Senin, 09 Juni 2014

Sebuah Renungan dari Pemimpin Para Ahli Hadis

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Sebuah Renungan dari Pemimpin Para Ahli Hadis

Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, seorang mu’arrikh (ahli sejarah) dan muḥaddits (ahli hadis) abad 7 H, menukil sebuah kisah motivasional dan inspirasional dari Imam Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismāī‘l Al-Bukhārīrh dalam salah satu magnum opusnya, Siyaru A‘lām an-Nubalā’, sebagai berikut:


“Sewaktu kecil dahulu, Aku bisa mengunjungi majlis para ahli fikih di kota Merv (sekarang Turkmenistan). Ketika datang, Aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka. Suatu kali, seorang mu’addib dari kota itu bertanya kepadaku, ‘Berapa hadis yang telah Kamu tulis pada hari ini? Aku menjawab, ‘Dua. Yakni, yang Aku maksud adalah dua hadis. Lantas, tertawalah orang-orang yang hadir dalam majelis tersebut. Akan tetapi, salah seorang syaikh dari antara mereka berujar, Janganlah tertawa! Bisa jadi dia akan menertawakan kalian suatu hari nanti.’”[1]

Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad Al-Qādiānīas, telah mewanti-wanti para anggota Jemaat agar tidak saling menghina dan merendahkan satu sama lain, baik itu dalam keilmuan maupun dalam hal apa pun. Mereka yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan hendaknya jangan meremehkan mereka yang baru belajar. Mereka yang mempunyai keunggulan dalam harta hendaknya jangan mendiskreditkan yang berkekurangan. Ringkasnya, ruh ketakwaan harus benar-benar meresap ke dalam jiwa sehingga hidup akan penuh dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Beliau bersabda:

“Untuk menjadi seorang muttaqī, terdapat syarat agar Kita dapat menjalani hidup ini dengan kerendahan hati dan kesederhanaan. Ini adalah sebuah cabang dari ketakwaan yang dengan perantaraannyalah Kita akan mampu melawan amarah yang bukan pada tempatnya. Tahapan yang terakhir dan tersulit bagi orang-orang yang memperoleh makrifat dan para sidik adalah menghindarkan diri dari amarah. Kesombongan dan keangkuhan timbul dari amarah dan amarah itu sendiri terkadang merupakan hasil dari kesombongan dan keangkuhan. Sebab, amarah tersebut timbul tatkala seorang manusia menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Aku tidak ingin kalau warga Jemaatku saling menganggap hina atau menganggap tinggi terhadap satu sama lain atau bersikap angkuh dan memandang rendah terhadap satu sama lain. Tuhan sajalah yang mengetahui siapa yang besar dan siapa yang kecil. Hal yang demikian itu adalah semacam kenistaan yang di dalamnya terkandung suatu kenistaan pula. Penghinaan tersebut dirisaukan akan tumbuh besar bagaikan benih dan mengakibatkan kehancuran.

Sebagian orang menemui orang-orang besar dengan penuh hormat. Akan tetapi, seorang yang besar adalah dia yang mendengarkan dan memperhatikan perkataan orang miskin dengan kerendahan hati, membahagiakan hatinya, menghormati perkataannya, dan tidak melontarkan kata-kata sinis yang dapat melukai hatinya.

Allah Taala berfirman:

وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْإِيْمَانِ ﴿﴾[2]

Janganlah saling mengimbau dengan panggilan buruk! Sikap yang demikian itu adalah suatu perbuatan buruk dan dosa. Siapa yang mengejek-ejek orang lain, dia tidak akan mati sebelum dia sendiri tenggelam dalam hal yang sama seperti yang dia ejekan itu. Janganlah menganggap hina saudara-saudara kalian! Kalian semua meminum air dari satu telaga yang sama. Oleh karena itu, siapa yang tahu bahwa sudah menjadi nasib seseorang bahwa dia akan meminum air yang lebih banyak? Seseorang tidak dapat menjadi terhormat dan terpandang berdasarkan ketentuan-ketentuan duniawi. Di sisi Tuhan, seorang yang besar adalah seorang yang bertakwa

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ﴿﴾[3]

Sesungguhnya, orang yang paling mulia dari antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui dan Mahateliti.[4]

Catatan Kaki

[1] Syams-u-Dīn Adz-Dzahabī, Siyaru A‘lām an-Nubalā’ v. 12 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1996 M/1417 H), h. 401.

[2] Q.S. 49:12.

[3] Q.S. 49:14.

[4] Pidato Pertama Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas pada Jalsah Salanah Qadian tertanggal 25 Desember 1897; Malfūẓāt, v. 1, h. 36.

1 komentar: