Minggu, 07 September 2014

Kematian Maknawi

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Di bawah ini adalah terjemahan “Al-Maqālah Ar-Rābi‘ah” atau “Pembicaraan Keempat” dari kitab Futūḥ al-Ghaib[1] karangan Al-Ghauts Al-A‘ẓam ‘Abd-ul-Qādir Al-Jailānīrh. Kitab ini sepenuhnya memuat 78 perbincangan tentang masalah-masalah kerohanian. Sebab menerjemahkan bagian ini adalah karena bagian ini dikutip oleh Al-Mujaddid Al-A‘ẓam, Sayyidunā Mīrzā Ghulām Aḥmad Al-Qādiānīas, selaku Imām Mahdī dan Masīḥ Mau‘ūd dalam kitab Tuḥfatu Baghdād yang tercantum dalam Rūḥānī Khazā’in volume 7. Semoga bermanfaat!


Pembicaraan Keempat Mengenai Kematian Maknawi

“Jika Engkau mati dari manusia, akan dikatakan kepada Engkau, ‘Semoga Allah merahmatimu dan mematikanmu dari hawa nafsu.’ Jika Engkau mati dari hawa nafsumu, akan dikatakan kepada Engkau, ‘Semoga Allah merahmatimu dan mematikanmu dari keinginanmu dan kehendakmu.’ Jika Engkau mati dari keinginanmu, akan dikatakan kepada Engkau, ‘Semoga Allah merahmatimu dan menghidupkanmu dengan suatu kehidupan yang tak ada kematian sesudahnya.’ Kemudian, Engkau akan menjadi kaya dengan suatu kekayaan yang tak ada kefakiran sesudahnya, Engkau akan dikaruniai dengan suatu karunia yang tak ada keberhalangan sesudahnya, Engkau akan merasa lega dengan kelegaan yang tak ada kesengsaraan sesudahnya, engk Engkau au akan dianugerahi suatu nikmat yang tak ada kesusahan sesudahnya, Engkau akan diajari suatu ilmu yang tak ada kepandiran sesudahnya, Engkau akan diberikan suatu keamanan yang tak ada ketakutan sesudahnya, Engkau akan dibahagiakan dan tak akan disengsarakan, Engkau akan dimuliakan dan tak akan dihinakan, Engkau akan didekatkan dan tak akan dijauhkan, Engkau akan diangkat dan tak akan direndahkan, dan Engkau akan disucikan dan tak akan dikotori karena telah terwujud dalam dirimu harapan-harapan dan telah menjadi nyata dalam dirimu perkataan-perkataan. Kemudian, Engkau akan menjadi kibrīt amar yang hampir tak ada bandingannya, perkasa yang tak ada misalnya, tunggal yang tak ada serikatnya, satu yang tak ada jenis lainnya, tunggal dengan ketunggalan tersendiri, ganjil dengan keganjilan tersendiri, gaib dari kegaiban, dan rahasia dari kerahasiaan. Dengan demikian, pada saat itu, Engkau akan menjadi pewaris setiap nabi, sidik, dan rasul. Dengan Engkaulah kewalian dimaterai[2], kepada Engkaulah para abdāl menuju, dengan Engkaulah kesukaran tersingkap, dengan Engkaulah hujan dilimpahkan, dengan Engkaulah tanaman tumbuh, dengan Engkaulah bencana dan kemalangan ditolak dari orang-orang khusus, orang-orang awam, orang-orang di perbatasan, pemimpin dan gembalanya, para imam dan umat mereka, dan bahkan seluruh makhluk. Kemudian, Engkau akan menjadi angkutan negeri-negeri dan hamba-hamba, kaki manusia dengan kepayahan dan tangan manusia dengan kehinaan akan melaju kepadamu seraya membawa pemberian dan pengkhidmatan bagimu dengan izin Sang Pencipta segala sesuatu di semua keadaan. Lisan manusia akan penuh dengan zikir yang baik, pujian, dan sanjungan kepadamu di segala tempat. Tidak akan ada perbedaan pandangan sedikitpun antara dua orang ahli iman mengenaimu, wahai yang terbaik dari orang-orang menduduki daratan dan berpergian di atasnya!

ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاءُ ۚ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ﴿﴾

Inilah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah adalah Pemilik karunia yang agung.”

[1] Kitab Futūḥ al-Ghaib ini sudah diterjemahkan oleh Anjuman Amadiyyah Isyā‘ati Islām Lahore (AAIIL) atau yang biasa Kita sebut dengan Ahmadiyah Lahore ke dalam bahasa Inggris melalui salah seorang sarjana mereka, Maulana Āftāb-ud-Dīn Aḥmad. Kitab terjemahan itu bisa diunduh di sini.

[2] Kalimat aslinya dalam bahasa Arab adalah وبك تختم الولاية. Ini menunjukkan bahwa kata خاتم biasa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang telah mencapai taraf puncak yang tidak ada lagi taraf di atasnya. Demikian jugalah sejatinya makna dari خاتم النبيين. Yaitu, Nabi MuammadSAW telah mencapai puncak keruhanian yang tidak ada seorang nabi pun dapat mencapainya. Sayyidunā Amadas bersabda:

“Allah ‘Azza Wa Jalla telah menjadikan arat NabiSAW sebagai pemilik khātam, yakni Dia menganugerahi beliau khātam untuk memancarkan keunggulan-keunggulan beliau yang sama sekali tak pernah dianugerahkan kepada seorangpun nabi. Oleh karena itu, beliau dinamakan Khātam-un-Nabiyyīn yang bermakna bahwa kepengikutan terhadap beliau mengasilkan kemuliaan-kemuliaan kenabian dan bimbingan beliau menyampaikan manusia kepada makam kenabian. Kekuatan pensucian (quwwat-e-qudsiyyah) ini tidak pernah diberikan kepada seorangpun di antara para nabi selain beliau.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, aqīqat al-Way dalam Rūḥānī Khazā’in v. 22 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), h. 100]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar