Rabu, 17 September 2014

Pandangan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd (as) mengenai Waḥdat al-Wujūd

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Pandangan Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mengenai Waḥdat al-Wujūd


Wadat al-Wujūd adalah konsep tauhid yang dikenalkan oleh Asy-Syaikh Al-Akbar Muy-id-Dīn Ibnu ‘Arabīrh. Tidak diragukan lagi, menurut arat Imām Mahdīas dalam berbagai tulisan beliau, Ibnu ‘Arabīrh adalah seorang sufi yang agung. Namun, berkenaan dengan masalah wadat al-wujūd, Sayyidunā Amadas memiliki perbedaan pandangan dengan Barzakh al-Barāzikhrh. Meski demikian, beliau melarang Kita untuk terjerumus dalam perdebatan mengenai status Ibnu ‘Arabīrh di hadapan Tuhan karena persoalan wadat al-wujūd ini. Beliau pernah menjawab pertanyaan seorang tamu yang bernama Ḥamīd Ḥusain tentang masalah ini. Lantas, dengan mengutip Surah Al-adīd ayat 4, beliau menjawab:

“Kita tidak dapat mengatakan apapun berkaitan dengan orang-orang bijak-bestari seperti Ibnu ‘Arabīrh. Ini disebabkan bahwa debat-debat semacam itu bersifat sia-sia dan terbantut belaka. Banyak hal yang akan tampak setelah mati. Demikian juga, banyak hal yang tetap tidak akan tampak meski setelah mati. Muy-id-Dīnrh juga meyakini bahwa apabila seseorang bertakwa dan beriman kepada Tuhan, niscaya dia akan menggapai keselamatan.”

[Malfūẓāt, v. 2, hh. 336-337]

Di bawah ini adalah pandangan arat Mīrzā Ghulām Amadas mengenai wadat al-wujūd:

“Mengenai arat Wājib-ul-Wujūd, Aku tidak mengatakan serupa dengan apa yang dikatakan oleh pengarang Fuṣūṣ al-ikam bahwa:

خلق الأشياء وهو عينها.

‘Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia sendirilah segala sesuatu itu.’

Namun, Aku cenderung mengatakan:

خَلَقَ الْأَشْيَاءَ وَهُوَ كَعَيْنِهَا. هٰذَا الْعَالَمُ كَصَرْحٍ مُّمَرَّدٍ مِّنْ قَوَارِيْرَ، وَمَاءُ الطَّاقَةِ الْعُظْمٰى يَجْرِيْ تَحْتَهَا، وَيَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ. يُخَيَّلُ فِيْ عُيُوْنٍ قَاصِرَةٍ كَأَنَّها هُوَ. يَحْسَبُوْنَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُؤْثِرَاتٍ بِذَاتِهَا، وَلَا مُؤْثِرَ إِلَّا هُوَ.

‘Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia seperti segala sesuatu itu. Alam ini adalah bagaikan istana yang berlantaikan jubin dari kaca. Air dengan energi yang kuat mengalir di bawahnya. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Alam ini tampak bagi mata yang bercacat seolah-olah segala benda itu adalah Dia. Mereka menganggap bahwa matahari, bulan, dan bintang adalah wujud-wujud yang memberikan pengaruh dengan sendirinya, padahal tidak ada satupun wujud yang memberikan pengaruh, kecuali Dia.’”

[Tauḍīḥ-e-Marām dalam Rūḥānī Khazā’in, v. 5, h. 89]

Ammā Ba‘du. Sesungguhnya, apa yang Engkau tanyakan tentang masalah wadat al-wujūd, akan lebih bermanfaat bagimu untuk menuliskan kesangsian-kesangsian dan waham-waham yang para penganut pemandangan yang sakit ini mengetengahkannya di hadapanmu sebagai sebuah dalil. Aku dengan ulet telah melakukan permenungan terhadapnya berkali-kali dalam jangka waktu yang panjang. Demikian juga, Aku dengan ulet telah mentadaburi Kitab Suci Alah dan hadis-hadis NabiSAW. Aku pun telah mengeksaminasi kitab-kitab Muy-id-Dīn Ibnu ‘Arabīra dan selainnya yang memuat pemikiran-pemikiran seperti ini. Kemudian, Aku juga telah berpikir tentangnya dengan akal yang Allah anugerahkan kepadaku. Namun, hingga hari ini, Aku tidak menjumpai sedikitpun dalil yang mencukupi atau hujah yang menjustifikasi kebenaran pendakwaan ini dan tidak ada satupun bukti, dalam pandanganku, yang tegak dalam mendukung validitasnya. Malahan, bukti-bukti yang kuat dan hujah-hujah yang kokoh yang tak dapat dipatahkan membatilkannya. Pertama, Alquran Suci sungguh merupakan bukti yang besar dan kuat bagi kaum muslimin, bahkan bagi setiap orang yang mendambakan kebenaran. Allah Taala telah mengokohkan dalam ayat-ayatnya yang mukam berulang-ulang bahwa segala sesuatu yang berada di langit dan di bumi adalah makhluk dan bahwa di antara manusia dan Tuhannya terdapat suatu pembeda yang abadi yang tidak mungkin hilang di alam ini dan juga di alam yang lain. Tidak ada apapun bagi makhluk, kecuali ‘ubūdiyyat yang lemah. Bahkan, ada tercantum dalam Kalam Yang Suci dengan jelas bahwa ‘ubūdiyyat bersifat lazim atau harus bagi ruh manusia secara dawam. Malahan, tujuan penciptaan manusia adalah ‘ubūdiyyat itu sendiri sebagaimana Dia berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ﴿﴾

Yakni, ‘Aku sungguh telah ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadaku secara dawam.’ Kemudian, Dia berfirman kepada ruh manusia yang sempurna pada waktunya yang terakhir:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿﴾ ارْجِعِيْ إِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿﴾ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ ﴿﴾ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ﴿﴾

Yang jelas dari ayat-ayat pengumpul keberkatan-keberkatan ini adalah bahwa ‘ubūdiyyat bersifat lazim bagi ruh manusia dengan kelaziman yang dawam. Manusia sejatinya diciptakan karena ‘ubūdiyyat ini. Bahkan, ayat terakhir menerangkan bahwa manusia, ketika sampai pada kebahagiaannya yang sempurna, menggapai segala kemuliaan fitiriah, dan menyampaikan kemampuan-kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada puncaknya yang pamungkas, dia akan melakabkan ‘ubūdiyyat pada dirinya sendiri. Lantas, dia akan disapa فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ. Engkau melihat bagaimana ayat ini mengokohkan dengan kejelasan yang paripurna bahwa destinasi manusia yang sempurna adalah ‘ubūdiyyat dan bahwa jenjang-jenjang suluk seorang salik berakhir pada ‘ubūdiyyat. Seandainya ‘ubūdiyyat hanyalah pakaian sementara bagi manusia dan ulūhiyyat adalah hakikatnya yang asli, niscaya dia akan dipanggil dengan dengan nama ulūhiyyat setelah melewati jenjang-jenjang suluk. Akan tetapi, kalimat فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ menyingkapkan dengan terang-benderang bahwa ‘ubūdiyyat merupakan keharusan baginya secara dawam di dunia ini sebagaimana ia akan senantiasa menjadi keharusan baginya selama-lamanya. Sebab, ayat ini sungguh-sungguh mengumumkan dengan suara yang lantang bahwa mustahil bagi manusia untuk keluar dari keadaan ‘ubūdiyyat pada suatu waktu tertentu ketika dia telah sampai pada jenjang-jenjang kesempurnaan. Jelas bahwa kondisi dan kaifiat yang tidak mungkin bagi sesuatu untuk keluar darinya, ia semata-mata adalah hakikatnya dan substansinya. Ketika telah jelas dari Alquran dengan terang-benderang bahwa ‘ubūdiyyat bersifat lazim bagi diri manusia dengan kelaziman yang dia tak dapat berpisah darinya walaupun dia menjadi nabi, rasul, sidik, atau syahid, tidak di alam ini dan tidak juga di dalam yang lain, dan ketika seluruh nabi dari yang terkecil sampai yang terbesar di antara mereka telah berbangga hati dengan status mereka sebagai hamba-hamba Allah dan rasul-rasul-Nya, Aku mengatakan, ‘Telah jelas dari sini bahwa hakikat dan substansi manusia adalah ‘ubūdiyyat, bukan ulūhiyyat. Jika seseorang mendakwakan bahwa hakikat dan substansi manusia adalah ulūhiyyat, hendaknya ia mengetengahkan satu ayat Alquran seperti فَادْخُلِيْ فِيْ ذَاتِيْ sebagai lawan dari ayat yang mukam lagi terang فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ. Kemudian, Alquran Suci sendiri telah mengokohkan dalam berbagai tempat bahwa tujuan penurunannya adalah meneguhkan manusia di atas ‘ubūdiyyat. Allah telah melaknat dalam Kitab-Nya Yang Mulia orang-orang yang mengadopsi Al-Masīḥas dan para nabi yang lain sebagai tuhan. Oleh karena itu, bagaimana mungkin suatu kaum yang menganggap segenap alam hingga ruh-ruh yang ternajiskan dan dipenuhi dengan keburukan, kedurhakaan, dan amoralitas sebagai tuhan berhak mendapatkan rahmat Allah?

Akan tetapi, yang termasuk dalam kebenaran adalah bahwa tauhid, berdasarkan ajaran-ajaran Alquran, terbagi menjadi tiga jenjang: rendah, pertengahan, dan tinggi. Aku akan menerangkannya kepadamu.

Sesungguhnya, yang terendah dari jenjang-jenjang tauhid yang tanpanya iman tidak sempurna adalah penafikan terhadap syirik, yaitu keberlepasan diri dari syirik yang mengenainya orang-orang musyrik dengan keaniayaan dan pelanggaran menganggap berbagai makhluk sebagai serikat dalam pekerjaan-pekerjaan Allah ketika sebagian dari mereka mengadopsi matahari, bulan, api, dan air sebagai tuhan-tuhan yang mereka bertawasul kepada mereka agar hajat-hajat mereka tertunaikan, sedangkan yang lain mengangkat sebagian manusia kepada martabat ulūhiyyat dan menganggap mereka, seperti Allah Yang Mahakudus, wujud yang berkodrat, wujud yang memutlakkan kodrat, dan wujud yang memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, inilah syirik yang jelas dan keaniayaan yang aksiomatik yang dapat dilihat oleh setiap orang yang berakal.

Yang kedua dari derajat-derajat tauhid bertalian dengan meninggalkan jenis kedua dari syirik yang diterangkan oleh Alquran Suci. Syirik jenis ini lebih halus dari syirik yang pertama sehingga orang-orang awam, layaknya bagaikan hewan ternak, tidak dapat memahaminya. Yang dimaksud dari syirik jenis ini adalah menganggap sebab-sebab sebagai serikat bersama Allah Taala dalam pekerjaan-pekerjaan kodrat-Nya dan tidak adanya anggapan bahwa Allahlah satu-satunya Subjek Hakiki dan Pemengaruh Hakiki. Sebagai contoh: Seorang muslim pemilik toko mendengar azan salat Jumat saat para pelanggan tengah berkumpul di sekitar tokonya dalam jumlah yang banyak lalu dia pun berkata dalam hatinya bahwa bila dia menutup tokonya sekarang, niscaya dia akan rugi besar karena dia pasti akan terlambat bersebab mendengar khotbah dan melaksanakan salat, bahkan bisa jadi setelahnya juga ada wejangan-wejangan. Dengan demikian, para pelanggan akan pergi seusai salat itu dan keuntungan yang mungkin akan dia raih dengan tetap berjaga di toko tidak akan dapat diraih. Inilah syirik dalam sebab-sebab. Seandanya si pemilik toko mengetahui bahwa baginya ada Wujud Pemberi Rezeki Yang dapat bertindak, berkodrat, dan memutlakkan kodrat, yang di tangan-Nya terdapat pengambilan dan pelipatgandaan rejeki, yang dia tak akan merugi sedikitpun jika dia menaatinya-Nya, dan bahwa segala upaya dan usaha tak akan menambah rezekinya jika hal itu bertentangan dengan kehendak-Nya, jika dia berpikir seperti ini, niscaya Aku akan mengatakan bahwa dia tidak akan terjerembab ke dalam syirik jenis ini karena syirik jenis ini halus. Oleh karena itu, orang banyak acapkali terjerembab dalam syirik jenis ini. Sebagian besar manusia terkecoh dengan penyembahan atau ibadah terhadap sebab-sebab ini ketika mereka menganggap sebab-sebab ini sebagai suatu tuhan bagi mereka. Syirik jenis ini adalah layaknya demam tuberkulosis yang tersembunyi dan tertutup dari pandangan mata pada sebagian besar waktu.

Yang ketiga dari jenjang-jenjang tauhid bertalian dengan meninggalkan jenis ketiga dari syirik yang diterangkan oleh Alquran Suci. Syirik jenis ini sangatlah halus sehingga tidak ada yang dapat mengetahuinya, kecuali para pemilik basirah yang mampu menembus dan tidak ada yang dapat selamat darinya, kecuali orang-orang yang sempurna. Syirik jenis ini adalah predominasi ingatan terhadap segala sesuatu selain Allah atas hati manusia, penyia-nyiaan waktu dalam mencintai atau memusuhi mereka, dan anggapan bahwa wujud-wujud yang lemah ini adalah sesuatu yang patut diingat.

Adalah tidak mungkin untuk menyarikan syirik jenis ini yang tauhid yang sempurna tidak dapat bergerak untuk meninggalkannya, kecuali jika cinta kepada Allah telah menyita hati seorang pecinta tulen ketika dengan pandangan keasyikannya dia memandang segala sesuatu selain Allah tidak berwujud, padahal mereka berwujud, hingga dia melalaikan dirinya sendiri dan nur Sang Kekasih terpancar saat segala sesuatu dan hakikat mereka menjadi tidak berwujud di hadapannya. Kesempurnaan tauhid jenis ini mungkin terjadi taktala segala sesuatu selain Allah pada dasarnya berwujud, tetapi mereka berubah menjadi seolah-olah tidak berwujud dalam pandangan sang salik yang asyik lagi berkobar dengan kobaran yang sempurna sebagai natijah dari cinta kepada Allah Taala. Lantas, dia menganggap segala sesuatu selain Allah tidak berwujud dan nihil bersebab predominasi cinta kepada Hadirat Yang Mahatunggal. Seandainya segala sesuatu selain Allah pada dasarnya tidak berwujud dan nihil, niscaya tauhid jenis ketiga ini akan musnah karena kejombangan tauhid yang sempurna ini terletak pada cinta kepada Sang Kekasih Hakiki dan keagungan-Nya yang menyita hati seorang salik ketika segala sesuatu tampak baginya bagai tak berwujud sebagai natijah dari penyaksiannya (syuhūd) yang paripurna akan Kekasihnya. Seandainya segala sesuatu yang lain pada dasarnya tidak berwujud, di manakah pengaruh kecintaan ilahi dan predominasi penyaksian akan keagungan rabbāni yang menyita hati? Kemuliaan apakah yang bersemayam dalam tauhid jenis ini? Karena, menganggap sesuatu yang pada dasarnya tidak berwujud sebagai sesuatu yang tidak berwujud tidaklah memuat kecintaan ilahi yang menyita hati. Kesempurnaan kecintaan ilahi dan penyaksian akan keagungan yang paripurna hanya dapat terlaksana jika seorang pecinta yang mabuk menganggap, bersebab keasyikan yang menyita hati semata dan tidak bersebab hal yang lain, segala sesuatu selain Kekasihnya dan Terindunya sebagai sesuatu yang tidak berwujud meskipun akalnya yang cemerlang menerangkan kepadanya bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya bukanlah tidak berwujud. Misalnya adalah sewaktu siang terbit dan cahaya matahari mulai menyita pandangan mata manusia. Mereka menjadi tidak mampu melihat bintang bersebab cahaya matahari yang menyita pandangan. Bersamaan dengan itu, dia tahu bahwa bintang bukanlah tidak berwujud pada waktu itu. Demikianlah, ketika cinta kepada Allah dan keagungan-Nya menyita hati, segenap alam, kecuali Kekasihnya, menjadi tidak berwujud dalam pandangan sang pecinta tulen.

Tidak ada keraguan bahwa nur-nur ini termanifestasikan dalam keasyikan ilahi (yakni, cinta ilahi) dengan gambaran yang paling sempurna dan paripurna. Bagaimanapun, seorang pemilik keasyikan majāzī (yakni, keasyikan kebendaan) juga terkadang dalam keasyikannya sampai pada suatu derajat yang di dalamnya dia menganggap segala sesuatu, bahkan dirinya sendiri, kecuali kekasihnya, tidak berwujud. Telah dikatakan bahwa seorang majnun yang bernama Qais telah gila di akhir dari tingkatan-tingkatan keasyikannya pada suatu derajat ketika dia mulai berkata, ‘Akulah Lailā.’ Padahal, jelas bahwa pada dasarnya dia tidaklah menjadi Laila, tetapi sebabnya adalah bahwa dia telah tenggelam dalam penggambaran akan Lailā dalam jangka waktu yang panjang lalu dia pun mulai melupakan dirinya sendiri sedikit demi sedikit sampai ketenggelamannya dan kenihilannya itu mencapai kesudahannya sehingga dia mulai memproklamasikan diri bersebab gilanya keasyikan, ‘Akulah Lailā,’ dan telah terikat dalam hatinya bahwa pada dasarnya dialah Lailā. Ringkasnya, menganggap segala sesuatu selain Allah tidak berwujud termasuk dalam keharusan-keharusan dari kesempurnaan keasyikan. Seandainya segala sesuatu selain-Nya pada dasarnya tidak berwujud, hal itu bukanlah merupakan sebuah dalil atas kecintaan dan gilanya keasyikan yang menyita hati.

Sesungguhnya, wujud dari pengaruh-pengaruh ketenggelaman dan kenihilan sewaktu terjadinya predominasi keasyikan bukanlah sesuatu yang sukar dipahami oleh manusia. Contoh dari efek ketenggelaman dan kenihilan ini adalah teman-teman Zulaikhā yang memotong tangan mereka sendiri.

Kesimpulannya, Alquran Suci telah menerangkan bahwa kesempurnaan tauhid adalah ketika seorang pecinta tulen menganggap, bersebab predominasi cinta kepada Sang Kekasih Hakiki dan penglihatan akan keagungan-Nya, segala sesuatu selain Kekasihnya bagai tak berwujud, padahal segala sesuatu itu pada dasarnya bukanlah tidak berwujud. Karena, menganggap sesuatu yang tidak berwujud sebagai sesuatu yang tidak berwujud tidaklah menunjukkan predominasi keasyikan dan kecintaan. Oleh karena itu, tauhid jenis ini bersifat wajib bagi seorang pengasyik tulen karena ia adalah tanda kesempurnaan keasyikannya. Tauhid ini hanyalah ketika dia tidak memandang, kecuali kepada Yang Mahasatu. Namun, ini tidak berarti bahwa dia menganggap secara akli bahwa segala sesuatu selain Allah pada dasarnya tidak berwujud karena mustahil lisannya melafalkan kata-kata seperti itu, sedangkan akalnya dan hatinya sempurna, dan dia mengingkari hakikat segala sesuatu, padahal dia sendiri memandang mereka dari martabat ḥaqqul yaqīn. Sebaliknya, dia harus mengakui adanya wujud mereka sebagaimana pada dasarnya mereka berwujud.

Dari sudut pandang bahwa tauhid penyaksian (tauhid syuhūdī) ini bersifat lazim dan perlu, atas dasar ini, Allah Taala telah menyebutkannya dalam Kalam-Nya Yang Kudus dengan rinci. Seorang yang pandir, taktala melihat sebagian dari ayat-ayat itu, dengan salah telah menyangka bahwa ayat-ayat itu mengisyaratkan akan adanya tauhid wujūdī (tauhid wujūdī atau wadat al-wujūd). Dia tidaklah memahami bahwa kontradiksi dalam Kalam Allah bersifat mustahil. Allah Taala senantiasa menunjukkan dengan beratus-ratus ayat yang terang dan nas yang jelas bahwa antara Dia dan ciptaan-Nya terdapat satu perbedaan yang paripurna. Dia mendalilkan status-Nya sebagai pencipta dengan anggapan bahwa ciptaan-Nya pada dasarnya berwujud. Dia membagi makhluk-Nya menjadi kelompok yang berbahagia dan kelompok yang menelangsa. Dia mengekalkan sebagian dari mereka di surga dan sebagian lain dari mereka di neraka. Dia menyebut seluruh nabi-Nya, rasul-Nya, dan sidik-Nya, dengan kata abdi atau hamba. Dia mengokohkan ‘ubūdiyyat mereka yang bersifat dawam lagi tiada terputus hingga di akhirat. Dengan demikian, bagaimana mungkin seseorang dapat menakwil beberapa ayat dengan hal-hal yang menyelisihi penerangan yang jelas dan kentara yang juga sesuai dengan akal ini? Ini semata-mata adalah adat dari orang yang tidak menapaki jalan yang lurus. Bahkan, dia menghendaki kehidupan nirtuhan dan zindik layaknya seorang penganggur yang tidak mempunyai tanggung jawab. Jika tidak, manusia, walau hanya berpikir dengan akalnya, akan menjadi jelas baginya seketika itu pula bahwa sangatlah jauh antara dia yang merupakan segenggam tanah liat dengan Tuhannya Yang Mahakudus. Sesungguhnya, manusia banyak melihat hal-hal yang dia benci di dunia ini. Dia sering tidak mendapat permohonan-permohonan yang dia mohonkan dengan doanya dan ketundukannya. Seandainya manusia pada hakikatnya adalah tuhan, mengapa dia tidak mendapatkan apa-apa yang dia angankan dengan satu kalimat kun fa yakūn? Demikian juga, mengapa sifat-sifat Allah tidak terejawantahkan dalam dirinya? Apakah mungkin hakikat sesuatu terpisah dari kelaziman-kelaziman zatnya? Seandainya hakikat manusia adalah ulūhiyyat, mengapa pengaruh-pengaruh ulūhiyyat-nya tidak termanifestasikan? Ya‘qūbas telah terus-menerus menangis selama 40 tahun, tetapi dia tetap tak mampu mengenali kediaman putranya yang terkasih, kecuali ketika Allah telah menghendaki. Sifat-sifat ilahi senantiasa tidak termanifestasikan dalam pribadi para nabi, bagaimanakah pendapatmu tentang orang-orang selain mereka? Ketika tidak ada seorangpun sampai sekarang yang maju bertanding dalam medan di hadapan segenap penentangnya dan pendukungnya untuk memanifestasikan kekuatan-kekuatan ilahi yang dia miliki, bagaimana mungkin Kita dapat mengharapkannya pada masa mendatang?

Sebagai tambahan kepada hal ini, seseorang hendaknya meninjau perbuatan-perbuatan dasar manusia yang buruk dan najis. Apakah seorang yang berakal akan mempercayai bahwa dasar dari perbuatan-perbuatan yang buruk dan najis itu berasal dari ruh Allah?!”

[Maktūbāt-e-Amad, v. 1, risalah no. 43; Al-Khazā’in Ad-Dafīnah, hh. 117-122]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar