Kamis, 27 November 2014

Kemaksuman Para Nabi

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Kemaksuman Para Nabi


Di bawah ini adalah cuplikan sabda Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ II, Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra, mengenai kemaksuman para nabi dan rasul yang diambil dari pidato panjang beliau pada Jalsah Salanah Qadian 1927 dengan judul “Masīḥ-e-Mau‘ūdas Ke Kārnāme”. Terjemahan ini adalah terjemahan versi bahasa Arab kitab itu dengan judul “Injāzāt Al-Masīḥ Al-Mau‘ūdas” yang diterjemahkan oleh Mlv. Muḥammad Ṭāhir Nadīm. Jika pembaca menemukan kesalahan dalam penerjemahan, masukan amat sangat dibutuhkan. Overall, semoga terjemahan ini bermanfaat bagi Kita semua!

“Pencapaian keenam yang dihasilkan oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas adalah bahwa beliau menghilangkan kekeliruan-kekeliruan yang telah tersebar luas di kalangan orang banyak mengenai wujud para nabi.

1. Kesalahan pertama yang orang-orang yang menamakan diri mereka Ahl-us-Sunnah terjerembab di dalamnya, dengan para wali Allah, sebagian kaum sufi, dan para pengikut mereka yang khusus sebagai pengecualian, adalah pertentangan mereka mengenai kemaksuman para nabi. Sebagian mereka menasabkan kepada para nabi kemungkinan berbuat dosa. Namun, kebanyakan mereka menasabkan dosa-dosa kepada para nabi tanpa menyadari kekejiannya dan keburukannya.

Mereka berkata mengenai Ibrāhīmas bahwa beliau berdusta tiga kali, mengenai Yūsufas bahwa beliau mencuri, mengenai Ilyāsas bahwa Allah Taala menyempitkan tempat beliau, mengenai Dāwūdas bahwa beliau jatuh cinta kepada istri salah seorang jenderal tentara beliau lalu beliau menyuruhnya untuk bertempur di garis terdepan hingga terbunuh di sana. Penyakit mereka ini telah bertambah keras, bahkan pribadi Sayyidu Wuldi ĀdamSAW pun tidak selamat dari tuduhan-tuduhan semacam ini.

a. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas telah memberitahukan bahwa pemikiran-pemikiran ini batil dan beliau pun telah menyingkapkan kebatilan perkataan-perkataan ini dengan dua jalan. Pertama, makrifat yang sempurna sesungguhnya akan membakar dosa sesuai dengan undang-undang qudrat Allah. Oleh karena itu, siapa yang telah mencapai derajat keyakinan yang sempurna bahwa benda ini beracun, dia tidak akan memakannya. Jika Kalian beriman bahwa seorang nabi dikaruniai makrifat kamil, hal itu akan bertentangan dengan perkataan kalian bahwa beliau terkadang dapat berbuat dosa. Sebaliknya, hal yang benar adalah tidak mungkin dosa dapat dijumpai dari diri seorang nabi.

b. Kedua, tujuan kebangkitan setiap nabi adalah untuk menjadi contoh bagi orang lain. Jika beliau tidak dapat menjadi contoh, apakah kedatangan para rasul masih dibutuhkan? Tidakkah Allah Taala mampu mengirimkan suatu kitab tertulis secara langsung untuk memberikan petunjuk kepada manusia? Tidaklah seorang nabi dibangkitkan kecuali untuk beramal dengan Kalam Allah Taala dan menjadi teladan yang sempurna bagi manusia. Oleh karena itu, jika kita berkata bahwa seorang nabi mungkin saja juga dapat berbuat dosa, apakah makna teladan yang manusia dapat mengikutinya itu? Justru, tujuan kebangkitan seorang nabi adalah untuk mengajarkan manusia hukum-hukum Allah Taala melalui amal-amal beliau.

2. Kesalahan kedua yang orang banyak terjerembab di dalamnya adalah persangkaan mereka bahwa tidak mungkin kekeliruan ijtihad dapat dijumpai dari diri seorang nabi. Di antara hal yang sangat menakjubkan adalah bahwa di satu sisi mereka berkata bahwa mungkin saja dosa dapat dijumpai dari diri seorang nabi, tetapi di sisi lain mereka berkata bahwa mustahil kekeliruan ijtihad dapat dijumpai dari diri beliau. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas telah memberikan penghakiman ilmiah atas kasus ini dan bersabda:

a. Kekeliruan ijtihad mungkin saja dapat dijumpai dari diri seorang nabi. Bahkan, ini merupakan suatu perkara yang pasti sehingga tersingkapkan bahwa bentuk kalam yang turun kepada seorang nabi bukanlah berasal dari diri beliau sendiri, melainkan suatu Zat Yang Lebih Tinggi dan Lebih Luhur darinya telah menurunkannya kepada beliau karena tidak ada seorangpun yang keliru dalam memahami kalamnya sendiri dan tidak ada seorangpun yang merasa luwes untuk berkata bahwa Aku tidak memahami kalamku segera setelah Aku mengucapkannya sampai aku memperbincangkannya dengan orang lain. Atas dasar ini, kekeliruan ijtihad beliau merupakan sebuah dalil bahwa kalam yang beliau terima ini tidaklah berasal dari diri beliau sendiri. Oleh karena itu, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda bahwa kekeliruan ijtihad niscaya dapat dijumpai dari diri seorang nabi sebagai sebuah dalil atas kebenaran pendakwaannya.

b. Urusan ini tidak berhenti pada dapat dijumpainya kekeliruan ijtihad dari diri seorang nabi semata, bahkan Allah Taala terkadang menjadikan beliau keliru. Hal ini disebabkan bahwa Dia ingin memuliakan beliau dan mengangkat derajat beliau. Misalnya adalah ru’yā Ibrāhīmas. Allah Taala tidak memperlihatkan kepada beliau penyembelihan putra beliau supaya beliau benar-benar membunuhnya karena, seandainya hal itu merupakan maksud sejati dari ru’yā itu, niscaya Allah Taala tidak akan mencegah beliau ketika beliau telah bersiap-sedia untuk menyembelih putra beliau. Namun, hakikatnya adalah bahwa ru’yā Ibrāhīmas diperlihatkan dengan jalan ini sehingga iman beliau termanifestasikan. Oleh karena itu, ketika beliau telah mendekat untuk menggenapi makna-makna lahiriah dari ru’yā itu, hakikatnya disingkapkan kepada beliau. Yakni, ketika beliau benar-benar telah bersiap-sedia untuk menyembelih putra beliau, beliau dikabarkan bahwa hal itu bukanlah maksud sejati darinya. Allah tidak melakukan hal itu, kecuali untuk mengabarkan kepada dunia bahwa Ibrāhīmas telah bersiap-sedia untuk mengorbankan putra tunggal beliau yang padahal baru dilahirkan sewaktu beliau telah menginjak usia yang tua-renta.

c. Terdapat jenis lain bagi kekeliruan-kekeliruan ijtihad dan hal itu adalah kekeliruan-kekeliruan yang terhitung sebagai percobaan, yakni sebagian manusia dicobai di dalamnya. Hal itu adalah sebagaimana terjadi pada Perjanjian Ḥudaibiyyah ketika Nabi SuciSAW telah melihat dalam sebuah ru’yā bahwa beliau tengah bertawaf di Kakbah. Maksud sejati darinya adalah bahwa beliau akan bertawaf di sana pada tahun mendatang. Namun, beliau berpikiran bahwa beliau harus keluar pada tahun itu juga untuk menunaikan umrah. Akhirnya, beliau pun keluar beserta sebuah rombongan besar para Sahabatra. Bersamaan dengan itu, Allah Taala belum memanifestasikan hakikat ru’yā ini kepada Nabi SuciSAW. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin dicegah untuk menunaikan umrah, kebingungan dan kegemparan yang dahsyat menimpa sebagian Sahabatra. Hal itu merupakan suatu percobaan bagi iman orang-orang mukmin dan orang-orang munafik dan untuk membedakan antara keduanya.

Ketahuilah! Seorang nabi tidak dapat menjadi objek kekeliruan ijtihad dalam memahami wahyu Allah Taala, kecuali jika kata-kata-Nya secara sendirinya membutuhkan takwil dan tafsir, sebagaimana seseorang tidak akan keliru dalam memahami maksud dari pemandangan yang dia lihat sendiri, kecuali jika pemandangan itu membutuhkan suatu tafsir. Seandainya wahyu merupakan suatu natijah dari pikiran-pikiran otak, niscaya otak akan menatijahkan kata-kata yang jelas lagi curai dan kata-kata itu tidak akan membutuhkan berbagai persepktif dan tafsir karena tidak mungkin sesorang membutuhkan tafsir dan takwil bagi persepktif yang dia buat sendiri. Apakah perhubungan otak dengan memperlihatkan kekeringan dalam bentuk sapi-sapi betina yang kurus? Sesungguhnya, dapat dijumpainya kekeliruan ijtihad dalam diri seorang nabi membatilkan pendapat bahwa wahyu merupakan suatu natijah dari inovasi otak sebagaimana penjelasan ini membatilkan segenap pembahasan mutakhir yang sekarang tengah berlangsung di Eropa seputar esensi dari wahyu otak. Oleh karena itu, keberwujudan kekeliruan ijtihad yang melanggengkan terbukanya pintu tafsir yang dalam memustahilkan terhitungnya wahyu sebagai buatan otak manusia. Seandainya terdapat gangguan dalam otak, niscaya wahyu akan menjadi lemah, cacat, dan piuh. Seandainya wahyu merupakan natijah inovasi otak, niscaya wahyu itu akan terucap dengan kata-kata yang jelas dan bersih dari kebutuhan akan tafsir atau takwil.”

[Injāzāt Al-Masīḥ Al-Mau‘ūdas, hlm. 90-91]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar