Selasa, 07 Oktober 2014

TERJEMAHAN LIFE OF AḤMAD (BAB 2)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

LIFE OF AḤMAD

Catatan: Buku Life of Aḥmad ini dikarang oleh Maulānā Abd-ur-Raīm Dārdra, seorang sahabi Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas dan mantan Imām Masjid London, dalam Bahasa Inggris. Buku ini berkisah tentang biografi Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat al-Masīḥ al-Mau‘ūdas, dan terbagi ke dalam 77 bab setebal 843 halaman. Pemilik blog berusaha menerjemahkan bab per bab dengan target ketuntasan hingga tahun depan. Buku ini dapat diunduh di sini. Para pembaca sangat bisa memberi masukan kepada pemilik blog jika terdapat kekeliruan dalam terjemahan ini. Jazākumullāh Asan al-Jazā’!
BAB 2

PARA LELUHUR AḤMADas

Aḥmadas, Masīḥ Mau‘ūd, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, tergolong ke dalam sebuah keluarga yang sangat terkemuka.

Beliau adalah keturunan dari Ḥajī Barlās yang merupakan paman dari Amīr Tīmūr[1]. Ini adalah fakta yang kokoh bahwa Tīmūr tergolong ke dalam suku Barlās yang telah hidup dan memerintah di Kish[2] selama 200 tahun. Bagian dari dunia ini dikenal pada zaman kuno sebagai Sogdania yang Samarqand adalah ibu kotanya. The Encylopedia Britannica mengatakan bahwa para penduduk Sogdania adalah salah satu suku dari orang-orang Iran. Kata Samarqand itu sendiri berasal dari bahasa Persia. Kata Barlās juga berasal dari bahasa Persia yang berarti ‘seorang pemberani yang berasal dari rumpun yang mulia’. Oleh karena itu, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas menurut aslinya merupakan seorang Parsi berdasarkan ras meskipun beliau dan keluarga beliau dikenal sebagai orang-orang Mughal di India.

Seorang anggota dari keluarga itu, Mīrzā Hādī Baig, datang ke India dari Samarqand bersamaan dengan Bābur[3], Sultan Mughal Pertama di India, atau mungkin beberapa waktu sesudahnya, karena pertikaian daerah dan kemalangan yang menimpanya. Dia membawa besertanya para pengikutnya, abdinya, sebuah rombongan yang terdiri dari sekitar 200 orang. Dia telah diperlakukan oleh Bābur dengan penghormatan yang besar lalu dia memilih suatu tempat sekitar 70 mil jauhnya dari Lahore untuk ditinggali dan mendirikan sebuah desa di satu wilayah yang masih hambar di dataran rendah yang, dengan jarak 9 mil ke barat-daya, Sungai Bias mengalir. Desa ini dinamakan Islāmpur.

Karena tergolong ke dalam keluarga yang memerintah, sebuah jāgīr[4] yang terdiri dari beberapa ratus desa dengan serta-merta dikaruniakan Sultan kepada beliau dan dia pun ditunjuk sebagai qāḍī (hakim) bagi desa itu. Berangsur-angsur, Islāmpur diluruhkan dan ia dikenal sebagai Qāḍī saja. Huruf ض/ sering secara terkenal dilafalkan dengan د/d dan Qāḍī seiring berjalannya waktu diubah ke bentuk yang sekarang, Qādiān.

Desa itu terus menjadi kediaman bagi keluarga itu. Dan, kendati hidup jauh dari Ibukota Kesultanan (Delhi), para anggota keluarga itu mengisi jabatan-jabatan penting selama pemerintahan orang-orang Mughal. Pada hari-hari kejatuhan Pemerintahan Mughal, Mīrzā Faiḍ Muḥammad, kakek buyut Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas, mengambil langkah-langkah untuk mengatasi anarkisme yang melanda Punjab, di mana, pada tahun 1716 M, Sultan Farrūkhsiyār menganugerahi beliau pangkat Haft Hazārī. Dengan pangkat ini, diberikan kepada beliau otoritas untuk menjaga satu pasukan tetap sejumlah 7.000 prajurit. Perlu disebutkan di sini bahwa pangkat ini merupakan, sampai masa kekuasaan Farrūkhsiyār, disediakan terutamanya bagi para anggota dari keluarga istana{1}. Sebagai tambahan, Sang Sultan juga memberikan kepada beliau gelar Azād-ud-Daulah, yaitu ‘Tentara Pemerintah Pemerintah Yang Kuat’.

Sesudah kematian Mīrzā Faiḍ Muḥammad, putranya, Mīrzā Gul Muḥammad, terlibat dalam perjuangan nan gawat melawan pasukan-pasukan anarki, di Punjab. Ini terjadi pada masa kekuasaan Muḥammad Syāh, Syāh ‘Ālam, dan ‘Ālamgīr II, dan dari berita-berita tertulis Istana yang ditujukan kepadanya tampak bahwa dia terus-menerus memperingatkan Sultan di Delhi mengenai mara bahaya yang akan datang. Akan tetapi, dia tidak menerima dukungan yang nyata dari Delhi di luar janji-janji verbal akan bantuan. Dan, dengan tidak dibantu oleh Pemerintah Pusat, dia terus-menerus berjuang untuk mengkonsolidasikan otoritas Istana. Taktala kekuatan Mughal jatuh dan Punjab dirobek-robek oleh penguasa-penguasa kecil, keluarga itu sampai tahap tertentu secara independen tetap menguasai Qadian dan daerah sekitarnya, kurang lebih 60 mil.

Mīrzā Gul Muḥammad adalah seorang yang amat cakap dan dia pada akhirnya menjadi penguasa independen atas Qadian. Tentaranya, terdiri dari infantri dan kalvaleri, berjumlah 1.000. Dia mempunyai tiga senapan. Dia memerintah 85 desa. Dia seorang yang bertakwa dan murah hati. Ratusan orang makan di mejanya. Dia menjadi pelindung bagi proses belajar dan membiayai beasiswa bagi kurang lebih 500 orang. Dia seorang yang suci dan mencintai persahabatan dengan orang-orang nan bertakwa. Terpikat oleh kesalehannya dan penyemangatan yang dia berikan untuk proses belajar, dia dikelilingi oleh sekitar 400 orang yang telah ditentukan untuk menuntut ilmu dan kedermaan. Kemurnian dan kesalehan, keberanian dan kebulatan tekad, serta simpati dan kemurahan hati yang dia miliki masih dikenal sampai sekarang di kalangan tetangga. Dia seorang yang bijak, cerdas, dan teguh. Dikatakan bahwa dia pernah sendirian bertarung melawan 1.000 orang dan mengalahkan mereka semua. Dia seorang tentara pemberani pada siang hari dan pecinta nan abid pada malam harinya. Pada hari-hari itu, Qadian, bersebab atmosfer keagamaannya, acapkali disebut sebagai Mekkah.

Dikatakan bahwa Ghiyāts-ud-Daulah, seorang menteri dari pemerintah kesultanan, sekali waktu mengunjungi Qadian dan, karena melihat kewibawaan Mīrzā Gul Muḥammad dan rumah kecilnya, menjadi dalam sekali terkesima dan berkomentar, dengan air mata di matanya, bahwa seandainya dia mengetahui anggota Dinasti Mughal yang seagung dan semulia itu hidup di hutan ini, niscaya dia akan berusaha untuk menyelamatkan Kesultanan Muslim dengan menempatkannya di atas singgasana Delhi. Hal ini akan menjadi sama sekali mustahil pada hari-hari itu. Sebermulanya, Ranjit Singh[5] hanya memiliki 9 desa, tetapi dalam jangka waktu yang sangat pendek dia dengan sesungguh-sungguhnya menjadi pemerintah bagi seluruh Punjab. Kaum muslimin, bagaimanapun, sedang melewati waktu-waktu yang durjana dan Kesultanan mereka tiada dapat diselamatkan.

Sewaktu Mīrzā Gul Muḥammad mengidap penyakitnya yang terakhir, seorang tabib meresepkan brendi sebagai obat, tetapi dia dengan tegas menolaknya dan lebih memilih untuk mati daripada menjumpai dirinya dalam satu kondisi ketika dia tampak melanggar perintah Alquran untuk tidak mengonsumsi alkohol. Dia pada akhirnya meninggal pada sekitar 1800 M. (Perlu dikomentari di sini bahwa penolakan untuk meminum brendi ini merupakan sebuah teladan akan kesalehan yang amat penuh dengan kehati-hatian. Padahal, dalam keadaan lajat semisal itu, tidaklah salah secara keagamaan untuk mengonsumi brendi)[6].

Mīrzā Gul Muḥammad selanjutnya digantikan oleh putranya, Mīrzā ‘Aṭā’ Muḥammad. Pada masa ini, orang-orang Sikh telah bangkit menuju kekuasaan dan para penduduk Ramgarh[7] memasuki satu perserikatan bersama dengan keluarga-keluarga sekitar mereka. Negara menjadi sangat lumpuh karena 84 desa yang terafiliasi[8] dengan Qadian harus menyerahkan pendapatan tahunan sebesar Rs8 lakh[9]{2}, hanya ibu kota yang dibiarkan. Dengan demikian, Qadian menjadi layaknya satu kota pertahanan, dikelilingi oleh tembok setinggi 22 kaki dan selebar 18 kaki. Di sana terdapat 4 menara yang mengunci tentara dengan sedikit saja senapan. Akhirnya, mungkin pada 1802, orang-orang Sikh dari Ramgarh, Jassa Singh beserta para pengikutnya, menemukan jalan mereka menuju Qadian lewat pengkhianatan dan para anggota keluarga itu semuanya ditawan. Tiap benda dijarah. Masjid-masjid dan bangunan-bangunan dirubuhkan dan salah satu masjid diubah menjadi gurdawāra, yaitu sebuah kuil Sikh, yang masih bisa dilihat sampai hari ini. Seluruh perpustakaan yang memuat buku-buku berharga dibakar menjadi abu. Sejumlah orang dibunuh, tetapi para anggota keluarga itu terhindar, pada malam hari nan dingin lagi membekukan, ketika mereka semua diusir dari Qadian. Mereka harus meninggalkan dusun pada malam hari, menggigil sebab dingin dan lunglai sebab nestapa. Mereka diungsikan, dengan gemetar dan letih, ke sebuah desa yang bernama Begowal, di mana, kendati mereka tidak meminta pernaungan, Sardār Fateḥ Singh, leluhur dari Maharaja Kapurthala, memperlakukan mereka dengan kebaikan dan membentangkan kepada mereka simpati yang sungguh-sungguh dipraktikan yang tidak pernah mereka mohonkan dan tidak pula mereka duga. Dengan mempertimbangkan penderitaan yang membawa duka bagi mereka, dia memberikan tunjangan bagi ongkos hidup mereka yang, bagaimanapun, benar-benar memadai bagi kebutuhan-kebutuhan mereka. Keluarga itu tetap tinggal di sana selama kurang lebih 16 tahun. Jassa Singh meninggal pada 1803 dan digantikan oleh keponakannya, Diwan Singh, yang memerintah Qadian selama kurang lebih 15 tahun. Mīrzā ‘Aṭā’ Muḥammad diracuni oleh musuh-musuhnya pada 1814. Putranya, Mīrzā Ghulām Murtaḍā, masih sangat muda pada saat itu, tetapi dia membawa jenazah ayahnya ke Qadian agar bisa dikuburkan di pekuburan keluarga lantas perhubungan keleluhuran dengan Qadian tetap utuh. Orang-orang Sikh menentang ini. Akan tetapi, penduduk setempat amat sangat bergembira dan orang-orang Sikh, meski takut akan pemberontakan terbuka, harus memperbolehkannya.

Sesudah itu, dia mengikut kerajaan Maharaja Ranjit Singh yang secara berangsur-angsur membawa semua penguasa kecil di negara itu ke bawah kekuasaannya. Pada sekitar 1818, dia mengizinkan Mīrzā Ghulām Murtaḍā, putra Mīrzā ‘Aṭā’ Muḥammad, untuk kembali ke Qadian. Mīrzā Ghulām Murtaḍā bersama saudara-saudaranya setelahnya bergabung ke dalam tentara Sikh dan membuat berbagai pengkhidmatan di beberapa tempat, termasuk perbatasan Kashmir yang telah dianeksasi oleh Ranjit Singh pada 1819. Dia membeslah Peshawar pada 1823.

Pada periode pengkhidmatan militer di bawah Ranjit Singh ini, beban kenelangsaan dan kemalangan Mīrzā Ghulām Murtaḍā sampai tahap tertentu diringankan, tetapi orang-orang Sikh masih berada dalam kekuatan dan keluarganya tetap dalam keadaan yang harus diluruskan. Mīrzā Ghulām Murtaḍā menjadi sangat cemas. Dikatakan bahwa dia pernah berpergian jauh, tetapi sinar harapan belum juga terlihat. Pada momen-momen kesedihan dan kekecewaan, malahan dia sempat berpikir untuk pergi ke Kashmir dan bertempat-tinggal di sana karena dia pernah berkhidmat di sana dalam kapasitasnya sebagai seorang ṣūba, sejenis gubernur. Dia membaktikan dirinya untuk belajar dan berdoa. Dia mencoba peruntungan di pengadilan Ranjit Singh, tetapi pengadilan itu jangak dan tidak ada apa pun yang berfaedah. Akan tetapi, Ranjit Singh sangat terkesima dengan kebajikan dan kemuliaan Mīrzā Ghulām Murtaḍā sehingga para periode terakhir kekuasaannya, suatu waktu pada 1834-1835, dia mengembalikan kepadanya 5 desa yang berasal yang adalah desa-desa milik leluhurnya yang hilang. Ini adalah masa sekitar kelahiran seorang nabi di masa mendatang. Oleh karena itu, kelahiran Aḥmadas memberkati orang tuanya dengan jalan yang mengagumkan. Cahaya datang dan kegelapan lenyap. Hari-hari kesengsaraan telah berganti menjadi kedamaian dan kemakmuran. Mereka mempunyai alasan ganda untuk bersyukur: mereka telah dikembalikan kepada kedamaian dan mereka menikmati kebebasan beragama.

Seluruh keluarga merasakan perubahan dalam keberuntungannya dan mengaitkannya dengan kelahiran bahagia dari putra mereka yang beberkat. Dan itu terbukti menjadi sebuah berkat bagi seluruh negeri, sebab hari-hari yang lebih baik tersedia bagi semua. Orang-orang Sikh kehilangan kekuatan dalam jangka waktu yang sedikit saja. Ranjit Singh meninggal pada 1839. Selama 10 tahun ke depan, Pemerintah Britania terbentangkan ke seluruh penjuru negeri, mengantarkan kepada era paling makmur dalam sejarah India. Orang-orang Sikh menciptakan, pada hari-hari terakhir mereka, usaha yang gagal untuk membunuh Mīrzā Ghulām Murtaḍā dan saudaranya Mīrzā Ghulām Muḥy-id-Dīn, yang telah dipenjara oleh mereka di Basrawán, dekat Qadian; namun mereka segera dilepaskan oleh adik mereka, Mīrzā Ghulām Ḥaidar.

The Punjab Chiefs yang dikarang oleh Sir Lepel Griffin dan Kolonel Massy dan direvisi oleh Sir Henry Craik (1910) memuat penjelasan berikut ini mengenai keluarga itu:

“Pada 1530, pada tahun terakhir dari masa kekuasaan Sultan Bābur, Hādī Baig, seorang Mughal dari Samarqand, bermigrasi ke Punjab dan bertempat-tinggal di Distrik Gurdaspur. Dia adalah seorang pembelajar dan ditunjuk sebagai qāḍī atau hakim atas 70 desa di sekitar Qadian, kota yang telah dia dirikan yang pada awalnya dia namai Islāmpur Qāḍī yang darinya nama Qādiān muncul secara natural. Selama beberapa generasi, keluarga itu menempati jabatan-jabatan terhormat di bawah kekuasaan Kesultanan, hanya ketika orang-orang Sikh menjadi kuat mereka jatuh miskin.

Gul Muḥammad dan putranya yang bernama ‘Aṭā’ Muḥammad terus menerus terlibat dalam pertempuran melawan Misl Ramgarhia dan Misl Kanahaya yang menguasai kawasan-kawasan sekitar Qadian. Dan, pada akhirnya, setelah daerah-daerah yang terafiliasi dengan Qadian itu lepas, ‘Aṭā’ Muḥammad menarik diri ke Begowal di bawah perlindungan Sardār Fateḥ Singh Ahlūwalia. Dia menetap di sana selama 12 tahun. Ketika dia meninggal, Ranjit Singh, yang telah mengambil kepemilikan atas semua tanah di Misl Ramgarhia, mengundang Ghulām Murtaḍā ke Qadian dan mengembalikan kepadanya suatu porsi yang besar dari daerah-daerah yang dulu terafiliasi dengan leluhurnya.

Lantas, dia berserta saudara-saudaranya memasuki tentara Maharaja dan mempersembahkan pengkhidmatan yang berdaya guna di perbatasan Kashmir dan tempat-tempat lainnya.

Selama masa kekuasaan Nau Nihal Singh, Sher Singh, dan Darbar, Ghulām Murtaḍā secara terus-menerus dipekerjakan dalam pengkhidmatan aktif. Pada 1841, dia diutus bersama dengan Jenderal Ventura kepada Mandi dan Kulu dan pada 1843 ke Peshawar untuk mengkomandoi sebuah resimen infantri. Dia menunjukkan keistimewaan dirinya di Hazara pada masa huru-hara di sana. Dia tetap berbakti kepada pemerintahnya dan bertempur di pihaknya. Saudaranya, Ghulām Muḥy-id-Dīn, juga memberikan pengkhidmatan yang baik. Sewaktu Bhai Maharaja Singh melakukan mars bersama pasukannya ke Multan dalam rangka membantu Diwan Mul Raj, Ghulām Muḥy-id-Dīn beserta para jāgirdār lainnya, Langar Khan Sahiwal dan Sahib Khan Tiwana, meningkatkan populasi kaum muslimin dan dengan pasukan Misra Sahib Dayal menyerang para pemberontak dan secara utuh mengalahkan mereka di mana lebih dari 600 orang binasa.

Pada saat aneksasi, beberapa jāgīr dari keluarga itu diberikan kembali, tetapi uang pensiun sebesar Rs700 diberikan kepada Ghulām Murtaḍā dan saudaranya dan mereka tetap menahan hak-hak miliknya di Qadian dan desa-desa sekitarnya. Keluarga itu memberikan pengkhidmatan yang istimewa selama Pemberontakan Mutiny 1857. Ghulām Murtaḍā memasukkan banyak orang ke dalam tentara dan putranya, Ghulām Qādir, berkhidmat di dalam pasukan Jenderal Nicholson ketika Sang Pejabat menghancurkan para pemberontak Infantri Natif ke-46 yang telah melarikan diri dari Sialkot di Trimughat.

Jenderal Nicholson lalu memberikan sebuah sertifikat kepada Ghulām Qādir yang menyatakan bahwa pada 1857 keluarga Qadian menampilkan loyalitas yang lebih besar daripada distrik-distrik lain.

Pada 11 Juni 1849, Mr. J.M Wilson, Komisioner Finansial, Lahore, menulis dari Lahore kepada Mīrzā Ghulām Murtaḍā:

“Saya telah meneruskan permintaanmu yang mengingatkanku kepada pengkhidmatan-pengkhidmatan dan hak-hakmu dan keluargamu pada masa lalu. Saya sangat sadar bahwa semenjak masa pengenalan terhadap Pemerintah Britania, Kamu dan keluargamu telah secara pasti tetap setia, berbakti, dan teguh dan hak-hakmu sungguh pantas untuk diperhatikan. Dalam setiap aspek, semoga Kamu dapat beristirahat dengan terjamin dan kepuasan hati bahwa Pemerintah Britania tidak akan pernah melupakan hak-hak dan pengkhidmatan-pengkhidmatan keluargamu yang akan beroleh pertimbangan yang tepat ketika kesempatan yang menguntungkan menawarkan dirinya. Kamu mesti tetap terus-menerus berbakti dan setia karena di dalamnyalah kepuasan Pemerintah sekaligus kesejahteraanmu terletak.”

Mr. Robert Cust, Komisioner Lahore, menulis kepadanya pada 20 September 1858:

“Karena kamu telah memberikan pertolongan yang besar dalam memasukkan banyak orang ke dalam tentara dan memasok kuda bagi Pemerintah di Munity pada 1857 serta menjaga loyalitas sejak permulaan sampai sekarang, sebuah jubah penghormatan[10] senilai Rs200 dianugerahkan kepadamu sebagai pengakuan terhadap pengkhidmatan-pengkhidmatanmu yang baik dan sebagai ganjaran bagi loyalitasmu. Telebih lagi, bersesuaian dengan keinginan Pimpinan Komisioner, sebagaimana disampaikan dalam suratnya no. 576 tertanggal 10 Agustus 1858, parwana ini ditujukan untukmu sebagai tanda-bukti kepuasan Pemerintah atas ketaatanmu dan loyalitasmu.”

Sir Robert Egerton, Komisioner Finansial, Punjab, menulis kepada Mīrzā Ghulām Qādir pada 19 Juni 1876:

“Saya telah membaca dengan teliti suratmu untuk yang kedua kalinya dan Saya secara dalam sekali menyayangkan kematian ayahmu, Mīrzā Ghulām Murtaḍā, yang merupakan seorang pengharap kebaikan bagi Pemerintah dan pimpinan yang berbakti kepada Pemerintah. Dengan mempertimbangkan pengkhidmatan-pengkhidmatan keluargamu, Saya akan menghormatimu dengan penghormatan yang sama yang telah dilimpahkan kepada ayahmu. Saya akan terus mengingat pemulihan dan kesejahteraan keluargamu apabila kesempatan yang menguntungkan terjadi.”

Kesan bahwa bantuan yang loyal dan aktif yang diberikan oleh keluarga itu yang telah membekas dalam pikiran Jenderal Nicholson (seseorang yang tentangnya Sir John Lawrence menulis dalam Mutiny Report-nya bahwa tanpa Jenderal Nicholson, Delhi tidak dapat ditundukkan) mungkin dikumpulkan dari surat yang dia tulis pada Agustus 1857, hanya sebulan sesudah kematiannya. Itu ditujukan kepada kakak Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas dan berbunyi sebagai berikut:

“Karena Kamu dan keluargamu telah membantu Pemerintah sewaktu dalam tekanan pada Pemberontakan Mutiny 1857 di Trimmu Ghat, Mir Thal, dan tempat-tempat lain dengan kesetiaan dan loyalitas terbesar, dan telah membuktikan bahwa dirimu sepenuhnya berbakti kepada Pemerintah Britania, dan juga telah membantu Pemerintah dengan pengeluaran sendiri berupa 50 prajurit dan kuda, atas dasar itu, sebagai pengakuan terhadap loyalitas dan keberanianmu, parwana ini ditujukan kepadamu yang tolong dijaga oleh dirimu. Pemerintah dan para pejabatnya akan senantiasa memiliki perhatian yang seharusnya atas pengkhidatan-pengkhidmatanmu dan hak-hakmu dan atas kesetian yang telah kamu tunjukan kepada Pemerintah. Setelah menyudahi tekanan para pengacau, Saya ingin memberikan perhatian terhadap kesejahteraan keluargamu. Saya juga telah menulis kepada Mr. Nisbet, Deputi Komisioner, Gurdaspur, untuk menarik perhatiannya kepada pengkhidmatan-pengkhidmatanmu.”

Hendaknya dicatat di sini bahwa pada hari-hari permulaan mereka, keluarga Qadian tidak dapat diekspektasikan untuk menunjukan sedikitpun simpati kepada Pemerintah Britania. Alasannya adalah karena mereka tergolong ke dalam keluarga yang memerintah di Delhi. Akan tetapi, ketika mereka melihat, bahwa Pemerintah Mughal telah kehilangan kebermanfaatannya bagi negara dan bahwa India sekarang membutuhkan suatu kekuatan baru untuk meraih kembali kejayaannya seperti sediakala, mereka bersedia dengan sepenuh hati untuk membantu Pemerintah Britania sepanjang kemampuan mereka, bahkan mereka mengorbankan sentimen dan ambisi pribadi.

Mīrzā Ghulām Murtaḍā merupakan seorang tabib yang besar. Dia telah mempelajari pengobatan di Baghpanpura di bawah Rūḥullāh dan di Delhi di bawah keluarga Syarīf Khān. Di menangani orang-orang dengan bebas biaya, tidak mengharapkan apa-apa sebagai timbal balik. Raja Tejā Singh dari Batala sekali waktu menawarkannya sejumlah uang yang banyak dan sebuah khil‘at dengan dua desa, yaitu Shitabkor dan Hasanpur, sebagai timbal balik atas pengkhidmatan-pengkhidmatannya dalam pengobatan. Dua desa itu sejatinya pernah termasuk ke dalam daerah-daerah yang terafiliasi dengan leluhurnya, tetapi dia menolak seraya berkata bahwa ini merupakan penghinaan baginya dan anak-anaknya untuk menerima sedikitpun bayaran.

Maharaja Syer Singh sekali waktu datang ke Kahnuwan dalam suatu perjalanan berburu. Mīrzā Ghulām Murtaḍā juga menyertainya. Seorang pelayan Maharaja terjangkit dingin yang amat parah. Mīrzā Ṣāḥib pun menyembuhkannya dengan resep yang murah dan biasa-biasa saja. Kemudian, Syer Singh terjangkit dingin yang serupa. Mīrzā Ṣāḥib pun meresepkan untuknya pengobatan yang sangat mahal yang membuat Maharaja menanyakan alasannya atas penanganan yang berbeda ini. Mīrzā Ṣāḥib menjawab bahwa dia tidak berpikir bahwa pelayan itu memiliki status yang setara dengan Maharaja. Syer Singh menjadi teramat senang dengan balasan ini.

Mīrzā Ṣāḥib begitu dermawan kepada musuh-musuhnya. Seorang Brahmana yang bernama Joti yang telah menuntutnya ke pengadilan ditangani olehnya dengan amat sangat simpatik sewaktu dia jatuh sakit. Seseorang sekali waktu mengucapkan selamat kepadanya atas kematian seorang musuh. Mīrzā Ṣāḥib menjadi amat sangat tidak senang lalu mengeluarkannya dari persahabatan.

Dia mempunyai perasaan yang peka terhadap kehormatan diri. Dia sekali waktu pergi untuk melihat Mr. Robert Cust, Komisioner Lahore, karena beberapa urusan bisnis. Dalam perbincangan, Mr. Cust menanyakan kepadanya dengan suasana resmi jarak antara Srigobindpur dan Qadian. Mīrzā Ṣāḥib menjawab bahwa dia di sana tidaklah untuk menjawab pertanyaan semacam itu layaknya seorang pekerja sewa lalu bangkit untuk meninggalkannya. Komisioner menyadari kesalahannya dan menjadi sangat terkesima oleh pertunjukan kemandirian dan kewibaan ini.

Salah seorang putra Mīrzā Ghulām Murtaḍā, Mīrzā Ghulām Qādir, adalah seorang Subinspektor Polisi dan Mr. Nisbet, Deputi Komisoner, sekali waktu menskorsnya. Deputi Komisioner berbicara tentang hal itu kepada Mīrzā Ṣāḥib ketika dia datang ke Qadian di mana Mīrzā Ṣāḥib berkata bahwa bila putranya benar-benar bersalah, dia harus dihukum dengan satu bentuk hukuman yang harus dapat menyuguhkan suatu contoh bagi seluruh putra dari keluarga-keluarga terhormat. Deputi Komisioner menjadi sangat senang dan memaafkan Mīrzā Ghulām Qādir seraya berkata bahwa putra dari seorang ayah semacam itu tidaklah membutuhkan hukuman.

Orang-orang dipenuhi dengan kekaguman ketika memandang Mīrzā Ṣāḥib. Dia memiliki penampilan yang mempesona dan tidak ada orang yang sampai hati untuk melihat langsung wajahnya. Mīrzā Imām Dīn, salah seorang keponakannya, sekali waktu menyuruh Sochet Singh dari Bhaini untuk membunuh Mīrzā Ṣāḥib. Dia menyatakan bahwa dia pergi dalam beberapa kesempatan ke atas dinding dengan niat membunuhnya. Akan tetapi, setiap kali dia melihatnya, dia merasa kecut dan tak sampai hati untuk mendekatinya.


Mīrzā Ghulām Murtaḍā juga merupakan seorang penyair. Nama pena yang biasa dia gunakan adalah Taḥsīn. Saya berikan di sini beberapa bait yang digubah olehnya:


Mīrzā Sulṭān Aḥmad mengatakan bahwa dia sekali waktu pernah mengumpulkan semua puisi Mīrzā Ghulām Murtaḍā dan mengirimnya ke Ḥāfiẓ ‘Umar Darāz, Editor dari Punjabi Akhbār, tetapi sayang sekali dia meninggal segera sesudahnya dan puisi-puisi itu menjadi hilang. Nama pena bagi puisi-puisi itu adalah (MaftūnMaḥzūn.

Masjid Aqṣā dibangun oleh Mīrzā Ghulām Murtaḍā. Penggalan tanah yang Masjid Aqṣā berada di atasnya dulunya tergolong ke dalam kepemilikan orang-orang Sikh dan dia membelinya secara lelang dengan harga yang sangat tinggi sebesar Rs 700. Dia telah menetapkan dalam pikirannya untuk membelinya dengan harga berapapun sebab dia berkeinginan untuk membuat perubahan terhadap pengejaran-pengejaran duniawi yang dia telah habiskan hidupnya untuknya. Orang-orang mengejeknya karena membangun sebuah mesjid besar semacam itu, padahal tidak ada orang yang beribadah di sana. Sedikit sekali mereka mengetahui bahwa masjid itu akan dijejali dengan orang-orang yang setia dan bahwa ketulusan yang dengannya masjid itu dibangun akan terefleksikan di dalam keharusan untuk meperluasnya lagi dan lagi. Dia juga mencoba untuk meraih kembali kepemilikan atas sebuah yang telah diubah menjadi sebuah kuil, tetapi proses-proses legal yang dia ajukan gagal.

Mīrzā Ghulām Murtaḍā mencoba sepanjang hidupnya untuk meraih kembali kepemilikan daerah-daerah yang dahulu terafiliasi dengan leluhurnya. Dia mengeluarkan kurang lebih Rs70.000 untuk banyak perkara sampai terakhir, tetapi tidak dapat meraih banyak. Tidak ada seorangpun dalam keluarganya yang membantunya adalam upaya-upaya yang mereka ketahui akan terbukti sia-sia ini, tetapi sekecil apapun dia sukses meraih sesuatu, hal itu selalu dibagi-bagi oleh kolateral-kolateralnya. Ini disebabkan kebodohan agennya bahwa nama-nama kolateral itu, bersamaan dengan raihan Mīrzā Ṣāḥib, dimasukkan ke dalam kertas sebagai pemilik-pemilik daerah-daerah yang terafiliasi itu.

Sekali waktu, dalam mimpi, Mīrzā Ghulām Murtaḍā melihat Nabi SuciSAW datang ke rumahnya. Dia segera berlari untuk menyambut Nabi SuciSAW dan berpikir untuk memberikan nazar, suatu bentuk persembahan ala timur seperti persembahan emas, kemenyan, dan mur yang diberikan kepada ‘Īsāas oleh Orang-Orang Bijak dari Timur[11]. Akan tetapi, sewaktu dia memasukkan tangannya ke dalam kantongnya, dia menemukan bahwa dia hanya mempunyai satu rupee dan itu pun adalah koin tiruan. Kejadian ni membuatnya berlinang air mata. Kejadian ini, dia tafsirkan, bermakna bahwa kecintaan kepada Allah dan Nabi-NyaSAW, apabila dicampur dengan kecintaan terhadap dunia, tidak lebih baik dari sebuah koin palsu. Kekecewaannya mengenai perkara-perkara duniawinya amatlah peka dan dia acapkali menyesali bahwa dia tidak dapat mengkhidmati Tuhan dengan segenap ikhtiar dan kekuatannya. Dia memantapkan kehendaknya untuk dikuburkan di salah satu pojok dari sebuah mesjid yang telah dia bangun di tengah-tengah kampung. Dia menetapkan sebagai letak untuk kuburnya satu tempat yang sesuai dengan harapannya. Dia meninggal karena disentri pada 1876 saat berusia 85 tahun ketika masjidnya hampir selesai dibangun.

Mīrzā Ghulām Murtaḍā menikah dengan Chirāgh Bībī, saudara perempuan Mīrzā Jamī‘at Baig dari Aima, sebuah desa di Distrik Hosyiarpur. Chirāgh Bībī merupakan seorang wanita yang murah hati, ramah, ceria, dan baik hati, contoh dari kesalehan. Dia mengurusi orang-orang miskin ketika mereka hidup. Ketika mereka meninggal, dia menyediakan bagi mereka penguburan yang layak. Melewati kesejahteraan dan kenelangsaan, dia tetap menjadi istri yang setia dan sahabat yang istimewa bagi Mīrzā Ghulām Murtaḍā yang memiliki penghormatan yang dalam baginya. Dia selalu memohon nasehatnya bersebab kebijaksanaannya, kecerdasannya, dan kedermaannya.

Dia merupakan seorang ibu yang amat sangat penyayang. Dia mencurahkan perhatiannya yang paling lembut kepada anak-anaknya. Anggota-anggota yang berpikiran duniawi dari keluarga itu mungkin melihat Aḥmadas yang mempunyai pikiran suci sebagai seorang anak muda tiada berharga, tetapi hal duniawi yang mampu menarik perhatian beliau hampir semuanya adalah ibu beliau.

Dia meninggal pada 1868 dan dikuburkan di pekuburan keluarga (dikenal dengan Syāh ‘Abdullāh Ghāzī) di barat Qadian. Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas dalam sekali mencintainya dan kapanpun beliau berbicara tentangnya, mata beliau senantiasa dipenuhi oleh air mata. Beliau biasa menziarahi kuburannya dan berdoa di sana untuknya. Semoga dia beristirahat dengan tenang selama-lamanya!

Catatan kaki dari penulis:

{1} Maulawī Muḥammad Zakāullāh mengatakan dalam History of India karangannya bahwa Niẓām Hyderabad (Nawwāb Mīr Qamar-ud-Dīn Khān) juga diberikan pangkat Haft Hazārī (v. 9, h. 108).

{2} Syamsīr Khalṣa Bag. II, h. 284, oleh Giyān Singh, Guru Gobind Singh Press, Sialkot, 1892.

Catatan kaki dari penerjemah:

[1] Saya membaca terjemahan bahasa Indonesia dari buku Hadhrat Ahmadas karangan Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūdra bahwa Ḥajī Barlās adalah paman dari Amīr Tughluq Tīmūr. Ini adalah sebuah kesalahan. Ḥaḍrat Muṣliḥ Mau‘ūdra menyebutkan dalam buku beliau itu Emperor Tīmūr atau Amīr Timūr  yang mana di antara Amīr Tīmūr dan Amīr Tughluq Tīmūr terdapat perbedaan yang besar. Amīr Tīmūr adalah julukan bagi Tīmūr-e-Lang atau yang dikenal di dunia Barat sebagai Tamerlane atau Tamburlaine, bukan Amīr Tughluq Tīmūr. Dia adalah keponakan Ḥajī Barlās atau, dalam kata lain, Ḥajī Barlās adalah pamannya.

[Sir Percy Sykes, A History of Afghanistan v. 1 & 2 (Routledge: New York, 2013), h. 253]

Dia lahir di Kish pada 1336 M. Ayahnya, Amīr Teragai, adalah kepala cabang Gurkan dari suku Barlās.

[The Chancellors, Masters, and Scholars of the University of Cambridge, The Encylopedia Britannica v. 26, (New York: Encylopedia Britannica Inc., 1911), h. 994]

Adapun Amīr Tughluq Tīmūr, dia adalah Gubernur Mongolia yang menaklukkan Kish pada 1360 M atau 761 H sehingga memaksa Ḥajī Barlās untuk melarikan diri ke Khurasan. Tetapi, ketika menyebrangi Sungai Oxus, dia dibunuh oleh segerombol perampok.

[Sir Percy Sykes, A History of Persia v. 2 (New York: Routledge, 2004), h. 119]

Nah, pada mulanya, Tīmūr-e-Lang menyertai Ḥajī Barlas dalam pelarian menuju Khurasan. Namun, sebelum menyebrangi Sungai Oxus, dia meminta izin kepada Ḥajī Barlās untuk kembali ke Kish dan dia pun diizinkan. Para sejarawan mengungkapkan bahwa alasan kembalinya Tīmūr-e-Lang adalah agar suku Barlās tidak menjadi bingung bersebab kekosongan kepemimpinan, tetapi peristiwa-peristiwa selanjutnya menunjukkan bahwa alasan sejati darinya adalah karena dia insaf akan kesempatan untuk merebut kepemimpinan dalam suku itu.

[Beatrice Forbes Manz, The Rise and Rule of Tamerlane (New York: Cambridge University Press, 1989), h. 45]

Sir Percy Sykes mengutip Tārīkh-i-Rasyīdī tentang kejadian ini:

“Ayahnya telah mati dan pamannya pun melarikan diri,
Masyarakatnya ditampakkan kepada pemorak-morandakan oleh orang asing,
Musuh-musuh mereka telah menempatkan sukunya dalam bahaya,
Ia layaknya seekor elang tanpa sayap atau bulu.”

Pada tahap berikutnya, Amīr Tughluq Tīmūr menunjuknya sebagai Gubernur Kish. Dia menyambutnya dengan penghormatan.

[Sir Percy Sykes, A History of Afghanistan v. 1 & 2 (Routledge: New York, 2013), h. 253]

[2] Sekarang bernama Shahr-i-Sabz, terletak di Provinsi Qashqadaryo, Uzbekistan.

[3] Nama aslinya adalah Ẓahīr-ud-Dīn Muḥammad. Dia digelari dengan julukan Bābur yang berarti ‘macan’. Ayahnya adalah ‘Umar Syaikh Mīrzā, Penguasa Fergania. Dari jalur ayah, dia adalah keturunan ke-5 dari Tīmūr-e-Lang.  Dari pihak ibu, Qutlugh Nigār Khānum, dia merupakan keturunan ke-13 dari Jengīz Khān.

[The Chancellors, Masters, and Scholars of the University of Cambridge, The Encylopedia Britannica v. 26, (New York: Encylopedia Britannica Inc., 1911), h. 93]

Jadi, karena Bābur adalah keturunan Tīmūr-e-Lang, maka dia dan Mīrzā Hādī Baig masih bersaudara ditinjau dari kesamaan suku, yakni suku Barlās.

[4] Jāgīr adalah pemberian yang didapat oleh seorang manṣabdār (seorang birokrat istana atau pemegang jabatan tinggi) berupa wilayah-wilayah tertentu. Seorang kepala dari suatu jāgir disebut sebagai jāgīrdār. Secara umum, terdapat 4 jenis jāgīr pada masa Kesultanan Mughal:
  • Tankha Jāgīr: jārgīr yang diberikan dengan membayar harga tertentu yang diambil dari gaji seorang jāgirdār;
  • Masyrūṭ Jāgīr: jārgīr yang diberikan dengan syarat-syarat tertentu;
  • In‘ām Jāgīr: jārgīr yang diberikan tanpa ada kewajiban untuk berkhidmat;
  • Waṭan Jāgīr: jārgīr yang diberikan kepada seorang zāmindār (aristokrat atau kepala suku) di teritorial mereka.
Jāgir ini diberikan kepada manṣabdār untuk mendukung dan menyokong mereka beserta para pengikut mereka.

[David Nicoller, Mughul India: 1504-1761 (Oxford: Osprey Publishing Ltd, 1993), h. 9]

[5] Maharaja Ranjit Singh lahir pada 2 November 1780. Dia merupakan putra dari Sardār Mahan Singh, yang dia teruskan dan gantikan pada 1792, sebagai kepala cabang Sukarchakia dari Konfederasi Sikh (Misl). Pada usia 17 tahun, dia merebut tampuk kekuasaan dan 2 tahun berikutnya menyatukan 12 cabang Konfederasi Sikh menjadi sebuah Kerajaan Sikh. Pada 1820, dia berhasil menaklukkan dan memasukkan seluruh Punjab dari Sungai Sutlej hingga Sungai Indus ke dalam kerajaannya.

[The Chancellors, Masters, and Scholars of the University of Cambridge, The Encylopedia Britannica v. 26, (New York: Encylopedia Britannica Inc., 1911), h. 892]

Perlu diketahui di sini bahwa Maharaja Ranjit Singh secara utuh adalah produk dari teokrasi Sikh dan benar-benar menghayati spirit sebagai seorang anggota khalṣa, yaitu sekolompok orang-orang Sikh yang telah menjalani ritual armit, semacam baptisan yang diinisiasi oleh Guru Gobind Singh dengan meminum amrit (air gula yang diaduk dengan pisau belati), sehingga segenap tindak-tanduknya dan karirnya berada di atas sistem keagamaan itu.

[Sir Lepel Greffin, Ranjit Singh (Oxford: The Clarendon Press, 1892), h. 39]

Untuk menjadi seorang khalṣa, seseorang harus mematuhi berbagai perintah dan larangan. Salah satu larangan yang harus yang harus dipatuhi adalah larangan untuk berzina dengan wanita Muslim (pada awalnya hanya wanita Muslim saja, tetapi pada tahap selanjutnya berkembang menjadi larangan total terhadap perzinahan) dan larangan untuk memakan makanan halal atau sesembelihan kaum muslimin.

[Eleanor Nesbitt, Sikhism: A Very Short Introduction (New York: Oxford University Press, 2005, h. 58]

[6] Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda:

حدثنا محمد بن المصفى الحمصي؛ حدثنا الوليد بن مسلم؛ حدثنا الأوزاعي؛ عن عطاء، عن ابن عباس، عن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم، قال: إِنَّ اللّٰهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِيْ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ.

“Muḥammad bin Al-Muṣaffā Al-Ḥimṣī menceritakan kepada Kami; Al-Walīd bin Muslim menceritakan kepada Kami; Al-Auzā‘ī menceritakan kepada Kami; dari ‘Aṭā’, dari Ḥaḍrat Ibnu ‘Abbāsra, dari Ḥaḍrat RasūlullāhSAW, beliau bersabda: Sesungguhnya, Allah melepaskan dari umatku kesalahan, kelupaan, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.”

[Sunan Ibn Mājah, Kitāb Aṭ-Ṭalāq, Bāb Ṭalāq al-Mukrah Wa an-Nāsī, no. 2545]

[7] Ramgarh adalah salah satu desa dari 12 desa yang termasuk ke dalam Konfederasi Sikh (Misl). Ramgarh pada mulanya adalah sebuah benteng untuk melindungi orang-orang Sikh pada hari-hari kemalangan pada abad ke-18. Kebanyakan penduduknya adalah tukang batu, tetapi terdiri juga dari pandai besi dan pekerja tangan lainnya. Jassa Singh berasal dari desa ini. Dia tadinya berasal dari kelas tukang kayu. Namun, berikutnya, dia berhasil meraih reputasi sebagai tentara nan berani lagi terampil.

Pada masa jayanya, teritorial Misl Ramgarh di Bari Doab (wilayah yang terletak di antara Sungai Bias dan Sungai Rawi) mencakup Batala, Kalanaur, Dinanagar, Sri Hargobindpur, Shahpur Kandi, Gurdaspur, Qadian, Ghuman, dan Matteval, sedangkan di Jalandhar Doab (wilayah yang terletak di antara Sungai Bias dan Sungai Sutlej) mencakup Urmur Tanda, Sanh, Miani, Garhdivala dan Zahura. Di perbukitan, Kangra, Nurpur, Manndi dan Chamba membayar upeti kepada Jassa Singh.

[H.S. Singha, Encylopedia of Sikhism (New Delhi: Hemkunt Publishers (P) Ltd, 2005), h. 171]

[8] Dalam versi aslinya disebut sebagai ta‘alluqa, artinya ‘satu daerah yang dimiliki oleh satu daerah pusat yang menjadi ibu kota’. Dengan demikian, daerah ini terafiliasi dengan daerah pemiliknya dan harus membayar porsi tertentu dari pendapatan per tahunnya kepada daerah pusat yang memilikinya itu. Kepala dari daerah ini disebut sebagai kārdār.

[Kenneth Fletcher, The History of India (New York: The Encylopedia Britannica. Inc, 2011), h. 202]

[9] 1 lakh bernilai 100.000. Jadi, Rs8 lakh sama dengan Rs800.000.

[10] Dalam versi aslinya terulis khil‘at yang diambil dari bahasa Arab خلعة. Pada masa Kesultanan Mughal, pemberian dan penerimaan khil‘at meneguhkan perhubungan hirearkis antara pemberi dan peneriman. Dengan memberi, sang pemberi mengklaim superioritas. Dengan menerima, sang penerima mengakui dan tunduk kepada klaim itu.

[Gillian Bennett, Bodies: Sex, Violence, and Death in Contemporary Legend (Missisipi: University Press of Missisipi, 2005), h. 69]

[11] Dalam Injil tersebut:

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” [Matius 2:11]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar