Rabu, 15 Oktober 2014

Nabi ‘Īsā (as) Nuzūl (Turun) atau Rujū‘ (Kembali)?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Nabi ‘Īsāas Nuzūl (Turun) atau Rujū‘ (Kembali)?


Sebagian penentang Jemaat Muslim Ahmadiyah sering mengungkapkan bahwa Nabi ‘Īsāas akan nuzūl (turun) dan turunnya beliau itu sekaligus merupakan kedatangan beliau kembali atau rujū untuk yang kedua kali. Mereka berdalil dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abī Ḥātim Ar-Rāzī dalam At-Tafsīr-nya:

حدثنا أبي؛ ثنا أحمد بن عبد الرحمن الدشتكي؛ ثنا عبد اللّٰه بن أبي جعفر؛ عن أبيه، عن الربيع بن أنس، عن الحسن، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم لليهود: إِنَّ عِيْسٰى لَمْ يَمُتْ وَإِنَّهُ رَاجِعٌ إِلَيْكُمْ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Ayahku menceritakan kepada Kami; Amad bin ‘Abd-ir-Ramān menceritakan kepada Kami; ‘Abdullāh bin Abī Ja‘far menceritakan kepadaku; dari ayahnya, Ar-Rabī‘ bin Anas menceritakan menceritakan kepada Kami; dari Al-asan, dia berkata: arat RasūlullāhSAW bersabda kepada orang-orang Yahudi: Sesungguhnya, ‘Īsāas belum wafat dan beliau kelak akan kembali kepada Kalian sebelum hari kiamat.”[1]

Agar lebih jelas, Saya akan sebutkan profil (tarjamah) dari para perawi satu persatu:

Abū Ḥātim Ar-Rāzī

Nama aslinya adalah Muammad bin Idrīs bin Al-Mundzir bin Dāwūd bin Mihrān Al-analī. Dia merupakan salah seorang imam dan hafiz besar dalam ilmu hadis. Berikut ini beberapa komentar dan pujian ulama kepadanya[2]:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Abū Bakr Al-Khallāl
إمام في الحديث.
Imam dalam ilmu hadis.
Ibnu Khirāsy
كان من أهل الأمانة والمعرفة.
Termasuk dalam orang-orang yang terpecaya dan ternama.
Al-La’likāī
كان إماما عالما في الحديث، حافظا له، متقنا ثبتا.
Imam yang alim dalam ilmu hadis, ḥāfi, mutqin, dan tsabat.
Abū Nu‘aim
إمام في الحفظ.
Imam dalam hafalan.
An-Nasāī
ثقة.
Tsiqah.
Al-Khaṭīb Al-Baghdādī
كان أحد الأئمة الحفاظ الأثبات، مشهورا بالعلم، مذكورا بالفضل.
Salah seorang imam yang ḥāfi, tsabat, masyhur dengan ilmu, dikenal dengan keutamaan.

Amad bin ‘Abd-ur-Ramān Ad-Dasytakī

Nama lengkapnya adalah Amad bin ‘Abd-ir-Ramān bin ‘Abdillāh bin Sa‘d bin ‘Utsmān Ad-Dasytakī Ar-Rāzī Al-Muqri’. Abū Ḥātim Ar-Rāzī menggelarinya adūq[3].

‘Abdullāh bin Abī Ja‘far

Dia bergelar Ar-Rāzī. Para ulama bersilang pendapat mengenainya. Abū Zur‘ah dan Abū Ḥātim menggelarinya adūq.

Adapun komentar para ulama yang menyangsikannya, hal itu adalah sebagai berikut:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Muammad bin umaid Ar-Rāzī
سمعت منه عشرة آلاف حديث فرميت بها، كان فاسقا.
Aku mendengar puluhan ribu hadis darinya lalu Aku pun membuang semuanya, dia seorang fasik.
Ibnu ‘Adī
من حديثه ما لا يتابع عليه.
Dari hadisnya ada yang tidak memiliki mutāba‘ah (artinya dia bersendirian dalam meriwayatkan).[4]
Adz-Dzahabī
ضعيف.
ليس بحجة.
Lemah.[5]

Bukan merupakan hujah.[6]
Ibnu ajar Al-‘Asqalānī
صدوق يخطئ.
adūq, tetapi sering salah.[7]

Dalam kasus hadis di atas, dia tidak memiliki mutāba‘ah. Seorang yang tsiqah, apabila bersendirian (tafarrud) dalam meriwayatkan dan tidak memiliki mutāba‘ah, hadisnya masih bisa diterima (maqbūl). Namun, seseorang yang dianggap lemah oleh kebanyakan imam seperti ‘Abdullāh bin Abī Ja‘far ini, hadisnya tidak dapat diterima. Dengan demikian, catat (‘illat) pertama dari hadis ini telah Kita temukan dan berpangkal dari sosok ‘Abdullāh bin Abī Ja‘far.

Abū Ja‘far Ar-Rāzī

Nama aslinya adalah ‘Īsā bin AbīĪsā (Hāmān). Sama seperti mengenai putranya, para ulama hadis pun berselisih mengenainya. Beberapa ahli ilmu menyanjungnya, sedangkan yang lain mencelanya. Berikut adalah mereka yang memujinya:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Amad bin anbal
صالح الحديث.
Hadisnya bagus.
Yayā bin Ma‘īn
ثقة.
Tsiqah.
Abū Ḥātim Ar-Rāzī
ثقة صدوق.
Tsiqah adūq.[8]
Adz-Dzahabī
صالح الحديث.
Hadisnya bagus.[9]
Ibnu ajar Al-‘Asqalānī
صدوق.
adūq.[10]

Adapun para imam yang lain, mereka melemahkan Abū Ja‘far. Di antara mereka adalah:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Amad bin anbal
ليس بالقوي.
Tidak kuat.
An-Nasāī
ليس بالقوي.
Tidak kuat.
Abū Zur‘ah
يهم كثيرا.
Banyak berwaham.
Ibnu Al-Madīnī
ثقة كان يخلط.
يكتب حديثه إلا أنه يخطئ.
Tsiqah, ingatannya bercampur.
Hadisnya boleh ditulis. Hanya saja, dia sering salah.
‘Amrū bin ‘Alī
فيه ضعف.
Dalam dirinya terdapat kelemahan.
As-Sājī
صدوق وليس بمتقن.
adūq, tetapi tidak mutqin.[11]
Al-Fallās
سيئ الحفظ.
Hafalannya jelek.
Ibnu ibbān
ينفرد بالمناكير عن المشاهير.
Bersendirian dengan hadis-hadis munkar dari orang-orang yang masyhur.[12]

Dapat disimpulkan dari keterangan-keterangan ini bahwa Abū Ja‘far berada pada kedudukan adūq walau sering berbuat kesalahan. Namun, sejatinya, kunci dari persoalan ini terletak pada perkataan Ibnu ibbān, yakni dia bersendirian dalam meriwayatkan hadis munkar atau, dalam kata lain, apabila bersendirian, dia meriwayatkan hadis-hadis munkar. Berkaitan dengan hadis di atas, Abū Ja‘far bersendirian dalam meriwayatkan dari Ar-Rabī‘ bin Anas dan pada ujungnya nanti Al-asan Al-Barī bersendirian dalam meriwayatkan secara irsāl.

Ar-Rabī‘ bin Anas

Nama lengkapnya adalah Ar-Rabī‘ bin Anas Al-Bakrī Al-anafī Al-Barī Al-Khurāsānī. Sama seperti dua perawi sebelumnya, ada perbedaan pendapat mengenai para ulama mengenainya. Yang memujinya di antara lain:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Al-‘Ijlī
صدوق.
Tidak kuat.
Abū Ḥātim Ar-Rāzī
صدوق.
Tidak kuat.
An-Nasāī
ليس به بأس.
Tidak ada masalah dengannya.

Adapun yang memberikan celaan terhadapnya, mereka adalah:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Yayā bin Ma‘īn
كان يتشيع فيفرط.
Ber-tasyayyu‘ lalu sering berlebih-lebihan.
Ibnu ibbān
الناس يتقون من حديثه ما كان من رواية أبي جعفر عنه، لأن في أحاديثه عنه اضطرابا كثيرا.
Orang-orang menakuti hadisnya yang diriwatkan oleh Abū Ja‘far Ar-Rāzī karena di dalamnya terdapat banyak sekali kegoncangan.[13]

Lagi-lagi, perkataan Ibnu ibbān menjadi kunci. Kaedah yang masyhur dalam ilmu adīts menyatakan, “Al-jar al-mufassar muqaddamun min at-ta‘dīl al-‘ām,” atau, “Kritik yang terperinci didahulukan dari pujian yang umum.” Dengan demikian, rangkaian hadis yang di dalamnya terdapat transmisi dari Ar-Rabī‘ bin Anas ke Abū Ja‘far Ar-Rāzī ini muḍṭarib dan munkar.

Al-asan Al-Barī

Saya kira kefakihan, kealiman, dan keistimewaan beliau sudah umum di kalangan para penuntut ilmu dan banyak ulama telah menyanjung beliau. Namun, dalam ilmu hadis, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘Asqalānī[14], beliau banyak sekali membuat irsāl dan tadlīs. Bahkan, menurut Imam Adz-Dzahabī, irsāl yang dilakukan beliau adalah seburuk-buruk irsāl (awhā al-marāsīl)[15]. Karena termasuk dalam irsāl Al-asan Al-Barī, hadis ini dikategorikan buruk.

Kesimpulannya, dari ketiga perawi, yaitu ‘Abdullāh bin Abī Ja‘far, Abū Ja‘far Ar-Rāzī, dan Al-asan yang melakukan irsāl, status hadis ini adalah munkar muḍṭarib wāhin. Oleh karena itu, hadis ini tidak dapat dijadikan hujah dan pegangan.

Pada hakikatnya, para penentang Jemaat Muslim Ahmadiyah sampai kapanpun tidak akan dapat mengajukan hadis marfuk mauṣūl yang berasal langsung dari lisan kudus Nabi MuammadSAW bahwa Nabi ‘Īsā Al-Isrāīlīas masih hidup dan kelak akan kembali di akhir zaman. Perkataan ‘Allāmah Ibnu Qayyim berikut ini Saya kira cukup bagi para pencari kebenaran:

وأما ما يذكر عن المسيح أنه رفع إلى السماء وله ثلاث وثلاثون سنة فهذا لا يعرف له أثر متصل يجب المصير إليه.

“Adapun cerita-cerita tentang Al-Masīḥas bahwa beliau diangkat ke langit pada usia 33 tahun, tidak dikenal baginya satupun hadis muttail yang mewajibkan Kita untuk meyakininya.”[16]

Sebaliknya, yang tersebut dalam hadis marfuk mauṣūl dari lisan suci NabiSAW melalui dua wanita yang paling beliau cintai, Fāṭimah Az-Zahrāra dan ‘Ā’isyah A-iddīqahra, adalah kewafatan Al-Masīḥas. Abū Ja‘far A-aḥāwī mencatat sabda beliau itu:

وَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ.

“Dan Jibrīlas mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsā bin Maryamas hidup selama 120 tahun.”[17]

Insaf akan kenyataan yang diketengahkan oleh Ibnu Qayyim dan hadis A-aḥāwī yang juga dinukil oleh imam-imam lain seperti Al-Baihaqī dan A-abrānī di atas, Imam Asy-Syāmī mengikrarkan:

وهو كما قال، فإن ذلك إنما يروى عن النصارى، والمصرح به في الأحايث النبوية أنه إنما رفع وهو ابن مائة وعشرين سنة.

“Hal itu persis sama dengan apa yang Ibnu Qayyim katakan karena cerita bahwa ‘Īsāas diangkat ke langit pada usia 33 tahun sejatinya diriwayatkan dari orang-orang Kristen, sedangkan kejelasan mengenainya yang terdapat dalam hadis-hadis NabiSAW ialah bahwa beliau diangkat (secara rohani) pada usia 120 tahun.”[18]

Dengan demikian, benarlah apa yang Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Imām Mahdī dan Masīḥ Mau‘ūd, Mīrzā Ghulām Amadas, sabdakan:

أَتَظُنُّوْنَ أَنَّ الْمَسِیْحَ بْنَ مَرْيَمَ سَیَرْجِعُ إِلَى الْأَرْضِ مِنَ السَّمَاءِ؟ وَلَا تَجِدُوْنَ لَفْظَ الرُّجُوْعِ فِيْ کَلِمِ سَیِّدِ الرُّسُلِ وَأَفْضَلِ الْأَنْبِیَاءِ، أَأُلْهِمْتُمْ بِهٰذَا أَوْ تَنْحِتُوْنَ لَفْظَ الرُّجُوْعِ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِکُمْ کَالْخَائِنِیْنَ؟ وَمِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّ هٰذَا هُوَ اللَّفْظُ الخَاصُّ الَّذِيْ یُسْتَعْمَلُ لِرَجُلٍ یَّأْتِيْ بَعْدَ الذَّهَابِ، وَیَتَوَجَّهُ السَّفَرَ إِلَى الْإِیَابِ، فَهٰذَا أَبْعَدُ مِنْ أَبْلَغِ الْخَلْقِ وَإِمَامِ الْأَنْبِیَاءِ أَنْ یَّتْرُكَ هٰهُنَا لَفْظَ الرُّجُوْعِ وَیَسْتَعْمِلَ لَفْظَ النُّزُوْلِ وَلَا یَتَكَلَّمَ کَالْفُصَحَاءِ وَالْبُلَغَاءِ.

“Apakah Kalian menyangka bahwa Al-Masīḥ bin Maryamas kelak akan kembali ke bumi dari langit? Kalian tidak akan pernah dapat menjumpai lafal rujū dalam kalam Pemimpin Para Rasul dan Yang Terbaik dari antara Para NabiSAW. Apakah telah diilhamkan kepada Kalian tentang hal ini atau Kalian mengada-ngadakan lafal rujū dari diri Kalian sendiri layaknya orang-orang yang berkhianat kepada NabiSAW? Telah diketahui bahwa lafal ini adalah lafal khusus yang dipergunakan bagi seseorang yang datang sehabis bepergian dan menempuh perjalanan hingga pulang. Oleh karena itu, apabila ‘Īsāas benar akan kembali ke dunia, niscaya akan sangat aneh bahwa wujud yang merupakan Sosok Paling Mahir dalam balāghah dan Imam Para NabiSAW meninggalkan di sana rujū dan mempergunakan lafal nuzūl lalu tidak berbicara layaknya orang-orang yang mahir dalam faṣāḥah dan balāghah.”[19]

Sekarang, permasalahan yang tersisa adalah mengenai lafal nuzūl. arat Masīḥ Mau‘ūdas telah banyak sekali menguraikan hakikat dan makrifat dari lafal nuzūl ini di dalam buku-buku beliau. Oleh karena itu, Saya tidak mampu menuliskan semuanya di sini. Saya hanya ingin mengetengahkan di sini secercah baṣīrat yang beliau sampaikan bahwa lafal nuzūl yang dikenakan kepada Al-Masīḥ Akhir Zamanas pada dasarnya serupa dan setara dengan lafal nuzūl yang dikenakan kepada Junjungan beliau, Muammad Al-MuṣṭafāSAW. Allah Taala berfirman dalam Surah Aṭ-Ṭalāq ayat 11-12:

قَدْ أَنْزَلَ اللّٰهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا ﴿﴾ رَسُوْلًا يَّتْلُوْ عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللّٰهِ مُبَيِّنَاتٍ ﴿﴾

“Kami telah menurunkan kepada Kalian sebuah dzikr, yaitu seorang rasul yang membacakan kepada Kalian ayat-ayat Allah yang terang.”

Para mufasir mengemukakan bahwa lafalرَسُوْلًا  adalah badal dari ذِكْرًا . Kata dzikr menurut para ahli takwil juga merupakan salah satu nama Nabi MuammadSAW[20]. Dengan demikian, ayat itu bermakna:

أظهر اللّٰه لكم ذكرا رسولا.

“Allah menciptakan kepada Kalian dzikr (MuammadSAW) sebagai seorang rasul.”[21]

Dari keterangan ini, Kita dapat menarik kesimpulan bahwa lafal inzāl (menurunkan) dapat pula bermakna ihār (menciptakan), tidak melulu turun dari langit. Sejarah sendiri menuturkan bahwa Nabi MuammadSAW tidaklah terbang melayang dari langit ketika datang ke dunia, tetapi lahir dari rahim ibunda beliau, Amīnah. Demikian pula halnya dengan arat Imām Mahdīas, lafal nuzūl yang dipergunakan bagi beliau tidak berarti bahwa beliau akan turun dari angkasa. Namun, serupa dengan Nabi MuammadSAW, lafal itu bermakna uhūr, artinya beliau dilahirkan dari rahim ibunda beliau, Chirāgh Bībī. Inilah hakikat yang beliau terangkan ketika bersabda:

وَأَنْزَلَ أَحْمَدَيْنِ مِنَ السَّمَاءِ لِيَكْوْنَا كَالْجِدَارَيْنِ لِحِمَايَةِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ.

“Dan Dia menurunkan dua Amad dari langit untuk menjadi dua benteng yang kuat sebagai perlindungan bagi orang-orang yang datang terdahulu dan orang-orang yang datang belakangan.”[22]


Semoga Kita semua dapat menjadi para pengikut sejati Amad Yang Keduaas pada akhir zaman ini dan kita harus terus berdoa, semoga Allah Taala menganugerahkan petunjuk dan bimbingan kepada saudara-saudara kita dari kaum muslimin untuk beriman kepada wujud yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Amad Yang PertamaSAW karena bahtera keselematan pada zaman yang dipenuhi dengan topan kesesatan ini hanya dan hanya dan hanya terletak pada iman terhadap wujud yang telah dinubuatkan itu.

ببركات القرآن الكريم، ببركات رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، ببركات الإمام المهدي والمسيح الموعود عليه الصلوة والسلام، ببركات خليفة المسيح الخامس أيده الله تعالى بنصره العزيز:

عندك هين وعندنا متعسر
للسائلين فلا ترد دعائي
 يارب أصلح حال أمة سيدي
يا من أرى أبوابه مفتوحة

Catatan Kaki

[1] Tafsīr Ibni Abī Ḥātim ar-Rāzī no. 6232.

[2] Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘AsqalānīTahdzīb at-Tahdzīb v. 3 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1995 M/1416 H), h. 510.

[3] Jamāl-ud-Dīn Yūsuf Al-MizzīTahdzīb al-Kamāl Fī Asmā’ ar-Rijāl v. 1 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1983 M/1403 H), h. 386.

[4] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīMīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl v. 4 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), h. 78.

[5] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīDīwān a-u‘afā’ Wa al-Matrūkīn (Mekkah: Maba‘ah an-Nahat al-adītsiyyah, 1967 M/1387 H), h. 213.

[6] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīAl-Mughnī Fī a-u‘afā’ v. 1 (Qatar: Idārat Iyā’ at-Turāts al-Islāmī, 1987 M/1407 H), h. 476.

[7] Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘AsqalānīTaqrīb at-Tahdzīb (Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1421 H), h. 497.

[8] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīSiyar A‘lām an-Nubalā’ v. 7 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1996 M/1417 H), h. 347.

[9] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīMīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl v. 5 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), h. 347.

[10] Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘Asqalānī, op. cit., 1421 H, h. 770.

[11] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīSiyar A‘lām an-Nubalā’ v. 7 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1996 M/1417 H), h. 347.

[12] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīMīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl v. 5 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), hh. 347-348.

[13] Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘AsqalānīTahdzīb at-Tahdzīb v. 1 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1995 M/1416 H), h. 590.

[14] Al-Ḥāfi Ibnu ajar Al-‘Asqalānī, op. cit., 1421 H, h. 391.

[15] Syams-ud-Dīn Muammad bin Amad Adz-DzahabīAl-Mūqiah Fī ‘Ilmi Muṣṭalaat al-adīts (Kairo: Dār al-Ātsār, 2007 M/1428 H), h. 44.

[16] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Zād al-Ma‘ād Fī Hadyi Khair al-‘Ibād v. 1 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1998 M/1418 H), h. 82.

[17] Musykil al-Ātsār Li Abī Ja‘far A-aawī Al-anafī, no. 1937.

[18] Nawwāb iddīq asan Khān, Fat al-Bayān Fī Maqāṣid al-Qur’ān v. 2 (Beirut: Al-Maktabah al-‘Ariyyah, 1992 M/1412 H), h. 247.

[19] arat Mīrzā Ghulām AmadasMaktūbu Amad dalam Rūḥānī Khazā’in v. 11 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 150-151.

[20] Al-Qāḍī Ibnu ʻAṭīyyah Al-AndalusīAl-Muarrar al-Wajīz Fī Tafsīr al-Kitāb al-‘Azīz (Beirut: Dār Ibni azm, 2002), h. 1870.

[21] Abū ‘Abdillāh Muammad bin Amad Al-QurubīAl-Jāmi‘ Li Akām al-Qur’ān v. 21 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 2006 M/1927 H), h. 62.

[22] arat Mīrzā Ghulām AmadasI‘jāz al-Masīḥ dalam Rūḥānī Khazā’in v. 11 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 198.

1 komentar: