Kamis, 23 Oktober 2014

Makna Tawaffā: ‘Mematikan’ atau ‘Menidurkan’?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Makna التوفي: الإماتة (Mematikan) atau الإنامة (Menidurkan)?


Para penentang Jemaat Muslim Ahmadiyah acapkali, dalam membantah akidah Jemaat Ahmadiyah mengenai kewafatan Nabi ‘Īsāas, mengajukan kata الإنامة (menidurkan) sebagai makna lain bagi kata التوفي dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 56 selain dari kata الإماتة (mematikan). Mereka mengutip kitab-kitab tafsir dalam mengetengahkan keterangan ini. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, telah menjawab alibi mereka ini dalam kitab Ḥamāmat al-Busyrā dengan sangat gamblang. Berikut ini adalah ulasan beliau.

“Sebagian orang yang tergesa-gesa mengatakan bahwa kata التوفي dalam Alquran dapat juga bermakna الإنامة (menidurkan) sebagaimana firman-Nya:

اللّٰهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ﴿﴾

Dan:

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيْهِ لِيُقْضٰى أَجَلٌ مُّسَمًّى ﴿﴾

Ketahuilah! Sesungguhnya, yang Allah Taala maksudkan dari kata التوفي dalam kedua ayat ini tidak lain adalah الإماتة (mematikan) dan قبض الروح (mencabut ruh). Oleh karena itu, Dia memberikan qarīnah qarīnah dan berfirman وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا, yakni Allah mewafatkan jiwa yang tidak mati dengan kematian hakiki saat tidur dengan kematian majāzī. Lihatlah, bagaimana Dia mengisyaratkan dalam ayat ini bahwa pencabutan ruh dalam tidur merupakan kematian majāzī! Oleh karena itu, Dia menyebutkan kata توفى di sini dengan menjadikan المنام (tidur) sebagai qarīnah yang menjelaskan bahwa kata التوفي di sini telah dipindahkan dari makna hakiki kepada makna majāzī dan mengisyaratkan bahwa kata التوفي pada hakikatnya bermakna kematian, bukan yang lainnya. Demikian juga, Dia memberikan qarīnah ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ (Kemudian Dia membangkitkan Kalian) dan qarīnah  اللَّيْلِ (malam) dalam ayat untuk menjelaskan bahwa kata التوفي di sini tidaklah bermakna الإنامة (menidurkan), justru maksudnya adalah الإماتة (mematikan). Kata البعث (membangkitkan) dalam ayat itu diletakkan setelah kata الإماتة (mematikan) agar hal itu menjadi sebuah dalil bagi kebangkitan pada hari kiamat.

Oleh karena itu, Dia menyebutkan kebangkitan pada hari kiamat setelah ayat ini dan berfirman:

ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ﴿﴾

Agar kematian majāzī dan kebangkitan majāzī ini menjadi sebuah dalil bagi kematian hakiki dan kebangkitan hakiki. Oleh karena itu, janganlah mengelak setelah datang keterangan yang nyata bersama orang-orang yang aniaya! Tidakkah Engkau melihat bagaimana Dia menyebutkan kata البعث (membangkitkan) setelah kata الإماتة (mematikan) dan berfirman:

ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيْهِ ﴿﴾

Telah maklum bahwa bagi orang-orang yang tidur dipergunakan kata الإيقاظ (membangunkan), bukan kata البعث (membangkitkan). Seandainya maksud dari kata التوفي di sini adalah الإنامة (menidurkan), niscaya Dia akan berfirman:

هُوَ الَّذِيْ يَتَوَفَّاكُمْ بِالَّلَيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يُوْقِظُكُمْ فِيْهِ.

Namun, Dia tidaklah berfirman ثُمَّ يُوْقِظُكُمْ فِيْهِ, justru Dia berfirman ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيْهِ. Lsant, dalil mana yang lebih jelas dari ini? Ini disebabkan bahwa kata البعث (membangkitkan) berkaitan dengan orang-orang mati, bukan orang-orang yang tidur.

