Selasa, 30 September 2014

Terjemah Life of Aḥmad (Bab I)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Terjemah Life of Aḥmad
(Bab I)

Catatan: Buku Life of Aḥmad ini dikarang oleh Maulānā Abd-ur-Raīm Dārdra, seorang sahabi Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas dan mantan Imam Masjid London, dalam bahasa Inggris. Buku ini berkisah tentang biografi Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas, dan terbagi ke dalam 77 bab setebal 843 halaman. Pemilik blog berusaha menerjemahkan bab per bab dengan target ketuntasan hingga tahun depan. Buku ini dapat diunduh di sini. Para pembaca sangat bisa memberi masukan kepada pemilik blog jika terdapat kekeliruan dalam terjemahan ini. Jazākumullāh Asan al-Jazā’!
BAB 1

SAAT YANG AGUNG

“Dengarlah suara langit,

Al-Masīḥ telah datang! Al-Masīḥ telah datang!

Dengarlah pula perkataan bumi,

Imam Zaman ada di sini!

Dari langit datang pancaran cahaya-cahaya agung dan bumi

Mendeklarasikan bahwa inilah waktu yang telah ditentukan itu

Untukku keduanya bersaksi dan menangis kencang

Laksana angin nan gelisah yang tak akan bisa ditenangkan.”

[Aḥmadas]

Masa sekarang ini tengah menangis untuk kedatangan Al-Masīḥ. Seorang penulis modern berkata:

“Layaknya Israel di Sinai, dunia modern kita telah membuat tuhan-tuhan baru untuk disembah sendiri. Manusia telah menyerah kepada bujuk-rayu untuk menyembah hasil pekerjaan tangan mereka sendiri dan memperdiarkan Wujud yang dari-Nya segala inspirasi untuk berbagai pencapaian berproses. Bahkan, di bawah tekanan dan desakan kehidupan modern, dengan digoda kepada tiadanya kerendahan derajat hidup yang dibawa oleh pencerahan yang datang ke dunia dalam beberapa tahun terakhir, pemikiran akan Tuhan benar-benar telah lenyap dalam pikiran orang banyak. Sampai-sampai benar untuk berkata, Tuhan tidak berada dalam segala pemikiran mereka.

Pada setiap masa, tuhan emas memiliki pemuja setia tersendiri. Ketamakan senantiasa membawa pengikut yang banyak agar mereka dapat menyembahnya di kuil suci. Akan tetapi, hari ini, hampir seluruh dunia membungkukkan diri dalam sembah. Meski mencabut lapisan kebajikan mereka, perjudian-perjudian besar nasional ini hanya memberikan indikasi lebih lanjut kepada gejala umum menuju kuil suci Mammon[1]. Kedurjanaan untuk bertaruh bersekutu dengan iming-iming dari undian ada di mana-mana, bahkan mengambil pelbagai dimensi yang cepat dan luas. Adalah kelobaan akan keuntungan dan kedambaan terhadap uang tanpa jerih-payah yang membuat balap anjing dan balap kuda sangat populer hari ini. Namun, perjudian, layaknya Mammon, merupakan tuhan kepiluan. Ia telah memusnahkan rumah-rumah yang tiada terhitung. Setiap hari, ia membangkitkan harapan palsu akan keberuntungan dalam ribuan hati semata-mata untuk menghempaskan mereka tanpa ampun ke bumi. Ia melemahkan daya tahan, merusak cinta terhadap kerja keras, dan mengembang-biakkan ketidakpuasan, keputusasaan, dan kehilangan akan harapan.

Dewa lain bagi dunia modern adalah tuhan kepelesiran. Di sebagian besar negara pada hari ini, pemikiran teratas dalam pikiran khalayak ramai adalah olahraga. Perbincangan sehari-hari berjuta-juta orang terutamanya bersangkutan dengan yang hal-hal tak lebih baik dari konflik antarrival tim sepakbola, isu yang mungkin terjadi dalam sebuah pertandingan kriket, hasil dari kontestasi tinju, atau munculnya bintang-bintang baru dalam tenis, teater, atau kayangan perfilman.

Sorotan penuh perhatian dan perjudian terhadap kontestasi para profesional yang dibayar tinggi ini, kesukariaan liar akan kepermintaan terhadap kepelesiran yang tampak telah menawan dunia modern kita ini, secara menakutkan mengingatkan kepada pemandangan-pemandangan yang terhubung pada pertarungan-pertarungan gladiator di Koloseum Roma. Dan ini hendaknya tidak dilupakan bahwa keruntuhan Kekaisaran Roma dimulai ketika rakyatnya, dengan mengabaikan waktu nan galak yang mereka hidup di dalamnya, merengek-rengek kepada Sang Kaisar, “Berikan kami roti dan sirkus.” Peradaban ada baiknya bertanya kepada diri sendiri pada hari ini apakah ia tidak sedang menyaksikan pengulangan terhadap sejarah.

Seorang penulis Amerika mengatakan:

“Terdapat banyak orang di Amerika Serikat yang melihat gambar bergerak tiap harinya: ratusan ribu gadis pekerja dan anak sekolah yang melihat gambar bergerak siang dan malam. Secara kasar, terdapat jutaan anak di pusat-pusat besar kita yang sama sekali tak tahu-menahu soal cinta, pekerjaan, kehidupan rumah, bisnis, politik, alam, atau hal-hal lain yang dapat melindungi mereka dari apa yang film-film itu ceritakan kepada mereka.”

Apalagi, hampir tiap performa di sana menampilkan suatu elemen seks, sebuah efek akibat kurangnya pencegahan moral yang menjalar dan merusak kesemuanya.

Musik juga telah memberikan pengaruh, berkesudahan pada penyimpangan yang mengerikan yang dikenal sebagai Jazz. Musik di hampir setiap ruang tamu yang terhormat akan memberikan bahan-bahan bagi seorang ahli penyakit jiwa untuk semua survei tentang degenerasi selera modern. Demikian pula halnya tarian membawakan pengaruh. Tarian rakyat kuno terlalu menjemukan bagi anak-anak muda modern. Mereka telah berubah untuk mencocokkan diri dengan gairah waktu yang membawa para partisipannya kepada suatu perilaku yang apabila nenek-nenek mereka bisa melihat, mereka akan tersipu karena malu.

Di atas altar tuhan kepelesiran, persembahan anggur yang teramat mahal disajikan. Di Britania sendiri, kendati dalam masa-masa susah dan pengangguran, £260.000.000[2] setahunnya dikeluarkan untuk minuman keras beralkohol berbanding dengan £80.000.000 untuk roti dan £70.000.000 untuk susu. Ratusan juta yang dicurahkan tiap tahunnya dengan tanpa penyimpanan kembali itu telah memecahkan banyak rumah-tangga, merusak banyak jiwa, dan menjejalkan penjara-penjara dengan narapidana. Bisakah ketololan dilakukan lebih lanjut? Mengapa hal itu ditoleransi? Hanya terdapat satu jawaban. Masyarakat menghendakinya. Kemelikan untuk mabuk mesti dipuaskan. Tuhan kepelesiran mesti mendapatkan haknya.

Sebagaimana hal itu terjadi pada hari-hari Roma, Pompeii, dan Sodom dan Gomorah, hal itu pun terjadi pada hari ini. Hanya pada dewasa inilah amal-amal jahat yang telah membawa pria dan wanita kepada kemusnahan pada masa lampau, yang telah menyeret kota-kota dan bangsa-bangsa kepada kehancuran, sedang dipraktekkan lagi dalam skala dunia. Ini benar, tidak secara terbuka di setiap tempat, tetapi tak ada satupun negara yang mampu melarikan diri dari amal-amal itu. Korupsi telah menjadi satu penyakit dunia, satu pertumbuhan yang bersifat kanker yang menimpa kehidupan rumah generasi mutakhir ini, yang menular, memuntungkan, memusnahkan, dan merusak. Kedurjanaan tengah sedemikian rupa menyebar sehingga ia tak ubahnya bagai suatu komplotan setani untuk menerjunkan dunia ke dalam kebinasaan dan membawa bangunan besar peradaban kita menabrak para pimpinan dari suatu ras yang dikecewakan.

Kita tengah menghadapi pada hari ini krisis terbesar dalam sejarah manusia. Segala sesuatu yang terdahulu menjadi pucat-pasi di hadapan persoalan-persoalan yang bukan kepalang hebatnya dari saat yang agung ini.

Bagai kapal raksaksa yang koyak dari tambatannya lagi tanpa nahkoda, dunia pun terombang-ambing tak berdaya di atas samudra permasalahan dan kesulitan yang mengamuk. Ombak gairah yang teramat sangat besar mengalahkannya, sedangkan aliran teror dan kepatahan harapan yang berderu rigap menjadikannya kian dekat kepada karang yang ceking tetapi ganas yang kurang terlihat jelas bersebab kegelapan di depannya.

Walaupun dibekali dengan setiap penemuan modern, setiap kenyamanan peradaban, setiap sokongan bagi kepelesiran materialis, tidak ada satupun dari semua ini yang mampu mengurangi bahaya yang ditimbulkannya. Orang-orang yang kuat berusaha menyusun jembatan dan mengambil-alih kemudi dalam kesia-siaan. Ia tak lagi mematuhi mereka. Kapal itu sekarang tak lagi dapat dikendalikan. Karena angin dan ombak yang kencang, ia hanyut menuju kehancuran. Tak pernah manusia berada pada kesukaran nan genting serupa itu. Walau dikaruniai segenap pencapaian masa keemasan yang sesungguh-sungguhnya, ia justru menghadapi problem-problem nan mengejuntukan yang bahkan mencengangkan putra-putranya yang paling bijak sekalipun.

Berbahaya memang zaman yang Kita kini hidup di dalamnya. Kekuatan nan perkasa telah dilepaskan dan, layaknya binatang binal, menyerbu seluruh penjuru bumi lantas menantang kendali manusia. Dahsyat, gerakan-gerakan yang merangkul dunia sekarang hadir, sebagian untuk kebaikan, sebagian untuk kedurjanaan. Kejadian-kejadian dari tingkat pertama diikuti oleh satu sama lain dengan kecepatan yang mempesona. Tiap sesuatu terjadi dalam satu skala yang besar dan tiada dapat diprediksi. Langkahnya luar biasa.

Pada era disintegrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, baik secara ekonomis, politis, moral, sosial, maupun keagamaan, sinar suci yang dinyalakan oleh para nabi Tuhan sepanjang zaman semuanya telah dipadamkan dalam tumpahan darah manusia dan cekcok yang bersifat terus-menerus dari berbagai kekuatan yang tengah bersaing telah menghisap darah kehidupan dari jemantung manusia dan bangsa-bangsa.

Dalam sebuah surat ensiklik terbaru, Paus mendeklarasikan krisis masa sekarang sebagai, “Mungkin yang paling serius dan menyebar pasca Banjir Besar.” Ini tampak seolah Tuhan berseru kembali kepada seorang Nūḥas: “Akhir dari manusia yang berdaging sedang datang ke hadapan-Ku karena bumi telah dipenuhi dengan kekerasan akibat ulah mereka. Lihatlah! Aku akan menghancurkan mereka berserta bumi.” “Kita tengah hidup,” seperti yang dikatakan Mr. H.G. Wells dalam sebuah pidato di London School of Economics, “dalam satu peradaban yang sangat cepat bergerak menuju pelbagai kecabikan... Sebagaimana pada zaman Nūḥas, ketika banjir datang, Kita mesti membangun sebuah bahtera di tengah-tengah ampas kebinasaan yang mengelilingi kita”.

Masa kini tidak diragukan lagi seperti zaman Nūḥas. Terdapat kebutuhan universal akan adanya suatu bahtera. Dunia membutuhkan seorang Utusan. Upaya manusia telah gagal. Bisakah satu wujud Tuhan Yang Maha Mencintai menelantarkan makhluk-Nya semuanya? Akankah Dia membiarkan mereka semua kepada kebinasaan? Tidak, sama sekali tidak. Dia bukanlah seorang pedendam. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia telah mengutus seorang Nūḥas dan telah membangung sebuah bahtera. Dia memanggil:

“Banjir besar kemurkaan Tuhan kini sedang tinggi-tingginya dan hanya mereka yang berlindung dalam Bahtera Nūḥas-lah yang akan diselamatkan.

Mohonlah kepada-Ku dengan kebenaran dan ketulusan hati. Kebaikan hanya terletak pada hal ini. Di segala penjuru hanya terdapat binatang-binatang pemburu mangsa dan hanya di dalam diri-Kulah menara perlindungan dapat ditemukan.”

Aḥmadas dari Qadian tak diragukan lagi merupakan satu-satunya perlindungan pada saat ini. Justru, beliau adalah harapan bagi zaman. Cahaya yang pernah bersinar di Sinai, cahaya yang pernah menerangi jiwa para penjala ikan di Galilea, cahaya yang pernah mengiluminasi dunia dari Perbukitan Faran, cahaya itulah yang kini berkobar di belantara Qadian di tepi yang tinggi dari Sungai Bias.

Tuhan akan meneguhkan kebenaran, keadilan, dan cinta di atas muka bumi melalui Aḥmadas dan hubungan kekal antara manusia dan Pencipta mereka kelak akan diteguhkan. Orang-orang yang jahat akan meninggalkan pelanggaran mereka, dan kedermaan akan memerintah dengan kuasa.

Beberkatlah mereka yang berdamai dengan Tuhan!

Catatan kaki dari penerjemah:

[1] Kata Mammon berasal dari kata mamōnā atau ‘kekayaan’ yang muncul dalam Targum Khaldea dan Alkitab versi bahasa Syiria dari Matius 6:24. Para penulis abad pertengahan menjulukinya sebagai dewa kekayaaan dan ketamakan.

[Rev. Walter W. Skeat, A Concise Etymological Dictionary of The English Language (Oxford: Oxford University Press, 1911), h. 310]

[2] Buku Life of Aḥmad ini ditulis pada 1948.

2 komentar:

  1. tolong ajarannya di sinkronkan dengan ajaran AL QURAN yang selama ini kita semua pelajari. Demi kebenaran kita bersama dan bahwa di Al Quran dijelaskan bahwa tidak ada nabi atau rasul lagi setelah Nabi Muhammad saw. Dan sebaik baiknya kitab suci adalah kitab Al Quran. wallahualam bi shawab

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas sarannya. Kami meyakini Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad (as) sebagai Imām Mahdī dan Masīḥ Mau‘ūd justru karena kami beriman dengan setulus hati bahwa Nabi Besar Muḥammad (SAW) adalah nabi terakhir dan nabi yang memiliki kemuliaan tertinggi di antara seluruh utusan Allah Taala.

      Hapus