anggota-anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah.

Kembali kepada pembahasan hadis mengenai status keahlibaitan Al-Mahdīas, apabila keahlibaitan beliau dimaknai secara ruhani, hal itu pun tetap dapat diterima. NabiSAW bersabda:

حدثنا جعفر بن إلياس بن صدقة الكباش المصري؛ حدثنا نعيم بن حماد؛ حدثنا نوح بن أبي مريم؛ عن يحيى بن سعيد الأنصاري، عن أنس بن مالك، قال: سئل النبي صلى اللّٰه عليه وآله وسلم: من آل محمد؟ فقال: كُلُّ تَقِيٍّ. وقال وتلا رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وآله وسلم: إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُوْنَ.

“Ja‘far bin Ilyās bin Ṣadaqah Al-Kabbāsy Al-Miṣrī; Nu‘aim bin Ḥammād menceritakan kepada Kami; Nūḥ bin Abī Maryam menceritakan kepada Kami; dari Yaḥyā bin Sa‘īd Al-Anṣārī, dari Ḥaḍrat Anas bin Mālikra, beliau berkata: Sekali waktu, Ḥaḍrat NabiSAW ditanya: Siapakah keluarga Muḥammad itu? Beliau menjawab: Setiap orang yang bertakwa. Kemudian, beliau menilawatkan ayat: Tidaklah wali-wali-Nya, kecuali orang-orang yang bertakwa.”

[Al-Mu‘jam Aṣ-Ṣaghīr, Bāb Al-Jīm, Man Ismuhu Ja‘far, no. 311]

Nasywān Al-Ḥumairī, seorang ahli bahasa yang masyhur, menyenandungkan sebuah syair, yang dikutip oleh Asy-Syaukanī:

من الأعاجم والسودان والعرب
   آل النبي هم أتباع ملته
صلى المصلي على الطاغي أبي لهب
   لو لم يكن آله إلا قرابته

“Keluarga Ḥaḍrat NabiSAW adalah mereka yang merupakan para pengikut agama beliau dari kalangan Ajam, Sudan, dan Arab.

Seandainya keluarga beliau hanyalah kerabat dekat, niscaya seorang yang berselawat akan berselawat kepada Si Durjana Abū Lahab.”

[Muḥmmmad Asy-Syaukanī, Nail al-Auṭār Min Asrāri Muntaqā al-Akhbār v. 3 (Riyadh: Dār Ibni al-Qayyim, 2005 M/1426), h. 277]

Adapun apabila dikatakan bahwa Al-Mahdīas akan menaklukkan Arab, hal ini adalah sebuah kebenaran juga. Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas menerima beberapa kabar suka bahwa kelak orang-orang Arab akan berbondong-bondong masuk ke dalam Jemaat beliau. Beliau bersabda:

قَدْ بَشَّرَنِيْ رَبِّيْ فِي الْعَرَبِ وَأَلْهَمَنِيْ أَنْ أُمَوِّنَهُمْ وَأُرِيَهُمْ طَرِيْقَهُمْ وَأُصْلِحَ لَهُمْ شُؤُوْنَهُمْ، وَسَتَجِدُوْنَنِيْ فِيْ هٰذَا الْأَمْرِ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ مِنَ الْفَائِزِيْنَ.

“Sesungguhnya, Tuhanku telah memberikan kabar suka kepadaku mengenai Arab dan memberikan ilham kepadaku supaya Aku memberikan keamanan bagi mereka, menunjukkan kepada mereka jalan yang harus mereka lalui, dan memperbaiki keadaan mereka. Kalian kelak akan menjumpaiku dalam penunaian perintah ini, insya Allah, termasuk dalam golongan orang-orang yang menang.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Ḥamāmat al-Busyrā Ilā Ahli Makkata Wa Ṣulaḥā’i Umm al-Qurā dalam Rūḥānī Khazā’in v. 7 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 182]

Mengenai penduduk Mekkah, beliau mengungkapkan:

وَإِنِّيْ أَرَى أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ يَدْخُلُوْنَ أَفْوَاجًا فِيْ حِزْبِ اللّٰهِ القَادِرِ الْمُخْتَارِ. وَهٰذَا مِنْ رَّبِّ السَّمَاءِ، وَعَجِيْبٌ فِيْ أَعْيُنِ أَهْلِ الْأَرْضِيْنَ.

“Sesungguhnya, Aku melihat bahwa orang-orang Mekkah tengah berbondong-bondong masuk ke dalam kelompok yang terpilih milik Allah Yang Mahakuasa. Ini berasal dari Tuhan langit dan terkesan ajaib dalam pandangan mata para penduduk bumi.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Nūr al-Ḥaqq Al-Ḥiṣṣah Ats-Tsāniyyah dalam Rūḥānī Khazā’in v. 8 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 197]

Mengenai para penguasa dunia, beliau menuliskan:

رَأَيْتُ فِيْ مُبَشِّرَةٍ أُرِيْتُهَا جَمَاعَةً مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَالْمُلُوْكِ الْعَادِلِيْنَ الصَّالِحِيْنَ: بَعْضُهُمْ مِّنْ هٰذَا الْمُلْكِ، وَبَعْضُهُمْ مِّنَ الْعَرَبِ، وَبَعْضُهُمْ مِّنْ فَارِسَ، وَبَعْضُهُمْ مِّنْ بِلَادِ الشَّامِ، وَبَعْضُهُمْ مِّنْ أَرْضِ الرُّوْمِ، وَبَعْضُهُمْ مِّنْ بِلَادٍ لَّا أَعْرِفُهَا. ثُمَّ قِيْلَ لِيْ مِنْ حَضْرَةِ الْغَيْبِ إِنَّ هٰؤُلُاءِ يُصَدِّقُوْنَكَ، وَيُؤْمِنُوْنَ بِكَ، وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكَ، وَيَدْعُوْنَ لَكَ. وَأُعْطِيْ لَكَ بَرَكَاتٍ حَتّٰى يَتَبَرَّكَ الْمُلُوْكُ بِثِيَابِكَ، وَأُدْخِلُهُمْ فِي الْمُخْلِصِيْنَ. هٰذَا مَا رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ وَأُلْهِمْتُ مِن اللّٰهِ العَلَّامِ.

“Aku melihat
dalam suatu kabar suka yang diperlihatkan kepadaku sebuah Jemaat yang terdiri dari orang-orang mukmin lagi mukhlis dan raja-raja yang adil lagi saleh; sebagian mereka dari kerajaan ini (maksud beliau India penj. –), sebagian mereka yang lain dari Arab, sebagian mereka yang lain dari Persia, sebagian mereka yang lain dari negeri-negeri Syam, sebagian mereka yang lain dari bumi Romawi, dan sebagian mereka yang lain dari negeri-negeri yang tidak aku kenal. Kemudian, difirmankan kepadaku dari hadirat Yang Maha Gaib: Sesungguhnya, orang-orang ini akan membenarkan Engkau, beriman kepada Engkau, berselawat kepada Engkau, dan berdoa bagi Engkau. Engkau telah dikaruniai keberkatan-keberkatan hingga raja-raja akan ber-tabarruk dengan pakaian Engkau dan mereka akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mukhlis. Inilah yang aku lihat dalam tidur dan yang diilhamkan kepadaku dari Allah Yang Maha Mengetahui.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Lujjat an-Nūr dalam Rūḥānī Khazā’in v. 16 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 339-340]

Mengenai Mesir, beliau mengalami sebuah ru’yā pada 19 Januari 1903 sebelum salat Isyā:

“Aku melihat bahwa Aku tengah berdiri di tepi Sungai Nil dan bersamaku terdapat banyak orang dari Banī Isrā’īl. Aku menganggap bahwa seolah-olah diriku adalah Mūsāas dan Aku melihat bahwa Kami semua tengah melarikan diri. Ketika Aku memandang ke belakang, Aku melihat Fir‘aun tengah mengikuti kami dengan suatu rombongan yang besar dengan berbagai persiapan dan perlengkapan seperti kuda-kuda, gerbong-gerbong, dan kereta-kereta perang dan dia telah menjadi sangat dekat. Teman-temanku dari Banī Isrā’īl telah banyak yang menjadi cemas. Kebanyakan mereka telah kehilangan semangat dan tekad seraya berteriak sekencang-kencangnya, ‘Wahai Mūsā! Sesungguhnya kita terkejar!’ Lantas, Aku menjawab dengan suara yang lantang:

كَلَّا! إِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ.

‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, Tuhanku bersamaku, Dia akan menunjukiku.’

Kemudian, Aku terbangun dan kata-kata ini terus-menerus terucap dari lidahku.”

[Tadzkirah Edisi Bahasa Inggris, h. 585]

Mengenai tanah Hejaz, beliau mengalami sebuah ru’yā pada 1891:

“Aku sungguh-sungguh telah melihat dalam pada selang waktu yang lama bahwa Aku tengah berdiri di depan kubur mubarak Nabi KarimSAW. Aku melihat bahwa banyak manusia telah mati atau terbunuh dan orang-orang tengah berkeinginan untuk mengubur mereka. Ketika tengah dalam kondisi itu, Aku melihat seseorang keluar dari dalam kubur mubarak dan ditangannya terdapat sebuah pacul yang dengannya dia menggali tanah. Kemudian, dia memberitahukan kepada setiap orang dari antara mereka seraya berkata, ‘Ini adalah kubur engkau’ (maksudnya mereka semua dikubur dalam satu liang – penj.). Ketika mendekat kepadaku, dia berdiri di depanku lalu menggali tanah yang dekat dengan kubur mubarak dengan paculnya. Kemudian, dia berkata, ‘Di sinilah kelak engkau akan dikubur. Kemudian, aku terbangun.’

Aku telah mentakwil ru’yā ini menurut ijtihadku bahwa itu adalah sebuah isyarat kepada kebersamaan tempat kembali. Ini disebabkan bahwa seseorang yang mendekatkan diri kepada seorang yang kudus secara rohani setelah kewafatannya, kuburnya seolah-olah akan menjadi dekat dengan orang yang kudus itu. Allah lebih mengetahui dan ilmu-Nya lebih pasti.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Izāla-e-Auhām dalam Rūḥānī Khazā’in v. 3 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 352]

Beliau mendapat wahyu:

يُصَلُّوْنَ عَلَيْكَ صُلَحَاءُ الْعَرَبِ وَأَبْدَالُ الشَّامِ، وَتُصَلِّيْ عَلَيْكَ الْأًرْضُ وَالسَّمَاءُ، وَيَحْمَدُكَ اللّٰهُ عَنْ عَرْشِهِ.

“Orang-orang saleh dari Arab dan para abdāl dari Syam kelak akan berselawat kepada Engkau. Demikian juga, bumi dan langit kelak akan berselawat kepada Engkau. Allah pun senantiasa memuji Engkau dari arasy-Nya.”

[Tadzkirah, h. 1888]

Dan:
يَدْعُوْنَ لَكَ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعِبَادُ اللّٰهِ مِنَ الْعَرَبِ.

“Para abdāl dari Syam dan hamba-hamba Allah dari Arab kelak akan berdoa bagi engkau.”

Mengenai kedua wahyu ini, Ḥaḍrat Aḥmadas berkomentar:

[Tadzkirah, h. 160]

“Allah lebih mengetahui apa maksud dari perkara ini, kapan dan bagaimana pemanifestasiannya akan sempurna. Allah lebih mengetahui kebenaran.”

Semua ini adalah nubuat agung yang pasti akan terealisasikan pada saatnya nanti. Tugas kita adalah menggenapkan nubuat itu semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kita. Dengan demikian, Kita akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dapat mencicipi kelezatannya. Sekarang pun, sebagaimana dapat disaksikan melalui MTA (Muslim Television Ahmadiyya) 3 dan didengar melalui berbagai Khotbah Jumat Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ Vatba, Kita mengetahui betapa dahsyatnya kemauan orang-orang Arab untuk mencari sebuah Jemaat yang berdiri di atas kebenaran dan, berkat rahmat dan karunia Tuhan, sebagian dari antara mereka telah diberi petunjuk untuk melakukan baiat dan  menggabungkan diri ke dalam Jemaat Muslim Ahmadiyah. Jumlah anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah di negara-negara Arab pun dapat dibilang cukup banyak. Namun, bersebab tekanan dari Pemerintah dan para ulama di sana, mereka tidak mendapatkan ruang untuk menampilkan diri. Alhamdulillah, berkat kehadiran MTA, sekat-sekat pertabligan telah menjadi tiada dan suara murid-murid Imam Zamanas yang berisikan kebenaran kini dapat mencapai lagi menembus setiap rumah manusia.

Pertabligan kepada dunia Arab merupakan satu dari dua hal yang penting menurut Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas. Beliau menekankan:

“Di hadapan Kita sekarang terdapat dua perkara yang penting. Pertama, Jemaat kita harus tersebar di negara-negara Arab. Kedua, hujah kebenaran harus menjadi sempurna di daratan Eropa. Adapun penyebaran Jemaat di negara-negara Arab, hal itu disebabkan bahwa mereka merupakan para pemilik kebenaran yang pertama dan banyak di antara mereka yang sama sekali belum mengetahui bahwa Allah Taala telah mendirikan Jemaat ini. Oleh karena itu, pertabligan kepada mereka merupakan bagian dari kewajiban kita dan akan termasuk maksiat apabila Kita tidak melakukan pertabligan kepada mereka. Demikian juga, orang-orang Eropa memiliki hak supaya Kita menyingkapkan kekeliruan-kekeliruan mereka bahwa mereka telah mengangkat seorang hamba yang lemah sebagai tuhan sehingga mereka menjadi jauh dari Allah Taala.”

[Mafūẓāt v. 2 h. 253]

Oleh karena itu, Kita sebagai para anggota dari Jemaat Indonesia harus senantiasa berdoa semoga Allah Taala memberikan kemudahan bagi pertabligan di dunia Arab dan memberikan kekuatan bagi orang-orang yang bertugas mengadakan pertabligan di sana.



Pembahasan menarik berikutnya adalah berkenaan dengan bahwa Al-Mahdīas akan memenuhi bumi dengan keadilan. Sebagian orang salah memahami, karena terlalu harfiah dalam memaknai teks, bahwa maksud dari hadis ini adalah dipenuhinya bumi secara menyeluruh dengan keadilan dan lenyapnya kezaliman dalam bentuk yang sesungguh-sungguhnya. Oleh karena itu, mereka mengajukan keberatan kepada Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, “Jika Engkau memang Al-Mahdīas sejati, di manakah kedamaian yang dijanjikan akan memenuhi bumi itu?” Sebenarnya, dengan hanya mengambil sekilas dari riwayat hidup Nabi MuḥammadSAW, keberatan mereka ini telah terpatahkan. Kita mengetahui bahwa Nabi SuciSAW disebut dalam Alquran sebagai rahmat bagi sekalian alam. Namun, jika Kita memandang dari perspektif lahiriah saja, Kita akan mendapati bahwa, alih-alih menjadi rahmat, justru beliau datang dengan membawa pertumpahan darah. Padahal, maksud dari rahmat bagi sekalian alam adalah bahwa orang-orang yang beriman kepada NabiSAW dan menerima Islam akan menjadi pembawa obor rahmat bagi manusia. Adapun mereka yang mendustakan dan menentang, mereka sama saja mencerburkan diri mereka sendiri ke dalam kubangan kemurkaan Tuhan. Alangkah indahnya perkataan Ḥaḍrat Rib‘ī bin ‘Āmirra ketika beliau berdialog dengan Rustam, salah seorang petinggi Kerajaan Sassania:

اللّٰه ابتعثنا لنخرج من شاء من عبادة العباد إلى عبادة اللّٰه، ومن ضيق الدنيا إلى سعتها، ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام، فأرسلنا بدينه إلى خلقه لندعوهم إليه.

“Allah telah membangkitkan Kami untuk mengeluarkan siapa yang Dia kehendaki dari penyembahan hamba kepada penyembahan Allah, dari kesempitan dunia kepada keluaasannya, dan dari ketidakadikan agama-agama kepada keadilan Islam. Oleh karena itu, Dia mengutus Kami dengan membawa agama-Nya kepada para makhluk-Nya supaya Kami menyeru mereka kepadanya.”

[Al-Ḥāfiẓ Ibnu Katsīr Ad-Dimasyqī, Al-Bidāyah Wa An-Nihāyah v. 9 (Beirut: Hijr, 1998 M/1418 H), h. 622]

Demikian juga, orang-orang yang beriman kepada Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas adalah mereka yang akan mendapat keberkatan. Mereka akan menjadi para pelopor keadilan dan kedamaian di dunia ini. Adapun mereka yang menolak, bagi mereka terdapat siksa Allah yang sangat pedih. Beliau bersabda:

“Adapun laknat, hal itu disediakan bagi orang-orang yang mendustakanku dengan mengikuti persangkaan mereka, mengkafirkanku dengan menerka perkara gaib, dan tidak mengetahui hakikat lagi tidak bertadabur. Mereka tidak meminta dariku apa yang dapat menyembuhkan hati mereka dan tidak juga mendatangiku supaya mereka menyaksikan tanda-tanda dan supaya mereka selamat dari syubhat-syubhat sebagaimana hal itu dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa. Ketahuilah! Sesungguhnya, mereka itulah orang-orang yang celaka di dunia dan di akhirat. Semoga laknat Allah tertimpakan atas mereka karena mereka mengkafirkan sesama muslim tanpa ilmu, karena mereka menyangka dengan persangkaan yang jelek, dan kerena mereka tergesa-gesa.

Adapun keberkatan, hal itu dipersembahkan bagi orang-orang yang mendengar perkataanku, melihat tanda-tandaku, menyangka diri mereka sendiri dengan persangkaan yang baik, dan menerima kebenaran lagi tidak menyombongkan diri. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Mereka bangkit untuk mencari kebenaran dengan sesungguh-sungguhnya. Mereka tidak berjalan terjungkal atas wajah mereka, mereka bertanya ketika menghadapi syubhat supaya mereka selamat darinya, dan mereka tidak menetapi kebatilan lagi tidak bersikap lalai. Oleh karena itu, selawat, rahmat, dan keberkatan Allah semoga selalu tercurahkan atas mereka dan mereka adalah kaum yang dirahmati.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, At-Tablīgh (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2004 M/1425 H), hh. 23-24]

Dalam kepemimpinan Ḥaḍrat Mīrzā Masroor Aḥmadatba sebagai Khalīfat-ul-Masīḥ V ini, Jemaat Muslim Ahmadiyah telah, sedang, dan akan menjadi komunitas terdepan dalam mempromosikan dan mengadvokasi keadilan dan perdamaian. Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥatba telah banyak menyampaikan pidato-pidato dan berkunjung ke berbagai negara dari Timur ke Barat untuk mengingatkan manusia akan pentingnya kedua prinsip tersebut. Terakhir, Jemaat Muslim Ahmadiyah Britania Raya telah mengadakan “Peace Sympsioum” yang bertemakan “Khilafat, Peace, and Justice” pada 9 November 2014 dengan keynote speech dari Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥatba  yang berisikan condemnation terhadap kebiadaban dan keaniayaan yang dilakukan ISIS atas nama Islam dan Nabi Suci MuḥammadSAW. Press release dari acara tersebut dapat dibaca di sini.

Singkatnya, semua ini semata-mata merupakan pengejawentahan kebenaran nubuat NabiSAW dan kita beruntung termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengambil bagian di dalamnya.

[3] Di tempat lain, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda:

“Sesungguhnya, Dia memiliki hamba-hamba dari antara para wali yang dinamai di langit dengan nama-nama para nabi karena mereka menyerupai mereka dalam jauhar dan tabiat mereka dan karena mereka mengambil secercah cahaya dari cahaya-cahaya mereka dan mereka diciptakan di atas akhlak mereka. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka para pewaris bagi mereka dan memanggil mereka dengan nama orang-orang yang mereka wariskan. Seperti itulah Dia bekerja dan Dialah Sebaik-baik Pekerja. Demikian juga, ruh-ruh memiliki perhubungan dengan ruh-ruh lain yang tidak apat dicerna kehalusan-kehalusannya. Oleh karena itu, orang-orang yang saling berhubungan terhitung sebagai diri yang satu dan nama-nama mereka dikenakan kepada yang lain. Seperti itulah sunah Allah berjalan. Hal itu adalah sebuah perkara yang tidak tersembunyi dari orang-orang yang arif. Sesungguhnya, Allah itu tunggal dan Dia mencintai ketunggalan. Oleh karena itu, sunah-Nya senantiasa berlaku bahwa Dia mengutus sebagian wali di atas jejak kaki sebagian nabi. Oleh karena itu, seseorang yang dibangkitkan di atas jejak kaki seorang nabi, dia akan dinamai di sisi Al-Mala’ Al-A‘lā dengan nama nabi yang terpercaya itu, Allah akan menurunkan kepadanya rahasia ruhnya, hakikat jauharnya, kesucian jalan hidupnya, dan keagungan karakter-karakternya, Dia akan mempersatuan jauharnya dengan jauharnya, tabiatnya dengan tabiatnya, dan namanya dengan namanya, Dia akan menjadikan keinginan-keinginannya di dalam keinginan-keinginannya, orientasi-orientasinya di dalam orientasi-orientasinya, dan tujuan-tujuannya dalam tujuan-tujuannya, dan Dia akan menjadikan mereka berdua layaknya kedua cermin yang saling berhadap-hadapan dalam pencahayaan dan penerimaan cahaya seolah-olah mereka berdua adalah wujud yang satu. Itulah rahasia tauhid mengenai ruh orang-orang yang baik. Ini jugalah rahasia mengapa Allah menamaiku dengan asuhan-Nya sebagai Masīḥ Mau‘ūd. Oleh karena itu, berpikirlah mengenai rahasia itu dan janganlah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tergesa-gesa!”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, At-Tablīgh (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2004 M/1425 H), hh. 7-8]

[4] Salah satu nama Nabi SuciSAW adalah Aḥmad seperti terdapat dalam Alquran:

وَإِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ إِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ إِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَّأْتِيْ مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُۖ  فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ﴿﴾

“Ingatlah  ketika ‘Īsā bin Maryamas berkata, ‘Wahai Banī Isrā’īl! Sesungguhnya, Aku adalah seorang rasul Allah kepadamu untuk membenarkan apa yang datang sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar suka mengenai seorang rasul yang akan datang setelahku yang bernama Ahmad.’ Ketika dia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’”

[Q.S. 61:7]

Ibnu Ḥajar Al-Haitsamī mengatakan:

أن اسمه اسم النبي صلى اللّٰه عليه وسلم محمد، وفي رواية تأتي أحمد، ولا تنافي لإمكان أنه يسمى بكلايهما.

“Nama Al-Mahdīas adalah nama NabiSAW Muḥammad. Terdapat juga dalam sebuah riwayat bahwa nama beliau adalah Aḥmad. Ini tidak menafikan bahwa mungkin saja beliau dinamakan dengan kedua nama itu.”

[Ibnu Ḥajar Al-Haitsamī, Al-Qaul Al-Mukhtaṣar Fī ‘Alāmāt Al-Mahdī Al-Muntaẓar (Kairo: Maktabah al-Qur’ān, 1987 M), h. 27]

[5] Terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Wahai Aḥmad! Nama engkau akan berakhir, sedangkan nama-Ku tidak akan berakhir.”

Yang saya tangkap dari sini adalah bahwa Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas juga mendapat nama rohani Aḥmad sebagaimana Nabi SuciSAW mendapat nama rohani Aḥmad. Dalam sebuah hadis, Kita membaca:

حدثني إبراهيم بن المنذر؛ قال: حدثني معن؛ عن مالك، عن ابن شهاب، عن محمد بن جبير بن مطعم، عن أبيه رضي الله عنه، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: لِيْ خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ: أَنَا مُحَمَّدٌ وَّأَحْمَدُ، وَأَنَا الْمَاحِيْ الَّذِيْ يَمْحُو اللّٰهُ بِيَ الْكُفْرَ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلٰى قَدَمِيْ، وَأَنَا الْعَاقِبُ.

“Ibrāhīm bin Al-Mundzir menceritakan kepadaku; dia berkata: Ma‘n menceritakan kepadaku; dari Mālik, dari Ibnu Syihāb, dari Muḥammad bin Jubair bin Muṭ‘im, dari ayahnya (Ḥaḍrat Jubair bin Muṭ‘imra), beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Aku memiliki 5 nama: Aku adalah Muḥammad dan Aḥmad, Aku adalah Al-Māḥī yang denganku Allah menghapus kekafiran, Aku adalah Al-Ḥāsyir yang manusia kelak akan dihimpun di bawah kakiku, Aan aku adalah Al-‘Āqib.”

[Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Al-Manāqib, Bāb Mā Jā’a Fī Asmā’i RasūlillāhSAW, no. 3532]

Hal yang menarik dari hadis ini adalah bahwa nama Aḥmad menempati posisi khabar tsānī dan ‘aṭf terhadap nama Muḥammad, tidak seperti yang lain. Ini menunjukkan bahwa nama Aḥmad dan Muḥammad merupakan satu-kesatuan. Sayyidunā Imām Mahdīas bersabda:

“Sesungguhnya, Zat Allah Taala, sebagaimana Dia menghendaki diri-Nya menjadi wujud Maḥbūbah (maksudnya adalah Ar-Raḥmān, beliau telah terangkan sebelumnya – penj.) dan Muḥibbah (maksudnya adalah Ar-Raḥīm, beliau telah terangkan sebelumnya – penj.) bagi manusia, Dia pun menghendaki hamba-hamba-Nya yang sempurna menjadi seperti Zat-Nya bagi sesamanya dalam akhlak dan jalan hidup dan menjadikan kedua sifat ini (Raḥmāniyyat dan Raḥīmiyyat – penj.) pakaian dan seragam sehingga ‘ubūdiyyat dapat berakhlak dengan akhlak-akhlak rabūbiyyat dan cacat tidak tersisa dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, Dia menciptakan para nabi dan rasul. Kemudian, Dia menjadikan sebagian mereka manifestasi sifat Raḥmāniyyat dan sebagian lain manifestasi sifat Raḥīmiyyat agar mereka menjadi maḥbūbīn (orang-orang yang dicintai) dan muḥibbīn (orang-orang yang mencintai) untuk saling mencintai berkat karunia Allah Yang Mahagung. Kemudian, Dia menganugerahi sebagian mereka keberuntungan yang berlimpah dari sifat Maḥbūbiyyat dan menganugerahi sebagian lain keberuntungan yang banyak dari sifat Muḥibbiyyat. Seperti itulah yang Dia kehendaki berdasarkan karunia-Nya yang menyeluruh dan kedermawanannya yang bersifat kadim. Ketika zaman Junjungan kita dan Junjungan para rasul, Khātam-un-Nabiyyīn, MuḥammadSAW tiba, Dia berkehendak untuk menggabungkan kedua sifat ini dalam diri yang satu lalu Dia pun menggabungkannya dalam diri beliau, semoga sejuta selawat dan penghormatan selalu tercurahkan atas beliau. Oleh karena itu, Dia menyebutkan sifat Maḥbūbiyyat dan sifat Muḥibbiyyat secara khusus pada permulaan Surah ini (Al-Fātiḥah – penj.) supaya hal itu dapat menjadi isyarat yang mengarah kepada kehendak ini. Dia menamakan Nabi kita Muḥammad dan Aḥmad sebagaimana Dia menamakan diri-Nya Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm dalam ayat ini. Dengan demikian, ini adalah isyarat bahwa tidak ada seorangpun yang mampu menggabungkan kedua sifat itu secara bayangan ẓillī, kecuali wujud Junjungan kita, Sebaik-baik ManusiaSAW. Engkau telah arif bahwa kedua sifat ini merupakan yang terbesar dari antara sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, keduanya merupakan inti dari segala inti dan hakikat dari segala hakikat dan keduanya merupakan standar kesempurnaan bagi setiap orang yang menyempurnakan diri dan berakhlak dengan akhlak-akhlak ketuhanan. Tidak ada seorangpun yang telah dianugerahi kadar yang sempurna dari keduanya, kecuali Nabi kitaSAW, Sang Materai bagi Silsilah Kenabian. Sesungguhnya, beliau telah dianugerahi dua nama seperti kedua sifat ini. Yang pertama adalah Muḥammad dan yang kedua adalah Aḥmad berkat karunia Tuhan kedua alam. Adapun Muḥammad, ia memakai pakaian sifat Ar-Raḥmān dan mengejawantah dalam jubah-jubah jalāliyyat dan Maḥbūbiyyat, ia pun dipuji karena kedermaannya dan kebaikannya. Adapun Aḥmad, ia mengejawantah dalam jubah Raḥimiyyat, Muḥibbiyyat, dan jamāliyyat berkat karunia Allah yang menjadikan orang-orang mukmin sebagai teman-teman-Nya dengan bantuan dan pertolongan. Dengan demikian, kedua nama Nabi kitaSAW telah menjadi sebuah terompah yang berpasangan dengan terompah kedua sifat Tuhan kita Yang Maha Pengasih layaknya gambar yang terfeleksikan yang ditampilkan oleh dua buah cermin yang saling berhadap-hadapan.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, I‘jāz al-Masīḥ dalam Rūḥānī Khazā’in v. 18 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 100-103]

Lagi:

“Tidak ada keraguan bahwa Nabi kitaSAW dinamai Muḥammad karena Allah berkehendak untuk menjadikan beliau maḥbūb (wujud yang dicintai – penj.) dalam pandangan-Nya dan pandangan orang-orang saleh. Demikian juga, Dia menamakan beliau Aḥmad ketika Dia berkehendak untuk menjadikan beliau muḥibb (wujud yang mencintai – penj.) terhadap Zat-Nya dan orang-orang yang muslim lagi mukmin.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, I‘jāz al-Masīḥ dalam Rūḥānī Khazā’in v. 18 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 109]

Dalam Aik Ghalaṭī Kā Izālah, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas menyebutkan bahwa beliau juga dipanggil sebagai Muḥammad. Namun, nama yang paling dominan termanifestasikan dalam diri beliau adalah Aḥmad dan nama Aḥmad ini pada hakikatnya diambil dari nama Nabi SuciSAW karena Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas telah sedemikian fananya tercelup dalam jamāliyyat NabiSAW hingga beliau dianugerahi nama yang mengandung jamāliyyat itu dan dijadikan sebagai pemanifestasian jamāliyyat NabiSAW pada akhir zaman ini. Beliau bersabda:

“Kemudian, ketika kekhususan Nabi yang ditaati lagi banyak bersujud ini dengan pujian-pujian dari Tuhan para hamba disangka akan membawa kepada kesyirikan sebagamana ‘Īsāas disembah karena iktikad ini, Allah berkehendak untuk mewariskan kedua sifat itu kepada umat beliau yang dirahmati secara ẓillī agar keduanya menjadi keberkatan-keberkatan yang terus-menerus menjangkau umat dan agar waham akan adanya keserikatan seorang hamba yang khusus dalam sifat-sifat ketuhanan menjadi hilang. Oleh karena, dia menjadikan para Sahabatra dan orang-orang yang mengikuti mereka manifestasi nama Muḥammad dengan martabat-martabat Raḥmāniyyat dan jalāliyyat, memberikan kepada mereka keunggulan, dan menolong mereka dengan bantuan-bantuan yang berturut-turut. Selanjutnya, Dia menjadikan Masīḥ Mau‘ūdas manifestasi nama Aḥmad dengan martabat-martabat Raḥīmiyyat dan jamāliyyat, menetapkan dalam hatinya rahmat dan kelembutan, dan mendidiknya dengan akhlak-akhlak yang mulia lagi luhur. Dengan demikian, itulah dia Mahdī Ma‘hūdas yang mengenainya orang-orang bermusuhan.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, I‘jāz al-Masīḥ dalam Rūḥānī Khazā’in v. 18 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 110-111]

Lagi:

“Kemudian, ketika para Sahabat mewarisi nama Muḥammad dari Allah Yang Maha Memberi, mereka menampilkan jalāliyyat Allah dan membunuh orang-orang zalim yang adalah bagaikan binatang dan cacing. Demikian juga, Masīḥ Mau‘ūdas mewarisi nama Aḥmad yang merupakan manifestasi Raḥīmiyyat dan jamāliyyat dan Allah memilih nama ini baginya dan bagi orang-orang yang mengikutinya hingga mereka menjadi layaknya keluarga baginya. Dengan demikian, Masīḥ Mau‘ūdas beserta Jemaatnya merupakan manifestasi dari Allah bagi sifat Raḥīmiyyat dan Aḥmadiyyat agar firman-Nya وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ menjadi sempurna, – tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi kehendak Rabbāniyyat –,  dan agar hakikat manifestasi-manifestasi kenabian juga menjadi sempurna. Inilah dia wajah pengkhususan sifat Raḥmāniyyat dan Raḥīmiyyat dalam basmalah supaya hal itu menjadi dalil bagi kedua nama Muḥammad dan Aḥmad dan manifestasi-manifestasinya yang akan datang, yakni para Sahabatra dan Al-Masīḥ kepunyaan Allah yang akan datang dalam jubah-jubah Raḥīmiyyat dan Aḥmadiyyat.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, I‘jāz al-Masīḥ dalam Rūḥānī Khazā’in v. 18 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 114-115]

Sebagai tambahan, Ḥaḍrat Imam Zamanas acapkali dipanggil sebagai ‘Aḥmad’ dalam wahyu. Di sini saya berikan beberapa contoh:

بُوْرِكْتَ يَا أَحْمَدُ!

“Engkau telah diberkati, wahai Aḥmadas!”

[Tadzkirah, h. 840]

يَا أَحْمَدُ! أُجِيْبُ كُلَّ دُعَائِكَ إِلَّا فِيْ شُرَكَائِكَ.

“Wahai wahai Aḥmadas! Aku akan mengabulkan semua doa engkau, kecuali yang berkaitan dengan keluarga engkau.”

[Tadzkirah, h. 33]

يَا أَحْمَدُ! اُسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ.

“Wahai Aḥmadas! Tinggallah Engkau dan istri engkau di dalam surga.”

[Tadzkirah, h. 56]
يَا أَحْمَدُ! بَارَكَ اللّٰهُ فِيْكَ.

“Wahai Aḥmadas! Allah telah memberkati Engkau.”

[Tadzkirah, h. 56]

يَا أَحْمَدُ! جُعِلْتَ مُرْسَلًا.

“Wahai Aḥmadas! Engkau telah dijadikan seorang rasul.”

[Tadzkirah, h. 632]

يَا أَحْمَدُ! فَاضَتِ الرَّحْمَةُ عَلٰى شَفَتَيْكَ.

“Wahai Aḥmadas! Rahmat mengalir dari kedua bibir engkau.”

[Tadzkirah, h. 57]

بُشْرٰى لَكَ يَا أَحْمَدِيْ!


“Kabar suka bagi Engkau, wahai Aḥmad-Ku!”

[Tadzkirah, h. 101]

يَا أَحْمَدِيْ! أَنْتَ مُرَادِيْ وَمَعِيْ.

“Wahai Aḥmad-Ku! Engkau merupakan kehendak-Ku dan bersama-Ku.”

[Tadzkirah, h. 287]

Berkenaan dengan nama asli beliau, Ghulām Aḥmad dan Mīrzā, beliau hanya pernah dipanggil dua kali dalam wahyu dengan kedua nama itu. Berikut ini adalah kedua wahyu itu:

بُشْرٰى لَكَ يَا غُلَامَ أَحْمَدَ!

“Kabar suka bagi Engkau, wahai Ghulām Aḥmadas!”

[Tadzkirah, h. 659]

اِصْبِرْ سَنَفْرُغُ يَا مِرْزَا!

“Bersabarlah! Kami akan datang, wahai Mīrzāas!”

[Tadzkirah, h. 164]

Ini menunjukkan bahwa nama Aḥmad yang dengannya beliau dipanggil dalam wahyu adalah nama ruhani beliau seperti nama-nama rohani lain seperti Ibrāhīm, ‘Abd-ul-Qādir, Masrūr, dan lain-lain yang dengan kesemuanya itu beliau dipanggil dalam wahyu.

[6] Terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Dan Dia mengajarkan kepada Ādamas semua nama.”

Menurut Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas, nama-nama yang pertama kali diajarkan kepada Ādamas adalah Muḥammad dan Aḥmad. Beliau bersabda:

وَالصَّلوٰةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى الرَّسُوْلِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ مُحَمَّدٍ أَحْمَدَ الَّذِيْ اسْمَاهُ هٰذَانِ أَوَّلُ أَسْمَاءٍ عُرِضَتْ عَلٰى آدَمَ، وَبِمَا كَانَا عِلَّةً غَائِيَّةً لِلنَّشْأَةِ الْأُوْلٰى وَكَانَا فِيْ عِلْمِ اللّٰهِ أَشْرَفَ وَأَقْدَمَ.

“Selawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada sang Rasul, yakni Nabi Ummī Muḥammad Aḥmad yang kedua nama beliau ini adalah yang pertama dari antara nama-nama yang dilimpahkan kepada Ādamas karena keduanya adalah tujuan terakhir bagi kehidupan dunia dan karena keduanya dalam ilmu Allah merupakan yang paling mulia dan yang paling utama.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Najm al-Hudā dalam Rūḥānī Khazā’in v. 14 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 3]

[7] Kita mengetahui bahwa sebagaimana dikatakan oleh beliau sendiri dalam Al-Khūṭbah Al-Ilhāmiyyah, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas adalah manifestasi dari Al-Ḥaqīqat Al-Muḥammadiyyat. Dengan demikian, maksud dari, “Seorang alim secara menyeluruh lagi matsīl segenap alam raya,” adalah karena Al-Mahdīas semata-mata merupakan wujud kedatangan yang kedua kali dari Nabi SuciSAW yang dalam sebuah hadis qudsi disebutkan:

أخبرنا محمد بن المبارك؛ حدثني الوليد بن مسلم؛ حدثني ابن جابر؛ عن خالد بن اللجلاج، وسأله مكحول أن يحدثه، قال: سمعت عبد الرحمن بن عائش يقول: سمعت رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم يقول: رَأَيْتُ رَبِّيْ فِيْ أَحْسَنِ صُوْرَةٍ، قَالَ: فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلٰى؟ فَقُلْتُ: أَنْتَ أَعْلَمُ يَا رَبِّ. قال: فَوَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ، فَوَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيِيْ، فَعَلِمْتُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ. وتلا: وَكَذٰلِكَ نُرِيْ إِبْرَاهِيْمَ مَلَكُوْتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْمُوْقِنِيْنَ سورة الأنعام آية 75.

“Muḥammad bin Al-Mubārak mengabarkan kepada Kami; Al-Walīd bin Muslim menceritakan kepadaku; Ibnu Jābir menceritakan kepadaku; dari Khālid bin Al-Lajlāḥ, – sekali waktu, Makḥūl memintanya untuk menceritakan hadis Ḥaḍrat ‘Abd-ur-Raḥmān bin ‘Ā’isyra –, dia berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat ‘Abd-ur-Raḥmān bin ‘Ā’isyra berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Aku melihat Tuhanku dalam bentuk yang paling indah. Dia bertanya kepadaku: Mengenai apa Al-Mala’ Al-A‘lā saling bertentangan? Aku menjawab: Engkau lebih mengetahui, wahai Tuhanku! Beliau melanjutkan: Kemudian, Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua bahuku dan Aku pun merasakan dinginnya pada kedua dadaku. Lantas, Aku menjadi tahu apa yang ada di langit dan bumi. Kemudian, beliau menilawatkan ayat ini: Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrāhīmas kerajaan langit dan bumi supaya dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang yakin.”

[Sunan ad-Dārimī, Kitāb Ar-Ru’yā, Bāb Ru’yat ar-Rabb Ta‘ālā Fī an-Naum, no. 2320]

Sanad hadis ini ṣaḥīḥ li dzātihi. Semua perawinya tsiqāt. Secara ringkas Saya sarikan di sini keterangan dari Al-‘Allāmah Al-Mizzī dalam Tahdzīb al-Kamāl dan Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar dalam Taqrīb at-Tahdzīb:

a. Muḥammad bin Al-Mubārak

Nama lengkapnya adalah Muḥammad bin Al-Mubārak bin Ya‘lā Al-Qursyī Al-Baṣarī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, berasal dari ṭabaqah ke-9.

b. Al-Walīd bin Muslim

Nama lengkapnya adalah al-Walīd bin Muslim Al-Qursyī Ad-Dimasyqī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, berasal dari ṭabaqah ke-8.

c. Ibnu Jābir

Nama lengkapnya adalah ‘Abd-ur-Raḥmān bin Yazīd bin Jābir Al-Azdī. Dia merupakan seorang yang tsiqah, berasal dari ṭabaqah ke-7.

d. Khālid bin Al-Lajlāḥ

Nama lengkapnya adalah Khālid bin Al-Lajlāḥ Al-‘Āmirī. Dia seorang yang ṣadūq lagi fāḍil, berasal dari ṭabaqah ke-2.

Jadi, Al-Mahdīas menjadi matsīl bagi sekalian alam raya adalah karena beliau mengetahui segala apa yang ada di langit dan di bumi seolah-olah beliau merupakan alam itu sendiri. Semua ini tidak berarti apa-apa, kecuali buah dari  keberkatan-keberkatan Nabi SuciSAW. Sejatinya, setiap keberkatan yang Al-Mahdīas terima semata-mata merupakan milik Nabi SuciSAW pada aslinya lalu dihibahkan kepada beliau karena kefanaan yang paripurna dalam wujud beliau sampai suatu batas yang beliau sendiri terangkan:

“Wajahku telah terserap ke dalam wajah beliau dan engkau dapat mencium keharuman beliau dari rumahku dan dari setiap jalan yang Aku lalui. Aku hilang dalam kecintaan kepada beliau. Pada realitasnya, Akulah beliau, Akulah beliau, Akulah beliau. Ruhku dipupuk dari ruh beliau dan matahari yang sama telah terbit dari pribadiku. AḥmadSAW telah nampak dalam tubuh Aḥmadas. Dengan demikian, Aku telah diberikan nama yang sama yang telah diberikan kepada manusia yang abadi ini.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Sirāj-e-Munīr dalam Rūḥānī Khazā’in v. 12 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 97]

Beliau mendapat wahyu:

كُلُّ بَرَكَةٍ مِّنْ مُّحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَبَارَكَ مَنَ عَلَّمَ وَتَعَلَّمَ.

“Setiap berkat berasal dari MuḥammadSAW. Oleh karena itu, beberkatlah dia yang mengajar (MuḥammadSAW – penj.) dan belajar (Aḥmadas – penj.).”

[Tadzkirah, h. 56]

Oleh karena itu, Asy-Syaikh ‘Abd-ur-Razzāq Al-Qāsyānī menulis:

أن خاتم الأولياء قد يكون تابعا في حكم الشرع كما يكون المهدي الذي يجيء في آخر الزمان فإنه يكون في أحكام الشريعة تابعا لمحمد صلى الله عليه وسلم، وفي المعارف والعلوم والحقيقة تكون جميع الأنبياء والأولياء تابعين له كلهم. ولا يناقض ما ذكرناه لأن باطنه باطن محمد صلى اللّٰه عليه وسلم. ولهذا قيل أنه حسنة من حسنات سيد المرسلين.

“Sesungguhnya, Khātam-ul-Auliyā’ bisa jadi merupakan pengikut dalam hukum Syariat seperti Al-Mahdīas yang akan datang pada akhir zaman karena beliau akan menjadi pengikut MuḥammadSAW dalam hukum-hukum Syariat, sedangkan dalam makrifat, ilmu, dan hakikat, semua nabi dan wali menjadi pengikut beliau. Ini tidaklah bertentangan dengan apa yang telah Kami sebutkan karena batin beliau sejatinya merupakan batin MuḥammadSAW. Oleh karena itu, dikatakan bahwa beliau merupakan kebaikan dari antara kebaikan-kebaikan Junjungan para nabiSAW.”

[Asy-Syaikh ‘Abd-ur-Razzāq Al-Qāsyānī, Syarḥ Fuṣūṣ al-Ḥikam (Kairo: Al-Maktabah Al-Maimaniyyah, tt), h. 35]

[8] Mengenai cahaya dalam fitrat ayah Nabi SuciSAW, terdapat sebuah kisah yang menarik dari Ibnu Jarīr Aṭ-Ṭabarī dengan sanadnya sampai kepada Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra. Saya ringkaskan di sini bahwa ketika ‘Abd-ul-Muṭallib hendak menikahkan ‘Abdullāh, dia bertemu dengan seorang dukun wanita dari kabilah Khats‘am, sebuah kabilah yang berasal-usul dari Yaman, yang bernama Fāṭimah binti Murr. Ibnu Sa‘d dengan sanadnya sampai kepada Abū Fayyāḍ Al-Khats‘amī mengatakan bahwa dukun wanita ini termasuk yang paling cantik dan paling menjaga diri di kalangan Arab pada saat itu serta masih muda hingga para pemuda Quraisy berkeinginan untuk meminangnya. Dia datang dengan tergesa-gesa dari kediamannya di Tabālah, sebuah tempat di Mekkah. Dia telah mebaca kitab-kitab terdahulu. Dia melihat cahaya di wajah ‘Abdullāh. Kemudian, terjadilah sebuah percakapan di bawah ini:

Fāṭimah:   “Wahai pemuda! Maukah Engkau menyetubuhiku sekarang lalu Aku akan memberikan seratus unta sebagai gantinya?”

‘Abdullāh:  Adapun yang haram, lebih baik mati daripada melakukannya. Adapun yang halal, tidak diragukan bahwa aku akan bersegera melaksanakannya.

Oleh karena itu, bagaimana Aku bisa melakukan perkara yang Engkau dambakan, sedangkan seseorang yang mulia adalah dia yang menjaga kehormatan dan keyakinannya.

Aku bersama ayahku dan aku tidak sanggup untuk memisahkan diri darinya.”

Kemudian, ‘Abd-ul-Muṭallib bersama ‘Abdullāh meninggalkan dukun wanita itu lalu menikahkannya dengan Āminah binti Wahb dari Banī Zuhrah. ‘Abdullāh tinggal di rumah Āminah selama tiga hari. Kemudian, dia pulang ke rumahnya. Di tengah jalan, dia kembali bertemu dengan sang dukun wanita dan dia kembali menawarkan dirinya untuk disetubuhi. ‘Abdullāh bertanya kepadanya, “Apakah Engkau belum juga mendapatkan apa yang Engkau inginkan?” Dia menjawab, “Wahai pemuda! Demi Allah! Sesungguhnya, Aku sama sekali bukan merupakan wanita murahan. Namun, Aku telah melihat cahaya di wajah engkau dan Aku berkeinginan agar cahaya itu terdapat juga di dalam diriku. Hanya saja, Allah telah menolak dan telah menempatkannya di tempat yang telah Dia kehendaki.” Wanita itu bertanya lagi, “Apa yang telah Engkau lakukan setelah bertemu denganku?” ‘Abdullāh menjawab, “Ayahku telah menikahkanku dengan Āminah binti Wahb lalu Aku tinggal di rumahnya selama tiga hari.” Lantas, wanita itu berkomentar dengan sebuah syair yang panjang yang intinya adalah bahwa bayi yang akan dilahirkan Āminah akan menjadi “kebanggaan tiada duanya”.

[Ibnu Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Tārīkh ar-Rusul Wa al-Mulūk v. 6 (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1967 M/1387 H), hh. 244-245; Muḥammad bin Sa‘d Al-Baghdādī, Aṭ-Ṭabaqāt Al-Kabīr v. 1 (Kairo: Maktabat al-Khanājī, 2001 M/1421 H), h. 76]

Banyak versi yang beredar seputar kisah ini. Namun, setelah melakukan penelitian, Saya mengambil kesimpulan bahwa riwayat Ibnu Jarīr ini merupakan yang paling benar dari antara semuanya. Sanadnya ḥasan karena faktor Muslim bin Khālid Az-Zanjī, seorang yang ṣadūq, namun tetapi memiliki keragu-raguan.

Satu hal yang dapat Kita ambil dari sini adalah bahwa ayah Nabi MuḥammadSAW, ‘Abdullāh, adalah seorang yang menjaga kesucian. Beliau mampu menahan godaan seorang wanita jelita yang jelas-jelas telah menawarkan dirinya kepada beliau. Ini menunjukkan kebenaran sabda Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bahwa fitrat ayah beliau telah dikuasai oleh cahaya hingga desakan syahwat untuk berzina yang timbul dari kekotoran pikiran ditolak mentah-mentah. Ini mengingatkan kita pada sebuah hadis:

أنبأنا أبو محمد عبد الله بن صالح البخاري؛ قال: حدثنا محمد بن أبي عمر العدني؛ قال: حدثنا محمد بن جعفر بن محمد بن علي بن الحسين رضي اللّٰه عنهم؛ قال: أشهد على أبي يحدث، عن أبيه، عن جده، عن علي رضي اللّٰه عنه، أن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم قال: خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِّنْ لَّدُنْ آدَمَ إَلٰى أَنْ وَلَدَنِيْ أَبِيْ وَأُمِّيْ، لَمْ يُصِبْنِيْ مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ شَيْءٌ.

“Abū Muḥammad ‘Abdullāh bin Ṣāliḥ Al-Bukhārī memberitakan kepada Kami; dia berkata: Muḥammad bin Abī ‘Umar Al-‘Adanī menceritakan kepada Kami; dia berkata: Muḥammad bin Ja‘far bin Muḥammad bin ‘Alī bin Al-Ḥusain menceritakan kepada Kami; dia berkata: Aku bersaksi bahwa ayahku menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ḥaḍrat ‘Alīra, bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Aku dilahirkan dari hasil pernikahan dari Ādamas sampai kedua orang tuaku, bukan dari hasil perserongan. Perserongan jahiliah tidak pernah menimpaku.”

[Asy-Syarī‘ah Li Al-Ājurrī, Bāb Dzikru Qaulihi ‘Azza Wa Jalla Wa Taqallubaka Fī as-Sājidīn, no. 957]

Adapun sabda Imām Mahdīas bahwa ayah Nabi SuciSAW tertutupi atau mastūr, hal itu bermaksud bahwa tidak banyak kisah kehidupan beliau yang dapat dijumpai dalam kitab-kitab sejarah. Yang dapat Kita baca dalam kitab-kitab sejarah mengenai riwayat beliau adalah kisah kelahiran beliau, kisah penyembelihan ‘Abd-ul-Muṭallib terhadap beliau hingga beliau dinama Adz-Dzabīḥ Ats-Tsānī atau ‘orang kedua yang disembelih setelah Ismā‘īlas”, kisah pernikahan beliau dengan Āminah, dan kisah perjalanan niaga beliau ke Gaza dan Syam untuk yang terakhir kalinya yang tidak dapat dirampungkan karena beliau telah wafat terlebih dahulu di Yatsrīb.

[9] Kondisi fitrah ayah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas dicukupkan dengan keterangan Maulānā Dārdra di sini:

“Mīrzā Ghulām Murtaḍā merupakan seorang tabib yang besar. Dia telah mempelajari pengobatan di Baghpanpura di bawah Rūḥullāh dan di Delhi di bawah keluarga Syarīf Khān. Di menangani orang-orang dengan bebas biaya, tidak mengharapkan apa-apa sebagai timbal balik. Raja Tejā Singh dari Batala sekali waktu menawarkannya sejumlah uang yang banyak dan sebuah khil‘at dengan dua desa, yaitu Shitabkor dan Hasanpur, sebagai timbal balik atas pengkhidmatan-pengkhidmatannya dalam pengobatan. Dua desa itu sejatinya pernah termasuk ke dalam daerah-daerah yang terafiliasi dengan leluhurnya, tetapi dia menolak seraya berkata bahwa ini merupakan penghinaan baginya dan anak-anaknya untuk menerima sedikitpun bayaran.

Maharaja Syer Singh sekali waktu datang ke Kahnuwan dalam suatu perjalanan berburu. Mīrzā Ghulām Murtaḍā juga menyertainya. Seorang pelayan Maharaja terjangkit dingin yang amat parah. Mīrzā Ṣāḥib pun menyembuhkannya dengan resep yang murah dan biasa-biasa saja. Kemudian, Syer Singh terjangkit dingin yang serupa. Mīrzā Ṣāḥib pun meresepkan untuknya pengobatan yang sangat mahal yang membuat Maharaja menanyakan alasannya atas penanganan yang berbeda ini. Mīrzā Ṣāḥib menjawab bahwa dia tidak berpikir bahwa pelayan itu memiliki status yang setara dengan Maharaja. Syer Singh menjadi teramat senang dengan balasan ini.

Mīrzā Ṣāḥib begitu dermawan kepada musuh-musuhnya. Seorang Brahmana yang bernama Joti yang telah menuntutnya ke pengadilan ditangani olehnya dengan amat sangat simpatik sewaktu dia jatuh sakit. Seseorang sekali waktu mengucapkan selamat kepadanya atas kematian seorang musuh. Mīrzā Ṣāḥib menjadi amat sangat tidak senang lalu mengeluarkannya dari persahabatan.

Dia mempunyai perasaan yang peka terhadap kehormatan diri. Dia sekali waktu pergi untuk melihat Mr. Robert Cust, Komisioner Lahore, karena beberapa urusan bisnis. Dalam perbincangan, Mr. Cust menanyakan kepadanya dengan suasana resmi jarak antara Srigobindpur dan Qadian. Mīrzā Ṣāḥib menjawab bahwa dia di sana tidaklah untuk menjawab pertanyaan semacam itu layaknya seorang pekerja sewa lalu bangkit untuk meninggalkannya. Komisioner menyadari kesalahannya dan menjadi sangat terkesima oleh pertunjukan kemandirian dan kewibaan ini.

Salah seorang putra Mīrzā Ghulām Murtaḍā, Mīrzā Ghulām Qādir, adalah seorang Subinspektor Polisi dan Mr. Nisbet, Deputi Komisoner, sekali waktu menskorsnya. Deputi Komisioner berbicara tentang hal itu kepada Mīrzā Ṣāḥib ketika dia datang ke Qadian di mana Mīrzā Ṣāḥib berkata bahwa bila putranya benar-benar bersalah, dia harus dihukum dengan satu bentuk hukuman yang harus dapat menyuguhkan suatu contoh bagi seluruh putra dari keluarga-keluarga terhormat. Deputi Komisioner menjadi sangat senang dan memaafkan Mīrzā Ghulām Qādir seraya berkata bahwa putra dari seorang ayah semacam itu tidaklah membutuhkan hukuman.

Orang-orang dipenuhi dengan kekaguman ketika memandang Mīrzā Ṣāḥib. Dia memiliki penampilan yang mempesona dan tidak ada orang yang sampai hati untuk melihat langsung wajahnya. Mīrzā Imām Dīn, salah seorang keponakannya, sekali waktu menyuruh Sochet Singh dari Bhaini untuk membunuh Mīrzā Ṣāḥib. Dia menyatakan bahwa dia pergi dalam beberapa kesempatan ke atas dinding dengan niat membunuhnya. Akan tetapi, setiap kali dia melihatnya, dia merasa kecut dan tak sampai hati untuk mendekatinya.”

[Maulānā ‘Abd-ur-Raḥīm Dārdra, Life of Aḥmadas (Surrey: Islam International Publications Limited, 2008), hh. 20-22]

Lagi:

“Sekali waktu, dalam mimpi, Mīrzā Ghulām Murtaḍā melihat Nabi SuciSAW datang ke rumahnya. Dia segera berlari untuk menyambut Nabi SuciSAW dan berpikir untuk memberikan nazar, suatu bentuk persembahan ala timur seperti persembahan emas, kemenyan, dan mur yang diberikan kepada ‘Īsāas oleh Orang-Orang Bijak dari Timur[11]. Akan tetapi, sewaktu dia memasukkan tangannya ke dalam kantongnya, dia menemukan bahwa dia hanya mempunyai satu rupee dan itu pun adalah koin tiruan. Kejadian ni membuatnya berlinang air mata. Kejadian ini, dia tafsirkan, bermakna bahwa kecintaan kepada Allah dan Nabi-NyaSAW, apabila dicampur dengan kecintaan terhadap dunia, tidak lebih baik dari sebuah koin palsu. Kekecewaannya mengenai perkara-perkara duniawinya amatlah peka dan dia acapkali menyesali bahwa dia tidak dapat mengkhidmati Tuhan dengan segenap ikhtiar dan kekuatannya. Dia memantapkan kehendaknya untuk dikuburkan di salah satu pojok dari sebuah mesjid yang telah dia bangun di tengah-tengah kampung. Dia menetapkan sebagai letak untuk kuburnya satu tempat yang sesuai dengan harapannya. Dia meninggal karena disentri pada 1876 saat berusia 85 tahun ketika masjidnya hampir selesai dibangun.”

[Maulānā ‘Abd-ur-Raḥīm Dārdra, Life of Aḥmadas (Surrey: Islam International Publications Limited, 2008), hh. 23-24]

Semua ini menunjukkan bahwa dalam fitrah ayah beliau telah terdapat cahaya kebaikan. Meski, seperti ayah Nabi MuḥammadSAW, cahaya itu belum tampak secara lahir. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mewarisi cahaya itu dan Tuhan menjadikannya cemerlang dan gilang-gemilang dalam wujud beliau.

Demikianlah Ḥāsyiyyah ini selesai dibuat pada 19 November 2014 M

ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

Tidak ada komentar:

Posting Komentar