Selasa, 25 November 2014

Apakah Imam Abū Ḥanīfah (rh) Merupakan Manifestasi Hadis, “Jika Iman Terbang ke Bintang Tsurayyā...”?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود


Apakah Imam Abū Ḥanīfahrh Merupakan Manifestasi Hadis, “Jika Iman Terbang ke Bintang Tsurayyā...”?

Sebagian penentang Jemaat Muslim Ahmadiyah, termasuk di antara mereka Dr. Muchlis Hanafi dalam Menggugat Ahmadiyah, beranggapan bahwa hadis:

لَوْ كَانَ الْإِيْمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِّنْ هٰؤُلَاءِ.[1]

Telah termanifestasikan dalam personifikasi Imam Abū Ḥanīfah An-Nu‘mān bin Tsābit bin Zūṭā Al-Kūfīrh, Pendiri Mazhab Hanafi. Mereka juga merujuk tulisan dari Al-Ḥāfiẓ Jalāl-ud-Dīn As-Suyūṭī dalam Tabyīḍ aṣ-Ṣaḥīfah bahwa memang Abū Ḥanīfahrh-lah pribadi yang tertera dalam hadis tersebut[2]. Dengan demikian, lanjut mereka, pendakwaan Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas bahwa hadis di atas berlaku untuk diri beliau salah dan tidak tepat.

Jika Kita menelaah hadis di atas dengan lebih cermat, Kita akan arif bahwa gagasan ini jelas-jelas tertolak. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan untuk mementahkan pendapat ini:

1. Dalam hadis di atas, kata yang disebut adalah iman, sedangkan Abū Ḥanīfahrh merupakan seorang ahli fikih. Iman dan fikih, walau masih berhubungan, merupakan dua hal yang berlainan. Iman, menurut para ulama Mazhab Hanafi, sebagaimana diterangkan oleh Abū Ja‘far Aṭ-Ṭaḥāwī, bermakna:

الإقرار باللسان والتصديق بالجنان.

“Ikrar dengan lisan dan pembenaran dengan hati.”[3]

Adapun fikih, hal itu merupakan suatu kumpulan dari hal-hal yang secara formal mengatur amal perbuatan manusia yang tidak lain dan tidak bukan adalah pengejawentahan dari keimanannya. Penjabaran sederhananya adalah bahwa seorang yang beriman kepada pendakwaan Nabi MuḥammadSAW, sebagai bukti bagi keimanannya, dia diwajibkan untuk melakukan amal-amal tertentu, salah satunya mendirikan salat. Hal-hal yang mengatur tata-cara shalat, dari niat sampai salam, itulah yang masuk dalam kategori fikih. Dalam kata lain, fikih memberikan petunjuk bagaimana melakukan suatu amal.

Jadi, hadis di atas mensignifikasikan sebuah faedah yang agung bahwa dengan lenyapnya iman, fikih juga ikut terangkat, sehingga manusia tidak hanya kering dari keruhanian, bahkan kebodohan dan kejahilan menimpa mereka. Ini disebabkan bahwa ketika mulai tidak beramal saleh yang merupakan akibat dari hilangnya iman, mereka secara bertahap menjadi asing dan jahil dari petunjuk dan bimbingan untuk melakukan suatu amal dan lama-kelamaan keduanya akan ditinggalkan layaknya barang rongsokan.

Riwayat-riwayat lain menguatkan pendapat kami bahwa kata iman disubstitusikan dengan kata ilmu[4] dan kata agama[5]. Kedua kata itu dengan jelas melingkupi fikih di dalamnya. Perbedaan antara keduanya dan iman terletak pada hubungan dengan fikih, yakni di satu sisi fikih menjadi bagian integral dalam ilmu dan agama, sedangkan di sisi lain relasi fikih dengan iman adalah sebab-akibat[6].

Siapakah wujud yang dapat merestorasi ilmu, iman, dan agama sekaligus? Jelas, dia bukanlah seorang ahli fikih atau ahli hadis belaka, melainkan seseorang nabi yang telah diberi pengajaran langsung oleh Tuhan sehingga dia mampu menguasai setiap aspek yang tercakup di dalamnya. Allah berfirman:

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُۚ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا ﴿﴾

“Dia mengajari engkau apa yang engkau tidak ketahui sebelumnya. Sungguh, karunia Allāh atas engkau sangatlah besar.”[7]

Huruf ما di sini menempati posisi isytirāk, maknanya adalah bahwa Nabi SuciSAW dahulunya, meski fitrat beliau telah condong kepada Tuhan sejak lahir, berada di atas tingkatan yang sama dengan orang-orang Arab pada masa itu dalam keilmuan. Namun, ketika pengajaran Tuhan dianugerahkan kepada beliau, beliau serta-merta menjadi unggul atas mereka semua. Ilmu itu begitu luas meliputi segala hal yang beliau tidak ketahui dan tidak jumpai dari seorangpun sebelumnya. Bahkan, ilmu-ilmu ilahiah itu juga mampu mensucikan hati manusia dari kekotoran dan kenajisan kemudian menanam bibit-bibit iman di dalamnya. Kita membaca dalam Kitab Suci:

مَّا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِن رُّسُلِهِ مَن يَّشَاءُۖ فَآمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهِۚ وَإِن تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيْمٌ ﴿﴾

“Tidaklah Allah akan meninggalkan orang-orang mukin dalam kondisi kalian saat ini hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik dan tidaklah Allah akan memberitahukan kepada Kalian kegaiban, tetapi Dia memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya! Jika Kalian beriman dan bertakwa, bagi Kalian tersedia ganjaran yang besar.”[8]

Dengan hikmah Allah, iman ini, melalui penzahiran amal saleh, kelak akan tumbuh menjadi pohon yang besar nan rindang lagi berbuah dan bermanfaat bagi makhluk-makhluk-Nya. Dengan demikian, agama menjadi kuat dan ketakutan-ketakutan yang mereka miliki akan digantikan dengan keamanan. Inilah salah satu maksud yang dituju dalam ayat:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًاۚ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئًاۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ ﴿﴾

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah-khalifah di bumi sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka khalifah-khalifah. Dia pasti akan menguatkan agama mereka yang diridai dan pasti akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak akan menyekutukan-Ku dengan apapun. Siapa yang ingkar setelahnya, mereka itulah orang-orang yang fasik.”[9]

Kesimpulannya, berdasarkan kata ilmu, kata iman, dan kata agama yang terdapat dalam hadis tersebut dengan berbagai jalurnya, pribadi yang mampu memikul tugas ini bukan semata seorang ahli dalam ilmu fikih, hadis, tafsir, kalam, atau yang lainnya, melainkan seorang nabi yang telah dianugerahi ilmu-ilmu ketuhanan nan menyeluruh yang dapat menggerakkan iman sehingga amal-amal saleh terejawentahkan dan, dengan demikian, agama Allah menjadi kuat, tegak, dan unggul di atas agama-agama lain di dunia.

2. Ibarat yang diceritakan hadis di atas dengan terang menampilkan bahwa zaman kebangkitan orang Persia itu adalah ketika iman telah terbang ke Bintang Tsurayyā’, artinya iman telah lenyap dari hati para penduduk bumi. Apakah zaman ketika Abū Ḥanīfahrh hidup merepresentasikan hal ini? Tidak, sama sekali tidak! Jumhur ahli sejarah berpendapat bahwa beliau lahir pada 80 H dan wafat pada 150 H. Artinya, beliau hidup pada abad pertama dan kedua hijriah yang digambarkan dalam sebuah hadis Al-Bukhārī sebagai:

حدثني محمد بن بشار؛ حدثنا غندر؛ حدثنا شعبة؛ قال: سمعت أبا جمرة، قال: حدثني زهدم بن مضرب، قال: سمعت عمران بن حصين رضي اللّٰه عنهما، عن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ. قال عمران: فما أدري قال النبي صلى الله عليه وسلم بعد قوله مرتين أو ثلاثا، ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُوْنَ وَلَا يُسْتَشْهَدُوْنَ، وَيَخُوْنُوْنَ وَلَا يُؤْتَمَنُوْنَ، وَيَنْذُرُوْنَ وَلَا يَفُوْنَ، وَيَظْهَرُ فِيْهِمُ السِّمَنُ.

“Muḥammad bin Basysyār menceritakan kepadaku; Ghundar menceritakan kepada Kami; Syu‘bah menceritakan kepada Kami; dia berkata: Aku mendengar Abū Ḥamzah, dia berkata: Zahdam bin Muḍarrab menceritakan kepada Kami; dia berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat ‘Imrān bin Ḥuṣainra, dari Ḥaḍrat NabiSAW, beliau bersabda: Sebaik-baik kalian adalah mereka yang hidup pada abadku, kemudian mereka yang datang berikutnya, dan kemudian mereka yang datang berikutnya. Setelah itu, akan muncul orang-orang yang memberi kesaksian tanpa diminta, berkhianat lagi tak dapat dipercaya, bernazar tetapi tak memenuhinya, dan tampak dalam diri mereka kegemukan.”[10]

Imam Muslim membawakan riwayat lain dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra:

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وشجاع بن مخلد؛ - واللفظ لأبي بكر -، قالا: حدثنا حسين وهو ابن علي الجعفي؛ عن زائدة، عن السدي، عن عبد اللّٰه البهي، عن عائشة، قالت: سأل رجل النبي صلى اللّٰه عليه وسلم: أي الناس خير؟ قال: الْقَرْنُ الَّذِيْ أَنَا فِيْهِ، ثُمَّ الثَّانِيْ، ثُمَّ الثَّالِثُ.

“Abū Bakr bin Abī Syaibah dan Syujā‘ bin Makhlad; redaksi dari Abū Bakr , mereka berdua berkata: Ḥusain bin ‘Alī Al-Ju‘fī menceritakan kepada Kami; dari Zāidah, dari As-Suddī, dari ‘Abdullāh bin Al-Bahiyy, dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, beliau berkata: Sekali waktu, seseorang bertanya kepada Ḥaḍrat NabiSAW: Siapakah manusia yang terbaik? Beliau menjawab: Mereka yang berada pada abad yang sama denganku, kemudian abad kedua, dan kemudian abad ketiga.”[11]

Berkenaan dengan ṭabaqah atau generasi beliau secara partikular, Adz-Dzahabī mendeskripsikan:

كان الإسلام وأهله في عز تام وعلم غزير، وأعلام الجهاد منثورة، والسنن مشهورة، والبدع مكبوتة، والقوالون بالحق كثير، والعباد متوافرون، والناس في بلهنية من العيش بالامن، وكثرة الجيوش المحمدية من أقصى المغرب وجزيرة الأندلس وإلى قريب مملكة الخطا وبعض الهند وإلى الحبشة.

“Pada generasi ini, Islam dan para pemeluknya berada pada masa kejayaan yang sempurna dan ilmu pengetahuan yang subur. Bendera-bendera jihad tersebar, sunah-sunah termasyhurkan, bidah-bidah terbungkam, orang-orang yang berpegang pada kebenaran terhitung banyak, dan para ahli ibadah berlimpah-ruah. Orang-orang merasakan kelapangan hidup dengan aman. Demikian juga, tentara-tentara MuḥammadSAW dalam jumlah banyak terbentang dari ujung Maghrib dan Jazirah Andalus sampai Afghanistan dan dari sebagian India sampai Etiopia.”[12]

Kedua keterangan di atas sudah sangat cukup untuk membuktikan bahwa zaman Imam Abū Ḥanīfahrh bukan merupakan penggenapan nubuat hadis tersebut.

Lantas, kapankah zaman yang dituju oleh hadis tersebut tiba? Jawabannya adalah firman Tuhan:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ ﴿﴾

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi kemudian urusan itu naik kembali kepada-Nya pada satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun dari apa yang Kalian hitung.”[13]

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda mengenai tafsir ayat ini:

وَإنَّ اللّٰهَ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى يَقُوْلُ فِيْ هٰذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهُ دَبَّرَ أَمرَ الشَّرِيْعَةِ بِإِنزَالِ الفُرْقَانِ الحَمِيْدِ، وَأَكْمَلَ لَهُمْ دِيْنَهُمْ بِالْكَلَامِ الْمَجِيْدِ، ثُمَّ يَأْتِيْ بَعْدَ ذٰلِكَ زَمَانٌ تَمتَدُّ ضَلَالَتُهُ إِلٰى أَلفِ سَنَةٍ، وَيُرْفَعُ كِتَابُ اللّٰهِ وَيَعْرُجُ إِلىَ اللّٰهِ أَمْرُهُ بِشِقَيْهِ، يَعْنِيْ يُضَاعُ فِيْهِ حَقُّ اللّٰهِ وَحَقُّ الْعِبَادِ، وَتَهُبُّ صَرَاصِرُ الْفَسَادِ عَلٰى قِسْمَيْهِ، وَيَفْشُو الْكَذِبُ وَالْفَرِيَّةُ، يَعْنِيْ الْفِتَنَ الدَّجَّالِيَّةَ، وَيَظْهَرُ الْفِسْقُ وَالْكُفْرُ وَالشِّرْكُ، وَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُعْرِضِيْنَ عَنْ رَّبِّهِمْ وَظَهِيْرِيْنَ عَلَيْهِ. ثُمَّ يَأْتِيْ بَعْدَ ذٰلِكَ أَلْفٌ آخَرٌ يُغَاثُ فِيْهِ نَاسٌ مِّنْ رِّبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَيُرْسَلُ آدَمُ آخِرِ الزَّمَانِ لِيُجَدِّدَ الدِّيْنَ، وَإِلَيْهِ أَشَارَ فِيْ آيَةٍ هِيَ بَعْدَ هٰذِهِ الْآيَةِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ. وَإِنَّ هٰذَا الْإِنْسَانَ هُوَ الْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ وَقُدِّرَ بَعْثُهُ بَعْدَ انْقِضَاءِ أَلْفِ سَنَةٍ مِّنَ الْقُرُوْنِ الَّتِيْ هِيَ خَيْرُ الْقُرُوْنِ، وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ مَعْشَرُ النَّبِيِّيْنَ.

“Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Taala berfirman dalam surah ini bahwa Dia mengatur urusan Syariat dengan menurunkan Alqruan Suci dan Dia menyempurnakan bagi manusia agama mereka dengan Kalam-Nya Yang Agung. Kemudian, setelahnya, suatu zaman akan datang yang kesesatannya akan berlangsung sampai seribu tahun. Kitab Allah dan urusan Syariat-Nya akan kembali diangkat kembali kepada-Nya, yakni hak Allah dan hak makhluk akan disia-siakan pada masa itu. Angin kefasadan bertiup kencang. Kebohongan dan kedustaan akan tersiar, yakni fitnah Dajal. Kefasikan, kekufuran, dan kesyirikan akan timbul. Engkau melihat para pendosa berpaling dari Tuhan mereka dan berusaha untuk melawan-Nya. Kemudian, setelahnya, seribu tahun lain akan datang yang manusia akan dihujani dengan hujan rahmat dari Tuhan sekalian alam dan Ādam Akhir Zamanas akan diutus untuk memperbaharui agama. Inilah yang Dia isyaratkan dalam firman-Nya setelah ayat ini:

وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ﴿﴾

Sesungguhnya, manusia yang dimaksud di sini adalah Masīḥ Mau‘ūdas. Kebangkitannya telah ditakdirkan akan terjadi setelah selesai seribu tahun dari tiga abad pertama yang merupakan sebaik-baik abad. Demikian juga, semua nabi telah bersepakat mengenai hal ini.”[14]

Jelas sudah bahwa zaman yang dituju oleh hadis di atas merupakan zaman Masīh Mau‘ūdas dan itu berlaku seribu tahun pasca tiga abad keemasan Islam. Ini jugalah yang diisyaratkan dalam hadis:

حدثنا قتيبة؛ حدثنا حماد بن يحيى الأبح؛ عن ثابت البناني، عن أنس، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: مَثَلُ أُمَّتِيْ مَثَلُ الْمَطَرِ، لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ.

“Qutaibah menceritakan kepada Kami; Ḥammād bin Yaḥyā Al-Abaḥḥ menceritakan kepada Kami; dari Tsābit Al-Bunānī, dari Ḥaḍrat Anasra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Permisalan ummatku adalah layaknya hujan. Tidak diketahui apakah yang lebih baik awalnya atau akhirnya.”[15]

Akhir dari umat Islam adalah para pengikut Masīh Mau‘ūdas sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis:

حدثنا أحمد بن إسحاق؛ ثنا عبد اللّٰه بن سليمان؛ ثنا محمد بن خلف العسقلاني؛ ثنا الفريابي؛ عن الأوزاعي، عن عروة، قال: قال رسول اللّٰه صلى الله عليه وسلم: خَيْرُ هٰذِهِ الأُمَّةِ أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، أَوَّلُهَا فِيْهِمْ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآخِرُهَا فِيْهِمْ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَبَيْنَ ذٰلِكَ ثَبَجٌ أَعْوَجُ لَيْسَ مِنْكَ وَلَسْتَ مِنْهُمْ.

“Aḥmad bin Isḥāq menceritakan kepada Kami; ‘Abdullāh bin Sulaimān menceritakan kepada Kami; Muḥammad bin Khalaf Al-‘Asqalānī menceritakan kepada Kami; Al-Faryābī menceritakan kepada Kami; dari Al-Auzā‘ī, dari ‘Urwah, dia berkata: Ḥadrat RasūlullāhSAW bersabda: Sebaik-baik ummat ini adalah awalnya dan akhirnya. Awalnya, terdapat RasūlullāhSAW di tengah-tengah mereka dan akhirnya, terdapat ‘Īsā bin Maryamas di tengah-tengah mereka. Di antara keduanya terdapat tsabaj a‘waj. Mereka tidak berasal darimu dan Kamu pun tidak berasal dari mereka.”[16]

Hadis ini memang mursal karena ‘Urwah bin Ruwaim tidak bertemu NabiSAW karena dia berasal dari ṭabaqah keempat atau kalangan tabiin pertengahan. Namun, telah mafhum di kalangan sebagian ahli hadis bahwa irsāl seorang yang tsiqah dan bukan mudallis dari kalangan tabiin dapat diterima dan dijadikan hujah. Ini adalah ittifāq Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki. Bahkan, Mazhab Hanafi lebih jauh lagi menyatakan bahwa selama perawi yang memursalkan masih termasuk dalam tiga abad pertama, riwayatnya diterima. Adapun Asy-Syāfi‘īrh, beliau mengungkapkan bahwa sebuah riwayat mursal dapat diterima jika dia memiliki riwayat lain sebagai penguat, tak masalah apakah penguat itu musnad alias bersambung atau tetap mursal. Oleh karena itu, bersandar pada kaedah Mālikrh dan Abū Ḥanīfahrh, hadis ‘Urwah di atas makbul. Hanya saja, sebagai penghormatan kepada Asy-Syāfi‘ī, Kami akan membawakan di sini dua penguat: satu musnad dan satu mursal. Adapun yang musnad, hal itu adalah riwayat Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin As-Sa‘dīra sebagaimana dinukil oleh Aṭ-Ṭaḥāwī:

وحدثنا أبو أمية؛ قال: حدثنا أبو النضر إسحاق بن إبراهيم الدمشقي؛ قال: حدثنا يزيد بن ربيعة؛ عن زيد بن واقد، عن بسر بن أبي أرطاة، عن عبد اللّٰه بن السعدي، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: إِنَّ خِيَارَ أُمَّتِيْ أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، وَبَيْنَ ذَلِكَ ثَبَجٌ أَعْوَجُ، لَيْسُوْا مِنْ أُمَّتِيْ وَلَسْتُ مِنْهُمْ.

“Abū Umayyah menceritakan kepada Kami; dia berkata: Abū an-Naḍr Isḥāq bin Ibrāhīm Ad-Dimasyqī menceritakan kepada Kami; dia berkata: Yazīd bin Rabī‘ah menceritakan kepada Kami; dari Zaid bin Wāqid, dari Ḥaḍrat Busr bin Abī Arṭāhra, dari Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin As-Sa‘dīra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Sesungguhnya, orang-orang yang terbaik dari umatku adalah awalnya dan akhirnya. Di antara keduanya terdapat tsabaj a‘waj. Mereka tidak berasal dari ummatku dan Aku pun tidak berasal dari mereka.”[17]

Yazīd bin Rabī‘ah ini seorang yang lemah. Namun, khusus riwayatnya dari orang-orang Syam, dia mendapat ta‘dīl muqayyad dari Ibnu ‘Adī. Dia mengatakan:

أرجو أنه لا بأس به في الشاميين.

“Aku berharap dia tidak bermasalah dalam riwayatnya dari orang-orang Syam.”[18]

Zaid bin Wāqid di sini adalah penduduk Damaskus[19]. Dengan demikian, riwayat Yazīd darinya makbul sehingga sanad hadis di atas hasan.

Adapun yang mursal, hal itu berasal dari cucu seorang ṣaḥābī, ‘Abd-ur-Raḥmān bin Jubair bin Nufair, yang juga berasal dari ṭabaqah keempat:

حدثنا عيسى بن يونس؛ عن صفوان بن عمرو السكسكي، عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير، قال: لما اشتد حزن أصحاب رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم على من أصيب منهم مع زيد يوم مؤتة، قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: لَيُدْرِكَنَّ الْمَسِيْحَ مِنْ هٰذِهِ الْأُمَّةِ أَقْوَامٌ، إِنَّهُمْ لَمِثْلُكُمْ أَوْ خَيْرٌ،- ثلاث مرات- ، وَلَنْ يُّخْزِيَ اللّٰهُ أُمَّةً أَنَا أَوَّلُهَا وَالْمَسِيْحُ آخِرُهَا.

“ ‘Īsā bin Yūnus menceritakan kepada kami; dari Ṣafwān bin ‘Amrū as-Saksakī, dari ‘Abd-ur-Raḥmān bin Jubair bin Nufair, dia berkata: Ketika kesedihan para Sahabat Ḥaḍrat RasūlullāhSAW atas teman-teman mereka yang terbunuh bersama Ḥaḍrat Zaid bin Ḥāritsahra pada Pertempuran Mu’tah memuncak, Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Beberapa kelompok dari umat ini kelak akan menjumpai Al-Masīḥas. Sesungguhnya, mereka benar-benar seperti Kalian, atau bahkan lebih baik. Beliau mengucapkan ini tiga kali –. Allāh tidak akan menghinakan suatu umat yang Aku berada di awalnya dan Al-Masīḥas di akhirnya.”[20]

Sebagai tambahan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga mengatakan bahwa hadis ‘Urwah bukanlah sesuatu yang mungkar. Kita membaca dalam Al-Kāfiyah Asy-Syāfiyah:

الطرفين أعني أولا والثاني
ولقد أتى أثر بأن الفضل في
جاء الحديث وليس ذا نكران
والوسط ذو ثبج فأعوج هكذا

“Terdapat sebuah hadis bahwa kemuliaan terletak pada dua tepi, yakni yang awal dan yang akhir.

Adapun yang berada pada pertengahan antara keduanya, mereka adalah tsabaj a‘waj. Hadis ini ada dengan tidak mengandung kemungkaran.”[21]

Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa hadis tentang orang-orang Persia yang akan mengambil kembali iman di Bintang Tsurayyā’ tidak cocok jika dikenakan kepada Faqīh-ul-Millah Abū Ḥanīfahrh. Adapun manifestasi nubuat itu, dia adalah Masīḥ Mau‘ūdas, yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas yang merupakan keturunan Persia dan para Sahabat beliau riḍwānullāhi ‘alaihim.

وآخر دعوانا أن الحمد للّٰه رب العالمين

[1] Artinya adalah:

“Jika iman berada pada bintang Tsurayyā’, orang-orang atau seorang dari kalangan Salmānra akan mengambilnya kembali.”

Riwayat ini berasal dari jalur Abū al-Ghaits, terdapat dalam: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Tafsīr, Bāb Tafsīru Sūrat al-Jum‘ah, no. 4897.

[2] Al-Ḥāfiẓ Jalāl-ud-Dīn As-Suyūṭī, Tabyīḍ aṣ-Ṣaḥīfah Bi Manāqibi Abī Ḥanīfahrh (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1990 M/1410 H), hh. 33-34.

[3] Abū Ja‘far Aṭ-Ṭaḥāwī, Al-‘Aqīdah Aṭ-Ṭaḥāwīyyah (Aman: Dār al-Bayāriq, 2001 M/1421 H), h. 31.

Tambahan:

Abū Ḥanīfahrh menyatakan bahwa amal tidak tergolong ke dalam iman. Ketiga Imam lain, yaitu Mālikrh, Asy-Syāfi‘īrh, dan Aḥmadrh, berpendapat bahwa amal termasuk dalam lingkup iman. Namun, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas sebagai hakim nan adil memutuskan bahwa pandangan yang benar dalam persoalan ini adalah pandangan Abū Ḥanīfahrh. Beliau bersabda:

فَاعْلَمُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ! أَنَّ الْإِيْمَانَ لَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْاِتِّقَاءِ، فَمَنْ تَرَكَ الْعَمَلَ مُتَعَمِّدًا مُتَكَبِّرًا فَلَا إِيْمَانَ لَهُ عِنْدَ حَضْرَةِ الْكِبْرِيَاءِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ أَيُّهَا الْإِخْوَانُ وَابْدُرُوْا إِلَى الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا السَّيِّئَاتِ قَبْلَ الْمَمَاتِ!

“Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku! Sesungguhnya iman tidak akan sempurna, kecuali dengan amal saleh dan ketakwaan. Oleh karena itu, siapa yang meninggalkan amal saleh dengan sengaja layaknya seorang yang pongah, dia tidak memiliki iman di hadirat Tuhan Yang Mahabesar. Bertakwalah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku, bersegeralah menuju amal-amal saleh, dan jauhilah keburukan-keburukan sebelum ajal menjemput.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Mawāhib ar-Raḥmān dalam Rūḥānī Khazā’in v. 19 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 315]

Maksud dari, “Dia tidak memiliki iman di hadirat Tuhan Yang Mahabesar” adalah bahwa tanpa melakukan amal saleh, maka iman seseorang akan sia-sia karena tidak ada bukti yang menunjang eksistensinya. Kalimat ini tidak bermakna bahwa dia sama sekali tak beriman.

[4] Riwayat ini berasal dari jalur Yazīd bin Al-Aṣamm, terdapat dalam: Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Faḍl Fāris, no. 2548.

[5] Riwayat ini berasal dari jalur Ibnu Sīrīn, terdapat dalam: Ṣaḥīḥ Ibni Ḥibbān, Kitāb Ikhbāruhu ‘An Manāqib aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Al-Ḥijāz Wa Al-Yaman Wa Asy-Syām Wa Fāris Wa ‘Umān, no. 7309.

[6] Yakni, iman adalah sebab dan amal adalah akibat. Konsekuensi dari iman adalah amal. Seseorang yang telah beriman tetapi belum beramal, imannya belum sempurna.

[7] Q.S. 4:114.

[8] Q.S. 3:180.

[9] Q.S. 24:56.

[10] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Ar-Riqāq, Bāb Mā Yuḥdzaru Min Zahrat ad-Dunyā Wa at-Tanāfus Fīhā, no. 6428.

[11] Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Faḍl aṣ-Ṣaḥābah Tsumma al-Ladzīna Yalūnahum Tsumma al-Ladzīna Yalūnahum, no. 2538.

[12] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Tadzkirat al-Ḥuffāẓ v. 1 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1374 H), h. 244.

[13] Q.S. 32:6.

[14] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah Al-Ilhāmiyyah dalam Rūḥānī Khazā’in v. 16 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 331-332.

[15] Jāmi‘ at-Tirmidzī, Abwāb al-Amtsāl, Al-Bāb As-Sādis, no. 2869.

[16] Ḥilyat al-Auliyā’ Li Abī Nu‘aim Al-Iṣfahānī, no. 8188.

[17] Syarḥu Musykil al-Ātsār, no. 2473.

[18] Ibnu ‘Adī Al-Jurjānī, Al-Kāmil Fī Ḍu‘afā’ ar-Rijāl v. 9 (Beirut, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1998 M/1418 H), h. 133.

[19] Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Taqrīb at-Tahdzīb (Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1416 H), h. 356.

[20] Al-Muṣannaf Li Ibni Abī Syaibah, Kitāb Al-Maghāzī, Mā Ḥafiẓtu Fī Ba‘tsi Mu’tah, no. 37968.

[21] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Kāfiyah Asy-Syāfiyah v. 3 (Mekkah: Dār ‘Ālam al-Fawā’id, 1428 H), h. 908.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar