Kamis, 19 Juni 2014

Hakikat Ruh menurut Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah (as)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود


Hakikat Ruh


Tulisan ini merupakan cuplikan dari salah satu karya besar Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad Al-Qādiānīas, Islām Uṣūl Kī Filāsafī atau Filsafat Ajaran Islam, yang dibacakan dalam Konferensi Agama-Agama pada 26-28 Desember 1896 di Lahore, British India. Beliau bersabda:

Selanjutnya, dalil mengenai adanya hubungan itu ialah, apa­bila Kita renungkan dengan seksama, Kita akan mengetahui bahwa induk ruh justru tubuh itu juga. Sesungguhnya, ruh tidaklah jatuh dari atas dan masuk ke dalam kandungan wanita hamil. Akan tetapi, ia adalah suatu nur yang justru terkandung dalam nutfah secara tersembunyi dan semakin bercahaya seiring perkembangan tubuh (embrio). Kalam Suci Allah Taala memberikan pengertian kepada kita bahwa ruh berasal dari struktur yang memang sudah terbentuk dari nut­fah di dalam rahim sebagaimana Dia berfirman dalam Alquran Suci:

ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ ﴿﴾

Yakni, ‘Kemudian, Kami jadikan tubuh yang terwujud dalam rahim ibu itu berbentuk lain serta Kami jadikan lagi satu ciptaan lain yang dinamai ruh. Maha Beberkatlah Tuhan Yang tidak ada pencipta lain yang menyamai-Nya.’[1]

Difirmankan bahwa,
Kami jadikan lagi satu ciptaan lain di dalam tubuh itu juga.” Di dalamnya terkandung rahasia yang sangat dalam tentang hakikat ruh dan insyarat akan adanya pertalian yang sangat erat antara ruh dan tubuh. Isyarat itu pun mengajarkan kepada Kita bahwa perbuatan‑perbuatan jasmani, ucapan‑ucapan, dan segala perbuatan alami manusia, apabila semuanya dikerjakan untuk Allah Taala dan mulai tampak di jalan-Nya, hal itu akan berkaitan dengan falsafah Ilahi ini juga. Yakni, dalam amal perbuatan yang ikhlas pun sejak mula sudah tersembunyi suatu ruh sebagaimana tersembunyinya ruh dalam nutfah. Sema­kin berkembang amal‑amal tersebut, semakin cemerlang pulalah ruh itu. Tatkala amal‑amal tersebut sudah sempurna, ruh itu serta-merta akan memancar dengan penampakkannya yang sem­purna dan memperlihatkan wujudnya sendiri dari sisi keruhannya. Pada tahap ini, dimulailah gerak kehidupan yang jelas.

Manakala struktur amal‑amal itu sudah sempurna, segeralah
, bagaikan cahaya kilat, ia mulai menampakkan sinarnya yang nyata. Itulah tahap yang mengenainya Allah Taala secara kiasan berfirman di dalam Alquran Suci:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ ﴿﴾


Yakni,
‘Tatkala Aku telah selesai membuat struktur, telah menyelaraskan segala pengejawantahan keagungannya, dan telah meniupkan ruh‑Ku ke dalamnya, rebahkanlah diri di atas tanah seraya bersujud kepadanya!”[2]

Jadi, dalam ayat tersebut terkandung isyarat bahwa apabila struktur amal-amal itu telah sempurna
, dalam struktur tersebut bersinarlah ruh yang dilukiskan oleh Allah Taala datang dari Zat‑Nya sendiri. Karena struktur itu baru siap sesudah kehidupan duniawi mengalami kemusnahan, cahaya Ilahi yang tadinya redup akan serta-merta menyala berkilauan. Dengan melihat keagungan Tuhan serupa ini, wajib bagi segala sesuatu untuk bersujud dan tertarik kepadanya. Lantas, bersujudlah segala sesuatu ketika melihat cahaya tersebut dan secara alami bergerak ke arah itu, kecuali iblis yang bersahabat dengan kegelapan.

Ruh sebagai Makhluk

Saya kembali lagi kepada pembicaraan semula. Saya jelaskan, sangatlah benar dan tepat bahwa ruh adalah suatu cahaya yang latif, tumbuh dari dalam tubuh itu juga serta yang di­besarkan dalam rahim. Yang dimaksud dengan
diciptakannya ruh ialah bahwa ia tersembunyi dan tak diketahui pada taraf permulaan kemudian menjadi tampak nyata. Pada taraf permulaan, intinya sudah terkandung dalam nutfah. Tidak ada keraguan, sesuai dengan kehendak, izin, dan keinginan Tuhan Samawi, ruh memiliki pertalian yang menakjubkan dengan nutfah dan ruh merupa­kan sebuah permata cahaya nurani yang dimiliki nutfah. Tidaklah dapat dikatakan bahwa ruh merupakan bagian dari nutfah seperti halnya bagian-bagian badan yang dimiliki tubuh. Akan tetapi, tidak pula dapat dikatakan bahwa ruh datang dari luar atau jatuh ke bumi lalu bercampur dengan bahan nutfah. Akan tetapi, ia tersem­bunyi di dalam nutfah seperti halnya api tersembunyi di dalam batu api.

Yang dimaksud oleh Kitab All
ah adalah bahwa ruh tidak turun dari langit secara terpisah atau jatuh ke bumi dari angkasa lalu secara kebetulan berpadu dengan nutfah lalu masuk ke dalam rahim. Bagaimana pun, pendapat demikian tidak dapat dibenarkan. Jika Kita berpendapat seperti itu, hukum alam akan menyalahkan Kita. Setiap hari kita menyaksikan bahwa di dalam makanan yang kotor dan basi serta di dalam borok yang bernoda terdapat ribuan kuman. Pada pakaian yang kotor melekat ratusan bakteri. Di dalam perut manusia pun berkembang biak cacing-cacing kremi dan lain sebagainya. Sekarang, dapatkah Kita mengata­kan bahwa mereka itu terlihat oleh seseorang datang dari luar atau turun dari langit? Jadi, yang benar ialah bahwa ruh muncul dari dalam tubuh juga. Berdasarkan dalil ini, terbukti juga bahwa ruh adalah makhluk.

Kelahiran Kedua bagi Ruh

Sekarang
, maksud kami melalui uraian ini adalah bahwa Yang Mahakuasa, Yang dengan kekuasaan sempurna telah memunculkan ruh dari dalam tubuh juga, agaknya Dia berkehendak agar kelahiran kedua bagi ruh pun diwujudkan melalui tubuh juga. Gerak‑gerik ruh bergantung pada gerak‑gerik tubuh kita. Ke jurusan mana Kita membawa tubuh, pastilah akan ikut serta. Oleh karena itu, menjadi kewajiban Kitab Suci Allah Taala untuk memperhatikan keadaan‑keadaan ṭābi‘ī manusia. Itulah sebabnya mengapa Alquran Suci sangat menaruh perhatian terhadap perbaikan keada­an‑keadaan ṭābi‘ī manusia dan mencantumkan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan tertawa, menangis, makan, minum, berpakaian, tidur, bicara, diam, kawin, membu­jang, berjalan, menetap, serta mensyaratkan mandi dan lain sebagainya untuk kebersihan lahiriah. Demikian pulalah ketentuan-ketentuan khusus dalam keadaan sakit dan dalam keadaan sehat. Alquran Suci menegaskan bahwa keadaan‑keadaan jasmani manusia berpengaruh pada keadaan‑keadaan rohani. Seandainya semua petunjuk itu ditulis secara rinci, tidak dapat Saya bayangkan apakah waktu akan mengizinkan untuk menguraikan masalah itu.

[1] Q.S. 23:15.

[2] Q.S. 15:30.

Senin, 09 Juni 2014

Sebuah Renungan dari Pemimpin Para Ahli Hadis

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Sebuah Renungan dari Pemimpin Para Ahli Hadis

Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, seorang mu’arrikh (ahli sejarah) dan muḥaddits (ahli hadis) abad 7 H, menukil sebuah kisah motivasional dan inspirasional dari Imam Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismāī‘l Al-Bukhārīrh dalam salah satu magnum opusnya, Siyaru A‘lām an-Nubalā’, sebagai berikut:


“Sewaktu kecil dahulu, Aku bisa mengunjungi majlis para ahli fikih di kota Merv (sekarang Turkmenistan). Ketika datang, Aku merasa malu untuk mengucapkan salam kepada mereka. Suatu kali, seorang mu’addib dari kota itu bertanya kepadaku, ‘Berapa hadis yang telah Kamu tulis pada hari ini? Aku menjawab, ‘Dua. Yakni, yang Aku maksud adalah dua hadis. Lantas, tertawalah orang-orang yang hadir dalam majelis tersebut. Akan tetapi, salah seorang syaikh dari antara mereka berujar, Janganlah tertawa! Bisa jadi dia akan menertawakan kalian suatu hari nanti.’”[1]

Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirzā Ghulām Aḥmad Al-Qādiānīas, telah mewanti-wanti para anggota Jemaat agar tidak saling menghina dan merendahkan satu sama lain, baik itu dalam keilmuan maupun dalam hal apa pun. Mereka yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan hendaknya jangan meremehkan mereka yang baru belajar. Mereka yang mempunyai keunggulan dalam harta hendaknya jangan mendiskreditkan yang berkekurangan. Ringkasnya, ruh ketakwaan harus benar-benar meresap ke dalam jiwa sehingga hidup akan penuh dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Beliau bersabda:

“Untuk menjadi seorang muttaqī, terdapat syarat agar Kita dapat menjalani hidup ini dengan kerendahan hati dan kesederhanaan. Ini adalah sebuah cabang dari ketakwaan yang dengan perantaraannyalah Kita akan mampu melawan amarah yang bukan pada tempatnya. Tahapan yang terakhir dan tersulit bagi orang-orang yang memperoleh makrifat dan para sidik adalah menghindarkan diri dari amarah. Kesombongan dan keangkuhan timbul dari amarah dan amarah itu sendiri terkadang merupakan hasil dari kesombongan dan keangkuhan. Sebab, amarah tersebut timbul tatkala seorang manusia menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Aku tidak ingin kalau warga Jemaatku saling menganggap hina atau menganggap tinggi terhadap satu sama lain atau bersikap angkuh dan memandang rendah terhadap satu sama lain. Tuhan sajalah yang mengetahui siapa yang besar dan siapa yang kecil. Hal yang demikian itu adalah semacam kenistaan yang di dalamnya terkandung suatu kenistaan pula. Penghinaan tersebut dirisaukan akan tumbuh besar bagaikan benih dan mengakibatkan kehancuran.

Sebagian orang menemui orang-orang besar dengan penuh hormat. Akan tetapi, seorang yang besar adalah dia yang mendengarkan dan memperhatikan perkataan orang miskin dengan kerendahan hati, membahagiakan hatinya, menghormati perkataannya, dan tidak melontarkan kata-kata sinis yang dapat melukai hatinya.

Allah Taala berfirman:

وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْإِيْمَانِ ﴿﴾[2]

Janganlah saling mengimbau dengan panggilan buruk! Sikap yang demikian itu adalah suatu perbuatan buruk dan dosa. Siapa yang mengejek-ejek orang lain, dia tidak akan mati sebelum dia sendiri tenggelam dalam hal yang sama seperti yang dia ejekan itu. Janganlah menganggap hina saudara-saudara kalian! Kalian semua meminum air dari satu telaga yang sama. Oleh karena itu, siapa yang tahu bahwa sudah menjadi nasib seseorang bahwa dia akan meminum air yang lebih banyak? Seseorang tidak dapat menjadi terhormat dan terpandang berdasarkan ketentuan-ketentuan duniawi. Di sisi Tuhan, seorang yang besar adalah seorang yang bertakwa

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ﴿﴾[3]

Sesungguhnya, orang yang paling mulia dari antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui dan Mahateliti.[4]

Catatan Kaki

[1] Syams-u-Dīn Adz-Dzahabī, Siyaru A‘lām an-Nubalā’ v. 12 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1996 M/1417 H), h. 401.

[2] Q.S. 49:12.

[3] Q.S. 49:14.

[4] Pidato Pertama Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūdas pada Jalsah Salanah Qadian tertanggal 25 Desember 1897; Malfūẓāt, v. 1, h. 36.

Puisi Bagi Luka Silam

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Puisi Bagi Luka Silam


Aku, datang menerjang arah
Mencabik tiap satir di depan mata
Menembus tapal batas dengan gagah
Menghancurkan tiap rindu dan kecewa

Terkadang, memang, ini memang sulit
Untuk melupakan apa yang telah diingat
Namun, hidup bukanlah kumpulan rasa sakit
Pun tidaklah madu kenangan bagi lebah penyengat

Langkah harus tetap berderap maju
Dengan jombang dan gagah sekaligus
Walau, mungkin, luka tetap membujur kaku
Ah, lepaskanlah, agar tak terkesan rakus

Manusia adalah ladang persemaian
Juga, di sisi lain, petak untuk berduka
Jika cinta hanya sebatas buaian
Tak pantas Aku untuk memeluk murka

Pandangan mata melayang nun jauh
Melintas tabir yang terlihat bening
Meski, acapkali, belenggu tak dapat menjauh
Dari jiwa yang tersandera kasih nan berseruling

Aduhai, andai, andai Aku mampu
Untuk tak lagi menziarahi kuburan itu
Terlalu banyak, ya, jejak-jejak hantu
Yang tak memberi masa depan sebuah restu

Aku, kini sendiri dalam kesendirian
Siap bergegas maju, maju menghempas
Meninggalkan serpihan ketidakserasian
Menukar sedih dengan cahaya yang jelas