Sabtu, 05 Juli 2014

Mukmin dan Potensi Sel

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Mukmin dan Potensi Sel

Nabī MuḥammadSAW pernah memberikan gambaran yang menarik tentang hubungan dan ikatan antarsesama mukmin. Imam Muslim bin Al-Ḥajjāj mencatat sabda beliau itu dalam kitab Ṣaḥīḥ Muslim yang masyhur:

حدثنا محمد بن عبد اللّٰه بن نمير؛ حدثنا أبي؛ حدثنا زكرياء؛ عن الشعبي، عن النعمان بن بشير، قال: قال رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم: مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَّثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكٰى مِنْهُ عَضُوٌّ تَدَاعٰى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمّٰى.

“Muḥammad bin ‘Abdillāh bin Numair menceritakan kepada Kami; Ayahku menceritakan kepadaku; Zakariyā’ menceritakan kepada Kami; dari Asy-Sya‘bī, dari Ḥaḍrat An-Nu‘mān bin Basyīrra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling bersimpati di antara mereka adalah layaknya sebuah tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan merasakannya, yaitu tidak bisa tidur dan demam.[1]

Hadis ini sejatinya mengandung banyak sekali makna bila Kita mencernanya dari beragam perspektif. Kekayaan makna ini tidak mungkin habis digali, terlebih oleh penulis yang lemah ini. Oleh karena itu, penulis di sini hanya akan mengutarakan satu perspektif sesuai dengan apa yang penulis pahami.

Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Sayyidunā Mirzā Ghulām Aḥmad Al-Qādiānīas pernah menerangkan dalam kitab Ḥamāmat al-Busyrā bahwa para nabi, wali, muḥaddats, dan wujud-wujud suci lainnya yang telah mencapai makam keruhanian yang tinggi adalah bagaikan bagian-bagian vital dari tubuh manusia, seperti kepala, hati, jantung, dan lain sebagainya. Jika alat-alat vital ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, akan timbul kerusakan parah yang sangat mungkin mengantarkan manusia ke depan pintu gerbang kematian. Karenanya, bagian-bagian tubuh yang penting ini wajib dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan bencana yang membinasakan.

Adapun orang-orang mukmin biasa yang tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang yang memiliki kedudukan spiritual yang luhur, mereka adalah layaknya anggota-anggota tubuh biasa. Jika tangan atau kaki diamputasi, manusia masih sanggup untuk tetap hidup walau hal itu mengurangi keluwesan dan ruang gerak seseorang. Demikian juga, jika keadaan orang-orang biasa ini rusak, dampak yang ditimbulkan tidaklah separah dengan akibat buruk yang dihasilkan dari kerusakan orang-orang luhur itu.

Nabi kitaSAW sebenarnya ingin menjelaskan urgensi iman di dalam hadis tersebut dengan menekankan sinergi antara wujud-wujud adiluhung dengan orang-orang biasa. Apabila anggota-anggota tubuh seseorang bagus dan terjaga dari kerusakan, kooperasi dan kerja sama akan terbentuk untuk menopang kehidupan orang itu. Demikian juga, jika wujud-wujud suci dalam perkara kerohanian saling bantu-membantu dengan orang-orang di bawah mereka, iman dalam Islam akan senantiasa hidup. Kelompok luhur harus membantu dan menolong orang-orang biasa untuk mencapai kedudukan yang mereka punyai saat ini sehingga mereka dapat meneruskan tongkat estafet iman sewaktu mereka mangkat dari dunia.

Agar anggota-anggota tubuh manusia dapat berjalan normal dan tidak rusak, sel-sel harus dapat memperbanyak diri dalam keseluruhan kemungkinan perkembangan yang dimungkinkan. Ini disebut dengan totipotensi. Jika satu anggota tubuh memiliki totipotensi yang baik, proses-proses biologis dapat berjalan dengan baik pula di anggota tubuh itu. Dengan baiknya proses biologis di tubuh itu, ia semakin mudah terkoneksi dengan anggota tubuh lainnya sehingga terangkailah suatu sistem yang dapat menunjang dan mempertahankan kehidupan. Dalam kaitan dengan kehidupan spiritual, sel-sel itu dapat dimaknai sebagai amal. Jika kelompok orang-orang biasa mampu memaksimalkan dirinya dalam mengerjakan amal-amal baik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan hal itu tersinergikan dengan ibadah-ibadah yang ditunaikan oleh pemimpin-pemimpin kerohanian, iman dalam agama akan selalu terjaga dan terpelihara. Bedanya, dalam kehidupan jasmani, sel-sel yang tumbuh dan berkembang dalam anggota tubuh tertentu bersifat irreversible (tidak dapat kembali lagi) dan anggota tubuh tertentu tak dapat berubah menjadi anggota tubuh yang lainnya. Namun, dalam alam rohani, amal-amal baik dapat bertambah dan berkurang seiring dengan usaha seseorang untuk memaksimalkannya. Apabila amal-amal baik itu terus menerus meningkat, seseorang yang melakukannya akan bertransformasi menjadi persona yang lebih baik lagi, dari ordinary menjadi extraordinary.

Kita patut bersyukur bahwa Jemaat Ahmadiyah telah dikarunai dengan institusi khilafat yang amat sangat beberkat. Khilafat ini dipimpin secara langsung oleh seorang khalifah yang merupakan sosok paling adiluhung di muka bumi ini. Sebagai orang-orang biasa, Kita perlu senantiasa berjalan sesuai dengan tuntunan beliau dan memaksimalkan totipotensi yang Kita miliki agar kita dapat mencapai makam samawi yang tinggi sehingga mampu menjadi penerus dan penyampai tongkat estafet iman kepada generasi sesudah Kita.

Ḥaḍrat Amīr-ul-Mu’minīn Khalīfat-ul-Masīḥ Vatba

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Kita semua. Āmīn!

[1] Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Al-Birr Wa Aṣ-Ṣilah Wa Al-Ādāb, Bāb Tarāḥum al-Mu’minīn, no. 2587.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar