Jumat, 04 Juli 2014

Menjawab Agus Efendi

Menjawab Agus Efendi

Beberapa hari yang lalu, kami membaca sebuah tulisan dari Sdr. Agus Efendi yang ditujukan untuk membantah dalil-dalil Ahmadiyah yang berkenaan dengan kontinuitas kenabīan. Setelah kami kaji argumentasi-argumentasi yang beliau pakai, itu semua sebenarnya telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh Pendiri Ahmadiyah, Sayyidunā Mirzā Ghulām Aḥmadas, para Khulafā’ Ahmadiyah, dan para ‘ulamā Ahmadiyah dalam buku-buku mereka. Sdr. Agus sendiri mencantumkan beberapa sumber primer yang berasal langsung dari Ahmadiyah. Sikap jujur dan orisinalitas beliau ini sangatlah kami apresiasi. Namun, meski demikian, ada banyak hal yang perlu dikritisi dan diluruskan. Wabil khusus, karena tulisan itu dibuat untuk mendiskreditkan dan menyerang dalil-dalil Ahmadiyah, maka selaku seorang Ahmadi, kami mempunyai kewajiban dan tanggung-jawab untuk memempertahankan keyakinan kami yang diserang itu. Dalam karangan ini, kami akan membantah satu per satu argumentasi yang digunakan oleh Sdr. Agus. Kami berharap, tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi semua orang, khususnya para pencari kebenaran. Āmīn!

Introduksi

Klaim bahwa mayoritas ummat Islām sejak zaman para Ṣaḥābatra berakidah bahwa tidak akan datang lagi seorang nabī pun sesudah Nabī MuḥammadSAW tidaklah tepat. Karena, seluruh ummat sepakat, kecuali sebagian Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, akan kedatangan dan turunnya Nabī ‘Īsāas di akhir zaman. Dalam ḥadīts ṣaḥīḥ yang dibawakan oleh al-Imām Muslim dari Ḥaḍrat Nawwās ibn Sam‘ānra, kata “Nabiyu-Llāh” dipergunakan oleh NabīSAW untuk al-Masīḥas sebanyak 4 kali[1]. Seandainya pintu nubuwwah telah benar-benar terkunci rapat, mengapakah ‘Īsāas masih dapat kembali sebagai seorang nabī pada akhir zaman?

Sungguh benar sabda Rasūlu-LlāhSAW bahwa ummat beliau kelak akan mengikuti dan membebek Yahudi dan Nasrani, hingga tak ubahnya bagai sepasang terompah[2]. Anggapan bahwa tiada lagi seorang utusan yang akan datang setelah wafatnya Nabī MuḥammadSAW adalah salah satu bentuk pembebekan kaum muslimin kepada orang-orang Yahudi. Kita membaca dalam al-Qur’ān:

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ مِنْ بَعْدِهِ رَسُولًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ ﴿﴾

“Dan, sesungguhnya telah datang kepada kalian Yūsuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kalian selalu dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepada kalian. Sehingga, tatkala dia telah wafat, kalian berkata: Allāh sekali-kali tidak akan mengutus sesudahnya seorang rasūl. Demikianlah Allāh menetapkan sesat barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu”. [Sūrah Ġāfir {40}:35]

Banī Isrā’īl, semasa Nabī Yūsufas masih hidup, mereka adalah musuh utama bagi beliau yang senantiasa mengadakan huru-hara untuk menentang beliau. Menurut al-Qurṭubī, mereka yang menentang Nabī Yūsufas adalah orang-orang yang memiliki derajat keruhanian yang rendah. Kata مسرف (yang melampaui batas) merujuk kepada orang yang menyekutukan Tuhan. Sedangkan kata مرتاب (yang ragu-ragu) berpulang kepada dia yang menaruh syak-wasangka terhadap keesaan Tuhan[3].

Demikian juga orang-orang musyrik, baik dari kalangan Arab ataupun ‘Ajam, yang dahulu tidak pernah melewatkan sedikitpun kesempatan untuk menyakiti dan melukai Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW, disebabkan kurangnya ta‘līm dan tarbiyyah, serta siasat-siasat licik nan culas mereka yang terpendam untuk menjatuhkan Islām dari dalam, menyebarkan faham-faham yang bertentangan dengan ajaran Islām yang murni dan asli, taktala mereka berbondong-bondong menjadi mu’allaf. Mereka tadinya adalah penyembah api, penyembah berhala, penyembah kaisar, kesemuanya tidak memiliki iman dan keyakinan di dalam waḥdāniyyat Allāh. Tetapi, ketika mereka melihat kekalahan telah memukul mundur mereka dari segala penjuru, mereka mulai mengubah taktik dan strategi dengan berpura-pura masuk Islām. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghancurkan Islām dari internal ummatnya, dengan menyebarkan faham-faham sesat yang tidak pernah diajarkan oleh NabīSAW dan para Ṣaḥābatra. Gambaran ini persis serupa dengan peri-keadaan kaum Nabī Yūsufas setelah wafatnya beliau.

Adapun para Ṣaḥābatra, mereka adalah orang-orang yang telah meneguk susu secara langsung dari ilmu NabīSAW.  Mereka teguh mengatakan bahwa pintu kenabīan masih dapat terbuka. Mereka mengetahui bahwa al-Masīḥ al-Mau‘ūdas kelak akan datang di akhir waktu. Sebagai contoh, Sayyidatunā Ummm-ul-Mu’minīn aṣ-Ṣiddīqahra berucap:

حدثنا حسين بن محمد؛ قال: حدثنا جرير بن حازم؛ عن عائشة، قالت : قولوا: خاتم النبيين؛ ولا تقولوا : لا نبي بعده.

“Ḥusayn ibn Muḥammad menceritakan kepada kami; dia berkata: Jarīr ibn Ḥāzim menceritakan kepada kami; dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, beliau bersabda: Katakanlah: Khātam-un-Nabiyyīn. Janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau”.[4]

Ibn Qutaybah, seorang sarjana filologi dan ḥadīts abad 3 H, memberikan penjelasan tentang maksud perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra sebagai berikut:

وأما قول عائشة رضي الله عنها - قولوا لرسول الله صلى الله عليه وسلم خاتم الأنبياء ولا تقولوا لا نبي بعده  -فإنها تذهب إلى نزول عيسى عليه السلام. وليس هذا من قولها ناقضا لقول النبي صلى الله عليه وسلم  -لا نبي بعدي - لأنه أراد لا نبي بعدي ينسخ ما جئت به كما كانت الأنبياء صلى الله عليهم وسلم تبعث بالنسخ، وأرادت هي: لا تقولوا إن المسيح لا ينزل بعده.

Adapun perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra – Katakanlah bagi Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW: Khātam-un-Nabiyyīn. Dan janganlah katakan: Tidak ada nabī setelah beliau – sesungguhnya itu merefer kepada turunnya ‘Īsāas. Perkataan beliau ini tidaklah bertentangan dengan sabda NabīSAW – Tidak ada nabī setelahku – karena yang beliauSAW maksudkan adalah – Tidak ada nabī setelahku yang akan membatalkan apa yang aku bawa, sebagaimana para nabī ‘alayhim as-salām diutus untuk saling membatalkan hukum yang satu dengan yang lainnya . Yang Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra maksudkan adalah: Janganlah katakan bahwa al-Masīḥas tidak akan turun setelah Nabī MuḥammadSAW”.[5]

Perkataan Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra ini cukup kiranya bagi orang-orang yang berakal. Beliau digambarkan oleh para ‘ulamā’:

لم يكن في الأمم مثل عائشة في حفظها وعلمها وفصاحتها وعقلها.

“Tidak pernah ada di antara ummat mana pun seorang yang semisal Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra dalam hafalan beliau, ilmu beliau, kefasihan beliau, dan akal budi beliau”.[6]

Pernyataan Sdr. Agus bahwa tidak ada sama sekali dalil, baik dari al-Qur’an maupun ḥadīts, yang mengindikasikan kontinuitas kenabīan terkesan sangat sembrono. Ayat-ayat al-Qur’ān saling terangkai satu sama lain dalam menginformasikan keberlangsungan kenabīan.  Allāh berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿﴾

“Kemudian, jika datang kepada kalian suatu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih”. [Sūrah al-Baqarah {2}:39]

Huruf ما dalam ayat di atas yang digabungkan dengan إن mempunyai faedah taukīd. Untuk menunjukkan bahwa itu adalah taukīd, maka nūn musyaddadah tsaqīlah dimasukkan ke dalam fi‘l يأتينكم sebagai pembeda antara huruf ما yang berfaedah taukīd li al-kalām dengan ḥarf ما yang bermakna الذي (ism mauṣūl)[7]. Jadi, ayat ini menerangkan kepada kita bahwa merupakan janji Tuhan semenjak zaman Ādamas untuk selalu memberikan petunjuk kepada manusia. Petunjuk yang dimaksud ini, menurut Abū al-‘Āliyah Rafī‘ ibn Mihrān, seorang imām ahli qirā’ah dan tafsir dari kalangan tābi‘īn, adalah para nabī, para rasūl, dan al-bayān (penjelasan). Khiṭāb ayat tersebut tidak hanya ditujukan kepada Ādamas dan istri beliau, tetapi juga seluruh keturunan beliau[8]. Maka dari itu, pengutusan para nabī dan rasūl ini tidak bisa tidak langgeng, bahkan bersifat kontinu hingga Hari Kiamat. Perlu diperhatikan pula bahwa ṣiġat yang dipergunakan dalam ayat di atas ialah dalam bentuk muḍāri‘ yang mengandung istimrāriyyah (kontinuitas), tajaddudiyyah (rejuvenasi), ‘ādah (kebiasaan), dan basīṭ (simplisitas)[9]. Maknanya adalah, sebagaimana dahulu Dia mengirim duta-duta-Nya ke dunia ini untuk membimbing manusia kepada kebahagiaan abadi, pun sekarang Dia juga menggerakkan tangan qudrat-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan. Dari sini, kita dapat mengkonlusikan bahwa nabī-nabī akan tetap dan senantiasa eksis sampai Hari Penghabisan.

Manusia adalah makhluk lemah yang tak habis-habisnya terjerembab dalam jurang angkara-murka. Dia ibarat seorang pasien yang sakit. Jika ingin mengalami kesembuhan, dia harus berobat ke dokter. Jika tidak, penyakitnya akan bertambah parah, dan sangat mungkin bagi dia untuk meregang nyawa. Al-Imām Fakhr-ud-Dīn ar-Rāzī, seorang mufassir besar dari Syāfi‘iyyah, mengatakan:

واعلم أن أكثر الخلق وقعوا في أمراض القلوب وهي حب الدنيا والحرص والحسد والتفاخر والتكاثر. وهذه الدنيا مثل دار المرضى. إذا كانت مملوءة من المرضى، والأنبياء كالأطباء الحاذقين.

“Ketahuilah! Sesungguhnya kebanyakan manusia berada pada penyakit-penyakit hati, yaitu cinta dunia, loba, dengki, berbangga-bangga, dan memperbanyak harta. Dunia ini adalah bak rumah orang-orang sakit. Apabila dunia ini telah penuh dengan orang-orang yang berpenyakit, maka para nabī adalah para dokter yang mahir”.[10]

Al-Imām al-Ġazālī, seorang yang tak perlu lagi dipertanyakan otoritasnya, berkata dalam al-Iḥyā’:

واعلم أنه كان يطلع الطبيب الحاذق على أسرار في المعالجات يستبعدها من لا يعرفها، فكذلك الأنبياء أطباء القلوب و العلماء بأسباب الحياة الأخروية، فلا تتحكم على سننهم بمعقولك فتهلك.

“Ketahuilah! Sesungguhnya seorang dokter yang mahir pasti mengetahui rahasia-rahasia dalam penyembuhan-penyembuhan yang orang-orang yang tidak mengetahuinya menjauhinya. Demikian juga para nabī adalah dokter-dokter hati dan orang-orang yang mengetahui sebab-sebab al-Ḥayāt al-Ukhrawiyyah (kehidupan metafisik/alam mendatang). Karenanya, janganlah engkau mencoba menghakimi sunnah-sunnah mereka dengan akal engkau atau engkau akan binasa”.[11]

Dalam Qawā‘id al-‘Aqā’id, beliau berkata:

فحاجة الخلق إلى الأنبياء كحاجتهم إلى الأطباء.

“Manusia membutuhkan nabī-nabī layaknya mereka membutuhkan dokter-dokter”.[12]

Nah, ketika penyakit manusia sudah sedemikian rupa parahnya, masakah Allāh tidak memperhatikan keadaan mereka dan menelantarkan mereka? Justru Dia akan mengutus dokter-dokter ruhani agar mereka mendapat kesembuhan. Al-Imām ar-Rāzī menulis:

ولما كان الخلق محتاجين إلى البعثة، والرحيم الكريم قادرا على البعثة وجب في كرمه ورحمته أن يبعث الرسل إليهم.

“Taktala manusia tengah membutuhkan pengutusan seorang rasūl, maka Yang Maha Penyayang nan Maha Mulia itu, Yang sungguh berkuasa untuk mengutus seorang rasūl, wajib untuk mengutus para rasūl atas kemuliaan-Nya dan rahmat-Nya”.[13]

Namun, ada juga di antara orang-orang sakit itu yang menolak untuk datang ke dokter. Malahan, bersebab kecongkakan akut, mereka menentang dokter tersebut. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah bisa sembuh, bahkan mereka akan tersingkirkan dan binasa. Kita membaca:

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ ﴿﴾

“Allāh tidak mungkin membiarkan orang-orang mukmin di dalam keadaan kalian sekarang, sehingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allāh tidak akan memberitahukan yang ghaib kepada kalian, tetapi Allāh memilih di antara rasūl-rasūl-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kalian kepada Allāh dan rasūl-rasūl-Nya. Dan, jika kalian beriman dan bertakwa, maka bagi kalian ganjaran yang besar”. [Sūrah Āli ‘Imrān {3}:180]

Ayat di atas sangat jelas sekali menegaskan bahwa Allāh akan senantiasa memisahkan yang buruk dari yang baik. Pemisahan ini Dia lakukan melalui perantaraan para nabī yang Dia utus, sehingga mereka dapat menerangkan kepada manusia rahasia-rahasia keghaiban dan ma‘rifat akan Wujud-Nya. Makrifat ilāhiyyah ini, menurut az-Zamakhsyarī, menuntut kita untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berat, yang tidak seorang pun akan sanggup memikulnya kecuali orang yang sabar. Dia-lah yang akan lulus dari ujian ini. Sehingga, akan tersingkaplah tabir tentang siapa yang memiliki keikhlasan dan ketulusan niat dan siapa yang membawa panji-panji kemunafikan di dalam hatinya[14]. Seandainya tidak ada lagi seorang rasūl pun yang diutus dari keharibaan Tuhan, maka siapakah yang akan menjadi manifestasi-Nya untuk memisahkan kebaikan dan keburukan? Pada zaman ini, kebaikan dan keburukan telah bercampur sedemikian bercampurnya, jadinya tampak sulit sekali untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Untuk itu, diperlukan kedatangan seorang rasūl yang telah diajari secara langsung oleh Rabb ‘Azza Wa Jalla dengan ilmu-Nya yang kokoh dan sempurna. Jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan kedatangan seorang utusan pun, hatinya sungguh telah berkarat dengan kesombongan dan keangkuhan.

Allāh adalah Rabb, yakni Yang Menciptakan, Memelihara, Membimbing, dan Menyampaikan ciptaan-Nya kepada tujuan penciptaan. Tujuan diciptakannya manusia tidak lain dan tidak bukan ialah untuk menyembah-Nya. Dalam fitrat mereka, telah ditanam quwwah malakiyyah (kekuatan malaikat) yang menyeru kepada kebaikan. Namun, di sisi lain, nafs ammārah mereka yang berasal dari setan senantiasa bergejolak. Gejolak ini membawa manusia kepada kejahatan dan keburukan. Kekuatan jahat ini akan selalu menggerayangi manusia sampai Hari Penghabisan. Allāh berfirman:

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿﴾ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ﴿﴾ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ ﴿﴾ قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ﴿﴾

“Dia berkata: Tuhan-ku, jika demikian, berilah aku tangguh hingga hari mereka dibangkitkan. Dia, Allāh, berfirman: Pastilah engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Hingga hari yang waktunya telah ditentukan. Kecuali hamba-hamba Engkau yang terpilih di antara mereka”. [Sūrah Ṣād {38}:80-83]

Ketika telah jelas bahwa kekuatan setan dan iblis akan selalu eksis sampai Hari Kiamat, apakah Tuhan akan berpangku tangan dan diam saja menyaksikan keadaan ini? Mustahil akal dapat memahami hal ini. Adalah sunnah-Nya dan adat-Nya untuk menghancurkan kekuatan setan. Ġīrah-Nya seketika bangkit taktala kesesatan dan kelaliman merebak dan merajalela di seluruh penjuru bumi. Oleh sebab itu, Dia mengutus para rasūl untuk melawan dan membinasakan setan dan prajurit-prajuritnya, hingga Kerajaan Allāh tegak di atas bumi ini. Dia berfirman:

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ ﴿﴾ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ ﴿﴾

Dan, sesungguhnya telah sesat sebelum mereka banyak sekali kaum terdahulu. Dan, Kami telah mengutus di antara mereka pemberi-pemberi ingat. [Sūrah aṣ-Ṣaffāt {37}:72-73]

Bagaimana mungkin Allāh hanya mengutus utusan-utusan-Nya ketika kaum-kaum terdahulu sesat, sedangkan Dia berleha-leha ketika ummat Islām, yang adalah sebaik-baik ummat, berpijak di atas jalan kesesatan kaum-kaum terdahulu? Memang, NabīSAW telah berpesan supaya kita berpegang-teguh kepada al-Qur’ān dan sunnah. Tapi, al-Qur’ān dan sunnah tidak dapat menjamin kita untuk selalu memegang-teguh keduanya. Bahkan, NabīSAW sendiri telah menubuatankan bahwa suatu masa akan datang, ketika Islām hanya tinggal nama, al-Qur’ān tinggal tulisan, dan masjid-masjid penuh sesak tapi kosong dari petunjuk[15]. Di saat ummat Islām tengah berada dalam kondisi yang sedemikian parah, apakah Dia tidak tergerak sedikitpun hati-Nya untuk mencurahkan kasih-sayang kepada Khayr al-Umam?

Sebagaimana diterangkan dalam ayat Sūrah Ṣād di atas, kekuatan setan akan selalu ada sampai Kiamat. Ini berarti, ummat Islām pun akan termasuk sasaran setan. Keganasan setan ini akan mencapai puncaknya, sampai-sampai Islām tak lagi berbekas, kecuali namanya saja. Adalah wajib menurut raḥīmiyyat-Nya untuk mengutus seorang dokter ruhani yang akan membasmi virus-virus setan. Jika tidak, apa faedahnya ummat Islām disebut sebagai sebaik-baik ummat? Menurut ḥadīts-ḥadīts, Nabī ‘Īsāas dan Imām Mahdīas adalah orang yang akan datang untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin. Mereka datang dengan menyandang pangkat nabī. Cukuplah kiranya keterangan ini bagi kaum yang mendambakan secercah baṣīrat.

Definisi Nabī dan Rasūl

Berkenaan dengan definisi nabī dan rasūl, kami telah menerangkan pandangan Ahmadiyah mengenai keduanya. Kami persilahkan para pembaca untuk membacanya di sini.

Sekarang, kami akan membahas satu per satu ḥadīts-ḥadīts yang dipergunakan oleh Sdr. Agus dalam menentang pendapat Ahmadiyah tentang tetap berlangsungnya kenabīan.

Ḥadīts Pertama

Sanad lengkapnya tertera di bawah ini:

حدثنا الحسن بن محمد الزعفراني؛ حدثنا عفان بن مسلم؛ حدثنا عبد الواحد يعني ابن زياد؛ حدثنا المختار بن فلفل؛ حدثنا أنس بن مالك؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي. قال: فشق ذلك على الناس. فقال: لكن المبشرات. قالوا: يا رسول الله وما المبشرات؟ قال: رؤيا المسلم وهي جزء من أجزاء النبوة.

“Al-Ḥasan ibn Muḥammad az-Za‘farānī menceritakan kepada kami; ‘Affān ibn Muslim menceritakan kepada kami; ‘Abd-ul-Wāḥid, yakni Ibn Ziyād menceritakan kepada kami; al-Mukhtār ibn Fulful menceritakan kepada kami; Ḥaḍrat Anas ibn Mālikra menceritakan kepada kami; beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Sesungguhnya kerasūlan dan kenabīan telah terputus, maka tidak ada rasūl dan nabī setelahku. Ḥaḍrat Anasra berkata: Maka, beratlah hal itu bagi orang banyak. Lantas, beliauSAW bersabda: Tetapi tidak halnya dengan al-mubasysyirāt. Para Ṣaḥābatra bertanya: Wahai Rasūlu-Llāh! Apakah al-mubasysyirāt itu? Beliau menjawab: Mimpi (ru’yā) seorang muslim, yang mana ia adalah bagian dari antara bagian-bagian kenabīan”.[16]

Abū ‘Īsā at-Tirmidzī menyatakan ḥadīts ini ḥasan ṣaḥīḥ ġarīb, sedangkan al-Ḥākim menggolongkannya ṣaḥīḥ berdasarkan syarat al-Imām Muslim.

Sebenarnya, dalam sanad ḥadīts di atas, terdapat seorang perawi yang bernama al-Mukhtār ibn Fulful. Mayoritas para ‘ulamā’ melabelinya tsiqah. Namun, khusus riwayatnya dari Anasra, dia termasuk dalam periwayat-periwayat khabar munkar. Ibn Ḥibbān berkata:

مختار بن فلفل مولى عمرو بن حريث، يروى عن أنس بن مالك، عداده في أهل الكوفة، يخطيء كثيرا، روى عنه الثوري وزائدة والناس.

“Mukhtār ibn Fulful Maulā (pembantu) ‘Amrū ibn Ḥarīts. Dia meriwayatkan dari Ḥaḍrat Anas ibn Mālikra. Dia termasuk penduduk Kūfah. Dia banyak melakukan kesalahan. Ats-Tsaurī, Zā’idah, dan yang lainnya meriwayatkan darinya”.[17]

Al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥājar menyatakan dalam at-Tahdzīb:

وتكلم فيه السليماني، فعده في رواة المناكير عن أنس مع أبان بن أبي عياش وغيره.

“As-Sulaymānī memperbincangkannya. Kemudian, dia juga memasukkannya ke dalam golongan para perawi ḥadīts-ḥadīts munkar dari Ḥaḍrat Anasra bersama dengan Abbān ibn Abī ‘Ayyāsy dan yang lainnya”.[18]

Adz-Dzahabī berkata dalam Mīzān al-I‘tidāl:

مختار بن فلفل [ م ، د ، س ] صاحب أنس. وثقه أحمد، وغيره، وقال أبو الفضل السليمانى: ذكر من عرف بالمناكير من أصحاب أنس، فذكر أبان بن أبى عياش والمختار بن فلفل وجماعة.

“Mukhtār ibn Fulful: Dia merupakan salah seorang sahabat Anasra. Aḥmad dan yang lainnya men-tsiqah-kannya. Abū al-Faḍl as-Sulaymānī berkata: Disebutkan orang-orang yang terkenal dengan riwayat-riwayat munkar dari antara para sahabat Ḥaḍrat Anas ibn Mālikra. Maka, disebutkanlah Abbān ibn Abī ‘Ayyāsy, Mukhtār ibn Fulful, dan segolongan lainnya”. [19]

Al-Ḥāfiẓ menyimpulkan seperti ini:

مختار بن فلفل بفاءين مضمومتين ولامين الأولى ساكنة مولى عمرو بن حريث صدوق له أوهام من الخامسة.

“Mukhtār ibn Fulful, dengan dua fā’ yang di-ḍammah-kan dan dua lām; lām yang pertama ber-sukun. Dia adalah Maulā ‘Amrū ibn Ḥarīts. Dia ṣadūq, tetapi memiliki anggapan-anggapan keliru. Dia berasal dari ṭabaqah kelima”. [20]

Jadi, ḥadīts ini sesungguhnya memiliki ‘illat (cacat) dengan kehadiran al-Mukhtār. Dia tak diragukan lagi seorang tsiqah (walau banyak salah dan keliru) selain dari apa yang dia riwayatkan dari Ḥaḍrat Anasra. Sedangkan riwayatnya dari beliau dihukumi munkar karena kelemahannya dari sisi ḍabṭ. Penggolongan seorang perawi ke dalam status munkar dikenal oleh para ahli ḥadīts sebagai jarḥ mufassar. Terdapat sebuah kaedah yang sangat masyhur dalam ilmu ḥadīts: al-jarḥ al-mufassar muqaddamun min at-ta‘dīl – Kritik yang terperinci didahulukan dari pujian. Ringkasnya, ḥadīts ini ḍa‘īf munkar karena Mukhtār ibn Fulful terkena jarḥ mufassar dan ḍabṭ-nya pun lemah dalam riwayatnya dari Ḥaḍrat Anasra.

Adapun ḥadīts yang maḥfūẓ dari Ḥaḍrat Anasra berkaitan dengan masalah ru’yā ini adalah seperti yang diriwayatkan oleh al-Imām al-Bukhārī:

حدثنا عبد الله بن مسلمة؛ عن مالك، عن إسحاق بن عبد الله بن أبي طلحة، عن أنس بن مالك، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الرؤيا الحسنة من الرجل الصالح جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة.

“ ‘Abdu-Llāh ibn Maslamah menceritakan kepada kami; dari Mālik, dari Isḥāq ibn ‘Abdi-Llāh ibn Abī Ṭalḥah, dari Ḥaḍrat Anas ibn Mālikra, bahwa Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Ru’yā Ḥasanah (mimpi yang baik) dari seorang pribadi yang saleh adalah 1/46 bagian dari kenabīan”.[21]

Jika ḥadīts al-Mukhtār ibn Fulful itu tetap kita terima, pun tidak menunjukkan bahwa tidak ada nabī dan rasūl lagi setelah Baginda NabīSAW. Melainkan, tidak ada nabī atau rasūl yang akan datang membawa syarī‘at dan hukum baru setelah beliau. Ini serupa seperti yang diterangkan oleh asy-Syaikh al-Akbar Muḥy-id-Dīn Ibn ‘Arabī:

فإن النبوة التي انقطعت بوجود رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما هي نبوة التشريع، لا مقامها. فلا شرع يكون ناسخا لشرعه صلى الله عليه وسلم، ولا يزيد في حكمه شرعا آخر. وهذا معنى قوله صلى الله عليه وسلم: إن الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي، أي لا نبي بعدي يكون على شرع يخالف شرعي، بل إذا كان يكون تحت حكم شريعتي، ولا رسول أي لا رسول بعدي إلى أحد من خلق الله بشرع يدعوهم إليه. فهذا هو الذي انقطع وسد بابه، لا مقام النبوة. فإنه لا خلاف إن عيسى عليه السلام نبي ورسول، وأنه لا خلاف أنه ينزل في آخر الزمان حكما مقسطا عدلا بشرعنا لا بشرع آخر ولا بشرعه الذي تعبد الله به بني إسرائيل.

“Sesusungguhnya kenabīan yang terputus dengan kedatangan Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW hanyalah kenabīan dengan syarī‘at baru, tidak ada lagi maqām-nya. Maka, tidak akan ada lagi syarī‘at yang membatalkan syarī‘at beliau dan menambah hukum baru di dalamnya. Inilah makna dari sabda beliauSAW: Sesungguhnya kerasūlan dan kenabīan telah terputus, maka tidak ada rasūl dan nabī setelahku. Yakni, tidak akan ada lagi nabī yang akan membawa syarī‘at yang menyelisihi syarī‘at-ku. Bahkan, jika dia ada, dia akan berada di bawah hukum syarī‘at-ku. Juga, tidak ada lagi rasūl setelahku yang akan di utus kepada manusia dengan syarī‘at baru, yang dia menyeru mereka kepadanya. Inilah dia syarī‘at yang telah terputus dan terkunci pintunya, bukan maqām kenabīan secara umum. Karena, tidak ada perselisihan bahwa ‘Īsāas akan turun di akhir zaman sebagai hakim yang adil dengan syarī‘at kita, bukan dengan syarī‘at yang lain atau syarī‘at beliau yang dengannya Banī Isrā’īl menyembah Allāh”.[22]

Beliau berkata lagi:

ونبوة عيسى عليه السلام ثابتة له محققة، فهذا نبي ورسول قد ظهر بعده صلى الله عليه وسلم، وهو الصادق في قوله إنه لا نبي بعده فعلمنا قطعا أنه يريد التشريع خاصة.

“Kenabīan ‘Īsāas adalah benar lagi pasti hukumnya bagi beliau. Maka, inilah seorang nabī dan rasūl yang pasti akan muncul setelah Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW. Beliau sungguh benar dalam sabda beliau bahwa tidak akan ada lagi nabī setelah beliau. Kita mengetahui secara pasti bahwa yang beliau maksud hanyalah khusus kenabīan dengan syarī‘at baru”.[23]

Murid besar dari Barzakh al-Barāzikh Ibn ‘Arabī, as-Syaykh ‘Abd-ul-Wahhāb asy-Sya‘rānī, berujar dalam al-Yawāqīt:

ما ثم من يشرع بعدي شريعة خاصة.

“Tidak ada lagi seorang pun sesudahku yang akan membawa syarī‘at tersendiri”.[24]

Asy-Syaykh Waliyu-Llāh ad-Dahlawī menulis dalam Qurrat al-‘Ayn:

إنما يريد بها للشريع.

“Yang beliau maksud dengan sabda tersebut hanyalah kenabian yang membawa syarī‘at”.[25]

Lagipula, dalam ḥadīts al-Mukhtār di atas, dikisahkan bahwa orang-orang merasa berat mendengar sabda NabīSAW bahwa nabī dan rasūl tidak akan datang lagi. Maka, beliau memberi keringanan (rukhṣah) dengan bersabda bahwa ru’yā ṣāliḥah, yang merupakan salah satu bagian dari kenabīan, akan tetap eksis. Dengan demikian, tidak semua bagian kenabīan tertutup, tapi masih ada yang tetap mewujud.

Sebenarnya, ada beberapa ḥadīts yang memiliki makna yang mirip dengan ḥadīts al-Mukhtār di atas, namun berbeda dalam teks (syawāhid). Dalam al-Bukhārī, kita membaca:

حدثنا أبو اليمان؛ أخبرنا شعيب؛ عن الزهري، حدثني سعيد بن المسيب؛ أن أبا هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لم يبق من النبوة إلا المبشرات. قالوا: وما المبشرات؟ قال: الرؤيا الصالحة.

“Abū al-Yamān menceritakan kepada kami; Syu‘ayb menceritakan kepada kami; dari az-Zuhrī, Sa‘īd ibn al-Musayyib menceritakan kepada kami; bahwa Ḥaḍrat Abū Hurayrahra berkata: Kami mendengar Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Tidak ada yang tersisa dari kenabīan kecuali al-mubasysyirāt. Para Ṣaḥābatra bertanya: Apakah al-mubasysyirāt itu? Beliau menjawab: Mimpi yang murni”.[26] [Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Ta‘bīr, Bāb Ru’yā aṣ-Ṣāliḥīn, no. 6984]

Sebelumnya, perlu diketahui pula bahwa al-mubasysyirāt adalah jauhar atau inti pokok dari kenabīan dan kerasūlan. Allāh berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ﴿﴾

“Tadinya manusia merupakan satu umat, lalu Allāh mengutus nabī-nabī sebagai pembawa kabar suka (mubasysyirīn) dan pemberi ingat”. [Sūrah al-Baqarah {2}:214]

Berkenaan dengan risālah, Dia berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۚ ﴿﴾

“Dan tidaklah kami mengutus para rasūl, kecuali sebagai pembawa kabar suka (mubasysyirīn) dan pemberi ingat”. [Sūrah al-Kahf {18}:57]

Wahyu yang pertama kali diterima oleh Sayyidunā al-MuṣṭafāSAW pun dalam bentuk al-mubasysyirāt, yakni mimpi yang benar (ru’yā ṣādiqah)[27]. Singkatnya, mimpi yang benar dan murni merupakan saripati dari kenabīan.

Ada sebuah penjelasan yang menarik dari al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī mengenai apa maksud dari “yang tersisa hanyalah al-mubasysyirāt”. Beliau menjelaskan:

هو على ظاهره لأنه قال ذلك في زمانه واللام في النبوة للعهد والمراد نبوته، والمعنى:لم يبق بعد النبوة المختصة بي إلا المبشرات.

“Ḥadīts itu bermakna sama sesuai dengan teksnya (dalam bentuk māḍī), karena beliau menyampaikan hal itu pada zaman ketika beliau masih hidup, dan partikel alif lām dalam النبوة (an-nubuwwah/kenabīan) berfaedah untuk menunjukkan al-‘ahd, yang maksudnya adalah kenabīan beliau sendiri. Maknanya: Tidak ada lagi yang tersisa dari kenabīan yang dikhususkan denganku kecuali al-mubasysyirāt”.[28]

Kita dapat menyerap ilmu dari sini bahwa sabda NabīSAW semata-mata hanya dimaksudkan untuk menunjukkan sedikitnya jenis wahyu dan ilhām yang turun pada masa beliau dan selang sedikit setelah kewafatan beliau. Dalam ḥadīts yang lain, disebutkan waktu beliau menyampaikan keterangan ini, yakni beberapa hari sebelum kewafatan beliau, taktala Ḥaḍrat Abū Bakrra ditunjuk untuk menggantikan beliau memimpin shalat[29]. Artinya, dalam masa hidup beliau dan sekian waktu setelah kewafatan beliau, jenis wahyu yang ada hanya ru’yā saja. Oleh sebab itu, benar jika dikatakan bahwa kenabīan habis di masa beliau dan beberapa waktu setelah kepulangan beliau, sedangkan yang tersisa hanya mimpi atau al-mubasysyirāt, yang merupakan 1/40 atau 1/46 dari kenabīan dan sekaligus juga intisarinya. Kenabīan itu sendiri berarti banyaknya wahyu dan ilhām yang diterima oleh seseorang. Tidak hanya ru’yā ḥasanah saja, tetapi juga dalam bentuk mukālamah dan mukhāṭabah langsung dengan Tuhan. Ḥaḍrat Aḥmad al-Qādiyānīas bersabda:

“Sepanjang yang kami tahu, nabī adalah dia yang secara sendirian turun firman Tuhan atasnya di dalam suatu bentuk yang mengatasi segala keraguan dan dalam satu jumlah yang sangat banyak, meliputi pengetahuan-pengetahuan yang tidak diketahui oleh manusia”.[30]

Lagi:

“Ketika komuni wahyu itu, dalam pembawaan dan banyaknya, mencapai titik kesempurnaan dan titik kepenuhan, tidak ada ketidaksesuaian serta cacat yang tertinggal di dalamnya, dan meliputi ilmu-ilmu ġaibiyyah di atas pengetahuan manusia, dengan kata lain, itulah yang didenotasikan sebagai nabī, sebagaimana disepakati oleh seluruh nabī”.[31]

“Mendapat firman Tuhan yang mencakup ilmu-ilmu ġaibiyyah dan nubuatan-nubuatan yang luar biasa dalam keagungan, seseorang yang berkomunikasi dengan khalayak ramai seraya menggunakan kata-kata ini, disebut sebagai nabī dalam terminologi Islām”.[32]

Inilah maksud bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari kenabīan kecuali mimpi yang baik. Yaitu, jenis wahyu yang turun kepada orang-orang selain Nabī MuḥammadSAW pada masa yang bersamaan dengan beliau dibatasi menjadi mimpi yang benar saja. Adapun setelah lewat masa yang lama dari kewafatan beliau, berbagai macam jenis wahyu akan muncul kembali. Ibn Ḥajar berkata lagi:

وكان السر في ندور الإلهام في زمنه وكثرته من بعده غلبة الوحي إليه - صلى الله عليه وسلم - في اليقظة وإرادة إظهار المعجزات منه، فكان المناسب أن لا يقع لغيره منه في زمانه شيء، فلما انقطع الوحي بموته وقع الإلهام لمن اختصه الله به للأمن من اللبس في ذلك، وفي إنكار وقوع ذلك مع كثرته واشتهاره مكابرة ممن أنكره.

“Rahasia yang terdapat di dalam jarangnya ilhām pada zaman NabīSAW dan banyaknya hal itu setelah kewafatan beliau adalah bahwa Tuhan ingin menyampaikan wahyu dalam kadar yang banyak kepada beliau sewaktu beliau dalam keadaan jaga dan Tuhan bermaksud untuk memanifestasikan mu‘jizat-mu‘jizat dari beliau. Agar cocok, maka tidak boleh ada apa pun pada zaman beliau selain dari wahyu yang beliau terima. Barulah ketika wahyu yang beliau terima telah terputus (NabīSAW wafat), ilhām kembali ada untuk orang-orang yang Allāh khususkan dengannya supaya orang-orang selamat dari kerancuan dalam perkara itu. Di dalam pengingkaran terhadap adanya ilhām itu, bersamaan dengan jumlahnya yang banyak dan kemasyhurannya, terdapat suatu kesombongan dari orang yang mengingkarinya”.[33]

Ringkasnya, wahyu selain dari jenis al-mubasysyirāt atau mimpi yang benar sebagai saripati kenabīan berjumlah sedikit dan terbatas pada zaman kehidupan NabīSAW. Ini dikarenakan agar manusia tidak terkecoh, mana wahyu al-Qur’ān yang diterima oleh beliau dan mana wahyu atau ilhām yang diterima orang-orang saleh di kalangan para Ṣaḥābatra. Adapun setelah beliau wafat, berbagai macam jenis wahyu, termasuk mukālamah ilāhiyyah, dapat kembali turun. Dalam sejarah, kita mendapati keterangan bahwa Ḥaḍrat ‘Umar al-Farūqra juga mendapat wahu jenis ini. Ada tersebut:

 قال عمر رضي الله عنه :رأيت رب العزة في النوم، فقال: يا ابن الخطاب! تمن علي! قال: فسكت، فقال في الثانية: يا ابن الخطاب! أعرض عليك ملكي وملكوتي وأقول لك تمن علي وأنت في ذلك تسكت. فقال: يا رب قد شرفت أنبيائك بكتب أنزلتها عليهم، فشرفني بكلام منك بلا واسطة، فقال: يا ابن الخطاب! من أحسن إلى من أساء إليه فقد أخلص لله شكرا، ومن أساء إلى من أحسن إليه فقد بدل نعمة الله كفرا.

“Ḥaḍrat ‘Umarra berkata: Aku melihat Rabb-ul-‘Izzah di waktu tidur. Dia berfirman: Wahai Putra al-Khaṭṭāb! Berharaplah kepada-Ku! Beliau berkata: Maka aku diam. Dia berfirman lagi untuk yang kedua kalinya: Wahai Putra al-Khaṭṭāb! Aku telah memperlihatkan kepadamu kepemilikan-Ku dan kerajaan-Ku, tetapi engkau tetap diam kala itu. Beliau berkata: Wahai Rabb-ku! Engkau sungguh telah memuliakan nabī-nabī-Mu dengan kitab-kitab yang Engkau turunkan kepada mereka. Maka, muliakanlah aku dengan sebuah firman dari-Mu tanpa satu pun perantara! Maka, Dia berfirman: Wahai Putera al-Khaṭṭāb! Barangsiapa yang berbuat baik terhadap orang yang berbuat buruk kepadanya, dia sungguh telah bersukur kepada Allāh dengan ikhlas. Barangsiapa yang berbuat buruk kepada orang yang berbuat baik kepadanya, dia sungguh telah mengganti nikmat Allāh dengan kekufuran”.[34]

Para auliyā’ dan aṣfiyā’ di kalangan ummat Nabī MuḥammadSAW pun turut merasakan kelezatan percakapan langsung dengan Sang Wājib-ul-Wujūd. Kami akan memberikan beberapa contoh di bawah ini. Intinya, kesemuanya dengan sangat gamblang memberitahukan kepada kita bahwa wahyu mukālamah dan mukhāṭabah, yang juga termasuk salah satu jenis wahyu selain ru’yā, tetap ada dan akan selalu ada di dalam tubuh Khayr al-Umam.

Pertama, wahyu yang diterima oleh al-Imām ‘Abd-ur-Raḥmān ibn ‘Amrū al-Auzā‘ī. Kepopuleran beliau tak perlu lagi dipertanyakan. Beliau adalah ahli dalam ilmu ḥadīts dan fiqh dari Syām. Selain itu, beliau dikenal sebagai seorang yang saleh, ‘ābid, dan zāhid. Pada permulaan masa lahirnya madzhab-madzhab fiqh, dikatakan: Abū Ḥanīfah di Kufah, Mālik di Madinah, al-Layts ibn Sa‘d di Mesir, dan al-Auzā‘ī di Syiria. Al-Imām Abū Nu‘aym menyebutkan kisah beliau ini dalam al-Ḥilyah:

حدثنا أبو جعفر محمد بن عبد الله بن سلم القايني؛ حدثنا محمد بن منصور البهروني؛ حدثنا عبد الله بن عروة؛ قال: سمعت يوسف بن موسى القطان يحـدث؛ أنّ الأوزاعي قال: رأيت رب العزة في المنام، فقال لي: يا عبد الرحمن! أنت الذي تأمر بالمعـروف وتنهى عـن المنكر؟ قلت: بفضلك يا رب، فقلت: يا رب أمتني على الإسلام وعلى السنة.

“Abū Ja‘far Muḥammad ibn ‘Abdi-Llāh ibn Silm al-Qāyanī menceritakan kepada kami; Muḥammad ibn Manṣūr al-Bahrawī menceritakan kepada kami; ‘Abdu-Llāh ibn ‘Urwah menceritakan kepada kami; dia berkata: Aku mendengar Yūsuf ibn Mūsā al-Qaṭṭān menceritakan bahwa al-Auzā‘ī berkata: Aku melihat Rabb-ul-‘Izzah di waktu tidur. Dia bertanya kepadaku: Wahai ‘Abd-ur-Raḥmān! Engkau-kah orang yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran? Aku menjawab: Dengan karunia-Mu, wahai Rabb-ku! Aku berkata lagi: Wahai Rabb-ku! Wafatkanlah diriku di atas Islām dan di atas sunnah!”.[35]

Kedua, wahyu mukālamah yang diterima oleh Imām Agung Aḥmad ibn Muḥammad ibn Ḥanbal asy-Syaybānī. Kami rasa, kemasyhuran beliau sudah menjadi rahasia umum. Beliau adalah orang yang teguh memegang kebenaran dengan menentang pendapat bahwa al-Qur’ān bukanlah makhluk, di saat semua orang takut akan penguasa yang memegang kebatilan. Sampai-sampai beliau harus mendekam di penjara selama 4 rezim berturut-turut: al-Ma’mūn; al-Mu‘taṣim; al-Watsīq; dan al-Mutawakkil. Beliau juga pendiri madrasah fiqh dan ḥadīts Ḥanbaliyyah. Kisah beliau mendapat wahyu ini tertera dalam Siyar A‘lām an-Nubalā yang ditulis oleh adz-Dzahabī:

أخبرنا أبو حفص بن القواس؛ أنبأنا الكندي؛ أخبرنا عبد الملك الكروخي؛ أخبرنا أبو إسماعيل الأنصاري؛ أخبرنا محمد بن عبد الجليل؛ أخبرنا محمد بن أحمد بن إبراهيم؛ وقال أبو محمد الخلال: أخبرنا عبيد الله بن عبد الرحمن الزهري؛ قالا: أخبرنا أحمد بن محمد بن مقسم؛ سمعت عبد العزيز بن أحمد النهاوندي؛ سمعت عبد الله بن أحمد بن حنبل؛ سمعت أبي يقول: رأيت رب العزة في المنام، فقلت: يا رب! ما أفضل ما تقرب به إليك المتقربون؟ قال: بكلامي يا أحمـد! قلت: يا رب! بفهم أو بغير فهم؟ قال: بفهم وبغير فهم.

“Abū Ḥafṣ ibn al-Qawwās mengabarkan kepada kami; al-Kindī memberitakan kepada kami; ‘Abd-ul-Mālik al-Karrūkhī mengabarkan kepada kami; Abū Ismā‘īl al-Anṣārī mengabarkan kepada kami; Muḥammad ibn ‘Abd-il-Jalīl mengabarkan kepada kami; Muḥammad ibn Aḥmad ibn Ibrāhīm mengabarkan kepada kami; Abū Muḥammad al-Khallāl berkata: ‘Ubaydu-Llāh ibn ‘Abd-ir-Raḥmān az-Zuhrī mengabarkan kepada kami; mereka berdua berkata: Aḥmad ibn Muḥammad ibn Muqsim mengabarkan kepada kami; Aku mendengar ‘Abd-ul-‘Azīz ibn Aḥmad an-Nahāwandī; Aku mendengar ‘Abdu-Llāh ibn Aḥmad ibn Ḥanbal; Aku mendengar ayahku berkata: Aku melihat Rabb-ul-‘Izzah di waktu tidur. Aku bertanya: Hal apakah yang terbaik yang dengannya para muqarrabūn menjadi dekat dengan-Mu? Dia menjawab: Dengan kalam-Ku, wahai Aḥmad! Aku bertanya: Wahai Rabb-ku! Dengan pemahaman terhadapnya atau tanpa pemahaman? Dia menjawab: Baik dengan pemahaman ataupun tanpa pemahaman”.[36]

Ketiga, dari Abū Yazīd al-Busṭāmī. Beliau adalah ṣūfī yang masyhur dari abad 2 Hijriyyah. Keagungan beliau secara singkat tergambar dari julukan yang disematkan oleh para mistiskus kepada beliau: Sulṭān-ul-‘Ārifīn, Raja bagi orang-orang yang telah mencapai makrifat ketuhanan. Kisah beliau mendapat mukhāṭabah ilāhiyyah tercantum dalam Ṣafwat at-Taṣawwuf:

حدثنا علي بن المثنى؛ قال: سمعت عمي يقول: سمعت أبي يقول: سمعت أبا يزيد يقول: رأيت رب العزة تبارك وتعالى في المنام، فقلت: يا بار خدا! كيف الطريق إليك؟ قال اترك نفسك ثم تعال.

“ ‘Alī ibn al-Mutsannā menceritakan kepada kami; dia berkata: Aku mendengar pamanku berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Abū Yazīd berkata: Aku melihat Rabb-ul-‘Izzah Tabāraka Wa Ta‘ālā di waktu tidur. Aku bertanya: Wahai Rabb-ku! Bagaimanakah jalan untuk menuju kepada-Mu? Dia mejawab: Tinggalkanlah dirimu, kemudian datanglah kemari”.[37]

Kini, semua telah jelas bahwa kalimat “yang tersisa hanyalah mimpi yang benar” hanya teruntuk zaman Nabī MuḥammadSAW. Ini semata-mata menunjukkan keunggulan dan ketinggian martabat beliau. Yakni, tidak ada seorang pun yang dapat menerima dan mengemukakan wahyu yang memiliki kualitas sedemikian tinggi hingga wahyu matlūw dalam waktu yang bersamaan dengan beliau. Adapun di masa mendatang, sebagaimana beliau nubuatankan, al-Masīḥ al-Mau‘ūdas akan mendapat jenis wahyu matlūw juga[38]. Beliau akan medapat wahyu jenis ini dalam jumlah yang sangat banyak, yang oleh karenanya beliau disebut sebagai nabī. Tetapi, wahyu yang diterima oleh beliau ini tidaklah bertentangan dengan wahyu al-Qur’ān yang NabīSAW dapat, atau menciderai martabat dan kedudukan beliau, bahkan berfungsi sebagai pembantu dan penguat. Kepemilikan akan pembantu menandakan bahwa sang pemilik memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi. Demikian juga dengan wahyu dan ilham yang diterima oleh para mulham dan al-Masīḥas pada khususnya, itu hanyalah pelayan yang bertugas untuk menampakkan kehebatan dan kejayaan al-Qur’ān al-Karīm[39].

Kesimpulannya, kenabīan memang telah terputus. Namun, itu khusus nubuwwah tasyrī‘iyyah saja. Dan nubuwwah ġayru tasyrī‘iyyah akan tetap berlangsung sampai Hari Penghabisan berkat al-Fayḍān al-Muḥammadī yang tak akan pernah padam.

Ḥadīts Kedua

حدثني محمد بن بشار؛ حدثنا محمد بن جعفر؛ حدثنا شعبة؛ عن فرات القزاز، قال: سمعت أبا حازم؛ قال: قاعدت أبا هريرة خمس سنين، فسمعته يحدث عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ قال: كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون خلفاء فيكثرون، قالوا: فما تأمرنا؟ قال: فوا ببيعة الأول، فالأول أعطوهم حقهم، فإن الله سائلهم عما استرعاهم.

“Muḥammad ibn Basysyār mengabarkan kepadaku; Muḥammad ibn Ja‘far mengabarkan kepadaku; Syu‘bah mengabarkan kepadaku; dari Furāt al-Qazzār, dia berkata: Aku mendengar Abū Ḥāzim; dia berkata: Aku menyertai majelis Ḥaḍrat Abū Hurayrahra selama 5 tahun. Beliau pernah menyampaikan ḥadīts dari Ḥaḍrat NabīSAW, di mana beliau bersabda: Dahulu, para nabī senantiasa mengurusi Banī Isrā’īl. Setiap seorang nabī wafat, maka seorang nabī lain akan menggantikannya. Tetapi, tidak akan ada lagi nabī sesudahku. Yang ada dalam waktu dekat hanyalah para khalīfah, lalu jumlah mereka akan menjadi banyak. Para Ṣaḥābatra bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: Tepatilah bai‘atmu pada khalīfah-khalīfah yang pertama kali terpilih. Bagi khalīfah-khalīfah yang pertama kali terpilih itu, penuhilah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allāh akan menanyakan kepada mereka tentang apa yang mereka gembalakan”.[40] [Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīts al-Anbiyā’, Bāb Mā Dzukira ‘An Banī Isrā’īl, no. 3268]

Seandainya Sdr. Agus Effendi mencermati dengan sedikit lebih cermat, beliau akan insaf dan menyatakan bahwa ḥadīts ini sama sekali tidak menunjukkan tertutupnya pintu kenabīan. Ḥadīts ini hanya menginformasikan bahwa akan ada khalīfah-khalīfah dalam waktu yang dekat setelah kewafatan Nabī MuḥammadSAW. Ini ditandai dengan penggunaan huruf س yang jika masuk ke dalam fi‘l muḍāri‘ akan memberikan faedah istiqbāl li al-qarīb (masa depan yang dekat). Sabda beliau ini sudah terbukti kebenarannya dengan terpilihnya al-Khulafā’ ar-Rāsyidūnra, yang di dalam tempat lain, beliau memprediksi bahwa masa pemerintahan mereka akan berumur 30 tahun:

حدثنا أحمد بن منيع؛ حدثنا سريج بن النعمان؛ حدثنا حشرج بن نباتة؛ عن سعيد بن جمهان، قال: حدثني سفينة؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الخلافة في أمتي ثلاثون، سنة ثم ملك بعد ذلك. ثم قال لي سفينة: أمسك خلافة أبي بكر، ثم قال: وخلافة عمر، وخلافة عثمان، ثم قال لي: أمسك خلافة علي، قال: فوجدناها ثلاثين سنة، قال سعيد: فقلت له: إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم، قال: كذبوا بنو الزرقاء، بل هم ملوك من شر الملوك.

“Aḥmad ibn Manī‘ menceritakan kepada kami; Surayj ibn an-Nu‘mān menceritakan kepada kami; Ḥasyraj ibn Nubātah menceritakan kepada kami; dari Sa‘īd ibn Jumhān, dia berkata: Ḥaḍrat Safīnahra menceritakan kepadaku; beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Khilāfah dalam ummat-ku akan berusia 30 tahun. Kemudian, kerajaan akan muncul setelahnya. Ḥaḍrat Safīnahra lalu berkata kepadaku: Peganglah Khilāfah Ḥaḍrat Abū Bakrra. Beliau lantas berkata lagi: Juga Khilāfah Ḥaḍrat ‘Umarra, Khilāfah Ḥaḍrat ‘Utsmānra, Khilāfah Ḥaḍrat ‘Alīra. Sa‘īd berkata: Kami telah mendapati 30 tahun itu. Sa‘īd berkata: Aku berkata kepada Ḥaḍrat Safīnahra: Sesungguhnya Banī Umayyah menyangka bahwa Khilāfah berada di tengah-tengah mereka. Ḥaḍrat Safīnahra berkata: Banī az-Zarqā’ telah berdusta. Bahkan, mereka adalah raja-raja yang termasuk di antara sejelek-jeleknya raja-raja”.[41] [Sunan at-Tirmidzī, Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Jā’a ‘An al-Khilāfah, no. 2226]

Dalam matan Abū Dāwūd as-Sijistānī[42] disebutkan خلافة النبوة, yaitu Khilāfah dari kenabīan Rasūlu-LlāhSAW. Al-Ḥākim menyebutkan dalam al-Mustadrak[43] bahwa Ḥaḍrat Safīnahra berkata: Khilāfah Ḥaḍrat Abū Bakrra berusia 2 tahun; Khilāfah Ḥaḍrat ‘Umarra berusia 10 tahun; Khilāfah Ḥaḍrat ‘Utsmānra berusia 12 tahun; dan Khilāfah Ḥaḍrat ‘Alīra berusia 6 tahun. Al-‘Aẓīmabādī menulis dalam ‘Aun al-Ma‘būd[44] bahwa yang di maksud dengan Banī az-Zarqā’ adalah keturunan Marwān ibn al-Ḥakam. Az-Zarqā’ bint Wahb sendiri adalah istri dari Abū al-‘Āṣ ibn Umayyah. Abū al-‘Āṣ adalah ayah al-Ḥakam, yang merupakan ayah Marwān. Jadi, az-Zarqā’ adalah nenek dari Marwān ibn al-Ḥakam.

Ḥadīts di atas adalah bayān mujmal bagi ḥadīts Ḥaḍrat Abū Hurayrahra. Yakni, menerangkan keumuman makna ḥadīts yang terkandung dalam riwayat Ḥaḍrat Abū Hurayrahra. Adapun kata فيكثرون, itu bisa merujuk kepada 2 hal: al-Khulafā’ ar-Rāsyidūnra atau mereka ditambah dengan para raja yang datang belakangan. Raja-raja ini dipanggil sebagai khalīfah bukan karena mereka adalah khalīfah yang sesungguhnya. Namun, seperti yang diterangkan oleh al-Mubārakfūrī[45], hanya untuk menunjukkan bahwa mereka menggantikan kepemimpinan al-Khulafā’ ar-Rāsyidūnra yang datang sebelum mereka. Khalīfah sendiri secara etimologis berarti orang yang menggantikan (suksesor).

Berkenaan dengan kedatangan nabī lagi, telah jelas menurut khabar-khabar mutawātir bahwa ‘Īsā ibn Maryamas akan datang sebagai nabī. Sampai-sampai al-‘Allāmah Jalāl-ud-Dīn as-Suyūṭī berkata:

من قال بسلب نبوته كفر حقا .

“Barangsiapa yang berpendapat bahwa kenabīan ‘Īsāas akan dicabut, dia benar-benar telah kāfir”.[46]

Bila dikatakan bahwa ‘Īsāas tetap menjadi nabī karena beliau telah menerima nubuwwah sebelum lahirnya Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW, perkataan ini tertolak. Sebab, Nabī ‘Īsāas yang dahulu hanya diutus untuk Banī Isrā’īl, sedangkan Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama diutus untuk seluruh manusia, bahkan segenap alam raya. Seorang yang hanya memiliki kapasitas sebagai lurah tidak dapat menjadi gubernur. Pun halnya dengan Nabī ‘Īsāas, yang hanya ditugaskan kepada domba-domba yang sesat di kalangan ummat Israel, beliau tidak dapat memikul beban yang dipundakkan kepada Khātam-ul-AnbiyāSAW. Malahan, dalam ḥadīts-ḥadīts yang ṣaḥīḥ marfū‘ mauṣūl, Sayyidunā ‘Īsāas disebutkan telah berpulang ke hadirat Tuhan dalam usia 120 tahun[47]. Maka, wajib hukumnya bagi kita untuk berikrar bahwa al-Masīḥ al-Mau‘ūdas yang akan datang di akhir zaman bukanlah Nabī ‘Īsā al-Isrā’īlīas yang sudah wafat, melainkan seseorang di antara ummat Nabī Besar MuḥammadSAW yang menyandang warna dan sifat al-masīḥiyyat. Sebagian ‘ulamā’ berkata:

نزول عيسى خروج رجل يشبه عيسى في الفضل والشرف، كما يقال للرجل الخير ملك وللشرير شيطان، تشبيهاً بهما، ولا يراد الأعيان.

“Turunnya ‘Īsāas adalah keluarnya seseorang yang menyerupai ‘Īsāas dalam kemuliaan dan kehormatan, sebagaimana dikatakan kepada seseorang yang baik hati ‘malaikat’ dan seseorang yang jahat ‘setan’. Hal itu dimaksudkan semata-mata untuk penyerupaan, bukan orang-orang secara terpisah”.[48]

Di dalam al-Qur’ān, kata خرج (keluar) digunakan untuk menunjukkan lahirnya seorang manusia dari rahim ibu. Kita membaca:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿﴾

“Dan, Allāh telah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sedikit pun, lalu Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu bersyukur”. [Sūrah an-Naḥl {16}:79]

Artinya, al-Masīḥas yang akan datang akan lahir dari perut seorang ibu, sebagaimana manusia normal lainnya, bukan turun dan melayang dari angkasa biru. Pertanyannya, kapankah al-Masīḥ al-Mau‘ūdas itu lahir dan datang ke dunia? Kita membaca dalam Kitabu-Llāh:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ ﴿﴾ ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ ﴿﴾

“Dia mengatur peraturan dari langit sampai bumi. Kemudian, peraturan itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya 1000 tahun dari apa yang kamu hitung. Demikianlah Tuhan Yang Mengetahui segala yang gaib dan yang nampak, Maha Perkasa, Maha Penyayang”. [Sūrah as-Sajdah {32}:6-7]

Menurut ayat ini, dalam jangan waktu 1000 tahun pasca lahirnya Islām ke dunia, ia akan kembali di angkat ke langit. Maksudnya adalah bahwa ajaran-ajarannya telah mulai ditinggalkan oleh manusia dan perintah dan larangannya telah mulai diacuhkan dan dikesampingkan. Tingallah ia sebagai tak lebih dari pepesan kosong belaka. Puncaknya adalah pada akhir 200 tahun setelah 1000 tahun itu, sebagaimana kita membaca dalam ḥadīts:

حدثنا الحسن بن علي الخلال؛ حدثنا عون بن عمارة؛ حدثنا عبد الله بن المثنى بن ثمامة بن عبد الله بن أنس؛ عن جده، عن أنس بن مالك، عن أبي قتادة؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الآيات بعد المائتين.

“Al-Ḥasan ibn ‘Alī al-Khallāl menceritakan kepada kami; ‘Aun ibn ‘Ammārah menceritakan kepada kami; ‘Abdu-Llāh ibn al-Mutsannā ibn Tsumāmah ibn ‘Abdu-Llāh ibn Anas menceritakan kepada kami; dari kakeknya, dari Ḥaḍrat Anas ibn Mālikra, dari Ḥaḍrat Abū Qatādahra, beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Tanda-tanda akan muncul setelah 200 tahun”.[49] [Sunan Ibn Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb al-Āyāt, no. 4057]

Al-Ḥākim mengatakan bahwa ḥadīts ini ṣaḥīḥ menurut syarat al-Bukhārī dan Muslim, namun mereka tidak mengeluarkannya.

Mullā ‘Alī al-Qāri’, seorang mufassir, muḥaddits, dan faqiḥ dari Madzhab Ḥanafī, memberikan syarḥ terhadap khabar ini dalam Mirqāt al-Mafātīḥ sebagai berikut:

ويحتمل أن يكون اللام في المائتين للعهد، أي: بعد المائتين بعد الألف، وهو وقت ظهور المهدي، وخروج الدجال، ونزول عيسى عليه الصلاة والسلام.

“Partikel alif lām dalam المائتين dapat dimungkinkan untuk al-‘ahd. Yakni, pasca 200 tahun setelah 1000 tahun. Inilah waktu munculnya al-Mahdīas, keluarnya Dajjāl, dan turunnya ‘Īsāas”.[50]

Hal senada juga disampaikan oleh Al-Al-Imām Jalāl-ud-Dīn as-Suyūṭīrh. Beliau adalah seorang teolog, faqīh, mufassir, muḥaddits, luġawī, yang juga mujaddid abad 9 H, serta pengarang tafsir ad-Durr al-Mantsūr dan al-Jalālayn. Beliau merilis nama-nama mujaddid dalam bentuk sebuah syair, yang dikumpulkan dalam satu kitab bernama Tuḥfat al-Muhtadīn, dan menubuatankan waktu datangnya al-Masīḥ al-Mau‘ūdas di dalamnya sebagai berikut:

وآخر المئين فيما يأتي     عيسى نبي الله ذو الآيات
يجدد الدين لهذي الأمة     وفي الصلاة بعضنا قد أمه
مقررا لشرعنا ويحكم     بحكمنا إذ في السماء يعلم
يجدد الدين لهذي الأمة     وفي الصلاة بعضنا قد أمه
وبعده لم يبق من مجدد   ويرفع القرآن مثل ما بدي
وتكثر الأشرار والإضاعة   من رفعه إلى قيام الساعه


“Dan pada akhir 200 tahun yang akan tiba | Nabī ‘Īsāas yang memiliki tanda-tanda akan datang”.

“Beliau akan memperbaharui agama untuk ummat ini | Dan sekelompok orang di antara kita akan menjadi imām shalat bagi beliau”.

“Beliau akan menjalankan syarī‘at kita | Pun beliau akan berhukum dengan hukum kita, di mana beliau akan langsung diajari oleh Tuhan Yang Di Langit”.

“Sesudah beliau, tidak akan lagi seorang pun mujaddid | Al-Qur’ān akan diangkat sebagaimana dahulu diturunkan”.

“Kejelekan dan penyia-nyiaan amanat akan merajalela | Sejak diangkatnya al-Qur’ān hingga berdirinya waktu yang ditentukan”.[51]

Ini sangatlah tepat dan cocok dengan waktu pendakwaan Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad al-Qādiyānīas. Beliau mengumumkan dan mendakwakan diri sebagai mujaddid pada Maret 1882 M/1300 H, tepat pada akhir 200 tahun setelah 1000 tahun. Beliau menyebarkan lebih dari 200.000 ekslempar selebaran yang berisi pendakwaan beliau ke seluruh Hindustan. Langit dan bumi saling memberikan kesaksian akan kebenaraan beliau. Salah satu tanda dari langit yang masyhur dan terkenal adalah penampakan komet C/1882 R1 atau Great Comet of 1882 pada 17 September 1882 M, yang dapat disaksikan dengan mata telanjang. Sedangkan salah satu tanda dari bumi adalah meletusnya Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 M di Teluk Betung, Banten. Al-Imām Abū Ja‘far al-Bāqirrh juga telah menubuatankan hal ini dengan menyebutnya “api dari sebelah timur”[52].

Nama Ghulām Aḥmad Qādiyānī sendiri, berdasarkan ḥisāb al-jumal, berjumlah 1300. Silahkan lihat gambar di bawah ini!



Apakah ini semua hanya kebetulan belaka? Yang namanya kebetulan tak dapat terjadi hingga berulang-ulang. Justru sesuatu yang berulang-ulang menandakan bahwa hal itu adalah sebuah kepastian dan kebenaran.

Ḥadīts Ketiga

وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة؛ حدثنا غندر؛ عن شعبة. ح: وحدثنا محمد بن المثنى وابن بشار؛ قالا: حدثنا محمد بن جعفر؛ حدثنا شعبة؛ عن الحكم، عن مصعب بن سعد بن أبي وقاص، عن سعد بن أبي وقاص، قال: خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك، فقال: يا رسول الله! تخلفني في النساء والصبيان؟ فقال: أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى؟ غير أنه لا نبي بعدي.

“Abū Bakr ibn Abī Syaybah mengabarkan kepada kami; Ġundar mengabarkan kepada kami; dari Syu‘bah. Jalur yang lain: Muḥammad ibn al-Mutsannā dan Ibn Basysyār mengabarkan kepada kami; mereka berdua berkata: Muḥammad ibn Ja‘far menceritakan kepada kami; Syu‘bah menceritakan kepada kami; dari al-Ḥakam, dari Muṣ‘ab ibn Sa‘d ibn Abī Waqqāṣ, dari Ḥaḍrat Sa‘d ibn Abī Waqqāṣra, beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW memerintahkan Ḥaḍrat ‘Alīra untuk menggantikan beliau semasa Perang Tabūk. Maka, Ḥaḍrat ‘Alīra bertanya: Wahai Rasūlu-Llāh! Apakah engkau memerintahkanku untuk menggantikanmu di tengah-tengah wanita-wanita dan anak-anak? Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW menjawab: Apakah engkau tidak senang bahwa engkau di sisiku memiliki kedudukan sebagaimana kedudukan Nabī Ḥārūnas di sisi Nabī Mūsāas? Hanya saja, tidak ada nabī setelahku”.[53]

Sabab al-wurūd ḥadīts ini sangat jelas, sebagaimana diterangkan dalam riwayat di atas. NabīSAW menyuruh al-Imām ‘Alīra untuk menggantikan beliau (takhlīf/istikhlāf) sebagai pemimpin Madīnah selama beliau memimpim kaum muslimin dalam Ekspedisi Tabūk. Sayyidunā ‘Alīra merasa kecil hatinya karena beliau tidak dapat ikut serta dalam jihād fī sabīli-Llāh, malahan ditinggalkan di tengah-tengah wanita dan balita. Oleh karena itu, Ḥaḍrat NabīSAW menghibur beliau dengan mengatakan: “Wahai sepupuku! Apakah engkau tidak ingin memiliki kedudukan sama dengan kedudukan Nabī Ḥārūnas? Sewaktu al-Kalīmas sedang bermunajat kepada Tuhan selama 40 hari di Bukit Sinai, Nabī Ḥārūnas menggantikan tugas beliau sebagai pemimpin dan amir bagi Banī Isrā’īl. Apakah engkau tidak ingin mempunyai derajat layaknya seorang nabī? Hanya saja, engkau bukanlah seorang nabī”. Singkatnya, khabar ini sama sekali tidak mengindikasikan terputusnya nubuwwah. Karena, sebagaimana yang telah diketahui, Nabī Ḥārūnas wafat taktala Nabī Mūsāas masih hidup. Setelah Nabī Mūsāas berpulang pun, nabī-nabī masih terus di utus. Orang yang memimpin Banī Isrā’īl menuju Tanah Perjanjian setelah kewafatan beliau juga merupakan seorang nabī, yakni Yūsya‘ ibn Nūnas. Maka, mengambil kesimpulan berdasarkan ḥadīts ini bahwa tidak ada nabī lagi sesudah NabīSAW sangatlah salah. Melainkan, maknanya adalah bahwa tidak ada seorangpun nabī pada masa itu selain dari Nabī Muḥammad al-MuṣṭafāSAW.

Ẓarf بعد dalam khabar yang diriwayatkan oleh asy-Syaykhayn dalam aṣ-Ṣaḥīḥayn dan Aṣḥāb as-Sunan dalam Sunan-Sunan mereka tidak berarti zamāniyyah (waktu), tetapi ma‘iyyah (kebersamaan). Contohnya tersebut di dalam al-Qur’ān:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ ﴿﴾

“Maka, dengan perkataan mana lagi selain Allāh dan ayat-ayat-Nya kalian akan beriman”. [Sūrah al-Jātsiyah {43}:7]

Artinya, tidak ada kebenaran dan seruan kepada kebenaran selain apa yang datang dari Allāh berupa tanda-tanda keagungan-Nya. Tanda-tanda dari Allāh inilah yang dapat meruntuhkan tembok keangkuhan dan ketakaburan untuk menerima kebenaran. Adverbia بعد di sana tidak bermakna setelah. Karena, jika itu bermakna setelah atau sesudah, konsekuensinya kita akan menyatakan bahwa ada perkataan lain setelah Allāh wafat yang kepadanya manusia akan beriman. Wa al-‘Iyādzu Bi-Llāh!

Asy-Syanqiṭī mengomentari ayat tersebut dalam Aḍwā’ al-Bayān:

أن من كفر بالله وبآيات الله، ولم يؤمن بذلك مع ظهور الأدلة والبراهين على لزوم الإيمان بالله وآياته، أنه يستبعد أن يؤمن بشيء آخر.

“Sesungguhnya, barangsiapa yang ingkar kepada Allāh dan kepada ayat-ayat-Nya dan tidak beriman kepada hal itu, bersamaan dengan termanifestasikannya dalil-dalil dan bukti-bukti atas kewajiban untuk beriman kepada Allāh dan kepada ayat-ayat-Nya, dia akan sangat sukar untuk beriman kepada sesuatu yang lain”.[54]

Sebenarnya, seandainya Sdr. Agus lebih teliti dalam memerikasa riwayat-riwayat dari mutāba‘ah dan syawāhid yang lain, niscaya beliau tidak akan terjerumus dalam ketergesaan-gesaan. Dari sisi mutāba‘ah, kami akan membawakan sebuah riwayat dari jalur Sa‘īd ibn al-Musayyib:

أخبرنا القاضي أبو الخطاب عبدالرحمن بن عبدالله الإسكافي -قدم علينا واسط-؛ قال: أخبرنا عبدالله بن عبيدالله بن محمد؛ قال: حدثنا علي بن مسلم؛ قال: حدثنا يوسف بن يعقوب الماجشون؛ قال: أخبرني محمد بن المنكدر؛ عن سعيد بن المسيب، قال: سألت سعد بن أبي وقاص، هل سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لعلي: أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي -أو ليس معي نبي-؟ فقلت: أسمعت منه هذا؟ فأدخل أصبيعه في أذنيه، وقال: نعم وإلا فاستكتا.

“Al-Qāḍī Abū al-Khaṭṭāb ‘Abd-ur-Raḥmān ibn ‘Abdi-Llāh al-Iskāfī menceritakan kepada kami; dia berkata: ‘Abdu-Llāh ibn ‘Ubaydi-Llāh ibn Muḥammad menceritakan kepada kami; ‘Alī ibn Muslim menceritakan kepada kami; dia berkata: Yūsuf ibn Ya‘qūb al-Mājisyūn menceritakan kepada kami; dia berkata: Muḥammad ibn al-Munkadir mengabarkan kepadaku; dari Sa‘īd ibn al-Musayyib, dia berkata: Aku bertanya kepada Ḥaḍrat Sa‘d ibn Abī Waqqāṣra: Apakah engkau mendengar Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda kepada Ḥaḍrat ‘Alīra: Engkau di sisiku memiliki kedudukan sebagaimana kedudukan Nabī Ḥārūnas di sisi Nabī Mūsāas? Hanya saja, tidak ada nabī setelahku atau tiada nabī yang bersamaan denganku? Aku bertanya: Apakah engkau mendengar ini dari beliau? Lantas, beliau memasukkan jari-jari beliau ke dalam kedua telinga beliau, lalu menjawab: Ya! Jika tidak, maka kedua telinga ini akan menjadi tuli”.[55]

Cukup jelas, bukan? Dari sisi syawāhid, kami akan membawakan sebuah keterangan dari Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra:

أخبرنا أحمد بن محمد بن عبد الوهاب؛ قال: حدثنا الحسين بن محمد العدل؛ قال: حدثنا أحمد بن عيسى بن سكين؛ قال: حدثنا الرمادي؛ قال: حدثنا يحيى بن حماد؛ قال: حدثنا أبو عوانة؛ قال: حدثنا أبو بلج؛ قال: حدثنا عمرو بن ميمون؛ عن ابن عباس، قال: خرج الناس في غزوة، تبوك فقال علي -يعني للنبي صلى الله عليه وسلم-: أخرج معك؟ فقال: بل اخلفني، ألا ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى؟ إلا أنك لست بنبي.

“Aḥmad ibn Muḥammad ibn ‘Abd-il-Wahhāb mengabarkan kepada kami; dia berkata: al-Ḥusayn ibn Muḥammad ibn al-‘Adl menceritakan kepada kami; dia berkata: Aḥmad ibn ‘Īsā ibn Sukayn menceritakan kepada kami; dia berkata: ar-Rumādī menceritakan kepada kami; dia berkata: Yaḥyā ibn Ḥammād menceritakan kepada kami; dia berkata: Abū ‘Awwānah menceritakan kepada kami; dia berkata: Abū Balj menceritakan kepada kami; dia berkata: ‘Amrū ibn Maymūn menceritakan kepada kami; dari Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra, beliau berkata: Orang-orang berangkat menuju suatu peperangan. Lantas, Ḥaḍrat ‘Alīra bertanya kepada Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW: Apakah aku ikut berangkat bersama engkau? Beliau menjawab: Tidak. Bahkan, gantikanlah aku! Apakah engkau tidak senang bahwa engkau di sisiku memiliki kedudukan sebagaimana kedudukan Ḥārūn di sisi Mūsā? Hanya saja, engkau bukanlah seorang nabī”.[56]

Kesimpulannya, khabar di atas tidak menutup pintu kenabīan, hanya menerangkan ketinggian derajat Sayyidunā ‘Alī ibn Abī Ṭālibra dan persamaan beliau dengan Ḥaḍrat Hārūnas perihal istikhlāf beliau bagi Rasūlu-LlāhSAW semasa Ekspedisi Tabūk.

Ḥadīts Keempat

أخبرني عبد الله بن محمد بن إسحاق الخزاعي بمكة؛ ثنا أبو يحيى بن أبي ميسرة؛ ثنا عبد الله بن يزيد المقري؛ ثنا حيوة بن شريح؛ عن بكر بن عمرو، عن مشرح بن هاعان، عن عقبة بن عامر - رضي الله عنه -، قال: سمعت رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم - يقول: لو كان بعدي نبي لكان عمر بن الخطاب.

“ ‘Abdu-Llāh ibn Muḥammad ibn Isḥāq al-Khuzā‘ī mengabarkan kepadaku di Makkah; Abū Yaḥyā ibn Abī Maysarah menceritakan kepada kami; ‘Abdu-Llāh ibn Yazīd al-Muqrī menceritakan kepada kami; Ḥaywah ibn Syurayḥ menceritakan kepada kami; dari Bakr ibn ‘Amrū, dari Misyraḥ ibn Hā‘ān, dari Ḥaḍrat ‘Uqbah ibn ‘Āmirra, beliau berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Seandainya ada seorang nabī setelahku, pasti ‘Umar-lah orangnya”.[57]

Al-Ḥākim mengklasifikannya ṣaḥīḥ, namun al-Bukhārī dan Muslim tidak mengeluarkannya. At-Tirmidzī menyebutnya ġarīb. Misyraḥ ibn Hā‘ān bersendirian dalam meriwayatkan khabar ini dari Bakr ibn ‘Amrū.

Sejatinya, ḥadīts ini lemah karena adanya 2 ‘illat:

1. Bakr ibn ‘Amrū 

Tentangnya, al-Ḥākim bertanya kepada ad-Dāruquṭnī dan dijawab dengan: Yunẓaru Fī Amrih, perkaranya harus ditinjau[58]. Hal senada juga diungkapkan oleh adz-Dzahabī dalam Mīzān al-I‘tidāl[59]. Yaḥyā ibn Sa‘īd al-Qaṭṭān berkomentar bahwa dia tidak mengetahui ‘adālah Bakr ibn ‘Amrū[60]. Sebab itu, al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar menggolongkannya ke dalam para perawi al-Bukhārī yang dikritik dan dicela[61].

2. Misyraḥ ibn Hā‘ān

Ibn Ḥibbān menyatakan dalam aḍ-Ḍu‘afā’ bahwa dia meriwayatkan ḥadīts-ḥadīts munkar dari Bakr ibn ‘Amrū yang tidak boleh diikuti. Yang benar adalah dia wajib ditinggalkan jika bersendrian dalam meriwayatkan[62]. Dalam ats-Tsiqāt, pun dia menjelaskan bahwa Misyraḥ biasa berbuat salah dan menyelisihi para tsiqāt[63]. Al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar dalam at-Tahdzīb menyebutkan sebuah narasi yang diceritakan oleh al-‘Uqaylī dari Mūsā ibn Dāwūd bahwa Misyraḥ termasuk dalam pasukan al-Ḥajjāj yang mengepung Ḥaḍrat Ibn az-Zubayrra dan melempari Ka‘bah dengan manjanīq (semacam trebuchet)[64].

Sebenarnya, jika Sdr. Agus lebih fair, dia seharusnya mencatumkan ḥadīts lain yang sesungguhnya menjadi tafsīr bagi ḥadīts ini.

حدثنا عمر بن الحسن بن نصر الحلبي؛ حدثنا مصعب بن سعيد أبو خيثمة؛ حدثنا عبد الله بن واقد؛ حدثنا حيوة بن شريح؛ عن بكر بن عمرو، عن مشرح بن هاعان، عن عقبة بن عامر، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لو لم أبعث فيكم لبعث فيكم عمر.

“ ‘Umar ibn ibn al-Ḥasan ibn Naṣr al-Ḥalabī menceritakan kepada kami; Muṣ‘ab ibn Sa‘īd Abū Khaytsamah menceritakan kepada kami; ‘Abdu-Llāh ibn Wāqid menceritakan kepada kami; Ḥaywah ibn Syurayḥ menceritakan kepada kami; dari Bakr ibn ‘Amrū, dari Misyraḥ ibn Hā‘ān, dari Ḥaḍrat ‘Uqbah ibn ‘Āmirra, beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Seandainya aku tidak diutus, ‘Umar-lah yang akan diutus di tengah-tengah kalian!”.[65]

Ḥadīts ini sama-sama lemah sebagaimana ḥadīts di atas. Namun, pertalian yang terdapat antara satu dengan yang lainnya sebenarnya saling berikatan. Intinya sama sekali tidak menafikkan kedatangan nabī di masa mendatang, walaupun isinya tidak dapat diterima. Ini dikarenakan status Ḥaḍrat ‘Umarra masih di bawah Ḥaḍrat Abū Bakrra. Jadi,  Ḥaḍrat Abū Bakrra-lah yang seharusnya diutus, seandainya NabīSAW tidak diberi mandat risālah.

Ḥadīts Kelima

NabīSAW bersabda:

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ؛ أخبرني حامد بن محمد الهروي؛ ثنا علي بن محمد بن عيسى؛ ثنا أبو اليمان؛ أخبرني شعيب؛ عن الزهري، حدثني محمد بن جبير بن مطعم؛ عن أبيه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن لي خمسة أسماء: أنا محمد، وأنا أحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفار، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي، وأنا العاقب، والعاقب ليس بعده نبي.

“Abū ‘Abdi-Llāh al-Ḥāfiẓ mengabarkan kepada kami; Ḥāmid ibn Muḥammad al-Harawī mengabarkan kepadaku; ‘Alī ibn Muḥammad ibn ‘Īsā menceritakan kepada kami; Abū al-Yamān menceritakan kepada kami; Syu‘ayb mengabarkan kepadaku; dari az-Zuhrī, Muḥammad ibn Ḥaḍrat Jubayr ibn Muṭ‘imra menceritakan kepadaku; dari ayahnya, beliau berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Sesungguhnya bagiku ada 5 nama: Aku adalah Muḥammad, aku adalah Aḥmad, aku adalah al-Māḥī yang denganku Allāh menghapus orang-orang kafir, Aku adalah al-Ḥāsyir yang kelak manusia akan dihimpun di atas kakiku, dan Aku adalah al-‘Āqib yang mana al-‘Āqib adalah dia yang tidak ada lagi nabī sesudahnya”.[66]

Ḥadīts yang disebutkan di atas memang tidak lagi disangsikan validitasnya, sebagaimana Abū ‘Īsā at-Tirmidzī menyebutnya ḥasan ṣaḥīḥ. Namun, ada yang perlu diperhatikan berkenaan dengan jumlah bayāniyyah والعاقب ليس بعده نبي. Apabila kita perhatikan lebih jauh, kalimat ini sejatinya merupakan mudraj (sisipan) dari salah seorang perawi. Al-‘Allāmah az-Zurqānī dalam Syarḥ beliau terhadap al-Muwaṭṭa’ karangan al-Imām Mālik mengatakan:

وقد زاد يونس عن الزهري عند مسلم وغيره: الذي ليس بعده نبي.

“Yūnus (ibn Yazīd al-Aylī) telah menambahkan dari az-Zuhrī, seperti yang termaktub dalam Ṣaḥīḥ Muslim dan yang lainnya: Yakni, dia yang tidak ada lagi nabī sesudahnya”.[67]

Al-Bayhaqī, al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar, dan az-Zurqānī sendiri mengungkapkan hal yang seirama. As-Suyūṭī bahkan memastikan bahwa itu adalah mudraj dari tafsir az-Zuhrī terhadap sebuah riwayat yang terdapat dalam aṭ-Ṭabranī dari jalur Ma‘mar dari az-Zuhrī. Ketika sampai pada وأنا العاقب, Ma‘mar bertanya kepada az-Zuhrī: Apakah al-‘Āqib itu? Lalu dijawab olehnya: Yang tidak ada lagi nabī sesudahnya.[68]

Jelas sudah bahwa kalimat penjelas “yang tidak ada lagi nabī sesudahnya” adalah sisipan atau tambahan dari Ibn Syihāb az-Zuhrī, bukan berasal secara langsung dari Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW. Adapun riwayat yang tercantum dalam Kitāb al-Adab dalam Sunan at-Tirmidzī yang menggunakan yā’ al-mutakallim (وأنا العاقب الذي ليس بعدي نبي)[69], sama sekali tidak mengindikasikan bahwa NabīSAW-lah yang bersabda. Menurut az-Zurqānī, kalimat itu kembali kepada lisan sang perawi yang menafsirkan sabda NabīSAW tersebut, sedemikian kuatnya sehingga seolah-olah NabīSAW-lah yang mengucapkannya[70].

Berkenaan dengan pengartian kata ‘Āqib sebagai kesudahan atau akhir, ini sama sekali tidak bertentangan dengan pendapat kami. Hanya saja, perlu digarisbawahi di sini bahwa pengertian akhir secara zaman tidak berarti apa-apa. Khalīfah terakhir dari al-Khulafā’ ar-Rāsyidūnra adalah Sayyidunā ‘Alī ibn Abī Ṭālibra. Namun, apakah di antara kita ada yang beranggapan bahwa beliau lebih mulia dari asy-Syaykhayn Abū Bakrra dan ‘Umarra? Al-Musta‘ṣim adalah raja terakhir dari Banī ‘Abbāsiyyah. Justru kerajaan itu luluh lantak di masa pemerintahnya. Baghdad dan perpustakaannya dihancurkan dan dibakar. Dia sendiri dan 1.000.000 penduduk lainnya ditumpahkan darahnya oleh para ksatria Mongol. Seandainya keakhiran selalu menunjukkan keistimewaan, tidak mungkin hal-hal di atas terjadi. Parahnya lagi, orang-orang yang terakhir hidup di dunia, yaitu mereka yang menjumpai Hari Kiamat, dijuluki oleh Nabī MuḥammadSAW sebagai Syirār-un-Nās (orang-orang terjelek)[71] bukan Kirām-un-Nās (orang-orang termulia). Ringkasnya, yang terakhir tidak selalu dapat katakan sebagai yang terbaik.

Dalam khazanah sastra Arab, sesuatu yang terakhir tidak selalu diartikan sebagai yang terbaik. Bahkan, keakhiran sering digunakan untuk mengejek dan mengritik. Ziyād ibn Sulaymān al-A‘jam, penyair hijā’ pada zaman Umawiyyah yang terkenal dengan kefasihan lafal-lafal gubahannya serta ditakuti bahkan oleh Farazdaq dan al-Muhallab ibn Abī Ṣafrah, mendendangkan sebuah syair yang ditujukan kepada suatu kaum sebagai berikut:

قضى الله خلق الناس ثم خلقتم     بقيّة خلق الله آخر آخر
فلم تسمعوا إلا الذي كان قبلكم      ولم تدركوا إلا مدقّ الحوافر

“Allāh mengendaki penciptaan manusia, kemudian kalian diciptakan | sebagai makhluk Allāh yang tertinggal, yang terakhir dari yang terakhir”.

“Tidaklah kalian mendengar kecuali orang-orang sebelum kalian | Kalian semua adalah orang-orang rendahan yang diinjak-injak oleh setiap lubang”.[72]

Adapun jika keakhiran itu dimaknai dari perspektif kebaikan dan kemuliaan, ini sangat bisa diterima. Artinya, Nabī MuḥammadSAW mewarisi dan menggabungkan semua kebaikan dan keistimewaan para nabī sebelum beliau. Tidak ada satu kebaikan atau keunggulan pun yang dimiliki oleh seorang nabī, melainkan beliau juga mempunyainya. Al-Qāḍī Ibn al-‘Arabī menulis:

العاقب والعقوب الذي يخلف في الخير من كان قبله .

“Al-‘Āqib dan al-‘Uqūb adalah dia yang meneruskan orang yang datang sebelumnya dalam hal kebaikan”.[73]

Oleh sebab itu, al-Imām asy-Sya‘rānī menarik sebuah kesimpulan yang sangat indah. Beliau mengungkapkan:

اعلم أنه صلى الله عليه وسلم نبي الأنبياء، فلم يخص نبي بشيئ إلا أن كان ذا الشيئ لمحمد صلى الله عليه وسلم بالأصالة.

“Ketahuilah! Bahwa beliau ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa sallama adalah nabī bagi semua nabī. Tidaklah seorang nabī diistimewakan dengan sesuatu, melainkan sesuatu itu pada asalnya untuk Nabī MuḥammadSAW”.[74]

Hal yang seirama juga diungkapkan oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Sayyidunā al-Imām al-Mahdīas, dalam sebuah bait dari al-Qāṣidah yang sangat masyhur dan tenar:

تمت عـليه صفات كل مـزية     ختمت به نعماء كل زمان

“Telah sempurna atas beliau sifat-sifat segala kemuliaan | Telah dimaterai dengan beliau nikmat-nikmat seluruh zaman”.[75]

Juga dalam sebuah bait dari syair berbahasa Farsi dalam kitab Ḍiyā’ al-Ḥaqq:

هر کمال رهبری بر و سی تمام     پاک روی و پاک رویان را امام

“Segala bentuk keistimewaan dari petunjuk dan kepimimpinan telah mencapai titik maksimumnya dalam diri beliau | Beliau adalah suci dan pemimpin orang-orang yang suci”.[76]

Dan di dalam Barāhīn-e-Aḥmadiyyah:

ختم شد بر نفس پاکش هر کمال     لاجرم شد ختم هر پیغمبر سی

“Di dalam pribadi beliau yang kudus, setiap keistimewaan mencapai akhirnya | Tidak ada keraguan, setiap nabī telah berkesudahan di dalam diri beliau”.[77]

Ḥadīts Keenam

Ḥadīts Muslim yang dikutip oleh Sdr. Agus justru berbanding lurus dan menyokong pendapat Ahmadiyah. Jika kita melihat khabar tersebut dari awal, apa yang kami tuliskan menjadi sangat terang-benderang. Kita membaca:

حدثني إسحاق بن منصور؛ حدثنا عيسى بن المنذر الحمصي؛ حدثنا محمد بن حرب؛ حدثنا الزبيدي؛ عن الزهري، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن وأبي عبد الله الأغر مولى الجهنيين، وكان من أصحاب أبي هريرة، أنهما سمعا أبا هريرة يقول: صلاة في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد، إلا المسجد الحرام، فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم آخر الأنبياء، وإن مسجده آخر المساجد.

“Isḥāq ibn Manṣūr menceritakan kepadaku; ‘Īsā ibn al-Mundzir al-Ḥimṣī menceitakan kepada kami; Muḥammad ibn Ḥarb menceritakan kepada kami; az-Zubaydī menceritakan kepada kami; dari az-Zuhrī, dari Abū Salamah ibn ‘Abd-ir-Raḥmān dan Abū Abdi-Llāh al-Aġarr Maulā orang-orang Juhaynah yang juga termasuk di antara para sahabat Ḥaḍrat Abū Hurayrahra, bahwa mereka berdua mendengar Ḥaḍrat Abū Hurayrahra berkata: Sekali shalat di Masjid Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW lebih baik daripada 1000 kali shalat di masjid-masjid yang lainnya, kecuali al-Masjid al-Ḥaram. Karena, Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW adalah yang terakhir dari para nabī, dan mesjid beliau adalah yang terakhir di antara masjid-masjid”.[78]

Jika kita mengartikan ḥadīts di atas secara tekstual, kita akan menemui kesulitan. Bukankah Masjid Nabawī adalah masjid kedua yang dibangun dalam sejarah Islām setelah Masjid Qubā’, dan sesudahnya berjuta-juta masjid dibangun sampai sekarang? Lalu, bagaimana bisa masjid beliau dikatakan sebagai masjid terakhir? Jadi, keakhiran masjid beliau tidaklah terletak pada keakhiran zamani. Apalah artinya keakhiran zamani itu. Justru, karena shalat di masjid beliau itu lebih afdhal 1000 kali dari shalat di masjid lainnya, itulah mengapa masjid beliau dinamai masjid terakhir. Yakni, masjid yang mencapai taraf dan puncak akhir dari kebajikan. Demikian juga Nabī MuḥammadSAW telah mencapai tingkatan teratas dan terakhir dari jenjang-jenjang keruhanian, yang dengannya beliau menungguli para nabī. Beliau telah mencapai Sidrat al-Muntahā dan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan. Sedemikian dekatnya hingga digambarkan layaknya jarak antara tali busur dengan badan busur. Pun, bila diartikan bahwa masjid beliau adalah yang terakhir dari masjid-masjid yang didirikan oleh para nabī, itu juga tidak bertentangan dengan pemaknaan di atas. Artinya, masjid beliau mengungguli semua masjid yang dibangun oleh para nabī terdahulu. Hal ini sama sekali tidak menihilkan tentang akan datangnya seorang nabī yang akan mendirikan masjid yang tidak lain dan tidak bukan adalah pelayan dan pembantu bagi Masjid Nabawī. Masjid itu akan mendapat cahaya keberkatan yang terpantul dari Masjid Nabawī, sehingga dikatakan tentangnya “Mubārikun Wa Mubārakun Wa Kullu Amrin Mubārakin Yuj‘alu Fīhi”. Ini telah tergenapi dengan didirikannya Masjid Mubārak oleh Ḥaḍrat al-Masīḥ al-Mau‘ūdas pada tahun 1882.

Ḥadīts Ketujuh

و حدثنا يحيى بن أيوب و قتيبة بن سعيد و علي بن حجر؛ قالوا: حدثنا إسمعيل وهو ابن جعفر؛ عن العلاء، عن أبيه، عن أبي هريرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: فضلت على الأنبياء بست، أعطيت جوامع الكلم، ونصرت بالرعب، وأحلت لي الغنائم، وجعلت لي الأرض طهورا ومسجدا، وأرسلت إلى الخلق كافة، وختم بي النبيون.

“Yaḥyā ibn Ayyūb, Qutaybah ibn Sa‘īd, dan ‘Alī ibn Ḥujr menceritakan kepada kami; mereka berkata; Isma‘īl (ibn Ja‘far) menceritakan kepada kami; dari al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, bahwa Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Aku diunggulkan di atas para nabī dengan 6 hal; Aku dianugerahi perkataan yang singkat lagi padat (al-Qur’ān), aku ditolong dengan ketakutan dalam hati musuh, harta rampasan perang dihalalkan untukku, bumi dijadikan suci dan masjid untukku, aku diutus untuk seluruh ummat manusia, dan para nabī dicap denganku”.[79]

Ḥadīts ini sejatinya mendukung qirā’at al-Imām ‘Āṣim yang membaca Sūrah al-Aḥzāb dengan tā’ yang di-fatḥah-kan (Khātam-an-Nabiyyīn)[80]. Artinya, NabīSAW diposisikan sebagai khātam (stempel/cap/materai). Sebagaimana stempel atau cap biasa digunakan untuk melegitimasi dan mensahkan sesuatu, demikian juga Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW mensahkan kenabīan para nabī yang datang sebelum beliau. Beliau mengukuhkan posisi mereka dan membersihkan diri mereka dari aib-aib khayali yang disematkan oleh para musuh mereka, atau bahkan dari para pengikut yang telah menyimpang. Terlebih lagi, beliau menyuruh ummat beliau untuk beriman, menghormati, dan menyampaikan salam kepada mereka setiap kali nama mereka disebut. Jika bukan karena beliau, kita mungkin tidak tahu apakah nabī-nabī yang tercantum dalam kitab-kitab terdahulu benar atau tidak. Lebih jauh lagi, kita mungkin tidak akan pernah mengetahui apakah Tuhan benar-benar eksis atau tidak. Seperti kita ketahui, banyak di antara nabī-nabī terdahulu yang difitnah dan dicemarkan sedemikian hebatnya. Misalnya, Nabī Nūḥas dituduh mabuk hingga terlihat aurat beliau oleh anak atau cucu beliau[81]. Nabī Lūṭas dituduh meniduri 2 anak kandung beliau sendiri[82]. Nabi ‘Īsāas dituduh sebagai anak zina[83] dan penjahat yang mati terlaknat di tiang salib[84]. Ma‘ādza-Llāh! Seandainya beliau tidak datang, kita mungkin akan menelan bulat-bulat apa yang keluar dari mulut para Ahli Kitab. Inilah arti dari bahwa para nabī di-khatam-kan dengan kehadiran beliau. Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan dalam ḥadīts bahwa kelak di Hari Kiamat, Nabī Nūḥas akan ditanyai apakah beliau sudah menunaikan tugas beliau dan menyampaikan risālah ilāhiyyah kepada kaum beliau atau belum. Beliau menjawab ya, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Lalu, taktala kaum beliau ditanya apakah benar Nabī Nūḥas telah mengejarkan apa yang beliau katakan, mereka mengelak dan menyangkal. Ketika Nabī Nūḥas ditanya kembali dan dihadapkan dengan jawaban dari kaum beliau, beliau memohon kepada NabīSAW dan ummat Islām untuk bersaksi bahwa beliau telah menyempurnakan tugas. Maka, Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama dan ummat beliau bersaksi untuk Nabī Nūḥas berdasarkan apa yang termaktub di dalam al-Qur’ān. Pada akhirnya, Allāh membenarkan kesaksian Ḥaḍrat NabīSAW dan ummat beliau tentang Nabī Nūḥas[85]. Kisah ini menyokong pemaparan yang kami sebutkan di atas. Ringkasnya, maksud ḥadīts yang Sdr. Agus kutip adalah bahwa para nabī dikukuhkan eksistensinya dan dibersihkan dari segenap fitnah dan tuduhan berkat kedatangan Nabī Besar MuḥammadSAW.

Hal ini perlu diperhatikan bahwa mengartikan NabīSAW sebagai penutup (khātim) dalam konteks khabar tersebut adalah sama sekali salah, karena beliau dalam i‘rāb ḥadīts itu menempai posisi majrūr bi ḥarfin jarr dan para nabī menduduki pos nā’ib al-fā‘il. Seandainya NabīSAW adalah penutup, seharusnya beliau menempati posisi fā‘il ḍamīr mustatir mutakallim dan para nabī berada dalam pos maf‘ūl bihi manṣūb (khatamtu an-nabiyyīn). Jika pemaknaan penutup didasarkan atas konteks Sūrah al-Aḥzāb ayat 33, hal itu baru dapat diterima. Qirā’at-qirā’at imām-imām lain juga ada yang membacanya dengan khātim-un-nabyyīn. Namun, kepenutupan beliau ini tidak menutup kedatangan nabī sesudah beliau, sebab yang ditutup oleh beliau adalah kedatangan para nabī sebelum beliau. Dengan kata lain, partikel alif lām dalam kata an-nabiyyīn memberikan faedah al-‘ahd, yakni hanya ditujukan untuk para nabī yang datang sebelum beliau. Artinya, pintu kedatangan yang kedua kali bagi nabī-nabī terdahulu sudah terkunci rapat. As-Samīn al-Ḥalabī, mufassir dan linguist besar abad 6 H, menulis dalam salah satu karya besarnya, ‘Umdat al-Ḥuffāẓ:

فمعنى الكسر أنه ختم من تقدمه من الأنبياء والمرسلين.

“Makna dari kasrah (khātim) adalah bahwa beliau menutup kedatangan para nabī dan rasūl yang mendahului beliau”.[86]

Keterangan ini sebaliknya “menyerang” orang-orang yang kontra terhadap Ahmadiyah. Pasalnya, mereka berkeyakinan bahwa al-Masīḥ ibn Maryamas, yang diutus kepada Banī Isrā’īl 2000 tahun yang silam, masih hidup di langit hingga hari ini dan kelak akan turun kembali ke bumi untuk kedua kalinya. Padahal, Yang Mulia Nabī MuḥammadSAW adalah khātim, penutup dan pengunci pintu kedatangan para nabī terdahulu, termasuk Nabī ‘Īsāas. Bahkan, dalam ḥadīts lain, beliau menyebut diri beliau sebagai fātiḥ (pembuka) dan khātim (penutup)[87]. Artinya, beliau telah menutup pintu datangnya nabī-nabī terdahulu dan corak kenabīan mereka, dan membuka pintu bagi hadirnya nabī-nabī baru dengan corak kenabīan yang baru pula.

Ringkasnya, ḥadīts yang dipakai oleh Sdr. Agus sama sekali tidak mengena dengan topik permasalahan. Atau mungkin juga Sdr. Agus kurang teliti membacanya. Dalam istilah ilmu manṭiq, ini dinamakan dengan al-istidlāl fī ġayri mauḍi‘ihi, pemakaian dalil yang tidak pada tempatnya.

Pun, jika kita berkompromi dengan Sdr. Agus bahwa ḥadīts ini menunjukkan kepenutupan NabīSAW atas kedatangan nabī-nabī, ini juga tak berarti bahwa beliau menutup pintu segala jenis kenabīan. Yang ditutup oleh beliau hanyalah kenabīan tanpa syarī‘at saja. Asy-Syakh Syāh Waliyu-Llāh ad-Dahlawī menulis:

وختم به النبيون: أي لا يوجد من يأمره الله سبحانه بالتشريع على الناس.

“Dan para nabī dicap dengan beliau, yakni seseorang yang Allāh SubḥānaHū utus kepada manusia dengan syarī‘at baru tidak akan didapati lagi”.[88]

Ḥadīts Kedelapan

حدثنا قتيبة بن سعيد؛ حدثنا إسماعيل بن جعفر؛ عن عبد الله بن دينار، عن أبي صالح، عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتا فأحسنه وأجمله إلا موضع لبنة من زاوية، فجعل الناس يطوفون به ويعجبون له ويقولون: هلا وضعت هذه اللبنة ؟ قال: فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين.

“Qutaybah ibn Sa‘d menceritakan kepada kami; Ismā‘īl ibn Ja‘far menceritakan kepada kami; dari ‘Abdu-Llāh ibn Dīnār, dari Abū Ṣāliḥ, dari Ḥaḍrat Abū Hurayrahra, bahwa Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Perumpamaanku dengan nabī-nabī sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah. Dia memperbaguskannya dan mempercantiknya, tetapi terdapat kekurangan sebuah batu bata pada salah satu sudut dari rumah itu. Orang-orang mulai mengitari rumah itu dan merasa kagum melihat keindahannya, namun mereka bertanya-tanya: Kenapa batu bata yang satu itu belum juga terpasang? Ḥaḍrat NabīSAW bersabda: Akulah satu batu yang kurang itu dan akulah Khātam-un-Nabiyyīn”.[89]

Seandainya Sdr. Agus sedikit lebih tenang dan seksama dalam membaca ḥadīts ini, beliau pasti akan mendapati dengan jelas bahwa NabīSAW men-takhṣīṣ nabī-nabī yang beliau maksud, yakni nabī-nabī yang datang sebelum beliau saja. Seandainya kita mengartikan khātamiyyat beliau dalam konteks khabar tersebut sebagai penutup pintu kedatangan nabī-nabī sesudah beliau, sungguh kurang tepat. Sebelum mengambil konklusi, kita harus memperhatikan siyāq ḥadīts tersebut. Ḥadīts itu sejatinya tidak berbicara sama sekali tentang tertutupnya pintu kenabīan. Namun, jika kita lebih dalam menelaahnya, kita akan menampak bahwa ḥadīts itu berbicara tentang kesempurnaan Islām. Rumah yang dimaksud dalam khabar itu adalah agama, sedangkan pembangunnya adalah Allāh. Batu-batu yang digunakan untuk membangun rumah itu adalah nabī-nabī yang membawa syarī‘at. Begitu banyak nabī-nabī yang membawa syarī‘at datang, namun mereka tidak membawa suatu agama yang kāmil (paripurna) dan syāmil (universal), karena mereka hanya diutus untuk suatu kaum tertentu saja dan dengan ajaran yang sesuai dan keadaan kaum tersebut. Ketika zaman telah menghendaki akan hadirnya suatu ajaran yang benar-benar sempurna dan menyeluruh, Nabī MuḥammadSAW diutus dari keharibaan Tuhan, layaknya sebuah batu yang digunakan untuk menyempurnakan bangunan sebuah rumah dan menjadikannya utuh, taktala para penghuninya telah membutuhkan satu rumah yang komplit dan benar-benar bebas dari cacat dan kejomplangan. Oleh karena itu, Nabī MuḥammadSAW disebut sebagai penyempurna agama-agama yang dibawa oleh nabī-nabī masa lampau, dan Islām dinamakan agama paling sempurna. Inilah makna khātam-un-nabiyyīn sesuai dengan khabar itu. Asy-Syarīf ar-Raḍī, sarjana ilmu-ilmu al-Qur’ān abad 4 H, menjelaskan dengan jombang sama persis dengan apa yang kami utarakan di atas:

وهذه استعارة، والمراد بها أن الله جعله صلى الله عليه حافظا لشرائع الرسل عليهم السلام وكتبهم وجامعا لمعالم دينهم وآياتهم، كالخاتم الذي يطبع به على الصحائف وغيرها، ليحفظ ما فيها ويكون علامة عليها.

“Ini adalah suatu isti‘ārah (kiasan). Dan, yang dimaksudkan dengannya adalah bahwa Allāh menjadikan beliau ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama penjaga bagi syarī‘at-syarī‘at para rasūl ‘alayhim aṣ-ṣalāh wa as-salām dan kitab-kitab mereka dan pengumpul bagi ajaran-ajaran agama dan tanda-tanda mereka, sebagaimana cap/materai yang ditempelkan di atas surat-surat agar apa yang ada di dalamnya terjaga dan agar ia (cap/materai itu) menjadi tanda atasnya (surat-surat)”.[90]

Atas dasar ini, al-Imām ar-Rāġib al-Iṣfahānī, seorang ahli bahasa besar abad 5 H, menafsirkan khātam-un-nabiyyīn dalam magnum opusnya, al-Mufradāt Fī Ġarīb al-Qur’ān, sebagai berikut:

خاتم النبيين أي تممها بمجيئه.
“Khātam-un-nabiyyīn: Yakni, beliau (MuḥammadSAW) menyempurnakan kenabīan dengan kedatangan beliau”.[91]

Para ṣūfī pun mengatakan hal yang serupa. Ibn Khaldūn mencatat dalam al-Muqaddimah nan terkenal itu:

النبي الذي حصلت له النبوة الكاملة.

“Nabī yang mendapat kenabīan yang paripurna”.[92]

Sayyidunā Aḥmad al-Qādiyānīas bersabda:

“Inti dari agama kami adalah: Lā Ilāha Illa-Llāh Muḥammad Rasūlu-Llāh. Dan, sesungguhnya kepercayaan kami, yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allāh, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di muka bumi ini, adalah bahwa Sayyidunā Wa Maulānā Muḥammad  al-MuṣṭafāSAW adalah Khātam-un-Nabiyyīn dan Khayr-ul-Mursalīn, yang di tangan beliau, agama menjadi sempurna. Dan, di tangan beliau pula telah paripurna nikmat yang melalui perantaraannya manusia dapat sampai kepada Tuhan dengan menapaki jalan yang lurus yang telah disediakan olehnya”.[93]

Jelaslah bahwa makna khātam-un-nabiyyīn yang sejati, berdasarkan konteks khabar tersebut, adalah bahwa Baginda NabīSAW merupakan nabī yang memiliki kenabīan paripurna dan membawa agama sempurna. Syarī‘at yang beliau bawa di satu sisi membatalkan (naskh) syarī‘at-syarī‘at nabī-nabī terdahulu yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban manusia, dan di sisi lain menghidupkan kembali nilai-nilai universal dan abadi yang terkandung dalam ajaran-ajaran mereka. Maka dari itu, beliau di sebut sebagai Khayr-ul-Mursalīn. Abū al-Baqā’ berujar dalam al-Kulliyyāt:

والأحسن أنه من الكتم، لأنه ساتر الأنبياء بنور شريعته، كالشمس تستتر بنورها الكواكب، كما أنها تستضيء بها.

“Yang paling bagus adalah bahwa ia (khātam) berasal dari katama. Karena, beliau menutupi para nabī dengan cahaya syarī‘at beliau, seperti matahari yang menutupi planet-planet dengan cahayanya, juga seperti planet-planet itu mendapat cahayanya”.[94]

Ḥadīts Kesembilan

حدثنا قتيبة؛ حدثنا حماد بن زيد؛ عن أيوب، عن أبي قلابة، عن أبي أسماء الرحبي، عن ثوبان، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي بالمشركين وحتى يعبدوا الأوثان، وإنه سيكون في أمتي ثلاثون كذابون كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين لا نبي بعدي.

“Qutaybah menceritakan kepada kami; Ḥammād ibn Zayd menceritakan kepada kami; dari Ayyūb, dari Abū Qilābah, dari Abū Asmā’ ar-Rajī, dari Ḥaḍrat Tsaubānra, beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Kiamat tidak akan terjadi hingga beberapa kabilah dari ummatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan mereka menyembah berhala-berhala. Dan, sesungguhnya 30 pendusta akan muncul di dalam ummatku. Setiap mereka menganggap dirinya nabī, padahal aku adalah Khātam-un-Nabiyyīn, tidak ada lagi nabī sesudahku”.[95]

Sepintas, tidak ada masalah dalam ḥadīts ini. Sayangnya, Sdr. Agus terkecoh dengan bagian akhirnya. Padahal NabīSAW telah membatasi jumlah para nabī palsu itu menjadi hanya 30. Artinya, bisa saja terdapat pendakwa nubuwwah yang benar di luar 30 orang itu. Karena, apa yang diluar pembatasan (taḥdīd) masuk ke dalam lingkup posibilitas (iḥtimāl). Sebenarnya, bila Sdr. Agus senang mencermati kitab-kitab sejarah, 30 dajjāl itu telah keluar dan kebenaran khabar ini sudah terbukti sejak lama. Seorang hakim Madzhab Mālikī di tanah Andalus yang terkenal, yang juga merupakan muḥaddīts dan ahli bahasa abad 6 H, al-Qāḍī ‘Iyāḍ, menegaskan dalam karya beliau Ikmāl al-Mu‘lim bahwa validitas ḥadīts ini telah terbukti. Beliau mengatakan:

هذا الحديث قد ظهر، فلو عد من تنبأ من زمن النبي إلى الآن ممن اشتهر وعرف بذلك واتبعه جماعة على ضلالته لوجد هذ العدد فيهم، ومن طالع كتب الخبر والتاريخ عرف صحة هذا.

“Ḥadīts ini telah terjadi. Sekiranya orang-orang yang masyhur dan terkenal mengaku sebagai nabī dan diikuti oleh sekelompok orang atas kesesatan mereka dihitung dari zaman NabīSAW sampai sekarang, pastilah jumlah ini ditemukan dalam diri mereka. Barangsiapa yang senang menelaah kitab-kitab khabar dan tārīkh, dia pasti mengetahui validitas ḥadīts ini”.[96]

Artinya, dalam jangka waktu 500 tahun, kebenaran ḥadīts ini telah terbukti. Lantas, orang-orang yang mengaku sebagai nabī di atas abad ke-6 masuk ke dalam ruang lingkup iḥtimāl, bisa benar bisa tidak. Acuan untuk mengetahui benar-tidaknya seorang pendakwa adalah al-Qur’ān. Allāh berfirman:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ﴿﴾ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ﴿﴾ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ ﴿﴾ فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ ﴿﴾

“Dan sekiranya dia mengada-adakan atas nama Kami sebagian perkataan. Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan. Kemudian, tentulah Kami memotong urat nadinya. Dan tiada seorang pun di antara kalian dapat mencegah darinya”. [Sūrah al-Ḥāqqah {69}:45-48]

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa para muftarī dan para pengikut mereka tidak akan berhasil. Bahkan, Tuhan akan menghukum mereka di dunia dan di akhirat dua-duanya. Mustahil Tuhan akan berdiam diri melihat seorang pendusta yang mengaku sebagai nabī menyesatkan banyak orang. Mustahil pula dia diberi kesempatan dan umur panjang untuk melancarkan aksi-aksinya. Sebagian ‘ulamā’ telah menetapkan bahwa masa paling lama bagi seorang nabī palsu untuk bertahan dari awal dia mengumandangkan pengakuan sampai azab Allāh mencengkramnya adalah 23 tahun, sesuai dengan masa dari awal pendakwaan Nabī MuḥammadSAW sampai kewafatan beliau[97]. Berdasarkan kriteria-kriteria ini, kita dapat melakukan eksaminasi terhadap setiap orang yang mengaku sebagai nabī.

Sejarah mencatat bahwa nabī-nabī palsu tidak pernah bisa lepas dari ketentuan ini. Di antara mereka ada yang diazab karena telah melampaui batas, di antara mereka ada juga yang bertaubat dan kembali kepada Islām, ketika keinsafan telah menghinggapi hati mereka. Contoh dari jenis awal adalah Musailamah ibn Ḥabīb al-Yamāmī yang digelari oleh NabīSAW dengan sebutan al-Kadzdzāb. Taktala kejahatannya telah melampau batas, bahkan sampai membunuh seorang ṣaḥābī terkasih, Ḥabīb ibn Zaydra, dan merampok beberapa kabilah-kabilah Islām, dia dan 40.000 pengikutnya akhirnya tewas dalam Perang Yamāmah di bawah komando Sayfu-Llāh al-Maslūl Khālid ibn al-Walīdra. Contoh dari tipe kedua adalah Ṭulayḥaḥ ibn Khuwaylid al-Asadī. Pada awalnya, dia adalah dukun yang masuk Islām, lalu murtad kembali. Kemudian, dia mengaku sebagai nabī di Najd dan berperang melawan pasukan Islām. Kelanjutannya, dia mengalami kekalahan dan terlantar di jalanan Syām, sebelum akhirnya diselamatkan dan dirawat oleh kabilah Ġassān hingga kembali menjadi muslim. Dia selalu merasa malu untuk menatap wajah Khalīfah Abū Bakrra di setiap pertemuan sampai akhir hayat beliau karena dosa-dosanya di masa lalu. Keinsafannya semakin mantap dan terbukti dengan keikutsertaannya dalam Perang Qādisiyyah dan Nawāhand. Dia pun gugur pada Perang Nawāhand sebagai syahīd. Keberaniannya disejajarkan dengan kekuatan 1000 pasukan berkuda.

Perlu diperhatikan pula bahwa 30 orang pendusta itu sejatinya mengaku sebagai nabī yang membawa syarī‘at baru dan mengubah syarī‘at Islām. Misalnya, Musailamah dan Sājah bint al-Ḥārits yang menghapuskan shalat ‘Aṣar, Ṭulayhah menghilangkan kewajiban sujud dalam shalat dan kewajiban zakat bagi orang-orang kaya, dll. Ringkasnya, 30 pendusta dan nabī palsu yang dimaksud oleh NabīSAW adalah nabī yang membawa syarī‘at baru.

Para pembaca dipersilahkan untuk mengeksaminasi Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmadas dan membandingkan beliau dengan para nabī palsu tersebut. Aḥmadas mulai mempublikasikan wahyu-wahyu yang beliau terima pada 1880 dengan diterbitkannya Barāhīn-e-Aḥmadiyyah volume pertama. Beliau pertama kali mendakwakan diri pada 1882, sebagai mujaddid abad 14 H. Beliau wafat pada 1908. Artinya, ada gap 25 tahun antara pendakwaan beliau pertama kali sampai kemangkatan beliau. Dari sini, persyaratan 23 tahun telah terpenuhi. Juga, pada awal pendakwaan beliau, tidak ada sedikitpun teman atau sahabat di samping beliau, kecuali satu dua orang saja. Pada 1889, ketika Jemaat Ahmadiyah terbentuk, orang-orang yang bai‘at di tangan beliau pun hanya 40 orang. Taktala beliau berpulang ke rahmat Allāh, 400.000 jiwa di bumi Hindustan menangis sedih karena ditinggal oleh beliau. Sekarang, di masa beberkat Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ al-Khāmis Mirzā Masroor Aḥmadatba, orang-orang yang beriman kepada beliau telah menembus angka 200.000.000 lebih di 206 negera di seluruh dunia. Tanah kelahiran beliau, Qadian, yang tadinya tak lebih dari dusun terpencil yang sama sekali tak dikenal, menjadi tenar seantero negeri bahkan dunia dan maju pesat dalam pembangunan. Puluhan ribu orang berkunjung ke sana ketika Jalsah Salanah tiba pada Desember tiap tahunnya. Ringkasnya, kebenaran pendakwaan beliau telah terbukti, baik secara ‘aqlī maupun naqlī. Jika ada di antara pembaca yang masih belum percaya, saudara bisa memohon petunjuk secara langsung kepada Allāh ‘Azza Wa Jalla melalui medium shalat Tahajjud dan Istikhārah. Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan keinginan baik para pencari kebenaran.

Ḥadīts Kesepuluh

Penjelasan untuk atsar dari Ibn ‘Abbāsra ini sebenarnya sudah tercakup dalam keterangan-keterangan yang kami berikan di atas. Sedikit kami ingin menambahkan perkataan dari Sayyidunā Aḥmadas sebagai tafsir dari statement Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra. Beliau bersabda:

وإن نبينا خاتم الأنبياء، لا نبي بعده، إلا الذي ينور بنوره، ويكون ظهوره ظل ظهوره.

“Sesungguhnya Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa sallama adalah Khātam-ul-Anbiyā’, tidak ada lagi nabī sesudah beliau. Kecuali dia yang dicahayai dengan cahaya beliau dan kehadirannya adalah bayangan bagi kehadiran beliau”.[98]

Lagi, beliau bersabda:

نعني بختم النبوة ختم كمالاتها على نبينا الذي هو أفضل رسل الله وأنبيائه، ونعتقد أنه لا نبي بعده إلا الذي من أمته ومن أكمل أتباعه، الذي وجد الفيض كله من روحانيته وأضاء بضيائه.

“Kami memaknai khatm-un-nubuwwah dengan dimaterainya kesempurnaan-kesempurnaan kenabīan oleh Nabī kita ‘ayahi afḍal aṣ-ṣalāh wa azkā as-salām, yang mana beliau merupakan yang terbaik dari antara para rasūl dan nabī Allāh ‘alayhim as-salām. Kami juga berakidah bahwa tidak ada nabī lagi sesudah beliau, kecuali dia yang berasal dari ummat beliau dan dari antara pengikut beliau yang paling sempurna, yang telah mendapatkan semua pancaran (fayḍ) dari keruhanian beliau dan telah disinari oleh sinar beliau”.[99]

Setiap nabī memiliki 2 kehidupan, kehidupan badani (al-ḥayāt al-jasadiyyah) dan kehidupan ruhani atau pancaran (al-ḥayāt al-fayḍāniyyah). Kehidupan fisik terhenti taktala sang nabī wafat. Namun, kehidupan ruhani akan terus berlangsung dan menjelma di dalam wujud orang-orang yang fana dan mencintai sang nabī sedemikian kuatnya, sehingga bagaikan yang dikatakan oleh Ibn Ḥazm:

كما صار لون الماء لون إنائه     وفي الأصل لون الماء أبيض معجب

“Bak warna air yang berubah menjadi warna dari wadahnya | Padahal warna air pada aslinya adalah putih nan bening”. [100]

Orang-orang yang telah tercelup ke dalam warna RasūlSAW, mereka itulah manifestasi dari al-ḥayāt al-fayḍāniyyah beliau. Bagaikan bulan yang memantulkan cahaya dari matahari, mereka adalah pemantul cahaya agung dari as-Sirāj al-MunīrSAW di tengah gulitanya malam yang membalut kehidupan manusia. Sebagaimana kita melihat penampakan Tuhan (at-tajalliyyat al-ilāhiyyah) dalam wujud suci Nabī Besar MuḥammadSAW secara hakiki, pun kita melihat penampakan itu dalam wujud Abū Bakrra, ‘Umarra, ‘Utsmānra, ‘Alīra, Ibn Sīrīnrh, al-Ḥasan al-Baṣrīrh, ‘Umar ibn ‘Abd-il-‘Azīzrh, al-Junaydrh, Bayāzīd al-Biṣṭāmīrh, al-Ḥallājrh, dll secara ẓillī (bayangan). Ini semata-mata disebabkan oleh pancaran khātamiyyat beliau yang menghendaki dibangkitkannya orang-orang yang memiliki kekuatan kenabīan (quwwah nabawiyyah). Sebegitu kuatnya, sehingga mereka menyerupai nabī-nabī Banī Isrā’īl. Karena pancaran ini, Nabī kita ṣalawātu-Llāh ‘alayhi digelari sebagai satu-satunya nabī yang hidup dan memiliki kehidupan sampai Hari Penghabisan. Buah-buah milik nabī-nabī terdahulu sudah layu, kering, dan busuk. Tetapi, pohon MuḥammadSAW senantiasa memproduksi buah-buah yang baru, segar, dan manis. Inilah sejatinya hakikat khātam-un-nabiyyīn. Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Ḥaḍrat al-Imām al-Mahdīas bersabda:

والصلوة والسلام على خاتم الرسل الذي اقتضت ختم نبوته، أن تبعث مثل الأنبياء من أمته، وأن تنور وتثمر إلى انقطاع هذا العالم أشجاره، ولا تعفى آثاره، ولا تغيب تذكاره.

“Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah kepada Khātam-ur-Rusul, yang cap/materai kenabīannya menghendaki agar orang-orang yang menyerupai para nabī dibangkitkan dari antara ummat beliau, agar pohon-pohon beliau beliau selalu bercahaya dan berbuah hingga berhentinya alam ini, agar jejak-jejak beliau tidaklah lenyap, dan agar memento tentang beliau tidaklah hilang”.[101]

Pancaran ini menjadi terang seterang-terangnya ketika al-Masīḥ al-Mau‘ūdas, yang adalah bagaikan bulan purnama yang dengan sempurna memantulkan cahaya matahari, diutus. Beliau adalah manifestasi yang sebenarnya dari al-ḥaqīqat al-muḥammadiyyah. Beliau adalah refleksi sempurna, persis tiada cacat, dari Baginda Nabī MuḥammadSAW. Kecintaan terhadap Sang Junjungan telah sedemikian merasuknya ke dalam hati beliau, hingga tidak tersisa satu relung sedikit pun bagi orang lain. Kecintaan itu terlukiskan dalam bait syair berbahasa Urdu ini:

بعد از خدا بعشق محمدؐ مخمرم     گر کفر ایں بود بخدا سخت کافرم

“Setelah Tuhan, aku mabuk dengan cinta terhadap MuḥammadSAW | Bila ini adalah kekafiran, aku adalah orang yang paling kafir!”.[102]

Kaifiyyat cinta itu terlukis dalam bait-bait indah ini:

أنظر إلي برحمة وتحنن     يا سيدي أنا أحقر الغلمان
يا حبي إنك قد دخلت محبة     في مهجتي ومداركي وجناني
من ذكر وجهك يا حديقة بهجتي     لم أخل في لحظ ولا في آن
جسمي يطير إليك من شوق علا     يا ليت كانت قوة الطيران

“Pandanglah kepadaku dengan rahmat dan kasih sayang | Wahai Tuanku! Aku adalah abdimu yang paling hina”.

“Wahai Kekasihku! Sesungguhnya engkau telah merasuk sebagai suatu cinta | Ke dalam sanubariku, ingatan-ingatanku, dan hatiku yang paling dalam nan tersembunyi”.

“Dalam ingatan kepada engkau, wahai Kebun Hatiku! | Tak pernah diriku kosong darinya, tak sesaat juga tak sekejap”.

“Tubuhku ingin terbang kepada engkau karena cintanya | Aduhai! Kiranya diriku memiliki kekuatan untuk terbang!”.[103]

Dalam menghadapi cercaan dan makian yang ditunjukan kepada BagindaSAW, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmadas bersabda:

“Para misionaris Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasūl kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama. Dan, dengan perantaraan kedustaan ini, mereka menyesatkan banyak sekali ummat manusia. Tidak pernah satu hal pun melukai hatiku seperti halnya olok-olok dan caci-maki mereka yang terus dilontarkan untuk merendahkan keagungan Rasūl SuciSAW. Kezaliman, laknat, dan cacian yang mereka lontarkan kepada dzat dan sifat-sifat Ḥaḍrat Khayr-ul-BasyarSAW (Sebaik-baik Manusia) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabatku, dan para asisten dan pegawaiku dibunuh di hadapan mataku, tanganku dan kakiku juga dipotong, dan bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku dimahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat ar-Rasūl al-AkramSAW dihujani dengan kekotoran seperti itu. Walhasil, wahai Junjungan Samāwīku! Pandanglah kami dengan pandangan rahmat dan pertolongan dan selamatkanlah kami dari ujian yang sangat berat ini!”.[104]

Di dalam risalah perdamaian untuk mendamaikan orang-orang Islām dan Hindu, Piaġam-e-Ṣulḥ, yang beliau tulis sehari sebelum kemangkatan beliau, beliau dengan penuh keagungan dan jalāliyyat bersabda:

“Aku katakan dengan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan serigala buas. Tetapi, kami tak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabī MuḥammadSAW yang kami cintai, wujud yang lebih kami hargai dari kehidupan kami dan orang tua kami”.[105]

Bersebab ‘isyq yang demikian hebatnya ini, beliau telah menyatu dengan wujud NabīSAW. Layaknya seorang yang melihat dirinya seolah-olah menjadi dua di depan cermin, padahal dia tetap satu adanya, pun demikian halnya dengan al-Imām al-Mahdīas, yang sejatinya adalah Nabī MuḥammadSAW sendiri secara burūzī (cerminan). Mereka berdua memang terpisah secara raga, tapi bersatu dalam cinta dan spiritualitas. Inilah mengapa Yang Mulia Nabī MuḥammadSAW bersabda bahwa al-Masīḥas akan dikuburkan dalam satu liang bersama beliau, yakni karena spiritualitas al-Masīḥ al-Mau‘ūdas telah menyatu dengan beliau sedemikian rupa, sehingga seolah-olah mereka berdua telah menjadi satu entitas dan diciptakan dari jauhar yang sama[106].

Ringkasnya, khātamiyyat NabīSAW menuntut hadirnya murid-murid hebat yang bahkan menyerupai nabī-nabī Ibrani dalam berbagai corak. Dengan demikian, kehidupan ruhani beliau bisa tetap berlangsung. Guru yang hebat adalah guru yang dapat menjadikan murid-muridnya hebat pula. Guru yang tidak memiliki kapasitas pasti tak mampu mengangkat murid-muridnya. Karena Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama adalah guru yang terbaik dari guru-guru yang terbaik, wajiblah bagi beliau untuk menghasilkan murid-murid yang jauh lebih baik dari guru-guru lainnya. Ini termanifestasikan dengan dibangkitkannya para ‘ulamā’ pewaris para nabī, yang dalam berbagai corak menyerupai nabī-nabī Banī Isrā’īl, sehingga disebut sebagai nabī bi al-quwwah atau an-nabī al-‘ām dalam pandangan Muḥyi-id-Dīn Ibn ‘Arabī. Namun, perlu diingat bahwa nabī bi al-quwwah bukanlah nabī dalam artian sebenarnya, karena dia tidak dipanggil oleh Allāh sebagai nabī dan tidak diutus oleh-Nya. Istilah itu disematkan semata-mata karena dia telah mencapai maqām nubuwwah dan memiliki kekuatan kenabīan. Mereka tidak diutus sebagai nabī karena zaman ketika mereka hidup tidak menuntut kehadiran seorang nabī[107].

Perihal fatwa takfīr yang diberikan kepada Jemaat Ahmadiyah, ini adalah salah satu konsekuensi yang memang harus dipikul oleh para pengikut seorang nabī yang benar. Dalam al-Qur’ān, kita membaca:

كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ ﴿﴾

“Setiap kali datang kepada mereka seorang rasūl dengan apa-apa yang tidak berkenan di hati mereka, mereka mendustakan sebagian dan mereka membunuh sebagian”. [Sūrah al-Mā’idah {5}:71]

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ ﴿﴾

“Ah, sayang bagi hamba-hamba-Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasūl, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya”. [Sūrah Yāsīn {36}:31]

Lagi:

وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ ﴿﴾

“Dan kebanyakan dari mereka membenci kebenaran”. [Sūrah al-Mu’minūn {23}:71]

Bercermin dari sunnatu-Llāh ini, Ḥaḍrat Aḥmadas dengan lantang dan penuh keteguhan bersabda:

“Dunia tidak dapat menerimaku, karena aku tidak berasal dari dunia ini. Tetapi, mereka yang dianugerahi walau hanya sedikit kadar dari akhirat, mereka adalah orang-orang yang telah dan akan menerimaku. Barangsiapa yang menolakku, dia menolak Dia Yang Mengutusku. Barangsiapa yang melawanku, dia melawan Dia yang aku wakili. Aku membawa suluh yang akan menerangi orang-orang yang datang mendekat kepadaku. Namun, barangsiapa yang menaruh syak-wasangka dan keraguan, lalu melarikan diri, dia akan dicampakkan ke dalam kegelapan. Aku adalah Benteng Yang Tak Dapat Ditembus pada zaman ini. Barangsiapa yang masuk ke dalam kandangku, dia akan dilindungi dari para penyamun, perampok, dan binatang-binatang liar”.[108]

Adapun pendapat jumhūr dan mayoritas, hal itu sama sekali tak dapat digunakan sebagai dalil atau hujjah untuk memutuskan sesuatu. Allāh berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ ﴿﴾

“Dan, jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allāh. Tiada lain yang mereka ikuti melainkan prasangka dan mereka tiada lain kecuali berdusta”. [Sūrah al-An‘ām {6}:118]

Al-Imām asy-Syaukanī, faqīh dan muḥaddits abad 13 H asal Yaman, menulis dalam Irsyād al-Fuḥūl:

قول الأكثر ليس بحجة.

“Perkataan mayoritas bukanlah hujjah”.[109]

Seandainya Sdr. Agus ingin meneliti lebih cermat, kami yakin sumber-sumber primer dari Jemaat Ahmadiyah sangat terbuka bagi umum. Beliau dan para pembaca bisa menelaah dengan mata telanjang apa itu Ahmadiyah. Sayangnya, karena sudah ada prakonsepsi dan kesalahkaprahan bahwa Ahmadiyah itu sesat dan menyesatkan, banyak orang yang menjadi enggan dan bersikap apatis. Apapun dalil yang dikemukakan oleh pihak Ahmadiyah, hampir selalu tak dianggap dan tak digubris. Kami teringat akan sebuah bait syair dari al-Mutanabbī:

وكم من عائب قولا صحيحا    وآفته من الفهم السقيم

“Berapa banyak para pencela satu perkataan yang benar | Padahal penyebabnya berasal dari pemahaman yang sakit”.[110]

Di bawah ini, kami akan membantah bantahan-bantahan Sdr. Agus Efendi terhadap hal-hal yang dianggap oleh beliau sebagai ‘syubhat’. Padahal, seandainya beliau menjernihkan hati sebelum menelaah hal-hal itu, beliau pasti tidak akan melabelinya dengan kata ‘syubhat’. Wa-Llāhu al-Muwāfiq!

Bantahan Pertama

‏حدثنا ‏عبد القدوس بن محمد؛ ‏‏حدثنا ‏داود بن شبيب الباهلي؛ ‏حدثنا ‏إبراهيم بن عثمان؛ ‏حدثنا ‏الحكم بن عتيبة؛ ‏عن‏ ‏مقسم، ‏عن‏ ‏ابن عباس، ‏قال: ‏لما مات ‏إبراهيم ابن رسول الله ‏صلى الله عليه وسلم‏ ‏صلى عليه رسول الله ‏صلى الله عليه وسلم، ‏وقال: إن‏ ‏له مرضعا في الجنة، ولو عاش لكان صديقا نبيا، ولو عاش لعتقت أخواله القبط وما استرق قبطي.

“ ‘Abd-ul-Quddūs ibn Muḥammad menceritakan kepada kami; Dāwūd ibn Syabīb al-Bāhilī menceritakan kepada kami; Ibrāhīm ibn ‘Utsmān menceritakan kepada kami; al-Ḥakam ibn ‘Utaybah menceritakan kepada kami; dari Miqsam, dari Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra, beliau berkata: Taktala Ibrāhīm putra Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW wafat, Rasūlu-LlāhSAW menyalatkannya, lalu bersabda: Sesungguhnya baginya ada seorang yang akan menyusuinya di surga. Seandainya dia hidup, tentu dia akan menjadi ṣiddīq lagi nabī. Seandainya dia hidup, tentu aku akan membebaskan paman-pamannya dari Qibṭ, dan tidak ada seorang Qibṭī pun yang akan dijadikan budak”.[111]

1. Mengatakan bahwa ḥadīts ini adalah satu bentuk mubālaġah fī tafḍīl merupakan satu kesalahan. Sebab, NabīSAW adalah seorang nabī yang kata-kata beliau disifati sebagai berikut:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿﴾

“Dan, dia tidak berkata-kata menurut kehendak nafsu-nya. Itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan”. [Sūrah an-Najm {53}:4-5]

Sesuatu yang disebut wahyu harus terjadi persis sama seperti apa yang tertera di dalamnya. Lisan suci NabīSAW, yang semata-mata berisi wahyu ilāhī, sangat tidak elok jika melontarkan suatu perkataan yang hanya berupa sendau-gurau atau keberlebih-lebihan. Ungkapan hiperbolik memang bukan sebuah kedustaan. Namun, kata-kata hiperbolik yang dibumbui dengan nubuatan tentang kejadian di masa mendatang, jika itu tidak terjadi dan terlaksana, sama saja dengan kebohongan dan penipuan. Maka, apalah bedanya seorang nabī dengan seorang tukang tenung? Intinya, ini bukanlah masalah mubālaġah atau bukan mubālaġah, tapi ini berkaitan dengan perkara-perkara gaib yang fikiran manusia tidak dapat menjangkaunya (al-umūr al-ġaybiyyah al-latī lā majāla li ar-ra’yi fīhā). Masalah ini bersentuhan langsung dengan keabsahan pengakuan seseorang sebagai nabī. Sebab, nabī sendiri secara etimologis berarti seseorang yang mengabarkan kabar-kabar gaib dan kejadian-kejadian di masa depan. Jika nubuatan dan prediksi seseorang yang mengaku sebagai nabī salah dan tidak terbukti, dapat dipastikan bahwa dia adalah nabī palsu atau sekedar ahli nujum yang mengaku-ngaku dan menyamar sebagai nabī. Pantaskah ini terjadi pada Fakhru-ul-Aṣfiyā’ Muḥammad al-MuṣṭafāSAW? Na‘ūdzu bi-Llāh min tilka al-khurāfāt wa al-khayālāt!

Seandainya Sdr. Agus lebih berhati-hati dalam membuat kesimpulan, beliau pasti tidak akan mengeluarkan statement semacam ini. Karena, ini sama saja mengatakan bahwa NabīSAW melanggar apa yang beliau perintahkan sendiri, alias beliau adalah munafik? Ma‘ādza-Llāh! Mengapa? Sebab, beliau pernah menyuruh agar kita tidak berlebihan dalam memuji seseorang. Kita membaca dalam ḥadīts:

حدثنا يحيى بن يحيى؛ حدثنا يزيد بن زريع؛ عن خالد الحذاء، عن عبد الرحمن بن أبي بكرة، عن أبيه، قال: مدح رجل رجلا عند النبي صلى الله عليه وسلم قال فقال ويحك قطعت عنق صاحبك قطعت عنق صاحبك مرارا، إذا كان أحدكم مادحا صاحبه لا محالة فليقل: أحسب فلانا والله حسيبه، ولا أزكي على الله أحدا أحسبه، إن كان يعلم ذاك كذا وكذا.

“Yaḥyā ibn Yaḥyā menceritakan kepada kami; Yazīd ibn Zuray‘ menceritakan kepada kami; dari Khālid al-Ḥadzdzā’, dari ‘Abd-ur-Raḥmān ibn Abī Bakrah, dari ayahnya, beliau berkata: Seseorang memuji seseorang lainnya di sisi Ḥaḍrat NabīSAW. Lantas, beliau bersabda: Celakalah kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu! - berulang-ulang -. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya, hendaknya dia mengatakan: Aku mengiranya seperti itu dan Allāh-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak memuji siapapun di hadapan Allāh”.[112]

An-Nawawī menafsirkan ولا أزكي على الله أحدا dengan:

لا أقطع على عاقبة أحد ولا ضميره، لأن ذلك مغيب عنا، ولكن أحسب وأظن لوجود الظاهر المقتضي لذلك.

“Aku tidak dapat memastikan akhir kehidupannya dan juga hati nuraninya, karena hal itu tidak ditampakkan kepada kami. Tetapi, aku hanya mengiranya dan menyanggapnya demikian sesuai dengan apa yang nampak dan diperlukan”.[113]

Di lain tempat, NabīSAW bersabda:

حدثنا محمد بن صباح؛ حدثنا إسماعيل بن زكرياء؛ حدثنا بريد بن عبد الله بن أبي بردة؛ عن أبي بردة بن أبي موسى، عن أبي موسى، قال: سمع النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يثني على رجل ويطريه في المدحة، فقال: أهلكتم أو قطعتم ظهر الرجل.

“Muḥammad ibn Ṣabbāḥ menceritakan kepada kami; Ismā‘īl ibn Zakariyā’ menceritakan kepada kami; Burayd ibn ‘Abdi-Llāh ibn Abī Burdah menceritakan kepada kami; dari Abū Burdah ibn Ḥaḍrat Abī Mūsāra, dari Ḥaḍrat Abū Mūsāra, beliau berkata: Ḥaḍrat NabīSAW mendengar seseorang memuji seseorang lain hingga melampaui batas dalam pujiannya. Lantas, beliau bersabda: Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu”.[114]

Bahkan, sangking tidak senangnya NabīSAW kepada orang-orang yang berlebihan dalam memuji, beliau memerintahkan para Ṣaḥābatra untuk melempari wajah sang pemuji dengan tanah. Dalam al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaḥīḥ karya al-Imām Muslim, kita membaca sebuah riwayat dari Ḥaḍrat al-Miqdād ibn al-Aswadra:

وحدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار؛ واللفظ لابن المثنى، قالا: حدثنا محمد بن جعفر؛ حدثنا شعبة؛ عن منصور، عن إبراهيم، عن همام بن الحارث، أن رجلا جعل يمدح عثمان، فعمد المقداد، فجثا على ركبتيه، وكان رجلا ضخما، فجعل يحثو في وجهه الحصباء، فقال له عثمان: ما شأنك؟ فقال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا رأيتم المداحين فاحثوا في وجوههم التراب.

“Muḥammad ibn al-Mutsannā dan Muḥammad ibn Basysyār menceritakan kepada kami; lafaz ḥadīts ini dari Ibn al-Mutsannā, mereka berdua berkata: Muḥammad ibn Ja‘far menceritakan kepada kami; Syu‘bah menceritakan kepada kami; dari Manṣūr, dari Ibrāhīm, dari Hammām ibn al-Ḥārits, bahwa seseorang mulai memuji-muji Ḥaḍrat ‘Utsmānra. Maka, Ḥaḍrat al-Miqdādra menjadi marah. Lantas, beliau menunduk searah kedua lutut beliau, padahal beliau adalah seorang laki-laki yang gemuk, lalu beliau mulai melempar kerikil ke wajah orang yang memuji-muji itu. Lantas, Ḥaḍrat ‘Utsmānra bertanya: Atas dasar apa engkau melakukan ini? Ḥaḍrat al-Miqdādra menjawab: Sesungguhnya Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Jika kalian melihat para pemuji yang berlebihan, lemparlah tanah ke wajah mereka”.[115]

Ketika Nabī kita ‘alayhi alfu alfi ṣalāh berkata A, mustahil beliau bertindak B. Seseorang yang berbeda antara ucapan dengan tindak-tanduknya adalah orang yang tak konsisten, tidak bisa dipercaya. Beliau, karena digelari sebagai al-Amīn, tidak mungkin berbuat kejahatan seperti itu. Namun, jika Sdr. Agus tetap bersikukuh untuk mengatakan bahwa ḥadīts Ibrāhīmra adalah dalam bentuk mubālaġah, silahkan saja. Hanya saja, beliau terpaksa harus menabrak batas-batas norma yang harus kita junjung tinggi terhadap NabīSAW. Ketika beliau mengatakan bahwa putra beliau akan menjadi nabī jika berumur panjang, pasti kejadiannya juga akan seperti itu. Sayangnya, putra beliau wafat pada usia 18 bulan. Ini bukan ungkapan hiperbola. Rasūlu-LlāhSAW selalu proporsional dalam memuji seseorang, sesuai dengan koridor yang telah digariskan oleh wahyu yang beliau terima. Kalau ada orang yang menyebutnya hiperbola, dapat dipastikan bahwa dia sangat tidak telaten, ceroboh, terburu-buru, dan tergesa-gesa. Hendaknya kita berhati-hati sebelum melontarkan suatu pernyataan, apalagi yang bersinggungan dengan Nabiyu-LlāhSAW. Tidakkah kita ingat sabda beliau:

ليس شيء من الجسد إلا وهو يشكو ذرب اللسان.

“Tiada satu pun bagian dari tubuh kecuali dia mengeluh akan kekotoran lisan”.[116]

Adapun 2 riwayat yang dikutip oleh Sdr. Agus, pembahasannya telah lewat dalam poin-poin bantahan di atas. Kami sarankan kepada para pembaca untuk membacanya kembali, sehingga kami tak perlu berlelah-lelah menjelaskannya lagi.

Berkenaan dengan ijtihād Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra, tidak ada yang perlu dipersoalkan. Hanya saja, ẓarf بعد dalam ḥadīts itu tidak berarti sesudah, tetapi berarti مع (bersamaan). Al-Imām al-Khāzin menjelaskan:

ختم الله به النبوة فلا نبوة بعده أي ولا معه، قال ابن عباس: يريد لو لم أختم به النبيين لجعلت له ابنا ويكون بعده نبيا.

“Allāh mematerai dengan perantaraan beliau nabī-nabī. Maka, tidak ada kenabīan setelah beliau, yakni bersamaan dengan beliau. Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra berkata: Seandainya Aku tidak mematerai dengan perantaraan beliau nabī-nabī, pasti Aku akan memberikan kepada beliau seorang putra yang akan menjadi nabī setelah beliau (bersamaan)”.[117]

Mengapa dikatakan bahwa tidak boleh ada nabī di waktu yang bersamaan dengan Nabī MuḥammadSAW? Karena, di dalam sebuah ḥadīts, beliau menegaskan bahwa tidak ada seorang nabī pun antara masa beliau dengan masa al-Masīḥ al-Mau‘ūdas. Beliau bersabda:

حدثنا عيسى بن محمد الصيدلاني؛ قال: نا محمد بن عقبة السدوسي؛ قال: نا محمد بن عثمان بن سنان القرشي؛ قال: نا كعب أبو عبد الله؛ عن قتادة، عن سعيد بن المسيب، عن أبي هريرة، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: ألا إن عيسى ابن مريم ليس بيني وبينه نبي ولا رسول، ألا إنه خليفتي في أمتي بعدي، ألا إنه يقتل الدجال، ويكسر الصليب، وتضع الحرب أوزارها، ألا فمن أدركه منكم فليقرأ عليه السلام.

“ ‘Īsā ibn Muḥammad aṣ-Ṣaydalānī menceritakan kepada kami; dia berkata: Muḥammad ibn ‘Uqbah as-Sadūsī menceritakan kepada kami; dia berkata: Muḥammad ibn ‘Utsmān ibn Sinān al-Qursyī menceritakan kepada kami; dia berkata: Ka‘b Abū ‘Abdi-Llāh menceritakan kepada kami; dari Qatādah, dari Sa‘īd ibn al-Musayyib, dari Ḥaḍrat Abū Hurayrahra, dia berkata: Ḥadrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Ketahuilah! Sesungguhnya ‘Īsā ibn Maryam, tidak ada nabī atau rasūl antaraku dengan beliau. Ketahuilah! Beliau akan menjadi khalīfahku di dalam ummatku setelahku. Ketahuilah! Beliau akan membunuh Dajjāl, memecahkan salib, dan peperangan akan melepaskan beban-bebannya. Ketahuilah! Barangsiapa di antara kalian yang menemui beliau, hendaknya dia menyampaikan salam kepada beliau”.[118]

Di dalam ḥadīts kedua tentang para khalīfah di atas, telah jelas dikatakan bahwa yang akan muncul dalam waktu dekat setelah kewafatan NabīSAW adalah para khalīfah. Kedatangan seorang nabī tidak dibutuhkan pada zaman yang dekat dengan zaman Ḥadrat Rasūlu-LlāhSAW. Ini dikarenakan daya quwwat qudsiyyah beliau sedemikian hebatnya melampaui daya quwwat qudsiyyah nabī-nabī lain. Keunggulan daya pensucian beliau ini dideskripsikan oleh Ḥaḍrat al-Imām al-Mahdīas sebagai berikut:

“Kebenaran, yang jauh berada di atas syak-wasangka, adalah bahwa tidak mungkin bagi seorang pun di antara para nabī untuk menyamai Ḥaḍrat NabīSAW dalam bentuk yang sebenar-benarnya dalam hal kemuliaan-kemuliaan pensucian (al-kamālāt al-qudsiyyah). Bahkan, tidak ada seorang pun dari kalangan malaikat yang memiliki kapasitas untuk menyamai beliau, apalagi orang-orang selain dari mereka”.[119]

Mengapa nabī-nabī sebelum beliau datang silih berganti satu sama lain, satu setelah yang lainnya? Sebab, mereka tidak memilki kekuatan pensucian yang kuat. Taktala mereka wafat, daya pensucian mereka seketika berakhir. Maka dari itu, Allāh mengutus nabī-nabī silih berganti agar daya pensucian mereka terus berjalan estafet. Sedangkan kekuatan pensucian Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihi wa sallama berlangsung sangat lama sampai akhir zaman, hingga masa dibangkitkannya al-Imām al-Mahdīas, yaitu sebuah masa ketika al-Qur’ān dan sunnah sudah ditinggalkan oleh ummat menjadi layaknya pepesan kosong belaka, sehingga timbul istilah Islām Abangan, Islām KTP, dll. Al-Mahdīas sendiri tak lain dan tak bukan adalah penzahiran dari Nabī MuḥammadSAW untuk yang kedua kali, yakni Nabī MuḥammadSAW yang diutus kepada kaum “wa ākharīna minhum lammā yalḥaqū bihim”[120]. Sebab itu, kedatangan nabī di masa yang dekat dengan masa NabīSAW tidak dihajatkan, para khalīfah sudah cukup untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dan ajaran beliau.

2. Menyatakan bahwa huruf لو menafikkan sekaligus syarṭ dan jawāb adalah kurang tepat. Abū Ḥayyān al-Andalusī mengutip pendapat jumhūr naḥwiyyīn bahwa huruf لو berfaedah امتنع الثاني لامتناع الأول “tercegahnya yang kedua (jawāb/al-musabbab bihī) karena tercegahnya yang pertama (syarṭ/sabab)”[121]. Yakni, pada dasarnya, tidak ada halangan bagi jawāb untuk mewujud. Namun, karena syarṭ tidak terpenuhi, jawāb tidak bisa keluar. Jika syarṭ terpenuhi dan terakomodasi, niscaya jawāb dapat mengejawentahkan dirinya. Misalnya, beliau memberikan sebuah contoh:

لو جئتني لأكرمتك.

“Seandainya engkau mendatangiku, pasti aku akan memuliakanmu”.[122]

Pemuliaan Si A terhadap Si B tidak terjadi karena Si B tidak mendatanginya. Artinya, jawāb atau al-musabbab bihī tidak terjadi sebab ada penafikkan (intifā’) syarṭ atau sabab. Ini adalah kesimpulan yang logis dari premis tersebut. Oleh karena itu, al-Imām Fakhr-ud-Dīn ar-Rāziī mengatakan:

إنها تفيد امتناع الشرط خاصة ولا دلالة لها على امتناع الجواب.

“Sesungguhnya huruf لو itu berfaedah bagi tercegahnya syarṭ saja, dan tidak ada petunjuk bahwa ia berfaedah juga bagi tercegahnya jawāb”.[123]

Aplikasinya dalam ḥadīts Ibrāhīmra tersebut adalah, seandainya Ibrāhīmra tetap hidup dan mencapai usia dewasa, tentunya dia akan diangkat sebagai nabī. Ibrāhīmra tidak bisa menjadi nabī (jawāb/al-musabbab bihī) karena dia wafat di usia dini (syarṭ/sabab). Jadi, kesimpulan yang diambil oleh Sdr. Agus bahwa hidupnya Ibrāhīmra sampai dewasa dan diangkatnya dia menjadi nabī sama-sama tercegah karena ada huruf لو adalah salah besar. Bahkan, Ibn Hisyām al-Anṣārī, ahli bahasa besar asal Mesir pada abad 8 H, menyebutnya batil dalam Muġnī al-Labīb[124].

Pertanyaannya: Mengapa Ibrāhīmra diwafatkan pada waktu kecil? Jawabannya adalah bukan karena sama sekali tidak ada nabī sesudah Rasūlu-LlāhSAW, melainkan karena tidak boleh ada nabī yang hidup bersamaan dengan beliau dan tidak boleh ada nabī antara beliau dengan al-Masīḥ al-Mau‘ūdas, seperti yang tertulis dalam ḥadīts riwayat Ḥaḍrat Abū Hurayrahra pada poin pertama. Jelas, bukan?

3. Taḍ‘īf Abū Syaybah Ibrāhīm ibn ‘Utsmān al-‘Abasī tidak serta merta manjatuhkan derajat ḥadīts ini. Karena, Ibrāhīm ibn ‘Utsmān memiliki mutāba‘ah dari al-Imām Syu‘bah. Kita membaca dalam Tārīkh Madīnat Dimasyq:

أخبرنا أبو عبد الله الفراوي؛ أنبأنا أبو بكر البيهقي؛ أنبأنا علي بن أحمد بن عبدان؛ أنبأنا أحمد بن عبيد الصفار؛ أنبأنا محمد بن يونس؛ أنبأنا سعد بن أوس أبو زيد الأنصاري؛ أنبأنا شعبة؛ عن الحكم، عن مقسم، عن ابن عباس، قال: لما مات إبراهيم بن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن له مرضعا في الجنة يتم رضاعه، ولو عاش لكان صديقا نبيا، ولو عاش لأعتقت أخواله من القبط.

“Abū ‘Abdi-Llāh al-Furāwī mengabarkan kepada kami; Abū Bakr al-Bayhaqī memberitakan kepada kami; ‘Alī ibn ‘Abdān memberitakan kepada kami; Aḥmad ibn ‘Ubayd aṣ-Ṣaffār memberitakan kepada kami; Muḥammad ibn Yūnus memberitakan kepada kami; Sa‘d ibn Aws Abū Zayd al-Anṣārī memberitakan kepada kami; Syu‘bah menceritakan kepada kami; dari al-Ḥakam, dari Miqsam, dari Ḥaḍrat Ibn ‘Abbāsra, beliau berkata: Taktala Ibrāhīm putra Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW wafat, Rasūlu-LlāhSAW menyalatkannya, lalu bersabda: Sesungguhnya baginya ada seorang yang akan menyusuinya di surga. Seandainya dia hidup, tentu dia akan menjadi ṣiddīq lagi nabī. Seandainya dia hidup, tentu aku akan membebaskan paman-pamannya dari Qibṭ”.[125]

Ḥadīts dari jalur Syu‘bah ini berderajat ṣaḥīh li dzātihi. Jadi, khabar dari jalur Ibrāhīm ibn ‘Utsmān terangkat derajatnya menjadi ṣaḥīh li ġayrihi. Status Ibrāhīm ibn ‘Utsmān yang ḍa‘īf matrūk tidak mempengaruhi derajat ḥadīts. Sebagaimana al-Imām Abū ‘Abdi-Llāh Aḥmad ibn Ḥanbal asy-Syaybānī mengatakan:

الحديث عن الضعفاء قد يحتاج إليه في وقت، والمنكر أبدا منكر.

“Ḥadīts dari para periwayat yang lemah terkadang dapat dijadikan hujjah sewaktu-waktu. Namun, yang namanya munkar, selamanya munkar”.[126]

Al-Marrūdzī, seorang mujtahid muṭlaq ġayru mustaqill dari Madzhab Ḥanbalī, yang juga sahabat dekat al-Imām Aḥmad, menjelaskan maksud perkataan ini dalam kitab al-‘Ilal:

أن الراوي الضعيف إذا روى حديثا غير منكر، فإنه يستفاد بروايته تلك في باب الاعتبار، أما إذا جاء المنكر، -من الضعيف أو الثقةـ-، فإنه لا يلتفت إليه، ولا يعرج عليه، لأنه قد تحقق من وقوع الخطإ فيه.

“Bahwa seorang perawi yang lemah, jika meriwayatkan sebuah ḥadīts yang tidak munkar, sesungguhnya itu dapat digunakan untuk i‘tibār. Adapun jika terdapat ḥadīts munkar, baik itu dari seorang yang ḍa‘īf atau seorang yang tsiqah, itu tidak dapat dibalikkan dan dikembalikan untuk i‘tibār, karena telah terbukti ada kesalahan di dalamnya”.[127]

Kesimpulannya, meskipun ḥadīts ini lemah karena faktor Ibrāhīm ibn ‘Utsmān, statusnya terangkat menjadi ṣaḥīḥ dan dapat dipegang sebagai hujjah karena dia memiliki mutāba‘ah dari Syu‘bāh ibn al-Ḥajjāj, seorang yang disifatkan oleh al-Imām Aḥmad sebagai layaknya satu ummat dalam bidang ḥadīts.

Bantahan Kedua

Allāh berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا ﴿﴾

“Dan, barangsiapa yang taat kepada Allāh dan Rasūl ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang kepada mereka Allāh memberikan nikmat, yakni: nabī-nabī, ṣiddīq-ṣiddīq, syahīd-syahīd, dan orang-orang saleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati”. [Sūrah an-Nisā’ {4}:70]

Adapun riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, tidak ada masalah dengan kami. Hanya saja, kami menyatakan bahwa ada tafsiran lain dari ayat ini selain dari apa yang termaktub dalam riwayat tentang asbāb an-nuzūl ayat ini. Jika dikatakan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan bergabung dengan para nabī di surga, itu sangat benar. Bahkan, kami berkeyakinan bahwa adalah satu keniscayaan bagi Tuhan untuk mempertemukan para pecinta dengan nabī-nabī yang dicintainya kelak di surga.
Yang perlu diperhatikan adalah, dalam dimensi dunia, apakah orang-orang yang beriman dan beramal saleh tidak bisa menjadi nabī, ṣiddīq, syahīd, dan ṣāliḥ? Jadi, bukan hanya menjadi nabī saja seperti sangkaan Sdr. Agus. Dalam ummat Islam, banyak orang-orang yang telah menduduki maqām ṣidq, syahādah, dan ṣalāḥ. Kita dapat melihat pengejahwentahan wujud ṣiddīq dalam diri Ḥaḍrat Abū Bakrra. Kita dapat menyaksikan implementasi wujud syahīd dalam wujud Ḥaḍrat ‘Umarra, Ḥaḍrat ‘Utsmānra, Ḥaḍrat ‘Alīra, dan orang-orang yang gugur dalam membela Islām lainnya. Kita dapat menampak manifestasi orang-orang saleh dalam diri para awliyā’ qaddasa-Llāhu sirrahum. Namun, mengapa tidak ada yang dapat menjadi nabī? Guru yang hebat adalah guru yang dapat menjadikan para muridnya guru juga. Karena Nabī kita ṣalawātu-Llāh ‘alayhi wa as-salām adalah guru yang terbaik, pasti di antara murid-murid beliau ada juga yang menjadi nabī. Tapi, bukan nabī yang membawa hukum baru, melainkan nabī yang tunduk dan taat kepada beliau dan menjalankan syarī‘at beliau.

Kata مع tidak hanya menunjukkan kebersamaan saja, tetapi juga dapat berarti termasuk. Kita membaca dalam al-Qur’ān:

إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ ﴿﴾

“Kecuali Iblīs. Dia menolak untuk bersama-sama dengan orang-orang yang bersujud”. [Sūrah al-Ḥijr {15}:32]

Di tempat lain, Allāh berfirman:

لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ ﴿﴾

“Dia tidak termasuk di antara orang-orang yang bersujud”. [Sūrah. al-A‘rāf {7}:11]

Jelas huruf مع ditafsirkan dalam tempat lain dengan من. Dalam kata lain, ma‘iyyah yang berlaku di sana bukanlah ma‘iyyah fī al-makān, tetapi ma‘iyyah fī al-martabah.

Dalam al-Qur’ān, kita diajari untuk berdoa:

وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴿﴾

“Dan wafatkanlah kami dalam orang-orang yang baik”. [Sūrah Āli ‘Imrān {3}:194]

Sekiranya kita berdoa hanya agar dikelilingi orang-orang yang baik saat meninggal, apa esensi dan manfaat doa ini? Seandainya kita berdoa demikian, ini benar-benar tidak berfaedah. Apakah seseorang patut berbangga hati bila dia berada di sekeliling para CEO, sedangkan dia sendiri tak lebih dari seorang office boy yang bekerja mengantarkan minum? Justru dia akan merasa malu karena banyak diperintah dan dipandang rendah. Pun, jika kita hanya berdoa untuk bersama-sama dengan orang-orang yang saleh, tetapi tidak untuk menjadi dan termasuk di antara golongan mereka, doa itu hanyalah sekedar kesia-siaan. Namun, apabila kita berdoa agar kita kita diangkat dan digabungkan ke dalam kelompok orang-orang yang saleh, kemudian Allāh mengabulkan, ruh kita niscaya akan bergembira dan menyenandungkan puji sanjung ke hadirat Tuhan. Derajat kita akan naik. Kita akan dianugerahi nikmat-nikmat azalī dan abadī yang tak kunjung padam. Apalah manfaat jika kita wafat disertai oleh orang-orang baik, namun hati kita berkarat dan penuh dengan dosa dan kejahatan? Bangkai, walaupun disiram dengan berliter-liter minyak wangi, tetap saja menyengat hidung.

Ringkasnya, huruf مع tidak selamanya menunjukan kebersamaan dalam waktu dan tempat, tetapi bisa juga mensignifikasikan kebersamaan dalam derajat dan kedudukan. Dalam kata lain, huruf مع dapat berarti sama dengan من. Pendapat ini jugalah yang dikemukakan oleh al-Imām ar-Rāġib dalam al-Mufradāt[128].

Bantahan Ketiga

Allāh berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿﴾

“Dia memberi kebijakan kepada siapa yang Dia kehendaki dan barangsiapa diberi kebijakan, maka sungguh dia telah diberi berlimpah-limpah kebaikan; dan tiada yang dapat menarik pelajaran kecuali orang-orang berakal”. [Sūrah al-Baqarah {2}:270]

Mengenai kata الحكمة, para mufassir memiliki pandangan masing-masing terhadapnya. Adapun kami, kami cukup berpegang dengan apa yang ditafsirkan oleh Sayyidunā Ibn ‘Abbāsra, seorang yang digelari sebagai Tarjumān-ul-Qur’ān, karena didoakan secara langsung oleh NabīSAW agar Allāh mengajari beliau ilmu-ilmu al-Qur’ān. Ibn al-Mundzir membawakan sebuah riwayat yang dikutip oleh as-Suyūṭī dalam ad-Durr al-Mantsūr bahwa Ibn ‘Abbāsra menafsirkan kata الحكمة dengan النبوة (kenabīan)[129].

Adapun riwayat lain dari beliau yang dikutip oleh Sdr. Agus, kami sama sekali tidak menolaknya. Memang, ada beberapa penafsiran beliau terhadap ayat ini, tidak hanya one single statement saja. Dan, itu semua kami terima. Yang perlu dicatat adalah, ketika beliau mengeluarkan suatu penafsiran mengenai al-Qur’ān, pendapat beliau hendaknya diutamakan dari pendapat ahli-ahli tafsīr lainnya, sebab beliau adalah wujud yang telah dikaruniai ilmu al-Qur’ān melalui doa Baginda NabīSAW[130]. Hal inilah yang kami pegang dalam penafsiran kata الحكمة ini.

Jika dikatakan penafsiran kata hikmah dengan kenabīan bertentangan dengan ayat atau khabar yang membicarakan tentang tertutupnya nubuwwah setelah kemangkatan Ḥaḍrat NabīSAW, ini semata-mata asumsi Sdr. Agus saja. Kami berulang kali menjelaskan bahwa kenabīan yang tertutup pintunya paska wafatnya NabīSAW hanyalah nubuwwah tasyrī‘iyyah saja. Sedangkan nubuwwah ġayru tasyrī‘iyyah masih akan terus berlangsung di dalam ummat sampai Hari Penghabisan. Orang yang menyandang kenabīan jenis ini hanya berstatus sebagai pelayan dan pembantu Khātam-un-NabiyyīnSAW.

Adapun tentang kenabīan Luqmānas, terdapat perbedaan di kalangan para ahli ilmu. Di dalam Zād al-Maysir[131] yang Sdr. Agus kutip sendiri disebutkan beberapa tokoh yang saling bersilang pendapat mengenai hal ini. Anehnya, Sdr. Agus berani memastikan bahwa Luqmānas bukanlah seorang nabī, atas dasar kutipan yang beliau yakini berasal dari NabīSAW. Padahal ḥadīts tersebut dibawakan dengan ṣīġah at-tamrīḍ, yang mengindikasikan bahwa ḥadīts itu lemah. Satu lagi, kami tidak mendapati ḥadīts tersebut di dalam Qaṣaṣ al-Anbiyā’ karya Ibn Katsīr, juga Tuḥfat an-Nubalā’ yang adalah semacam ringkasan darinya. Tetapi, kami mendapatinya di dalam al-Jāmi‘ Li Aḥkām al-Qur’ān dengan ta‘līq dari al-Qurṭubī[132]. Kelengkapannya sanadnya dapat dijumpai di Ṣafwat at-Taṣawwuf (versi pendek)[133] karangan Ibn al-Jauzī dan Tārīkh Dimasyq (versi panjang) kepunyaan Ibn ‘Asākir[134]. Kedua-duanya sama-sama berporos pada Naufal ibn Sulaymān al-Hunā’ī, seorang perawi yang lemah dan terbukti memalsukan ḥadīts. Bahkan, al-Imām al-Kinānī juga menggolongkan khabar atau ḥadīts itu ke dalam kelompok ḥadīts ḍa‘īf dalam kitab Tanzīh asy-Syarī‘at al-Marfū‘ah Min al-Aḥādīts al-Mauḍū‘ah[135]. Di bawah ini, kami akan menghadirkan sanad yang diambil dari Ṣafwat at-Taṣawwuf:

أخبرنا أبو القاسم المطهر بن بحير الملقاباذي بها؛ قال: أنا محمد بن عبد الله الحافظ؛ قال: نا أحمد بن محمد بن يوسف أبو النضر الفقيه؛ قال: نا إسماعيل بن قتيبة؛ قال: نا محمد بن أمية الساوي؛ قال: نا نوفل بن سليمان؛ عن عبيد الله بن عمر، عن نافع، عن ابن عمر، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: حقا لم يكن لقمان نبيا، ولكن كان عبدا صمصامة كثير التفكر حسن النظر، أحب الله فأحبه، فمن أحبه عليه بالحكمة.

“Abū al-Qāsim al-Muṭahhar ibn Baḥīr al-Malqābādzī mengabarkan kepada kami di Malqābādz; dia berkata: Muḥammad ibn ‘Abdi-Llāh al-Ḥāfiẓ menceritakan kepada kami; dia berkata: Aḥmad ibn Muḥammad ibn Yūsuf Abū an-Naḍr al-Faqīh menceritakan kepada kami; dia berkata: Ismā‘īl ibn Qutaybah menceritakan kepada kami; dia berkata Muḥammad ibn Umayyah as-Sāwī menceritakan kepada kami; dia berkata: Naufal ibn Sulaymān menceritakan kepada kami; dari Ḥaḍrat ‘Ubaydu-Llāh ibn ‘Umarra, dari Nāfi‘, dari Ḥaḍrat Ibn ‘Umarra, beliau berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Benar, Luqmān bukanlah seorang nabī. Tetapi, beliau adalah hamba yang terjaga, banyak bertafakkur, dan berpandangan baik. Dia mencintai Allāh, maka Allāh pun mencintainya. Barangsiapa yang mencintai-Nya, dia akan dianugrahi hikmah”.

Naufal ibn Sulaymān al-Hunā’ī telah disepakati oleh para ahli al-jarḥ wa at-ta‘dīl, seperti Abū Ḥātim ar-Rāzī, Abū Ya‘lā al-Khalīlī, Ismā‘īl ibn Umayyah, dan ad-Dāruquṭnī, sebagai perawi yang lemah[136]. Bahkan, Jalāl-ud-Dīn as-Suyūṭī menyebutkan bahwa dia meriwayatkan ḥadīts-ḥadīts palsu[137].

Dari pihak Ahmadiyah sendiri, kami berkeyakinan bahwa Luqmānas adalah seorang nabī. Ini sejalan dengan pendapat ‘Ikrimah dan ‘Āmir ibn Syurāḥīl asy-Sya‘bī[138], yang mana kedua-duanya adalah murid dari Ibn ‘Abbāsra. Al-Layts ibn Sa‘d[139], seorang faqīh besar asal Mesir, juga mengutarakan bahwa hikmah Luqmānas adalah kenabīan. Kenabīan Luqmānas ini dapat diidentifikasi dari wejangan-wejangan dan nasehat-nasehat beliau kepada anak beliau. Begitu banyak walī dan kekasih Tuhan di dunia ini sebelum kebangkitan Nabī MuḥammadSAW yang mengeluarkan kata-kata mutiara nan indah. Namun, kesemuanya itu tidaklah direkam dan diabadikan oleh Allāh di dalam al-Qur’ān. Mengapa? Karena mereka bukanlah nabī. Adapun Luqmānas, karena beliau adalah seorang nabī, maka ada hikmah Tuhan Yang Maha Halus yang mencantumkan wejangan-wejangan dan kisah beliau dalam al-Qur’ān. Seandainya beliau bukan nabī, apa urgensi memasukkan nasehat-nasehat beliau dalam Kitābu-Llāh? Perlu dicatat juga di sini bahwa 28 orang yang disebutkan kisahnya dalam al-Qur’ān adalah nabī-nabī Allāh, termasuk Luqmānas, ‘Uzayras, dan Dzū al-Qarnaynas.

Asal-muasal Ḥaḍrat Luqmānas tidaklah perlu dipertanyakan. Bukankah Allāh mengutus rasūl-rasūl-Nya ke tiap-tiap kaum di seluruh pelosok dunia? Artinya, tidak ada satu kaum pun yang tidak pernah diutus kepada mereka seorang nabī. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau berasal Etiopia. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau adalah seorang hakim dari Banī Isrā’īl. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau adalah salah satu dari antara filsuf-filsuf Yunani. Intinya, terdapat perselisihan yang cukup tajam di antara riwayat-riwayat itu sendiri. Tugas kita hanyalah beriman kepada beliau sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allāh dan Rasūl-Nya ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama.

Bantahan Keempat

Allāh berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ ﴿﴾

“Dan ingatlah ketika Ibrāhīm diuji oleh Tuhan-nya dengan beberapa perintah, lalu dipenuhinya. Dia berfirman: Sesungguhnya Aku menjadikan engkau imām bagi manusia. Dia memohon: Dan dari antara keturunanku. Dia berfirman: Janji-Ku tidak akan sampai kepada orang-orang aniaya”. [Sūrah al-Baqarah {2}:125]

Kami kira kami sudah sepakat dengan Sdr. Agus perihal imāmah dan nubuwwah bagi keturunan Khalīlu-Llāhas. Masalahnya, beliau masih terkungkung dalam penjara pemikiran tentang kenabīan, sehingga beliau berani membatasi janji itu. Padahal, jika kita melihat bunyi ayat itu, kita akan mendapatinya diucapkan dalam bentuk muḍāri‘ dan tidak ada pembatasan sampai masa tertentu. Artinya, janji tentang imāmah dan nubuwwah kepada keturunan Nabī Ibrāhīmas masih akan terus berlangsung sampai Hari Kiamat. Tidak ada satu qarīnah pun yang memaksa kita untuk meyakini bahwa janji ini terhenti setelah wafatnya NabīSAW. Justru, karena Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama adalah pembuka pintu rahmat dan karunia Tuhan, ummat beliau pasti akan mendapatkan kasih sayang rabbānī yang jauh lebih besar dari ummat-ummat terdahulu. Dengan demikian, janji ini akan semakin termanifestasikan dalam wujud para pengikut beliau.

Seandainya janji ini memang dibatasi sampai dibangkitkannya Nabī MuḥammadSAW, pasti ada qarīnah dan dilālah yang mengarah kepadanya. Ini adalah uslūb al-Qur’ān ketika menjelaskan adanya pembatasan. Sebagai misal, kita membaca:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ ﴿﴾

“Sesungguhnya Allāh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. [Sūrah ar-Ra‘d {13}:12]

Pada bagian pertama ayat di atas, Allāh menerangkan bahwa Dia tidak akan pernah mengubah dan memperbaiki kondisi suatu kaum. Hingga, pada akhirnya di bagian kedua,  mereka mengoreksi diri dan mengubah apa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Dalam ayat tersebut, terdapat ẓarf حتى yang berfaedah menunjukkan akhir dari suatu maksud (intihā’ al-ġāyah). Ringkasnya, bahwa Allāh tidak akan memperbaiki suatu kaum adalah terbatas sampai masa tertentu saja, hingga pada akhirnya mereka berusaha untuk memperbaiki diri mereka terlebih dahulu.

Di tempat lain, Allāh berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ ﴿﴾

“Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang terbaik hingga dia mencapai kedewasaannya”. [Sūrah Banī Isrā’īl {17}:35]

Dalam ayat ini, Allāh menekankan bahwa pengadaan penjagaan yang pantas terhadap kekayaan-kekayaan anak-anak yatim itu bukan merupakan suatu kebaikan terhadap mereka, melainkan merupakan suatu pertanggung-jawaban dan kewajiban yang harus dilaksanakan sepenuh-penuhnya dan sejujur-jujurnya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk jangan sekali-kali mendekati harta mereka, apalagi memakannya. Jika memang diperlukan untuk keperluan anak-anak yatim itu, ambillah dengan hati-hati dan sekedarnya saja sesuai keperluan. Ketika mereka sudah dewasa, kita wajib untuk mengembalikan harta mereka kepada mereka, seraya tetap mengawasi penggunaan mereka akan harta mereka secara terus-menerus. Di sini juga terdapat ẓarf حتى yang menunjukkan intihā’ al-ġāyah. Artinya, tanggung jawab kita untuk mengurusi harta anak-anak yatim dan tidak mendekatinya berakhir taktala mereka menginjak usia dewasa, karena kita diwajibkan untuk mengembalikannya kepada mereka.

Kesimpulannya, adalah uslūb al-Qur’ān ketika membatasi sesuatu sampai masa tertentu untuk menyertakan qarīnah yang menunjuk ke arahnya. Pada ayat tentang janji Allāh kepada keturunan Nabī Ibrāhīmas tidak terdapat qarīnah apa pun. Maka, tidak selayaknya kita lancang untuk membatasi apa yang Allāh sendiri tidak melakukan pembatasan terhadapnya.

Bantahan Kelima

Allāh berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿﴾

“Wahai Banī Ādam! Jika datang kepadamu rasūl-rasūl dari antaramu yang memperdengarkan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati”. [Sūrah al-A‘rāf {7}:36]

Sdr. Agus terlihat tidak dapat menjawab argumentasi dari Ahmadiyah. Beliau malahan mengutarakan sebuah asumsi yang tidak jelas sama sekali. Jika memang ada segelintir ‘ulamā’ yang mengatakan sama seperti apa yang dikatakan oleh beliau, mengapa beliau tidak menyebutkan nama-nama mereka itu? Sebaliknya, bila tidak ada sama sekali ahli ilmu yang menyatakan hal itu, Sdr. Agus berarti telah melakukan pembajakan dan pencatutan yang sangat keji. Justru para ‘ulamā’ menyampaikan hal yang sama dengan Ahmadiyah, yakni bahwa khiṭāb yang ada dalam ayat tersebut dan beberapa ayat yang mendahuluinya (27, 28, dan 32) tertuju pada zaman ketika ayat itu turun (zaman Rasūlu-LlāhSAW) dan zaman setelahnya. Az-Zarkasyī dalam al-Burhān dan as-Suyūṭī dalam al-Itqān menerangkan:

خطاب المعدوم، ويصح ذلك تبعا لموجود، كقوله تعالى: يابني آدم ( الأعراف27:) فإنه خطاب لأهل ذلك الزمان، ولكل من بعدهم.

“Khiṭāb yang tertuju kepada orang-orang yang belum ada dan sah juga kepada orang-orang yang ada pada waktu itu. Seperti firman-Nya: Wahai Banī Ādam! Sesungguhnya itu adalah khiṭāb yang ditujukan kepada orang-orang pada zaman ketika khiṭāb itu diucapkan dan setiap orang yang datang sesudah mereka”.[140]

Premis yang diajukan oleh Sdr. Agus bahwa Nabī MuḥammadSAW tidak pernah mengabarkan kepada para Ṣaḥābatra tentang kedatangan seorang nabī pun setelah beliau adalah bentuk kecerobohan dan ketidakseksamaan. Bukankah beliau berulangkali memberitahukan bahwa ‘Īsāas akan datang? Bahkan, ḥadīts-ḥadīts tentang kedatangan al-Masīḥ al-Mau‘ūdas mencapai derajat tertinggi dalam ḥadīts, yakni mutawātir. Karena diucapkan dalam corak yang bermacam-macam namun tetap dalam makna dan masud yang sama, maka ḥadīts-ḥadīts itu digelari dengan sebutan mutāwatir ma‘nawī. ‘Abdu-Llāh Yūsuf al-Wābil menyebutkan bahwa ada lebih dari 25 ṣaḥābī yang meriwayatkan ḥadīts-ḥadīts itu dari NabīSAW, dan ada lebih dari 30 orang dari kalangan tābi‘īn yang meriwayatkan dari mereka[141]. Jadi, salah besar jika ada yang mengatakan bahwa NabīSAW tidak pernah memberitahu para Ṣaḥābatra tentang kedatangan nabī sesudah beliau.

Bantahan Keenam

Pernyataan bahwa pendapat Ahmadiyah bersebrangan dengan pendapat para ‘ulamā’ perlu ditinjau ulang. Pertama, ‘ulamā’ manakah yang Sdr. Agus maksudkan?  Mengapa nama-nama para ‘ulamā’ itu tidak disebutkan? Kedua, jika kita perhatikan alasan-alasan Sdr. Agus untuk menolak pendapat Ahmadiyah, kita akan mengetahui bahwa beliau sama sekali tidak mengerti apa yang dipahami oleh kami, atau mungkin ini keluar dari pemahaman yang sangat sakit. Kami akan mengulas 2 poin tersebut di bawah ini.

1. Di dalam ayat 16 dari Sūrah al-Muzammil itu, kita mendapati adanya huruf كما. Huruf ini, sesuai dengan kebiasaan pemakaiannya di dalam bahasa Arab, tidak menuntut adanya persamaan (tasybīh) di semua sisi dan lini. Melainkan, satu persamaan yang paling besar dan substantif sudah cukup mewakili. Oleh sebab itu, persamaan antara Nabī MuḥammadSAW dan Nabī Mūsāas ini bukanlah persamaan yang menyeluruh di semua sisi. Kalau persamaan ini harus melingkupi segenap sisi, mengapa tidak sekalian saja NabīSAW lahir dari Banī Isrā’īl, dibuang di sungai, diasuh oleh seorang Fir‘aun, dll. Pemahaman ini adalah sama sekali tidak benar. Melainkan, persamaan ini terjadi karena baik Nabī MuḥammadSAW maupun Nabī Mūsāas sama-sama membawa syarī‘at dan agama baru, bukan masalah teritorial, kesempurnaan, atau adanya pembantu. Nabī MuḥammadSAW datang dengan agama Islām dan syarī‘at al-Qur’ān, sedangkan Nabī Mūsāas datang dengan agama Yahudi dan syarī‘at Taurāt.

Di dalam al-Qur’ān, Allāh berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿﴾ وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْأَمْرِ ۖ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ﴿﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴿﴾

“Dan, sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Banī Isrā’īl Alkitab, hukum, dan kenabian, dan Kami telah merezekikan kepada mereka barang- barang yang baik, serta Kami telah lebihkan mereka di atas sekalian umat di zamannya. Dan, Kami telah memberikan kepada mereka tanda-tanda yang jelas mengenai urusan ini, dan tidaklah mereka berselisih melainkan setelah datang kepada mereka ilmu, disebabkan kedengkian di antara mereka. Sesungguhnya, Tuhan engkau akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang di dalamnya mereka berselisih. Kemudian, Kami menetapkan engkau di atas satu cara syari‘at, maka ikutilah itu, dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui! [Sūrah al-Jātisyah {45}:17-19]

Jelas, kesamaan antara Nabī Mūsāas dengan Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama terletak pada syarī‘at baru yang sama-sama mereka berdua bawa untuk masing-masing kaum. Nabī Mūsāas, dengan syarī‘at Taurāt, untuk Banī Isrā’īl, sedangkan NabīSAW, dengan syarī‘at al-Qur’ān, untuk kaum muslimin”.

2. Secara tekstual, yang dijanjikan di dalam Sūrah an-Nūr memang munculnya khalīfah-khalīfah. Namun, sebagaimana Sdr. Agus akui, seorang nabī bisa saja menduduki posisi khalīfah bagi nabī yang datang sebelumnya. Di dalam ḥadīts, al-Masīḥ al-Mau‘ūdas juga disebut sebagai khalīfah. Kami kira, ini cukup jelas.

Perlu dicatat di sini bahwa, meskipun para khalīfah di dalam ummat Islām tidak berpangkat sebagai nabī, namun mereka memiliki keserupaan dalam spiritualitas dan keruhanian dengan para nabī. Misalnya, NabīSAW pernah mempersamakan Ḥaḍrat aṣ-Ṣiddīq al-Akbarra dengan Nabī Ibrāhīmas dan Nabī ‘Īsāas karena kelembutan beliau. Beliau juga pernah mempersamakan Ḥaḍrat al-Fārūqra dengan Nabī Nūḥas dan Nabī Mūsāas karena ketegasan beliau. Beliau juga pernah mempersamakan Sayyidunā al-Murtaḍāra dengan Nabī Hārūnas. Pun, jika kita memperhatikan baik-baik Sūrah an-Nūr tersebut, kita pasti akan memahami bahwa para khalīfah, mujaddid, dan walī di kalangan ummat Nabī MuḥammadSAW memiliki kualitas yang sama dengan nabī-nabī dari ummat Nabī Mūsāas. Bahkan, ini menunjukkan keunggulan ummat Islām di atas ummat Yahudi. Sebagaimana kita ketahui, nabī-nabī dalam silsilah agama Yahudi pada dasarnya memang sudah ditetapkan sebagai nabī dan rasūl sedari awal. Sedangkan di dalam ummat Islām, orang-orang yang menjadi khalīfah, mujaddid, walī, atau ṣūfī pada awalnya hanyalah orang-orang biasa, bahkan ada di antara mereka yang dahulunya hidup di dalam kubangan maksiat. Namun, setelah bertaubat dan beriman, serta melaksanakan amal-amal saleh sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh al-Qur’ān dan sunnah, mereka bertransformasi sedemikian rupa, sehingga Allāh mengangkat mereka ke maqām-maqām yang mulia itu, yang bahkan derajatnya menyerupai derajat para nabī Banī Isrā’īl. Inilah maksud dari sebuah ḥadīts muttafaq ‘alayhi bahwa orang-orang yang beriman dapat menduduki manzil samāwī para nabī. Kita membaca dalam Ṣaḥīḥ al-Bukārī dan Ṣaḥīḥ Muslim:

وحدثني هارون بن سعيد الأيلي واللفظ له؛ حدثنا عبد الله بن وهب؛ أخبرني مالك بن أنس؛ عن صفوان بن سليم، عن عطاء بن يسار، عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: إن أهل الجنة يتراءون أهل الغرف من فوقهم كما تتراءيون الكوكب الدري الغابر من الأفق من المشرق أو المغرب لتفاضل ما بينهم، قالوا: يا رسول الله! تلك منازل الأنبياء، لا يبلغها غيرهم، قال: بلى، والذي نفسي بيده، رجال آمنوا بالله وصدقوا المرسلين.

“Hārūn ibn Sa‘īd al-Aylī menceritakan kepadaku dan lafaz ini darinya; ‘Abdu-Llāh ibn Wahb menceritakan kepadaku; Mālik ibn Anas mengabarkan kepadaku; dari Ṣafwān ibn Sulaym, dari ‘Aṭā’ ibn Yasār, dari Ḥaḍrat Abū Sa‘īd al-Khudrīra, dari Ḥaḍrat NabīSAW, beliau berkata: Sesungguhnya para penghuni surga akan saling menampak dengan para penghuni ġurfah (golongan penghuni surga yang berderajat paling tinggi), sebagaimana kalian saling menampak dengan sebuah bintang yang cemerlang nan kokoh dari ufuk timur atau barat, sehingga akan terlihat perbedaan besarnya dari masing-masing ufuk. Para Ṣaḥābatra bertanya: Wahai Rasūlu-Llāh! Itu adalah tingkatan-tingkatan para nabī. Tidak ada yang dapat mecapainya selain dari mereka. Beliau menjawab: Demi Dzat Yang jiwaku berada di dalam tangan-Nya! Benar, bahkan juga orang-orang yang beriman kepada Allāh dan membenarkan para rasūl”.[142]

Di dalam riwayat Sunan Ibn Mājah[143], disebutkan bahwa Ḥaḍrat Abū Bakrra dan Ḥaḍrat ‘Umarra, yang mana beliau berdua bukanlah nabī, termasuk di antara kalangan para penghuni ġurfah, bahkan tergolong di antara mereka yang most favorable. Ini tidak berarti hanya beliau berdua di antara ummat NabīSAW yang dapat menggapai tingkatan mereka. Namun, setiap orang yang memiliki sifat-sifat dan keruhanian seperti Ḥaḍrat Abū Bakrra (al-māddah aṣ-ṣiddīqiyyah) dan Ḥaḍrat ‘Umarra (al-māddah al-fārūqiyyah) juga dapat mencapai tingkatan yang dicapai oleh para nabī. Ketika Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi ṣalātan dā’imatan adalah nabī yang paling istimewa dan mulia dari antara sekian banyak nabī-nabī, ummat didikan beliau pastinya juga memiliki kualitas yang mengungguli dan melampaui kualitas ummat-ummat para nabī terdahulu. Bahkan, sangking unggulnya dan hebatnya, mereka dapat mencapai maqām samāwī yang dianugerahkan kepada nabī.

Adalah satu rahasia Tuhan yang sedemikian halusnya, karena Dia menjadikan Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama matsīl bagi Nabiyu-Llāh Mūsāas, maka silsilah kepemimpinan di dalam ummat beliau pun serupa dengan silsilah kepemimpinan di dalam ummat Yahudi. Kita mengetahui bahwa di akhir silsilah ummat Yahudi terdapat al-Masīḥ ‘Īsā ibn Maryamas. Beliau datang 1300 tahun setelah al-Kalīmas, ketika kondisi orang-orang Yahudi berada di titik nadir, baik dari sisi duniawi maupun ruhani. Dari sisi duniawi, pemerintahan telah hilang dari mereka. Bahkan, mereka berubah menjadi bangsa yang terjajah oleh kekuatan Romawi saat itu. Dari sisi ruhani, banyak sekali perselisihan dan konflik yang terjadi antara satu sekte dengan sekte yang lainnya. Rabi-rabi Yahudi secara lahiriah memang masih melaksanakan ritual-ritual syar‘ī. Namun, seperti kata Nabī ‘Īsāas, hati mereka penuh dengan kemunafikan dan riyā’, sehingga julukan ular-ular beludak sangat pantas dan cocok disematkan kepada mereka[144]. Ini membentuk sikap pribadi mereka yang keras, kasar, dan berkepala batu. Oleh karena itu, beliau diutus untuk meniupkan kembali ruh hakiki dari Taurāt yang telah lama terkubur oleh praktek-praktek kemunafikan. Beliau mensimfonikan kembali khazanah-khazanah hikmah dan makrifat yang telah dilupakan oleh khalayak ramai. Ketika melaksanakan tugas, beliau tidak pernah mempergunakan cara-cara kasar. Malahan, beliau senantiasa bersikap lemah-lembut dan kasih sayang, agar sekat dan karat yang telah mendarah-daging di dalam tubuh ummat Yahudi hancur dan binasa. Sayang seribu sayang! Kaum beliau justru memperlakukan beliau dengan cara yang amat tidak hormat. Mereka hendak membunuh dan menyalib beliau. Seandainya bukan karena penjagaan dan proteksi Tuhan Yang Maha Hebat, mereka pasti dengan bangga akan memproklamirkan bahwa Nabī ‘Īsāas, wa al-‘iyādzu bi-Llāh, adalah seorang nabī palsu, karena beliau mati terkutuk di tiang salib. Namun, Allāh adalah Dzat Yang Memiliki kekuasaan dan otoritas atas segala sesuatu. Dia membuat sarana-sarana yang dapat melepaskan Ḥaḍrat al-Masīḥas dari jerat kematian hina di palang salib. Dan, pada akhirnya, beliau selamat lalu hijrah ke negeri-negeri timur hingga tutup usia[145]. Tidak adanya seorang pun di dunia ini yang melihat beliau masih hidup adalah bukti paling ṣaḥīḥ bahwa beliau telah pergi ke alam kekekalan. Inilah yang dikemukakan oleh al-‘Allāmah Abū Bakr aṭ-Ṭurṭūsyī, seorang faqīh dan asketis besar dari Madzhab Mālikī, dalam kitab Sirāj al-Mulūk[146]. History repeats itself, sejarah selalu mengulang dirinya sendiri. Dalam ḥadīts-ḥadīts mutawātir, disebutkan bahwa ummat Islām akan menapaki jejak-jejak menyelewengnya orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, ummat Islām juga akan tercemplung ke dalam lubang yang sama. Kita melihat sejak permulaan abad 17 Masehi, ummat Islām mulai kehilangan kedigdayaan dan kekuasannya dalam ilmu pengetahuan dan pemerintahan, terutama karena ekspansi bangsa-bangsa Eropa ke berbagai penjuru dunia, wabil khusus bercokolnya Inggris di bumi India pada 1611 M. Sejak saat itu, lampu Islām yang tadinya gilang-gemilang mulai redup secara drastis. Hingga pada akhir abad 19 Masehi, kebobrokan telah melanda seluruh negeri-negeri Islām. Sejarahwan-sejarahwan Inggris pada masa itu mencatat bahwa orang-orang Ottoman, yang tadinya merupakan ahli-ahli pelayaran yang ulung, sudah tak lagi mengetahui bagaimana cara menggunakan alat navigasi. Dinasti Mughal, yang sebelumnya adalah penerus tongkat estafet kejayaan sains Islām, hancur lebur digilas oleh kekuatan Sikhisme dan Neo-Hindu. Ringkasnya, seluruh negeri-negeri kaum muslimin pada masa itu berada di dalam genggaman orang-orang musyrik. Inggris, Prancis, dan Itali menguasai bagian barat. Sedangkan Belanda dan Portugis mempunyai lahan di belahan timur. Kejumudan dan fatalistik pun menjangkiti kehidupan beragama ummat. Hampir semuanya kering dan mati. Para ‘ulamā’ hanya sibuk membuat fatwa takfīr bagi firqah-firqah yang tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka. Ummat pun tertinggal dalam keadaan bingung dan melongo. Faktor-faktor inilah yang membuat Islām sedemikian dahsyatnya terpelanting jatuh, hingga tidak lagi dianggap, bahkan dihapuskan, dari percaturan dunia yang semakin kompleks. Di era kegentingan seperti itulah, Allāh meniupkan kembali ruh ke dalam tubuh Islām yang nampak tengah mengalami sakaratul maut[147], dengan membangkitkan utusan-Nya, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmadas, sebagai al-Imām al-Mahdī dan al-Masīḥ al-Mau‘ūd. Beliau datang dengan membawa suatu peperangan yang terakhir dan maha dahsyat. Namun, bukan peperangan dengan meriam atau senapan, melainkan peperangan yang didahului dengan revolusi diri, al-inqilāb al-ḥaqīqī, sehingga tanaman Islām yang telah layu akan segar kembali di dalam hati para pecintanya. Kekuatan inilah, yang digambarkan di dalam ḥadīts dengan memecahkan salib dan membunuh babi[148], yang nantinya akan melenyapkan dan menghilangkan setan dan awak-awak-nya dari muka bumi. Sehingga, Islām akan menang dan jaya untuk yang kedua kalinya, seperti difirmankan dalam al-Qur’ān:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿﴾ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ﴿﴾

“Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Allāh dengan mulut mereka. Tetapi, Allāh akan menyempurnakan Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah Yang mengirimkan Rasūl-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya di atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. [Sūrah aṣ-Ṣaff {61}:9-10]

Abū Ja‘far aṭ-Ṭabarī, mufassir agung yang pertama kali mempelopori dan mengkodifikasi tafsīr bi al-ma’tsūr, menjelaskan kepada kita waktu kemenangan Islām di atas semua agama itu dalam Jāmi‘ al-Bayān:

وذلك عند نزول عيسى ابن مريم، وحين تصير الملة واحدة، فلا يكون دين غير الإسلام .

“Itu akan terjadi sewaktu turunnya ‘Īsāas dan taktala agama-agama akan menjadi satu. Maka, tidak akan ada agama selain Islām”.[149]

Maksudnya adalah, kelak pada akhir zaman, orang-orang kafir akan berusaha untuk memadamkan Cahaya Tuhan Yang Paling Agung, Rasūlu-Llā MuḥammadSAW dengan perkataan mereka. Yaitu, dengan menulis buku-buku, artikel-artikel, selebaran-selebaran, pamflet-pamflet, dll, untuk mendiskreditkan dan membunuh karakter beliau. Melalui pidato-pidato dan orasi-orasi, mereka juga berupaya sekuat tenaga untuk menjatuhkan NabīSAW, dan dengan demikian menarik sebagian kaum muslimin ke dalam agama mereka. Lewat cara-cara kotor ini, misi-misi Kristen bertaburan di hampir setiap bangsa yang dijajah oleh tangan-tangan besi Barat. Perlu dicatat di sini bahwa kurun waktu antara 1815-1914 M telah ditetapkan sebagai abad besar bagi kristenisasi dunia (the great century of world evangelization). Mereka memiliki 3 misi yang maha penting dan paling esensial: memurtadkan kaum muslimin di bumi Hindustan, menjadikan Afrika lumbung dan basis agama Kristen kedua setelah Eropa, dan mengibarkan bendera salib di Makkah al-Mukarramah. Namun, alih-alih menjadi padam dan redup, justru Allāh membuat Cahaya-Nya semakin sempurna termanifestasikan. Tangan Allah bergerak untuk menggagalkan misi-misi jahat kaum yang berusaha menyebarkan kegelapan di seantero dunia. Sekali lagi, Dia ingin agar Nūr-Nya, MuḥammadSAW, yang merupakan pengejahwentahan dari unifikasi raḥmāniyyat dan raḥīmiyyat[150], kembali bergema dan membahana di muka bumi. Oleh sebab itu, Dia mengutus Rasūl-Nya di akhir zaman ini, Aḥmadas, sebagai penzahiran jamāliyyat-Nya (keindahan), untuk mendendangkan kembali senandung puja-puji bagi ar-Rasūl al-AkramSAW. Dia menjadikan Aḥmadas sebagai burūz (cerminan) dan ẓill (bayangan) bagi MuḥammadSAW, seolah-olah an-nūr al-aḥmadī adalah an-nūr al-muḥammadī itu sendiri. Wujud Muḥammad al-MuṣṭafāSAW, yang semata-mata adalah cahaya, menampakkan diri kembali ke dunia dalam wujud ‘āsyiq ṣādiq beliau, Aḥmadas, agar malam yang telah sedemikian lama menaungi dunia cepat berlalu menuju fajar. Oleh karena itu, wujud Aḥmadas sekarang adalah wujud MuḥammadSAW. Sebagaimana MuḥammadSAW adalah cahaya bagi kegelapan jāhiliyyat dan amoralitas, Aḥmadas adalah nur yang menerangi dunia yang tengah dihantui oleh kegelapan, yang sejatinya adalah reka ulang dari era jāhiliyyat yang penuh kebiadaban. Beliau bersabda di dalam al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah:

فعند هذه الليلة الليلاء، وظلمات الهوجاء، اقتضى رحم الله نور السماء. فأنا ذلك النور، والمجدد المأمور، والعبد المنصور، والمهدي المعهود، والمسيح الموعود.

“Maka, di malam yang amat sangat gulita dan kegelapan yang penuh topan badai ini, rahmat Allāh menghendaki hadirnya Cahaya Langit. Sesungguhnya, akulah Cahaya itu. Aku jugalah mujaddid yang diperintahkan dan hamba yang ditolong oleh Tuhan. Dan, aku jugalah al-Masīḥ dan al-Mahdī yang dijanjikan”.[151]

Di dalam Masīḥ Hindustān Mein, beliau bersabda:

“Akulah cahaya bagi kegelapan zaman ini. Barangsiapa yang mengikutiku, dia akan diselamatkan dari jurang dan lubang-lubang yang telah dipersiapkan oleh setan untuk orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan. Aku telah diutus oleh-Nya agar aku menuntun dunia ke arah Tuhan Hakiki dengan damai dan lemah lembut dan supaya aku menegakkan kembali kondisi-kondisi akhlak di dalam Islām. Dia juga telah menganugerahkan kepadaku tanda-tanda samāwī untuk memberikan ketentraman pada hati para pencari kebenaran. Dia telah memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang menakjubkan untuk mendukungku. Perkara-perkara ghaib dan rahasia-rahasia masa mendatang, yang menurut kitab-kitab suci Allāh adalah ukuran untuk mengenali seorang pendakwa yang benar, telah dibukakan kepadaku. Dia pun telah mengaruniakan kepadaku makrifat-makifat dan ilmu-ilmu suci. Untuk itulah jiwa-jiwa itu memusuhiku, yakni mereka yang tidak menghendaki kebenaran, bahkan senang dengan kegelapan”.[152]

Sekarang, nūr itu telah menyebar ke 206 negara di seluruh dunia. Ratusan juta jiwa yang mati kini telah dihidupkan kembali berkat hembusan rūḥ al-ḥayāt yang dibawa oleh nūr itu, sehingga mereka bisa bermanfaat untuk mengkhidmati Islām, Nabīnya ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallama, dan kemanusiaan, laksana cahaya matahari yang berguna untuk fotosintesis tumbuhan, sehingga tumbuhan itu dapat berfaedah bagi kepentingan banyak orang.

Bantahan Ketujuh

Allāh berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا ﴿﴾

“Dan, Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengirimkan seorang rasūl”. [Sūrah Banī Isrā’īl {17}:16]

Tafsir dan pemikiran Aḥmadiyah terhadap ayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan tafsir aṣ-Ṣāwī, justru saling berhubungan satu sama lain. Pendapat aṣ-Ṣāwī menerangkan keadaan orang-orang sebelum kedatangan seorang nabī, sedangkan pendapat Aḥmadiyah menjelaskan kondisi orang-orang pasca diutusnya seorang nabī. Aṭ-Ṭabarī menjelaskan maksud dari ayat itu:

وما كنا مهلكي قوم إلا بعد الإعذار إليهم بالرسل، وإقامة الحجة عليهم بالآيات التي تقطع عذرهم.

“Tidaklah Kami membinasakan suatu kaum, kecuali setelah membatalkan ‘udzr (plea/dalih) mereka dengan mengutus para rasūl kepada mereka dan menegakkan hujjah atas mereka dengan tanda-tanda yang mematahkan ‘udzr mereka”.[153]

Sdr. Agus terindikasi tidak dapat menerima kenyataan bahwa apa yang dikemukakan oleh Ahmadiyah adalah benar, lantas mencoba membenturkannya dengan pendapat salah seorang mufassir. Ini adalah cara orang-orang kalap yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Atau, kejadiannya sama seperti yang diungkapkan al-Mutanabbī bahwa ada prakonsepsi dan pemahaman yang sakit yang menjangkiti Sdr. Agus.

Pendapat Aḥmadiyah adalah kesimpulan yang logis yang diambil dari premis di dalam ayat tersebut. Para mufassir pun berpendapat sama dengan kami. Di atas, kami telah menyebutkan pendapat Ibn Jarīr. Ibn Katsīr pun mengatakan dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm:

وأنه لا يعذب أحدا إلا بعد قيام الحجة عليه، بإرسال الرسول إليه.

“Bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun, kecuali setelah ditegakkan hujjah atasnya (qiyām al-ḥujjah), dengan mengutus seorang rasūl kepadanya”.[154]

Al-Qurṭubī berujar dalam al-Jāmi‘ Li Aḥkām al-Qur’ān:

أن الله لا يهلك أمة بعذاب إلا بعد الرسالة إليهم والإنذار.

“Bahwa Allāh tidak akan membinasakan suatu ummat dengan azab, kecuali setelah mengutus seorang rasūl kepada mereka dan memberikan peringatan”.[155]


Ini sesuai dengan firman Tuhan dalam al-Qur’ān:

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَىٰ ﴿﴾

“Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan azab sebelum ini, niscaya mereka akan berkata: Ya Tuhan kami! Mengapakah tidak Engkau kirimkan kepada Kami seorang rasul supaya kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?”. [Sūrah Ṭāhā {20}:135] 

Kesimpulannya, usaha Sdr. Agus untuk menubrukkan pendapat kami dengan pendapat sebagian ‘ulamā’ yang muktabar terbukti gagal total. Sebaliknya, para ‘ulamā justru seiya sekata dengan kami.

Perlu diingat juga di sini bahwa ayat tersebut berlaku secara umum. Artinya, selama tidak ada dalil yang men-takhṣīṣ-nya, maka itu berlaku secara menyeluruh. Adapun ḥadīts yang diklaim oleh Sdr. Agus sebagai pembatas, itu adalah ḥadīts ḍa‘īf munkar, sebagaimana telah kami terangkan dalam poin-poin bantahan di atas.

Oleh sebab itu, karena bencana sudah terjadi di mana-mana, maka pasti seorang rasūl telah diutus ke dunia. Sayangnya, dunia menolaknya yang mana penolakannya itu berakibat turunnya azab. Inilah kondisi dunia yang telah menolak al-Masīḥ al-Muḥammadīas, Sayyidunā Aḥmadas. Beliau mendapat sebuah wahyu:

دنیا میں ایک نذیر آیا، پر دنیا نے اس کو قبول نہ کیا، لیکن خدا اُسے قبول کریگا، اور بڑے زورآور حملوں سے اُس کی سچائی دُنیا پر ظاہر کر دے گا.

“Seorang pemberi ingat telah datang ke dunia. Dunia tidak menerimanya. Namun, Tuhan akan menerimanya dan menzahirkan kebenarannya dengan serangan-serangan yang hebat dan dahsyat”.[156]

Beliau bersabda:

“Ingatlah! Allah Ta‘ālā telah memberitahukan berulang kali kepadaku bahwa akan terjadi gempa bumi. Maka, yakinlah bahwa sebagaimana sesuai dengan nubuatanan telah terjadi gempa mumi di Amerika, demikian juga akan terjadi gempa di Eropa, dan di beberapa tempat di Asia juga akan terjadi sesuai dengan nubutan itu! Di beberapa tempat akan terjadi sedemikian dahsyatnya laksana kiamat. Sedemikian dahsyatnya, sehingga akan mengalirkan sungai-sungai darah, burung-burung dan binatang-binatang lainnya tidak akan selamat dari kematian. Akan terjadi kehancuran yang sangat dahsyat di muka bumi, yang tidak pernah terjadi semenjak manusia diciptakan. Sebagian besar dunia akan hancur porak-poranda, seakan-akan di tempat itu tidak pernah ada penduduk. Bersamaan dengan itu, akan terjadi musibah lain dari langit dan dari bumi yang sangat menakutkan, sehingga manusia akan menganggapnya sangat luar biasa sekali. Dan, tidak akan diperoleh satu keterangan pun mengenainya dari buku-buku astronomi maupun buku-buku filsafat. Barulah manusia akan mengalami kegelisahan dan kebingungan yang amat sangat dahsyat, apa yang tengah terjadi sekarang ini? Banyak manusia yang akan selamat dan banyak juga yang akan hancur binasa. Hari-hari kejadian itu sudah dekat sekali, bahkan aku melihatnya sudah sampai di ambang pintu, bahwa dunia akan menyaksikan pemandangan sebuah kiamat. Bukan sekedar gempa bumi, bahkan akan terjadi bencana musibah yang sangat mengerikan, sebagian akan turun dari langit dan sebagian lain dari bumi. Hal itu semua akan terjadi sebab manusia telah meninggalkan ibadah kepada Tuhan mereka. Dan, semua perhatian, semua pikiran, semua usaha, dan semua kecintaan telah ditumpukan kepada urusan dunia semata. Seandainya aku belum datang, semua bencana dan musibah itu tentu akan terlambat datang. Tetapi, bersamaan dengan kedatanganku, kemurkaan Allāh Ta‘ālā berupa azab tersembunyi yang sejak lama terpendam kini sudah zahir. Sebagaimana Allāh Ta‘ālā berfirman: Dan, Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengirimkan seorang rasūl.

Maka, mereka yang bertaubat akan mendapat keselamatan, dan mereka yang menunjukan rasa takut sebelum musibah datang akan dikasihani. Apakah kalian mengira akan selamat dari gempa bumi ini? Ataukah kalian akan selamat dengan ikhtiar dan upaya sendiri? Tidak! Sekali-kali tidak! Pada hari itu, semua ikhtiar dan usaha manusia akan lumpuh. Janganlah sekali-kali beranggapan bahwa hanya Amerika yang sudah dilanda gempa dan negara kalian selamat! Wahai Eropa! Engkau tidak akan aman! Wahai Asia! Kalian juga tidak akan aman! Wahai orang-orang yang tinggal di pulau-pulau! Tidak ada tuhan buatan yang akan menolong kalian! Aku menyaksikan kota-kota porak poranda dan aku melihat penduduk menjadi sunyi. Tuhan Yang Maha Esa telah sejak lama berdiam diri. Perbuatan-perbuatan maksiat dilakukan manuisa di hadapan Mata-Nya dan Dia tinggal diam. Akan tetapi, sekarang Dia akan memperlihatkan Wajah-Nya. Barangsiapa yang mempunyai telinga, dengarlah! Waktunya tidak lama lagi. Aku telah berusaha menghimpun kalian di bawah perlindungan Allāh Ta‘ālā, namun takdir Tuhan pasti akan sempurna”.[157]

Lagi, beliau bersabda:

“Pemandangan di zaman Nabi Nūḥas akan tampil di hadapan mata kalian. Juga, peristiwa di zaman Nabī Lūṭas akan nampak di hadapan mata kalian. Tetapi, Tuhan sangat lambat menampakan kemarahan-Nya. Bertaubatlah kalian agar kalian dikasihani! Barangsiapa yang meninggalkan Tuhan, dia adalah ulat, bukan manusia. Dan, barangsiapa yang tidak takut kepada Tuhan dia adalah benda mati bukan mahluk hidup”.[158]

Sekarang, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Jika kita menolak dan menganggap beliau sebagai pendusta, itu adalah hak kita. Namun, jika beliau benar, sedangkan kita tidak beriman dan mendustakan, kita sama saja menggolongkan diri ke dalam golongan para muftarī yang mengaku-ngaku sebagai nabī. Dengan demikian, kita adalah orang-orang yang paling aniaya. Allāh befirman:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ ﴿﴾

“Maka siapakah yang lebih aniaya dari orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allāh atau mendustakan tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya tidak akan sukses orang-orang yang berdosa”. [Sūrah Yūnus {10}:18]

Bantahan Kedelapan

Allāh berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ ﴿﴾

“Dan ingatlah  ketika ‘Īsā ibn Maryam berkata: Wahai Banī Isrā’īl! Sesungguhnya aku rasūl Allah kepadamu untuk membenarkan apa yang ada sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar suka tentang seorang rasul yang datang sesudahku namanya Aḥmad. Maka, tatkala dia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata”. [Sūrah aṣ-Ṣaff {61}:7]

Seandainya Sdr. Agus lebih jeli dalam meneliti, pasti beliau akan mendapati bahwa menurut Ahmadiyah, yang disebut sebagai Aḥmad di dalam ayat tersebut sejatinya adalah Nabī MuḥammadSAW, dan bisa juga dikenakan kepada Ḥaḍrat Aḥmadas. Di dalam at-Tafsīr aṣ-Ṣaġīr terjemahan bahasa Inggris, Ḥaḍrat Khalīfat-ul-Masīḥ ats-Tsānī, Mirzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra, mengomentari ayat tersebut:

“Thus, the prophecy mentioned in the verse under comment refers to the Holy ProphetSAW. But, as a corollary, it may also apply to the Promised Messiahas, Founder of the Ahmadiyya Movement. Since, in his person, the second manifestation of the Holy ProphetSAW took place”.[159]

“Oleh karena itu, nubuatan yang terkandung dalam ayat yang sedang dikomentari ini merujuk kepada Nabī SuciSAW. Namun, sebagai sebuah akibat yang wajar, itu juga dapat dikenakan kepada al-Masīḥ al-Mau‘ūdas, Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Sebab, di dalam pribadi beliau, manifestasi kedua dari Nabī SuciSAW terwujud”.

Apabila Sdr. Agus bisa berbahasa Urdu, kami sarankan beliau untuk membaca kitab Tafsīr Ḥaḍrat al-Masīḥ al-Mau‘ūdas. Di sana terdapat penjelasan-penjelasan beliau yang dikutip dari beberapa buku beliau: Ā’īnah Kamalāt-e-Islām, Tūḥfah Ġolerwiyyah, dan Arba‘īn. Di sana juga dikutip beberepa komentar beliau tentang ayat tersebut dari berbagai edisi majalah al-Badr dan al-Ḥakam. Intinya, kesemuanya menyatakan bahwa nama Aḥmad di dalam Sūrah aṣ-Ṣaff pertama-tama mengarah kepada Nabī MuḥammadSAW, sesuai dengan ḥadīts-ḥadīts. Namun, ini juga bisa dikenakan kepada al-Imām al-Mahdīas, karena beliau semata-mata adalah cerminan dan bayangan sejati bagi al-MujtabāSAW.

Bantahan Kesepuluh

Allāh berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿﴾

“Muḥammad bukanlah bapak salah seorang di antara laki-laki laki, akan tetapi dia adalah Rasūl Allāh dan Khātam-un-Nabiyyīn. Dan, Allāh Maha Mengetahui segala sesuatu”. [Sūrah al-Aḥzāb {33}:41]

Pertama-tama, kami perlu tekankan di sini bahwa dalam kamus bahasa Arab mana pun, kata خاتم selalu berarti cap, materai, atau cincin. Ini dikarenakan kata خاتم berada dalam bentuk ism al-ālat. Dalam Qāmūs al-‘Ayn karangan al-Farāhīdī, kamus bahasa Arab tertua dan terdekat dengan zaman NabīSAW, kata خاتم diartikan sebagai berikut:

الطين الذي يختم به على كتاب.

“Tanah yang dengannya sebuah surat dimaterai”.[160]

Pada zaman kuno, tanah dan berbagai medium lainnya sering digunakan sebagai materai atau stempel untuk mengirim surat resmi, yang dengannya surat itu menjadi absah dan diakui. Nabī MuḥammadSAW juga mempergunakan perak sebagai materai atau stempel bagi surat beliau yang ditunjukan kepada Kaisar Byzantium saat itu, Heraclius. Kita membaca dalam ḥadīts:

حدثنا علي بن الجعد؛ أخبرنا شعبة؛ عن قتادة، قال: سمعت أنسا رضي الله عنه يقول: لما أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى الروم، قيل له: إنهم لا يقرءون كتابا إلا أن يكون مختوما، فاتخذ خاتما من فضة، فكأني أنظر إلى بياضه في يده، ونقش فيه محمد رسول الله .

“ ‘Alī ibn al-Ja‘d menceritakan kepada kami; Syu‘bah mengabarkan kepada kami; dari Qatādah, dia berkata: Aku mendengar Ḥaḍrat Anasra berkata: Taktala Ḥaḍrat NabīSAW ingin menulis sebuah surat kepada orang-orang Romawi, disarankan kepada beliau: Sesungguhnya mereka tidak akan membaca sebuah surat, kecuali ia telah dimaterai/distempel. Lantas, beliau mengambil sebuah materai/stempel dari perak. Maka, aku seolah-olah melihat warna putih di tangan beliau, dan tertulis di dalam surat itu: Muḥammad Rasūlu-Llāh”.[161]

Jadi, berdasarkan keterangan-keterangan ini, kata memiliki arti cap, materai, atau stempel. Yaitu, sebuah alat yang digunakan untuk mensahkan surat. Maka dari itu, makna khātam-un-nabiyyīn, bersesuaian dengan kenyataan ini, adalah bahwa Allāh menjadikan Nabī kita ṣalla-Llāhu ‘alayhi wa ālihī wa sallam sebagai wujud yang mensahkan kenabīan para nabī terdahulu. Makna ini sudah kami jelaskan dan terangkan di dalam poin-poin bantahan di atas.

Kata خاتم juga dapat berarti cincin. Sdr. Agus sendiri sudah menyebutkan bahwa bila kata خاتم dirangkaikan dengan kata الذهب (خاتم الذهب), itu akan bermakna cincin emas. Di dalam ḥadīts pun, kita membaca bahwa arti dari  خاتم itu adalah cincin. Abū Bakr ibn Abī Syaybah menulis dalam al-Muṣannaf:

حدثنا أبو بكر؛ قال: حدثنا عثمان بن عمر؛ عن يونس، عن الزهري، عن أنس، قال: كان في خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم فضة، وكان فصه حبشيا.

“Abū Bakr menceritakan kepada kami; dia berkata: ‘Utsmān ibn ‘Umar menceritakan kepada kami; dari Yūnus, dari az-Zuhrī, dari Ḥaḍrat Anasra, beliau berkata: Cincin Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW terbuat dari perak dan mata cincinnya berasal dari Ethiopia”.[162]

Adapun pemaknaan خاتم sebagai yang terbaik, jika dirangkaikan dengan kata benda plural, adalah salah satu bentuk al-istidlāl al-istiqrā’ī atau pendekatan induktif. Yakni, suatu hipotesa ilmiah yang diambil dari banyak sampel dan contoh. Dalam khazanah turāts Arab, kita sering menjumpai contoh-contoh ini. Sebuah tim yang terdiri dari para ‘ulamā’ Ahmadiyah di Pakistan telah mengumpulkannya dalam sebuah buku yang bernama Mahzarnama. Terdapat 41 contoh di dalam buku itu. Namun, kami hanya akan menyampaikan beberapa saja di sini, misalnya:

1. Abū Tammām aṭ-Ṭā’ī, penyair pada zaman ‘Abbāsiyyah yang juga pengarang Dīwān al-Ḥamāsah, disebut sebagai Khātam asy-Syu‘ārā’. [Wafayāt al-A‘yān – Ibn Khalikān]

2. Abū al-Faḍl al-Alūsī, pengarang kitab tafsir Rūḥ al-Ma‘ānī asal Baghdad pada abad 12 H, dijuluki sebagai Khātam-ul-Mufassirīn. [Rūḥ al-Ma‘ānī – al-Alūsī];

3. Muḥy-id-Dīn Ibn ‘Arabī, ahli taṣawwuf-falsafī besar pada zaman keemasan Islām di Andalus, dikenal dengan sebutan Khātam-ul-Awliyā’. [Al-Futūḥāt al-Makkiyyah – Ibn ‘Arabī][163]

Mereka bertiga bukanlah orang-orang atau ahli-ahli yang terakhir di bidang mereka masing-masing. Tetapi, karena mereka sedemikian hebatnya di dalam bidang masing-masing, dan karena mereka sudah mencapai stasiun paling tinggi di dalam keahlian masing-masing, kata خاتم lantas disematkan kepada mereka.

Oleh sebab itu, Nabī MuḥammadSAW adalah خاتم النبيين, yakni nabī yang telah mencapai derajat dan maqām samāwī tertinggi, sedemikian tingginya sehingga semua manusia kelak akan dibangkitkan di bawah telapak kaki beliau. Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmadas bersabda:

“Karena Ḥaḍrat NabīSAW adalah yang terbaik di antara para nabī semuanya, termulia, terluhur derajatnya, paling bersinar, dan paling suci di setiap persyaratan kesucian batin, kelapangan dada, keterjagaan dari dosa, sifat malu, kejujuran, kesucian, tawakal, keamanahan, dan kecintaan kepada Allāh, maka Allāh mengharumkan beliau dengan harumnya kemuliaan-kemuliaan eksklusif yang lebih banyak dari yang lain. Fikiran dan hati beliau memiliki keluasan, kesucian, kemurnian, cahaya, dan cinta yang lebih banyak dari segenap hati dan fikiran orang-orang yang datang sebelum beliau dan akan datang sebelum beliau. Maka, sudah sepantasnya turun kepada keduanya wahyu yang lebih kuat, sempurna, luhur, dan paripurna dari wahyu orang-orang yang datang sebelum beliau dan akan datang sebelum beliau, supaya keduanya menjadi cermin yang luas dan murni bagi rekleksi sifat-sifat ilāhiyyah”.[164]

Perlu juga diperhatikan bahwa pemaknaan khātam an-nabiyyīn sebagai yang terakhir dibangkitkan tidak menunjukkan keunggulan apa pun. Bahkan, al-Ḥakīm at-Tirmidzī, seorang ṣūfī dan ‘ārif bi-Llāh pada abad 3 H, menyebutnya sebagai takwil orang-orang yang pandir dan bodoh. Beliau berkata dalam kitab Khātam al-Awliyā’:

فإن الذي عمي عن خبر هذا يظن أن خاتم النبيين تأويله أنه آخرهم مبعثا، فأي منقبة في هذا؟ وأي علم في هذا؟ هذا تأويل البله الجهلة.

“Sesungguhnya orang yang buta dari khabar ini menyangka bahwa khātam-un-nabiyyīn takwilnya adalah yang terakhir dibangkitkan dari antara para nabī. Keunggulan apa yang terletak dalam takwil ini? Ilmu apa yang terletak di dalam takwil ini? Ini adalah takwil orang-orang pandir dan bodoh”.[165]

Perihal ḥadīts tentang khātam-ul-awliyā’ dan khātam-ul-muhājirīn, kedua-duanya memang lemah. Maksud dari mengetengahkan khabar-khabar tersebut semata-mata hanya untuk mengkomparasinya (semacam qiyās musāwī) dengan istiqrā’ atau pendekatan induktif tentang kata خاتم bila dirangkaikan dengan kata benda plural. Hal yang sama juga berkaitan dengan ḥadīts tentang khātam-ul-masājid. Kita membaca:

حدثنا حسين بن حسن؛ قال: حدثنا عبد العزيز بن أبي عثمان؛ عن موسى بن عبيدة، عن داود بن مدرك، عن عروة بن الزبير، عن عائشة رضي الله عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أنا خاتم الأنبياء، ومسجدي خاتم المساجد، وأحق المساجد أن يزار وتركب إليه الرواحل المسجد الحرام ومسجدي هذا، وصلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد، إلا المسجد الحرام.

“Ḥusayn ibn Ḥasan menceritakan kepada kami; dia berkata: ‘Abd-ul-‘Azīz ibn Abī ‘Utsmān menceritakan kepada kami; dari Mūsā ibn ‘Ubaydah, dari Dāwūd ibn Mudrik, dari Ḥaḍrat ‘Urwah ibn az-Zubayrra, dari Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, beliau berkata: Ḥaḍrat Rasūlu-LlāhSAW bersabda: Aku adalah Khātam-un-Nabiyyīn dan masjidku adalah khātam-ul-masājid. Masjid yang paling berhak dikunjungi dan ditempuh perjalanan menujunya adalah al-Masjid al-Ḥarām dan masjidku ini. Sekali shalat di masjidku lebih baik daripada 1000 kali shalat di masjid-masjid yang lainnya, kecuali al-Masjid al-Ḥarām”.[166]

Ḥadīts di atas ḍa‘īf karena faktor Mūsā ibn ‘Ubaydah. Namun, derajatnya terangkat menjadi ṣaḥīḥ bi syawāhidihi karena syawāhid-nya berjumlah banyak, (salah satunya ḥadīts tentang ākhir-ul-masājid di dalam poin-poin di atas) serta berstatus mutawātir dan ṣaḥīḥ li dzātihi.

Sebenarnya, bukan derajat atau status ḥadīts di atas yang menjadi fokus kami, melainkan pemaknaan kata خاتم jika dirangkaikan dengan kata benda jamak yang ada di dalamnya, yakni kata خاتم yang dirangkaikan dengan bentuk jamak المساجد. Tarkīb iḍāfī tersebut tidak menghasilkan makna “masjid terakhir”, malahan ditafsirkan sendiri oleh NabīSAW sebagai yang paling afdhal dan mulia, sebab masjid beliaulah yang paling berhak diziarahi dan dikunjungi. Lagipula, sekali shalat di dalamnya lebih baik daripada 1000 kali di masjid-masjid lain.

Kesimpulannya, khabar tentang khātam-ul-awliyā’ dan khātam-ul-muhājirīn memang ḍa‘īf. Tetapi, kedua-duanya dapat dikomparasi dengan contoh-contoh lain dari pendekatan induktif tentang tarkīb iḍāfī kata خاتم dengan kata benda jamak, yang mana kesemuanya selalu bermakna yang terbaik, yang termulia, dan yang terluhur.

Inilah jawaban-jawaban kami terhadap keberatan-keberatan yang diajukan oleh Sdr. Agus. Kami berharap, tulisan ini dapat bermanfaat dan berfaedah bagi para pencari kebenaran dan hakikat (ṭālib al-ḥaqq wa al-ḥaqīqah). Kebaikan yang diperbuat oleh seseorang akan selalu melekat dan terkenang di atas Singgasana Tuhan dan di dalam hati manusia. Terngiang dalam ingatan kami sebuah bait syair dari al-Ḥuṭay’ah, yang dikutip oleh al-Jāḥiẓ dalam al-Bukhalā’:

من يفعل الخير لا يعدم جوازيه    لا يذهب العرف بين الله والناس

“Barangsiapa yang berbuat baik, dia tak akan kosong dari bagian-bagian hasil kebaikannya | Ingatan akan kebiasaan baik ini tidak akan lekang di antara Allāh dan manusia”.[167]

Untuk Sdr. Agus, kami sarankan kepada beliau agar lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan. Sebaiknya, beliau jangan bersahabat dengan aura-aura fitnah dan keburukan. Kami khawatir perilaku beliau ini mengundang turunnya azab dari Tuhan. Ibn al-‘Assāl, seorang penyair muslim menjelang runtuhnya kekuasaan Islām di Andalus, menuliskan sebuah bait syair yang indah dan patut direnungkan:

من جاور الشر لا يأمن عواقبه    كيف الحياة مع الحيات في سفط

“Barangsiapa yang bertetangga dengan keburukan, dia tidak akan aman dari akibat-akibatnya | Bagaimana mungkin ada kehidupan, sedangkan terdapat ular-ular dalam satu kantong yang sama?”.[168]

Bilakhir, kami ingin menyampaikan sabda agung dari Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Sayyidunā Aḥmad al-Qādiyānīas, yang diperuntukkan secara khusus bagi para penentang beliau. Beliau bersabda:

“Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa! Wahai Sang Pencipta dan Penguasa bumi dan Langit! Wahai Junjungan Samāwī-ku Yang Dapat Melihat ke dalam dasar lubuk hati manusia, yang bagi-Nya tidak sesuatu pun terselubung di bumi dan langit ini!

Jika Engkau melihat bahwa diriku dipenuhi oleh kotoran-kotoran akan keburukan, kejahatan, keonaran, dan kebejatan, jika Engkau menganggapku sebagai orang yang berfitrat buruk serta berprilaku kotor, maka aku bersumpah dengan keagungan dan keperkasaan Engkau! Hancurkanlah diriku yang buruk ini berkeping-keping dan sejukkanlah hati para penentangku! Hujanilah rumah dan dinding-dindingku dengan api azab-Mu! Hancurkanlah semua pekerjaan-pekerjaanku!

Namun, jika Engkau mengetahui bahwa aku hanyalah dan hanyalah seorang hamba Engkau, jika Engkau menyaksikan bahwa hanya di depan gerbang singgasana Engkaulah aku bersujud, jika Engkau di dalam hatiku mendapatkan kecintaan yang tak terhingga terhadap-Mu, maka wahai Junjunganku Yang Tercinta! Perlihatkanlah kepadaku kharisma kecintaan-Mu dan zahirkanlah kepada manusia rahasia terselubung akan kecintaanku!

Dunia tidak mengenalku. Tetapi, Dia Yang Mengutusku mengenalku. Mereka yang mengharapkan kehancuranku sungguh sangat keliru dan tidak beruntung. Aku adalah pohon yang ditanam secara langsung oleh Allāh Ta‘ālā.

Wahai manusia! Kalian harus memahami ini dengan seyakin-yakinnya bahwa aku ditemani oleh Tangan itu, yang akan tetap percaya kepadaku sampai akhir waktu. Apabila laki-laki dan wanita-wanita kalian, orang-orang muda dan orang-orang tua kalian, dan orang-orang rendahan dan terpandang kalian; kesemuanya bertekad untuk berdoa bagi kehancuranku, sedemikian rupa sehingga hidung kalian menjadi bengkak dan hilang karena sujud kalian yang tanpa batas, serta tangan kalian menjadi kebas, Tuhan dengan penuh kepastian tetap tidak akan mengabulkan doa kalian, dan Dia tidak akan berhenti hingga kehendak-Nya terjadi. Meskipun aku tidak memiliki seorang pun bersamaku, malaikat-malaikat Allāh akan berada di sisiku. Dan, jika kalian menyembunyikan kesaksian kalian, batu pun akan dengan terang bersaksi untukku. Oleh karena itu, jangan melukai jiwa kalian. Allāh tidak meninggalkan sesuatu pun yang tak terselesaikan. Aku menganggap sebagai sesuatu yang terkutuk, kehidupan yang ternodai dengan dusta dan kebohongan dan yang takut terhadap makhluk Tuhan, seraya mengelak untuk taat kepada perintah Tuhan. Ini benar-benar tidak mungkin bagiku untuk menampakkan sedikit pun kelambanan, walau matahari di satu sisi dan bumi di sisi lain akan menabrak diriku di tenga-tengah mereka, dalam melaksanakan tugas yang Allāh mempercayakannya kepadaku sekarang, yang mana Dia sendirilah yang telah mengutusku.

Apalah manusia itu? Dia hanya seekor cacing, dan tak lebih dari sebongkah daging. Lantas, mengapa pula aku harus mengabaikan perintah Sang al-Ḥayyu al-Qayyūm demi makhluk rendah ini?

Sebagaimana Allāh pada akhirnya memberikan keputusan antara para nabī terdahulu dengan orang-orang yang mendustakan mereka, demikian pula Dia akan memutuskan pada saat ini. Ada musim bagi para nabī untuk datang dan pergi. Maka, camkanlah ini dengan seyakin-yakinnya bahwa kedatanganku bukan tidak pada musimnya, atau kepergianku tidak tepat sesuai musimnya! Oleh karena itu, janganlah berperang dengan Tuhan! Ini bukanlah pekerjaan kalian untuk menghancurkanku”.[169]

Lagi, beliau bersabda:

“Dengan nama Tuhan Yang Maha Suci, aku peringatkan para penentangku dan yang sejenis mereka bahwa cacian dan makian bukanlah cara orang-orang yang jantan. Bila dalam fikiran kalian yang miring kalian harus bersikeras untuk tetap melakukan kejahatan, jadilah demikian. Jika kalian harus menganggapku sebagai seorang pendusta, kalian juga punya opsi untuk berhimpun di dalam masjid-masjid kalian dan berdoa untuk menentangku, baik secara tersendiri atau bersama-sama. Seandainya aku adalah seorang pendusta, doa-doa itu dengan pasti akan dikabulkan, karena kalian senantiasa berdoa untuk menentangku.

Tetapi, ingatlah! Meskipun banyaknya doa-doa kalian akan menyayat lidah kalian, meskipun kalian sampai menghilangkan hidung kalian dalam sujud, meskipun kelopak mata kalian membusuk bersebab banyaknya tangisan, bulu mata kalian berjatuhan, penglihatan kalian menjadi lemah karena terlalu banyak menangis, dan fikiran kalian menjadi kosong dan berakhir dengan kemurungan; kesemuanya tetap tidak akan didengar, karena aku berasal dari Allāh. Tiada seorang pun dapat meninggal, kecuali kematiannya telah ditentukan di langit. Ruhku telah diberkati dengan kebenaran yang sama dengan yang telah dikaruniakan kepada Ḥaḍrat Ibrāhīmas. Aku memiliki pertaliaan dengan Tuhan yang serupa dengan pertalian Ḥaḍrat Ibrāhīmas dengan-Nya. Tiada seorang pun yang mengetahui rahasiaku selain Tuhan. Para penentangku secara tidak sengaja terikat dalam kehancuran diri. Aku bukanlah tanaman yang dapat ditumbangkan oleh tangan mereka. Wahai Tuhan! Kiranya Engkau berkenan untuk mengasihi ummat ini! Āmīn!”.[170]

*Footnote menyusul

5 komentar:

  1. Basyir Ahmad menceritakan: Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke sana 2 atau 3 kali tanpa memberitahu aku. Kemudian dia bangunkan aku, maka aku melihatnya lemah sekali dan tidak mampu untuk pergi ke ranjangnya. Oleh karenanya, dia duduk di tempat tidurku. Mulailah aku mengusapnya dan memijatnya. Tak lama kemudian, ia butuh ke WC lagi. Tetapi sekarang ia tidak dapat pergi ke WC, karena itu dia buang hajat di sisi tempat tidur dan ia berbaring sejenak setelah buang hajat. Kelemahan sudah mencapai puncaknya, tapi masih saja hendak buang air besar. Diapun buang hajatnya, lalu dia muntah. Setelah muntah, dia terlentang di atas punggungnya, dan kepalanya menimpa kayu dipan, maka berubahlah keadaannya.” (Siratul Mahdi hal. 109 karya Basyir Ahmad)

    kematian yg dikarenakan doa mubahalah mirza sendiri thdp,Asy-Syaikh Tsana’ullah Al-Amru Tasri. berikut perkataan si ghulam.

    “…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu.
    Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah
    Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH."

    Apa yang terjadi? Setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu, justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.
    Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematian si ghulam selama hampir 40 tahun.

    http://abufarras.blogspot.com/2011/08/akhir-kehidupan-yang-menghinakan-nabi.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kewafatan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) berdasarkan cerita yang asli dan shahih dari penuturan putra beliau yang menyaksikannya dapat dibaca di sini http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-3.htm. Semoga mata hati anda terbuka.

      Hapus
    2. belajar lah sejarah ttg si ghulam dg benar dari sumber yg asli ya tong. krn si gulam nongol di jaman modern maka sejarah ttg si ghulam yg msh asli sangat banyak bisa ditemukan, ttg asal usul nya, ttg ayahnya ttg lahir nya ttg penyakit gila nya, ttg cinta tak terbalas nya pada wanita dan surat surat cinta nya, juga kematiannya. msh lengkap tong.

      Hapus
    3. Sumber asli = sumber Ahmadiyah :)

      Hapus
  2. kasihan...merasa bener berilmu tapi nggak prnh mau liat sumber sejarah yg objektif.. yg paling enteng aja loe tau gak ttg kisah cinta dan lamaran si ghulam yg ditolak muhamadi begum ? nabi kok konyol gitu ? ayo tong baca baca lg

    BalasHapus