Minggu, 30 November 2014

Persahabatan dalam Nama Allah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Mutiara Alquran Suci


“Dan berpegangteguhlah kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai! Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Kamu dahulu saling bermusuhan kemudian Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain sehingga, dengan nikmat-Nya, Kamu menjadi saling bersaudara dan ketika Kamu dahulu berada di tepi jurang api kemudian Dia menyelamatkanmu darinya! Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya Kamu mendapat petunjuk.”

[Surah Āli ‘Imrān ayat 104]


“Dan Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka. Seandainya Engkau membelanjakan apa yang ada di bumi ini seluruhnya, niscaya Engkau tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka. Akan tetapi, Allahlah yang telah menanamkan kecintaan di antara mereka. Sesungguhnya, Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

[Surah Al-Anfāl ayat 64]


“Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu saling bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu! Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani!”

[Surah Al-Ḥujurāt ayat 11]

Sabda Khātam-un-NabiyyīnSAW

عن أنس بن مالك رضي اللّٰه عنه، عن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: ثَلَاثٌ مَّنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَّكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُّحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا ِللّٰهِ، وَأَنْ يَّكْرَهَ أَنْ يَّعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُّقْذَفَ فِي النَّارِ.

“Dari Ḥaḍrat Anas bin Mālikra, dari Ḥaḍrat NabiSAW, beliau bersabda: Ada tiga hal yang jika seseorang memilikinya di dalam dirinya, dia akan menjumpai kemanisan iman. Pertama, dia harus mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain. Kedua, dia harus mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Ketiga, dia harus membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”

[Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Al-Īmān, Bāb Ḥalāwat al-Īmān, no. 16]

عن أبي هريرة، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: إِنَّ اللّٰهَ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلَالِيَ الْيَوْمَ؟ أُظِلُّهُمْ فِيْ ظِلِّيْ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّيْ.

“Dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, beliau bersabda: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Sesungguhnya, Allah akan berfirman pada hari kiamat: Di manakah orang-orang yang saling mencintai satu sama lain dengan keagungan-Ku? Pada hari ketika tidak ada naungan selain dari naungan-Ku ini, Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku.”

[Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Al-Birr Wa Aṣ-Ṣilah Wa Al-Ādāb, Bāb Fī Faḍl al-Ḥubb Fillāh, no. 2568]

عن عبادة، قال: سمعت رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم يقول: حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَزَاوِرِيْنَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَبَاذِلِيْنَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ، وَالْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلٰى مَنَابِرَ مِنْ نُّورٍ يَّغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَالصِّدِّيْقُونَ وَالشُّهَدَاءُ.

“Dari Ḥaḍrat ‘Ubādah bin āmitra, beliau berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Orang-orang yang saling mencintai satu sama lain dalam nama-Ku berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling mengunjungi satu sama lain berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling memberi satu sama lain berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling menasihati satu sama lain berhak atas kecintaan-Ku. Orang-orang yang saling mencintai satu sama lain dalam nama-Ku kelak akan berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yang para nabi, sidik, dan syahid mencemburui mereka karena tempat mereka itu.”

[Al-Aḥādīts Al-Mukhtārah, Musnad Ḥaḍrat ‘Ubādah bin Ṣāmitra, no. 376]

Wejangan Imam Zamanas


“Amal manusia, tanpa adanya persahabatan dengan orang-orang yang benar, bercacat lagi tiada berfaedah. Adalah satu hal yang susah bagi seseorang untuk pergi dengan selamat membawa imannya tanpa melalui jalan kefanaan atau persahabatan dengan orang-orang yang telah fana. Seseorang yang berbahagia adalah dia yang memikirkan keselamatannya dan imannya di atas segala sesuatu dan memilih keterikatan dengan Jamaah dengan meninggalkan percekcokan lahiriah yang tidak benar dan pertikaian-pertikaian yang tidak terpuji. Siapa yang Allah Taala anugerahkan kepadanya semangat dan kegairahan di jalan-Nya, ketahuilah dengan yakin bahwa kegairahan dan kecintaan ilahi itu merupakan nikmat yang besar yang Muḥammad Al-MuṣṭafāSAW berikan kepada dunia! Siapa yang dikaruniai kecintaan Allah dan Rasul-NyaSAW, dia sungguh telah meraih tujuan hakikinya. Dia adalah seorang yang berbahagia dengan tanpa keraguan. Api neraka diharamkan untuk menyentuhnya. Namun, siapa yang tidak dikaruniai kecintaan itu dan tidak mengenai keagungan Tuhannya dan NabinyaSAW, pendakwaannya secara lisan bahwa dia merupakan seorang muslim tidak memiliki hakikat apapun. Sesungguhnya salat dan puasa tanpa adanya kecintaan diri terhadap Allah dan Rasul-NyaSAW nihil dari hakikat keduanya. Tersebut dalam sebuah hadis:

Suatu zaman akan datang kepada umatku ketika mereka bersalat, berpuasa, dan berkumpul di dalam masjid-masjid, tetapi tidak ada seorangpun muslim di antara mereka.

Yakni, tidak akan ada satupun dari antara mereka seorang mukmin hakiki. Sebaliknya, mereka akan menjadi tawanan-tawanan bagi dunia mereka dan urusan-urusan mereka.”

[Maktūbāt-e-Aḥmadiyya v. 1, risalah no. 26; Al-Khazā’in Ad-Dafīnah, h. 440]

If Prophet Jesus (as) Were Alive at the Time of The Holy Prophet (SAW), Would He Still Exist 100 Years Afterhand?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

If Prophet Jesusas Were Alive at the Time of The Holy ProphetSAW, Would He Still Exist One Hundred Years Afterhand?


Imam Muslimrh said in his renowned book:

حدثني هارون بن عبد الله وحجاج بن الشاعر؛ قالا: حدثنا حجاج بن محمد؛ قال: قال ابن جريج: أخبرني أبو الزبير؛ أنه سمع جابر بن عبد اللّٰه يقول: سمعت النبي صلى اللّٰه عليه وسلم يقول قبل أن يموت بشهر: تَسْأَلُوْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ؟ وَإِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ، وَأُقْسِمُ ِباللّٰهِ! مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ نَّفْسٍ مَّنْفُوْسَةٍ تأْتِيْ عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ.

“Hārūn ibn ‘Abdillāh and Ḥajjāj ibn Shā‘ir narrated to us; both of them said: Ḥajjāj ibn Muḥammad narrated to us; he said: Ibn Juraij said: Abū az-Zubair informed me; that he heard Ḥaḍrat Jābir ibn ‘Abdillāhra say: I heard The Holy ProphetSAW say a month before his demise: All of you ask me about the judgment day, whereas its knowledge only belongs to Allah. I take oath in the name of Allah! In the next one hundred years, any living one on earth today will not be found alive.[1]

I read some of our opponents, including Waqar Akbar Cheema on this site, argue that this tradition actually does not point at all to the death of Prophet Jesusas as he had been raised up to heaven and was not on earth among another living creatures at the time of The Holy Prophet MuḥammadSAW. Shortly, Prophet Jesusas is excluded from this general statement.

This argument is virtually a kind of nonchalance. The real meaning is not as same as what they suppose. Rather, the Promised Messiahas has vividly elaborated:

“The meaning of this tradition is that no creature among the earthly creatures will remain in the state of life after 100 years from now. The reason behind the mention of earth in a particular manner is to exclude the heavenly creature from this speech. It is well-known that Jesus son of Maryas is not among the heavenly creatures. Otherwise, he is among the earthly creatures and is therefore inserted in the list of مَا عَلَى الْأَرْضِ. Meaning of this tradition is not that if a living one remained on earth he would pass away, but if he ascended to heaven he would never die. Because, the ascension of physical body to heaven is in itself impossible according to the verse of The Holy Qur’ān. Rather, the meaning of the tradition is that whosoever is born on earth, he will not live more than 100 hundred years.”

I think it suffices every seeker of truth. All praise belongs to Allah, Lord of all the worlds.

[1] Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Qauluhu Lā Ta’tī Mi’ātu Sanah, no. 2538.

[2] Izāla-e-Auhām, p. 625-626; Rūḥānī Khazā’in, v. 3, p. 437.

Kamis, 27 November 2014

Kemaksuman Para Nabi

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Kemaksuman Para Nabi


Di bawah ini adalah cuplikan sabda Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ II, Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra, mengenai kemaksuman para nabi dan rasul yang diambil dari pidato panjang beliau pada Jalsah Salanah Qadian 1927 dengan judul “Masīḥ-e-Mau‘ūdas Ke Kārnāme”. Terjemahan ini adalah terjemahan versi bahasa Arab kitab itu dengan judul “Injāzāt Al-Masīḥ Al-Mau‘ūdas” yang diterjemahkan oleh Mlv. Muḥammad Ṭāhir Nadīm. Jika pembaca menemukan kesalahan dalam penerjemahan, masukan amat sangat dibutuhkan. Overall, semoga terjemahan ini bermanfaat bagi Kita semua!

“Pencapaian keenam yang dihasilkan oleh Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas adalah bahwa beliau menghilangkan kekeliruan-kekeliruan yang telah tersebar luas di kalangan orang banyak mengenai wujud para nabi.

1. Kesalahan pertama yang orang-orang yang menamakan diri mereka Ahl-us-Sunnah terjerembab di dalamnya, dengan para wali Allah, sebagian kaum sufi, dan para pengikut mereka yang khusus sebagai pengecualian, adalah pertentangan mereka mengenai kemaksuman para nabi. Sebagian mereka menasabkan kepada para nabi kemungkinan berbuat dosa. Namun, kebanyakan mereka menasabkan dosa-dosa kepada para nabi tanpa menyadari kekejiannya dan keburukannya.

Mereka berkata mengenai Ibrāhīmas bahwa beliau berdusta tiga kali, mengenai Yūsufas bahwa beliau mencuri, mengenai Ilyāsas bahwa Allah Taala menyempitkan tempat beliau, mengenai Dāwūdas bahwa beliau jatuh cinta kepada istri salah seorang jenderal tentara beliau lalu beliau menyuruhnya untuk bertempur di garis terdepan hingga terbunuh di sana. Penyakit mereka ini telah bertambah keras, bahkan pribadi Sayyidu Wuldi ĀdamSAW pun tidak selamat dari tuduhan-tuduhan semacam ini.

a. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas telah memberitahukan bahwa pemikiran-pemikiran ini batil dan beliau pun telah menyingkapkan kebatilan perkataan-perkataan ini dengan dua jalan. Pertama, makrifat yang sempurna sesungguhnya akan membakar dosa sesuai dengan undang-undang qudrat Allah. Oleh karena itu, siapa yang telah mencapai derajat keyakinan yang sempurna bahwa benda ini beracun, dia tidak akan memakannya. Jika Kalian beriman bahwa seorang nabi dikaruniai makrifat kamil, hal itu akan bertentangan dengan perkataan kalian bahwa beliau terkadang dapat berbuat dosa. Sebaliknya, hal yang benar adalah tidak mungkin dosa dapat dijumpai dari diri seorang nabi.

b. Kedua, tujuan kebangkitan setiap nabi adalah untuk menjadi contoh bagi orang lain. Jika beliau tidak dapat menjadi contoh, apakah kedatangan para rasul masih dibutuhkan? Tidakkah Allah Taala mampu mengirimkan suatu kitab tertulis secara langsung untuk memberikan petunjuk kepada manusia? Tidaklah seorang nabi dibangkitkan kecuali untuk beramal dengan Kalam Allah Taala dan menjadi teladan yang sempurna bagi manusia. Oleh karena itu, jika kita berkata bahwa seorang nabi mungkin saja juga dapat berbuat dosa, apakah makna teladan yang manusia dapat mengikutinya itu? Justru, tujuan kebangkitan seorang nabi adalah untuk mengajarkan manusia hukum-hukum Allah Taala melalui amal-amal beliau.

2. Kesalahan kedua yang orang banyak terjerembab di dalamnya adalah persangkaan mereka bahwa tidak mungkin kekeliruan ijtihad dapat dijumpai dari diri seorang nabi. Di antara hal yang sangat menakjubkan adalah bahwa di satu sisi mereka berkata bahwa mungkin saja dosa dapat dijumpai dari diri seorang nabi, tetapi di sisi lain mereka berkata bahwa mustahil kekeliruan ijtihad dapat dijumpai dari diri beliau. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas telah memberikan penghakiman ilmiah atas kasus ini dan bersabda:

a. Kekeliruan ijtihad mungkin saja dapat dijumpai dari diri seorang nabi. Bahkan, ini merupakan suatu perkara yang pasti sehingga tersingkapkan bahwa bentuk kalam yang turun kepada seorang nabi bukanlah berasal dari diri beliau sendiri, melainkan suatu Zat Yang Lebih Tinggi dan Lebih Luhur darinya telah menurunkannya kepada beliau karena tidak ada seorangpun yang keliru dalam memahami kalamnya sendiri dan tidak ada seorangpun yang merasa luwes untuk berkata bahwa Aku tidak memahami kalamku segera setelah Aku mengucapkannya sampai aku memperbincangkannya dengan orang lain. Atas dasar ini, kekeliruan ijtihad beliau merupakan sebuah dalil bahwa kalam yang beliau terima ini tidaklah berasal dari diri beliau sendiri. Oleh karena itu, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda bahwa kekeliruan ijtihad niscaya dapat dijumpai dari diri seorang nabi sebagai sebuah dalil atas kebenaran pendakwaannya.

b. Urusan ini tidak berhenti pada dapat dijumpainya kekeliruan ijtihad dari diri seorang nabi semata, bahkan Allah Taala terkadang menjadikan beliau keliru. Hal ini disebabkan bahwa Dia ingin memuliakan beliau dan mengangkat derajat beliau. Misalnya adalah ru’yā Ibrāhīmas. Allah Taala tidak memperlihatkan kepada beliau penyembelihan putra beliau supaya beliau benar-benar membunuhnya karena, seandainya hal itu merupakan maksud sejati dari ru’yā itu, niscaya Allah Taala tidak akan mencegah beliau ketika beliau telah bersiap-sedia untuk menyembelih putra beliau. Namun, hakikatnya adalah bahwa ru’yā Ibrāhīmas diperlihatkan dengan jalan ini sehingga iman beliau termanifestasikan. Oleh karena itu, ketika beliau telah mendekat untuk menggenapi makna-makna lahiriah dari ru’yā itu, hakikatnya disingkapkan kepada beliau. Yakni, ketika beliau benar-benar telah bersiap-sedia untuk menyembelih putra beliau, beliau dikabarkan bahwa hal itu bukanlah maksud sejati darinya. Allah tidak melakukan hal itu, kecuali untuk mengabarkan kepada dunia bahwa Ibrāhīmas telah bersiap-sedia untuk mengorbankan putra tunggal beliau yang padahal baru dilahirkan sewaktu beliau telah menginjak usia yang tua-renta.

c. Terdapat jenis lain bagi kekeliruan-kekeliruan ijtihad dan hal itu adalah kekeliruan-kekeliruan yang terhitung sebagai percobaan, yakni sebagian manusia dicobai di dalamnya. Hal itu adalah sebagaimana terjadi pada Perjanjian Ḥudaibiyyah ketika Nabi SuciSAW telah melihat dalam sebuah ru’yā bahwa beliau tengah bertawaf di Kakbah. Maksud sejati darinya adalah bahwa beliau akan bertawaf di sana pada tahun mendatang. Namun, beliau berpikiran bahwa beliau harus keluar pada tahun itu juga untuk menunaikan umrah. Akhirnya, beliau pun keluar beserta sebuah rombongan besar para Sahabatra. Bersamaan dengan itu, Allah Taala belum memanifestasikan hakikat ru’yā ini kepada Nabi SuciSAW. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin dicegah untuk menunaikan umrah, kebingungan dan kegemparan yang dahsyat menimpa sebagian Sahabatra. Hal itu merupakan suatu percobaan bagi iman orang-orang mukmin dan orang-orang munafik dan untuk membedakan antara keduanya.

Ketahuilah! Seorang nabi tidak dapat menjadi objek kekeliruan ijtihad dalam memahami wahyu Allah Taala, kecuali jika kata-kata-Nya secara sendirinya membutuhkan takwil dan tafsir, sebagaimana seseorang tidak akan keliru dalam memahami maksud dari pemandangan yang dia lihat sendiri, kecuali jika pemandangan itu membutuhkan suatu tafsir. Seandainya wahyu merupakan suatu natijah dari pikiran-pikiran otak, niscaya otak akan menatijahkan kata-kata yang jelas lagi curai dan kata-kata itu tidak akan membutuhkan berbagai persepktif dan tafsir karena tidak mungkin sesorang membutuhkan tafsir dan takwil bagi persepktif yang dia buat sendiri. Apakah perhubungan otak dengan memperlihatkan kekeringan dalam bentuk sapi-sapi betina yang kurus? Sesungguhnya, dapat dijumpainya kekeliruan ijtihad dalam diri seorang nabi membatilkan pendapat bahwa wahyu merupakan suatu natijah dari inovasi otak sebagaimana penjelasan ini membatilkan segenap pembahasan mutakhir yang sekarang tengah berlangsung di Eropa seputar esensi dari wahyu otak. Oleh karena itu, keberwujudan kekeliruan ijtihad yang melanggengkan terbukanya pintu tafsir yang dalam memustahilkan terhitungnya wahyu sebagai buatan otak manusia. Seandainya terdapat gangguan dalam otak, niscaya wahyu akan menjadi lemah, cacat, dan piuh. Seandainya wahyu merupakan natijah inovasi otak, niscaya wahyu itu akan terucap dengan kata-kata yang jelas dan bersih dari kebutuhan akan tafsir atau takwil.”

[Injāzāt Al-Masīḥ Al-Mau‘ūdas, hlm. 90-91]

Selasa, 25 November 2014

Apakah Imam Abū Ḥanīfah (rh) Merupakan Manifestasi Hadis, “Jika Iman Terbang ke Bintang Tsurayyā...”?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود


Apakah Imam Abū Ḥanīfahrh Merupakan Manifestasi Hadis, “Jika Iman Terbang ke Bintang Tsurayyā...”?

Sebagian penentang Jemaat Muslim Ahmadiyah, termasuk di antara mereka Dr. Muchlis Hanafi dalam Menggugat Ahmadiyah, beranggapan bahwa hadis:

لَوْ كَانَ الْإِيْمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِّنْ هٰؤُلَاءِ.[1]

Telah termanifestasikan dalam personifikasi Imam Abū Ḥanīfah An-Nu‘mān bin Tsābit bin Zūṭā Al-Kūfīrh, Pendiri Mazhab Hanafi. Mereka juga merujuk tulisan dari Al-Ḥāfiẓ Jalāl-ud-Dīn As-Suyūṭī dalam Tabyīḍ aṣ-Ṣaḥīfah bahwa memang Abū Ḥanīfahrh-lah pribadi yang tertera dalam hadis tersebut[2]. Dengan demikian, lanjut mereka, pendakwaan Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas bahwa hadis di atas berlaku untuk diri beliau salah dan tidak tepat.

Jika Kita menelaah hadis di atas dengan lebih cermat, Kita akan arif bahwa gagasan ini jelas-jelas tertolak. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan untuk mementahkan pendapat ini:

1. Dalam hadis di atas, kata yang disebut adalah iman, sedangkan Abū Ḥanīfahrh merupakan seorang ahli fikih. Iman dan fikih, walau masih berhubungan, merupakan dua hal yang berlainan. Iman, menurut para ulama Mazhab Hanafi, sebagaimana diterangkan oleh Abū Ja‘far Aṭ-Ṭaḥāwī, bermakna:

الإقرار باللسان والتصديق بالجنان.

“Ikrar dengan lisan dan pembenaran dengan hati.”[3]

Adapun fikih, hal itu merupakan suatu kumpulan dari hal-hal yang secara formal mengatur amal perbuatan manusia yang tidak lain dan tidak bukan adalah pengejawentahan dari keimanannya. Penjabaran sederhananya adalah bahwa seorang yang beriman kepada pendakwaan Nabi MuḥammadSAW, sebagai bukti bagi keimanannya, dia diwajibkan untuk melakukan amal-amal tertentu, salah satunya mendirikan salat. Hal-hal yang mengatur tata-cara shalat, dari niat sampai salam, itulah yang masuk dalam kategori fikih. Dalam kata lain, fikih memberikan petunjuk bagaimana melakukan suatu amal.

Jadi, hadis di atas mensignifikasikan sebuah faedah yang agung bahwa dengan lenyapnya iman, fikih juga ikut terangkat, sehingga manusia tidak hanya kering dari keruhanian, bahkan kebodohan dan kejahilan menimpa mereka. Ini disebabkan bahwa ketika mulai tidak beramal saleh yang merupakan akibat dari hilangnya iman, mereka secara bertahap menjadi asing dan jahil dari petunjuk dan bimbingan untuk melakukan suatu amal dan lama-kelamaan keduanya akan ditinggalkan layaknya barang rongsokan.

Riwayat-riwayat lain menguatkan pendapat kami bahwa kata iman disubstitusikan dengan kata ilmu[4] dan kata agama[5]. Kedua kata itu dengan jelas melingkupi fikih di dalamnya. Perbedaan antara keduanya dan iman terletak pada hubungan dengan fikih, yakni di satu sisi fikih menjadi bagian integral dalam ilmu dan agama, sedangkan di sisi lain relasi fikih dengan iman adalah sebab-akibat[6].

Siapakah wujud yang dapat merestorasi ilmu, iman, dan agama sekaligus? Jelas, dia bukanlah seorang ahli fikih atau ahli hadis belaka, melainkan seseorang nabi yang telah diberi pengajaran langsung oleh Tuhan sehingga dia mampu menguasai setiap aspek yang tercakup di dalamnya. Allah berfirman:

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُۚ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا ﴿﴾

“Dia mengajari engkau apa yang engkau tidak ketahui sebelumnya. Sungguh, karunia Allāh atas engkau sangatlah besar.”[7]

Huruf ما di sini menempati posisi isytirāk, maknanya adalah bahwa Nabi SuciSAW dahulunya, meski fitrat beliau telah condong kepada Tuhan sejak lahir, berada di atas tingkatan yang sama dengan orang-orang Arab pada masa itu dalam keilmuan. Namun, ketika pengajaran Tuhan dianugerahkan kepada beliau, beliau serta-merta menjadi unggul atas mereka semua. Ilmu itu begitu luas meliputi segala hal yang beliau tidak ketahui dan tidak jumpai dari seorangpun sebelumnya. Bahkan, ilmu-ilmu ilahiah itu juga mampu mensucikan hati manusia dari kekotoran dan kenajisan kemudian menanam bibit-bibit iman di dalamnya. Kita membaca dalam Kitab Suci:

مَّا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِن رُّسُلِهِ مَن يَّشَاءُۖ فَآمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهِۚ وَإِن تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيْمٌ ﴿﴾

“Tidaklah Allah akan meninggalkan orang-orang mukin dalam kondisi kalian saat ini hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik dan tidaklah Allah akan memberitahukan kepada Kalian kegaiban, tetapi Dia memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya! Jika Kalian beriman dan bertakwa, bagi Kalian tersedia ganjaran yang besar.”[8]

Dengan hikmah Allah, iman ini, melalui penzahiran amal saleh, kelak akan tumbuh menjadi pohon yang besar nan rindang lagi berbuah dan bermanfaat bagi makhluk-makhluk-Nya. Dengan demikian, agama menjadi kuat dan ketakutan-ketakutan yang mereka miliki akan digantikan dengan keamanan. Inilah salah satu maksud yang dituju dalam ayat:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًاۚ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئًاۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ ﴿﴾

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah-khalifah di bumi sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka khalifah-khalifah. Dia pasti akan menguatkan agama mereka yang diridai dan pasti akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak akan menyekutukan-Ku dengan apapun. Siapa yang ingkar setelahnya, mereka itulah orang-orang yang fasik.”[9]

Kesimpulannya, berdasarkan kata ilmu, kata iman, dan kata agama yang terdapat dalam hadis tersebut dengan berbagai jalurnya, pribadi yang mampu memikul tugas ini bukan semata seorang ahli dalam ilmu fikih, hadis, tafsir, kalam, atau yang lainnya, melainkan seorang nabi yang telah dianugerahi ilmu-ilmu ketuhanan nan menyeluruh yang dapat menggerakkan iman sehingga amal-amal saleh terejawentahkan dan, dengan demikian, agama Allah menjadi kuat, tegak, dan unggul di atas agama-agama lain di dunia.

2. Ibarat yang diceritakan hadis di atas dengan terang menampilkan bahwa zaman kebangkitan orang Persia itu adalah ketika iman telah terbang ke Bintang Tsurayyā’, artinya iman telah lenyap dari hati para penduduk bumi. Apakah zaman ketika Abū Ḥanīfahrh hidup merepresentasikan hal ini? Tidak, sama sekali tidak! Jumhur ahli sejarah berpendapat bahwa beliau lahir pada 80 H dan wafat pada 150 H. Artinya, beliau hidup pada abad pertama dan kedua hijriah yang digambarkan dalam sebuah hadis Al-Bukhārī sebagai:

حدثني محمد بن بشار؛ حدثنا غندر؛ حدثنا شعبة؛ قال: سمعت أبا جمرة، قال: حدثني زهدم بن مضرب، قال: سمعت عمران بن حصين رضي اللّٰه عنهما، عن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ. قال عمران: فما أدري قال النبي صلى الله عليه وسلم بعد قوله مرتين أو ثلاثا، ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُوْنَ وَلَا يُسْتَشْهَدُوْنَ، وَيَخُوْنُوْنَ وَلَا يُؤْتَمَنُوْنَ، وَيَنْذُرُوْنَ وَلَا يَفُوْنَ، وَيَظْهَرُ فِيْهِمُ السِّمَنُ.

“Muḥammad bin Basysyār menceritakan kepadaku; Ghundar menceritakan kepada Kami; Syu‘bah menceritakan kepada Kami; dia berkata: Aku mendengar Abū Ḥamzah, dia berkata: Zahdam bin Muḍarrab menceritakan kepada Kami; dia berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat ‘Imrān bin Ḥuṣainra, dari Ḥaḍrat NabiSAW, beliau bersabda: Sebaik-baik kalian adalah mereka yang hidup pada abadku, kemudian mereka yang datang berikutnya, dan kemudian mereka yang datang berikutnya. Setelah itu, akan muncul orang-orang yang memberi kesaksian tanpa diminta, berkhianat lagi tak dapat dipercaya, bernazar tetapi tak memenuhinya, dan tampak dalam diri mereka kegemukan.”[10]

Imam Muslim membawakan riwayat lain dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra:

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وشجاع بن مخلد؛ - واللفظ لأبي بكر -، قالا: حدثنا حسين وهو ابن علي الجعفي؛ عن زائدة، عن السدي، عن عبد اللّٰه البهي، عن عائشة، قالت: سأل رجل النبي صلى اللّٰه عليه وسلم: أي الناس خير؟ قال: الْقَرْنُ الَّذِيْ أَنَا فِيْهِ، ثُمَّ الثَّانِيْ، ثُمَّ الثَّالِثُ.

“Abū Bakr bin Abī Syaibah dan Syujā‘ bin Makhlad; redaksi dari Abū Bakr , mereka berdua berkata: Ḥusain bin ‘Alī Al-Ju‘fī menceritakan kepada Kami; dari Zāidah, dari As-Suddī, dari ‘Abdullāh bin Al-Bahiyy, dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, beliau berkata: Sekali waktu, seseorang bertanya kepada Ḥaḍrat NabiSAW: Siapakah manusia yang terbaik? Beliau menjawab: Mereka yang berada pada abad yang sama denganku, kemudian abad kedua, dan kemudian abad ketiga.”[11]

Berkenaan dengan ṭabaqah atau generasi beliau secara partikular, Adz-Dzahabī mendeskripsikan:

كان الإسلام وأهله في عز تام وعلم غزير، وأعلام الجهاد منثورة، والسنن مشهورة، والبدع مكبوتة، والقوالون بالحق كثير، والعباد متوافرون، والناس في بلهنية من العيش بالامن، وكثرة الجيوش المحمدية من أقصى المغرب وجزيرة الأندلس وإلى قريب مملكة الخطا وبعض الهند وإلى الحبشة.

“Pada generasi ini, Islam dan para pemeluknya berada pada masa kejayaan yang sempurna dan ilmu pengetahuan yang subur. Bendera-bendera jihad tersebar, sunah-sunah termasyhurkan, bidah-bidah terbungkam, orang-orang yang berpegang pada kebenaran terhitung banyak, dan para ahli ibadah berlimpah-ruah. Orang-orang merasakan kelapangan hidup dengan aman. Demikian juga, tentara-tentara MuḥammadSAW dalam jumlah banyak terbentang dari ujung Maghrib dan Jazirah Andalus sampai Afghanistan dan dari sebagian India sampai Etiopia.”[12]

Kedua keterangan di atas sudah sangat cukup untuk membuktikan bahwa zaman Imam Abū Ḥanīfahrh bukan merupakan penggenapan nubuat hadis tersebut.

Lantas, kapankah zaman yang dituju oleh hadis tersebut tiba? Jawabannya adalah firman Tuhan:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ ﴿﴾

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi kemudian urusan itu naik kembali kepada-Nya pada satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun dari apa yang Kalian hitung.”[13]

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas bersabda mengenai tafsir ayat ini:

وَإنَّ اللّٰهَ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى يَقُوْلُ فِيْ هٰذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهُ دَبَّرَ أَمرَ الشَّرِيْعَةِ بِإِنزَالِ الفُرْقَانِ الحَمِيْدِ، وَأَكْمَلَ لَهُمْ دِيْنَهُمْ بِالْكَلَامِ الْمَجِيْدِ، ثُمَّ يَأْتِيْ بَعْدَ ذٰلِكَ زَمَانٌ تَمتَدُّ ضَلَالَتُهُ إِلٰى أَلفِ سَنَةٍ، وَيُرْفَعُ كِتَابُ اللّٰهِ وَيَعْرُجُ إِلىَ اللّٰهِ أَمْرُهُ بِشِقَيْهِ، يَعْنِيْ يُضَاعُ فِيْهِ حَقُّ اللّٰهِ وَحَقُّ الْعِبَادِ، وَتَهُبُّ صَرَاصِرُ الْفَسَادِ عَلٰى قِسْمَيْهِ، وَيَفْشُو الْكَذِبُ وَالْفَرِيَّةُ، يَعْنِيْ الْفِتَنَ الدَّجَّالِيَّةَ، وَيَظْهَرُ الْفِسْقُ وَالْكُفْرُ وَالشِّرْكُ، وَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُعْرِضِيْنَ عَنْ رَّبِّهِمْ وَظَهِيْرِيْنَ عَلَيْهِ. ثُمَّ يَأْتِيْ بَعْدَ ذٰلِكَ أَلْفٌ آخَرٌ يُغَاثُ فِيْهِ نَاسٌ مِّنْ رِّبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَيُرْسَلُ آدَمُ آخِرِ الزَّمَانِ لِيُجَدِّدَ الدِّيْنَ، وَإِلَيْهِ أَشَارَ فِيْ آيَةٍ هِيَ بَعْدَ هٰذِهِ الْآيَةِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ. وَإِنَّ هٰذَا الْإِنْسَانَ هُوَ الْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ وَقُدِّرَ بَعْثُهُ بَعْدَ انْقِضَاءِ أَلْفِ سَنَةٍ مِّنَ الْقُرُوْنِ الَّتِيْ هِيَ خَيْرُ الْقُرُوْنِ، وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ مَعْشَرُ النَّبِيِّيْنَ.

“Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Taala berfirman dalam surah ini bahwa Dia mengatur urusan Syariat dengan menurunkan Alqruan Suci dan Dia menyempurnakan bagi manusia agama mereka dengan Kalam-Nya Yang Agung. Kemudian, setelahnya, suatu zaman akan datang yang kesesatannya akan berlangsung sampai seribu tahun. Kitab Allah dan urusan Syariat-Nya akan kembali diangkat kembali kepada-Nya, yakni hak Allah dan hak makhluk akan disia-siakan pada masa itu. Angin kefasadan bertiup kencang. Kebohongan dan kedustaan akan tersiar, yakni fitnah Dajal. Kefasikan, kekufuran, dan kesyirikan akan timbul. Engkau melihat para pendosa berpaling dari Tuhan mereka dan berusaha untuk melawan-Nya. Kemudian, setelahnya, seribu tahun lain akan datang yang manusia akan dihujani dengan hujan rahmat dari Tuhan sekalian alam dan Ādam Akhir Zamanas akan diutus untuk memperbaharui agama. Inilah yang Dia isyaratkan dalam firman-Nya setelah ayat ini:

وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ﴿﴾

Sesungguhnya, manusia yang dimaksud di sini adalah Masīḥ Mau‘ūdas. Kebangkitannya telah ditakdirkan akan terjadi setelah selesai seribu tahun dari tiga abad pertama yang merupakan sebaik-baik abad. Demikian juga, semua nabi telah bersepakat mengenai hal ini.”[14]

Jelas sudah bahwa zaman yang dituju oleh hadis di atas merupakan zaman Masīh Mau‘ūdas dan itu berlaku seribu tahun pasca tiga abad keemasan Islam. Ini jugalah yang diisyaratkan dalam hadis:

حدثنا قتيبة؛ حدثنا حماد بن يحيى الأبح؛ عن ثابت البناني، عن أنس، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: مَثَلُ أُمَّتِيْ مَثَلُ الْمَطَرِ، لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ.

“Qutaibah menceritakan kepada Kami; Ḥammād bin Yaḥyā Al-Abaḥḥ menceritakan kepada Kami; dari Tsābit Al-Bunānī, dari Ḥaḍrat Anasra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Permisalan ummatku adalah layaknya hujan. Tidak diketahui apakah yang lebih baik awalnya atau akhirnya.”[15]

Akhir dari umat Islam adalah para pengikut Masīh Mau‘ūdas sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis:

حدثنا أحمد بن إسحاق؛ ثنا عبد اللّٰه بن سليمان؛ ثنا محمد بن خلف العسقلاني؛ ثنا الفريابي؛ عن الأوزاعي، عن عروة، قال: قال رسول اللّٰه صلى الله عليه وسلم: خَيْرُ هٰذِهِ الأُمَّةِ أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، أَوَّلُهَا فِيْهِمْ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَآخِرُهَا فِيْهِمْ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَبَيْنَ ذٰلِكَ ثَبَجٌ أَعْوَجُ لَيْسَ مِنْكَ وَلَسْتَ مِنْهُمْ.

“Aḥmad bin Isḥāq menceritakan kepada Kami; ‘Abdullāh bin Sulaimān menceritakan kepada Kami; Muḥammad bin Khalaf Al-‘Asqalānī menceritakan kepada Kami; Al-Faryābī menceritakan kepada Kami; dari Al-Auzā‘ī, dari ‘Urwah, dia berkata: Ḥadrat RasūlullāhSAW bersabda: Sebaik-baik ummat ini adalah awalnya dan akhirnya. Awalnya, terdapat RasūlullāhSAW di tengah-tengah mereka dan akhirnya, terdapat ‘Īsā bin Maryamas di tengah-tengah mereka. Di antara keduanya terdapat tsabaj a‘waj. Mereka tidak berasal darimu dan Kamu pun tidak berasal dari mereka.”[16]

Hadis ini memang mursal karena ‘Urwah bin Ruwaim tidak bertemu NabiSAW karena dia berasal dari ṭabaqah keempat atau kalangan tabiin pertengahan. Namun, telah mafhum di kalangan sebagian ahli hadis bahwa irsāl seorang yang tsiqah dan bukan mudallis dari kalangan tabiin dapat diterima dan dijadikan hujah. Ini adalah ittifāq Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki. Bahkan, Mazhab Hanafi lebih jauh lagi menyatakan bahwa selama perawi yang memursalkan masih termasuk dalam tiga abad pertama, riwayatnya diterima. Adapun Asy-Syāfi‘īrh, beliau mengungkapkan bahwa sebuah riwayat mursal dapat diterima jika dia memiliki riwayat lain sebagai penguat, tak masalah apakah penguat itu musnad alias bersambung atau tetap mursal. Oleh karena itu, bersandar pada kaedah Mālikrh dan Abū Ḥanīfahrh, hadis ‘Urwah di atas makbul. Hanya saja, sebagai penghormatan kepada Asy-Syāfi‘ī, Kami akan membawakan di sini dua penguat: satu musnad dan satu mursal. Adapun yang musnad, hal itu adalah riwayat Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin As-Sa‘dīra sebagaimana dinukil oleh Aṭ-Ṭaḥāwī:

وحدثنا أبو أمية؛ قال: حدثنا أبو النضر إسحاق بن إبراهيم الدمشقي؛ قال: حدثنا يزيد بن ربيعة؛ عن زيد بن واقد، عن بسر بن أبي أرطاة، عن عبد اللّٰه بن السعدي، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: إِنَّ خِيَارَ أُمَّتِيْ أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، وَبَيْنَ ذَلِكَ ثَبَجٌ أَعْوَجُ، لَيْسُوْا مِنْ أُمَّتِيْ وَلَسْتُ مِنْهُمْ.

“Abū Umayyah menceritakan kepada Kami; dia berkata: Abū an-Naḍr Isḥāq bin Ibrāhīm Ad-Dimasyqī menceritakan kepada Kami; dia berkata: Yazīd bin Rabī‘ah menceritakan kepada Kami; dari Zaid bin Wāqid, dari Ḥaḍrat Busr bin Abī Arṭāhra, dari Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin As-Sa‘dīra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Sesungguhnya, orang-orang yang terbaik dari umatku adalah awalnya dan akhirnya. Di antara keduanya terdapat tsabaj a‘waj. Mereka tidak berasal dari ummatku dan Aku pun tidak berasal dari mereka.”[17]

Yazīd bin Rabī‘ah ini seorang yang lemah. Namun, khusus riwayatnya dari orang-orang Syam, dia mendapat ta‘dīl muqayyad dari Ibnu ‘Adī. Dia mengatakan:

أرجو أنه لا بأس به في الشاميين.

“Aku berharap dia tidak bermasalah dalam riwayatnya dari orang-orang Syam.”[18]

Zaid bin Wāqid di sini adalah penduduk Damaskus[19]. Dengan demikian, riwayat Yazīd darinya makbul sehingga sanad hadis di atas hasan.

Adapun yang mursal, hal itu berasal dari cucu seorang ṣaḥābī, ‘Abd-ur-Raḥmān bin Jubair bin Nufair, yang juga berasal dari ṭabaqah keempat:

حدثنا عيسى بن يونس؛ عن صفوان بن عمرو السكسكي، عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير، قال: لما اشتد حزن أصحاب رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم على من أصيب منهم مع زيد يوم مؤتة، قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: لَيُدْرِكَنَّ الْمَسِيْحَ مِنْ هٰذِهِ الْأُمَّةِ أَقْوَامٌ، إِنَّهُمْ لَمِثْلُكُمْ أَوْ خَيْرٌ،- ثلاث مرات- ، وَلَنْ يُّخْزِيَ اللّٰهُ أُمَّةً أَنَا أَوَّلُهَا وَالْمَسِيْحُ آخِرُهَا.

“ ‘Īsā bin Yūnus menceritakan kepada kami; dari Ṣafwān bin ‘Amrū as-Saksakī, dari ‘Abd-ur-Raḥmān bin Jubair bin Nufair, dia berkata: Ketika kesedihan para Sahabat Ḥaḍrat RasūlullāhSAW atas teman-teman mereka yang terbunuh bersama Ḥaḍrat Zaid bin Ḥāritsahra pada Pertempuran Mu’tah memuncak, Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Beberapa kelompok dari umat ini kelak akan menjumpai Al-Masīḥas. Sesungguhnya, mereka benar-benar seperti Kalian, atau bahkan lebih baik. Beliau mengucapkan ini tiga kali –. Allāh tidak akan menghinakan suatu umat yang Aku berada di awalnya dan Al-Masīḥas di akhirnya.”[20]

Sebagai tambahan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga mengatakan bahwa hadis ‘Urwah bukanlah sesuatu yang mungkar. Kita membaca dalam Al-Kāfiyah Asy-Syāfiyah:

الطرفين أعني أولا والثاني
ولقد أتى أثر بأن الفضل في
جاء الحديث وليس ذا نكران
والوسط ذو ثبج فأعوج هكذا

“Terdapat sebuah hadis bahwa kemuliaan terletak pada dua tepi, yakni yang awal dan yang akhir.

Adapun yang berada pada pertengahan antara keduanya, mereka adalah tsabaj a‘waj. Hadis ini ada dengan tidak mengandung kemungkaran.”[21]

Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa hadis tentang orang-orang Persia yang akan mengambil kembali iman di Bintang Tsurayyā’ tidak cocok jika dikenakan kepada Faqīh-ul-Millah Abū Ḥanīfahrh. Adapun manifestasi nubuat itu, dia adalah Masīḥ Mau‘ūdas, yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas yang merupakan keturunan Persia dan para Sahabat beliau riḍwānullāhi ‘alaihim.

وآخر دعوانا أن الحمد للّٰه رب العالمين

[1] Artinya adalah:

“Jika iman berada pada bintang Tsurayyā’, orang-orang atau seorang dari kalangan Salmānra akan mengambilnya kembali.”

Riwayat ini berasal dari jalur Abū al-Ghaits, terdapat dalam: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Tafsīr, Bāb Tafsīru Sūrat al-Jum‘ah, no. 4897.

[2] Al-Ḥāfiẓ Jalāl-ud-Dīn As-Suyūṭī, Tabyīḍ aṣ-Ṣaḥīfah Bi Manāqibi Abī Ḥanīfahrh (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1990 M/1410 H), hh. 33-34.

[3] Abū Ja‘far Aṭ-Ṭaḥāwī, Al-‘Aqīdah Aṭ-Ṭaḥāwīyyah (Aman: Dār al-Bayāriq, 2001 M/1421 H), h. 31.

Tambahan:

Abū Ḥanīfahrh menyatakan bahwa amal tidak tergolong ke dalam iman. Ketiga Imam lain, yaitu Mālikrh, Asy-Syāfi‘īrh, dan Aḥmadrh, berpendapat bahwa amal termasuk dalam lingkup iman. Namun, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas sebagai hakim nan adil memutuskan bahwa pandangan yang benar dalam persoalan ini adalah pandangan Abū Ḥanīfahrh. Beliau bersabda:

فَاعْلَمُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ! أَنَّ الْإِيْمَانَ لَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْاِتِّقَاءِ، فَمَنْ تَرَكَ الْعَمَلَ مُتَعَمِّدًا مُتَكَبِّرًا فَلَا إِيْمَانَ لَهُ عِنْدَ حَضْرَةِ الْكِبْرِيَاءِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ أَيُّهَا الْإِخْوَانُ وَابْدُرُوْا إِلَى الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا السَّيِّئَاتِ قَبْلَ الْمَمَاتِ!

“Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku! Sesungguhnya iman tidak akan sempurna, kecuali dengan amal saleh dan ketakwaan. Oleh karena itu, siapa yang meninggalkan amal saleh dengan sengaja layaknya seorang yang pongah, dia tidak memiliki iman di hadirat Tuhan Yang Mahabesar. Bertakwalah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku, bersegeralah menuju amal-amal saleh, dan jauhilah keburukan-keburukan sebelum ajal menjemput.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Mawāhib ar-Raḥmān dalam Rūḥānī Khazā’in v. 19 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 315]

Maksud dari, “Dia tidak memiliki iman di hadirat Tuhan Yang Mahabesar” adalah bahwa tanpa melakukan amal saleh, maka iman seseorang akan sia-sia karena tidak ada bukti yang menunjang eksistensinya. Kalimat ini tidak bermakna bahwa dia sama sekali tak beriman.

[4] Riwayat ini berasal dari jalur Yazīd bin Al-Aṣamm, terdapat dalam: Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Faḍl Fāris, no. 2548.

[5] Riwayat ini berasal dari jalur Ibnu Sīrīn, terdapat dalam: Ṣaḥīḥ Ibni Ḥibbān, Kitāb Ikhbāruhu ‘An Manāqib aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Al-Ḥijāz Wa Al-Yaman Wa Asy-Syām Wa Fāris Wa ‘Umān, no. 7309.

[6] Yakni, iman adalah sebab dan amal adalah akibat. Konsekuensi dari iman adalah amal. Seseorang yang telah beriman tetapi belum beramal, imannya belum sempurna.

[7] Q.S. 4:114.

[8] Q.S. 3:180.

[9] Q.S. 24:56.

[10] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Ar-Riqāq, Bāb Mā Yuḥdzaru Min Zahrat ad-Dunyā Wa at-Tanāfus Fīhā, no. 6428.

[11] Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il aṣ-Ṣaḥābah, Bāb Faḍl aṣ-Ṣaḥābah Tsumma al-Ladzīna Yalūnahum Tsumma al-Ladzīna Yalūnahum, no. 2538.

[12] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Tadzkirat al-Ḥuffāẓ v. 1 (Beirut: Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1374 H), h. 244.

[13] Q.S. 32:6.

[14] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah Al-Ilhāmiyyah dalam Rūḥānī Khazā’in v. 16 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 331-332.

[15] Jāmi‘ at-Tirmidzī, Abwāb al-Amtsāl, Al-Bāb As-Sādis, no. 2869.

[16] Ḥilyat al-Auliyā’ Li Abī Nu‘aim Al-Iṣfahānī, no. 8188.

[17] Syarḥu Musykil al-Ātsār, no. 2473.

[18] Ibnu ‘Adī Al-Jurjānī, Al-Kāmil Fī Ḍu‘afā’ ar-Rijāl v. 9 (Beirut, Dār Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1998 M/1418 H), h. 133.

[19] Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Taqrīb at-Tahdzīb (Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1416 H), h. 356.

[20] Al-Muṣannaf Li Ibni Abī Syaibah, Kitāb Al-Maghāzī, Mā Ḥafiẓtu Fī Ba‘tsi Mu’tah, no. 37968.

[21] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Kāfiyah Asy-Syāfiyah v. 3 (Mekkah: Dār ‘Ālam al-Fawā’id, 1428 H), h. 908.