Selasa, 30 September 2014

Terjemah Life of Aḥmad (Bab I)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Terjemah Life of Aḥmad
(Bab I)

Catatan: Buku Life of Aḥmad ini dikarang oleh Maulānā Abd-ur-Raīm Dārdra, seorang sahabi Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas dan mantan Imam Masjid London, dalam bahasa Inggris. Buku ini berkisah tentang biografi Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas, dan terbagi ke dalam 77 bab setebal 843 halaman. Pemilik blog berusaha menerjemahkan bab per bab dengan target ketuntasan hingga tahun depan. Buku ini dapat diunduh di sini. Para pembaca sangat bisa memberi masukan kepada pemilik blog jika terdapat kekeliruan dalam terjemahan ini. Jazākumullāh Asan al-Jazā’!
BAB 1

SAAT YANG AGUNG

“Dengarlah suara langit,

Al-Masīḥ telah datang! Al-Masīḥ telah datang!

Dengarlah pula perkataan bumi,

Imam Zaman ada di sini!

Dari langit datang pancaran cahaya-cahaya agung dan bumi

Mendeklarasikan bahwa inilah waktu yang telah ditentukan itu

Untukku keduanya bersaksi dan menangis kencang

Laksana angin nan gelisah yang tak akan bisa ditenangkan.”

[Aḥmadas]

Masa sekarang ini tengah menangis untuk kedatangan Al-Masīḥ. Seorang penulis modern berkata:

“Layaknya Israel di Sinai, dunia modern kita telah membuat tuhan-tuhan baru untuk disembah sendiri. Manusia telah menyerah kepada bujuk-rayu untuk menyembah hasil pekerjaan tangan mereka sendiri dan memperdiarkan Wujud yang dari-Nya segala inspirasi untuk berbagai pencapaian berproses. Bahkan, di bawah tekanan dan desakan kehidupan modern, dengan digoda kepada tiadanya kerendahan derajat hidup yang dibawa oleh pencerahan yang datang ke dunia dalam beberapa tahun terakhir, pemikiran akan Tuhan benar-benar telah lenyap dalam pikiran orang banyak. Sampai-sampai benar untuk berkata, Tuhan tidak berada dalam segala pemikiran mereka.

Pada setiap masa, tuhan emas memiliki pemuja setia tersendiri. Ketamakan senantiasa membawa pengikut yang banyak agar mereka dapat menyembahnya di kuil suci. Akan tetapi, hari ini, hampir seluruh dunia membungkukkan diri dalam sembah. Meski mencabut lapisan kebajikan mereka, perjudian-perjudian besar nasional ini hanya memberikan indikasi lebih lanjut kepada gejala umum menuju kuil suci Mammon[1]. Kedurjanaan untuk bertaruh bersekutu dengan iming-iming dari undian ada di mana-mana, bahkan mengambil pelbagai dimensi yang cepat dan luas. Adalah kelobaan akan keuntungan dan kedambaan terhadap uang tanpa jerih-payah yang membuat balap anjing dan balap kuda sangat populer hari ini. Namun, perjudian, layaknya Mammon, merupakan tuhan kepiluan. Ia telah memusnahkan rumah-rumah yang tiada terhitung. Setiap hari, ia membangkitkan harapan palsu akan keberuntungan dalam ribuan hati semata-mata untuk menghempaskan mereka tanpa ampun ke bumi. Ia melemahkan daya tahan, merusak cinta terhadap kerja keras, dan mengembang-biakkan ketidakpuasan, keputusasaan, dan kehilangan akan harapan.

Dewa lain bagi dunia modern adalah tuhan kepelesiran. Di sebagian besar negara pada hari ini, pemikiran teratas dalam pikiran khalayak ramai adalah olahraga. Perbincangan sehari-hari berjuta-juta orang terutamanya bersangkutan dengan yang hal-hal tak lebih baik dari konflik antarrival tim sepakbola, isu yang mungkin terjadi dalam sebuah pertandingan kriket, hasil dari kontestasi tinju, atau munculnya bintang-bintang baru dalam tenis, teater, atau kayangan perfilman.

Sorotan penuh perhatian dan perjudian terhadap kontestasi para profesional yang dibayar tinggi ini, kesukariaan liar akan kepermintaan terhadap kepelesiran yang tampak telah menawan dunia modern kita ini, secara menakutkan mengingatkan kepada pemandangan-pemandangan yang terhubung pada pertarungan-pertarungan gladiator di Koloseum Roma. Dan ini hendaknya tidak dilupakan bahwa keruntuhan Kekaisaran Roma dimulai ketika rakyatnya, dengan mengabaikan waktu nan galak yang mereka hidup di dalamnya, merengek-rengek kepada Sang Kaisar, “Berikan kami roti dan sirkus.” Peradaban ada baiknya bertanya kepada diri sendiri pada hari ini apakah ia tidak sedang menyaksikan pengulangan terhadap sejarah.

Seorang penulis Amerika mengatakan:

“Terdapat banyak orang di Amerika Serikat yang melihat gambar bergerak tiap harinya: ratusan ribu gadis pekerja dan anak sekolah yang melihat gambar bergerak siang dan malam. Secara kasar, terdapat jutaan anak di pusat-pusat besar kita yang sama sekali tak tahu-menahu soal cinta, pekerjaan, kehidupan rumah, bisnis, politik, alam, atau hal-hal lain yang dapat melindungi mereka dari apa yang film-film itu ceritakan kepada mereka.”

Apalagi, hampir tiap performa di sana menampilkan suatu elemen seks, sebuah efek akibat kurangnya pencegahan moral yang menjalar dan merusak kesemuanya.

Musik juga telah memberikan pengaruh, berkesudahan pada penyimpangan yang mengerikan yang dikenal sebagai Jazz. Musik di hampir setiap ruang tamu yang terhormat akan memberikan bahan-bahan bagi seorang ahli penyakit jiwa untuk semua survei tentang degenerasi selera modern. Demikian pula halnya tarian membawakan pengaruh. Tarian rakyat kuno terlalu menjemukan bagi anak-anak muda modern. Mereka telah berubah untuk mencocokkan diri dengan gairah waktu yang membawa para partisipannya kepada suatu perilaku yang apabila nenek-nenek mereka bisa melihat, mereka akan tersipu karena malu.

Di atas altar tuhan kepelesiran, persembahan anggur yang teramat mahal disajikan. Di Britania sendiri, kendati dalam masa-masa susah dan pengangguran, £260.000.000[2] setahunnya dikeluarkan untuk minuman keras beralkohol berbanding dengan £80.000.000 untuk roti dan £70.000.000 untuk susu. Ratusan juta yang dicurahkan tiap tahunnya dengan tanpa penyimpanan kembali itu telah memecahkan banyak rumah-tangga, merusak banyak jiwa, dan menjejalkan penjara-penjara dengan narapidana. Bisakah ketololan dilakukan lebih lanjut? Mengapa hal itu ditoleransi? Hanya terdapat satu jawaban. Masyarakat menghendakinya. Kemelikan untuk mabuk mesti dipuaskan. Tuhan kepelesiran mesti mendapatkan haknya.

Sebagaimana hal itu terjadi pada hari-hari Roma, Pompeii, dan Sodom dan Gomorah, hal itu pun terjadi pada hari ini. Hanya pada dewasa inilah amal-amal jahat yang telah membawa pria dan wanita kepada kemusnahan pada masa lampau, yang telah menyeret kota-kota dan bangsa-bangsa kepada kehancuran, sedang dipraktekkan lagi dalam skala dunia. Ini benar, tidak secara terbuka di setiap tempat, tetapi tak ada satupun negara yang mampu melarikan diri dari amal-amal itu. Korupsi telah menjadi satu penyakit dunia, satu pertumbuhan yang bersifat kanker yang menimpa kehidupan rumah generasi mutakhir ini, yang menular, memuntungkan, memusnahkan, dan merusak. Kedurjanaan tengah sedemikian rupa menyebar sehingga ia tak ubahnya bagai suatu komplotan setani untuk menerjunkan dunia ke dalam kebinasaan dan membawa bangunan besar peradaban kita menabrak para pimpinan dari suatu ras yang dikecewakan.

Kita tengah menghadapi pada hari ini krisis terbesar dalam sejarah manusia. Segala sesuatu yang terdahulu menjadi pucat-pasi di hadapan persoalan-persoalan yang bukan kepalang hebatnya dari saat yang agung ini.

Bagai kapal raksaksa yang koyak dari tambatannya lagi tanpa nahkoda, dunia pun terombang-ambing tak berdaya di atas samudra permasalahan dan kesulitan yang mengamuk. Ombak gairah yang teramat sangat besar mengalahkannya, sedangkan aliran teror dan kepatahan harapan yang berderu rigap menjadikannya kian dekat kepada karang yang ceking tetapi ganas yang kurang terlihat jelas bersebab kegelapan di depannya.

Walaupun dibekali dengan setiap penemuan modern, setiap kenyamanan peradaban, setiap sokongan bagi kepelesiran materialis, tidak ada satupun dari semua ini yang mampu mengurangi bahaya yang ditimbulkannya. Orang-orang yang kuat berusaha menyusun jembatan dan mengambil-alih kemudi dalam kesia-siaan. Ia tak lagi mematuhi mereka. Kapal itu sekarang tak lagi dapat dikendalikan. Karena angin dan ombak yang kencang, ia hanyut menuju kehancuran. Tak pernah manusia berada pada kesukaran nan genting serupa itu. Walau dikaruniai segenap pencapaian masa keemasan yang sesungguh-sungguhnya, ia justru menghadapi problem-problem nan mengejuntukan yang bahkan mencengangkan putra-putranya yang paling bijak sekalipun.

Berbahaya memang zaman yang Kita kini hidup di dalamnya. Kekuatan nan perkasa telah dilepaskan dan, layaknya binatang binal, menyerbu seluruh penjuru bumi lantas menantang kendali manusia. Dahsyat, gerakan-gerakan yang merangkul dunia sekarang hadir, sebagian untuk kebaikan, sebagian untuk kedurjanaan. Kejadian-kejadian dari tingkat pertama diikuti oleh satu sama lain dengan kecepatan yang mempesona. Tiap sesuatu terjadi dalam satu skala yang besar dan tiada dapat diprediksi. Langkahnya luar biasa.

Pada era disintegrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, baik secara ekonomis, politis, moral, sosial, maupun keagamaan, sinar suci yang dinyalakan oleh para nabi Tuhan sepanjang zaman semuanya telah dipadamkan dalam tumpahan darah manusia dan cekcok yang bersifat terus-menerus dari berbagai kekuatan yang tengah bersaing telah menghisap darah kehidupan dari jemantung manusia dan bangsa-bangsa.

Dalam sebuah surat ensiklik terbaru, Paus mendeklarasikan krisis masa sekarang sebagai, “Mungkin yang paling serius dan menyebar pasca Banjir Besar.” Ini tampak seolah Tuhan berseru kembali kepada seorang Nūḥas: “Akhir dari manusia yang berdaging sedang datang ke hadapan-Ku karena bumi telah dipenuhi dengan kekerasan akibat ulah mereka. Lihatlah! Aku akan menghancurkan mereka berserta bumi.” “Kita tengah hidup,” seperti yang dikatakan Mr. H.G. Wells dalam sebuah pidato di London School of Economics, “dalam satu peradaban yang sangat cepat bergerak menuju pelbagai kecabikan... Sebagaimana pada zaman Nūḥas, ketika banjir datang, Kita mesti membangun sebuah bahtera di tengah-tengah ampas kebinasaan yang mengelilingi kita”.

Masa kini tidak diragukan lagi seperti zaman Nūḥas. Terdapat kebutuhan universal akan adanya suatu bahtera. Dunia membutuhkan seorang Utusan. Upaya manusia telah gagal. Bisakah satu wujud Tuhan Yang Maha Mencintai menelantarkan makhluk-Nya semuanya? Akankah Dia membiarkan mereka semua kepada kebinasaan? Tidak, sama sekali tidak. Dia bukanlah seorang pedendam. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia telah mengutus seorang Nūḥas dan telah membangung sebuah bahtera. Dia memanggil:

“Banjir besar kemurkaan Tuhan kini sedang tinggi-tingginya dan hanya mereka yang berlindung dalam Bahtera Nūḥas-lah yang akan diselamatkan.

Mohonlah kepada-Ku dengan kebenaran dan ketulusan hati. Kebaikan hanya terletak pada hal ini. Di segala penjuru hanya terdapat binatang-binatang pemburu mangsa dan hanya di dalam diri-Kulah menara perlindungan dapat ditemukan.”

Aḥmadas dari Qadian tak diragukan lagi merupakan satu-satunya perlindungan pada saat ini. Justru, beliau adalah harapan bagi zaman. Cahaya yang pernah bersinar di Sinai, cahaya yang pernah menerangi jiwa para penjala ikan di Galilea, cahaya yang pernah mengiluminasi dunia dari Perbukitan Faran, cahaya itulah yang kini berkobar di belantara Qadian di tepi yang tinggi dari Sungai Bias.

Tuhan akan meneguhkan kebenaran, keadilan, dan cinta di atas muka bumi melalui Aḥmadas dan hubungan kekal antara manusia dan Pencipta mereka kelak akan diteguhkan. Orang-orang yang jahat akan meninggalkan pelanggaran mereka, dan kedermaan akan memerintah dengan kuasa.

Beberkatlah mereka yang berdamai dengan Tuhan!

Catatan kaki dari penerjemah:

[1] Kata Mammon berasal dari kata mamōnā atau ‘kekayaan’ yang muncul dalam Targum Khaldea dan Alkitab versi bahasa Syiria dari Matius 6:24. Para penulis abad pertengahan menjulukinya sebagai dewa kekayaaan dan ketamakan.

[Rev. Walter W. Skeat, A Concise Etymological Dictionary of The English Language (Oxford: Oxford University Press, 1911), h. 310]

[2] Buku Life of Aḥmad ini ditulis pada 1948.

Senin, 29 September 2014

Akidah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd (as) mengenai Turunnya Malaikat

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود


Akidah Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas mengenai Turunnya Malaikat


“Aku berakidah bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang dekat dengan-Nya. Setiap orang dari antara mereka memiliki makam tersendiri yang telah diketahui. Tidak seorangpun turun dari makamnya dan tidak juga naik. Turunnya mereka yang disebutkan dalam Alquran tidaklah seperti turunnya manusia dari atas ke bawah dan naiknya mereka pun tidak seperti naiknya manusia dari atas ke bawah karena dalam turunnya manusia terdapat perpindahan tempat serta bekas kesakitan diri dan kelelahan, sedangkan kelelahan dan kesakitan tidaklah menyentuh malaikat serta perubahan pun tidak mendatangi mereka. Oleh karena itu, janganlah memperbandingkan turunnya dan naiknya mereka dengan hal-hal yang lain! Sebaliknya, turunnya dan naiknya mereka sesuai dengan corak yang sama dengan turunnya dan naiknya Allah dari Arasy ke langit terdekat. Karena Allah telah memasukkan wujud mereka ke dalam īmāniyyat dan berfirman وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ, beriman sajalah kepada turunnya dan naiknya mereka, tetapi janganlah masuk ke dalam pokoknya! Itu lebih baik dan lebih dekat kepada ketakwaan. Allah telah menyifatkan mereka sebagai wujud-wujud yang berdiri, bersujud, berbaris-baris, bertasbih, dan kokoh pada tempat mereka yang telah diketahui. Dia pun telah menjadikan sifat-sifat ini dawam lagi tidak akan pernah terlepas dan justru dengannyalah Dia mengkhususkan mereka. Dengan demikian, bagaimana mungkin mereka dapat meninggalkan keberdirian dan kebersujudan mereka, memecahkan barisan mereka, dan mengabaikan tasbih dan takdis mereka lalu turun dari makam-makam mereka, mendarat di bumi, dan membuat langit kosong? Sebaliknya, mereka bergerak di dalam ruang lingkup mereka sendiri dan berada tetap pada makam mereka masing-masing seperti Sang Raja Yang Bertahta di atas Arasy. Kalian mengetahui bahwa Allah selalu turun ke langit di setiap akhir malam. Tidaklah dikatakan bahwa Dia meninggalkan Arasy kemudian naik kembali pada waktu yang lain. Demikianlah malaikat berada pada corak yang sama dengan sifat-sifat Tuhan mereka seperti terwarnainya bayangan dengan corak benda aslinya. Kita tidak mengetahui hakikatnya, tetapi kita beriman kepadanya. Bagaimana mungkin kita menyerupakan perpindahan mereka dengan perpindahan manusia yang kita kenali hakikatnya, sifat-sifatnya, batas-batas kelebihannya, keberhentiannya, dan pergerakannya? Allah sungguh telah melarang kita untuk berbuat seperti ini dan berfirman وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ. Oleh karena itu, bertakwalah, wahai orang-orang yang memiliki pengertian!”


[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasAt-Tablīgh (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009) hh. 12-13]

“Sesungguhnya, Kami beriman kepada malaikat-malaikat Allah berserta makam-makam dan barisan-barisan mereka. Kami pun beriman bahwa turunnya mereka adalah seperti turunnya cahaya, tidak seperti  keberpergian manusia dari satu negeri ke negeri yang lain. Mereka tidaklah meninggalkan makam-makam mereka. Bersamaan dengan itu, mereka naik dan turun. Mereka adalah para prajurit Allah serta para penguasa dan pemimpin langit. Mereka tidak memisahkan diri dari makam-makam mereka. Tidak ada seorangpun dari antara mereka, kecuali memiliki makam tersendiri yang telah diketahui. Mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. Tidak satupun perkara menyibukkan mereka dan mereka melaksanakan ketaatan kepada Tuhan semesta alam.

Seandainya kepergian mereka untuk menunaikan tugas bermakna menjauhnya mereka dari makam-makam mereka, niscaya tidak mungkin banyak nyawa dapat diwafatkan pada satu waktu. Sebaliknya, wajib hukumnya agar tak seorangpun mati di belahan timur pada suatu waktu yang telah Allah tentukan baginya sebelum seorang malaikat selesai mencabut nyawa orang lain di barat yang pada waktu tersebut sama-sama mati seperti orang yang pertama itu dan sebelum malaikat itu pergi ke belahan timur. Tidaklah hal ini melainkan kedustaan yang terang-benderang! Sesungguhnya, perintah mereka, apabila mereka menghendaki sesuatu berdasarkan hukum Allah, mereka tinggal mengatakan kepada sesuatu itu, ‘Kun’. Lantas, sesuatu itu pun berproses untuk menjadi. Mereka tidaklah turun dengan kesakitan diri, pergeseran waktu, penjejakkan langkah, dan peninggalan tempat layaknya para penduduk bumi.”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Tuḥfatu Baghdād dalam Bāqatun Min Bustān al-Mahdī (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2007), h. 38]

“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya, malaikat turun ke bumi seperti turunnya manusia dari gunung ke lereng. Mereka lalu menjauh dari makam-makam mereka dan membuat makam-makam mereka tertinggal kosong sampai kembali naik kepadanya.’ Inilah akidah mereka yang mereka sendiri terangkan. Kami sungguh tidak dapat menerimanya dan Kami berkata, ‘Sesungguhnya, mereka dalam hal ini tidaklah berada di atas kebenaran.’ Bertambah dahsyatlah, dengan demikian, kemarahan mereka lalu berkata, ‘Sesungguhnya, orang-orang ini telah keluar dari akidah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamā‘ah, bahkan telah kafir dan murtad kemudian bangkit untuk menentang Kita.’

Jawabannya adalah, ketahuilah! Sesungguhnya, mereka telah membuat kesalahan ketika mereka membandingkan malaikat dengan manusia. Tidaklah tersembunyi bagi orang yang diciptakan dari tanah kebebasan dan yang telah melampaui jiwa pengetahuan yang membawa kepada keyakinan bahwa malaikat menurut aslinya tidaklah menyerupai manusia dalam sifat apapun. Tidak pula ada dalil dari Alquran, sunah, dan ijmak yang menyatakan bahwa ketika turun ke bumi, mereka membuat langit tertinggal kosong layaknya satu negeri yang para penghuninya keluar darinya dan mereka mengikuti manusia dengan kesakitan diri. Mereka lalu sampai ke bumi setelah menempuh kesukaran safar, kepedihan perjalanan jauh beserta keletihan-keletihan dan penderitaan-penderitaan yang dibawanya, dan kesengsaraan dari setiap usaha dan kepayahan. Sebaliknya, Alquran Suci menerangkan bahwa sifat-sifat mereka diserupakan dengan sifat-sifat Allah Taala sebagaimana Dia berfirman وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا[2]. Oleh karena itu, lihatlah, semoga Allah mengaruniakan kepadamu kehalusan-kehalusan makrifat, bagaimana Allah Taala mengisyaratkan di dalam ayat ini bahwa kedatangan-Nya dengan kedatangan malaikat dan turunnya Dia dengan turunnya malaikat tersatukan dalam hakikat dan kaifiat! Tidak ada hajat bagi Kami untuk mengingatkanmu tentang apa yang telah jelas mengenai turunnya Allah dari Arasy pada sepertiga malam terakhir karena Engkau pun mengetahuinya. Bersamaan dengan itu, Aku tidaklah menaruh syak-wasangka bahwa Engkau memaknai turunnya Allah itu secara jasmani dan Engkau berakidah bahwa ketika Dia turun ke langit terdekat, Arasy menjadi kosong dari wujud-Nya. Oleh karena itu, ketahuilah! Sesungguhnya, turunnya malaikat itu semisal dengan turunnya Allah sebagaimana telah diterangkan ayat terdahulu. Allah juga telah memasukkan wujud malaikat ke dalam īmāniyyat sebagaimana Dia memasukkan wujud-Nya ke dalamnya dan berfirmanوَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ [3] dan وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ. Atas dasar ini, Dia menerangkan  kepada manusia bahwa hakikat malaikat dan hakikat sifat-sifat mereka yang luhur berada di luar jangkauan akal manusia dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya selain Allah. Oleh karena itu, janganlah mengetengahkan permisalan-permisalan bagi Allah dan malaikat dan datanglah, sebaliknya, kepada-Nya selaku orang-orang yang berserah diri!

Engkau pun mengetahui bahwa setiap muslim nan mukmin berakidah bahwa Allah turun ke langit terdekat pada sepertiga malam terakhir bersamaan dengan ketetapan wujud-Nya dan kebertahtahan-Nya di atas Arasy. Tidak ada satupun celaan seorang pencela dan umpatan seorang pengumpat yang mengarah kepada tiap-tiap muslim nan mukmin itu bersebab akidah ini. Bahkan, kaum muslimin telah bersepakat atasnya dan tidak ada seorangpun dari antara orang-orang mukmin yang menyanggahnya. Seperti itulah malaikat turun ke bumi bersamaan dengan kebertetapan dan kekokohan mereka pada makam-makam yang telah diketahui. Ini adalah satu rahasia dari rahasia-rahasia kodrat-Nya. Seandainya bukan karena rahasia-rahasia itu, niscaya wujud Tuhan Yang Qahhār tidak akan dapat dikenali. Makam-makam malaikat di langit adalah kokoh, tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana Dia berfirman mengenai kisah mereka وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَّعْلُوْمٌ[4]. Kita tidaklah melihat di dalam Alquran satupun ayat yang mengisyaratkan bahwa malaikat meninggalkan makam-makam yang Allah telah kokohkan mereka di atasnya. Bersamaan dengan itu, mereka turun ke bumi dan menjumpai penduduknya dengan seizin Allah. Mereka merefleksikan diri dengan refleksi-refleksi yang banyak. Sekali waktu, mereka ber-tamatstsul kepada para nabi dalam bentuk Banī Ādam. Di waktu yang lain, mereka nampak laksana cahaya. Di waktu yang lain pula, para ahli kasyaf melihat mereka sebagai bocah dan sebagian lain sebagai remaja. Allah menciptakan bagi mereka jasad-jasad yang baru di bumi selain dari jasad-jasad mereka yang asli dengan kodrat-Nya yang latif dan melingkupi. Bersamaan dengan itu, mereka memiliki jasad-jasad di langit. Mereka tidaklah memisahkan diri dari jasad-jasad samawi mereka dan mereka pun tidak meninggalkan makam-makam mereka. Mereka justru mendatangi para nabi dan setiap orang yang kepadanya mereka diutus bersamaan dengan bahwa mereka tidak meninggalkan makam-makam mereka. Ini adalah satu rahasia dari antara rahasia-rahasia Allah. Oleh karena itu, janganlah kaget akan hal ini! Tidakkah Engkau mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Oleh karena itu, janganlah masuk ke dalam golongan orang-orang yang mendustakan!

Pandangilah malaikat, bagaimana Allah menjadikan mereka anggota-anggota-Nya dan menjadikan mereka perantara-perantara kodrat-Nya kunfayakūniyyat-Nya dalam setiap perintah! Mereka meniupkan nafiri dari tempat-tempat di mana mereka berkediaman. Mereka menyampaikan suara mereka kepada siapa yang mereka kehendaki. Mereka tidak menjadi lemah untuk menjumpai setiap orang di belahan timur dan di belahan barat dalam sekejap mata atau lebih cepat darinya. Tidak satupun perkara menyibukkan mereka. Pandangilah, sebagai contoh, malaikat maut yang diwakilkan kepada manusia, bagaimana dia mencabut setiap nyawa pada waktu yang telah ditentukan meskipun salah satu dari orang-orang yang diwafatkan itu pada suatu waktu berada di belahan timur yang paling jauh dan yang lainnya di belahan barat yang paling jauh! Seandainya silsilah niẓām ilāhī ini bertumpu pada penjejakkan langkah malaikat dari langit ke bumi kemudian dari satu negeri ke negeri yang lain dan dari satu kerajaan ke kerajaan yang lain, niscaya tatanan perintah ini akan menjadi fasad dan kekalutan besar akan terjadi dalam perintah-perintah qaḍā’ dan kodrat Allah. Ketika seorang malaikat dalam perpindahannya harus mengamankan diri dari penyia-nyiaan waktu dan habisnya tempo melaksanakan perintah yang dimaksud, niscaya dia pada suatu waktu nanti akan menjadi bahan cercaan dan dia pada suatu hari nanti akan dikenai cacian Tuhan karena tidak berhasil menunaikan tugas sampai habis tempo serta dia kelak akan diikat dengan berbagai jenis hukuman. Engkau mengetahui bahwa status malaikat suci dari hal ini. Mereka bekerja dengan tanpa menetap. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan Allah dengan tanpa kerancauan. Oleh karena itu, bertadaburlah dan janganlah masuk ke dalam golongan orang-orang yang lalai!

Kemudian, bertadaburlah lagi, semoga Allah mengaruniakanmu penerimaan terhadap kebenaraan! Sesungguhnya, malaikat adalah wujud yang memiliki tubuh yang terbesar dibandingkan dengan setiap yang ada di langit dan di bumi sebagaimana telah jelas dalam nas-nas Alquran dan hadis. Tidak ada keraguan bahwa seandainya salah seorang dari antara mereka turun ke bumi dengan tubuhnya yang besar dan kuat, niscaya seluruh wilayah akan hancur dan para penduduknya akan binasa dan bumi pun tidak mampu menampungnya. Yang benar adalah bahwa mereka sejatinya turun secara tamatstsulī. Tubuh-tubuh mereka yang asli tidaklah turun dari langit, tetapi Allah ciptakan bagi mereka tubuh-tubuh lain di bumi yang mampu ditampung bumi dan yang dikehendaki perkakas-perkakas di luar bumi dengan kadar yang pemerhatian orang-orang yang memperhatikan dapat mengetahuinya. Oleh karena itu, pikirkanlah mengenai perkataan kami ini sebagaimana mestinya dan janganlah tergesa-gesa, resapilah justru pemahaman ini dalam jangka waktu yang memadai lalu pandangilah kalamku ini dengan pandangan keinsafan, dan periksalah hakikat kalimatku ini, serta simaklah ucapanku ini! Kemudian, Engkau berhak memilih setelahnya, di tanganmulah penerimaan dan penolakan.

Hasil dari perkataan kami adalah bahwa malaikat telah diciptakan sebagai pembawa kodrat ilahi yang abadi dan sebagai wujud-wujud yang suci dari keletihan, kelelahan, dan kepayahan. Tidak boleh ada bagi mereka kepayahan safar, keletihan bersebab berlipat-lipatnya keberpergian, dan sampainya ke rumah-rumah dan tempat-tempat yang dimaksud dengan kesakitan diri dan pergeseran waktu karena mereka memiliki kedudukan sebagai anggota-anggota Allah untuk menyempurnakan tujuan-tujuan-Nya semata-mata berdasarkan irādat-Nya dengan tanpa menetap. Seandainya turunnya dan naiknya mereka semodel dengan naiknya dan turunnya manusia, niscaya tatanan kerajaan langit akan menjadi kacau dan setiap yang ada di dalam keduanya akan menjadi fasad. Segala cacat ini pada nantinya akan berpulang kepada Allah yang meneguhkan mereka di atas makam-Nya dalam tugas-tugas rabūbiyyat, khāliqiyyat, dan lain sebagainya karena mereka adalah para pengatur perintah-Nya dan para penjaga dari sisi-Nya atas segala sesuatu. Adapun perintah mereka, jika mereka menghendaki sesuatu, sesuatu yang dimaksud itu akan segera berproses untuk terjadi dengan tanpa jenda. Apakah terdapat safar di sana? Di mana pula berlipat-lipatnya keberpergian, peninggalan makam, dan turunnya mereka ke bumi dengan pergeseran waktu? Oleh karena itu, janganlah berdebat dalam masalah ini dan janganlah meminta fatwa kepada orang-orang yang kegilaan ta‘aṣṣub telah merasuki diri mereka karena mereka dengan kegilaan mereka itu telah menjadi maḥjūb.

Telah jelas dari Ḥaḍrat RasūlullāhSAW apa yang menguatkan perkataan kami ini tentang ketidakadaan turunnya malaikat, sebagaimana diriwayatkan dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda:

مَا فِي السَّمَاءِ مَوْضِعُ قَدَمٍ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ أَوْ قَائِمٌ، وَذٰلِكَ قَوْلُ الْمَلَائِكَةِ: وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَّعْلُوْمٌ.[5]

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa ini merupakan dalil qaṭ‘ī bahwa malaikat tidaklah meninggalkan makam-makam mereka! Seandainya tidak demikian, bagaimana absah untuk dikatakan bahwa tidak ditemukan di langit satupun lokus kaki, kecuali terdapat seorang malaikat di atasnya? Bagaimana bisa pula bentuk ini tetap dalam keadaannya yang semula sewaktu malaikat turun ke bumi? Tidakkah Kalian berakidah bahwa Jibrīlas memiliki suatu tubuh yang memenuhi langit dan bumi? Apabila Jibrīlas dengan tubuhnya yang besar itu turun ke bumi dan langit menjadi kosong darinya, pikirkanlah dan ingatlah hadis lokus kaki itu dan masuklah ke dalam golongan orang-orang yang menyesali kesalahan!

Kemudian, jika Engkau berpikir lebih lanjut tentang Surah Al-Qadr, pastilah akan timbul bagimu penyesalan dan kenestapaan yan lebih besar daripada ini. Karena, Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman dalam Surah itu bahwa malaikat dan Ar-Rūḥ turun pada malam itu dengan seizin Tuhan mereka dan mereka menetap di bumi hingga terbitnya fajar. Bila malaikat semuanya turun ke bumi pada malam itu, wajib hukumnya berdasarkan akidahmu bahwa langit seluruhnya akan menjadi kosong setelah mereka turun. Penjelasan ini telah lewat dalam hadis lokus kaki tadi. Oleh karena itu, janganlah melangkahkan kakimu kepada kesesatan yang telah jelas dengan sendirinya! Engkau mengetahui bahwa kelurusan telah terang bedanya dari kepenyimpangan. Engkau tidak akan mampu untuk mengeluarkan satupun hadis yang menunjukkan bahwa langit menjadi kosong setelah malaikat turun ke bumi. Oleh karena itu, janganlah berbuat lancang kepada Allah dan Rasul-NyaSAW dan janganlah ikuti apa yang Engkau tak punya ilmu atasnya lantas Engkau akan tercela lagi ditinggalkan dan masuk ke dalam golongan orang-orang yang sesat!”

[Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Ḥamāmat al-Busyrā Ilā Ahli Makkata Wa Ṣulaḥā’i Umm al-Qurā dalam Rūḥānī Khazā’in v. 7 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hh. 271-276]

[1] Q.S. 74:32.

[2] Q.S. 89:23.

[3] Q.S. 2:178.

[4] Q.S. 37:165.

[5] Al-Kunā Wa Al-Asmā’ Li Al-Ḥafīẓ Ad-Daulābī, no. 1824.

Jumat, 26 September 2014

Revitalisasi Toleransi dan Penghidupan Kembali Tenggang Rasa Yang Hampir Mati

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود


Revitalisasi Toleransi dan Penghidupan Kembali Tenggang Rasa Yang Hampir Mati


Manusia, pada hakikatnya, merupakan Homo politicus. Sebagai Homo politicus, manusia bersifat prudent dan judicious. Dia, layaknya seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibu, murni, tahir, dan kalis dari segenap pengaruh, baik yang bajik maupun yang buruk. Seiring dengan perjalanannya dalam bahtera kehidupan, dia mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya. Otaknya, yang adalah memori super besar lagi kuat, menyimpan arsip-arsip pengalamannya itu. Impresi terhadapnyalah yang membentuk dan menganggit budi-pekertinya.

Apabila dia hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kebaikan, dengan ingatan-ingatan tentangnya yang terekam dalam otak, niscaya dia akan mengejawantahkannya kembali dalan kehidupannya sehari-hari. Esensinya sebagai organisme yang berakal sehingga dapat berkontemplasi dan menimbang menyatakan bahwa kebaikan inilah yang patut diadopsi. Dia melihat orang-orang selalu menghadirkan manfaat bagi sesamanya, bahkan dia pun menjadi objek kedermaan mereka. Bersebab impresi yang dihasilkan dari kesemuanya ini, dia bertransformasi menjadi Homo socius.

Sebagai Homo socius, manusia dapat hidup bersama-sama dalam satu masyarakat, tidak seperti hewan yang terbagi ke dalam bermacam-macam kluster. Konsekuensinya, manusia mesti mengorganisasi kontak dan komunikasi terhadap satu sama lain. Dia tidak hanya menjadi resipien akan derma bajik orang lain, tetapi juga menjadi pemberi bagi yang lain. Jika dia benar-benar menghayati dan menjiwai dirinya sebagai Homo socius, tidak hanya sebatas formalitas, tetapi juga sesuatu yang harus dan diperlukan, akan terwujud integrasi dan harmoni yang akan mengantarkannya dan masyarakatnya menuju kemakmuran dan dan kesejahteraan. Dengan demikian, dia naik kepada tingkat Homo socius.

Homo sociologicus lebih besar dari Homo socius. Sebagai Homo sociologicus, manusia menempatkan dirinya dalam pemenuhan kecakrukan sosial. Dia menduduki kursi yang vital di dalamnya. Bila sebagai Homo socius manusia hanya mengadakan hubungan timbal-balik, sebagai Homo sociologicus, manusia telah mampu mengesampingkan sifat hoggish dan piggish yang terdapat dalam dirinya, bahkan telah mengutamakan dan mendahulukan kepentingan sesamanya dibanding kepentingan pribadi. Pada realitas inilah toleransi dalam bentuk yang sesungguh-sungguhnya termanifestasikan.

Kebalikan dari realita di atas adalah, apabila manusia tinggal di sekeliling orang-orang yang buruk, dengan tiap memento tentangnya yang tersimpan dalam otak, tentunya dia juga akan melahirkannya kembali dalam kehidupannya. Substansinya sebagai makhluk berakal yang dapat melakukan tafakur dan permenungan memaklumkan bahwa keburukan inilah yang hendaknya dianut. Dia menyaksikan orang-orang tidak saling memperhatikan satu sama lain, bahkan tenggelam dalam egoisme masing-masing, satu hal yang menyebabkannya merasa terasing. Karena kesan yang dibuat oleh semua ini, dia berubah menjadi Homo Economicus.

Sebagai Homo Economicus, manusia berkehendak untuk menjadi pemilik bermacam-macam materi. Ini berangkat dari kecintaan terhadap dirinya sendiri. Kecintaan terhadap pribadi ini semata-mata timbul akibat keterasingan dan keterisolasian dirinya dari masyarakatnya. Lantas, dia pun mulai menghimpun berbagai jenis materi yang dia anggap bisa membuatnya sejajar dengan tiap individu dari masyarakatnya yang egoistis lalu menghitungnya berulang-ulang. Namun, meski apa yang dia inginkan telah terpenuhi, dia tetap merasa tak puas. Tiap kali dia melihat suatu materi pada orang lain yang dia belum punyai, dia merasa harus memilikinya. Akhirnya, jika tak mendapat sarana untuk memenuhi materi yang didambakan itu, dia tak akan segan-segan untuk merebutnya dengan paksaan dan kekerasan dari tangan orang lain bersebab rasa iri yang telah menembus tapal batas. Karakter ini pada nantinya akan menurunkan derajatnya kepada taraf Homo Homini Lupus.

Homo Homini Lupus adalah taraf ketika toleransi benar-benar mati. Sebagai Homo Homini Lupus, manusia menjadi sangat sentimen, tidak aman, dan tidak nyaman terhadap segenap potensi gangguan yang mungkin terbit dari tindak-tanduk orang lain. Dia senantiasa berasumsi bahwa orang lain terus berupaya untuk merampas dan menjarah materi yang dia miliki. Oleh karena itu, alih-alih kecolongan, dia memutuskan untuk menggarong orang lain terlebih dahulu. Pada tahap selanjutnya, dia akan merasa harus untuk menguasai segenap materi yang dipunyai tiap individu agar potensi gangguan terhadap dirinya tiada lagi tersisa. Dengan demikian, dia tak ubahnya bagai serigala yang memangsa kawanannya sendiri.

Frasa revitalisasi toleransi pada judul di atas tidak dapat berlepas diri atau dipisahkan secara parsial dari kenyataan ini. Oleh karena itu, untuk merevitalisasi toleransi, tatanan masyarakat yang mendukung perlu terlebih dahulu dibentuk. Nilai-nilai integrasi dan harmoni sosial harus diwujudkan yang akan merangsang tiap individu untuk melakukan yang terbaik bagi masyarakatnya. Segala sesuatu yang dapat memicu disintegrasi dan disharmoni juga hendaknya dicegah sehingga kematian toleransi dapat dihindari.

Pertanyaannya, “Bagaimana cara mewujudkan integrasi dan harmoni sosial itu?” Hal paling dasar bagi keduanya adalah afeksi terhadap satu sama lain sebagai satu saudara. Dalam dialektika keagamaan tradisional, status manusia sebagai keturunan Ādamas dan Ḥawā’ dapat menjadi perekat terlepas dari terkelompoknya mereka ke dalam suku-suku dan bangsa-bangsa[1]. Dalam diskursus sains, fakta bahwa manusia bersaudara sebagai satu spesies Homo sapiens dapat dimanfaatkan. Demikian juga, dalam tataran sosial, kenyataan bahwa manusia secara individu merupakan anggota dari sebuah ras yang amat besar adalah satu hal yang ampuh untuk dijadikan alat penginsafan. Ringkasnya, penyadaran akan persaudaraan antarsesama umat manusia adalah fondasi awal bagi bangunan toleransi.

Setelah mafhum akan persaudaraan manusiawi ini, langkah berikutnya adalah pengenalan terhadap karakter dan peran masing-masing individu dalam masyarakat. Ini berkaitan erat dengan sistem diferensiasi dan pembagian kerja. Diferensiasi adalah cara tiap individu menangkap dan memahami peran sesuai karakternya masing-masing. Adapun pembagian kerja adalah bagaimana tiap individu mengimplementasikan perannya itu dengan sebaik-baiknya. Apabila manusia sungguh-sungguh mengerti kedua sistem ini, tentunya tatanan masyarakat akan menjadi rapi dan seimbang. Sebagai contoh: Seorang Ketua RT yang memahami dengan benar perannya sebagai pemimpin di lingkungannya dan karakter yang dia dan masyarakatnya miliki, pasti dia tidak akan berbuat dan melakukan hal-hal yang menyelisihi khitahnya. Sebaliknya, dia akan sekuat tenaga mengimplementasikan khitahnya itu dengan jalan yang sebaik-baiknya. Demikian juga, setiap anggota masyarakat yang bernaung di bawah kepemimpinan Ketua RT itu, jika benar-benar paham akan kewajiban dan hak masing-masing dan mengenal sifat orang per orang secara partikular, niscaya apa yang mereka kerjakan tidak akan melenceng dari garis yang telah mereka pahami ini. Dengan demikian, hubungan kausal antara Ketua RT dan anggota masyarakatnya itu akan mengakibatkan terwujudnya toleransi dalam bentuknya yang mula-mula karena tiap individu menghormati dan menghargai usaha-usaha individu lain berkat kesadaran mereka yang benar akan karakter dan perang masing-masing. Intisari yang dapat diambil dari sini adalah bahwa penghormatan dan penghargaan terhadap karakter dan peran masing-masing merupakan kunci bagi terbukanya pintu toleransi.

Dalam kehidupan dewasa ini, prinsip penghormatan dan penghargaan sudah sulit dijumpai. Hal ini adalah jawaban mengapa intoleransi lahir. Toleransi pada hakikatnya berarti menahan diri dari menggunakan kekuatan yang dia miliki untuk mengintervensi pendapat atau perbuatan orang lain walaupun hal itu menyimpang dari sesuatu yang dia anggap penting secara moral dan dia sendiri secara moral tidak menyetujuinya[2]. Taktala seseorang benar-benar menghormati dan menghargai tindakan orang lain dalam mewujudkan kesejahteraan bagi kehidupan pribadinya dan kesejahteraan bagi kehidupan kemasyarakatan, dia akan dengan yakin meyakini bahwa apa yang orang lain itu lakukan pasti akan menghasilkan buah yang baik meskipun hal itu bertentangan dengan moral keagamaan atau adat-istiadat yang dia pegang.

Sampel paling sederhana dari tindakan intoleran yang timbul akibat dari nihilnya prinsip penghormatan dan penghargaan ini adalah diskriminasi dan persekusi terhadap warga Jemaat Ahmadiyah. Mayoritas kelompok Islam yang merasa memiliki hak prerogratif untuk menentukan keislaman seseorang atau satu kelompok, melakukan intervensi, gangguan, dan pemaksaan kepada warga Jemaat Ahmadiyah untuk mengikuti apa yang mereka mau. Bila warga Jemaat Ahmadiyah tidak berkenan untuk menuruti kehendak mereka, mereka tak akan segan untuk melancarkan diksriminasi dan persekusi. Mereka tidak memberikan penghormatan dan penghargaan yang sepantasnya kepada warga Jemaat Ahmadiyah karena perbedaan doktrinal-teologis. Dengan demikian, mereka menjadi tak yakin dengan keyakinan yang utuh bahwa tiap-tiap warga Jemaat Ahmadiyah hanya telah, sedang, dan akan melaksanakan hal-hal yang bermanfaat dan berfaedah bagi dirinya sendiri dan masyarakat di mana dia berada terlepas dari perbedaan doktrinal yang membedakannya dengan masyarakatnya.

Langkah selanjutnya dan terakhir untuk menciptakan integrasi dan harmoni sosial yang dengannya toleransi dapat mewujud dalam bentuknya yang paripurna adalah pengorbanan yang dilakukan tiap individu kepada masyarakat di mana dia berada dan pengutamaan kepentingan umum di atas kepentingan personal. Pengorbanan ini lebih luhur daripada penghormatan dan penghargaan. Apabila penghormatan dan penghargaan hanya mengekang diri dari pemaksaan kehendak, pengorbanan adalah ketika tiap individu berkenan, bahkan merasa harus untuk membantu individu lain dalam mewujudkan kesejahteraan pribadinya secara khusus dan masyarakat secara umum walaupun individu lain itu jelas-jelas bersebrangan secara diametral dengan hal-hal fundamental yang dia anut. Pada tahap ini, sekat-sekat kesukuan, keagamaan, dan keetnisan telah benar-benar hilang. Sebagai gantinya, keinginan untuk mengorbankan dan mempersembahkan kemampuan dan materi yang dia punyai timbul dan melingkupi hati tiap individu. Dia merasa bahwa dirinya telah melebur dengan masyarakat secara total hingga sampai pada satu kondisi ketika dia menganggap bahwa dia adalah masyarakat dan masyarakat adalah dirinya. Dengan terpenuhinya kebutuhan masyarakat, itu telah cukup baginya. Oleh karena itu, dia akan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadinya. Inilah saat ketika toleransi dapat benar-benar hadir ke dalam realitas.

Mengapa toleransi baru bisa lahir secara sempurna pada tahap ini? Jawabannya adalah karena toleransi berkaitan erat dengan kebahagiaan tiap individu. Apabila satu individu melakukan perbuatan-perbuatan yang sehat, berfaedah bagi masyarakat, dan didasarkan pada pertimbangan rasional, kepuasan akan menyertainya dan kebahagiaan akan menjadi hasil akhirnya[3]. Kepuasan dan kebahagiaan hakiki adalah sewaktu manusia berhasil mengalahkan egoisme dan keangkuhan dirinya kemudian mendahulukan kepentingan masyarakat di atas kepentingan dirinya sendiri. Teladan agung dari tahap ini adalah bagaimana Nabi MuḥammadSAW mempersilakan delegasi Kristen Najran untuk beribadah di dalam Masjid Nabawi dengan menghadap Yerusalem dan membelakangi Kakbah[4]. Perilaku beliau ini menunjukkan betapa sekat-sekat kesukuan, keagamaan, dan keetnisan telah hilang, hal-hal itu justru tersubstitusikan dengan pendahuluan terhadap kepentingan dan kebutuhan satu kelompok yang dengan terang-benderang berlawanan dengan beliau.

Langkah-langkah di atas sangatlah esensial bagi terwujudnya integrasi dan harmoni sosial. Tanpa integrasi dan harmoni, toleransi tidak mungkin tercipta. Satu negara, yang tidak terdapat toleransi di dalamnya, dapat dipastikan akan hancur dan gagal. Mengapa? Karena, toleransi mengatur hubungan horizontal antar sesama anggota masyarakat dan hubungan vertikal antara masyarakat dan pemerintah. Jika hubungan horizontal tidak berjalan dengan baik, tentunya ketegangan sosial akan terjadi dan pada nantinya dapat memicu terjadinya konflik berkepanjangan. Jika hubungan vertikal tidak berproses sebagaimana mestinya, niscaya program-program pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial akan terhambat dan bahkan kandas. Oleh karena itu, menerapkan ketiga langkah untuk mewujudkan integrasi dan harmoni yang pada akhirnya akan melahirkan toleransi ini bersifat wajib demi kemajuan suatu negara.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, toleransi menduduki pos yang teramat vital. Kemerdekaan Indonesia dapat diraih karena adanya toleransi. Bahu-membahunya masyarakat dalam berjuang melawan penjajah demi tujuan yang satu dan sama tanpa menghiraukan perbedaan agama, suku, dan etnis adalah satu bentuk yang luhung dari toleransi. Mereka sadar akan prinsip bahwa tiap orang tidaklah dapat berdiri sendiri, melainkan harus saling membantu satu sama lain[5]. Oleh karena itu, agar dapat saling membantu, penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan harus diletakkan setinggi-tingginya. Bahkan, mereka telah mempraktikkan bagaimana tiap orang saling meyakini dan mempercayai satu sama lain bahwa apa yang masing-masing lakukan semata-mata adalah untuk kesejahteraan bersama. Tiap orang dari antara mereka telah sukses melenyapkan ego masing-masing. Demikian juga, tiap orang dari antara mereka telah menyatu sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia adalah masyarakat dan masyarakat adalah dia.

Sayangnya, toleransi yang dahulu pernah ada kini nampaknya hampir hilang. Pasca reformasi, seiring dengan infiltrasi budaya Barat yang dayus dan hedonis melalui berbagai macam sarana modern, kepekaan sosial masyarakat Indonesia juga ikut bergeser. Bergesernya kepekaan sosial ini adalah fondasi awal dari terbentuknya disintegrasi dan disharmoni yang pada nantinya akan mematikan toleransi. Pada dewasa ini, kondisi masyarakat Indonesia sudah menduduki pos di mana penghormatan dan penghargaan terhadap keberagaman telah mati. Bila hal ini tidak segera dihentikan, selangkah lagi Indonesia akan masuk ke dalam tahap disintegrasi dan disharmoni yang mampu menyebabkan kematian toleransi. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi negara yang hancur dan gagal. Dalam kata lain, tujuan pendirian negara Indonesia tidak tercapai[6].

Hal yang paling mengerikan sebagai dampak dari kematian toleransi adalah lenyapnya simpati atau tenggang rasa. Simpati atau tenggang rasa adalah asas bagi kemanusiaan. Seseorang tidak dapat disebut dan dipanggil sebagai manusia jika tak memiliki rasa simpati terhadap orang lain[7]. Kondisi ini akan menjadikan manusia tak ubahnya bagai binatang liar yang tak dapat dikendalikan. Satu masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang telah kehilangan ketenggangrasaan adalah masyarakat hewani. Demikian juga, satu negara yang terdiri dari masyarakat-masyarakat semacam itu adalah negara hewani. Lantas, apakah yang patut diharapkan dari negara seperti ini?

Sampel paling jelas dari negara jenis ini adalah Pakistan. Pada awalnya, Pakistan diharapkan dapat menjadi pemimpin, tidak hanya bagi negara-negara Muslim, tetapi juga bagi komunitas internasional bersebab keterbukaan mereka terhadap kemajuan sains modern. Pakistan, sebagai sebuah Negara Islam, bahkan diekspektasikan untuk menjadi negara yang dapat menegakkan kembali prinsip-prinsip Islam dalam satu pemandangan politik yang progresif[8]. Namun, alih-alih menjadi pelopor, Pakistan kini dicap sebagai negara yang malah gagal menerapkan konstitusinya sendiri[9]. Kegagalan ini, yang juga merupakan penyebab kontinuitas konflik di seluruh penjuru Pakistan, pada hakikatnya adalah hasil dari matinya toleransi dan lenyapnya simpati manusiawi. Salah satu kejadian yang merefleksikan hal ini adalah penyerangan terhadap warga Jemaat Ahmadiyah di Gujranwala pada 27 Juli 2014 lalu, bagaimana polisi hanya diam dan melongo menyaksikan orang-orang membakar rumah-rumah warga Jemaat Ahmadiyah dan mensyahidkan tiga orang, termasuk seorang anak perempuan berusia 7 tahun dan seorang balita yang baru berumur beberapa bulan[10].

Oleh karena itu, agar Indonesia tidak menjadi negara hewani seperti Pakistan, simpati atau tenggang rasa terhadap sesama harus tetap dijaga. Simpati atau tenggang rasa akan tetap terjaga jika toleransi masih menunjukkan eksistensinya. Kendati sebagian masyarakat Indonesia telah kehilangan penghormatan dan penghargaan, laju menuju disintegrasi dan disharmoni masih dapat dihentikan dengan langkah-langkah kuratif berikut ini:
  • Menerapkan hukuman atas pelanggaran yang dilakukan;
  • Membina agar tidak terjadi pengulangan kejahatan yang sama.
Menerapkan hukuman setimpal kepada seorang pelanggar yang melanggar dihukumi wajib, bukan semata-mata untuk menimbulkan efek jera, melainkan untuk mengenakan kepadanya akibat dari pelanggarannya itu. Jika penerapan hukuman hanya bertujuan untuk membuat jera dan kapok, itu tidak berarti apa-apa. Namun, bila tujuan penerapan hukuman adalah untuk menunjukkan konsekuensi dari tiap perbuatan yang melanggar hukum, barulah keinsafan akan timbul dalam diri manusia. Taktala seseorang sepenuhnya sadar bahwa minuman yang berada di depannya adalah racun, masihkah dia akan tetap meminumnya? Seseorang yang berakal tentu tak akan meminumnya. Demikianlah pelanggaran terhadap hukum harus dimaknai sebagai dosa yang mana dosa adalah racun[11]. Konsekuensi meminum racun adalah munculnya rasa sakit pada beberapa bagian tubuh, bahkan kematian.

Setelah melaksanakan hukuman terhadap tindak kejahatan, langkah selanjutnya adalah membina sang pelanggar agar tidak melakukan kejahatan serupa. Pembinaan ini dilakukan setelah sang pelanggar menjalani sepenuhnya hukuman yang dia dapat. Dalam pembinaan, sang pelanggar harus ditekankan dan diyakinkan bahwa setelah menjalani pembinaan dia akan menjadi bebas dari dosa sosial dan pembekalan-pembekalan mesti diberikan untuk menyongsong lembaran kehidupan yang baru. Dalam kata lain, seseorang yang sehabis menenggak racun mesti ditangani dan diobati. Dia harus diberikan keyakinan bahwa dia pasti akan sembuh setelah pengobatan ini dan pembekalan-pembekalan agar dia tidak lagi meminum racun tersebut.

Agar dapat kembali ke titik nol untuk menerapkan langkah-langkah dalam mewujudkan toleransi, hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengadakan rekonsiliasi antara subjek kejahatan dan objek kejahatan. Rekonsiliasi bertujuan untuk menghilangkan sentimen dan permusuhan pada masa mendatang yang mungkin dapat terjadi akibat jejak rekam masa lampau. Rekonsiliasi harus dilakukan dengan seadil-adilnya dan dengan kesalingpengertian satu sama lain. Oleh karena itu, pemerintah harus turut memediasi. Pernyataan dan persetujuan resmi sebagai hasil dari rekonsiliasi juga harus ditandatangani secara resmi oleh ketiga pihak yang bersangkutan.

Seorang pelanggar yang telah kembali ke titik nol kini dapat mempersiapkan diri untuk menerapkan langkah-langkah menuju terwujudnya toleransi. Hal yang paling utama yang harus disiapkan adalah niat dan tekad yang kuat untuk tidak mengulangi kejahatan-kejahatan di masa lalu. Dia harus menjadikan kejahatan-kejahatan itu sebuah kumpulan pengalaman yang kini akan membuatnya lebih baik, bahkan lebih baik lagi secara khusus bagi orang-orang yang pernah dia timpakan kejahatan. Mengapa? Karena, kumpulan pengalamannya itu tidak hanya memuat dirinya sendiri, tetapi juga memuat orang-orang yang pernah menjadi objek kejahatannya, bahkan memengaruhi kehidupan mereka pada saat ini[12].

Selain untuk tidak mengulangi kejahatan, niat yang kuat juga harus ditanam untuk selalu maju dalam mewujudkan toleransi dan tidak akan goyah sedikitpun dari jalan yang telah dia tetapkan untuk melangkah di atasnya. Dia tidak akan menghiraukan seseorang yang berseru, “I wager he finds nothing,”[13] karena dia yakin bahwa kebenaran hakiki terletak pada toleransi dan lebih jauh lagi pada simpati manusiawi yang adiluhung.

Memang, tidak mungkin seluruh masyarakat Indonesia bisa melaksanakan langkah-langkah dalam mewujudkan toleransi bersebab kelemahan-kelemahan pribadi mereka. Namun, jika 40% dari antara para pemegang tampuk pemerintahan dan 40% dari antara masyarakat awam bisa mengimplementasikan toleransi dan tenggang rasa dalam ruang lingkup kehidupan mereka, Indonesia akan sanggup keluar dari lingkaran negara-negara berkembang dan bergabung ke dalam kelompok negara-negara maju. Bahkan, Indonesia akan menjadi negara maju yang sungguh-sungguh beradab dalam pengertian yang sebenar-benarnya, yakni humanis, beradab, dan berperadaban dalam nilai-nilai moral dan akhlak. Dengan demikian, kejayaan yang dimpi-impikan para pendiri bangsa dapat terwujud dan terlaksana. Semoga Kita semua menerima karunia untuk mendapati dan menjumpai era yang cerah itu!

[1] Dalam bahasa Arab, ungkapan يا ابن أبي وأمي atau, “Wahai anak ayahku dan ibuku,” biasa dipergunakan untuk menunjukkan persaudaraan antarsesama manusia karena manusia sejatinya merupakan anak-anak dari ayah dan ibu yang satu, yaitu Ādamas dan Ḥawā’.

[Maḥmūd bin ‘Umar Az-Zamakhsyarī, Aṭwāq adz-Dzahab (Kairo: Dār al-Faḍīlah, 1995 M/1415 H), h. 60]

[2] Catriona McKinnon, Toleration: A Critical Introduction (New York: Routledge, 2006), h. 23.

[3] Corliss Lamont, The Philosophy of Humanism (New York: Half-Moon Foundation, Inc., 1997), h. 276.

[4] Abū Muḥammad ‘Abd-ul-Malik bin Hisyām, As-Sīrah An-Nabawiyyah v. 2 (Beirut: Dār Al-Kitāb Al-‘Arabī, 1990 M/1410 H), h. 217.

[5] Abū Naṣr Al-Fārābī, Ārā’ Ahl Al-Madīnah Al-Fāḍilah (Beirut: Dār al-Masyriq, 1968), h. 117.

[6] Tujuan pendirian negara Indonesia menurut Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
  • Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
  • Memajukan kesejahteraan umum;
  • Mencerdaskan kehidupan bangsa;
  • Ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Keempat tujuan ini sejatinya bersifat konstruktif. Artinya, tujuan yang pertama adalah landasan terbentuknya tujuan yang kedua dan seterusnya. Tanpa terlindunginya nyawa masyarakat Indonesia, kesejahteraan publik tidak dapat dicapai. Demikian juga, tanpa adanya kesejahteraan dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar, masyarakat tidak mampu menjadi cerdas karena kekurangan asupan gizi. Ketiga hal ini adalah syarat-syarat bagi hadirnya ketahanan nasional. Satu negara yang tidak mempunyai ketahanan nasional mustahil bisa berpartisipasi dalam percaturan global, apalagi mengambil peran dalam menegakkan dan melaksanakan ketertiban dunia.

Apabila toleransi mengalami kematian, konflik horizontal dan vertikal akan terjadi. Konflik-konflik ini pasti akan merenggut nyawa masyarakat Indonesia. Dengan demikian, tujuan pertama didirikannya negara Indonesia menjadi tidak tercapai. Lantas, bagaikan efek domino, ketiga tujuan lainnya niscaya tak akan dapat diraih.

[7] Ḥaḍrat Syaikh Muṣliḥ-ud-Dīn As-Sa‘dī Asy-Syīrāzirh berdendang dalam sebuah bait syair berbahasa Persia:

نشاید که نامت نهند آدمی
تو کز محنت دیگران بی غمی

“Apabila Engkau tak punya simpati terhadap luka manusia, nama manusia tak pantas Engkau sandang.”

[Ḥaḍrat Syaikh Muṣliḥ-ud-Dīn As-Sa‘dī Asy-SyīrāzirhGhulistān (Lahore: Maktaba-e-Raḥmāniyya, tt), h. 42]

[8] Owen Bennett Jones, Pakistan: Eye of the Storm (London: Yale University Press, 2002), h. 8.

[9] Christine Fair dkk, Pakistan: Can the United States Secure an Insecure State? (Santa Monica: RAND Coorporation, 2010), h. 8.


[11] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām AḥmadasNasīm-e-Da‘wāt dalam Rūḥānī Khazā’in v. 19 (Surrey: Islam International Publications Limited), 2009, h. 447.

[12] Lauren Wispé, The Psychology of Sympathy (New York: Springer, 1991), h. 59.

[13] Ini adalah ejekan Nietzsche yang menyindir para pencari “kebenaran”. Kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut:

“O Voltaire! O humanity! O idiocy! There is something ticklish in ‘the truth’, and in the search for the truth; and if man goes about it too humanely — ‘il ne cherche le vrai que pour faire le bien’ — I wager he finds nothing!”

[Friederich Nietzsche, Beyond Good and Evil (New York: Modern Library Publishers, 1917), h. 42]