Contoh dari isti‘ārah ini banyak dijumpai dalam Alquran sebagaimana Dia berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ﴿﴾

Tidaklah dikatakan bahwa kata يُحْيِي (menghidupkan) di sini bermaknaيُنْبِتُ (menumbuhkan) menurut asli bahasa, tetapi hal itu merupakan sebuah isti‘ārah. Maksud darinya adalah penyerupaan ‘menumbuhkan’ dengan ‘menghidupkan’ agar hal itu menjadi dalil bagi adanya kebangkitan orang-orang mati. Contoh lain adalah sebagaimana Dia berfirman:

فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمٰى أَبْصَارَهُمْ ﴿﴾

Tidaklah dikatakan bahwa kata فَأَصَمَّهُمْ (menulikan) dan kata وَأَعْمٰى (membutakan) bermakna أَضَلَّهُمْ (menyesatkan) menurut asli bahasa, tetapi hal itu merupakan sebuah isti‘ārah. Maksud darinya adalah penyerupaan orang-orang yang sesat yang memalingkan muka dari kebenaran dengan orang yang tuli lagi buta. Oleh karena itu, janganlah menyusahkan dan melelahkan dirimu untuk memaknai kata التوفي sebagai الإنامة (menidurkan)! Jika apa yang Kamu persangkakan itu benar, Kamu berkeharusan untuk memaknai kataيُحْيِي (menghidupkan) dalam ayat يُحْيِي الْأَرْضَ sebagai يُنْبِتُ (menumbuhkan) kemudian Kamu teguhkan hal ini kepada Kami dari buku-buku kebahasaan. Demikian juga, jika Kamu berketeguhan hati dalam hal itu, Kamu berkeharusan pula untuk berikrar bahwa makna asli dari kata kata فَأَصَمَّهُمْ (menulikan) dan kata وَأَعْمٰى (membutakan) adalah أَضَلَّهُمْ  (menyesatkan),أَبْعَدَهُمْ عَنِ الْحَقِّ (menjauhkan dari kebenaran), dan أَزَاغَ قُلُوْبَهُمْ (membengkokkan hati mereka) kemudian Kamu perlihatkan kepada Kami makna ini dari buku-buku bahasa Arab. Dari manakah Kamu mendapatkan keterangan ini? Janganlah ikuti pikiran yang terkotori dengan waham dan wajib bagimu untuk menerima apa yang telah jelas dan bergabung ke dalam golongan orang-orang yang benar!

Ketahuilah! Sesungguhnya, Kamu tidak akan dapat menjumpai satupun misal mengenai makna-makna yang tampak benar secara sekilas pandang yang Kamu sebutkan dalam ayat-ayat terdahulu tadi dalam satupun kitab bahasa Arab secara nyata. Namun, Alquran dipenuhi dengan contoh-contoh yang Aku sebutkan ini jika Engkau dapat melihatnya. Telah diakui di kalangan para ahli bahasa bahwa makna hakiki adalah yang penggunaannya banyak dijumpai di berbagai tempat tanpa adanya qarīnah. Wajib bagimu untuk memperhatikan Alquran dengan saksama agar menjadi jelas bagimu bahwa penggunaan kata التوفي secara mutlak tanpa adanya qarīnah tidak terdapat dalam Alquran, kecuali bermakna الإماتة (mematikan). Engkau tidak akan pernah mendapatkan dalam satupun hadis atau syair seorang penyair makna lain selain الإماتة (mematikan) jika fā‘il dari kata التوفي itu adalah Allah dan manusia adalah maf‘ūl bihi darinya. Oleh karena itu, ketengahkanlah kepada Kami keterangan itu dan ambillah pemberian yang telah Kami janjikan jika Engkau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang benar!

Orang-orang yang berkata bahwa kata التوفي dalam ayatيَا عِيْسٰى إِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ bermakna إِنِّيْ مُنِيمُكَ (Sesungguhnya Aku akan menidurkan Engkau), kesalahan mereka tidak hanya satu, bahkan mereka menggabungkan semua jenis kekeliruan dalam perkataan mereka dan meninggalkan penafsiran RasūlullāhSAW, padahal beliau adalah Sebaik-baik Manusia dan beliau bertutur dengan Ruh Rahmani dan sabda beliau pun lebih baik dari segenap perkataan lain. Sabda beliau telah melingkupi kelezatan, rahmat, ilmu, irfan, dan cahaya yang dianugerahkan kepada beliau dari Wujud Yang Maha Pemurah. Mereka meninggalkan pula perkataan Ibnu ‘Abbāsra mengenai makna مُتَوَفِّيكَ. Tidak pula mereka memperhatikan Alquran dan kebiasaan penggunaannya akan kata ini dan keberadaan kata ini dalamnya yang bermakna الإماتة (mematikan) secara kontinu dan konsekutif. Dengan demikian, mereka sesat dan menyesatkan dan tidaklah mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberi petunjuk.

Kemudian, jika Kita melazimkan bahwa makna التوفي adalah الإنامة (menidurkan), Kita tetap tidak akan melihat sedikitpun manfaat yang diberikan oleh makna ini kepada mereka karena maksud dari tidur adalah keadaan ketika ruh dicabut dan indra-indra tubuh berhenti sementara bersamaan dengan tetap adanya perhubungan antara ruh dengan tubuh. Lantas, dari manakah penjelasan menurut makna ini bahwa Allah mencabut badan Al-Masīḥas? Apakah Kamu tidak memperhatikan sunah-snnah Allah terdahulu? Karena, Dia mencabut ruh ketika manusia dalam keadaan tidur dan menjadikan tubuh mereka tetap tinggal di bumi. Lantas, dari manakah Kamu mengetahui bahwa kata مُتَوَفِّيْكَ menginformasikan diangkatnya tubuh? Semua manusia tidur, tetapi Allah sama sekali tidak mencabut tubuh seorangpun dari antara mereka. Oleh karena itu, tinggalkanlah keterburu-buruan dan ketidaksabaran dan perhatikanlah iman dan diyānah agar Allah meniupkan kesucian ke dalam hatimu dan menjadikanmu tergolong ke dalam golongan orang-orang yang arif!

Dalam pelaziman makna ini juga terdapat satu fasad lain, yakni bahwa kata التوفي dalam ayat ini merupakan sebuah janji yang diucapkan oleh Allah Taala seperti janji-janji lain yang Dia sebutkan dalam ayat ini. Seandainya pemaknaan ini benar, berdasarkan makna ini, niscaya tidurnya Al-Masīḥas ketika diangkat adalah tidur pertama beliau sepanjang umur beliau dan niscaya mereka juga berkeharusan untuk berakidah bahwa ‘Īsāas sama sekali tidak pernah tidur sebelum diangkat. Karena beliau tidak hanya tidur sekali sepanjang kehidupan beliau, bagaimana mungkin Allah menyebutkan tidurnya beliau itu dalam janji-janji baru yang Dia ucapkan, padahal janji akan sesuatu menunjukkan ketidakadaan sesuatu itu sebelum adanya janji. Seandainya tidak demikian, tentulah ini akan percuma, sedangkan pekerjaan yang sia-sia tidak cocok dengan keagungan Allah Taala dan tentulah beliau tidak akan membutuhkan janji Tuhan Semesta Alam. Kemudian, seandainya makna ini sahih, niscaya Dia tidak akan berfirman dalam sebuah ayat:
فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ﴿﴾

Apakah Engkau menyangka bahwa orang-orang Kristen menjadikan Al-Masīḥas sebagai tuhan setelah beliau tidur bukan setelah beliau wafat dan apakah engkau menyangka bahwa Al-Masīḥas tidak pernah tidur sama sekali sepanjang umur beliau, kecuali sewaktu orang-orang Kristen menjadi sesat, dan mata beliau tidak pernah sama sekali mencicipi kelezatan tidur, kecuali ketika beliau diangkat, dan beliau selalu bangun secara dawam sebelum diangkat? Perhatikanlah sebagai seorang yang berakal, apakah makna ini dalam tempat ini bersifat lurus dan darinya dihasilkan kesejukan hati, ketentraman ruh, dan ketenangan batin? Engkau tentu mengetahui bahwa hal itu sangat janggal dan fasad secara pasti. Takwil para ahli takwil tidak dapat memperbaikinya. Dengan demikian, ini adalah sebuah kealpaan yang dahsyat dari para ulama yang mengkafirkan Kami ketika mereka menghukumi makna yang fasad sebagai makna yang bagus. Dengarlah, jika Engkau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendengar!

Kemudian, bersamaan dengan itu, terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī penjelasan dari Ibnu ‘Abbāsra yang jelas mengenai makna التوفي. Beliau berkata:

مُتَوَفِّيْكَ: مُمِيْتُكَ.

Demikian juga, seluruh Sahabatra, Tabiin, dan orang-orang yang datang setelah mereka mengikuti beliau. Tidak ada seorangpun dari antara mereka yang menyelisihinya. Oleh karena itu, dalil mana yang lebih jelas dari ini jika Engkau adalah seorang pencari kebenaran?

Aku baru saja telah menyebutkan bahwa seandainya kita melazimkan untuk meninggalkan makna ini dan berkata bahwa sesungguhnya kata التوفي dalam ayat يَا عِيْسٰى إِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ bermakna الإنامة (menidurkan), akan terjadi persoalan lain dan mengambilnya sebagai dalil tetap tidak akan bermanfaat bagi para penentang. Sesungguhnya, apa yang diinginkan oleh para penentang dari pernyataan-pernyataan mereka adalah penegasan diangkatnya Al-Masīḥas berserta tubuh kasar beliau. Namun, apa yang diinginkan ini tidak dapat dihasilkan dari pemaknaan ini, bahkan yang dihasilkan adalah yang menyelisihinya. Karena, ayat itu, berdasarkan pemaknaan ini, akan bermakna seperti ini:

‘Wahai ‘Īsāas! Sesungguhnya, Aku akan mencabut ruhmu dan menjadikan tubuhmu tetap tinggal di bumi bersamaan dengan tetap adanya perhubungan antara tubuh dan ruh’.

Dan karena ‘tidur’ adalah sebuah istilah yang menerangkan dicabutnya ruh bersamaan dengan tetap adanya perhubungan antara keduanya dalam bentuk yang sempurna, dus perhatikanlah! Dari manakah dipenuhinya apa yang diinginkan oleh para penentang dan dari manakah kejelasan diangkatnya tubuh ‘Īsāas ke langit? Sebaliknya, perkara yang benar adalah seperti yang kami jelaskan, sedangkan mereka hanya memaknai kata التوفي dengan tidak pada tempatnya. Tidak ada keraguan bahwa setiap orang yang berakal memahami perkataan kami ini dan mengambil manfaat darinya, kecuali orang yang tidak tersisa lagi keinsafan dalam sanubarinya dan telah tercampur dalam dirinya kegelapan fanatisme dan kabut kedengkian. Oleh karena itu, tidak bermanfaatlah dalil-dalil dan bukti-bukti bagi golongan orang-rang yang fanatik.

Kemudian, jika Engkau memperdalam perhatian mengenai ayat ini dan mengartikannya dengan sebaik-baik bentuk dan pemaknaan, tidak akan tersembunyi bagimu bahwa mafhum darinya dan konteks penjelasannya menunjukkan kewafatan Al-Masīḥas sebagaimana ditunjukan oleh kata-katanya yang terucap secara zahir karena Allah telah menyebutkan setelah firman-Nya يَا عِيْسٰى إِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَ kalimat-kalimat yang menjadi penghiburan dan kabar suka bagi Al-Masīḥas dan pengabaran mengenai hari-hari kemenangan dan keunggulan para pengikuti beliau atas musuh-musuh mereka setelah kewafatan beliau. Ini adalah dalil yang jelas bahwa kematian ‘Īsāas terjadi sebelum pertolongan Allah dan sebelum keunggulan yang beliau tunggu-tunggu dan beliau mohonkan kepada Allah agar beliau dapat melihatnya. Prinsip dasar dari pembicaraan ini adalah Allah telah memfitratkan para nabi bahwa mereka mencintai agar kalimat kebenaran menjadi ulung dengan tangan mereka langsung dan keseluruhan ummat mereka dikumpulkan di hadapan mata mereka dan bahwa mereka berkeinginan agar semua kelompok menjadi binasa kecuali kebenaran. Demikianlah adat Allāh yang terjadi mengenai mereka bahwa terkadang Dia memperlihatkan kepada mereka keunggulan dan kemenangan mereka dan kehinaan musuh-musuh mereka dan bahwa Dia tidak mewafatkan mereka, kecuali setelah kemenangan yang nyata. Contoh darinya adalah teladan hidup Rasul kitaSAW. Sesungguhnya, ketika Allāh melihat bahwa orang-orang kafir mendustakan Rasul-NyaSAW dan mempermainkan, mengolok-olok, dan menghinakan wahyu-Nya, maka Dia menguatkan dan menolong Nabi-NyaSAW dan menghinakan dan membinasakan setiap orang yang memusuhi beliau hingga keburukan terpisah dari kebaikan. Dia memperlihatkan kepada Nabi-NyaSAW bahwa manusia berbondong-bondong memasuki agama Allāh dan memperlihatkan kepada beliau bahwa kebenaran telah benar dan kebatilan telah batil dan bahwa telah jelas mana kesalehan dan mana kepenyimpangan.

Hikmah Allah dan maslahat-maslahat-Nya yang dalam telah mengehendaki bahwa Dia mewafatkan seorang nabi sebelum kedatangan hari-hari kemenangannya dan kepenerimaan terhadapnya. Namun, Dia tidak mewafatkannya sebagai seorang yang bersedih lagi berputus-asa. Sebaliknya, Dia memberinya kabar-suka yang terus-menerus dan berturut-turut mengenai keunggulan para pengikutnya setelah kewafatannya agar dengannya hatinya menjadi tenang dan agar dia tidak bersedih dan tidak kembali kepada Tuhannya dengan hati yang tersakiti, bahkan dia berpindah dari alam ini dengan ketentraman, kebahagiaan, kesukacitaan, dan kesedapan mata dan tidak tersisa baginya keterganjalan setelah dia mendapat kabar suka dan janji dari-Nya yang benar, serta dia pergi menghadap Tuhannya sebagai seorang yang berbahagia lagi tiada bersedih. Seperti inilah apa yang terjadi dengan ‘Īsāas karena beliau tidaklah melihat satupun keunggulan pada zaman kehidupan beliau. Ketika telah dekat waktu kewafatan beliau, Allah Taala memberikan kepada beliau kabar suka mengenai keunggulan para pengikut beliau setelah kematian beliau dan Dia tidaklah memberikan kabar suka kepada beliau bahwa keunggulan itu akan terjadi selagi beliau hidup. Oleh karena itu, bacalah kembali ayat sebelumnya dan perdalamlah perhatian mengenainya! Apakah engkau melihat kesia-siaan dalam pemaknaan ini? Seolah-olah Dia befirman dalam ayat ini:

‘Wahai ‘Īsāas! Sesungguhnya, Aku akan mewafatkanmu sebelum Engkau melihat kejayaanmu, kemenanganmu, dan keunggulanmu. Sesungguhnya, Aku akan menganugerahkan kepadamu maqām kemuliaan, keluhuran, dan kedekatan, tidap seperti apa yang dikiran oleh orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, janganlah berputus-asa karena Engkau akan mati sebelum melihat keunggulanmu dan janganlah pula takut mengenai sedikitnya jumlah para pengikutmu dan banyaknya jumlah musuh-musuhmu karena Aku akan menghancurkan musuh-musuhmu dengan sehancur-hancurnya dan melenyakpan mereka hinggga selama-lamanya. Aku akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu dan berpegang-teguh kepada khilāfat-mu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.’

Inilah adalah penafsiran yang dikatakan oleh sebaik-baik orang yang berkata.

Seandainya ‘Īsāas turun dari langit pada suatu waktu nanti, niscaya Dia tidak akan berfirman seperti itu. Sebaliknya, Dia akan berfirman:

‘Wahai ‘Īsāas! Janganlah takut dan janganlah pula bersedih! Sesungguhnya, Kami tidak akan mematikanmu, bahkan Kami akan mengangkatmu hidup-hidup ke langit. Kemudian, Kami akan menurunkanmu ke bumi dan mengembalikanmu kepada umatmu dan Kami akan menjadikanmu unggul atas musuh-musuhmu. Kemudian, Kami juga akan menjadi para pengikutmu unggul atas mereka hingga hari kiamat. Oleh karena itu, janganlah anggap dirimu termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kalah!’

Namun, Allah tidak menjanjikan kepada beliau bahwa Dia akan menurunkan beliau dari langit lalu menjadikan beliau unggul atas musuh-musuh beliau. Sebaliknya, Dia menjanjikan kepada beliau bahwa Dia akan menjadikan para pengikut beliau unggul atas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Dia sungguh telah menunaikan apa yang Dia janjikan dan hal itu telah berlalu berabad-abad silam. Adapun turunnya beliau, hal itu adalah sesuatu yang engkau tidak melihat bekasnya hingga saat ini. Oleh karena itu, berpikirlah! Mengapa beliau belum juga turun padahal umur dunia telah sampai pada akhir zaman? Rahasia yang dapat menyingkapkan kemusykilan ini adalah bahwa turunnya beliau tidaklah termasuk ke dalam janji-janji Allah. Sebaliknya, hal itu merupakan pemalsuan-pemalsuan yang dibuat oleh orang-orang yang bertabiat bengkok dan yang berpikiran salah. Dengan demikian, hal itu tidak akan keluar mewujud karena memang bukan berasal dari Allah Taala. Janji-janji yang berasal dari Allah Taala telah zahir dan sempurna semuanya. Tidakkah Kamu melihat bagaimana Allah Taala membangkitkan seorang Rasul UmmīSAW setelah ‘Īsāas untuk membenarkan janji-Nya? Yakni, firman-Nya:

وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ﴿﴾

Kemudian, bagaimana Dia menjadikan para pengikut ‘Īsāas unggul di atas orang-orang Yahudi agar janji-Nya menjadi benar:

وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ ... إلخ ﴿﴾

Seandainya turunnya beliau merupakan salah satu bagian dari janji-janji ini, niscaya hal itu akan zahir bersamaan. Oleh karena itu, lihatlah, bagaimana hilangnya dan nihilnya janji mengenai turunnya beliau bersamaan dengan zahirnya bagian-bagian dari janji-janji yang lain! Demi Zat Yang nyawaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya, apa yang Aku katakan ini adalah kebenaran. Adapun akidah turunnya beliau, hal itu tidaklah termasuk dalam bagian-bagian dari janji-janji ini dan tidak pula hal itu disebutkan bersamaan dengan janji-janji itu dalam Alquran. Bahkan, bekas darinya pun tidak dijumpai dalam Kitab Allah. Hal itu tak lain merupakan waham orang-orang yang berwaham. Ketika kebenaran menjadi jelas, janganlah melihatnya dengan pandangan yang merendahkan dan meremehkan! Takutlah kepada Allah dan masuklah ke dalam golongan orang-orang yang merendahkan diri! Engkau tidak akan menjumpai dalam Alquran satupul hal yang mengisyaratkan kepada tetap hidupnya beliau. Sebaliknya, Alquran mengabarkan kewafatan beliau setelah beliau tumbuh-berkembang, berbicara pada usia muda, dibangkitkan sebagai seorang rasul, menyampaikan risalah Allah, dan menyampaikan hujah-Nya kepada orang-orang yang ingkar.

Wahai manusia! Janganlah menyembunyikan kebenaran ketika waktu penjelasannya telah datang! Jangalah berbuat fasad di muka bumi! Salinglah berkasih-sayang dan janganlah saling mengumbar murka! Tuntaskanlah masalah di antara Kalian dengan kebaikan dan janganlah saling bertengkar! Ikutilah kebenaran dan janganlah memusuhinya! Berpikiralah dalam diri kalian dan janganlah tergesa-gesa! Sesungguhnya, Aku mengingatkan Kalian kepada Allah, Tuhan kalian. Oleh karena itu, bertakwalah kepada-Nya jika Kalian beriman! Ketahuilah, Allah sungguh mengetauhi apa yang Kalian sembunyikan dan apa yang kalian Katakan! Tidak tersembunyi sesuatupun bagi-Nya. Oleh karena itu, siapa yang berpaling dari perintah Tuhannya dan membangkang terhadap-Nya, Dia akan memperlihatkan kepadanya azab yang besar dan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang binasa.”

Lagi, beliau bersabda:

“Demi kemuliaan Allah! Sesungguhnya, Aku telah membaca Kitab Allah ayat demi ayat dan bertadabur mengenainya. Kemudian, Aku pun telah membaca buku-buku hadis dengan perhatian yang dalam dan bertadabur mengenainya. Sebagai hasilnya, Aku tidaklah menjumpai kata التوفي dalam Alquran dan tidak pula dalam hadis, jika Allah adalah fā‘il darinya dan manusia adalah maf‘ūl bihi darinya, kecuali bermakna الإماتة (mematikan) dan قبض الروح (mencabut ruh). Siapa yang dapat menegaskan apa yang menyelesihi pemeriksaanku ini, baginya tersedia 1000 Dirham sebagai pemberian dariku. Demikianlah Aku berjanji dalam buku-bukuku yang kucetak dan kusebarkan kepada orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang menyangka bahwa kata التوفي tidaklah dikhususkan bagi قبض الروح (mencabut ruh) dan الإماتة (mematikan) ketika Allah menggunakannya untuk salah seorang hamba-Nya.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Ḥamāmat al-Busyrā Ilā Ahli Makkata Wa Ṣulaḥā’i Umm al-Qurā dalam Rūḥānī Khazā’in v. 7 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009) hh. 261-270]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar